DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
PAIRING :
Absolutely KuroPika^^
SUMMARY :
She knew nothing, but she acted like she knew everything. This is my sin...for those who suppossed to live happily together.
WARNING :
OOC. FemKura. Made for fic based-on-movie challenge!
Aku akan memberitahukan judul film yang jadi dasar pembuatan fic ini di chapter terakhir :D
Untuk yang sudah tahu, keep silent please…hehe!
.
Happy reading^^
.
.
.
Gon dan Killua baru saja selesai berenang di danau. Mereka terlihat lelah. Keduanya kembali ke kamar Bisuke bersama dengan Neon, namun gadis berkuncir itu sudah tidak ada di kamarnya.
"Ini gara-gara kalian, Bisuke pasti marah!" kata Neon, memarahi kedua adiknya.
"Biar saja, aku memang tidak suka main drama kok!" jawab Killua tak peduli sambil berbaring di atas sofa.
"Iya, membosankan!" Gon menimpali.
Neon mendengus kesal. "Kita menumpang di sini, jadi harus bersikap baik termasuk pada Bisuke!"
Gon dan Killua terlihat malas menanggapi omelan Neon. Killua mengangkat kakinya...hingga akhirnya ia berkata,
"Neon, perceraian itu apa?"
"Iya, apa artinya? Aku dengar Ayah dan Ibu akan bercerai," tambah Gon.
"Itu 'kan sebabnya sehingga kita harus tinggal di tempat yang membosankan ini untuk sementara waktu?"
"Siapa yang mengatakan hal itu pada kalian?" Neon terlihat terkejut. "Perceraian itu tidak akan terjadi!"
"Bohong! Kudengar Ibu berselingkuh!" Killua segera mendebat kakak perempuannya itu.
Gon termangu. "Oh? Benarkah?"
Neon semakin marah mendengarnya. Dengan wajah yang memerah, ia memarahi adik-adiknya bahkan mencubit mereka. Neon tak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikannya dari pintu kamar yang sedikit terbuka. Hisoka.
Pintu pun terbuka lebih lebar, Hisoka melangkah masuk. Ia langsung disambut dengan tatapan penuh curiga dari Neon, Gon dan Killua.
Hisoka tersenyum, seketika matanya tertuju pada anak-anak itu.
"Bolehkah aku bergabung?" tanya Hisoka ramah. Tak mendapatkan tanggapan, Hisoka pun melanjutkan pertanyaannya, "Apakah kalian tahu siapa aku?"
"Kau temannya Leorio," kata Neon takut-takut sambil agak menjauh.
Senyuman tak lepas dari wajah Hisoka. "Ya...tapi apakah kalian tahu aku punya pabrik coklat?"
Wajah Killua seketika berseri-seri mendengar ucapan Hisoka. Ia sangat menyukai coklat. "Apa? Coklat? Apakah kau membawa nya?" tanya Killua dengan bersemangat.
"Killua! Jangan begitu!" desis Neon sambil mendelik marah pada adiknya.
Killua langsung merengut, sementara Hisoka hanya terkekeh geli. Ia memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana dan mengeluarkan beberapa batang coklat.
Gon dan Killua menerimanya dengan gmbira, sementara Neon masih terlihat malu-malu. Ia berdiri di dekat jendela sambil sesekali melirik cermin yang berada tak jauh dari sana.
"Ini untukmu," kata Hisoka sambil mengulurkan coklat untuk gadis itu.
Neon menerimanya dengan ragu, lalu mulai membuka bungkusan coklat itu. Tatapan Hisoka tak pernah lepas darinya.
"Celana panjangmu bagus," komentar pria itu sambil melirik celana panjang merah muda yang dikenakan Neon.
"Aku membelinya waktu menonton opera di gedung teater bersama Ibu," kata Neon pelan. Tiba-tiba ia tersadar akan sesuatu, dan melanjutkan ucapannya dengan suara yang berbisik, "Ah! Kau tahu sesuatu tentang ayah dan ibuku?"
"Tentu saja, tabloid di kota tempatku bekerja ramai membicarakan tentang mereka."
"Kalau begitu jangan beritahukan Gon dan Killua! Jangan sampai mereka tahu!"
Hisoka terkekeh geli. "Tenang saja," katanya. "Berapa umurmu?"
"Empat belas tahun."
Hisoka terus menatapnya, melihat gadis itu membuka pembungkus coklat yang ia berikan tadi, lapis demi lapis.
Setelah berhasil dibuka, sorot mata Hisoka berubah. Aura misterius yang penuh dengan gairah terlihat di dalamnya, bahkan senyumannya pun berubah menjadi seringai yang aneh.
"Gigit," kata Hisoka pelan dengan nada suara yang terdengar memerintah.
Neon mendongakkan wajahnya, sedikit merasa heran dan terkejut dengan perkataan Hisoka.
"Gigitlah," kata Hisoka lagi sambil mengepal kedua tangannya.
.
.
Sementara itu, di pondok sederhana yang letaknya terpisah dengan Puri Keluarga Kuruta, Kuroro tengah berada di kamar mandi. Ia berendam di bathtub...memikirkan sesuatu yang sepertinya begitu mengusik benaknya.
Ya, kejadian yang ia alami bersama Kurapika tadi siang tak bisa lepas dari ingatannya. Kuroro menatap langit-langit kamar mandi itu. Terdengar suara sebuah pesawat terbang melintas di atasnya.
Apa yang terjadi di kolam air mancur tadi, adalah sesuatu yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Pertama, Kuroro tak menyangka Kurapika akan sengaja menyapanya. Dan yang kedua...Kurapika memang wanita yang spontan dan berani, ia tahu itu. Tapi Kuroro tak menyangka dia akan membuka pakaiannya di hadapan Kuroro tanpa ragu sedikitpun.
Ya, Kurapika dikuasai amarah saat itu. Seringkali Kuroro tak mengerti, kenapa sejak kuliah...Kurapika selalu terlihat marah padanya? Apapun yang ia lakukan, apapun yang ia katakan, sepertinya selalu saja salah bagi Kurapika. Namun untuk kejadian siang tadi...Kuroro mengakui, dia telah mengacaukannya.
'Kurapika, sebenarnya apa yang terjadi di antara kita? Apa yang kau pikirkan?'
Kuroro menghela napas...ia telah memutuskan. Kuroro akan meminta maaf padanya.
.
.
Kuroro mengenakan celana panjang dan kaus dalamnya. Ia tak mau menunda lagi apa yang ia rencanakan saat ini. Dengan rambut yang masih setengah basah, Kuroro duduk di depan mesin tik dengan posisi menghadap ke jendela.
Kuroro menatap pemandangan yang hijau di hadapannya. Dahinya berkerut...Oh Tuhan, kenapa rasanya sulit sekali? Ini karena dirinya dan Kurapika tak pernah saling bicara jujur sejak lama...bahkan mungkin sejak dulu mereka tak pernah begitu. Kuroro mengetikkan beberapa kata, tapi kemudian ia mencabut kertas itu dan meremasnya, lalu membuangnya begitu saja ke lantai. Kuroro tak menyerah, ia pun mulai mengetik lagi dan kejadian sebelumnya kembali terulang. Hal itu terjadi selama beberapa kali.
'Aku harus menenangkan pikiranku,' batinnya.
Kuroro beranjak dari duduknya, mengambil salah satu piringan hitam koleksinya dan meletakkannya di gramophone. Tak lama kemudian, suara musik klasik yang indah mengalun lembut memenuhi kamar itu. Kuroro duduk di kursinya...meregangkan otot-otot tangan dan kakinya yang kekar.
Kuroro menyandarkan tubuh tegapnya dan memejamkan mata. Ia begitu menikmati suara musik itu, hingga seolah-olah musik tersebut mampu membawanya ke alam bawah sadar. Dan bayangan yang muncul di sana hanya satu...Kurapika.
Di sore hari seperti ini, pasti Kurapika tengah bersiap-siap untuk pesta malam nanti. Kuroro membayangkan, Kurapika tengah berlama-lama berkaca di depan cermin. Mungkin ia telah selesai menata rambut dan merias wajahnya. Rambutnya yang pirang dan halus, begitu berkilau...dan wajahnya yang bagaikan malaikat. Menatap mata birunya seolah dapat membuat Kuroro serasa tenggelam dan lupa akan segalanya. Lalu...bibirnya yang mungil dan merona...
Kuroro segera membuka matanya. Ia tersenyum. Saat ini, perasaannya terasa begitu meluap-luap. Tiba-tiba saja ia ingin mengetikkan sesuatu yang ditujukan untuk Kurapika. Kuroro menegakkan badannya dan mulai mengetik kembali.
'Kurapika yang cantik dan mempesona,
Aku ingin mengatakan padamu...bahwa aku selalu teringat akan dirimu sejak lama. Di dalam mimpiku...aku bisa dengan bebas menyentuhmu, menikmati manisnya tubuhmu, lembutnya bibirmu,…'
Kuroro mengetik dengan semburat tipis kemerahan menghiasi wajah tampannya yang putih pucat, namun seringai kepuasan pun ada di sana. Rasanya, apa yang ia tahan selama ini telah ia lepaskan. Bahkan Kuroro pun berani menyebutkan bagian tubuh sensitif wanita di dalam suratnya itu.
Setelah selesai, Kuroro mengeluarkan surat dari mesin tik dan membacanya kembali. Ia menertawakan isinya.
'Yang benar saja, aku tak mungkin menyerahkan ini pada Kurapika,' ucapnya dalam hati.
Kuroro melipat kertas itu dengan rapi, lalu meletakkannya di samping mesin tik.
'Aku harus melakukannya dengan benar.'
Kuroro memasukkan kertas yang baru...
'Kurapika Sayang,
Mungkin menurutmu aku gila karena sikapku siang tadi. Sebenarnya, aku sering merasa gugup dan bodoh saat berhadapan denganmu, Kurapika. Kumohon, maafkan aku. Mari kita mulai kembali semuanya dari awal.'
Setelah selesai, Kuroro segera mengeluarkan surat itu dari mesin tik dan meletakannya di atas meja.
"Kuroro, tuksedomu sudah siap!" terdengar suara Pakunoda, ibunya, dari luar kamar.
Kuroro segera keluar, menghampiri Pakunoda yang menyambut dengan senyum tipisnya. Kerutan sudah jelas terlihat di wajah wanita setengah baya itu, rambut pirang pucatnya pun sudah lama memudar.
"Terima kasih," kata Kuroro sembari mengambil tuksedo yang telah disiapkan ibunya.
Pakunoda menatap pria itu. Penampilan Kuroro begitu mirip dengan suaminya yang telah meninggalkan mereka 20 tahun yang lalu, namun Kuroro adalah satu-satunya miliknya yang berharga, kebanggaan hidupnya.
Kuroro menyadari tatapan itu.
"Ada apa Bu?" ia bertanya.
"Tidak apa-apa," jawab Pakunoda sambil tersenyum. "Ayo, cepatlah bersiap-siap."
Kuroro masuk kembali ke kamarnya dan segera menyiapkan diri. Untunglah ia teringat pada surat yang ia buat untuk Kurapika. Kuroro mengambil selembar amplop dan kertas di sebelah mesin tik.
'Mudah-mudahan Kurapika bersedia untuk memaafkanku,' batinnya.
.
.
Bisuke yang merasa kesal akibat naskah dramanya tak jadi dipentaskan, pergi menyendiri ke halaman belakang puri. Duduk di atas sebuah batu besar, dikelilingi bunga-bunga liar yang cantik. Tangannya menari dengan lincah di atas buku yang ia bawa, sesekali dahinya terlihat mengernyit.
'Sang Putri terkejut saat mengetahui rencana yang ia dengar dari bangsawan itu. Ia pun marah…tapi, Sang Putri tak bisa begitu saja melupakan cintanya pada Tuan Romulus. Terutama saat di danau, ketika…'
Tangan Bisuke terhenti. Ia mendongakkan wajahnya, dan menatap danau yang berkilauan agak jauh dari sana. Membuatnya teringat pada kejadian dua tahun yang lalu…
Flashback
Bisuke telah siap dengan baju renangnya. Ia berdiri di tepi danau, menatap air yang ada di bawahnya. Tak jauh dari sana, Kuroro tengah berjalan dan sebentar lagi akan sampai ke tempat di mana Bisuke berada.
Bisuke menatap pria itu dengan tatapan yang berbeda…tatapan seorang gadis kecil yang baru mengenal cinta pertama.
Kuroro menyadari tatapannya. Tanpa tahu apa-apa ia tersenyum, lalu berlari menghampiri. Kini Kuroro berdiri berseberangan dengan Bisuke.
"Kau mau berenang?" tanya Kuroro ramah.
Bisuke mengangkat bahu. "Yah, sudah jelas kan? Lagipula aku sedang bosan."
"Aku sudah lama tak membaca ceritamu. Biasanya kau sellau menjilid ceritamu dengan rapi lalu meminjamkannya padaku."
"Aku sedang beristirahat sejenak."
Pipi Bisuke sedikit merona, namun Kuroro tak memperhatikan hal itu.
"Hmm…tapi kuberitahu kau, sebaiknya jangan di situ. Terlalu dalam untukmu," kata Kuroro lagi.
Bisuke menatapnya. "Tapi kalau aku tenggelam, kau akan menolongku 'kan?"
Belum sempat Kuroro berkata apa-apa, Bisuke segera terjun ke danau. Kuroro pun panik. Ia segera masuk ke danau, menyelam dan menarik Bisuke yang kesulitan berenang.
"Bodoh!" bentak Kuroro kesal saat mereka berdua sudah berada di tepi. "Apa yang kau—"
Ucapan Kuroro terhenti saat tiba-tiba Bisuke menciumi pipinya.
"Ah…ternyata kau benar-benar menyelamatkanku! Aku senang sekali!" kata gadis kecil itu gembira. "Terima kasih! Terima kasih!"
Kuroro terkejut, ia segera berdiri.
"Kau gila? Kau bisa membunuh kita berdua!"
End of Flashback
Bisuke menghela napas. Saat itu, Kuroro pergi meninggalkannya begitu saja. Ya, mata Kuroro memang tak pernah tertuju padanya. Hanya Kurapika yang nampak di mata pria itu.
Bisuke meletakkan buku dan penanya. Ia membungkuk, mengambil sebuah ranting panjang lalu berdiri dan mulai menebas bunga-bunga liar yang ada di sekitarnya dengan marah. Bisuke tak menyadari, Kuroro tengah memperhatikannya. Dengan penampilan yang rapi, pria itu melangkah menuju ke Puri Keluarga Kuruta dan berhenti saat melihat Bisuke.
"Bisuke!" seru Kuroro.
Bisuke menoleh. Ia membuang ranting yang dipegangnya, lalu segera berlari menghampiri Kuroro.
"Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?" tanya Kuroro perhatian.
Bisuke hanya mengangguk. Sebenarnya Kuroro merasa sedikit aneh dengan tingkahnya, tapi Bisuke bukan tipe gadis kecil biasa yang senang jika ada orang yang bertanya tentang perilakunya.
"Bisakah aku minta tolong padamu?" tanya Kuroro sambil tersenyum.
Bisuke tak menjawab, namun ia terlihat heran. Kuroro pun mengeluarkan surat dari saku tuksedonya dan menyerahkannya pada Bisuke.
"Tolong berikan ini pada Kurapika," kata Kuroro. "Kurasa akan lebih baik jika bukan aku yang menyerahkannya sendiri."
Bisuke menerima surat itu, merabanya seolah mencoba mengetahui kata-kata apa yang tertulis di dalamnya. "Baiklah," jawabnya pendek.
"Kuharap dia bisa menerimanya sebelum pesta dimulai," Kuroro menambahkan.
Bisuke tak menanggapi. Ia segera berbalik dan berlari kencang menuju ke puri.
Melihat hal itu, Kuroro tersenyum puas. Setelah Bisuke hampir menghilang dari pandangan, ia menghela napas lega.
'Untunglah…aku mengetik surat itu untuk Kurapika. Untung ada Bisuke,' ucapnya dalam hati.
Kuroro berharap banyak pada surat yang dibuatnya itu. Baginya, itu adalah langkah awal yang baru.
Semua yang telah ia rasakan, semua yang telah ia lewati saat berusaha membuat surat untuk Kurapika kembali terbayang di benaknya. Hingga tiba-tiba…Kuroro meragukan sesuatu.
Setelah mengambil tuksedo yang disiapkan ibunya, Kuroro baru menyadari bahwa waktu telah berjalan dengan begitu cepat. Ia segera bersiap-siap, namun masih teringat pada surat untuk Kurapika.
'Tunggu sebentar!'
Setelah mengambil amplop, Kuroro mengambil surat yang telah ia siapkan. Surat yang berada di sebelah mesin tik.
'Surat mana yang aku ambil? Surat mana yang aku masukkan ke dalam amplop itu?'
Kuroro mulai panik, dan berusaha mengingat semuanya dengan lebih jelas. Surat pertama, adalah surat yang merupakan perwujudan dari alam bawah sadarnya yang liar tentang Kurapika, ia lipat dan diletakkan tepat di samping mesin tik. Surat kedua, surat yang lebih formal dan beretika, ia letakkan di samping surat pertama.
Mata Kuroro membelalak…
Ia telah keliru memasukkan surat pertama ke dalam amplop yang diberikannya pada Bisuke.
"BISUKEEE…..!"
TBC
.
.
A/N :
Review please…^^
