07-Ghost © Amemiya Yuki & Ichihara Yukino
Warning: Mild Boys Love
Pairing: Slight FrauxTeito
Rate: T
Ignis
III.
Darimanapun dan dari ketinggian setinggi apapun Frau terjatuh, ia tidak akan pernah terbiasa. Ya, Frau selalu membenci sensasi yang ia rasakan di setiap detik, setiap inchi tubuhnya semakin dekat dengan bumi tempatnya berpijak. Saat ketika ia kehilangan kontrol terhadap momentum yang menariknya.
Nafas yang terhenti.
Waktu yang terus mengalir.
Teriakan angin yang menerpa telinganya.
Frau selalu takut dengan apa yang menunggunya ketika pada akhirnya ia membuka kedua mata dan kembali menguasai kesadarannya.
a.
Frau masih bisa mengingatnya dengan cukup jelas, walaupun tidak begitu detail—namun cukup untuk membuat rangkaian mesin dalam tubuhnya tidak bisa dibilang beroperasi dengan normal sampai ia selesai menghisap rokoknya yang kelima—akhir Perang Raggs yang membawa tragedi di awal masa remajanya.
Ia bisa mengingat tangannya sendiri, yang masih terbilang mungil saat itu, berusaha menggapai untuk terus bertahan dan teriakan frustasi yang keluar dari mulutnya ketika (mereka membuat) Frau terjatuh dari kapal udara kecil yang selama sepuluh tahun terakhir ia sebut sebagai "rumah".
"Kapal perang militer semakin mendekat, bocah!"
"Kami tidak akan membiarkanmu mati konyol di sini!"
Mereka lalu berteriak berulang kali pada Frau, bahwa mereka tidak memiliki pilihan lain dan inilah alternatif terbaik untuk tindakan yang harus mereka ambil. Frau beranggapan bahwa semuanya adalah omong kosong dan ia bahkan tidak memiliki waktu untuk menyampaikan keinginannya sendiri kepada rekan-rekannya.
"—akan kembali untukmu!"
Frau memicingkan mata. Apa ia tidak salah dengar? Ini pasti adalah salah satu kegilaan dalam menyambut akhir dunia karena ia seolah-olah bisa mendengar untuk sekali saja, dalam hidupnya, rekannya yang notabene adalah seorang bajak udara dengan tingkat kelakuan (mungkin) hanya se-level di atas simpanse mengatakan sesuatu yang terbilang sentimental. Di tengah-tengah rasa sakit dari berbagai cedera di sekujur tubuhnya, di balik keputusasaan dan suara bising yang menderu di udara, Frau melihat sekelebat harapan.
Setidaknya, untuk beberapa detik.
Sebelum cahaya terang itu menembus badan kapal tempat teman-temannya berada. Disusul sebuah ledakan yang membutakan mata dan membuat telinganya berdenging.
Frau kehilangan kesadaran dan keluarganya di saat yang bersamaan.
.
.
.
Ketika ia tersadar, seorang uskup berfitur gelap menatapnya dengan penuh rasa cemas. Ia bertanya apakah Frau baik-baik saja dan Frau menjawab dengan melayangkan sebuah tendangan keras ke kepala sang uskup, membuat pria yang lebih tua lengah untuk beberapa saat (namun ia berhasil menghindar sayangnya).
Dan ketika Frau berusaha lari, Zaiphon milik Father Bastien—begitu kemudian ia mengetahui namanya—menghentikannya. Logika Frau berfungsi dengan seharusnya ketika ia kembali dihadapkan oleh kenyataan dan pilihan hidupnya saat itu.
Saat itu, janji akan makanan hangat, tempat tinggal sementara dan Hukum Sanctuaria terdengar sebagai tawaran yang cukup bagus.
Namun yang kemudian dihadapinya adalah mimpi buruk berkepanjangan bagi setiap remaja laki-laki yang sehat.
Pelajaran mengenai dogma dan doa-doa membosankan yang ia tahu tidak akan pernah ia panjatkan seumur hidupnya. Berapa kali ia harus mengatakan kepada Uskup Cerewet itu kalau ia tidak bersedia untuk berbagi kepercayaan yang sama terhadap "Tuhan"? Semua yang terjadi adalah konsekuensi dari perbuatan manusia, tidak lebih.
Mengetahui hal itu dari awal, apa Kakek Sialan ini benar-benar berpendapat bahwa dirinya adalah kandidat kuat untuk menjadi seorang pemuka agama? Menjadi penerusnya?
Sungguh menggelikan.
(Yah, setidaknya, ia mengizinkan Frau untuk bermain dengan Baculus dan Zaiphon.)
Frau terus tertawa dalam hati.
Namun, sesekali, ia berhenti. Memejamkan matanya dan diam-diam memohon kepada sang entitas tertinggi.
Sesekali, Frau membiarkan dirinya terjatuh dalam harapan.
Seperti saat ia menemukan gemuruh dalam dadanya setelah mendengar lantunan doa syahdu diiringi nada-nada minor dari organ gereja.
Seperti saat ia merasakan sedikit kebebasan setelah membersihkan simbol Korr dari tubuh seorang ibu muda dan mata besar berkaca-kaca milik sang anak menatapnya dengan penuh haru, mengucapkan terima kasih kepadanya.
Seperti saat Father Bastien duduk disebelahnya, mendaratkan tangannya yang lembut di atas kepala Frau dan berkata bahwa ia akan terus berada di sisinya.
b.
(Father Bastien adalah seorang Warsfeil.)
Di penjara bawah tanah yang membeku, temperatur tubuh Frau menjadi lebih dingin dari biasanya.
(Father Bastien membunuh semua kriminal pencari suaka di Order dengan berdarah dingin.)
Zehel menggelitik kesadaran Frau. Sabit Verloren menggeliat, membuat panas membara di tangan kanannya menjadi tak tertahankan.
(Father Bastien adalah seorang pendosa dan sudah menjadi tugas Zehel untuk mengirimkan jiwa kotornya ke alam sana.)
Sesungguhnya, Frau hanya ingin suara-suara itu meninggalkannya dan membiarkannya sendiri.
(Father Bastien ingin menemui Frau, sekali lagi, sebelum ia pergi untuk menebus semua perbuatannya.)
Frau menarik nafas dalam-dalam, memejamkan matanya dan membiarkan Zehel bebas.
.
.
.
"Tindakan tanpa belas kasihan bukanlah keadilan. Manusia yang tak mampu memaafkan sama halnya dengan kegelapan."*
Zehel lalu berkata kepada sang uskup yang ternoda oleh Wars bahwa prinsip keadilannya itu salah. Tepat sebelum ia memeluk tubuh Father-nya yang mendingin karena terlalu lama tenggelam dalam kegelapan, membantunya melangkah menuju kehidupan berikutnya.
"Aku akan selalu bersamamu, Father. Sampai Akhir."
.
.
.
Seberkas cahaya yang menunjukkan dirinya kembali di tengah kegelapan tanpa jalan keluar ini, bukanlah karena untuk pertama dan terakhir kalinya aku menyaksikan sosok "Dewa" secara langsung.
Tetapi karena aku mendengar suara anakku tercinta.*
.
.
.
Frau terbangun oleh gema tawa riang anak-anak dan kicauan merdu burung-burung gereja.
Senyum Labrador dan sarkasme Castor membantunya melewati prosesi pemakaman yang seakan tidak pernah usai. Hari itu, Frau hampir saja kembali kehilangan orang yang berharga baginya, namun kali ini ia merengkuh erat Teito Klein dan membiarkan Hyuuga pergi membawa Michael's Eye. Frau akan membuat pertukaran itu kapan saja. Sudah tentu, Frau akan memilih Teito di atas sang senjata pemusnah masal dengan kesadaran menyebalkan.
"Jangan seenaknya membuang hidupmu sebelum kau meraih kembali apa telah kau lepas, Bocah Sialan."
Frau mempelajari salah satu arti hidupnya dari sebuah tragedi. Teito tidak perlu melalui sandiwara buruk yang sama.
.
.
.
Malam tiba untuk menjemput sebuah requiem dari kerajaan yang hilang, punggung kecil hangat yang senantiasa menopangnya, serta tetesan air mata tulus Teito yang membuai jiwa Frau, larut dalam kedamaian.
.
.
.
Tanpa ragu, ia menutup kedua matanya.
Fin.
[*] 07 Ghost Vol 3 Kapitel 16
Note: (I'm still swooning over Frau when he unmasked himself to Teito at the Masquarade assdfdgfhjfjkl;)
