Warning: Gaje, OOC, AT, Shonen-ai, Lebay. Don't like? Don't read! Segala flame akan diterima dengan panggangan ikan. (?)
Happy reading!
Letter
By The Fallen Kuriboh
Inazuma Eleven © Level 5
Chapter 3
The Last Picture of Me and You
Mamoru's POV
"Aishiteru, Mamoru."
Halo? Apa aku tak salah dengar?
Oh, hai semuanmya. Aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Endou Mamoru. Kapten dari Raimon Eleven yang kini sedang menapaki tahun ketiga di SMP Raimon. Aku sangat suka bermain sepak bola, dan kalimat favoritku adalah 'Sokka, Yarou ze!'. Makanan favoritku adalah mi ramen buatan Hibiki-kantoku. Sedangkan orang yang kusukai adalah...
Tunggu dulu. Kenapa aku malah memperkenalkan diri di saat penting seperti ini?
Baiklah, akan kujelaskan situasiku saat ini. Orang yang memakai google di hadapanku itu adalah sahabat baikku, Kidou Yuuto. Di mana ia adalah playmaker dari kesebelasan yang aku pimpin, Raimon eleven. Trademark-nya adalah google biru, jubah biru, dan rambut yang selalu ia kuncir ke belakang itu. Sekedar tambahan, ia adalah maniak penguin dan mengidap penyakit sister complex terhadap adiknya, Otonashi Haruna. Mengapa nama keluarga Yuuto dan Haruna berbeda meski mereka saudara kandung? Tentu saja itu karena—
Tunggu.
Bukan itu masalahnya!
Masalahnya, dia, Kidou Yuuto yang saat ini ada di hadapanku iu tengah mengatakan dua kata yang sangat asing padaku. 'Aishiteru Mamoru.', adakah yang tahu arti dari kata-kata itu? Ah, aku panik! Kenapa Yuuto mengucap kalimat dengan bahasa asing yang tak kuketahui artinya?
Cukup, aku berbohong. Tentu saja aku tahu betul arti dan maksud dari ucapannya. Namun, kenapa dia mengatakannya padaku? Bukankah selama ini ia mencintai penguin? Kenapa sekarang malah beralih padaku?
...
Tidaaak! Kenapa dari tadi ucapanku ngelantur mulu? TAT
"Mamoru...?" Aku terlonjak kaget ketika Yuuto menegurku, membawaku kembali ke realita yang ada.
Kenyataan di mana ia baru saja mengungkapkan cinta padaku.
"Yuuto, aku..."
Napasku tertahan. Tenggorokan ini serasa tercekat. Aku tak bisa menjawab pernyataan ini. Bukan karena aku tak tahu jawabannya, bukan. Tapi aku...
Aku menyukai orang lain. Bukan seorang Kidou Yuuto, namun ia adalah Goenji Shuuya.
Tapi aku tak bisa mengatakan itu padanya, takkan pernah bisa. Dan aku juga tak bisa menerima perasaan Yuuto, meski sekarang Shuuya telah pergi.
Namun...
"...Kau tak harus memberi jawabannya sekarang." Wajahku terangkat ketika mendengar pernyataan kedua yang dilontarkan bibir Yuuto. Ia tersenyum. Ah tidak, tepatnya ia memaksakan diri untuk tersenyum. Aku hanya diam, menatap ia yang baru saja mengungkap isi hatinya padaku. Aku benar-benar dibuat bingung kali ini.
"Ayo kita kembali ke sekolah." Dan aku menyambut uluran tangan itu. Tangan yang hangat, namun tetap berbeda dari kehangatan yang sesungguhnya kuinginkan.
Skip Time
Istirahat Siang
"Ja, jadi Yuuto telah—"
"Sst, jangan keras-keras Ichirouta!" Aku membungkan mulut teman sejak kecilku itu. Tapi aku tak menyalahkannya yang terkejut. Jujur, aku sendiri juga sangat terkejut atas masalah ini. Yuuto, ia yang sahabat dekatku itu malah menyatakan cinta padaku di saat seperti ini.
"Lalu, bagaimana dengan Shuuya?" Aku bungkam. Ya, Ichirouta telah mengetahui bahwa aku menyukai Shuuya. Sudah sejak lama aku berbagi cerita dengannya. Dan aku yakin kali ini ia bisa membantuku.
"Karena itu... Apa yang harus kulakukan sekarang?" tanyaku sambil menatap penuh harap pada Ichirouta. Ia menghela napas panjang. Aku tahu bahwa sahabatku yang satu ini tak akan bisa menang ketika ia harus menghadapi puppy eyes milikku.
Ichirouta berpikir keras sembari menyentuh dagunya. Aku menunggu dengan penuh harap. Oh Tuhan, kuharap ia akan keluar dengan sebuah ide yang cemerlang seperti biasanya.
"Kenapa tidak memberi kesempatan pada Yuuto?"
Aku terpaku.
"Tidak—"
"Yuuto pasti sudah lama menyukaimu. Lagipula sekarang Shuuya telah pergi, dan kau juga tak tahu tentang perasaan Shuuya padamu bukan? Kurasa lebih baik memberi kesempatan pada Yuuto. Dia juga seorang yang baik dan selalu perhatian padamu." Ichirouta memotongku, lalu menjelaskan alasan yang ia miliki. Iya, aku tahu itu. Masalahnya, aku bahkan tidak pernah membayangkan untuk menjalin suatu hubungan dengan sang ex-kapten kesebelasan Teikoku itu.
"Kalau belum dicoba kita tak akan tahu." ucap Ichirouta sambil tersenyum. Ia ini sedang memilihkan pilihan yang terbaik untukku atau memang sengaja memihak pada Yuuto sih?
"Entahlah..."
Lebih baik aku mendinginkan kepala terlebih dahulu.
Skip Time
Perjalanan Pulang Sekolah
Aku melangkahkan kaki dengan gontai, menyusuri jalanan yang bersuasana sunyi. Tak ada Ichirouta, Yuuto, atau siapa pun yang menemani. Yah, memang aku sedang ingin sendirian saat ini. Untung saja tak ada kegiatan eskul sepak bola di hari ini. Bisa mati aku kalau nantinya harus bertemu Yuuto dengan keadaan hati yang galau begini.
Akhirnya sampai juga. Sebuah rumah sederhana dengan papan nama keluarga Endou di depannya. Tentu saja ini rumahku.
"Tadaima..."
Anehnya, tak ada orang satu pun di rumah yang menyambutku. Aku yakin kalau ayah sedang bekerja saat ini. Tapi di mana ibu? Apakah ia pergi berbelanja?
Aku merapikan sepatuku dan beranjak ke dapur. Di meja makan kutemukan sebuah notes, sepertinya ibu yang menulisnya.
Untuk Mamoru:
Ibu sedang pergi ke acara pemakaman tetangga kita, akan pulang sore nanti. Tolong jaga rumah ya, Mamoru.
Kaa-san
Aku menelaah satu-persatu dari catatan yang ditinggalkan ibuku. Sayang sekali, karena ibu tak ada di rumah rasanya jadi sepi. Entah sejak kapan aku jadi tak ada semangat begini. Rasanya seperti bukan aku saja.
"ARRGH! Semangat Mamoru, semangat!"
Baiklah, rasanya bodoh bila aku mencubiti pipiku sendiri dan berteriak layaknya makhluk gila begini. Hei, aku tidak bodoh! Aku hanya butuh semangat! Aneh rasanya kalau aku, seorang Endou Mamoru jadi lemas dan lesu! Aku adalah Mamoru! Yeah, aku MAMORU!
"..."
Oke, sepertinya aku bukan dalam taraf bodoh lagi.
Tapi GILA!
Aaargh! Apa yang harus kulakukan? Sekarang aku jadi sangat bingung atas ketidak jelasan yang menimpa hidup indahku ini. Oh Kamisama, apa yang harus kulakukan?
...Oke, mari kita urutkan peritstiwanya terlebih dahulu. Ichirouta bilang, cara ini akan membantu kita dalam melihat masalah secara jelas.
Maka kuambil sebuah kertas HVS polos dengan tanganku. Sementara tangan yang satunya lagi menggapai meja belajar untuk mengambil pensil warna. Kemudian aku turun kembali ke dapur, duduk di meja makan dan mulai menggambar.
Pertama... Aku, Shuuya dan Yuuto adalah sahabat.
Kugambar tiga wajah chibi yang terlihat familiar bagi mataku. Cukup mirip, meski wajah yang kugambar sama sekali tak terlihat sekeren aslinya. Yah, paling tidak ini imut, menurutku.
Kedua... Shuuya pindah ke luar negeri, meninggalkan aku dan Yuuto.
Kemudian aku menggambar Shuuya yang memisahkan diri dari kami. Wajahku di gambar itu terlihat sedih. Sama sedinya seperti perasaanku saat ini, ketika aku ingat bahwa Shuuya tak ada di sini lagi.
...Ada baiknya bila aku melanjutkan ke gambar selanjutnya.
Ketiga... Yuuto menyatakan cinta padaku.
Yang kugambar adalah sosok chibi dari Yuuto yang sedang berlutut sambil meraih tanganku dengan gentle. Oh tidak, rasanya ini terlalu mendramatisir. Tapi sayang juga bila gambar ini dihapus. Yah, biarkan saja seperti ini. Intinya Yuuto menyatakan cinta padaku. Itu saja.
Selesai sudah. Tanganku berhenti, tak bisa menggambar untuk kelanjuatnnya. Kenapa? Karena aku masih tak bisa membuat keputusan. Ichirouta bilang untuk memberi kesempatan pada Yuuto. Tapi, aku...
Apa daya, hatiku berkata lain.
'KRIIING!'
Bunyi telepon rumah membuatku terlonjak dari kursi. Sial, bikin orang kaget saja. Untung jantungku tidak lepas dari sarangnya. Oh, bayangkan apa jadinya hidupku tanpa my sweety jantung. Ah, lupakan. Lebih baik aku mengangkat telepon yang berdering nyaring itu. Lagipula siapa sih yang seenak jidat menelepon di saat aku sedang bimbang begini?
Langsung saja aku melangkahkan kaki, meraih gagang telepon dan mengangkatnya ke dekat telinga. Untuk mendengar sebuah suara yang membuat pupil mataku melebar...
"Konnichiwa."
Mataku terbelalak lebar. Suara ini, tak salah lagi ini miliknya.
"Ko, konnichiwa." balasku dengan nada suara canggung.
"Mamoru? Apa itu kau?"
Aku terdiam sesaat. Kalimat kedua dari penelepon itu membuatku yakin siapa orang yang sedang berdiri di seberang sambungan telepon. Tanganku gemetar, kupaksakan bibirku untuk berucap senormal mungkin. Menjawab sebelum ia menutup telepon berharga itu.
"Iya. Aku di sini, Shuuya..."
Hening. Ia hanya ber-oh ria ketika mendengar jawabanku. Sebuah kebisuan statis ini membuatku merasa aneh. Ada apa ini? Kenapa aku tak bisa menemukan satu topik pun untuk kubicarakan? Bahkan sekedar buka mulut untuk bertanya kabarnya saja aku tak bisa. Dan kenapa juga Shuuya membisu di seberang sana? Apa ia sedang bertemu setan atau bertemu Shaman King yang awesome atau apa sehingga ia tak bisa berkata-kata? Ayolah, kenapa kebisuan ini jadi terasa secanggung ini?
"Err, Mamoru? Kau masih di sana?" tanya Shuuya. Oh God, tentu saja aku masih di sini!
"Ya.", jawabku sekenanya.
Kemudian kebisuan kembali terjadi. Aaargh! Kenapa pembicaraan ini jadi aneh sih? Baiklah, kurasa ini giliranku untuk mencari topik pembicaraan.
"Kenapa kau meneleponku?"
"Hanya ingin memberi tahu nomor telepon baruku."
"Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja?"
"Yeah... Baik. Hanya saja, entah kenapa aku merindukanmu..."
Kali ini aku benar-benar terkejut.
"...Dan Raimon Eleven." tambahnya, membuat secercah cahaya di hatiku kembali sirna.
"Begitu ya? Dasar aneh, padahal baru kemarin kau pergi." Aku tertawa kecil. Namun ia tak membalas ucapanku. Kembalilah keadaan kami, membisu.
"Sering-seringlah pulang ke sini. Kami akan menyambutmu dengan senang hati." Ah, andai saja aku punya kekuatan untuk sekedar mengganti kata 'kami'itu menjadi 'aku'.
"Well, bagaimana harimu tanpa aku? Aneh bila aku membayangkanmu yang jalan berdua saja dengan Yuuto." Dari suaranya, aku tahu bahwa senyuman jahil terukir di wajahnya.
Sayangnya itu bukan candaan bagiku.
"...Kau tahu. Yuuto baru saja menyatakan cinta padaku."
Setelahnya aku mendengar suara telepon yang terantuk. Ah, kurasa ia sampai menjatuhkan gagang teleponnya. Saking terkejutnya Shuuya atas ceritaku.
Lalu hening. Baiklah, kenapa pula tiap lima belas detik selalu terjadi kebisuan berpola ini? Dasar aneh. Oh, kurasa aku tak pantas berpikir seperti itu tentang Shuuya. Mengingat aku adalah orang yang lebih aneh.
Akulah orang aneh yang tak bisa menyatakan cintanya pada orang yang paling kusayangi.
"Shuuya? Kau masih di sana?" Kali in giliranku yang mempertanyakan keberadaannya.
"I, iya." Ia terdengar gagap. Aku menghela napas singkat. Apa kejadian 'Yuuto menyatakan cinta padaku' itu sebegitu anehnya bagi dia?
"Apa yang harus kulakukan?"
"Bagaimana kalau kau terima saja cintanya dan kemudian kalian resmi menjalin hubungan? Aku senang kalau kalian bisa bersatu."
Setetes... Dua tetes...
Air mataku terjatuh. Meluncur ke pipiku dan terjatuh bebas ke lantai rumahku.
Aku tak bisa berkata...
Sakit... Sakit...
"Begitukah? Terima kasih atas saranmu."
Segera kututup telepon itu, tak ingin berlama-lama dengannya karena aku tak ingin Shuuya menyadari bahwa aku tengah menangis. Aku berlari kencang, mengambil gambar yang kubuat dan aku berlari masuk ke dalam kamar. Kubanting tubuhku ke atas ranjang, memeluk bantal sambil menahan tangis.
Dua menit kemudian aku mulai emosi dan mulai memukul bantalku, lalu mencekik gulingku. Yah, anggap saja sedang memukul dan mencekik Shuuya. Hitung-hitung sebagai pelampiasan kesalku.
...Baiklah, aku tak ingin lagi melakukan hal konyol macam ini. Bisa-bisa dianggap gila karena aku mengamuk gaje sambil menganiaya perangkat tidurku.
Kuambil kertas yang berisi tiga buah gambar yang tadinya kubuat. Kuhela napas panjang, sekedar menenangkan diri dan menstabilkan emosi. Kemudian aku menggambar bagian keempat. Bagian terakhir yang merupakan sebuah keputusan dariku.
Sebelum akhirnya air mataku kembali menetes saat melihat akhir dari cerita yang kugambar.
Kutuliskan sedikit kata-kata pada kertas yang sama, di mana aku bercerita tentang sedikit kisah yang akan kukubur dalam-dalam ini.
Skip Time
Keesokan Harinya, Inazuma River Bank
"Maaf membuatmu menunggu." Aku tersenyum cerah pada sosok Yuuto yang sedang duduk di rerumputan.
Kuambil tempat untuk di sebelahnya, menatap sungai yang berkilau indah diterpa cahaya fajar. Di sinilah tempat aku bertemu Shuuya untuk pertama kalinya. Ya, dan di sini pula aku akan mengakhiri kisah rumit yang sebenarnya sederhana ini.
"Kidou Yuuto, aku bersedia untuk menjadi kekasihmu"
To be Continued
Aaaarghhh! Apa yang terjadi ini? Cerita ini jadi semakin aneh dan abal. Dan saia merasa ini fic yang paling nggak saia niati waktu mengerjakannya 0_0
Itu semua terbukti dari cerita yang nggak banget macam ini. Oh my...
FLAME SAIA! KASIH FLAME SEKARANG JUGA! (plak!)
Uh, saia jadi galau.
By the way, ada yang mau menebak gambar seperti apa yang ada pada gambar keempat Mamoru?
Yang jawabnya paling mendekati tepat, boleh request oneshot! XD
Btw, bagi yang mau request, silakan diskusi dulu sama saia lewat PM. Kalau lewat review, saia gampang lupa. Seingat saia ada yang pernah request fic KazuyaxRika ama fic IchixShirou ke saia. Tapi saia lupa siapa yang request! (minta ditabok nih anak)
Lalu... Kali ini saia ingin keterlibatan reader atas menentukan ending fic saia kali ini. Silahkan dipilih antara dua pilihan ending.
Mau pilih Sad ending atau Happy Ending?
Ada dua tipe ending yang menari di pikiran saia (di mana saia tidak akan memberi detail ataupun summary endingnya). Dan silahkan kalian memilih antara Sad dan Happy.
Dan perlu diketahui...
Baik Happy end atau Sad sama-sama 'cruel'. (plak!)
Bercanda. Tolong singkirkan sapu ijuk itu dan jangan hajar saia.
And also, cek PM kalian sekarang juga, wahai para penghuni fandom Inazuma Eleven! XD
Karena sebuah surat kaleng(?) telah dilayangkan pada account kalian. Silakan baca dan ikutlah berpartisipasi! XD (plak!)
*MOHON MAAF, telah terjadi kecelakaan hingga sesuatu yang harusnya saia post via PM pada semua anggota fandom InaIre akhirnya saia alihkan ke archive fic di sini. Mohon maaf karena saia mem-publish undangan itu lewat fic. Mohon maaf...
Kay, mari kita balas review dulu saja. Minna, saia minta bantuan!
Mamo: review dari heylalaa. Hmmm... (baca isinya)
Ichi: Terima kasih pada dukungannya atas pair saya dengan Mamoru! Di chapter ini saya ditampilkan sedikit bersama Mamoru. ^^
Shuuya: Bener tuh. Mamoru lebay amat. Segitu kangennya ya sama aku? (senyum pede dengan OOCnya)
Yuuto: Ah, kau baik sekali. Ternyata ada juga yang bersimpati padaku...
Shirou: Adegan pernyataan cinta kemarin ya? Aneh juga. Tumben si author sanggup bikin dua makhluk(?) yang bukan OTP dia pelukan begitu.
Me: Itu kewajiban sebagai author yang dikasih request. Oh, Yuuto patah hati? Hmm, sebenarnya itu semua tergantung keinginan kalian. Ada dua pilihan. Good ending atau sad ending. Lalu di tipe ending mana Yuuto patah hati? Entahlah (plak!). Arigato reviewnya! XD
Shuuya: Berikutnya review dari Aurica Nestmile. Ah, jadi kau anti dengan RyuugoShirou ya?
Shirou: Begitu? (langsung manggil Ryuugo)
Ryuugo: Ada apa?
Shirou: (langsung kissu Ryuugo)
Ryuugo: (tepar nosebled)
Me: SEEETTOOOP! Kalian jangan bikin rusuh di sini! (nendang Ryuugo, nepok-nepok kepala Shirou)
Ryuugo: Kenapa aku ditendang sementara Shirou malah ditepok kepalanya?
Yuuto: Semoga Yue-san tidak kumat lagi phobianya gara-gara adegan nista tadi. Arigato for review.
Yuuto: Yang ketiga dari Fanesha Neshia-san.
Me: Alohaaaa~
Shirou: Aww, aku dibilang kejam. (senyum)
Shuuya: Lalu kenapa malah senyum?
Shirou: Karena aku senang menjadi orang kejam... (senyum)
All: (merinding disko)
Mamo: Errr, ehem. Romantis ya?
Yuuto: (blushing) Itu aku kelepasan, jadi memeluknya seenak jidatku.
Me: Arigato reviewnyaaa! XD
Ichi: Kemudian dari Aishiro KyuHyung-ppie—
Me: DE-CHAAAAN! TAT
Shuuya: Apa sih kok histeris begitu!
Me: Lama tak melihatmuuu! DX (Woi, minggu ini baru aja komen-an foto kan?)
Yuuto: Benar. Bila mood hilang rasanya malas sekali untuk bukan FFN. Sepertinya author kita juga baru-baru ini merasakannya.
Me: Itu karena saia lagi dilema!
Mamo: Ugh! Kenapa di setiap fic-mu aku selalu jadi makhluk cengeng jadi-jadian? (emosi)
Me: Err... Tuntutan peran?
Mamo: DUSTAAAAA! (ngamuk)
Me: AAH! Arigato reviewnya, De-chan! DX (berusaha menghindari amukan Mamodzilla)
Shirou: Lalu yang terakhir dari Saruwatari Michiko.
Me: AAAARGH! INI DIA!
Yuuto: Apanya?
Me: Ternyata Saruwatari Michiko-san yang req IchixShirou!
All (jawdrop)
Me: Maafkan saia sampai lupa begini. Oke, saia terima request anda! XD oneshot ya? Ditunggu~
Shuuya: Dan terima kasih banyak untuk reviewnya...
By the way, saia ingin mempromosikan sesuatu.
NEW PROJECT!
Crossover between Inazuma Eleven and Shaman King:
Dark End Park
'Selamat datang di Dark End Park,'
'Tempat di mana tinggal para Shaman yang akan menghibur kalian di taman ria ini!'
'Ups, tapi hanya anak-anak tertentu yang boleh masuk ke taman spesial ini.'
'Itu adalah kalian yang mendapat undangan khusus yang kuantarkan sendiri untuk kalian, undangan yang diperuntukkan bagi anak-anak kecil yang sudah berhati busuk.'
'Akan kupastikan bahwa kalian para undanganku akan mati dengan teriakan histeris yang takkan terlupakan seumur hidup kalian.'
'Ucapkan selamat datang di taman hiburan abadi buatan kami!'
Begitulah cuplikannya.
Silakan kunjungi fic yang merupakan new project saia itu, di mana sebuah fiksi dengan rangkaian kata yang menembus 6000 kata itu menjadi persembahan saia untuk hidup saia. (halah)
Kay, saia harus undur diri. Last, R&R, please?
Last Dimension will come
The Fallen Kuriboh
