DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
PAIRING :
Absolutely KuroPika^^
SUMMARY :
She knew nothing, but she acted like she knew everything. This is my sin...for those who suppossed to live happily together.
WARNING :
OOC. FemKura. Made for fic based-on-movie challenge!
Aku akan memberitahukan judul film yang jadi dasar pembuatan fic ini di chapter terakhir :D
Untuk yang sudah tahu, keep silent please…hehe!
.
Happy reading^^
.
.
.
Wilayah utara, empat tahun kemudian...
Gelap...dan mencekam. Suasana malam itu sangat hening. Di sebuah rumah kayu bertingkat dua, dengan lantai yang sudah rapuh bahkan di beberapa tempat kau bisa langsung melihat ke lantai bawah, tiga orang pria berbaju tentara duduk di sisi ruangan, bersandar ke dinding dan memegangi senapan.
Tiba-tiba terdengar suara langkah dari lantai bawah. Sepertinya itu suara langkah dari dua orang.
Ketiga orang pria yang ada di lantai atas segera bersiaga dan mengarahkan senapan ke lubang di lantai kayu.
"Siapa itu!" seru salah seorang dari mereka.
Ternyata tamu tak diundang itu adalah seorang pria tua, dan satunya lagi berusia lebih muda. Dengan ketakutan, mereka segera mengangkat tangan dan bicara dalam bahasa asing,
"Kami imigran dari negara kalian...kami bawakan anggur dan roti."
Dua orang tentara saling menatap kebingungan, sementara pria berambut hitam yang ada bersama mereka memahami bahasa itu.
"Naiklah lewat tangga yang ada di situ," ia menjawab sambilmenunjukkan arah dengan menggunakan senapannya.
Tak lama kemudian, kelima orang itu sudah berkumpul di lantai atas sambil menikmati anggur dan roti. Sudah dua hari para tentara itu tak menemukan makanan.
"Aku tak menyangka akan berakhir di sini," kata seorang pria bernama Phinks. Ia menghela napas, kemudian bersenandung dengan wajah yang lelah.
Di seberangnya, Mark menatap orang ketiga yang berada di sana. "Kau sendiri, bagaimana denganmu?"
"Aku diberikan tawaran," kata pria berambut hitam itu. "Apakah aku ingin tetap berada di penjara atau masuk Angkatan Darat untuk ikut berperang."
Sepertinya Mark ingin bertanya lebih jauh lagi, tapi tak jadi saat melihat raut wajah pria itu.
"Apa kita akan menang? Bisakah kita mengalahkan musuh? Kudengar mereka masih menduduki sebagian wilayah negara kita," kata pria yang datang bersama Si Kakek.
"Anakku ini belum pernah melihat negaranya, bahkan aku pun lupa dengan bahasa kami...aku malu sekali," kata Si Kakek sambil menghela napas.
Pria berambut hitam di sebelahnya tersenyum. "Kita pasti menang...aku yakin. Nanti kau bisa mengajak anakmu melihat negara asalnya."
Si Kakek dan putranya pun tersenyum, lalu kembali menuangkan sedikit anggur dengan lebih gembira.
"Kau pasti bangsawan, karena kau bisa berbahasa asing," Phinks berkata pada temannya.
Pria berambut hitam itu tersenyum sinis. "Aku sama sekali bukan bangsawan, aku hanya orang yang berusaha meraih masa depan tapi nasib yang buruk menghadangku."
Ia bersandar di dinding yang berdebu, melipat kedua tangannya di depan dada lalu memejamkan mata...mengingat kembali kejadian enam bulan yang lalu...
Flashback
Suasana restoran itu sangat ramai oleh penduduk sipil, tentara dan perawat. Di salah satu meja yang terletak di tengah ruangan, seorang wanita muda berambut pirang dan berseragam perawat duduk dengan gelisah. Sesekali ia menoleh ke luar jendela. Dia adalah Kurapika Kuruta, yang tengah menanti seseorang saat ini.
Di luar, seorang pria berbaju tentara berjalan dengan tegap. Raut wajahnya terlihat dingin. Setibanya di pintu masuk, ia membaca sejenak nama restoran itu lalu melangkah masuk dan langsung menuju ke meja di mana Kurapika menunggu.
"Kuroro!" Kurapika memanggil namanya sambil berdiri.
Tapi Kuroro tak menjawab, ia langsung duduk di sebelah Kurapika. Melihat hal itu, Kurapika pun duduk kembali.
"Maaf aku terlambat," kata Kuroro tanpa menoleh pada Kurapika.
Kurapika sedikit terkejut dengan sikap pria itu, tapi ia berusaha mengabaikannya. Kurapika menuangkan teh panas dari poci ke cangkir Kuroro. Saat akan memasukkan gula ke dalamnya, ia berkata, "Maaf, aku sudah lupa—"
"Dua sendok saja," jawab Kuroro cepat.
Kurapika tertegun mendengar jawaban Kuroro. Sepertinya bukan itu sebenarnya yang ingin ditanyakan Kurapika. Tapi wanita itu tak banyak bicara, ia mengambil dua sendok teh gula dan memasukannya ke teh Kuroro.
Kurapika mengaduk teh itu, sementara dengan hati-hati tangan yang satunya ia letakkan di atas tangan Kuroro yang berada di meja. Namun Kuroro menepisnya, dan mengaduk sendiri tehnya tanpa bicara.
Sorot mata Kurapika terlihat sedih.
"Kau masih terlihat sama," tak disangka-sangka Kuroro berkata. "Kecuali seragammu tentu saja."
"Ya...begitulah," jawab Kurapika kecewa. "Maaf, aku harus kembali ke rumah sakit dalam waktu setengah jam."
Kurapika baru saja akan beranjak pergi saat tiba-tiba Kuroro memegang tangannya.
"Jika ini semua hanya karena kejadian tiga tahun lalu saat kita bercinta di ruang baca, aku—"
"Tentu saja bukan hanya karena itu!" sanggah Kurapika segera sambil duduk kembali dan menatap mata hitam pria yang ia cintai.
"Kau masih bertemu dengan keluargamu?"
"Tidak. Tak pernah lagi. Sudah kukatakan padamu waktu itu."
"Tapi..."
"Kuroro, jika aku bisa...aku akan menemuimu setiap hari. Hanya saja mereka—"
"Ya, aku mengerti," jawab Kuroro sambil meletakkan telunjuknya ke bibir mungil Kurapika. "Aku percaya padamu."
Mata biru Kurapika berkaca-kaca. Tangan Kuroro bergerak ke pipinya. "Kembalilah padaku, Kuroro...Kembalilah padaku," ucapnya lirih.
.
.
Pertemuan mereka sangat singkat, tapi merupakan pertemuan indah yang begitu dinantikan. Setelah selesai berbincang di restoran, Kuroro dan Kurapika berjalan ke tepi jalan raya. Mereka berpelukan erat dan berciuman berkali-kali seolah tak ingin saling melepaskan.
Tak berapa lama, bis yang akan membawa Kurapika kembali ke rumah sakit tempatnya bekerja pun tiba. Dengan cepat Kurapika merogoh isi tasnya.
"Temanku punya rumah di tepi pantai...bercat putih dengan jendela berwarna biru. Setelah kau libur dari tugasmu nanti, kita bertemu di sana," katanya. Lalu ia mengeluarkan selembar foto dari dalam tasnya. "Ini untuk kau lihat sewaktu-waktu. Aku akan menunggumu."
Kuroro menerima foto itu, foto sebuah rumah dengan ciri-ciri seperti yang baru saja diucapkan Kurapika. Kemudian mereka berpelukan dan berciuman sekali lagi.
"Aku mencintaimu," Kurapika berkata. Lalu ia naik ke atas bis dan berdiri di ambang pintunya, menoleh ke arah Kuroro dengan mata yang basah namun penuh cinta.
Bis berjalan kembali. Kuroro segera berlari mengejarnya dan berseru, "Aku cinta padamu, Kurapika!"
End of Flashback
Suara tawa kedua temannya dan tamu mereka membuyarkan lamunan Kuroro. Namun sosok Kurapika masih begitu melekat di benaknya.
Kurapika-ku Tersayang...Kurapika…
.
.
Pagi hari tiba. Kuroro melangkah keluar dari rumah kayu itu, menatap matahari pagi yang muncul perlahan-lahan dari balik horizon.
Ia membuka dua kancing teratas baju seragamnya, menampakkan luka yang masih basah di dadanya yang bidang. Tak ada peralatan dan obat-obatan yang memadai untuk mengobatinya.
"Sepertinya kau bangun awal sekali," tiba-tiba terdengar sebuah suara di belakangnya.
Kuroro menoleh, melihat Phinks berjalan menghampirinya. "Selamat pagi," ucapnya tanpa menjawab pertanyaan Phinks lalu mengancingkan seragamnya kembali.
"Apa kau tidak tidur semalaman?"
Kuroro hanya tersenyum tipis, lalu mengalihkan topik pembicaraan, "Mungkin unit kita sudah sampai di tepi pantai, sebaiknya kita berjalan menyusuri sungai...pasti kita sampai di sana."
.
.
Kurapika berjalan keluar dari apartemennya dengan tergesa-gesa. Di tangannya terdapat sebuah surat. Kurapika menyeberangi jalan menuju ke kotak surat.
"Sayangku, entah bagaimana Bisuke berhasil menemukan alamatku dan mengirimkan surat. Ia tidak kuliah di tempat kita dulu, tapi mengikuti pelatihan perawat di rumah sakit tempatku belajar waktu itu. Kupikir mungkin Bisuke melakukan ini atas nama penyesalan. Bisuke sudah berusia enam belas tahun, dia bilang dia mulai memahami apa yang ia lakukan saat itu dan apa maknanya. Bisuke ingin datang dan bicara padaku.
Aku mencintaimu, Kuroro. Aku akan menantimu. Kembalilah...kembalilah padaku."
Setelah ia sampai, Kurapika mencium suratnya dengan penuh harap lalu memasukkannya ke dalam kotak surat.
.
.
Di tengah teriknya matahari, Kuroro, Mark dan Phinks berjalan menyusuri sungai. Saat mereka mulai memasuki hutan, Mark mulai kesal.
"Setelah semua ini selesai, aku akan membakar sepatu boot-ku," gerutunya.
Phinks tertawa miris, sementara Kuroro menoleh ke sekitarnya. Suasananya hening, terlalu hening. Dan rasanya aneh.
"Kuroro, kau mau pergi ke mana?" tanya Phinks heran.
"Kalian beristirahatlah dulu, aku ingin memeriksa tempat ini sebentar," Kuroro menjawab.
Ia melangkah meninggalkan kedua temannya, masuk lebih jauh ke dalam hutan yang tidak begitu lebat itu. Dari balik pohon, Kuroro melihat menara sebuah biara.
Tapi kenapa suasananya sesunyi ini?, ia bertanya-tanya dalam hati.
Tiba-tiba langkahnya terhenti. Mata Kuroro membelalak melihat pemandangan di hadapannya.
Banyak mayat di sana, semuanya biarawati. Tergeletak begitu saja di atas rumput yang mengering. Terdapat luka tembak di tubuh mereka.
Entah siapa yang melakukannya, tapi semua wanita itu adalah korban dari perang yang terjadi saat ini.
Kuroro mengepal tangannya erat, lalu ia segera kembali ke tempat di mana Phinks dan Mark menunggu untuk melanjutkan perjalanan menyusuri sungai menuju ke laut.
'Cerita kita dapat berlanjut, Kurapika. Aku akan terus hidup untuk itu,' batinnya. 'Apa yang kurencanakan saat berjalan malam itu, adalah aku dapat lagi menjadi Kuroro yang melenggang penuh harapan dalam hidup ini. Pria yang dalam kejernihan nafsu, bercinta denganmu di ruang baca. Aku akan mencarimu, mencintaimu, menikahimu dan hidup tanpa rasa malu bersamamu.'
.
& Skip Time &
.
"Aroma laut!" seru Phinks gembira. "Aku mencium aroma laut! Kita sudah sampai!"
Phinks berlari mendahului Mark dan Kuroro, menyibakkan rerumputan tinggi yang berada di hadapannya.
Tiba-tiba ia terdiam.
"Phinks? Ada apa? Benarkah kita sudah sampai?" tanya Mark.
Phinks tak menjawab, ia tampak terkejut. Merasa heran, Kuroro dan Mark pun menyusulnya.
Ya, di bawah bukit itu memang pantai. Tapi pemandangannya begitu mengkhawatirkan. Penduduk sipil dan tentara, berkumpul di sana. Keadaannya berantakan. Mobil-mobil jip, beberapa buah kapal yang rusak dengan layar sobek di sana-sini, pun ada di sana.
Dengan hati-hati Kuroro, Mark dan Phinks menuruni bukit. Ada beberapa orang tentara yang memukuli seorang tentara lainnya hanya karena dia menyenggol salah satu dari mereka. Ada yang memukulkan gagang senapannya ke salah satu mobil jip, dan seorang lagi menembaki beberapa ekor kuda yang letih.
"Ini benar-benar gila," gumam Phinks sambil melangkah di belakang Kuroro. Mark pun mengikuti mereka.
Semua yang ada di sana menunggu datangnya kapal yang akan mengangkut mereka kembali ke negara asalnya. Berada di negara musuh, tidak menguntungkan bagi mereka.
"Aku perlu air," Kuroro berkata.
Mark menoleh. "Benar, kau mulai pucat! Mungkin ada air di sana," ucapnya sambil menunjuk ke arah sebuah bangunan bertingkat dua dengan banyak tentara di depannya.
Kuroro berjalan menuju ke tempat itu, yang sebenarnya adalah asrama tentara, melewati sekumpulan tentara yang tengah meminum minuman keras. Ada juga yang berkumpul di tengah pantai sambil menyanyikan lagu-lagu rohani. Semuanya merasa tertekan...bahkan mungkin sebagian dari mereka memang sudah gila.
Kuroro segera berlari, masuk ke bangunan itu dan mencari air. Ia menghampiri sebuah kran, bersiap membuka mulutnya namun tak ada setetes air pun yang keluar dari sana.
'Air...air...aku perlu air...'
Kuroro melangkah masuk ke ruangan lain. Sepertinya itu adalah ruang pemutaran film. Tampak sebuah film di layar, menayangkan adegan romantis...di mana sepasang kekasih menyatakan perasannya masing-masing lalu berciuman.
.
& Skip Time &
.
Hari sudah gelap sekarang. Para tentara berkumpul menonton film bersama, lalu bernyanyi-nyanyi di aula. Mereka menyanyikan lagu yang tak karuan liriknya, bahkan berisi hujatan, namun tak ada yang peduli. Semuanya bernyanyi lantang dengan suara yang kacau sambil meminum minuman keras.
Kuroro merasa tak nyaman, ia pun segera keluar dari tempat itu. Setelah melangkah selama beberapa saat, ia sampai di depan sebuah rumah yang sudah rusak. Suasananya pun gelap. Tapi di mata Kuroro, terlihat cahaya redup di salah satu jendelanya. Ia pun berjalan menghampiri cahaya itu.
Sesampainya di dalam, Kuroro disambut oleh suasana rumah yang hangat...berbeda sekali dengan apa yang terlihat dari luar. Seorang wanita tua dengan wajah yang ramah tersenyum melihat kedatangan Kuroro.
"Kemarilah Nak," kata Si Wanita Tua. "Lepaskan sepatu boot-mu."
Dengan mata nanar, Kuroro menghempaskan tubuhnya ke sofa yang empuk, duduk bersandar. Si Wanita Tua mohon diri sebentar, lalu kembali dengan membawa wadah berisikan air hangat dan sebuah lap.
Ia berlutut di hadapan pria itu, lalu membersihkan kakinya.
"Aku harus segera kembali padanya," Kuroro berkata. "Aku selalu membuatnya menunggu." Tentu saja yang dibicarakan Kuroro adalah Kurapika. Wanita tua yang ada di hadapannya hanya tersenyum dan tak menjawab apapun.
.
.
"Aku mencarimu!" seru Phinks sambil menepuk bahu Kuroro. "Apa yang kaulakukan di tempat gelap seperti itu? Mana sepatu botmu?"
Kuroro tak menjawab. Ia meneguk minuman keras yang ada di tangannya dan terus melangkah dengan bertelanjang kaki.
"Aku mencari rumah putih dengan jendela biru," gumamnya tanpa menoleh.
Phinks segera menarik temannya itu agar berbalik. Mata Kuroro terlihat tidak fokus. Keadaannya pun berbeda dari sebelumnya. Phinks pun akhirnya menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada temannya itu.
"Di sinilah rumah putihnya...tapi sudah hancur. Hanya ruangan bawah tanahnya yang masih ada," jawab Phinks.
"Benarkah? Di sini?" tanya Kuroro sambil melihat puing-puing bangunan di sekelilingnya.
"Ayo masuk ke sini."
Phinks mengajak Kuroro masuk ke ruangan bawah tanah yang lembab, kotor dan dingin. Terlihat beberapa orang tentara tidur berbaring di sembarang tempat.
"Istirahatlah di situ," kata Phinks lagi sambil menunjuk tempat kosong yang terletak di bawah.
Dengan patuh Kuroro berbaring di tempat yang sempit itu, matanya menatap Phinks dengan tatapan kosong.
Phinks memberikan sepotong biskuit padanya. "Makanlah pelan-pelan, jangan sampai ketahuan...nanti yang lain mau juga dan pasti akan menyebabkan keributan."
Kuroro menerima biskuit itu, mengunyahnya pelan-pelan. Phinks ikut berbaring di dekatnya. Kuroro menyalakan korek api dan memandangi foto yang diberikan Kurapika padanya.
Sorot matanya terlihat begitu jauh...kembali ke masa empat tahun yang lalu, saat ia dan Kurapika sama-sama menyatakn perasaan mereka, bercinta di ruang baca, lalu...sorot mata sedih Kurapika malam itu, yang berdiri menatapnya dengan mengenakan gaun berwarna biru safir yang indah.
.
.
Kuroro sedikit membuka matanya saat Phinks tiba-tiba membangunkannya. Ia menatap pria itu dengan tanpa ekspresi.
"Hei, tenanglah sedikit...kau mengigau keras sekali," bisik Phinks. "Orang-orang mulai kesal."
Kuroro tak menjawab hal itu membuat Phinks merasa heran. Ia menyalakan sebatang korek api dan memeganginya di depan wajah Kuroro.
"Kau terlihat buruk sekali!" ucap Phinks terkejut. Wajah temannya itu pucat, keringat dingin membasahi keningnya. Ia pun tak menunjukkan reaksi apapun selain sebuah tatapan kosong.
"Dengar, beberapa jam lagi, besok pagi...akan datang kapal yang membawa kita pulang. Bersabarlah sedikit lagi, Kuroro...bertahanlah."
TBC
.
.
A/N :
Review please…^^
