A/N: Arrrgh! Setelah sekian lama akhirnya saia bisa menyelesaikan chapter 2 dari cerita ini! DX
Disclaimer: Inazuma Eleven is belong to Level 5.
Warning: Misstypo, Shonen-ai, lebay, OOC, alur kagak jelas, dll.
Happy reading, minna...
Letter
Chapter 2
Unpredictable Confess
Perjumpaan yang berujung pada akhir berupa perpisahan...
Lalu makna yang tersembunyi di balik rasa sedih karena kehilangan...
Harapan untuk bertemu kembali...
Sinar matahari mulai menerobos dari tirai jendela kamarku. Aku terus membisu, tiada merasakan silaunya berkasan sinar itu. Kulangkahkan kaki dengan berat menghampiri jendela untuk membuka tirainya. Seperti biasa, hari yang damai.
Kuawali hariku dengan lemas dan lunglai. Ada yang tahu kenapa aku terlihat seolah tak ada semangat hidup begini? Tentu saja karena kemarin aku tak bisa tidur semalaman. Aku terlalu sibuk, sibuk memikirkan tentang Mamoru. Baru kemarin Shuuya pergi ke luar negeri meninggalkan kami, dan aku yakin kalau hal itu akan membawa dampak buruk bagi jiwa Mamoru. Kemarin aku memikirkan berbagai cara untuk menghiburnya, serta cara-cara untuk menyikapi sang kapten Raimon Eleven ini. Namun nihil. Berapa kalipun otak jeniusku berpikir, tetap saja aku tak menemukan sebuah titik terang.
Kuharap Mamoru akan baik-baik saja...
Kurapikan kembali seragam SMP Raimonku, kemudian mengambil tasku dan beranjak keluar rumah. Berangkat menuju sekolah tentunya. Dalam perjalanan singkatku yang terasa panjang ini pikiranku terus saja dipenuhi oleh Mamoru. Aku ingin sekali melakukan sesuatu untuknya. Namun apa yang bisa diperbuat olehku yang hanya karakter ketiga di Inazuma eleven? (Yuuto pundung nih)
Ah, baru saja aku memikirkan anak itu. Mamoru muncul dari belokan jalan, berjalan 10 meter di depanku. Aku menelan ludah sejenak, lalu memutuskan untuk mengejar Mamoru dan menepuk bahunya.
"Mamoru..." Aku menyapanya dengan suara yang agak kaku. Ukh, khasku bila sedang menggrogi.
"Oh, Yuuto. Ohayou!" Sapa Mamoru sambil meoleh ke arahku. Ia tersenyum manis, seolah kemarin tak terjadi apa-apa. Sebuah senyuman yang menunjukkan bahwa ia benar-benar sedang bahagia.
"Ah, ohayou..." jawabku sambil terpaku pada sosoknya yang kini tersenyum riang. Tanpa cela, ia terlihat dalam kondisi yang sangat baik hari ini.
Benar juga. Mamoru adalah anak yang ceria. Dia tak akan membuat teman-temannya khawatir atas keadaannya. Dan pastinya ia tak ingin mengecewakan Shuuya yang berada jauh di sana. Karena itu, seberat apapun Mamoru pasti tersenyum. Senyum ya? Tapi apakah ia tak merasa sakit bila memaksakan senyuman demi orang lain seperti ini?
"Yuuto? Dari tadi kok diam saja?" tanya Mamoru sembari tersenyum polos. Manis, seperti ia yang biasanya.
"Oh, bukan apa-apa." Jawabku sambil memalingkan wajah darinya.
Kami beejalan beriringan. Jalanan tempat kami biasa berangkat tak banyak berubah. Begitu pula dengan cuaca cerah hari ini. Tetap sama, hanya satu saja yang membuat perbedaan besar di antara kami.
Tidak ada Shuuya di sini.
"...Rasanya aneh juga ya." gumam Mamoru sambil tersenyum sedih. Ah, senyum itu terlihat menyakitkan sekali.
"Aneh kenapa?" tanyaku, berusaha untuk pura-pura tidak tahu duduk persoalan yang ia bicarakan saat ini. atau memang sebenarnya aku sama sekali tak mau tahu?
"Biasanya kita selalu bertiga kan? Anehnya, sekarang kita hanya bedua. Rasanya sepi..." Rambut coklatnya berkibar lembut dimainkan oleh semilir angin yang datangnya tiba-tiba, seolah ingin mendramatisir suasana. Mamoru tersenyum, tentu aku dapat melihatnya. Namun entah kenapa, senyumannya di saat itu membuat dadaku terasa sakit dan perih. Aku tahu kenapa. Mungkin karena sekarang aku dapat merasakan perasaan Mamoru yang sebenarnya.
Sakit. Bukan begitu, Mamoru?
"A, ahahaha. Lupakan. Nee, Yuuto. Ayo kita balapan sampai sekolah!" Dan sedetik kemudian Mamoru langsung melesat jauh meninggalkanku. Aku segera berlari untuk menyusulnya. Tanpa tahu bahwa ia sedang berlari dengan wajah yang menahan air mata.
SMP Raimon
"Aku menang!" sorak Mamoru dengan riang di depan gerbang sekolah. Aku hanya diam sambil ngos-ngosan. Aku memang atlet sepak bola, tapi jangan salahkan aku atas kekalahan ini! Stamina Mamoru jauh lebih banyak dariku. Ditambah belakangan ini aku memang jarang olahraga (kebanyakan belajar untuk ujian).
"Iya-iya... hosh... terserah." Napasku terasa berat karena berlari tadi. Paru-paru ini seolah akan meledak. Uh, sepertinya aku memang harus memperbanyak olahraga nanti.
"Kapten! Yuuto-kun! Ohayou..." sapa sosok mungil berambut putih yang ternyata adalah Shirou. Ia berjalan riang ke arah kami sambil menggandeng tangan Ryuugo. Sudah kuduga, dua orang itu memang terlihat memiliki hubungan khusus sejak pertama kulihat di Inazuma caravan.
"Ohayou." jawabku singkat sembari berusaha untuk mengatur napasku.
"Ohayou, Shirou..." Anehnya, jawaban Mamoru tak terdengar ceria seperti biasanya. Kapten kami tetap tersenyum, namun nada bicaranya seolah terdengar lain dari ekspresi wajahnya. Sedih, terlihat jelas di mataku. Kenapa Mamoru tiba-tiba sedih?
Ah, benar juga. Mungkin melihat Shirou mengingatkannya pada Shuuya. Perlu kalian tahu, bahwa dua orang itu cukuplah dekat. Waktu di Inazuma caravan dulu, Shuuya sering sekali memberi support pada Shirou. Tak heran bila Shirou menjadi sayang pada sang flame striker tersebut, dalam artian sebagai teman tentunya.
"..." Aku, Shirou, bahkan Ryuugo langsung terdiam ketika melihat senyuman sedih Mamoru. Hanya terpaku di tempat kami berdiri. Menyedihkan, lagi-lagi aku tidak bisa melakukan apapun untuknya.
"Kapten..."
"Coba bilang 'Aaaaa'!" Nyaris saja ucapan Shirou membuatku (dan Ryuugo) jawdrop. Dasar, kirain mau bilang apa!
"Eh?" Dan tentu saja Mamoru sweatdrop saat mendengar permintaan Shirou.
"Sudahlah, ayo bilang 'Aaaaa'!" Karena Shirou yang tiba-tiba bertindak OOC ini memaksa, maka akhirnya Mamoru hanya mengiyakan permintaannya.
"Aaaaaa... haup?"
"Eh?"
Ketika Mamoru membuka mulutnya, Shirou langsung memasukkan sesuatu dalam rongga mulut Mamoru dengan kecepatan yang sangat kilat. Dasar, benar-benar anggota Inazuma Japan! (Ket: Inazuma=lightning) Ah, lupakan. Ngomong-ngomong, benda yang dimasukkan Shirou dalam mulut Mamoru tadi apa ya? Sekilas tadi terlihat seperti kapur barus. (?)
"Ngg..." Mamoru mulai memainkan lidah dalam mulutnya untuk mengecap benda asing yang baru masuk tadi. Terus mengecap, lalu ia memjamkan mata. Beberapa detik kemudian Mamoru membuka matanya perlahan, dengan pipi yang merona senang. Ah, ekspresi yang manis... Bukan! Maksudku, apa ya yang sedang dimakan Mamoru?
"Hehehe... Itu permen vanilla special dariku!" ucap Shirou sambil membentuk tanda peace dengan jemarinya. Oh, pantas saja. Ternyata itu permen vanilla kesukaan Mamoru.
"...Kalau aku sedang sedih, biasanya Shuuya-kun akan memberikan permen ini padaku. Setelahnya aku pasti semangat lagi! Makanya... bersemangatlah, Mamoru-kun." Senyuman Shirou perlahan berubah menjadi ekspresi sedih. Ryuugo memalingkan wajah. Ternyata bukan hanya aku yang mengkhawatirkan Mamoru, mereka juga tak kalah sedihnya dengan kondisi Mamoru sekarang.
"Terima kasih..."
Tes... Tes...
Berikutnya, aku sama sekali tak percaya ketika melihat wajah Mamoru. Bibir yang biasanya membentuk lengkungan senyum kini bergetar dalam ucapannya. Mata coklat yang selalu memandang dunia dengan antusias itu kini meredup, cahayanya hilang oleh air mata. Tangan mungil yang penuh tenaga itu kini gemetaran.
Aku tak tega.
Aku yakin bahwa Shirou dan Ryuugo berpikiran sama denganku saat ini. sedih, rasanya aku jadi ingin ikut menangis saat melihat wajah sedihnya. Namun satu yang jadi pertanyaan besarku. Kenapa ia menangis?
"Uh... kenapa... hiks..." Ia terus berusaha untuk mengghapus air mata itu. namun sia-sia, itulah yang terlihat di hadapan kami. Air mata itu mengalir terlalu deras, melebihi kemampuan tangannya untuk menghilangkannya. Terus saja, Mamoru bersikeras untuk menghapus air matanya. Cukup sudah! Aku semakin tak tega pada sosok itu.
"Cukup!" Teriakanku membuat seluruh orang yang ada di sekitar menoleh ke arahku. Tapi aku tak peduli, yang terpikir olehku saat ini hanyalah sosoknya yang sedang berurai arimata. Menangis, menangis karena orang yang sangat ia sayangi. Dan sayangnya orang itu bukanlah aku. ialah Shuuya Goenji, bukan seorang Yuuto Kidou.
"Sampai kapan... sampai kapan kau terus menangisi dia yang telah meninggalkanmu seperti ini? Shuuya itu... tidak ingin kalau kau terus sedih seperti ini!" Tanganku gemetar hebat karena menahan emosi yang membuncah. Aku tak tahan lagi, cukup sudah bagiku untuk terus melihatnya yang tersiksa seperti ini. aku harus mengatakannya, tak peduli hal apa yang akan terjadi di antara kami setelah ini.
Mamoru terpana, kedua mata coklatnya berhenti mengeluarkan air mata. Mungkin karena ia terlalu terkejut saat melihatku dalam keadaan emosi meluap seperti tadi. Sementara Shirou dan Ryuugo tak kalah kagetnya. Wajar saja rasa keterkejutan itu, mereka semua memang belum pernah melihatku yang emosi sampai seperti ini.
"...Ah, aku... Mamoru..." Tangan kananku terjulur untuk menggapai sosoknya yang gemetaran. Mamoru mundur selangkah, ekspresi takut terlukis jelas di raut wajahnya. Takut, kurasa ia takut atas sosokku saat ini. Aku memang bodoh, bisa-bisanya lepas kontrol di depan orang yang paling kulindungi.
Kuulurkan sebelah tanganku, berusaha untuk menggapainya. Namun nihil, tangan ini kini hanya menggapai angin. Mamoru telah berlari jauh di depanku. Aku terpaku. Aku bahkan tak sanggup berkata sepatah kata pun.
Ah, sepertinya...
Aku gagal melindunginya.
"Hei, kenapa kau diam saja?" Ryuugo berteriak kesal ke arahku. Tetap saja aku tak bergeming. Aku bahkan tak yakin apakah saat itu aku mendengar ucapan Ryuugo atau tidak.
"Hentikan." Shirou mengangkat tangannya untuk menghentikan Ryuugo. Sang pria berkepala plontos di belakangnya hanya berdecak kesal.
"Biarkan Yuuto-kun sendiri yang mengatasi masalah ini. Kita... tak boleh ikut campur." Ryuugo memalingkan wajahnya dari sang pangeran es. Shirou tersenyum lembut pada sang striker naga. Bisu, tidak satu pun dari pihakku ataupun Shirou dan Ryuugo yang berucap. Tempat ramai ini serasa hampa dan kosong bagiku, dan mungkin begitu juga bagi mereka. Apa yang harus kulakukan? Mengejarnya kah? Apakah aku bisa menggapai kembali sosoknya?
"Nee... apa kau tidak mengejar kapten, Yuuto-kun?" Shirou melihatku sambil memiringkan kepala. Senyum manisnya terukir penuh seribu arti. Aku menghela napas, lagi.
Tanpa ada tindakan basa-basi, aku segera berlari sekencang mungkin untuk mengejar Mamoru.
Di mana dia?
Di mana?
Aku terus saja berlari tak tentu arah. Yang kulihat tadi hanyalah Mamoru yang berlari keluar dari gerbang Raimon. Namun aku tak tahu pasti ke mana kaki sang goalkeeper itu melangkah pergi. Bahkan seorang playmaker seperti aku pun tak tahu.
Bodoh, aku mulai merasa bodoh sendiri. Berlari-lari menyusuri tiap sudut kota Inazuma. Aku bahkan bolos pelajaran sekolah. Oh, shit! Di mana dia?
...Tunggu dulu!
Sudah cukup. Tak ada gunanya aku berlari-lari tanpa punya tujuan seperti ini. Aku harus sedikit memutar otak. Ayolah Yuuto, coba kau pikirkan. Kalau itu Mamoru, ia pasti akan pergi ke...
Inazuma Steel Tower!
Sial, betapa bodohnya aku yang bisa seterlambat ini menemukan jawabannya. Tentu saja Mamoru akan pergi ke sana. Sudahlah, tak ada waktu untuk berdiam diri. Aku harus segera sampai di tempat kenangan kami itu...
Pemandangannya masihlah tetap sama. Pohon-pohon rindang dengan warna hijau yang segar berjajar di sepanjang jalan yang kulalui. Angin sepoi-sepoi tetap setia membelai lembut wajahku. Dan di hadapanku tengah berdiri megah sebuah menara besi yang cukup tinggi. Dan juga...
"Mamoru..." Kami berdua saling berpandangan. Pandanganku seolah tertelan oleh kedua coklat di matanya. Berusaha mengurangi jarak diantara kami, aku mulai melangkah mendekatinya. Namun Mamoru langsung mundur teratur. Kaki itu segera ia gerakkan untuk sebuah ancang-ancang. Aku tahu, ia akan lari dariku. Lagi.
"Jangan pergi." Aku menahan lengannya, lengan kecil yang selama ini telah menjaga gawang Raimon Eleven dan Inazuma Japan. Lengan penuh kekuatan yang kini gemetar tanpa daya dalam cengkramanku.
Akhirnya Mamoru tidak melarikan diri lagi. Ia memalingkan wajahnya dariku, terus memandang ke arah tanah seolah itu adalah pemandangan terbaik yang bisa ia lihat. Kami berdua hening dalam diam. Aku tak berniat unutk melepaskan cengkramanku saat ini, begitu pula Mamoru yang sudah kehilangan nafsu untuk kabur.
Sekali lagi, kutegaskan bahwa keadaan saat ini menjadi hening sekali. Halo? Apakah ada yang bisa memperbaiki situasi ini?
...lupakan.
Kedua onyx yang tersembunyi di balik google ini kembali menatap wajahnya. Tentu saja Mamoru masih tertunduk dalam, sementara aku berusaha untuk melihat ekspresi yang ia sembunyikan.
Tes...
Sebutir air bening jatuh ke atas tanah tempat Mamoru berpijak. Ia menangis. Lagi-lagi menangisi dirinya sendiri. Ck, semua hal ini membuatku kesal. Kenapa aku tak bisa melakukan apapun untuknya di saat seperti ini?
Apakah benar-benar tidak ada yang bisa kulakukan?
"Waakh?" Mamoru berteriak kaget saat sepasang tangan merengkuhnya dan membawanya dalam suatu dekapan. Ya, aku memeluknya. Aku tak mengerti. Di saat otak ini sudah buntu dengan berbagai macam dilema di depan mata, manusia selalu melakukan hal-hal yang tidak terduga. Dan bahkan aku, seorang Yuuto Kidou yang terkenal sebagai orang yang bertindak cermat ini bahkan melakukannya. Melakukan hal terbodoh seumur hidupku.
Aku memeluknya.
Biar kutegaskan sekali lagi. YUUTO KIDOU SEDANG MEMELUK MAMORU ENDOU! (plak!)
"Yuuto...?" Mamoru sedikit berusik pelan di dalam dekapanku, merasa tak nyaman dengan semua yang baru kulakukan ini. Aku hanya diam, pelukan itu justru makin kueratkan.
"Mamoru..." Kuhirup dalam-dalam aroma coklat dari tubuhnya. Nyaman, rasanya aku dapat melupakan segala penat di kepala. Kalau bisa, aku ingin waktu terus berhenti di detik ini... ah, permintaan bodoh.
Deg... Deg...
Dadaku mulai berdegup kencang. Membentuk sebuah irama yang melodinya tak pernah kudengar dari lagu manapun. Sedikit lagi, kurasa dada ini akan segera meledak...
Perlahan, aku melepas pelukan kami. Pandangan kami kembali beradu. Mata yang diliputi kesedihan itu...
Aku ingin mengubah pandangan itu.
Aku akan melindunginya, meski mungkin caraku ini sedikit tidak adil bagi kalian.
Aku tak bisa lagi...
Aku harus mengubah kisah tentang cinta ini!
"Aishiteru, Mamoru."
To be Continued
Wuakakakakak! Alay banget ini chapter! Udah pendek, abal, nggak jelas pula! Ugh, saia jadi malu ama yang request ini fic. Gomenasai, rasanya fic ini perkembangannya kurang memuaskan sekali. T^T
Nah, saatnya bales review:
Aishiro KyuHyung-ppie:
Ah, saia kangen De-chan. Lama sekali tak mampir ke sini dan kasih review... T^T
Oh, kembali ke balasan review.
Ufufufu... yang kemarin itu saia lagi pingin bikin yang fluffy, gak tahunya yang sekarang malah jadi ancur.
Ugh, arigato reviewnya. Saia tunggu kunjungan De-chan ke sini lagi... ^^
Aurica Nestmile:
Ukikikik! Ini padahal pairnya YuuMamo tapi di chap kemarin kok banyak ShuuMamo ya? (plak!)
Yuuto kasian ah, cemburu dia.
Nee, arigato reviewnya! X3
Heylalaa:
Wkwkwkwk! Hubungan trio Inazuma itu memang agak rumit.
Fufufu... Lalaa-san kalihatan banget sukanya ama pair IchiMamo (plak!)
Hmm... Tapi di sini mungkin peran Ichi agak kurang banyak.
Arigato...
Asma Syifa Nabihah:
Yoroshiku! XD (Ah, kita udah lama kenal.)
Ayo, Asma-chan! Kau pasti bisa bikin fic yang jauh lebih keren daripada fic abal=ku yang penuh typo dan adegan tidak masuk akal ini! (Ketawa sambil menangisi fic sendiri)
Arigato reviewnya yaaa!
Oh, minna-san...
Saia benar-benar linglung, jadi tulisan chapter ini abal dan ancur banget. T_T
Kalau ada yang mereview, saia akan senang sekali.
Kali ini, flame dibolehkan. Karena saia merasa ini bukan hasil kerja saia yang benar-benar maksimal... T^T
Akhir kata,
Arigato...
Last dimension will come
The Fallen Kuriboh
