Disclaimer: Suzanne Collin's
Summary: Cato/Clove
Timeline: The 74th Hunger Games
WARNING: OOC, Gaje, Jelek, Misstypo(s), dsb
RnR please :D
oooOOOoooooOOOOooooOOOOooooOO
Tapi, aku tak ingin membunuhnya. Lagipula, jika bukan aku yang membunuhnya aku tetap tak ingin kehilangan dia.
Chelsea's POV
Aku langsung dibawa ke stasiun kereta api, diiringi oleh para Penjaga Perdamaian. Aku tidak perlu berusaha menahan air mata. Karena aku tak akan menangis. Itu pilihan yang sangat benar. Aku tak akan pernah menangis untuk hal ini. Cengeng sekali sepertinya.
Aku melihat Cato. Ia tidak menangis juga. Aku tau ia anak yang tegar dan… ganas. Ya, ia memang ganas. Jika ia sudah menyentuh pedang, kau akan melihat betapa garangnya ia.
Kami menunggu kereta berdua, bergandengan tangan. Hey, jangan berpikiran macam-macam. Cato yang menginginkannya. Jadi kami menunggu kereta berdua dan membiarkan kamera melahap kami layaknya manusia yang tak makan seminggu.
Aku menunggu dengan risih. Malas berdiri di sini, dengan kamera menyoroti wajahmu. Dan juga aku baru menyadari betapa pegalnya kakiku. Dari semua kekuatanku untuk tetap berdiri tegap dan anggun pada saat yang bersamaan, tangan Cato-lah yang membuatku tetap berada di tempat. Diam-diam aku sangat berterima kasih padanya.
Syukurlah! Kereta sudah datang. Pintu terbuka, mempersilahkan kami berdua masuk. Para kameramen sangat mengesalkan. Dengan sengaja, mereka menghalangi jalan kami. Aku menoleh pada Cato malas. Cato hanya tersenyum kecil lalu menarikku menuju kereta, layaknya body guard. Dan kami sampai di dalam kereta.
Kereta lalu bergerak. Ini merupakan salah satu kereta milik Capitol yang berkecepatan tinggi, rata-rata 250 mil per jam. Perjalanan kami memakan waktu sebentar, mungkin sekitar dua sampai tiga jam.
Kami, para peserta, diberi ruang sendiri-sendiri. Tanpa bicara satu patah kata pun, kami langsung masuk menuju ruang masing-masing. Kamar yang nyaman. Ruangan dengan pendingin udara, laci-laci dan lemari yang penuh dengan pakaian, dan kamar mandi pribadi dengan bath tub. Wow, serasa di langit ketujuh. Aku tak diperbolehkan untuk mempunyai kamar seperti ini. Kau pasti mengerti mengapa. Ya, ayahku. Sejak Calvin memenangkan Hunger Games, ia langsung berlimpah kasih sayang. Aku mengutuknya dalam hati.
Aku langsung melepaskan aksesoris dan sepatu yang kupakai hari ini. Mulai dari jam tangan, karet rambut, dan sepatu karetku (sneakers). Aku membuka lemari dan mengambil jubah mandiku. Dengan segera aku langsung berendam air panas. Oh, aku ingin berlama-lama di sini. Hanya saja aku harus makan malam bersama dengan Leena Clockwork yang menyebalkan dan mentorku, Posh. Oh, untuk informasi Posh adalah laki-laki. Aneh? Tak usah bertanya.
Dengan segera, aku berpakaian. Aku mengambil baju yang memang gayaku. Hem merah dan celana jeans hitam, diikuti dengan sneakers-ku. Aku mengikat rambutku dengan gaya pony tail dan langsung melesat keluar ketika...
BRUKK..!
Aku tertabrak. Aku terjatuh. Kepalaku yang paling sakit. Aku mengusap-usap kepalaku sebelum akhirnya membuka mata. "Astaga, Clove!" seru orang yang menabrakku. "Kau tak apa?" Itu pastilah Cato. Suaranya yang memang SANGAT familiar memberitahuku bahwa ia Cato.
Aku mengerang. Tiba-tiba, kedua tangan kekar terulur membopongku. Persetan ka, Cato. "Cato, turunkan aku," erangku. Pandanganku masih berkunang-kunang. "Aku bawa kau ke ruang makan," ucap Cato.
Serasa disiram air dingin, aku langsung menolak mentah-mentah, "Tidak! Turunkan aku, aku bisa berjalan sendiri."
"Dengan tubuhmu yang gemetar?" tanya Cato, menembak.
Inilah yang aku benci dengan diriku. Pusing atau kaget sedikit saja, aku langsung gemetaran. Memang tidak akan mengganggu aktifitasku, tapi aku akan sulit berlari ataupun berjalan.
Aku memandang mata biru Cato. Aku ingat kata-katanya. Aku harus melindungimu, Clove. Lalu kata-kata Lanee langsung menyergap pikiranku. Jadi kau mau membunuh Cato jika tinggal tersisa dua peserta, yaitu kalian berdua? Aku tidak mau hal itu terjadi. Tapi, besar kemungkinan hal itu terjadi. Aku tak mau membunuhnya… Dan aku tak mau ia terbunuh. Aku ingin tetap bersamanya.
"Sampai," gumam Cato, langsung mendudukanku di salah satu kursi kosong. Posh dan Leena menatap kami bergantian. Ah, aku baru tersadar. "Yang tadi itu tak ada apa-apanya," ucapku cepat. Posh mengangkat salah satu alisnya, meminta penjelasan lebih. Aku benci pria tua ini.
"Clove mempunyai sedikit gangguan jika ia kaget atau pusing. Seluruh tubuhnya akan gemetar. Tadi ia kaget karena tertabrak olehku jadi… yah," jelas Cato. Empat mata langsung menyerbu ke arahku. Aku langsung mengangguk.
"Baiklah, mari kita lanjutkan makan malam ini," ucap Leena. Kami makan dengan tenang. Lalu Posh berkata, "Sekitar 45 menit lagi kita akan sampai di Capitol namun belum bertemu dengan para tribute lainnya. Kalian akan ditata ulang untuk wawancara singkat nanti." Aku mengerti apa yang dimaksud dengan ditata ulang. Itu saat dimana bulu-bulu kami dicabuti (untuk yang mempunyai bulu), luka-luka kami dihilangkan, intinya seluruh badan kamu ditata ulang.
Cato mengacuhkannya, sama seperti aku mengacuhkannya. Kami selesai makan lalu aku dan Cato kembali ke kamar, berjalan beriringan. Kami jalan dalam diam. Pengakuan Cato padaku membuat suasana ini terasa lebih canggung dari biasanya.
Aku baru akan membuka mulut ketika kulihat wajah Cato menegang. "Kau ada masalah?" tanyaku. Cato tidak menjawab, tetap berjalan sambil setengah menunduk. "Cato," panggilku. "Cato!" seruku.
"Ya?" Ia langsung tersadar dari alamnya dan langsung menatapku, "Apa?" Aku menyipitkan mataku, "Apa? Seharusnya aku yang bertanya begitu. Ada apa sebenarnya?" Cato hanya menatapku sebentar lalu berjalan menjauh, tanpa sebutir pun jawaban.
Aku menghela nafasku, kesal. Kukejar Cato dan berusaha untuk menhalanginya, "Aku butuh jawaban." Ia tetap mengacuhkanku. Habislah kesabaranku. Aku mencegatnya langsung di depan badannya dan sedikit mencengkeram lengannya, "Aku. Butuh. Jawaban. Cato."
Wajahnya mengendur sedikit. Dengan lembut ia melepaskan cengkeramanku, "Dengar, ini hanya rencanaku di arena nanti. Tak usah ikut campur." Cato langsung berjalan menjauh dan masuk ke kamarnya.
Aku menatapnya bingung. Apa maksud orang ini? Apa Cato, yang telah menjadi sahabatku akan menghalangiku untuk menjadi pemenang di arena? Ah, tidak mungkin. Ia sudah berjanji. Tapi, kalau benar itu terjadi aku tak mau.
Dua alasan. Pertama, aku sahabatnya dan tak mau kehilangannya. Kedua, aku tidak mau terjadi pembunuhan di antara kami berdua. Jadi sebisa mungkin, aku harus memikirkan cara agar kami bisa keluar sebagai pemenang.
Author's Note: Maaf jelek banget, RnR please? And no flames, thanks :D
