DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
PAIRING :
Absolutely KuroPika^^
SUMMARY :
She knew nothing, but she acted like she knew everything. This is my sin...for those who suppossed to live happily together.
WARNING :
OOC. FemKura. Made for fic based-on-movie challenge!
Aku akan memberitahukan judul film yang jadi dasar pembuatan fic ini di chapter terakhir :D
Untuk yang sudah tahu, keep silent please…hehe!
.
Happy reading^^
.
.
.
Bisuke tidak mendengar teriakan Kuroro yang memanggil namanya. Ia sudah berada jauh dari tempat di mana pria itu berada. Bisuke berlari sekencang mungkin, hingga akhirnya sampai ke dalam puri. Keadaan di tempat itu cukup sepi, karena orang-orang tengah bersiap untuk pesta.
Bisuke menghentikan larinya. Napasnya tersengal-sengal. Sejenak ditatapnya amplop dari Kuroro untuk kakaknya, Kurapika. Isinya seperti apa? Apa yang dikatakan Kuroro dalam suratnya? Bisuke benar-benar ingin tahu.
Lalu...itulah masalahnya.
Bisuke membuka amplop surat itu dengan cepat, lalu segera membaca isinya. Matanya terbelalak.
.
.
Kurapika menatap pantulan dirinya di cermin. Ia sudah hampir selesai berdandan. Untuk sentuhan akhir, Kurapika menyematkan jepit rambut kecil bertatahkan permata berbentuk bintang di rambutnya yang pirang. Lalu ia melangkah dengan bertelanjang kaki menghampiri lemari pakaian.
Kurapika memilah-milah gaun yang digantung di dalam lemari itu. Ia memilih sehelai gaun berwarna biru safir...yang sewarna dengan matanya yang indah. Kurapika melepaskan mantel tidurnya, lalu mengenakan gaun yang telah ia pilih. Gaun itu meluncur dengan sempurna di tubuhnya. Warnanya berkilau mewah, dengan potongan dada yang cukup rendah dan belahan yang berada tepat di bagian depan roknya hingga mencapai paha.
.
.
Jemari Leorio menari dengan lincah di atas tuts piano, memainkan sebuah lagu indah yang biasa dimainkan ayahnya bila Keluarga Kuruta tengah berkumpul bersama. Merasakan kehadiran seseorang di ruangan itu, ia pun tersenyum dan menoleh.
"Wah...kau benar-benar cantik," Leorio memuji Kurapika sambil menghentikan permainan pianonya.
"Terima kasih," jawab Kurapika pendek. Ia pun membalas senyuman Leorio.
Tatapan Leorio masih saja tak lepas dari wanita itu.
"Hei, jangan terus menatapku begitu!" kata Kurapika lagi sambil terkekeh geli dan berdiri di samping piano.
"Kurapika," ucap Leorio dengan raut wajah yang serius. "Apa pendapatmu tentang Hisoka?"
"Hm...dia cukup tampan, menarik dan tampak jelas sekali kalau dia pun menyadari hal itu."
"Lalu?"
"Kurasa dia pun sudah tahu bagaimana seorang pria harus memperlakukan wanita."
Leorio mengernyit. "Kau mmbuatnya terdengar seperti seorang playboy, Kurapika."
Kurapika langsung tertawa mendengar komentar kakaknya. "Aku tidak bermaksud begitu, Leo..."
"Menurutku dia cocok untukmu, Pika-chan."
"Kau benar-benar sedang berusaha untuk menjodohkanku dengannya ya?"
"Yaa...sepertinya memang begitu."
Kurapika hanya membalas ucapan Leorio dengan sebuah senyuman. Ia tahu kelebihan-kelebihan Hisoka, dan tak diragukan lagi pasti banyak wanita yang ingin menjadi pendampingnya, tapi entahlah...ada sesuatu yang aneh dalam diri pria itu dan membuat Kurapika merasa tidak nyaman.
Tiba-tiba Bisuke datang.
"Leorio!" serunya gembira. Bisuke berlari melewati Kurapika dan dengan tanpa menoleh, sambil lalu ia menyerahkan surat dari Kuroro padanya.
"Adikku Bisuke yang manis!" kata Leorio sambil memeluk gadis kecil itu. "Apakah semuanya sudah siap? Ibu bilang kau sudah menyiapkan pementasan drama khusus untukku."
"Tidak jadi...persiapannya tidak berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan."
Wajah Bisuke merengut, dengan singkat ia menceritakan bagaimana Neon, Gon dan Killua tidak ingin mengambil peranan dalam pementasan itu. Leorio pun berusaha membuat suasana hati Bisuke lebih baik dengan berusaha membuatnya tertawa.
Sementara itu, hanya berjarak beberapa langkah dari mereka berdua, Kurapika nampak tercengang. Ia sudah membaca isi surat yang diberikan Bisuke.
"Bisuke, mana amplopnya? Apa surat ini awalnya memang tidak memakai amplop?" tanya Kurapika waswas.
Bisuke pura-pura tidak mendengarnya, ia terus saja bicara dengan Leorio.
"Bisuke!"
"Ah...permisi semuanya, aku harus segera bersiap-siap," sahut Bisuke segera sambil menghambur ke luar ruangan.
Kurapika baru saja akan mengejar Bisuke saat tiba-tiba Hisoka masuk membawakan tiga gelas cocktail dan menahannya pergi.
"Ow, kau mau pergi ke mana, Kurapika?" ia bertanya sambil tersenyum. "Tetaplah di sini…kau harus mencoba minuman yang kuracik sendiri."
.
.
Bisuke duduk di tempat tidurnya yang nyaman. Ia baru saja selesai memilih baju yang akan dikenakan untuk pesta nanti, sehelai gaun putih berpita tergeletak di sampingnya. Matanya menatap lurus ke depan...pandangannya menunjukkan seolah ia tengah tidak berada di tempat di mana raganya berada sekarang.
Bisuke masih merasa terkejut dengan isi surat yang dibuat Kuroro untuk Kurapika. Terkejut...dan cemburu? Mungkin saja.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan di pintu kamar gadis itu. Bisuke hanya diam. Pintu pun terbuka perlahan...masuklah Neon dengan langkah yang ragu-ragu. Ia sudah mengenakan gaun pesta berwarna merah muda yang lembut, dengan sehelai selendang berwarna senada tersampir di pundaknya. Ada yang aneh dengan gadis itu. Matanya terlihat seperti habis menangis...dan raut wajahnya terlihat ketakutan. Ia menghampiri Bisuke dan duduk di hadapannya.
"Neon? Kau kenapa?" tanya Bisuke keheranan.
Neon menatapnya takut-takut, lalu memperlihatkan sebuah bekas gigitan di lengannya.
"Apa itu? Siapa yang telah menggigitmu?"
Bisuke pun kaget. Neon terlihat ragu untuk menjawab, lalu sambil menghindari tatapan sepupunya itu, perlahan ia membuka mulutnya dan mulai bicara dengan suara yang pelan,
"Gon...dan Killua...mereka marah padaku..."
"Benarkah?"
"Ya, bahkan salah satu dari mereka menggigitku. Mungkin aku...memang bukan seorang kakak yang baik."
"Tidak! Jangan bicara begitu, lagipula Kurapika pun telah memberiku pengertian bahwa kalian bertiga tengah mengalami masa yang sulit."
Neon masih tetap menunduk. Perlahan Bisuke menyentuh bahu gadis itu, dan dengan tatapan mata yang serius…ia pun berkata,
"Aku tahu...siapa yang paling buruk."
"Maksudmu?" tanya Neon sambil menatap Bisuke dengan bingung.
"Neon, kau tahu kata-kata seperti apa yang paling tidak beretika?"
Neon terdiam tak mengerti. Dahinya mengernyit. Bisuke menghela napas...ia mencondongkan badannya, dan berbisik kepada Neon memberithukan apa yang ada di dalam surat Kuroro untuk Kurapika.
Mata Neon membelalak.
"Bisuke, itu benar-benar tidak bermoral! Dia maniak! Kuroro mengatakan itu?"
"Ya..."
"Kurapika juga pasti terkejut. Oh Bisuke, entah apa yang bisa dilakukan orang seperti Kuroro nanti. Kau harus mengatakannya pada orang dewasa! Mungkin pada polisi!"
"Hm...aku akan memikirkannya."
Neon tersenyum, Bisuke pun membalas senyumannya. Keduanya sudah merasa lebih baik sekarang.
"Hei, sudah waktunya kau bersiap-siap," Neon memecahkan keheningan di antara mereka.
Bisuke melirik ke jam yang ada di atas mejanya. "Ah...benar juga. Baiklah!"
.
.
Dengan hati yang berdebar-debar Kuroro melangkah menuju Puri Keluarga Kuruta. Ia terdiam sesaat di depan pintu besar puri itu. Tangannya baru saja akan membunyikan bel saat tiba-tiba seseorang sudah membuka pintunya lebih dulu.
Kurapika.
Raut wajah wanita itu terlihat datar. Ia menatap Kuroro tanpa ekspresi. Kuroro yang terpesona dengan penampilan Kurapika saat itu, segera tersadar.
"Surat itu adalah sebuah kekeliruan," kata Kuroro segera.
"Bisuke membacanya," ucap Kurapika.
"Seharusnya bukan seperti itu isi suratnya."
"Benar."
"Itu versi yang salah. Aku telah keliru memasukkannya ke dalam amplop."
Raut wajah Kurapika tetap tak berubah. Ia berbalik dan mulai melangkah. Kuroro mengikuti di belakangnya, sambil sesekali menoleh ke sekeliling, seolah khawatir ada orang lain yang melihat mereka.
Kurapika terus berjalan dengan langkah yang cukup cepat, hingga tak sadar jepit rambutnya jatuh ke ke atas karpet merah yang terhampar di lantai. Mereka melangkah dalam diam. Sesampainya di ruang baca, Kurapika menyalakan lampu yang berada di atas meja dan Kuroro menutup pintu ruangan itu lalu menatap Kurapika yang berdiri membelakanginya. Dengan sabar ia menunggu…dan berusaha untuk menahan diri.
Setelah beberapa saat, Kurapika berbalik menghadap Kuroro.
"Jadi seperti apa isi surat yang seharusnya kau berikan untukku?" ia bertanya.
"Menurutku isinya sedikit lebih formal...dan beretika," Kuroro menjawab. "Lalu…tentu saja tidak membahas tentang—"
"Bagian tubuh?"
"Ya."
Kuroro tersenyum kikuk, sementara Kurapika menghela napas…dan senyuman yang kemudian terlihat di wajahnya adalah sebuah senyuman sedih. Kuroro mulai merasa aneh.
"Tadi siang...di kolam air mancur…aku begitu marah padamu, dan aku membenci diriku sendiri," Kurapika berkata. Ekspresi wajahnya begitu berbeda dengan yang biasa dilihat Kuroro. "Aku tak pernah bersikap seperti itu sebelumnya."
Perkataan Kurapika terhenti sejenak, menundukkan wajahnya seolah ia berusaha untuk mengendalikan perasaannya. Ingin sekali Kuroro merengkuhnya, tapi ia khawatir ini bukan saat yang tepat sehingga pria itu pun memutuskan untuk menahan diri.
"Aku...saat membaca suratmu..." Kurapika bicara lagi, lalu ia mengangkat wajahnya…dan Kuroro pun terkejut. Mata biru wanita itu berkaca-kaca. "Kukira aku akan bahagia saat mendengarmu akan kuliah lagi untuk menjadi dokter. Tapi ternyata…"
Kurapika melangkah mundur ke belakang meja, mendekati rak buku yang menempel di dinding. Kali ini, bibirnya terlihat gemetar karena menahan tangis.
"Aku sudah tak sanggup untuk menahannya lagi...sejak beberapa tahun yang lalu, saat aku menyadarinya…Kau tahu apa yang aku bicarakan, bukan? Bahkan mungkin kau telah mengetahuinya lebih dulu. Aku—"
"Ya, aku tahu," jawab Kuroro.
Setelah mengatakan itu, Kuroro segera memeluk Kurapika dan menciumnya hingga tubuh wanita itu bersandar pada rak buku yang ada di belakangnya.
Mereka berciuman selama beberapa saat. Saat ciuman itu terlepas, keduanya terlihat terkejut. Kuroro pun tak berkata apa-apa. Ia hanya menatap sepasang mata biru indah yang ada di hadapannya. Cahaya dari lampu yang berada di atas meja menimbulkan suasana yang temaram...membuat Kurapika tampak semakin mempesona...dan menggoda.
Kuroro kembali menempelkan bibirnya ke bibir Kurapika. Ciuman itu berlangsung perlahan dan lembut, namun kemudian berubah menjadi ciuman yang penuh gairah. Kuroro menciumi leher Kurapika, dan mereka berpelukan dengan lebih erat. Saat ciuman itu kembali terjadi, Kuroro menurunkan tali gaun yang dikenakan Kurapika dan Kurapika mulai membuka kancing kemeja Kuroro. Keduanya berusaha menyingkirkan hal yang menghalangi gairah dan perasaan mereka yang meluap-luap.
Kurapika berpegangan ke tangga yang bersandar di depan rak. Kuroro menaikkan sebelah kaki Kurapika, lalu pada saat yang tepat…Kuroro menaikkan tubuh wanita itu sedikit.
Kurapika tersentak. Rasa sakit mulai ia rasakan.
"Kuroro…," ucapnya lirih.
"Kurapika…," Kuroro pun berkata.
"Aku mencintaimu…"
"Aku mencintaimu."
Kegiatan mereka terus berlangsung, namun tak lama kemudian mata Kurapika membelalak saat ia menyadari sesuatu.
"Ada yang datang," kata Kurapika tiba-tiba.
Kuroro pun menghentikan aksinya. Waktu serasa berhenti…saat Kurapika melihat Bisuke berdiri di hadapan mereka.
"Pika-chan…?" ucap gadis kecil itu dengan suara tercekat.
Kuroro segera menurunkan Kurapika. Masih dengan posisi membelakangi Bisuke, ia dan Kurapika sama-sama merapikan pakaian mereka. Lalu tanpa berkata apa-apa dan seolah tak terjadi apapun sebelumnya, keduanya berjalan beriringan melewati Bisuke lalu keluar dari ruangan itu.
Bisuke menatap kepergian Kuroro dan Kurapika dengan perasaan yang campur aduk. Ia bisa berada ke ruang baca karena melihat jepit rambut Kurapika yang terjatuh di atas karpet. Merasa curiga, Bisuke melangkah ke ruang baca. Ia semakin curiga saat mendengar suara-suara aneh dari balik pintu.
Ternyata…inilah yang terjadi. Namun siapa yang tahu tafsiran seperti apa yang ada di benak Bisuke?
.
.
Semua sudah berkumpul saat Bisuke tiba di ruang makan. Gadis itu menatap Kuroro dan Kurapika yang duduk bersebelahan, lalu mengambil tempat di samping Neon. Beberapa orang pelayan sibuk menghidangkan makanan.
"Cuaca hari ini panas sekali," kata Ny. Kuruta sambil meneguk anggur merahnya.
Leorio tersenyum. "Ya, ada yang mengatakan bahwa cuaca panas dapat membuat seseorang berbuat tak sewajarnya, atau bahkan sesuatu yang tidak pantas."
"Aku setuju denganmu," kata Hisoka.
Leorio menoleh pada Kurapika. "Pika-Chan, kenapa diam saja? Bagaimana pendapatmu tentang cuaca panas?"
"Tidak ada," jawab Kurapika segera. Pipinya merona tanpa ia sadari, namun hal itu tak luput dari perhatian Leorio.
"Pipimu merona."
"Ini karena cuaca yang panas!"
Leorio terkekeh geli. Menggoda Kurapika rasanya seperti kembali ke masa-masa yang lalu…saat mereka masih kecil.
"Bagaimana denganmu, Bisuke? Dosa apa yang kaulakukan hari ini?" Leorio bertanya lagi.
Mendengar hal itu, Bisuke menjadi emosi.
"Aku tidak melakukan apapun!" katanya sengit sambil menatap Kuroro dengan tajam.
Di bawah meja, Kuroro dan Kurapika saling berpegangan tangan. Sementara itu yang lain dibuat terkejut dengan perilaku Bisuke.
"Bisuke! Sejak kapan kau menjadi kasar seperti itu?" Ny. Kuruta mengingatkan.
Bisuke langsung menunduk. Melihat situasi ini, Leorio berusaha mencairkan suasana.
"Ke mana Gon dan Killua? Aku tak melihat mereka," tanya Leorio.
"Mereka menggigit Neon!" Bisuke berkata sambil menunjukkan luka bekas gigitan di lengan sepupunya.
Ny. Kuruta terkejut. "Oh, benarkah itu? Neon, kau tidak apa-apa?"
Neon tak menjawab. Reaksinya di luar perkiraan, ia terlihat bingung harus menjawab apa…dan matanya melirik kepada Hisoka yang duduk di hadapannya.
Hisoka berdehem, ia terlihat sedikit kikuk.
"Itu benar, Nyonya. Aku melerai mereka bertiga tadi sore. Lihat, pipiku sampai dicakar," ia berkata sambil memperlihatkan lukanya.
Kuroro mencoba untuk terlihat tenang dan ikut serta dalam percakapan di meja makan itu.
"Aku sempat bertemu Gon dan Killua… sepertinya suasana hati mereka sedang tidak baik," jelasnya.
Ny. Kuruta menoleh kepada Bisuke. "Bisuke, coba lihat ke kamar Gon dan Killua…mungkin mereka ada di sana. Cepat ajak mereka kemari."
Sebenarnya Bisuke enggan, dengan suasana hatinya yang sedang tak menentu saat ini ia sama sekali tak ingin pergi ke manapun. Namun ibunya pasti akan marah jika ia tak mematuhi perintahnya. Tak ada pilihan lain…Bisuke segera berdiri dan pergi ke kamar kedua sepupunya itu.
Sesampainya di sana, kamar itu kosong. Namun ada sesuatu yang menarik perhatian Bisuke. Terdapat secarik kertas di atas tempat tidur Killua, dengan beberapa baris kalimat yang ditulis dengan pena berwarna merah. Bisuke terkejut saat membacanya. Ia keluar dari kamar, menuruni tangga dengan cepat dan kembali ke ruang makan.
"Ibu, aku menemukan surat!" kata Bisuke.
Mendengar kata 'surat', Kurapika tersentak. Ia segera berdiri dan berkata, "Berikan surat itu padaku!"
Bisuke hanya meliriknya, lalu memberikan surat yang ia bawa kepada Ny. Kuruta.
"Ini surat…dari Gon dan Killua," Ny. Kuruta berkata, membuat Kurapika kembali duduk di tempatnya namun tetap menatap Bisuke dengan waspada. Dengan isyarat mata, Kuroro berusaha menenangkan wanita itu.
Ny. Kuruta menghela napas. "Gon dan Killua melarikan diri. Mungkin mereka belum jauh…kita harus menemukan keduanya sesegera mungkin."
.
.
Orang-orang pun keluar dari dalam puri sambil membawa senter, mencari Gon dan Killua ke setiap penjuru halaman Puri Keluarga Kuruta yang luas. Tanpa sepengetahuan keluarganya, Bisuke ikut mencari.
Dengan merasa takut karena kegelapan dan suasana yang sedikit menyeramkan, Bisuke melangkah menelusuri sudut halaman yang gelap. Ia memicingkan matanya saat melihat ada sesuatu yang bergerak dari balik semak-semak.
"Gon…? Killua…?"
Namun tak ada yang menjawab suaranya yang terdengar pelan hampir seperti bisikan itu. Malah ia mendengar suara-suara yang baginya sangat mencurigakan.
Bisuke merasa lebih takut sekarang, namun ia berusaha mengendalikan rasa takutnya dan melangkah menuju ke asal suara…sambil mengarahkan senternya. Bisuke tersentak saat melihat seorang pria mengenakan tuksedo menindih seorang gadis dengan tubuhnya. Senter yang ia pegang pun terjatuh. Pria itu berdiri dari balik semak-semak dan segera berlari pergi tanpa berbalik sedikitpun.
Bisuke mengambil senternya kembali dan memberanikan diri untuk melangkah sedikit lagi. Kemudian apa yang dilihatnya…adalah sesuatu yang tak disangka-sangka sebelumnya. Gadis itu ternyata adalah Neon. Ia terbaring di sana, dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Gaunnya kotor dan berantakan, wajahnya basah oleh air mata. Gadis berambut merah muda itu menangis tersedu-sedu saat melihat Bisuke.
"Bisuke…d-dia…" kata Neon terbata-bata.
"Siapa dia?" Bisuke bertanya sambil membantu sepupunya itu untuk duduk.
"Aku tidak tahu…"
"Kau tidak tahu?"
Bisuke terdiam, dahinya mengernyit seolah memikirkan sesuatu. Ia mencengkeram kedua bahu Neon dan menatapnya tajam.
"Kuroro. Itu Kuroro 'kan, Neon?"
"A-apa katamu?"
"Kau sudah tahu dia bukan orang yang bermoral."
Mata Neon yang basah menatap Bisuke dengan terkejut…
"Aku tidak tahu, Bisuke…aku tak melihatnya. Dia mendorongku ke tanah dan menutup mataku…"
"Itu Kuroro, Neon. Kau tidak tahu apa yang kulihat di ruang baca sebelum makan malam. Aku melihatnya hampir saja memperkosa Kurapika."
"Apa? Benarkah?"
"Ya, entah apa yang akan terjadi jika aku tidak datang ke sana."
.
.
Tak lama kemudian, Leorio dan Kurapika menemukan Neon dan Bisuke lalu membawa mereka kembali ke dalam puri. Puri Keluarga Kuruta pun gempar saat melihat kondisi Neon. Leorio segera menggendong gadis itu ke kamarnya.
"Cepat panggil polisi," perintah Leorio. "Dan dia pun membutuhkan pertolongan dokter."
Mendengar hal itu, seorang pelayan segera pergi melaksanakan perintahnya. Neon terus menangis.
"Pelakunya benar-benar kejam…," gumam Ny. Kuruta. "Apa dia ingin menghancurkan masa depan seorang gadis yang bahkan umurnya pun masih empat belas tahun?"
"Tenanglah, Ibu," kata Kurapika segera sambil memberikan segelas air.
"Apa yang harus kukatakan pada orangtuanya?"
Kurapika terus berusaha menenangkan ibunya, sementara Bisuke terdiam melihat semua itu. Sekali lagi luput dari perhatian keluarganya, ia pergi ke lantai atas menuju ke kamar Kurapika…mencari suatu bukti yang dapat menjebloskan Kuroro ke dalam penjara. Bisuke membuka kotak perhiasan Kurapika dan menemukannya.
.
.
"Hei, di mana Kuroro?" tanya Leorio heran.
Kurapika segera menjawabnya, "Sepertinya dia masih mencari Gon dan Killua."
Leorio menghela napas berat. Ia tak menyangka, pesta malam itu akan hancur karena musibah seperti ini.
Terdengar suara langkah kaki yang cepat menuruni tangga. Semuanya menoleh, dan melihat Bisuke yang sedang menggenggam erat secarik kertas di tangannya.
"Bisuke? Ada apa?" tanya Leorio heran. Jantung Kurapika langsung berdegup kencang. Apa yang akan dilakukan adiknya itu?
.
.
Ny. Kuruta memejamkan matanya sejenak setelah membaca surat yang dibawa Bisuke…yaitu surat yang dibuat Kuroro untuk Kurapika. Ia sedang berada di ruang baca bersama Leorio dan dua orang polisi. Leorio terlihat terkejut seolah tak percaya.
"Terima kasih Bisuke, tindakanmu tepat memberitahukan tentang surat ini, walaupun membaca surat untuk orang lain adalah tindakan yang tidak pantas," kata Ny. Kuruta.
Salah seorang polisi bernama Light Nostrad menghampiri Bisuke…lalu dengan hati-hati ia pun bicara,
"Nona Bisuke, maukah kau memberikan keteranganmu?"
"Tentu saja Tuan," jawab Bisuke.
Bisuke segera duduk di hadapan Nostrad dan mengatakan semua yang ia ketahui…setidaknya semua yang ia PIKIR benar-benar ia ketahui.
"Kau yakin dengan keteranganmu itu?" tanya Nostrad lagi.
"Aku yakin sekali," Bisuke menjawab dengan pasti.
"Kau merasa bahwa pria itu adalah dia, atau kau memang melihatnya?"
Bisuke terdiam sesaat…tapi kemudian ia menjawab,
"Aku melihatnya, Tuan Nostrad. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."
Setelah Bisuke selesai memberikan keterangannya, Nostrad kembali menanyai penghuni puri yang lain, termasuk Kurapika.
"Tuan Nostrad, apapun yang dikatakan Bisuke padamu, kuharap kau tidak mempercayainya," jelas Kurapika. Ia berusaha mengendalikan perasaannya namun suaranya terdengar gemetar. "Daya khayal anak itu terlalu tinggi. Kuroro tidak bersalah. Saat aku dan kakakku menemukan mereka di tepi danau, aku tidak melihat Kuroro ada di sana."
.
.
Bukti dan keterangan yang berhasil terkumpul malam itu menyudutkan Kuroro, apalagi Neon pun mengiyakannya. Jawaban gadis itu adalah bukti yang paling kuat.
Semua menantikan kedatangan Kuroro. Di sofa, entah karena lelah menunggu atau karena alasan apa, Hisoka tertidur di sana. Sementara Kurapika berdiri di depan pintu menatap kegelapan malam yang berada di hadapannya dengan gelisah. Jauh di dalam hatinya, ia berharap agar Kuroro tak pernah kembali.
'Kumohon…Kuroro, pergilah…jangan kemari!'
Bisuke berdiri di belakang ibunya. Menyadari keberadaan gadis itu, Ny. Kuruta segera memerintahkannya untuk pergi ke kamar.
"Tapi Bu, aku tidak mau…" Bisuke mencoba membantah.
Ny. Kuruta menatap putri bungsunya itu dengan tajam. "Kubilang pergi, Bisuke. Sudah waktunya kau tidur. Pergi ke kamarmu!"
Bisuke pun melangkah mundur…dan berlari menaiki tangga tapi ia tidak masuk ke kamarnya. Ia duduk di pinggir jendela yang menghadap ke halaman. Bisuke tak mau melewatkan sedikitpun adegan yang akan terjadi.
.
.
Beberapa saat berlalu, muncul Kuroro dari balik pepohonan sambil menggendong Gon di pundaknya dan menuntun Killua. Semua orang yang menanti menghentikan percakapan dan kegiatan mereka, lalu segera keluar dan berkerumun di depan pintu.
Terlihat Kuroro tersenyum, bahkan tertawa bersama Gon dan Killua. Namun ia merasa aneh saat melihat ekspresi wajah orang-orang itu, termasuk Kurapika yang menatapnya dengan cemas dan wajah yang pucat.
"Ada apa ini?" tanya Kuroro tak mengerti.
Nostrad dan seorang polisi lainnya segera menangkap Kuroro, memborgol tangan pria itu.
"Kau ditangkap atas tuduhan telah memperkosa Nona Neon," ucap Nostrad dingin.
Mata Kuroro membelalak. Ia sangat terkejut. "Apa? Neon? Aku tidak bersalah! Ini semua salah paham!"
Kurapika mulai menangis.
"Dia tidak bersalah! Lepaskan dia! Kuroro!" serunya.
Leorio berusaha menahannya, tapi ia tidak berhasil. Kurapika segera berlari menghampiri kekasihnya…memeluk Kuroro dengan erat dan menciumnya berkali-kali.
"Aku mencintaimu…aku sangat mencintaimu, Kuroro. Tunggulah…kita akan segera bertemu lagi," bisik Kurapika lirih di antara ciumannya sambil memegangi wajah Kuroro.
Baru saja Kuroro akan menjawab, saat Nostrad menariknya.
"Kurapika, aku mencintaimu!" Kuroro berseru. Ia terus mengatakannya…hingga kemudian suaranya menghilang saat Nostrad memaksanya masuk ke dalam mobil.
Mobil polisi itu segera melaju meninggalkan Puri Keluarga Kuruta. Namun Pakunoda yang sudah mendengar tentang berita itu menghadang di tengah jalan dan membawa sebuah tongkat besi.
"Kalian pembohong! Kembalikan anakku! Hei pembohong, keluarkan dia! Kuroro…!" serunya histeris sambil menangis dan memukul-mukul mobil dengan tongkat besi yang dibawanya.
Melihat hal itu, beberapa orang pelayan pria segera menahannya dan membawanya masuk.
Suasana menjadi hening. Angin malam berhembus semilir…membuat gaun biru safir yang dikenakan Kurapika berdesir dan berkilau dengan indah. Air mata membasahi wajah wanita itu, cahaya mata birunya yang sewarna dengan birunya samudera meredup, menampakkan kebencian, kemarahan dan rasa kehilangan.
Di balik jendela, Bisuke melihat semua itu. Raut wajahnya terlihat datar…tak menampakkan emosi sedikitpun.
TBC
.
.
A/N :
Review please…^^
