Disclaimer: Suzanne Collin's

Summary: Cato/Clove

Timeline: The 74th Hunger Games

WARNING: OOC, Gaje, Jelek, Misstypo(s), dsb

RnR please :D

oooOOOoooooOOOOooooOOOOooooOO

Di permulaan Hunger Games kami memang bisa menjadi sekutu, namun jika keadaan sudah tergencet kami akan menjadi musuh. Aku tak bisa membayangkan itu sekarang. Apalagi merasakan genggaman kuat persahabatan dan cinta yang hangat dari tangan Cato.

Clove's POV

Oleh sekelompok Penjaga Perdamaian, kami dibawa ke Gedung Perdamaian dan dimasukkan ke dua ruangan terpisah. Ruangan itu mewah dan luas. Karpet beludru, sofa beludru, bahkan dinding kedap suara yang membuat tak seorang pun dapat menguping. Namun aku yakin, ruangan ini dipasang alat penyadap.

Pintu terbuka. "Mom," Aku berlari memeluk ibuku. Ia memelukku erat. Ibuku berbisik, "Oh, aku sangat bangga padamu. Tapi, aku juga tak ingin kehilanganmu." Kurasakan air matanya terjatuh di pundakku. Aku berbisik, "Mom, dengar. Aku pasti akan berjuang seperti Calvin." Dalam hati aku mengutuk Calvin karena telah memenangkan permainan itu. Ibuku melanjutkan, "Clove, lakukanlah yang terbaik. Aku ingin kau tetap hidup."

Sebelum aku sempat berbicara lebih lanjut, seorang Penjaga Perdamaian membuka pintu dan menyuruh ibuku keluar. Aku tau. Waktunya sudah habis. Dan seorang pria berambut cokelat madu sepertiku masuk.

"Dad," Aku tidak berlari memeluknya, seperti yang kulakukan terhadap ibuku. Hubungan kami tidak terlalu dekat. Ayahku telah melakukan hal yang tidak adil terhadap aku dan Calvin. Ia memberi Calvin kasih sayan yang berlimpah, aku tidak. Kami terus berdiam sampai Penjaga Perdamaian mengatakan bahwa waktu sudah habis. Lalu ayahku mengatakan, "Aku ingin kau tetap hidup."

Aku menatap ayahku yang berjalan keluar ruangan dengan tatapan malas. Lalu seorang laki-laki dengan rambut pirang masuk. "Calvin," desisku. "Clove, aku tidak menyuruhmu untuk mengikuti ini!" bentaknya. Aku tertunduk. "Kau sudah cukup dipuja oleh semua orang dengan bakatmu bermain piano dan berinteraksi dengan pisau!"

Aku langsung berdiri, tak terima, "Kau pikir kau siapa? Kau tidak berhak mengaturku. Aku memang sudah dipuja di sini, namun aku ingin membuktikan bahwa aku bisa menang dalam Hunger Games! Aku mengerti. Kau tak ingin melihatku menang, bukan? Dan membiarkan semua pujian menjijikan itu jatuh kepadamu. Aku mengerti!"

Wajah Calvin memerah. Ia sedang menahan emosi, "Clove, tempatmu bukan di sana! Kau adik kecilku yang harus kulindungi!" Aku mengatupkan gigi rapat-rapat. "Aku harus melindungimu, Dik." Lanjut Calvin. "Mulai sekarang, tak ada lagi yang namanya persaudaraan di antara kita," desisku.

Oh, aku berharap para Penjaga Perdamaian datang dan membawa Calvin keluar. Aku membencinya jika ia terlalu protektif terhadapku. Ia menyebalkan! Aku sangat sangat berharap ia terbunuh saat mengikuti Hunger Games dua tahun lalu. Lalu Penjaga Perdamaian mengatakan bahwa waktunya sudah habis.

Pintu terbuka lagi. Seorang gadis rapuh yang feminin dengan rambut pirangnya yang terurai sampai pinggang. Wajah dan bibirnya bebas dari make up, namun tetap menunjukkan rona merah muda. Di tangan kanannya terpasang gelang perak bergambar bebatuan, lambang dari Distrik Dua.

Lanee. Aku hanya memandangnya tak percaya. Bukankah selama ini ia tidak menyukaiku, karena aku lebih dekat dengan Cato daripada dirinya. Aku menelan ludah dengan susah payah lalu dengan suara sedikit tercekat aku berkata, "La- ehm… Lanee."

Aku menatap dalam matanya. Tidak. Bukan kesenangan bahwa aku mungkin akan terbunuh di arena itu. Bukan itu. Tapi, yang aku lihat adalah sedikit kegugupan. Aku ragu.

"Clove, aku tidak mau berpikiran yang tidak-tidak lagi," desahnya sambil menjatuhkan bokongnya di sebelahku. Aku menautkan kedua alisku, "Maksudmu?" Lanee menatapku gugup, "Kau tidak merencanakan ini sebelumnya dengan Cato, kan?" Refleks, aku menggeleng. Lanee langsung bernafas lega. Tak tau mengapa, ia langsung melepaskan gelang yang ia pakai dan memakaikannya padaku.

Kedua alisku terangkat. Lanee tersenyum, "Oh, ini untuk perjanjian saja." Aku menjauh sedikit darinya, "Perjanjian apa?"
"Berjanjilah padaku agar kau membiarkan Cato menang," ringkasnya.
"Aku tidak janji," balasku, ketus.

"Jadi kau mau membunuh Cato jika tinggal tersisa dua peserta, yaitu kalian berdua?" suara Lanee meninggi. "Tidak," lalu aku menyeringai jahil, "Tapi, idemu itu tak buruk. Mungkin ide itu diperlukan kalau ia berani menyentuhku."

Wajah Lanee memerah marah. Ia lalu berseru nyaring, "Ia menyukaiku, kau tau? Dan ia tak akan pernah menyukai perempuan aneh sepertimu!" Aku hanya mengangguk malas, berpura-pura mengabaikan. Dengan gerakan cepat, ia merebut gelangnya kembali.

Penjaga Perdamaian masuk dan memberitahukan bahwa waktu sudah habis. Pintu sudah nyaris ditutup dan aku berseru dalam dan senang, "Perjanjian batal!"

Aku menguping dari kunci pintu dan mendengarkan Lanee berteriak-teriak nyaring. Mengeluarkan kata-kata kasar untukku, mengutukku, dan bla… bla… bla… Aku langsung menghempaskan diriku di salah satu sofa dan tertawa mengejek, biar tau rasa dia.

Lalu tawaku terhenti. Kata-kata Lanee langsung menyeruak di pikiranku. Jadi kau mau membunuh Cato jika tinggal tersisa dua peserta, yaitu kalian berdua? Aku tak ingin hal itu terjadi. Maksudku, mungkin bisa saja kami bisa menjadi sekutu di awal permainan. Namun, jika sisanya tinggal kami berdua apa yang akan kulakukan?

Oh! Cato berkata bahwa ia akan melindungiku. Mungkin ia akan membiarkanku menang. Tapi, aku tak ingin membunuhnya. Lagipula, jika bukan aku yang membunuhnya aku tetap tak ingin kehilangan dia.

Author's Note: Maaf jelek banget Baru permulaan nih belum ke permasalahan RnR please? And no flames, thanks :D