CHAPTER 3: Believe It or Not

Disclaimer: Seandainya aku punya One Piece aku akan menjadi sangat kaya dan bisa membeli dunia, tapi One Piece itu bukan milikku juga tidak ada diduniaku tapi karangan Eiichiro Oda yang jenius.

########################################################################

Saat ditaksi Hekima memeriksa handphonenya yang tadi sengaja dia setting jadi silent mode. Ternyata ada empat pesan masuk, tiga pesan dari temannya Hikaru dan satu pesan dari Ibunya. Hekima membuka sms dari Ibunya terlebih dahulu, disitu Ibunya menanyakan jika apakah Hekima dan Isamu sudah sampai hotel dengan selamat, dan memberitahu jika dua hari kemudian Ibunya akan menyusul ke Okinawa. Kemudian, Hekima membuka pesan-pesan dari Hikaru, temannya menanyakan bagaimana keadaan dirinya juga menanyakan kapan Hekima akan kembali ke Hotel, pesan kedua Hikaru masih menanyakan kapan Hekima akan kembali ke Hotel karena dia khawatir jika hari hampir menuju tengah malam, dan pesan terakhir Hikaru memberitahukan Hekima agar segera kembali ke Hotel, dia sudah menitipkan kunci kamar Hekima ke resepsionis hotel.

Setelah membaca pesan-pesan tersebut Hekima hanya bisa mendesah dan tidak punya keinginan untuk membalas semua sms-sms tadi, dia segera menutup hapenya dan menaruhnya disaku jaketnya. Hekima merasa sangat capek dan lelah, rasanya ingin sekali dia langsung merebahkan tubuhnya kekasur dan segera tidur. Matanya sudah terasa berat dan hampir berkali-kali tertidur di dalam taksi, tapi Hekima berusaha terbangun karena dia menunggu Isamu mengirim sms kepadanya dan dia tidak ingin sampai melewatkan pesan adiknya tersebut. Hekima sangat berharap jika ada Ibunya disini bersamanya sehingga dia bisa membujuk adiknya yang keras kepala itu. Tapi sayang sekali Ibunya baru datang dua hari kemudian karena masa cuti kerjanya disetujui oleh atasannya hanya empat hari saja.

Hekima masih merasa jengkel dengan adiknya, masa adiknya begitu polos dan bodohnya percaya dengan kata-kata orang asing dan bersikukuh berniat menolong orang asing tersebut. Hekima benar-benar tidak menyangka jika liburannya akan berawal dengan kejadian yang aneh seperti ini, menolong orang asing aneh yang terdampar dipantai dan terasa sangat ganjil jika orang asing tersebut mengaku dan terlihat sangat mirip dengan tokoh fiksi di manga atau anime.

'Lagipula, sepertinya kau tanpa sadar sudah mempercayai jika lelaki tua ini Silver Rayleigh dan kau percaya dengan kata-katanya…'

Kata-kata Isamu tersebut masih terngiang-ngiang dipikirannya, entah kenapa Hekima merasa instingnya mengatakan jika memang laki-laki tua itu adalah Silver Rayleigh yang asli, tapi nalarnya berusaha menyangkalnya dan menganggap hal itu sangatlah tidak mungkin karena tokoh fiksi tidak akan mungkin muncul di dunia nyata. Jangan-jangan saat ini dia sedang bermimpi, pikir Hekima lalu mencubit pipinya, tapi dia bisa langsung bisa merasakan sakit dipipinya. Hekima mendesah lagi, sekarang dia mulai merasa bersalah karena telah meninggalkan adiknya sendirian di rumah sakit bersama orang asing itu. Bagaimana jika ada hal-hal yang buruk yang terjadi dengan adiknya, dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.

"Hotel Blue Sea, sebentar lagi akan sampai." ujar supir taksi memberitahukan tiba-tiba.

"…..ngomong-ngomong setelah saya turun, bisakah anda kembali ke rumah sakit yang tadi? Karena adikku masih disana dan aku ingin dia dijemput." pinta Hekima.

"Tentu saja bisa.." kata supir taksi.

"Saya akan langsung membayar sekalian dengan biaya antar jemput adikku."

"Baiklah, tidak masalah." supir taksi tersebut langsung menyanggupi permintaan Hekima.

Setelah turun dari taksi, lalu Hekima membayar ongkos taksi dan meminta lagi dengan sopan kepada supir taksi tersebut agar segera menjemputnya adiknya. Taksi yang telah ditumpangi Hekima kembali memutar menuju rumah sakit tadi, dan lalu Hekima langsung mengirimkan sms kepada Isamu, menyuruh adiknya pulang dengan menggunakan taksi tadi. Beberapa menit kemudian, setelah Hekima meminta kunci kamarnya yang telah dititipkan Hikaru diresepsionis, terdengar suara pesan masuk dihapenya. Ternyata Isamu membalas smsnya dengan mengatakan terima kasih padanya dengan disertai emoticon tersenyum " ". Melihat isi pesan tersebut Hekima tersenyum sekilas dan merasa lega. Dia berharap setelah dia tidur, keesokan harinya Isamu akan menyadari jika orang asing itu hanyalah seorang penipu dan tukang bohong. Hekima ingin sekali bisa segera mengawali liburan musim panas ini, dengan segera menyelam dan bersenang-senang sepuasnya di pantai.

############################

Teeeetttt Teettttt Teettttt

Terdengar suara alarm di hapenya Hekima, setelah mendengar suara tersebut, dengan malas-malasan Hekima meraba-raba meja kecil yang berada disamping kasurnya dan berusaha meraih handphonenya yang dia letakkan disana. Setelah berhasil meraihnya, dia bangkit dari tempat tidur sambil menggenggam hapenya dan langsung mematikan alarm dihapenya. Jam menunjukkan pukul 7.00 am, saatnya membersihkan diri dan bersiap-siap pergi ke pantai kata Hekima dalam hati.

Hekima yang bersemangat langsung masuk kekamar mandi, dan langsung segera mandi. Kemudian setelah mandi dia segera memakai baju dan mempersiapkan barang-barang yang akan dia bawa ke pantai juga perlengkapan menyelamnya. Tapi rasanya ada yang aneh, mengapa dia merasa adiknya belum bangun dari kasurnya. Perasaan tadi malam adiknya sudah pulang dan langsung tidur di kasur sebelah.

"Isamu bangun! Ayo cepat bangun! Kita akan segera sarapan dan bersiap pergi ke pantai." sahut Hekima kearah kasur adiknya.

Tak ada tanggapan dari adiknya, dan dikasurnya adiknya terlihat tidak bergeming.

"Ayo bangun!" sahut Hekima lagi, dan masih tidak ada reaksi dari adiknya.

Hekima langsung menghampiri kasur tersebut dan menarik selimbut yang menutup badan adiknya.

"Hahhh?!" seru Hekima terkejut melihat dibalik selimbut tersebut ternyata tidak ditemukan sosok Isamu sama sekali yang ada hanya beberapa bantal dan guling.

"Isamu?!" pekik Hekima mulai panik karena Isamu tidak berada bersamanya sekarang.

Hekima melihat sekeliling ruangan dan lalu mencari adiknya ke balkon hotel, karena dia pikir adiknya mungkin sedang menfoto pemandangan pantai di pagi hari. Ternyata Isamu tidak ditemukan dibalkon hotel juga dan Hekima langsung memeriksa barang-barang Isamu dan betapa kagetnya Hekima ketika menyadari sebagian barang-barang Isamu tidak ada dan sepertinya sudah dibawa bersama Isamu.

Hekima kemudian menemukan secarik memo dimeja kecil disebelah kasur Isamu yang sepertinya sudah disiapkan Isamu untuk dibaca dirinya. Hekima kemudian menyambar memo tersebut dan langsung segera membacanya.

Isi memo tersebut membuat perut Hekima terasa mulas dan kepalanya mulai terasa pening. Hekima membaca tulisan Isamu beberapa kali dan membacanya hati-hati memastikan dia tidak salah membaca memo dari adiknya tersebut. Hekima masih belum bisa menerima dengan apa yang sudah dibacanya, tangannya gemetaran karena shock, menahan amarahnya juga merasa panik. Hekima merasa kejadian yang paling dia takuti terjadi sekarang, ternyata kejadian aneh itu masih berlanjut sampai sekarang dan tidak disangkanya Isamu sudah melakukan sesuatu yang diluar dugaan Hekima. Hekima berpikir keras dan mulai mengingat-ngingat kejadian aneh tersebut.

#########################

Setelah mengingat kejadian kemarin dengan rinci, Hekima mendesah dan benar-benar merasa menyesal. Menyesal karena dia tidak segera menyadarinya dengan apa yang akan adiknya lakukan, menyesal kenapa dia tidak menarik paksa Isamu agar segera pulang ke hotel setelah menjenguk orang tua aneh itu dan menyesal menganggap enteng kejadian tersebut.

"Sial…" guman Hekima putus asa, karena rencana liburan panasnya hancur. Dia berjanji dalam hati jika dia bertemu dengan Isamu nanti dia akan segera menonjok muka adiknya.

"Tunggu…" kata Hekima tiba-tiba menyadari sesuatu, dia langsung mengambil hapenya dan langsung menelepon adiknya. Dia pikir mungkin saja Isamu masih bisa dihubungi, tapi ternyata sinyal telepon adiknya sedang berada diluar jangkauan. Hekima mencoba beberapa kali menelepon adiknya lagi tapi hasilnya tetap sama. Hekima yang kecewa dan stres langsung meremas-remas rambutnya sendiri.

"Apa boleh buat…aku harus ke rumah sakit sekarang…" ujar Hekima karena dia harus segera bertemu dengan si orang tua aneh yang mengaku Silver Rayleigh itu. Lagipula siapa tahu dia tahu tepatnya dimana Isamu sekarang. Tanpa pikir panjang Hekima langsung mempersiapkan diri, dan keluar dari kamar hotelnya. Setelah keluar dari hotel dia segera mencari taksi dan langsung menuju rumah sakit.

##########################

"Dimana Isamu sekarang?!" seru Hekima langsung sesudah sampai di kamar Silver Rayleigh.

Rayleigh yang sedang menyeruput teh hijau hangat, segera berhenti setelah mendengar Hekima berseru kepadanya, dia langsung memandang sosok Hekima yang sekarang sedang menghampiri menuju dirinya yang masih berada ditempat tidur rumah sakit. Hekima terlihat terengah-engah dan berkeringat, sepertinya dia baru saja berlari dengan terburu-buru agar segera bertemu dengan dirinya pikir Rayleigh dan kemudian dia tersenyum kepada Hekima.

"Ohayou gozaimasu…apakah kau sudah sarapan?" tanya Rayleigh ramah.

"Jangan basa basi! Segera beritahukan padaku dimana Isamu sekarang?!" seru Hekima yang mulai kehilangan kontrol emosinya.

"Tenang Hekima-kun…aku akan segera mengatakannya, tapi bisakan kau menenangkan dirimu terlebih dahulu."

"Bagaimana aku bisa tenang jika adik kandungku menghilang dan aku tidak tahu dimana dia sekarang!" seru Hekima kesal.

"Bukankah Isamu-kun sudah memberitahukanmu jika dia akan pergi kemana." kata Rayleigh tenang.

"Tapi! Dia…"

"Adikmu sudah memberimu pesan kan?" tanya Rayleigh.

"I—ya…, tapi..."

"Jadi kurasa kau sudah tahu dia sekarang sedang berada dimana, tapi masalahnya kau tidak mempercayainya kan?" ujar Rayleigh santai, lalu menyeruput tehnya lagi.

Hekima membuka mulutnya, tapi dia segera menutupnya lagi. Dia bingung harus menanggapi kata-kata Rayleigh, memang Isamu sudah memberitahukan dia akan pergi ke dunia 'One Piece' tapi Hekima sampai sekarang masih sulit untuk bisa mempercayainya.

"Iya, aku tidak percaya…" ujar Hekima akhirnya mengaku. "Tapi, bagaimana bisa Isamu pergi kesana?" tanya Hekima bingung. "Lagipula aku tidak percaya jika kamu adalah Silver Rayleigh dan aku tidak percaya jika dunia 'One Piece' itu ada, itu semua fiksi tidak nyata!" seru Hekima pada Rayleigh yang sedang menatapnya dengan serius.

"Sekarang masalahnya adalah jika aku memberitahukan padamu bagaimana caranya Isamu-kun pergi keduniaku, apakah kamu akan percaya?" tanya Rayleigh serius.

"Memangnya duniamu itu ada?" tanya Hekima sinis.

"Sudah kubilang kemarin, bagaimana jika kamu mencari tahu sendiri sehingga kau bisa tahu apakah yang aku katakan semuanya benar atau bohong."

"Apa maksudmu? Kau seolah-olah sedang menawarkan sesuatu padaku." kata Hekima bingung.

"Betul sekali, aku memang sedang menawarkan sesuatu padamu." kata Rayleigh tersenyum.

"Apa itu? Cara menuju ke sana?" kata Hekima tertawa gugup.

"Tepat." jawab Rayleigh singkat.

Hekima terdiam setelah mendengar jawaban Rayleigh. Hekima merasa jika dirinya sekarang sedang dijebak oleh kakek tua ini, rasanya dia memang sudah berada dibawah kemauan kakek tua ini, sehingga mau tidak mau dia harus bisa percaya padanya. Hekima menelan ludahya, entah kenapa dia jadi merasa gugup, dia sekarang merasa sosok lelaki tua dihadapannya memang bukan orang yang sembarangan juga bukan orang gila, malah sebaliknya orang ini menakutkan, dia pintar pikir Hekima.

"Kau memang sengaja membuat aku mengikuti keinginanmu, ya kan kakek tua?" kata Hekima tersenyum sinis.

"Loh? Siapa disini yang ingin mengetahui dimana adiknya berada?" tanya Rayleigh heran, alis sebelah matanya terangkat.

"Sial…aku memang sudah masuk jebakanmu dari pertama…" guman Hekima.

Rayleigh segera tertawa terbahak-bahak. Hekima kaget melihat dia tertawa tiba-tiba dan muka Hekima memerah karena malu dia sudah ditertawakan oleh orang lain.

"Jangan tertawa! Apanya yang lucu?!" ujar Hekima sewot.

Rayleigh tertawa lagi. "Kau sungguh menarik, kenapa kau sangat serius?"

"Tentu saja aku serius, aku sedang menanyakan adikku yang sedang hilang!" Hekima berteriak kesal.

"Tenang saja, dia sekarang berada diduniaku, apakah kau ingin segera menyusulnya?" tanya Rayleigh masih berusaha menahan ketawanya.

"Ughhh…" Hekima bingung harus menjawab apa.

"Kau ingin Isamu kembali keduniamu kan?" tanya Rayleigh lagi.

"Iya, tapi bagaimana caranya?" tanya Hekima akhirnya menyerah juga, tampaknya memang Hekima harus bisa mempercayai Rayleigh.

"Kita akan mengadakan perjanjian." jawab Rayleigh.

"Perjanjian?" tanya Hekima heran.

"Satu-satunya cara kau menuju keduniaku dan membawa kembali adikmu adalah dengan melakukan perjanjian." jelas Rayleigh.

"Hanya dengan perjanjian?"

"Iya, tapi ini bukan perjanjian biasa, jika kamu sudah memenuhi janjimu kau akan segera membawa adikmu pulang kedunia ini."

"Apa yang harus aku janjikan?" tanya Hekima.

"Kau harus berjanji jika kau akan menyelamatkan duniaku." kata Rayleigh.

"Apa?!" seru Hekima. "Perjanjian apa itu? Apa yang bisa membuat aku menyelamatkan duniamu?!"

"Dengan menyelamatkan Monkey D Luffy" jawab Rayleigh.

"Bagaimana aku bisa menyelamatkan Luffy?" tanya Hekima heran.

"Kau harus mencari tahu sendiri bagaimana caranya."

"Yang benar saja!" seru Hekima histeris, keningnya mulai berkedut-kedut.

"Hanya orang dari dunia ini yang bisa menyelamatkan duniaku, terlebih lagi kau sudah mengetahui duniaku, jadi jangan khawatir." kata Rayleigh lalu tersenyum.

Memang berbicara itu sangat mudah, dasar kakek tua picik, kata Hekima dalam hati sambil memicingkan matanya, menatap marah Rayleigh.

"Kalau begitu ayo kita mulai perjanjiannya." kata Rayleigh.

"Bagaimana cara membuat perjanjiannya?" tanya Hekima.

"Ini seperti ritual kuno tapi ini satu-satunya cara kau pergi keduniaku dan juga pulang keduniamu." Rayleigh mengeluarkan selembar kertas perkamen tua dari tas kulit coklatnya dan dikertas tersebut sudah tertulis beberapa baris tulisan.

"Sepertinya kau sudah menyiapkan surat perjanjian ini tadi malam kakek tua." gerutu Hekima menatap bete kertas tersebut karena disitu sudah tercantum nama lengkapnya dan Hekima sangat yakin sekali jika Rayleigh dan Isamu yang mengerjakannya berdua tadi malam.

"Betul sekali, sekarang tinggal kau tanda tangani dan cap dengan darahmu sendiri dan jangan lupa kau harus membacanya terlebih dahulu."

"Aku sudah membacanya sebagian."

"Harus diikrarkan." jelas Rayleigh.

Hekima mendesah kesal lalu menyambar kertas tersebut daru tangan Rayleigh dan mulai membaca surat perjanjian tersebut, " Aku Hekima Douglas berjanji akan menyelamatkan Monkey D Luffy dengan pergi menuju dunia yang menyembunyikan 'One Piece'. Dengan ini aku bersedia mewarisi pedang milik Silver Rayleigh dan juga kekuatannya…Apa?!" teriak Hekima kaget dengan apa yang telah dibacanya.

"Shhhhtt! ayo lanjutkan!" perintah Rayleigh tegas.

"Urrghh…" Hekima menggeram menahan amarahnya dan menerus membaca lagi, "…dan setelah menunaikan janjiku, aku, Hekima Douglas dan Isamu Douglas akan segera kembali ke dunia kami. Setelah menanda tangani, memberi cap jempol dengan darahku dan menjabat tangan Silver Rayleigh lalu mengucapkan kata-kata 'Aku pergi' maka perjanjian ini akan mulai berlaku."

"Oke, sekarang tanda tangani kertas ini dan langsung beri cap jempol dengan darahmu, cepat!" kata Rayleigh menarik tangan kanan Hekima agar segera menanda tangani kertas tersebut. Rayleigh memberi pulpen pada Hekima, dan setelah Hekima menanda tangani kertas tersebut, Rayleigh langsung menarik jempol Hekima dan menusuknya dengan pisau buah.

"Ouchhh! Bisakah jika kau pelan-pelan dan tidak terburu-buru Ray-san?!" protes Hekima, dia meringis setelah jempolnya ditusuk dan mengeluarkan darah. Rayleigh tidak menanggapi Hekima dan dia tanpa basa basi langsung menekankan jempol Hekima diatas tanda tangan Hekima dikertas tersebut.

"Maaf, Hekima-kun aku terburu-buru karena waktuku tinggal sedikit, ayo sekarang kita bersalaman dan bersiaplah karena ini akan sedikit menyakitkan." kata Rayleigh serius.

"Apa lagi yang lebih menyakitkan selain ditusuk dengan pisau?" tanya Hekima jengkel.

"Kita lihat saja nanti." kata Rayleigh.

Rayleigh langsung menyodorkan tangan kanannya agar segera bersalaman dengan Hekima. "Oke, mari kita bersalaman." kata Hekima kemudian langsung menjabat tangan Rayleigh.

Hekima benar-benar terkejut dengan apa yang sekarang dia rasakan, setelah tangannya menggemggam tangan Rayleigh, telapak tangannya terasa terbakar. Rayleigh menjabat tangan Hekima dengan erat dan Rayleigh pun sama-sama merasakan apa yang Hekima rasakan ditangannya. Tangannya terasa seperti mengenggam besi panas, telapak tangannya seperti diiris dengan pisau panas. Hekima yang kesakitan berusaha melapaskan tangannya dari genggaman tangan Rayleigh.

"Tahan Hekima-kun, sebentar lagi ritual ini selesai." kata Rayleigh yang juga berusaha menahan rasa sakit ditangannya. Ternyata perkamen surat perjanjian yang Hekima barusan tanda tangani dan dicap jempol darah olehnya, terlihat tiba-tiba mengeluarkan api dan terbakar. Kertas itu perlahan-lahan hangus menghitam menjadi serpihan bara hitam lalu menghilang. Hekima menjerit kesakitan dan langsung terjatuh lemas setelah Rayleigh melepaskan tangannya. Tangan Hekima bergetar hebat, rasa sakit ditangannya masih sangat terasa dan saat dilihat telapak tangannya, betapa terkejutnya Hekima, karena dia melihat ada sebuat tanda lingkaran hitam perlahan-lahan muncul dari telapak tangannya kemudian dari dalam lingkaran hitam itu muncul segitiga hitam. Setelah tanda itu muncul dengan sempurna, rasa sakit ditangannya mereda.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Hekima tegang dan bercucuran keringat dingin.

"Kita sudah melaksanakan perjanjian tersebut, tanda ditanganmu adalah cap perjanjian tersebut, jika tanda itu hilang maka perjanjiannya sudah terlaksana." jelas Rayleigh yang terlihat lemas dan juga bercucuran keringat.

"Rayleigh, mengapa kau mewarisi pedangmu padaku juga kekuatanmu? Apa maksudnya?" tanya Hekima langsung.

"Karena sebentar lagi aku akan mati…Hekima-kun..."

"APA?!" teriak Hekima "Mengapa kau tidak segera memberitahu aku?"

"Bukankah kau tidak mempercayaiku Hekima-kun?" kata Rayleigh tersenyum sedih.

"Ray-san…" hati Hekima mencelos, dia jadi merasa menyesal dan bersalah sekarang. "Maafkan aku…" kata Hekima sambil menunduk sedih.

"Sudahlah…itu hal yang wajar, aku sudah bersyukur sekarang kau mempercayai aku.." kata Rayleigh tersenyum dengan suara semakin lemah.

"Ray-san, apa yang aku harus lakukan sekarang?" tanya Hekima cemas memandang Rayleigh yang sekarang terlihat sekarat. Rayleigh tiba-tiba terbatuk-batuk keras, dari mulutnya keluar darah. Rayleigh lalu mengerang seperti menahan rasa sakit luar biasa ditubuhnya. Dia berbaring lemah dikasurnya dan terlihat sangat menderita. Hekima segera menghampiri Rayleigh dan memegang erat tangannya, terasa tangan Rayleigh menjadi dingin dan muka Rayleigh lama-lama terlihat memucat.

"Dengar Hekima-kun…Ambil pedangku dan juga barang-barangku, lalu segera katakan kata-kata yang akan membuatmu pergi keduniaku." Rayleigh terlihat seperti tercekik berusaha dengan susah payah mengatakan kata-kata terakhirnya. "Tolong…aku mohon selamatkan Luffy juga duniaku…"

Setelah mengatakan kata-kata itu Rayleigh menghembuskan nafasnya yang terakhir, ekspresinya terlihat sedih saat dia perlahan-lahan menutup matanya. Hekima melihat semua itu hanya bisa memanggil-manggil namanya, dan menangis. Disaat itu Hekima benar-benar merasa bersalah karena tidak mempercayai Rayleigh sejak dari pertama, seandainya dia percaya padanya sejak dari pertama mungkin Rayleigh tidak akan meninggal. Hekima mengecek denyut nadi Silver Rayleigh dan memang sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi.

Lalu sesuatu yang ajaib terjadi, perlahan-lahan tubuhnya Silver Rayleigh menghilang seperti pasir yang tertiup angin. Hekima tertegun melihat peristiwa itu, dia melihat secara langsung tubuh Silver Rayleigh perlahan-lahan hilang dan tidak membekas sama sekali. Hekima rasanya mau pingsan setelah melihat itu, lututnya bergetar dan Hekima menitikkan air matanya, dia merasa sedih juga shock dengan semua hal aneh yang telah terjadi padanya. Hekima yang shock terdiam sesaat dan merenung. Hekima berpikir mungkin semua ini memang kenyataan yang harus dia hadapi, tampaknya dia sadar jika dia baru saja menerima beban yang sangat berat, karena seseorang baru saja meminta dirinya untuk menolong dan menyelamatkan suatu dunia. Semua itu bukanlah hal yang sepele atau main-main, mungkin jika dia tidak bisa menolong Luffy, adiknya tidak akan kembali kedunianya.

Beberapa saat kemudian Hekima langsung mengambil pedang dan barang-barang Rayleigh, lalu segera pulang ke hotel. Dia menyiapkan beberapa barang seperlunya agar bisa dibawa ke dunia 'One Piece', semuanya dia perhitungkan baik-baik. Lalu dia memeriksa barang-barang Rayleigh yang juga akan dibawanya. Dia membaca catatan Rayleigh yang terlihat seperti sebuah buku panduan, dan ada sepotong vivre card didalamnya. Petunjuk Rayleigh yang pertama adalah, segera temui orang yang memiliki vivre card tersebut.

"Sepertinya aku harus memberi pesan kepada Ibu dan Hikaru." guman Hekima muram. Hekima lalu segera mengirim sms kepada Ibunya dan sahabatnya.

Setelah memastikan semuanya sudah siap, dengan memanggul ranselnya yang berisi barang-barang Rayleigh juga barang-barang Hekima yang akan dia butuhkan dan menenteng pedang Rayleigh dibelakang ranselnya. Hekima menarik nafasnya dalam-dalam dan bersiap untuk pergi ke dunia 'One Piece'

"Kata Ray-san hanya dengan mengatakan kata-kata itu, aku bisa menyusul Isamu…" Hekima menutup matanya dan kemudian berseru "Aku pergi!"

Setelah mengucapkan kata-kata tadi, tangannya terasa terbakar lagi dan sekarang terbentuk tanda kotak hitam didalam tanda segitiga hitam tadi. Hekima yang meringis menahan rasa sakit dan setelah tanda itu terbentuk, dan tiba-tiba lantai kamar hotel berubah menjadi genangan air dan langsung menenggelamkan Hekima. Air itu mulai menelan dan menarik tubuh Hekima masuk kedalam. Hekima tertarik kedalam air dan mulai tenggelam. Badan Hekima tidak bisa bergerak sama sekali. Permukaaan air sudah berada di dadanya. Hekima merasa panik, tapi dia tidak bisa bergerak, badannya seperti membatu dan perlahan-lahan tenggelam. Akhirnya Hekima terus masuk kedalam air dan terus tertarik kedalam dasar yang seperti tidak ada batasnya. Hekima tidak bisa bernapas, karena dia berada didalam air yang berwarna hitam pekat. Hekima memejamkan matanya, berdoa dan berharap agar semuanya akan baik-baik saja. Namun lama-lama Hekima merasa lemas dan dia tidak sadarkan diri.

##############################

"Hei…kau tidak apa-apa…." sahut seseorang sambil mengoyang-goyangkan tubuh seorang anak laki-laki dengan pelan.

Perlahan-lahan anak laki-laki tersebut mulai merasakan tubuhnya berfungsi, setelah dia merasakan sekujur tubuhnya mati rasa, efek setelah makan buah iblis. Rasa buah tersebut masih menempel dilidahnya, benar-benar tidak enak, rasa pahit buah iblis itu masih terasa sampai sekarang. Kesadaran dan indra anak laki-laki yang pingsan itu perlahan-lahan juga mulai pulih dan bereaksi terhadap lingkungan sekitar.

"Hei…hei…kau tidak apa-apa…" anak laki-laki itu mendengar seseorang itu bertanya lagi sambil menggoyangkan tubuhnya perlahan. Anak laki-laki itu berusaha merespon dengan menggerakkan mulut juga jari jemari tangannya dan berusaha membuka matanya, yang ternyata sangatlah susah dibuka, rasanya seperti dilem.

"Ughh…" akhirnya anak laki-laki itu berhasil merespon dengan mengeluarkan erangan dari mulutnya.

"Syukurlah…kau masih hidup…jika tidak mereka akan membuangmu ke laut, karena kau dianggap orang yang sekarat…" kata seseorang yang sepertinya berada tepat disebelah anak laki-laki tersebut, suaranya terdengar setengah berbisik, seolah-olah dia takut ada orang lain mendengar suaranya. Suara orang itu terdengar seperti suara dari seorang remaja, hampir seumuran dengan kakaknya Hekima, hanya saja dia belum bisa menebak apa gender dari orang tersebut, karena suaranya halus dan berat juga agak sedikit terdengar seperti anak kecil. Tapi entah kenapa suara orang itu sangatlah familiar, rasanya seperti dejavu.

"Laut?..." tiba-tiba anak laki-laki itu mengeluarkan suara, karena dia baru menyadari dimana saat ini dia sedang berada.

"Iya kita sedang berada ditengah laut, disebuah kapal bajak laut…." jawab orang itu hampir berbisik.

Kata-kata orang barusan itu seperti tombol yang menyalakan semua sistem ditubuhnya, tiba-tiba Isamu langsung membuka matanya dan memaksakan tubuhnya yang kaku untuk bergerak. Isamu langsung menyadari sepertinya dia baru saja tenggelam di laut pikirnya, karena pakaiannya terasa basah kuyup, dan orang yang sekarang disebelahnya kemungkinan sudah menyelamatkannya.

"Kapal bajak laut?!" kata Isamu hampir panik.

"Shhhhtttttttt" orang yang disebelah Isamu memberikan isyarat padanya agar menurunkan volume suaranya.

Seketika Isamu menggerakan tubuhnya dan beranjak bangun, memposisikan badannya dalam keadaan terduduk, dan menoleh kepada orang yang ada disebelahnya. Mata Isamu masih belum membiasakan dengan cahaya disekitarnya, sehingga dia belum bisa melihat jelas muka pemuda yang samar-samar sekarang terlihat sedang menempelkan jari telunjuk dibibirnya, mukanya menyiratkan kepanikan.

"Jangan keras-keras….nanti para bajak laut tersebut marah…" kata pemuda tersebut memperingati Isamu.

"Kau…" indra penglihatan Isamu masih belum bisa melihat jelas muka pemuda itu, tapi Isamu merasa sosoknya pemuda itu sangatlah familiar apalagi dengan warna rambutnya sangat mencolok. Isamu menggosok-gosokkkan matanya dengan kedua tangannya, berusaha agar matanya bisa melihat pemuda tersebut dengan jelas. Isamu lalu menatap pemuda itu lekat-lekat, dan jantungnya berdegup kencang. Tidak salah lagi, pemuda itu, salah satu tokoh yang cukup dikenal di One Piece. Mulut Isamu menganga berusaha mengucapkan sesuatu, tapi tersangkut karena rasa kagetnya, dan dia sadar jika dia sudah berada di dunia dimana para bajak laut Mugiwara hidup.

"Kau…kau…." kata Isamu terbata-bata, matanya terbelalak dan jari telunjuknya tanpa sadar menunjuk pemuda itu yang sekarang melihat Isamu dengan heran.

"Ada apa….?" tanya pemuda itu heran dan bingung dengan reaksi Isamu yang melihat dirinya seperti melihat orang mati bangkit dari kubur.

"COBY!" teriak Isamu tiba-tiba.

"Shhhhhhhhhhhhhhhttttttttt Baka! jangan berteriak sekeras itu!" pemuda berambut pink itu ikut berteriak, lalu langsung membungkam mulut Isamu dengan erat.

"Hei! Ada apa?! Apakah anak laki-laki itu sudah sadar?!" tiba-tiba terdengar suara berasal dari luar pintu besi yang berada dibelakang Isamu, suara laki-laki tersebut terdengar berang, itu pasti suara dari salah satu kru bajak laut dikapal ini pikir Isamu sambil menatap sosok Coby yang waspada dan sedang memikirkan sesuatu. Tidak salah lagi pemuda berambut pink yang sedang membungkam mulutnya ini adalah Coby sang perwira angkatan laut, orang yang pertama kali bertemu Luffy saat dia pertama kali berpetualang memulai menjadi bajak laut. Dahinya yang mempunyai codet dengan ditutup oleh bandana kuning bercorak dan kacamatanya yang dsematkan didahinya, baju angkatan laut ciri khasnya yang berwarna putih juga syal dasinya berwarna biru, hanya saja muka Coby terlihat seperti habis berkelahi dengan beberapa muka lebam dan memar juga baju angkatan lautnya yang kusam akibat debu dan terdapat percikan darah bercampur tanah.

"Belum….dia masih pingsan, itu tadi suara aku karena kaget melihat tikus besar!" jawab Coby merespon kru bajak laut yang sepertinya sedang berjaga diluar ruangan ini. Isamu baru sadar sepertinya sekarang ini dia dan Coby sedang disekap disebuah ruangan yang hampir mirip dengan penjara, hanya saja tidak berterali besi dan berupa ruangan berlantai kayu dan berpintu besi.

"Dasar banci! Justru kau yang membuat aku kaget brengsek!" bentak penjaga tersebut.

"Gomen…" balas Coby dengan muka serius berusaha menenangkan penjaga tersebut dengan mengatakannya perlahan. Tak lama terdengar dengusan keras penjaga tersebut yang merasa terganggu dan sepertinya tidak menikmati tugas berjaganya, pasti kapten kapalnya memaksanya untuk menjaga mereka berdua.

"Tenang dan dengar baik-baik…" kata Coby tiba-tiba dengan suara berbisik. Isamu menganggukan kepalanya tanda dia paham dengan maksud pemuda berambut pink itu.

Lalu Coby melepaskan bungkaman tangannya pada mulut Isamu. Lalu Coby bertanya dengan menatapnya dengan serius.

"Kenapa kau bisa muncul tiba-tiba dan lalu tercebur ditengah lautan?" tanya Coby langsung sambil mengernyitkan keningnya.

"Heh?..." Isamu bingung harus menjawab apa, karena dia masih tidak mengerti dengan pertanyaan Coby.

"Apa maksudmu Coby-san…aku tiba-tiba muncul dan tercebur ditengah lautan?" tanya balik Isamu.

"Jangan panggil aku dengan formal panggil aku…. HEH! Bagaimana kau bisa tahu namaku!" jerit Coby kaget, matanya terbelalak.

BRAAKKKKKKK

Terdengar gedoran keras dari pintu besi, dan penjaga tersebut membentak Coby agar tidak menjerit lagi. Coby lalu cepat-cepat meminta maaf lagi, dan sekarang dia menatap Isamu dengan mata membelalak masih menandakan Coby sangat terkejut jika Isamu mengetahui namanya.

"Kau…bagaimana bisa tahu namaku, apakah kau dulu temanku?" tanya Coby berusaha bersuara serendah mungkin agar tidak terdengar penjaga diluar.

"Tidak..aku bukan teman lamamu, tapi aku tahu dirimu…" jawab Isamu kemudian tersenyum lega, karena dia senang bertemu dengan salah satu teman Luffy, setidaknya tokoh protagonis di One Piece.

"Apakah aku pernah muncul di koran?" tanya Coby penasaran.

"Mungkin…aku tidak tahu…" jawab Isamu mulai bingung bagaimana menjelaskan mengapa dia mengetahui diri Coby.

"Lalu?" tanya Coby heran.

"Ceritanya panjang….dan kalau aku beri tahu, kau pasti tidak akan percaya padaku Coby…" kata Isamu sambil menatap Coby.

"Kau ini benar-benar aneh…kau ini siapa sebenarnya?"

"Aku Isamu Douglas, salam kenal" Isamu tersenyum dan menyodorkan tangan kanannya.

Coby menatap sodoran tangan kanan Isamu dengan heran, perilaku anak laki-laki ini benar-benar sangat aneh dan tidak biasa pikir Coby.

"Ohhh.." Isamu sadar lalu menarik sodoran tangannya " Maaf kalian tidak familiar dengan American style…karena kalian berkenalan dengan Japan style hahaha…" tawa Isamu sambil mengaruk-garukan kepalanya dengan tangan kanannya.

"American...Japan…kata-kata aneh apa itu?" tanya Coby makin keheranan.

"Nama salah satu negara diduniaku." Isamu keceplosan.

"Duniamu?!" pekik Coby, lalu dia cepat-cepat menutup mulutnya, takut penjaga galak itu masuk.

"Oppss….yang tadi lupakan saja ya hahaha…" tawa Isamu.

"A-pa?!" kata Coby sambil menahan volume suaranya agar tidak terdengar sampai keluar pintu besi.

"Iya lupakan saja nanti kamu bingung…" kata Isamu sambil menepuk bahu Coby.
"Ta-pi…."

"Ngomong-ngomong, kenapa aku ada dikapal bajak laut, apa yang sebenarnya terjadi Coby?" tanya Isamu berusaha mengalihkan pembicaraan yang lebih penting menurutnya.

"Ohhh…itu karena aku berusaha menyelamatkanmu yang tenggelam ke laut setelah kau jatuh dari langit…." jelas Coby.

"Langit?!" kata Isamu kaget "Aku jatuh dari langit?!"

"Iya…dan sialnya aku tidak sempat berenang kembali ke kapalku sambil membawamu yang tidak sadarkan diri, malah aku ditangkap mereka…" kata Coby, wajahnya berubah menjadi murung.

"Mereka…siapa?" tanya Isamu.

"Sialnya kapal ini salah satu dari kesebelas Supernova…." lanjut Coby sambil mendesah kesal.

"Supernova?!" tubuh Isamu tiba-tiba lemas.

"Iya kapalnya kapten Eustass Kid…"

"APAAA?!" pekik Isamu.

"Shhhhhttttttttt" Coby mendesis sangat keras "Diam! kau tahu kan dia bajak laut yang terkenal kejam!"

"Iya aku tahu siapa dia…" kata Isamu tegang.

"Dia benar-benar kapten bajak laut yang berbahaya…" tambah Coby.

"Supernova yang memiliki bounty yang paling tinggi…" sambung Isamu.

"Iya…dia tidak segan membunuh dan menyakiti warga sipil…" kata Coby ngeri.

"Kapten Kid…sulit dipercaya! dia kan tokoh bajak laut yang sangat-sangat keren!" kata Isamu tiba-tiba matanya berbinar-binar dan tersenyum bahagia.

Rahang Coby menganga setelah mendengar Isamu berkata seperti itu, sekarang Isamu terlihat seperti seorang fan yang akan bertemu idolanya.

"Hei…hei…sebenarnya kamu sadar gak sih…kita sedang dalam keadaan bahaya…" kata Coby sambil menyipitkan matanya.

"Kapten Kid! Aku akan bertemu dengannya, mudah-mudahan aku bisa minta tanda tangannya…" Isamu tenggelam dalam momen fanboy, sementara Coby hanya bisa melihat Isamu dengan meneteskan keringatnya.

"Dengar bocah aneh…kita ini sedang disekap oleh kapten bajak laut yang terkenal kejam…" kata Coby yang memegang kedua bahu Isamu, berusaha mempertegas peringatannya dan membuat Isamu sadar.

"Ohh benar juga…, gawat bagaimana ini?" reaksi Isamu terdengar santai, ternyata anak laki-laki aneh ini masih gak sadar dengan situasinya, pikir Coby mengangkat sebelah alis matanya.

Coby menarik napas dalam-dalam, lalu mulai menjelaskan rencananya,

"Begini bocah aneh…"

"Panggil aku Isamu…" pinta Isamu.

"Oke, Isamu sekarang kita pikirkan bagaimana caranya kita melarikan diri dari sini…" kata Coby sambil melipat tangannya dan berekspresi serius.

"Kita buat perjanjian saja…" saran Isamu.

"Perjanjian?" kata Coby tak menyangka dengan tanggapan Isamu.

"Iya perjanjian…" kata Isamu sambil menatap Coby.

"Perjanjian apa?" tanya Coby bingung.

"Apa saja…asal dengan syarat kita dibebaskan…" kata Isamu enteng.

"Kamu…ini serius tidak sih…" kata Coby mulai kesal.

"Aku serius kok, lagipula aku sudah makan buah iblis-tapi aku belum tahu apa kekuatannya, semoga bisa menyelamatkan kita berdua…"

"Kamu pemakan buah iblis?!" kata Coby kaget.

"Ya, aku baru saja memakannya…eww~" kata Isamu sambil meringis membayangkan rasa buah iblis yang sangatlah tidak enak.

"Kalo begitu bagaimana kalau aku membantumu mencari tahu apa kekuatanmu, semoga jika kekuatanmu berguna, bisa menyelamatkan kita berdua melarikan diri secepatnya…" saran Coby.

"Lebih baik aku bertemu kapten Kid dulu…" kata Isamu yang sekarang beranjak dari lantai kayu, bangkit dan berdiri, seperti bersiap melakukan sesuatu.

"Apa?! Kenapa harus bertemu kapten kejam itu dulu?!" protes Coby.

"Aku ingin sekali bertemu dengannya…" kata Isamu tersenyum lebar.

Hening seketika.

Coby hanya bisa menatapnya sambil bengong setelah mendengar kata-kata Isamu, dia benar-benar kehilangan kata-kata, anak laki-laki ini benar-benar tidak waras pikirnya.

"Berarti Killer juga bersama Kid, Wah! aku beruntung langsung bertemu tokoh-tokoh favoritku" kata Isamu, mukanya berseri-seri.

Gila-anak ini benar-benar gila, pikir Coby hanya bisa berdiam diri dan bengong melihat Isamu mengoceh hal yang benar-benar dia tidak pahami. Hari ini benar-benar hari sialnya kata Coby dalam hati sedih mulai meratapi nasibnya.

"Coby…" panggil Isamu

"Ya.." kata Coby lemas.

"Boleh aku minta tanda tanganmu nanti…" pinta Isamu.

Coby mematung seketika, setelah mendengar permintaan Isamu.

"Boleh kan…?" pinta Isamu lagi.

"Kamu…." Kening Coby berkedut.

"Ahh…gawat mana tas ranselku ya? Padahal aku membawa buku catatan dan pena, aku ingin minta tanda tanganmu lalu Kapten Kid dengan Killer juga.." guman Isamu.

"Hei…" sahut Coby.

"Ya…?" kata Isamu melirik Coby yang sekarang sudah ikut berdiri disamping Isamu dan sepertinya Coby marah lalu tiba-tiba menarik kerah baju Isamu.

"Kamu sadar tidak kita sedang berada di Kapal kapten Kid yang terkenal sangat kejam dan kita sedang jadi tahanannya! Jika kamu ingin bertemu Kid itu sama aja kamu mencari mati! Paham!" bentak Coby sambil menatap marah Isamu.

"ehh I-ya…" kata Isamu terperangah melihat Coby yang tiba-tiba marah dan melototinya.

"Mengapa kamu ingin bertemu Kid?" tanya seseorang tiba-tiba dari belakang mereka, ternyata seseorang sudah memasuki ruangan tempat mereka disekap, saat mereka sedang berbicara tadi.

Isamu dan Coby benar-benar terkejut, Coby hanya bisa mematung dan merasakan bulu kuduknya berdiri, karena dia tahu seseorang yang telah bertanya itu adalah orang yang baru saja mengalahkannya tadi, dan orang itu benar-benar berbahaya.

Isamu langsung membalikan badannya, tidak sabar melihat sosok yang barusan bertanya kepada mereka, dia benar-benar mengenal suara orang itu, tokoh favoritku pikir Isamu.

"Mengapa kamu ingin bertemu Kid?" tanya lagi orang bertopeng helm tersebut dengan tegas.

Isamu benar-benar terpaku melihat sosok didepannya,

"Keren…benar-benar keren…" guman Isamu terpesona melihat sosok sang tangan kanan kapten Kid, Sang Massacre Soldier, laki-laki bertopeng helm besi berlubang-lubang dengan corak garis biru dan putih dan berambut pirang gondrong memakai kemeja biru polkadot dan bercelana panjang jeans ala penduduk asli Amerika. Seperti biasa senjatanya yang berbahaya itu selalu dibawanya, pisau berbentuk bulan sabit itu, yang selalu siap berputar memotong tubuh lawan-lawannnya.

"Killer!" pekik Coby, tanpa berpikir panjang Coby langsung menyerang Killer yang sedang berada diambang pintu. Coby berpikir bahwa inilah kesempatannya untuk mencoba melarikan diri. Coby berlari melesat cepat kearah Killer, dan siap melayangkan tendangan kearah kepalanya. Tetapi gerakan Coby sudah bisa dibaca Killer, dan sebelum kaki Coby sampai kearah kepalanya, dia menghindari serangan Coby dengan membungkuk, lalu segera melayangkan pedang sabit ke arah tubuh Coby.

"SORU!" teriak Coby berusaha menghindar sabetan sabit Killer dengan ilmu Rokushikinya, lalu dia tiba-tiba muncul tepat disebelah Killer, dan sebelum Coby menendang Killer, ternyata Killer sudah mendahului gerakannya dan menendang perut Coby dengan lutut kaki kanannya, sehingga Coby terlempar kebelakang dan terjerembab dilantai kayu.

"COBY!" Isamu berteriak melihat Coby yang sudah terkapar didepannya, Coby memegangi perutnya dan meringis menahan sakit diperutnya.

"Kau tidak apa-apa Coby?" tanya Isamu yang segera menghampiri dan mencoba menolong Coby.

"Cihh..Dasar perwira amatir!" teriak Killer bernada melecehkan.

"Sial…aku kurang cepat.." Coby meringis, dia menatap marah Killer dan menahan rasa sakit diperutnya.

"Kenapa kamu langsung menyerangnya?! dalam keadaan begini kau tidak mungkin mengalahkannya" kata Isamu sambil membantu Coby berdiri dengan merangkulnya.

"Hei…, kau…" tiba-tiba Killer menyahut Isamu.

"Ya…" respon Isamu sedikit terkejut.

"Kenapa kau ingin bertemu Kid?" tanya Killer lagi.

"Karena aku ingin berbicara dengannya…" jawab Isamu tenang.

"Bodohhh! Apa kau ingin mati!" bentak Coby pada Isamu.

"Apa yang ingin kau bicarakan dengan Kid…" tanya Killer.

"Sesuatu yang akan membuatnya tertarik." kata Isamu tanpa ragu-ragu.

"Kamu serius?!" pekik Coby.

"Ya, aku serius Coby, tenang saja…selain itu memang ada yang benar-benar ingin aku tanyakan padanya…" jelas Isamu.

"Sebenarnya kamu siapa? Kamu juga angkatan laut?" tanya Killer.

"Bukan, aku orang yang mempunyai misi khusus dan aku orang yang tidak bisa kalian duga…" jelas Isamu sambil tersenyum.

Coby dan Killer hanya bisa terdiam mendengar kata-kata Isamu.

"Dan…dimana barang-barangku?" tanya Isamu.

"Kid sedang memeriksanya, sepertinya kamu bukan orang sembarangan, karena ada beberapa barang aneh yang tidak bisa kami pahami dan tidak pernah kami ketahui" jawab Killer.

"Tentu saja…" kata Isamu sambil tersenyum.

"Jangan bicara sembarangan Isamu!" Coby mulai merasa ada yang tidak beres dengan anak laki-laki yang sedang membantunya berdiri. Isamu hanya bisa tersenyum melihat Coby membentaknya seperti itu.

"Jadi, apakah aku boleh bertemu dengannya sekarang?" tanya Isamu pada Killer.

"Hmm…kau benar-benar punya nyali, menarik…" Killer tersenyum angkuh dibalik topengnya itu. "Tentu saja, lagipula memang aku kemari karena Kid yang ingin berbicara padamu"

"Kalau begitu, sebelum Kid menemuiku, aku minta agar dokter kapalmu menolong temanku ini." pinta Isamu.

"Kalau tidak…" tantang Killer dengan melipat kedua tangannya.

"Tanpa dia, aku tidak akan mau menceritakan apa-apa.." balas Isamu.

"Kau…" Coby benar-benar tidak habis pikir dengan aksi bodoh bocah aneh ini, beraninya dia balik mengancam Killer. Memangnya siapa dia, jangan-jangan dia orang yang kuat seperti orang itu, ya orang itu, orang yang sudah membuatnya menjadi percaya diri dan mampu meraih cita-citanya. Entah mengapa Coby mulai merasa ada sesuatu pada Isamu yang mengingatkannya pada orang itu.

"Cihh baiklah…lagipula Kid memintaku agar tidak menyakitimu…" kata Killer langsung membalikan badannya dan berjalan meninggalkan ruangan itu.

"Kamu antar perwira amatir itu ke ruang unit kesehatan.." perintah Killer pada rekannya.

"Aye.." jawab rekannya segera mematuhi. Tiba-tiba masuk seorang kru bajak laut, yang berpenampilan seperti anak punk, rambut mohawk, celana kulit dan kaos jaring hitam. Dia langsung menghampiri Isamu dan Coby.

"Sini, biar aku antar banci ini." kata orang punk itu, tanpa respon dari Isamu dia langsung menarik tubuh Coby dengan kasar dan memanggulnya dengan enteng dibahunya. Terdengar Coby mengerang karena sakit akibat hentakan yang mengenai bagian luka ditubuhnya.

"Bisakah kau mengantarkannya kembali padaku, setelah dokter kalian merawatnya." pinta Isamu pada kru berpakaian punk yang sekarang berjalan meninggalkan Isamu dibelakang.

"Iya.." jawab anak punk itu dengan singkat. "Dan…sebaiknya kau menyusul Killer, karena kapten kami bukanlah orang penyabar…" tambahnya sambil berjalan keluar dari ruangan.

"Okey…" kata Isamu sambil menarik nafas panjang dan dia mulai merasa gugup,

Isamu segera berlari kecil dan keluar dari ruangan itu, lalu menoleh kearah kiri. Dia melihat Killer sedang berjalan menuju sebuah tangga kayu. Isamu segera menyusulnya dan berjalan pelan-pelan dibelakang Killer sambil menyesuaikan kecepatan Killer berjalan.

"Ngomong-ngomong kita sedang berada di lautan mana?" tanya Isamu tiba-tiba.

Killer menoleh sedikit kearah belakang sekilas, tanpa menghentikan langkahnya.

"Kami akan segera menuju New world, Kid tertarik dengan pulau yang terkenal dengan hujan halilintarnya…" jawab Killer jelas dan singkat, dia sekarang sedang mulai menaiki tangga kayu.

Ternyata tidak ada yang berubah dengan keadaan kru kapten Kid, hanya saja rasanya ada sesuatu yang tidak sesuai dengan time-line cerita dikomik One piece yang terakhir dibacanya pikir Isamu.

########################################################################

Author's note:

Hello semuanya salam kenal, saya pendatang baru juga pemula dalam membuat fanfic. Maaf jika masih banyak terdapat kekurangan, semoga semakin lama saya bisa membuat cerita ini makin seru. Para pembaca yang baik hati tolong beri saran dan kritik dikolom REVIEW ya, tanpa REVIEW akan sulit bagi saya untuk meneruskan fanfic ini. Terima kasih sudah membaca chapter 3 ini. Have a nice day ^_^

Spoiler Chapter 4:

Hekima berlari sekencang-kencangnya berusaha kabur dari gerombolan penculik tersebut, seluruh badannya terasa sakit akibat pukulan-pukulan yang barusan dia terima. Sambil menyeret pedang Rayleigh yang terasa sangat berat, Hekima berusaha menyusul beruang berbulu putih yang ikut berlari bersamanya, beruang itu terlihat susah payah menggerakan kakinya. Dia terlihat tertatih-tatih, karena disekujur tubuhnya banyak luka akibat disiksa oleh orang-orang yang sudah menculiknya. Barusan dia sudah mengeluarkan seluruh kekuatannya yang tersisa dalam melawan serangan para penculik tadi agar bisa menyelamatkan diri bersama Hekima.

End spoiler