"Kidou Yuuto, aku bersedia untuk menjadi kekasihmu"
Letter
By The Fallen Kuriboh
Inazuma Eleven © Level 5
Chapter 4
Undelivered Letter
Kedua belah mata Yuuto yang tersembunyi di balik google itu terbelalak. Ia, seorang Mamoru Endou, baru saja mengatakan 'iya' atas proposal pengajuan cintanya. Ah, apa ia tak salah dengar?
"Mamoru? Kau bilang ap—"
"Bercanda! Hehehe!" Yuuto kembali dibuat shock atas pernyataan baru yang keluar dari mulut kaptennya. Sialan, berani sekali Mamoru mempermainkan seorang esper macam Yuuto Kidou. Tapi bukanlah Yuuto namanya kalau ia marah pada Mamoru, meski candaannya kali ini sangat keterlaluan.
Jadi apakah kesimpulannya? Ditolak kah?
"Maafkan aku, tapi ada orang lain yang kusukai," Raut wajah Mamoru berubah. Ia tetap tersenyum, namun makin urung karena senyumnya dihiasi oleh rasa pedih yang tersemat dalam hatinya.
"Mungkin aku tak bisa menjangkaunya. Mungkin kami memang tak ditakdirkan untuk bersama. Namun nyatanya aku masih akan tetap menyukainya sampai kapan pun. Meski ia tak menyukaiku, aku tetap akan memberikan hatiku untuknya. Karena itu Yuuto, aku tak bisa menerima perasaanmu. Maafkan aku."
Kelihatan sekali, senyuman Mamoru itu. Ia memaksakan diri. Melihat senyuman itu, Yuuto kembali merasa bersalah. Ia iba pada Mamoru. Ya, iba. Tak peduli bahwa kini ialah pihak yang harusnya tersakiti, tak peduli akan kenyataan bahwa Mamoru menolak perasaannya, ia iba.
"Tapi aku berterima kasih padamu Yuuto. Terima kasih karena kau sudah mau menyukaiku yang seperti ini," Mamoru kembali tersenyum, kali ini jauh terlihat lebih tulus. Digenggamnya sebelah tangan Yuuto.
"Nah, sekarang ayo kita latihan sepak bola! Akan kutraktir makan ramen kalau kau bisa mencetak gol dari gawangku!" ujar Mamoru dengan anda ceria. Ia berlari menuju lapangan sambil menggenggam tangan Yuuto. Dalam artian sebagai teman tentunya, seperti biasanya.
'Maka sejak hari itu kami terus tertawa seperti hari-hari sebelumnya, meski satu tempat di sisi kami sedang kosong dan meski tersimpan sedikit kesedihan di balik tawa ini. Paling tidak kami bahagia karena bisa memilih jalan masing-masing.'
The End
Epilogue, Last Letter
TYL!Shuuuya's POV
Waktu berlalu, begitu cepat. Hari-hari berlalu dan kembali dalam siklusnya, menggerakkan roda waktu yang tak pernah enggan untuk berputar. Kisah ini masih terus berjalan, tanpa adanya kata-kata yang terucap dan tulisan yang tercurah.
Ambigukah kisah kami ini?
Aku sempat mendengar, bahwa akhirnya Mamoru dan Yuuto tetap tidak menjadi sepasang kekasih. Bahkan setelah aku mengalah. Mereka bilang Mamoru menyukaiku, dan ya, aku tahu itu. Sementara sesunguhnya aku juga menyukai Mamoru. Ya, benar-benar menyukainya.
Namun seandainya saat itu aku merengkuh Mamoru, maka Yuuto akan tertinggal sendirian.
Mamoru dan Yuuto, dua sahabat yang sangat kusayangi. Keberadaan mereka tak tergantikan bagiku. Dan keinginanku ialah untuk membuat mereka berdua bahagia. Tidak dengan mengobankan salah satu di antaranya. Dan waktu itu aku berpikir, bahwa bila aku pergi mereka berdua akan bahagia bersama.
Aku salah.
Namun aku masih tak punya keberanian untuk datang dan memperbaiki kesalahanku ini. Mamoru terlanjur tersakiti olehku, begitu pula dengan Yuuto. Rasanya aku tak punya hak untuk menatap mereka.
"Tidak juga, Shuuya-kun. Mereka berdua sangat merindukanmu," ujar Shirou Fubuki. Ah, aku lupa bilang. Aku terus memantau Mamoru dan Yuuto, melalui bantuan teman kecilku ini.
"Tapi aku sudah tidak kecil lagi, Shuuya-kun. Lihatlah aku yang sekarang sudah jadi keren ini." Bagaimana aku bisa lihat Shirou, kita ini sedang berbicara melalui telepon.
"Sudahlah. Yang penting kau harus segera kembali, Shuuya-kun! Keadaan Raimon sedang gawat saat ini." ujar pemuda serigala putih itu.
"Masalah fifth sector?" tanyaku, dengan nada bosan.
"Tentu saja," jawabnya.
Tapi Shirou, kau tahu sendiri kan...
AKU INI SUDAH BILANG KALAU SEKARANG INI AKU MENJADI PEMIMPIN FIFTH SECTOR! AKU BAHKAN SUDAH MENCERITAKANNYA PADAMU AKAN LABIRIN YANG KUTEMPUH UNTUK MEMBANTU PIHAK RAIMON DARI JALAN BELAKANG INI!
"Shuuya-kun, kalau sedang membatin tidak usah dikasih capslock segala." Sialan, dari mana orang ini tahu isi hatiku. Bahkan sampai tulisannya segala?
"Haah. Terserah. Tapi kutekankan lagi kalau aku tidak akan muncul di hadapan mereka dalam waktu dekat ini," ujarku dengan nada ketus.
"Tapi kalau begitu, mereka akan terus salah paham padamu. Meninggalkan Raimon, tidak memberi kabar, dan tahu-tahu menjadi pemimpin fifth sector yang notabenenya adalah musuh Raimon." sewot Shirou. Dari nada bicaranya, terdengar kalau ia sedang menggembungkan pipinya. Huh, tipikal bocahnya masih belum hilang rupanya.
"Eh? Darimana kau tahu kalau aku sedang menggembungkan pipiku? Lagipula ini bukan seperti bocah, soalnya Ryuugo-kun bilang aku manis kalau sedang menggembungkan pipi," curhatnya.
Shirou oh Shirou, kalau sejak tadi kau bisa membaca pikiranku terus, lalu untuk apa kita tersambung lewat telepon? Oh, mungkin lain kali kita bicara lewat telepati saja.
"Lho, telepati—?"
"Aish, sudahlah! Lebih baik kau istirahat saja sana. Aku masih ada pekerjaan di sini." sahutku sewot.
"Huh, apa boleh buat. Tapi ingat lho ya, Shuuya-kun. Mamoru-kun itu selalu—"
Terlambat, gagang telepon terlanjut kututup. Sebenarnya sih ingin kubanting saja, namun bisa-bisa Shirou marah kalau begitu. Pasti nanti mengomelnya 'sayang teleponnya'lah, 'harga pesawat telepon itu mahal'lah. Haaah, mimpi apa aku sehingga bisa hidup dalam kisah rumit macam ini. Ah, sudahlah.
Kualihkan pandanganku menuju meja kerja. Melangkah menuju ke sana dan menggapai laci paling bawah. Di dalamnya ada sebuah kotak, dan dalam kotak itu ada kumpulan surat. Surat-suat dari Mamoru dan juga teman-teman lainnya yang tak pernah kubalas. Juga kumpulan surat-surat yang telah kutulis namun tak kunjung kukirimkan.
Sepuluh tahun berlalu, dan aku penasaran. Seperti apa rupa Mamoru dan Yuuto saat ini? Masih samakah? Berubah banyakkah? Apakah sifat mereka menjadi lebih dewasa atau malah jadi makin kekanakan seperti Shirou?
Ups, bisa bahaya nanti kalau radar esper Shirou mendengar kata batinku.
Jujur aku merindukan mereka. Ingin bertemu, menyampaikan segala ucapan maaf dan terima kasih. Ingin kembali tertawa dan menangis bersama. Ingin berjalan beriringan kala terbit fajar dan senja datang.
Namun sudah tak bisa. Tidak, masih belum bisa.
Sebentar lagi, tunggulah sedikit lagi. Aku akan melindungi segala hal yang berharga bagi kita, juga melindungi kalian semua. Dan kemudian bila waktunya tiba, aku akan menyampaikannya.
Kata-kata yang selama ini tak kunjung terucap dari kebisuan ini.
Aku berbalik, menatap langit senja yang berpendar kemerahan.
Ah, waktu itu pun juga...
Inazuma Tower
Sosok berambut cokelat itu berdiri tegap, dengan ujung jersey dan rambut yang berkibar pelan diterpa angin. Matanya menatap lurus ke arah mentari senja yang sebentar lagi akan segera tertidur, digantikan malam. Senyum tipisnya terukir tatkala ia mengingat beberapa hal kecil saat sepuluh tahun yang lalu.
Ah, waktu itu pun juga...
"Waktu itu juga... langit senjanya seindah ini."
FIN
Bagus. Fanfic ini berakhir dengan indahnya ._. /plak!
Maaf, maafkan saia. Maaf banget karena endingnya fail banget dan benar-benar gaje. Saia juga nggak tahu hari ini mimpi apa kok malah nyelesein fic yang ini. Jujur saia lagi kena WB sama fandom ini gegara suatu hal. Mulai dari tahun ajaran depan, saia juga nggak bisa terlalu aktif di ffn. Saia bakal jadi murid kelas tiga, dan saia mau balas dendam sama sekolahan saia. Jadi... jadi...
Selamat tinggal? /ehkokgini
Nggak lah! Saia kan sudah janji bakal terus hidup di fandom ini sampai akhir hayat nanti! XDD
Btw, sekarang ini ada event awards untuk seluruh fanfic dan author fandom InaIre Indonesia yang telah menymbangkan karya dalam kurun waktu dua tahun ini. Berminat untuk berpartisipasi? Ikuti info lebih lanjut di grup Inazuma Eleven Authors and Readers Community! X3 (yang belum gabung grupnya bisa lapor ke saia)
Nanti kalian bisa menominasikan authoress dan fic dan reviewer yang menurut kalian pantas menerima awards ini~ Untuk daftar nominasinya ada di document grup fb kita. Jangan lupa berpartisipasi yaa? /slapped
Last dimension will come
The Fallen Kuriboh
