07-Ghost © Amemiya Yuki & Ichihara Yukino
Warning:
Fluff PWP / Mild Boys Love
Pairing: FrauxTeito
Rate: T

Post chapter 61 - Velneza Castle


Ignis


II.

"Frau, kau tidak apa-apa?"

Kali ini Frau urung menjawab. Sebagai gantinya, ia menghela nafas panjang mendengar pertanyaan yang sama dari Teito untuk yang kesekian kalinya pada malam itu. Sebesar apa pun rasa bersalahnya, Frau merasa kalau Teito telah bersikap berlebihan. Ia tahu, hanya beberapa jam lalu ia telah membuat repot Teito dengan kondisi tubuhnya yang membeku, karena itu ia paham betul kecemasan yang melanda pria yang lebih muda. Ditambah insiden terakhir dengan Velne? Sungguh, Frau bisa mengerti.

Namun tetap saja...

Kedua matanya lalu bergerak ke bawah, melirik tangan mungil yang melingkar erat di sekeliling torso-nya. Sementara wajah si pemilik tangan tidak memberikan jarak beberapa mili pun untuk dihitung dari punggung Frau, memeluknya dari belakang, berusaha membagi kehangatan tubuhnya. Frau tidak percaya dengan kenekatan Teito. Padahal baru saja Frau menjelaskan panjang lebar kepada Teito, kalau selama ini ia berusaha mati-matian menekan hasrat tak tertahankan untuk memangsa jiwanya.

Lalu beberapa jam kemudian, di sinilah Teito berada, begitu dekat dengannya.

"Pergi sana ke tempat tidurmu sendiri, sempit tahu..." Sang pemilik sabit Verloren akhirnya angkat bicara.

"Tidak mau."

"Dasar bocah."

"Ha—Habisnya, Frau..."

Kali ini penggemar majalah erotik itu berdecak kesal. Bukannya ia tidak suka dengan keberadaan Teito di sampingnya, namun perasaan aman dan nyaman yang ditimbulkan kontak kecil itu membuatnya gelisah. 'Dasar keras kepala.' Ia berkata dalam hati, 'Baiklah kalau itu maumu, Bocah Sialan.'

Tanpa peringatan, Frau membalikkan tubuh ke arah sebaliknya, sehingga wajahnya bertatapan begitu dekat dengan wajah Teito. Sang pewaris kerajaan Raggs sontak terkesiap, sedikit tidak siap dihadapkan dengan intensitas pandangan mata beriris sedalam biru lautan.

"F—Frau!"

"Berisik, bocah..." Frau bergumam, menutup kedua kelopak matanya, "Berhenti berbicara dan tidurlah. Ini sudah larut."

"Ta—Tapi kau terlalu dekat!" Teito, dalam segala kecanggungannya sempat bersyukur bahwa rona kemerahan yang mulai menjalar di pipinya tersamarkan oleh ketemaraman kamar tempat mereka berada.

"Cih... kalau tidak suka ya pindah saja. Kan kau sendiri yang bersikeras berbagi denganku."

Teito menggerutu, namun dorongan dari dalam dirinya sendiri mengatakan bahwa ia sebaiknya menurut. Lagipula, matanya sudah terasa berat, dan semakin berat. Tanpa ia sadari—karena sejak tadi perhatiannya terfokus pada Frau—ia sudah sangat mengantuk. Teito mulai merasakan kelelahan luar biasa yang tiba-tiba melanda akibat tekanan dari permasalahan yang seakan-akan tidak pernah berhenti mengikuti mereka.

Tak lama, Teito pun tertidur.

Mendengar konsistensi dalam siklus pernafasan orang yang tidur di sebelahnya, perlahan Frau kembali membuka matanya. Dua manik safir kembali berpendar dalam kegelapan, tak pernah meninggalkan wajah manis yang terlelap dalam kedamaian. Sang dewa kematian menemukan dirinya tersihir oleh lukisan hidup yang begitu indah. Memori yang—selamanya—tidak akan pernah ia lupakan. Seandainya, saat ini ia tidak terbangun kembali dari tidurnya pun, ia tidak akan keberatan. Begitu pikir Frau.

Detik demi detik terlewati.

Ketika akhirnya Frau terbuai dalam alam bawah sadarnya, tangan kecil yang sama kembali terulur ke arahnya, meraih tangan yang lebih besar dan menyelimutinya dengan keberadaannya.

Malam itu, keduanya bermimpi.

Mimpi yang tak akan bisa kembali dalam memori Frau maupun Teito, seberapa pun keras usaha mereka untuk mengingatnya. Namun perasaan yang ditinggalkan begitu hangat, bertahan sampai fajar merekah, membawa mereka ke hari yang baru.


Fin.


A/N: Nggak sabar nunggu manga-nya lanjut T_T Thanks a lot for reading!