Selamat Datang!
Saya datang membawa chapter keempat. Maaf kalau saya telat updetnya.
Semoga kalian menyukainya dan saya ucapkan selamat membaca!^^'
Summary:
Kesepian menyelimuti seorang pemuda bernama Ulquiorra Schiffer. Meskipun ia hidup lebih dari kata berkecukupan, ia merasa selalu ada kekosongan dalam kehidupannya. Meskipun begitu ia tidak pernah menunjukkan rasa kesepiannya itu pada orang lain. Apakah pemuda yang dijuluki Pangeran Es ini akan menemukan hal yang bisa mengusir rasa kesepiannya dengan adanya kehadiran gadis pemilik senyuman matahari seperti Orihime Inoue?
Bleach
Tite Kubo
(Bukan punya Lan)
Rate T
Genre
Romance & Friendship
Pairing
Ulquiorra Schiffer & Orihime Inoue
(Grimmjow Jeagerjaquez & Neliel Tu Oderschvank)
The Lonely Prince
Neary Lan
Bab 4
Warmth Princess
Hari yang baru telah dimulai kembali. Matahari mulai menyinari Kota Karakura yang masih menyisakan sisa-sisa hujan lebat tadi malam. Di beberapa tempat masih ada bekas genangan air, pohon-pohon dan bunga-bunga pun masih dihiasi titik-titik air. Meskipun matahari bersinar dengan hangat, namun udara dingin tak dipungkiri masih terasa bila tersentuh kulit. Dalam keadaan seperti ini, maka setiap orang pasti membutuhkan yang namanya kehangatan. Kehangatan untuk melenyapkan rasa dingin yang amat sangat sulit untuk dihilangkan.
Ketenangan menyelimuti sekitar apartemen sederhana tempat tinggal gadis berambut orange bernama Orihime. Dari luar memang terlihat tenang dan damai, tetapi jika dilihat lebih dekat melalui jendela kamar gadis orange itu, maka ada sesuatu yang sedang terjadi pada dirinya. Orihime, nama si gadis berambut orange, tampak panik. Sejak tadi ia terus sibuk mengaduk-aduk kamarnya, seperti sedang mencari sesuatu. Hal seperti ini justru terjadi di saat ia akan segera berangkat ke sekolah.
"Aduh, dimana hilangnya? Sejak tadi aku tidak menemukannya," keluh Orihime sambil terus mencari-cari di dalam lemarinya. Mencari sesuatu, tepatnya.
Orihime beralih dari lemari menuju kolong tempat tidurnya. Ia menunduk dan melihat ke dalam kolong tempat tidur yang gelap itu. Ini sudah kelima kalinya ia mengecek kolong tempat tidur. Matanya mencoba menelusuri setiap sudut yang dapat dilihatnya. Namun, hasilnya tetap sama seperti sebelum-sebelumnya. Sesuatu yang dicarinya tidak ditemukan sama sekali. Hampir setiap tempat menoreh hasil yang sama meskipun sudah berulang kali Orihime memeriksanya. Kamar Orihime sekarang sudah sangat berantakan dan hampir bisa disamakan dengan kapal pecah.
"Dimana? Kenapa tidak ada dimana-mana? Aku sudah mencari ke semua tempat di kamar ini, tetapi kenapa tidak ketemu juga?" Orihime duduk di tempat tidurnya. Ia mencoba untuk menenangkan diri. "Apa jatuh di tempat lain? Ingat, Orihime. Ingat," kata Orihime sambil menepuk-nepuk dahinya. "Astaga! Kenapa aku tidak mengingatnya sama sekali?"
Gadis berambut orange menjadi kesal sendiri. Dahinya yang sedari tadi ditepuk-tepuknya kini meninggalkan bekas merah. Orihime menghela nafas panjang, sangat panjang seolah ia baru saja menyelesaikan lomba lari seratus meter. Mata abu-abunya tak sengaja menatap ke arah jam weker yang berada di meja kecil di sebelah tempat tidur. Jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh tujuh menit. Seketika itu mata abu-abunya membulat sempurna.
"Astaga! Sudah jam segitu? Celaka, aku belum sarapan. Bisa-bisa aku terlambat!" Orihime mendadak tambah panik. Ia buru-buru bangkit dari tempat tidurnya dan bersiap-siap untuk sarapan.
Pagi hari bagi Orihime kali ini benar-benar kacau. Pada awalnya ia merasa pagi ini akan berjalan seperti biasanya. Ia bangun tepat waktu dan telah menyiapkan segala keperluan sekolahnya. Namun, ketika Orihime sedang bercermin untuk memakaikan jepit rambut berharga pemberian kakaknya di rambut orange panjangnya, ia baru menyadari bahwa jepit rambut itu tidak sepasang. Salah satunya hilang entah kemana. Sebelum tidur kemarin Orihime memang melepaskan jepit rambutnya dalam keadaan mengantuk. Karena itu ia sama sekali tidak menyadari bahwa salah satu jepitnya hilang.
Orihime sarapan dengan sangat buru-buru. Kecepatan makannya lebih cepat dari biasanya. Tentu ia makan secepat itu dikarenakan Tuan Waktu terus bergerak maju. Setelah selesai sarapan Orihime buru-buru mengambil tas dan segera berlalu keluar dari apartemennya, meninggalkan kamar yang sangat berantakan. Ia sama sekali tidak punya waktu untuk merapikannya. Masalah hilangnya jepit rambutlah yang membuat kamarnya berantakan seperti itu. Meskipun tidak menemukan pasangannya, Orihime tetap memakai jepit rambutnya dan bertekad untuk mencarinya di sekolah. Segala kemungkinan bisa saja terjadi.
oOo
Sinar mentari yang hangat masuk melalui jendela kamar di sebuah rumah megah bercat putih. Sinar hangatnya menerpa tubuh pucat seorang pemuda yang masih tertidur. Selimut tebal berwarna hijau menutupi tubuh pucat bagai mayat itu. Kelihatannya pemuda pucat sangat menikmati waktu tidurnya, tidurnya sangat nyenyak dan wajah tampannya bagaikan wajah bayi yang tenang dan penuh kedamaian. Ia merasa sangat tenang meskipun sejak tadi jam wekernya berbunyi dengan keras. Sudah beberapa kali si jam weker menjerit untuk membangunkan si pemuda, namun ia tetap saja terlelap tidur. Andaikan si jam weker itu hidup, maka ia akan memaksa pemuda pucat untuk bangun. Apa pun caranya.
Pintu cokelat kamar pemuda pucat terbuka. Seseorang berpakaian serba hitam memasuki kamar tersebut. Seseorang yang diketahui adalah seorang pria berambut raven hitam itu berjalan mendekati tempat tidur pemuda pucat. Tangannya terjulur untuk mematikan alarm dari jam weker yang sejak tadi terus berbunyi. Mata aqua green miliknya menatap pemuda pucat yang masih terlelap tidur. Sebuah senyum tersungging di bibir pria berambut raven.
"Tuan Muda," panggil si pria. "Bangun Tuan Muda."
Pemuda pucat yang dipanggil Tuan Muda tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Jangankan tanda-tanda akan bangun, kemungkinan saja ia sama sekali tidak mendengar suara si pria. Pria bermata aqua green itu menghela nafas. Kemudian tangannya menyentuh bahu pemuda pucat dan mengguncangkannya dengan pelan.
"Tuan Muda, bangun Tuan Muda," panggil si pria lagi. "Hari sudah pagi. Kalau Anda tidak bangun, maka Anda akan terlambat untuk ke sekolah."
Hanya suara erangan kecil yang keluar dari mulut si pemuda pucat. Tubuhnya yang sedari tadi hanya diam karena tidur, kini mulai bergerak. Matanya perlahan-lahan terbuka sehingga menampakkan kedua bola mata indahnya yang berwarna emerald. Ia mengucek matanya perlahan dan mendapati sosok pria yang membangunkannya tersebut.
"Kepala Pelayan Aaroniero," ujar si pemuda pucat alias Ulquiorra.
"Selamat pagi, Tuan Muda." Kepala Pelayan Aaroniero mengucapkan salam disertai dengan senyuman ramahnya kepada Ulquiorra yang baru bangun.
Ulquiorra tidak menanggapi senyuman dari Kepala Pelayan Aaroniero. Ia bangkit dan terduduk di ranjangnya. Kemudian Ulquiorra memegang kepalanya yang entah kenapa terasa pusing. Wajahnya mengernyit menandakan bahwa ia merasakan sakit di kepalanya. Kepala Pelayan Aaroniero menyadari tingkah aneh dari Ulquiorra.
"Anda kenapa, Tuan Muda?" tanya Kepala Pelayan Aaroniero.
"Aku tidak apa-apa," ujar Ulquiorra yang masih memegang kepalanya. Namun, tampaknya Kepala Pelayan Aaroniero tidak mempercayai ucapan Ulquiorra. "Aku benar-benar tidak apa-apa. Jangan memasang wajah khawatir seperti itu," lanjut Ulquiorra.
"Baiklah jika Anda berkata seperti itu, Tuan Muda. Saya akan segera menyiapkan sarapan Anda," kata Kepala Pelayan Aaroniero. Ia segera berbalik dan berjalan menuju pintu. Di ambang pintu Kepala Pelayan Aaroniero menoleh kepada Ulquiorra dan berkata, "Mungkin ini hanya perasaan saya saja, tetapi saya merasa Tuan sedang dalam keadaan yang tidak baik. Saya permisi dulu, Tuan."
Kepala Pelayan Aaroniero menutup pintu kamar Ulquiorra. Ulquiorra yang masih terduduk di ranjangnya hanya menghela nafas. Mungkin apa yang dikatakan Kepala Pelayan Aaroniero tadi memang benar, ia sepertinya sedang dalam keadaan yang tidak baik. Diliriknya jam weker yang sudah menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh dua menit. Ulquiorra bangun dari tempat tidurnya, ia menyambar handuk dan segera melangkahkan kaki pucatnya menuju kamar mandi.
Tidak berapa lama kemudian Ulquiorra segera keluar dari kamar mandi. Ia mengambil seragam sekolah di lemari dan bergegas memakainya. Ketika ia hendak mengancingkan beberapa kancing seragam yang belum terpasang, tiba-tiba saja ia merasa kepalanya kembali pusing. Ulquiorra kembali memegang kepalanya dan ia juga merasa tubuhnya limbung. Namun, sebelum merasa akan jatuh ia sudah berpegangan pada sesuatu untuk menyeimbangkan tubuhnya.
"Ada apa denganku? Kenapa aku merasa kepalaku pusing sekali?" tanya Ulquiorra pada dirinya.
Meskipun Ulquiorra masih merasakan pusing di kepalanya ia mencoba untuk mengabaikannya. Dengan cepat ia mengancingkan semua kancing yang belum terpasang dan memakaikan dasi di lehernya. Ulquiorra mengamati dirinya di depan cermin untuk memastikan bahwa penampilannya sudah dapat dikatakan rapi. Setelah itu ia menyambar tasnya dan segera berlalu keluar dari kamar untuk menikmati kegiatan sarapan paginya yang membosankan.
Dengan langkah enggan Ulquiorra menghampiri ruang makan. Setibanya di ruang makan Ulquiorra melihat Kepala Pelayan Aaroniero sedang berdiri di samping kursi yang selalu didudukinya. Kepala pelayan muda itu tersenyum ramah kepada Tuan Muda Schiffer dan tidak pernah lupa untuk selalu menyapanya.
"Selamat pagi, Tuan Muda. Sarapan Anda telah disiapkan, selamat menikmati," ujar Kepala Pelayan Aaroniero sambil tersenyum.
Ulquiorra hanya menatap datar si kepala pelayan tanpa bermaksud untuk membalas senyumannya. Kepala Pelayan Aaroniero tetap memasang senyum ramahnya meskipun ia tahu bahwa Tuan Muda berkulit pucat itu tidak akan membalasnya. Ulquiorra memperhatikan sarapan yang disediakan untuknya. Seperti biasa, sarapan pagi untuk seorang Pangeran Schiffer selalu dihidangkan dengan berbagai makanan lezat. Dengan enggan Ulquiorra mencoba menerima sarapan pagi yang telah disediakan untuknya. Ketika tangan pucatnya ingin mengambil cangkir berisi Black Coffee, ia merasa pusing lagi.
"Anda kenapa, Tuan Muda?" tanya Kepala Pelayan Aaroniero yang kembali menyadari tingkah aneh Ulquiorra. "Apa Anda sakit?" tanyanya lagi.
"Tidak. Aku tidak apa-apa, jangan hiraukan aku," kata Ulquiorra yang seolah-olah tidak terjadi apa pun. Ia mencoba untuk bersikap datar, namun tampaknya itu percuma. Tangan pucatnya kembali memegang kepalanya.
"Tuan kelihatan tidak dalam kondisi yang baik. Saya yakin kalau Tuan sakit," ujar Kepala Pelayan Aaroniero yang terlihat khawatir. "Ini pasti karena hujan lebat kemarin."
"Hujan? Menurutmu ini ada kaitannya dengan hujan?" Ulquiorra bertanya dengan nada datar. Mata emeraldnya menatap Kepala Pelayan Aaroniero.
"Ya, Tuan. Kemarin malam Tuan pulang dalam keadaan kehujanan, karena itu saya pikir mungkin Anda sakit," kata pria berambut raven hitam itu. Senyum di wajahnya benar-benar telah berganti dengan raut kekhawatiran.
"Begitu?" ujar Ulquiorra datar. Tangannya kembali terulur untuk mengambil cangkir berisi Black Coffee. "Mungkin kamu benar, Kepala Pelayan Aaroniero," kata Ulquiorra lagi. Kemudian ia meminum Black Coffee yang masih hangat itu.
Kepala Pelayan Aaroniero mengangkat sebelah alisnya. Ia sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataan Ulquiorra yang memungkinkan ada dua pernyataan di balik kata-katanya tersebut. Tetapi, ia tahu bahwa pemuda pucat itu tidak akan menjelaskan maksud dari perkataannya tersebut. Kepala pelayan muda ini hanya memperhatikan Ulquiorra yang menikmati sarapan paginya dengan penuh keheningan. Ia yakin bahwa Ulquiorra sedang dalam keadaan yang tidak baik.
Kemarin malam hujan turun dengan sangat lebat. Tepat pada pukul sebelas malam Ulquiorra pulang dalam keadaan basah kuyup. Kepala pelayan berambut raven hitam itu sangat terkejut ketika mendapati Sang Pangeran Schiffer kehujanan dan tubuhnya yang pucat itu kelihatan menggigil karena kedinginan. Namun, Ulquiorra sangat pandai dalam menyembunyikan hal sulit yang sedang dialaminya. Cukup dengan memasang Topeng-Datar-Abadi di wajahnya, maka ia akan kelihatan dalam keadaan yang baik-baik saja. Ia hanya mengangkat sebelah alisnya ketika melihat wajah Kepala Pelayan Aaroniero yang kelihatan khawatir akan dirinya.
Dengan mudahnya bibirnya melontarkan pertanyaan, Kenapa kamu memandangku seperti itu, Kepala Pelayan Aaroniero?
Kepala Pelayan Aaroniero hanya diam dan sedikit terkejut dengan ucapan Tuannya yang bersikap seolah-olah tidak terjadi apa pun pada dirinya. Pemuda pucat itu menganggap dirinya yang berjalan-jalan di malam hari sambil bermandikan hujan lebat itu seolah-olah sedang berjalan-jalan di bawah hangat sinar mentari di pagi hari. Tidak lama kemudian Ulquiorra segera berjalan menuju kamarnya karena menyadari tidak ada yang ingin dikatakan Kepala Pelayan Aaroniero padanya. Namun, ternyata Kepala Pelayan Aaroniero mengikutinya dari belakang.
Setelah sampai di kamar Ulquiorra segera mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian yang kering. Rambut hitamnya ia keringkan dengan handuk sewarna matanya. Kepala Pelayan Aaroniero berdiri di dekat pintu dengan tetap memasang wajah khawatir. Ulquiorra memandangnya dengan wajah datar. Jujur, ia kurang menyukai jika dirinya dikhawatirkan oleh seseorang. Ulquiorra mendekati kepala pelayan yang selalu tersenyum ramah itu dan memerintahkannya untuk mengenyahkan berbagai pikiran dan kecemasan tentang dirinya.
Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, Kepala Pelayan Aaroniero. Aku tidak suka kamu menatapku seperti itu. Aku bukan anak kecil lagi. Saat ini yang kubutuhkan adalah istirahat agar kondisiku tidak memburuk seperti dugaan-dugaan yang mulai terpatri di kepalamu. Karena itu, bisakah kamu meninggalkan kamarku, Kepala Pelayan Aaroniero?
Ucapan yang datar dan jelas. Kepala Pelayan Aaroniero yang mendengarnya hanya mengangguk saja. Kemudian kepala pelayan berambut raven hitam itu membungkuk sambil mengucapkan "Selamat malam" dan berlalu meninggalkan kamar Ulquiorra, memberikan waktu kepada Sang Pangeran Schiffer untuk mengistirahatkan tubuhnya. Kepala Pelayan Aaroniero sama sekali tidak bisa membalas perkataan Ulquiorra. Ralat, sejak tadi ia memang sama sekali tidak mengatakan apa pun kepada pemuda pucat itu. Ia cukup kecewa dengan sikap Tuannya yang tidak ingin membiarkan dirinya merasakan khawatir akan pemuda itu. Siapa pun akan merasa khawatir ketika melihat seseorang yang pulang larut malam dalam keadaan basah kuyup dan juga menggigil kedinginan. Padahal sebelumnya ia sudah mengatakan kepada Tuannya bahwa cuaca sedang tidak bersahabat, namun Pangeran Schiffer tidak menghiraukannya. Ulquiorra tetap dengan keinginannya semula, yaitu berjalan-jalan menikmati angin malam hingga akhirnya ia juga menikmati sonata-sonata yang dimainkan hujan.
Tidak lama kemudian Ulquiorra telah selesai sarapan dan ia segera beranjak dari kursi. Kepala Pelayan Aaroniero kembali kepada pemikirannya sekarang setelah sejenak mengingat kejadian tadi malam. Ulquiorra menyambar tas di kursi kosong yang terletak di sebelah kursinya dan segera berlalu menuju pintu depan. Kepala Pelayan Aaroniero tetap setia mengikuti langkah-langkah kaki Ulquiorra. Sebelum Ulquiorra benar-benar akan segera berangkat ke sekolah, Kepala Pelayan Aaroniero mencoba membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.
"Kalau Tuan memang sakit, sebaiknya hari ini Tuan tidak datang ke sekolah dan beristirahat di rumah," katanya dengan nada cemas.
Mata emerald Ulquiorra menatap Kepala Pelayan Aaroniero. Rasanya sudah beberapa kali ia mendapati wajah pria berambut raven hitam itu penuh dengan kecemasan. Senyum ramah andalannya tidak banyak diperlihatkannya seperti hari-hari sebelumnya. Ulquiorra hanya menghela nafas. Ditatapnya bola mata aqua green milik Kepala Pelayan Aaroniero.
"Harus berapa kali kukatakan bahwa tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, Kepala Pelayan Aaroniero. Aku baik-baik saja," kata Ulquiorra dingin.
"Tetapi, Tuan…"
"Aku bukan lagi anak kecil seperti sepuluh tahun yang lalu. Aku tahu keberadaanku di sini di bawah pengawasanmu, namun kamu tidak perlu terlalu mengawasiku seperti ini," ujar Ulquiorra. "Aku bisa menjaga diriku dan hanya aku yang tahu tentang diriku," tambahnya.
Lagi-lagi Kepala Pelayan Aaroniero tidak dapat membalas perkataan Ulquiorra. Kepala pelayan muda itu cukup mengagumi kepandaian Ulquiorra yang bisa membuat seseorang untuk tidak bisa membalas perkataannya. Sepertinya ia harus angkat tangan pertanda menyerah.
"Baiklah kalau Tuan Muda berkata seperti itu. Maafkan saya yang telah lancang berbicara demikian kepada Anda," kata Kepala Pelayan Aaroniero sambil membungkuk.
"Jaga rumah ini dari kedua makhluk pengganggu itu selama aku pergi," kata Ulquiorra sebelum ia berlalu keluar dari rumah.
Kepala Pelayan Aaroniero hanya mengangguk. Ia hanya tersenyum tipis mendengar kalimat Ulquiorra yang sarkastik dan ia juga tahu siapa yang dimaksud dengan "kedua makhluk pengganggu" itu.
"Baik, Tuan. Selamat jalan, Tuan Muda," kata Kepala Pelayan Aaroniero sambil membungkuk hormat. Setelah memastikan Ulquiorra telah berlalu pergi, ia segera menutup pintu megah rumah Keluarga Schiffer dan bersiap-siap memulai pekerjaannya hari ini.
oOo
Pelajaran pertama di SMU Karakura tengah berlangsung. Namun sayang, pelajaran pertama yang diketahui adalah pelajaran sejarah telah membuat beberapa murid bemimpi indah di pagi hari. Hanya sedikit murid yang bertahan dalam pelajaran ini untuk memperhatikan penjelasan panjang lebar membosankan dari sang guru. Ulquiorra, Orihime, Ishida serta Sado termasuk di antara beberapa murid yang serius memperhatikan penjelasan sang guru, sedangkan beberapa murid seperti Ichigo dan Keigo sudah berwisata ke alam mimpi masing-masing. Rukia yang mendapati Ichigo sedang tertidur hanya tersenyum penuh arti. Ia mencoret-coret wajah pemuda berambut orange itu dengan pulpen, kemudian ia tertawa cekikikan sendiri.
Orihime menoleh ke arah Tatsuki yang sejak tadi tidak berhenti menguap. Mata gadis tomboy itu tampak enggan untuk terbuka, namun ia mencoba bertahan sebisanya untuk mendengar penjelasan dari sang guru. Orihime hanya tersenyum tipis saja melihat sahabatnya itu. Ia yakin Tatsuki kurang tidur karena kelelahan. Kemudian mata abu-abunya mencoba menoleh sedikit ke belakang untuk melihat pemuda pucat bermata emerald. Ia sudah menduga bahwa pemuda pucat itu pasti sedang serius menekuni buku pelajaran sejarah di tangannya sementara telinganya fokus mendengar penjelasan yang sedang diterangkan oleh guru yang bersangkutan.
Namun, sepertinya Orihime merasa ada yang aneh dengan Ulquiorra. Wajah pemuda pucat itu memang selalu terlihat datar atau tanpa ekspresi sama sekali, namun kali ini wajah datarnya tampak kelihatan lelah. Sesekali Orihime juga melihat Ulquiorra memegangi kepalanya dan wajahnya tampak mengernyit kesakitan. Gadis berambut orange ini memiliki kesimpulan bahwa kemungkinan Ulquiorra sedang sakit, meskipun ia sama sekali tidak yakin apakah dugaannya itu benar atau tidak.
Schiffer kenapa, ya? Apa dia sakit?
Ulquiorra mengangkat wajahnya dari buku yang berada di tangannya dan mendapati Orihime sedang menatapnya dengan ekspresi yang mungkin dapat dikatakan khawatir. Mata emeraldnya menatap dingin mata abu-abu Orihime.
"Apa yang sedang kamu lihat?" tanya Ulquiorra dingin. Nada suaranya dipelankannya agar tidak ada orang lain yang mendengar selain Orihime.
Orihime langsung terkesiap mendengar pertanyaan Ulquiorra. Tanpa menjawab pertanyaan dari Ulquiorra ia langsung mengalihkan pandangannya ke depan, berpura-pura mendengarkan penjelasan guru. Gadis berambut orange ini merutuki dirinya yang tadi secara diam-diam menatap Ulquiorra. Beruntung tidak ada seorang pun yang menyadari tingkahnya. Tampaknya Orihime harus berterima kasih kepada guru sejarah yang telah memberikan dongeng pengantar tidur sehingga banyak murid yang tertidur, meskipun ada sebagian kecil murid yang masih bertahan.
Sementara itu Ulquiorra hanya menghela nafas melihat tingkah Orihime tadi. Ia heran sekali dengan gadis berambut orange itu yang suka sekali menatapnya secara diam-diam. Jika ia melontarkan pertanyaan kepada gadis itu, maka ia tidak akan menjawabnya. Kalau pun menjawab selalu saja tergagap. Tiba-tiba Ulquiorra mulai merasa kepalanya pusing kembali. Namun, kali ini ia tidak hanya merasa pusing. Entah kenapa ia merasa tubuhnya mulai panas dingin dan terkadang juga menggigil, matanya kurang fokus, nafasnya terasa berat bahkan hidungnya juga mulai terasa gatal.
Ada apa denganku? Sejak tadi aku merasa tidak enak badan. Apa aku benar-benar sakit seperti yang dikatakan Kepala Pelayan Aaroniero?
Ulquiorra memegangi kepalanya, rasa sakit itu semakin menghujam kepalanya. Kali ini ia benar-benar merasa tidak fokus dengan pelajaran yang sedang diterangkan.
oOo
"Kenapa wajahmu seperti itu, Orihime?" tanya Tatsuki ketika mereka makan siang di atap.
"Huh, aku tidak apa-apa, Tatsuki," jawab Orihime lemas.
Tatsuki mengangkat sebelah alisnya. Gadis tomboy ini tidak puas dengan jawaban Orihime atas pertanyaannya. Sejak pagi tadi Tatsuki melihat wajah Orihime yang terlihat murung. Ketika ia mengajukan pertanyaan, Orihime hanya menjawab sekedarnya. Biasanya Orihime selalu terlihat ceria dan bersemangat, senyum pun selalu terlukis indah di bibirnya. Namun, kali ini gadis pemilik senyum matahari itu memilih untuk menyembunyikan senyumannya. Seperti matahari yang bersembunyi di balik awan.
"Hei, ada apa sebenarnya denganmu? Tidak bisanya kamu seperti ini. Kamu tidak seperti Orihime yang aku kenal," ujar Tatsuki sambil mengacung-acungkan sumpit di hadapan Orihime.
"Eh, apa maksudmu, Tatsuki?" Orihime memandang Tatsuki dengan bingung.
Tatsuki menghela nafas.
"Huh, kamu ini. Orihime yang aku kenal itu adalah seorang gadis yang ceria, bersemangat, dan selalu tersenyum seperti matahari. Tetapi, sekarang kamu malah murung seperti akan turun hujan saja," ledek Tatsuki.
"Hihihi, memangnya aku ini Dewi Hujan hingga bisa menurunkan hujan?" Orihime tertawa kecil.
"Nah, itu baru Orihime yang aku kenal," ujar Tatsuki sambil tersenyum. Ia senang karena sahabatnya itu sudah mau untuk tersenyum.
Orihime pun membalas senyuman Tatsuki. "Terima kasih, Tatsuki."
"Sama-sama, Orihime," ujar Tatsuki. "Kalau ada masalah katakan saja padaku."
Orihime terdiam. Sebenarnya ia ingin mengatakan permasalahannya kepada Tatsuki, yaitu hilangnya jepit rambut kesayangannya itu. Namun entah kenapa yang ada dipikirannya hanya wajah Ulquiorra. Wajah pemuda pucat itu yang menyiratkan rasa sakit. Ia penasaran dan juga merasa khawatir dengan pemuda itu.
Uh, kenapa sejak tadi aku hanya memikirkan Schiffer? Ada apa denganku?
Tanpa disadarinya perlahan-lahan wajahnya memerah. Tatsuki yang sedang mengunyah memandang Orihime dengan bingung. Ia heran melihat wajah gadis berambut orange itu yang tiba-tiba memerah. Buru-buru ia menelan makanan di tenggorokannya dan beruntung ia tidak tersedak.
"Kenapa wajahmu malah memerah? Kamu sakit?" hardik Tatsuki sambil memeriksa kening Orihime.
"Eh, ti, tidak. Aku tidak apa-apa, Tatsuki," ujar Orihime panik.
"Benar tidak apa-apa?" tanya Tatsuki untuk memastikan. Orihime hanya mengangguk. "Kamu ini aneh sekali, tadi wajahmu terlihat murung dan sekarang wajahmu malah memerah seperti orang sakit."
Orihime hanya tersenyum saja mendengar ucapan Tatsuki. Ia dan Tatsuki kembali memakan bekal makan siang mereka masing-masing karena waktu istirahat hampir selesai. Setelah bekal makan siang mereka habis, mereka mulai saling mengobrol tentang berbagai hal. Karena terlibat dengan pembicaraan yang menarik, Orihime sampai lupa dengan masalah jepit rambutnya yang hilang. Sejak tadi ia selalu tersenyum dan tertawa bersama Tatsuki. Tanpa ia sadari bahwa sepasang mata emerald tengah menatapnya dari balik pintu atap.
Pemilik mata emerald itu masih menatap gadis bermata abu-abu dan sahabat tomboynya yang saling tersenyum dan tertawa satu sama lain. Setelah itu, si pemilik mata emerald segera berlalu meninggalkan tempat tersebut. Keinginannya untuk berada di tempat tersebut diurungkannya. Langkah kakinya menuntunnya ke toilet laki-laki. Ketika tiba di dalam toilet ia segera duduk di kloset sambil tetap memegangi kepalanya kembali. Pusing di kepalanya tidak kunjung hilang sejak pagi tadi. Dan sekarang ia juga merasakan ada yang aneh terjadi pada tubuhnya.
"Sepertinya aku memang benar-benar sakit," ujar si pemilik mata emerald, yakni Ulquiorra Schiffer.
Tampaknya pemuda pucat ini menyadari bahwa kondisi tubuhnya tidak dalam keadaan baik. Jika kali ini Kepala Pelayan Aaroniero bertanya Apakah anda baik-baik saja, Tuan?, maka Ulquiorra tidak akan menyangkalnya dan akan menjawab, Ya, saat ini aku merasa tidak baik. Tetapi, tanpa diberi pertanyaan seperti itu pun sejak awal dia sudah merasa tidak enak badan bahkan sejak ia pulang larut kemarin malam.
Ulquiorra tidak ingin berlama-lama di dalam toilet, maka ia segera berlalu keluar. Sempat ia berpikir untuk tidak mengikuti pelajaran selanjutnya dan memilih untuk tidur di ruang UKS. Tetapi ia segera menepis pikiran tersebut. Ia lebih tergoda untuk menyerap pelajaran selanjutnya ketimbang untuk beristirahat di ruang UKS. Ketika ia keluar tidak sengaja ia bertemu dengan Orihime. Mereka saling menatap.
"Schiffer." Orihime menyebut nama Ulquiorra. Gadis berambut orange itu tampak terkejut dengan pertemuannya dengan Ulquiorra.
Ulquiorra hanya diam meskipun awalnya ia juga terkejut ketika melihat Orihime. Setahunya gadis berambut orange ini tadi sedang makan siang dan bersenda gurau di atap dengan sahabat tomboynya, Tatsuki. Tetapi kini gadis itu berada di hadapannya. Ulquiorra menafsirkan bahwa Orihime mungkin juga dari toilet dan mereka mungkin keluar di saat yang bersamaan hingga tidak sengaja bertemu. Ia ingin segera melangkahkan kakinya untuk ke kelas, tetapi entah kenapa ia merasa tidak ingin beranjak dari tempatnya berdiri.
Orihime menatap pemuda pucat di hadapannya. Gadis itu juga tampak tidak ada keinginan untuk segera beranjak dari tempatnya berdiri. Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Hijau emerald bertemu dengan abu-abu. Orihime memperhatikan wajah pucat Ulquiorra yang tampak benar-benar pucat dan lelah. Ia yakin bahwa ada sesuatu yang aneh pada pemuda itu.
"Seperti biasa kamu selalu menatapku seperti itu. Apa ada yang aneh dengan penampilanku?" tanya Ulquiorra dingin. Meskipun sakit ia tetap mencoba untuk bersikap biasa di hadapan Orihime.
"Ti, tidak," jawab Orihime dengan tergagap seperti biasanya. Ia selalu bingung untuk menjawab pertanyaan Ulquiorra tersebut.
"Benarkah? Apa tidak ada yang ingin kamu katakan selain 'tidak'?" tanya Ulquiorra lagi. Kedua tangannya berada di dalam saku celananya dan pandangannya lurus kepada Orihime. Beruntung saat ini koridor di sekitar toilet itu sedang sepi dan hanya ada mereka berdua.
"A, aku…"
"Tergagap seperti biasanya dan tidak pernah menyelesaikan kalimatmu hingga akhir. Aku tidak mengerti kenapa aku mau berdiri di koridor sepi seperti ini bersama dengan seorang gadis sepertimu," kata Ulquiorra. Mata emeraldnya menatap Orihime dari atas ke bawah.
Orihime hanya diam. Ia sama sekali tidak tahu ingin mengatakan apa kepada pemuda pucat itu. Kalau bisa ia ingin segera beranjak dari tempatnya berdiri, namun hipnotis yang diakibatkan bola mata emerald itu menahannya untuk tetap diam. Meskipun selalu merasa gugup jika berdiri di hadapan Ulquiorra, tetapi Orihime menyukainya karena ia bisa menatap wajah pemuda pucat itu secara dekat.
Kenapa dengan gadis ini? Kenapa aku bisa bertemu dengannya di tempat yang tidak terduga seperti ini? Kenapa harus dia?
Ulquiorra mencoba berpikir, namun dalam kondisi yang tidak baik seperti ini untuk berpikir pun sulit. Bukannya menemukan jawaban atas apa yang dipikirkannya melainkan pusing dan kondisi tubuh yang dirasanya semakin melemah. Ulquiorra menghela nafas sambil memejamkan matanya.
"Bel masuk hampir berbunyi dan tidak ada gunanya berlama-lama berdiri di tempat seperti ini," ujar Ulquiorra yang berjalan melewati Orihime.
Orihime masih terdiam. Tubuhnya sama sekali tidak ada keinginan untuk bergerak. Tiba-tiba saja mulutnya bergerak untuk mengatakan sesuatu.
"Apa kamu sedang sakit, Schiffer?" tanya Orihime tanpa menatap Ulquiorra secara langsung.
Ulquiorra langsung menghentikan langkah kakinya. Ia terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan gadis berambut orange itu kepadanya.
"Apa yang membuatmu berpikiran kalau aku sedang sakit?" Ulquiorra bertanya tanpa menatap Orihime secara langsung juga.
"Ng, itu karena wajahmu terlihat pucat," jawab Orihime sekedarnya. Entah kenapa kebingungan kembali melandanya.
"Karena wajahku terlihat pucat? Asal kamu tahu wajah dan tubuhku memang pucat, tetapi bukan berarti aku sakit. Kamu ingin menyindirku?"
"Bu, bukan begitu," ujar Orihime cepat. "Ma, maksudku wajah Schiffer lebih pucat dari biasanya dan sesekali aku melihat Schiffer memegangi kepala seperti sedang menahan sakit. Lalu, Schiffer terlihat seperti sulit bernafas dan juga berkeringat."
"Apa kamu memperhatikanku sampai sedetail itu? Banyak sekali waktumu untuk memperhatikanku," ujar Ulquiorra. "Daripada memperhatikan orang sepertiku lebih baik kamu memperhatikan hal-hal yang lebih bermanfaat."
"Aku hanya khawatir saja. Mana bisa aku mengabaikan teman sekelasku yang sedang sakit," kata Orihime tegas.
Tentu saja Ulquiorra terkejut mendengarnya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa dari sekian murid di kelasnya hanya Orihime yang menyadari bahwa dirinya sedang sakit. Meskipun semenjak di rumah ia menyangkal dugaan Kepala Pelayan Aaroniero yang juga mengkhawatirkannya.
Dia mengkhawatirkanku? Jangan bercanda. Tidak ada alasan khusus yang menyatakan bahwa gadis ini berhak untuk mengkhawatirkanku. Aku tidak suka dikhawatirkan seperti itu. Ah, lama-lama bicara dan berdiri membuat kepalaku tambah pusing, pandanganku mulai buram.
Ulquiorra kembali memegangi kepalanya, namun hanya sesaat. Ia menatap Orihime dan wajah gadis itu tidak terlihat dengan jelas. Tampaknya pandangannya benar-benar sudah mulai buram. Sedangkan Orihime terlihat panik ketika mengingat ucapan yang keluar dari mulutnya tadi. Ia merasa malu.
Apa yang kukatakan? Aku bilang aku mengkhawatirkannya? Tidak! Mau taruh dimana wajahku ini?
"Kata-katamu mirip dengan dokter kenalanku," kata Ulquiorra. Kali ini ia benar-benar berlalu meninggalkan Orihime seorang diri. Meninggalkan gadis itu yang masih terdiam sambil memikirkan kata-kata yang diucapkannya.
"Ng, dia bilang apa tadi? Kata-kataku mirip dengan dokter kenalannya?" Orihime bingung sendiri. "Ah, lebih baik aku juga segera kembali ke kelas."
Bel masuk kembali berbunyi. Pelajaran selanjutnya pun segera diterima oleh para murid. Semua mengikuti pelajaran dengan hikmah meskipun ada beberapa yang juga terlihat acuh dengan pelajaran tersebut. Ulquiorra tetap mengikuti pelajaran dengan tenang, tetapi tidak ada yang menyadari bahwa kali ini Sang Pangeran Schiffer tidak terlalu serius dalam mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung. Seluruh tubuhnya semakin melemah dan jika saja ia tidak mencoba untuk bertahan, mungkin ia bisa pingsan. Orihime memperhatikan Ulquiorra dari ekor matanya Karena tidak ingin pemuda itu menyadari kalau dirinya sedang diperhatikan.
Setelah pelajaran terakhir selesai bel pulang pun berbunyi. Semua murid segera bergegas menyusun buku-buku mereka dan berlalu keluar dari kelas. Ulquiorra menghela nafas lega karena pelajaran hari ini telah selesai. Ia benar-benar sudah tidak tahan lagi untuk segera pulang ke rumah dan berbaring di ranjang hangatnya. Ia juga yakin jika Kepala Pelayan Aaroniero melihatnya dalam kondisi yang sudah dapat dikatakan parah ini, maka kepala pelayan itu akan sangat panik sekali dan juga akan bertindak secara berlebihan. Karena itulah Ulquiorra tidak mau kepala pelayan berambut hitam itu terlalu mengkhawatirkannya.
Ulquiorra segera berlalu keluar kelas. Langkahnya terasa lambat bahkan ia merasa enggan untuk melangkah. Ia ingin menelepon Kepala Pelayan Aaroniero untuk menjemputnya, tetapi diurungkannya niatnya tersebut. Terkadang Ulquiorra memang tidak suka menunjukkan sisi lemahnya kepada orang lain meskipun sebenarnya di saat itu ia memang sangat memerlukan sekali bantuan. Tanpa ia sadari Orihime sedang menatapnya. Raut wajah gadis itu terlihat cemas. Tatsuki menghampirinya untuk mengajaknya pulang bersama.
"Ayo kita pulang, Orihime," ajak Tatsuki bersemangat.
"Maaf, Tatsuki. Hari ini aku pulang sendiri saja," tolak Orihime secara halus.
"Kenapa? Kamu ada urusan penting, ya?" tanya Tatsuki penasaran.
"Iya. Aku ada urusan, jadi aku minta maaf, ya," pinta Orihime sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di hadapan Tatsuki sebagai tanda permohonan maaf.
"Baiklah kalau begitu," ujar Tatsuki dengan sedikit kecewa.
"Terima kasih, Tatsuki!" seru Orihime. Tatsuki hanya mengangguk.
Orihime segera berlalu keluar kelas. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat bahkan terkadang sambil berlari-lari kecil. Mata abu-abunya menyapu segala sudut koridor untuk mencari sosok pemuda berkulit pucat. Namun, ia tidak menemukannya dimanapun. Orihime tidak menyerah, ia tetap berusaha mencari pemuda bernama Ulquiorra Schiffer tersebut.
Usahanya memang tidak sia-sia. Akhirnya ia menemukan Ulquiorra sedang berjalan keluar gerbang sekolah. Pemuda pucat itu kelihatan baik-baik saja, tetap berwajah datar dengan pandangan mata yang lurus ke depan. Orihime berjalan di belakangnya dan berusaha untuk menjaga jarak dengan Ulquiorra. Ia mencari Ulquiorra memang tidak berniat untuk menghampiri pemuda tersebut, melainkan seperti yang dikatakannya tadi kepada Ulquiorra bahwa ia mengkhawatirkannya. Gadis berambut orange ini takut jika ada sesuatu yang terjadi pada Ulquiorra dalam perjalanan pulang nanti apalagi dalam kondisi Ulquiorra yang sedang tidak baik.
"Kenapa aku melakukan ini demi Schiffer? Apa aku terlalu mengkhawatirkannya? Ah, ada apa denganmu, Orihime? Kenapa kamu bersikap seperti ini?" gumam Orihime. Ia menggaruk pelan belakang kepalanya yang tidak gatal.
Orihime terus mengikuti Ulquiorra dari belakang dengan jarak yang cukup jauh. Beruntung sekali Ulquiorra tidak menyadari kehadirannya. Orihime tahu bahwa ia sudah bersikap seperti seorang penguntit apalagi yang diikutinya itu adalah Ulquiorra Schiffer, pemuda dingin yang kelihatannya adalah anak dari seorang konglomerat. Ia berpikir seperti itu karena sudah melihat secara langsung betapa kayanya pemuda itu. Seandainya ia adalah orang jahat, maka menculik Ulquiorra merupakan hal yang menguntungkan.
Rumah Ulquiorra masih jauh dan Orihime tetap setia mengikuti Ulquiorra secara sembunyi-sembunyi. Ia cukup kagum dengan pemuda itu yang masih sanggup berjalan dalam kondisi sakit, padahal saat ini matahari sedang bersinar dengan terik. Ketika Orihime berbelok di suatu jalan yang dilewati Ulquiorra, tiba-tiba saja mata abu-abunya membulat sempurna. Ia terkejut ketika melihat Ulquiorra yang telah ambruk ke tanah. Buru-buru gadis itu berlari menghampiri Ulquiorra.
"Schiffer!" panggil Orihime sambil berlari.
Ulquiorra mendengar namanya dipanggil. Orihime kini telah berada di sisinya, gadis itu terlihat sangat panik. Dengan pandangan yang samar Ulquiorra dapat melihat bahwa seseorang yang memanggilnya dan menghampirinya ini adalah Orihime. Namun, pandangannya semakin samar bahkan hampir sulit untuk melihat dengan jelas wajah Orihime. Ulquiorra sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan gadis berambut orange itu.
Gadis itu. Kenapa aku bertemu dia lagi?
"Ka, kamu…" bisik Ulquiorra, hampir tidak terdengar sama sekali.
"Apa yang terjadi denganmu, Schiffer?" tanya Orihime panik.
Ulquiorra tidak menjawab pertanyaan Orihime. Fisiknya semakin melemah, tubuhnya benar-benar terasa panas dan nafasnya tersengal-sengal. Untuk berdiri kembali pun ia tidak sanggup. Tiba-tiba kesadarannya menghilang seiring redupnya penglihatan Ulquiorra, pemuda pucat itu pingsan. Orihime terkejut dibuatnya, kali ini ia benar-benar panik.
"Schiffer! Astaga, dia pingsan! Apa yang harus aku lakukan?" Orihime bingung sendiri.
Orihime melirik ke kiri dan ke kanan, berusaha untuk meminta pertolongan. Namun sayang, di sekitar jalanan ini terlihat sepi. Orihime mencoba menyentuh kening Ulquiorra, ia kaget karena kening Ulquiorra sangat panas. Pemuda bermata emerald itu benar-benar sedang sakit.
"Ba, badannya panas. Bagaimana ini?" tanya Orihime pada dirinya. "Tolong, tolong kami!" Orihime berteriak, berusaha untuk meminta tolong. "Bertahanlah, Schiffer. Aku pasti akan menolongmu!"
oOo
Di suatu cafe Grimmjow dan Neliel terlihat sedang menikmati waktu santai mereka. Tampak Grimmjow sedang menyeruput kopi panasnya sambil sesekali matanya tertuju pada laptop putih di hadapannya. Sementara itu, Neliel terlihat sedang sibuk dengan tumpukan kertas-kertas serta beberapa map yang berserakan di meja. Sesekali Grimmjow memandangi tingkah Neliel, gadis berambut hijau itu menekuk wajahnya. Neliel tampak kesal memandangi tumpukan kertas dan map di hadapannya.
"Kau terlihat sibuk sekali, Nel. Apa tumpukan kertas dan map-map itu mengganggumu?" tanya Grimmjow tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop di hadapannya.
"Tanpa perlu kamu tanyakan pun seharusnya kamu sudah tahu bahwa aku memang sangat sibuk," cibir Neliel. Matanya fokus terhadap suatu map yang sedang terbuka dan membaca beberapa tulisan yang tertera di map tersebut.
"Tch! Kau selalu saja merepotkan dirimu sendiri. Cobalah kau contoh aku," kata Grimmjow yang terkesan membanggakan dirinya.
Neliel menatap Grimmjow. Gadis berambut hijau itu mengangkat sebelah alisnya.
"Apa yang perlu aku contoh darimu, Grimmjow? Biar kutebak, mengabaikan semua tugas-tugas maksudmu?" tebak Neliel sambil menyipitkan matanya. Grimmjow hanya menyeringai, kemudian ia tertawa.
"Hahahahaha! Apa kau serius akan melakukannya?" tantang Grimmjow, senyum seringai belum hilang dari wajah tampannya.
"Mana mau aku mengikuti idemu itu, Grimmjow. Maaf saja, ya," ujar Neliel.
"Jangan serius seperti itu, Neliel. Lagipula itu bukan ide, tetapi hanya saran dari seorang Grimmjow Jeagerjaquez."
"Maaf sekali, Tuan Grimmjow Jeagerjaquez, saranmu aku tolak," ujar Neliel. Grimmjow hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia kembali menatap layar laptopnya. "Huh, tugas dari para dosen ini memang benar-benar memusingkanku," keluh Neliel.
"Apa aku bilang, abaikan saja dulu semua tugas dari para dosen itu," kata Grimmjow lagi.
Neliel kembali mencibir. Pemuda berambut biru di hadapannya ini memang sama sekali tidak bisa diharapkan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya sama sekali tidak memberikan Neliel pencerahan. Neliel kembali menatap Grimmjow, ia heran dengan pemuda ini yang selalu bersikap santai dan menjalani hari-harinya semudah membalikkan telapak tangan seolah tanpa beban. Sejak tadi Grimmjow hanya tersenyum menatap layar laptop di hadapannya. Neliel sama sekali tidak tahu apa yang sedang dilakukan pemuda itu sejak tadi dan kini ia merasa penasaran.
"Apa yang sedang kamu kerjakan, Grimmjow?"
"Sesuatu yang tidak berkaitan dengan tugas, pastinya. Aku tidak suka memusingkan diriku sepertimu," ujar Grimmjow yang tetap fokus pada laptopnya.
"Oh, seharusnya aku tahu itu," cibir Neliel. Ia merasa percuma telah bertanya seperti itu pada Grimmjow. Seharusnya ia memang sudah tahu bahwa pemuda bermata safir itu tidak akan melakukan hal yang sama dengannya. "Apa nanti kamu ingin ke rumah Ulquiorra?" tanya Neliel tiba-tiba.
"Kenapa kita harus ke sana? Kau ingin si Pangeran Es itu menatap tajam ketika melihat kedatangan kita?"
"Itu 'kan karena kamu membuat Ulquiorra kesal. Coba saja kamu bersikap lebih ramah kepadanya," saran Neliel. Ia menghentikan kegiatannya sesaat.
"Dia sendiri tidak pernah ramah kepada kita, jadi untuk apa aku bersikap ramah padanya?" tanya Grimmjow. Raut wajahnya terlihat berubah.
"Ayolah, Grimmjow. Sampai kapan kamu ingin memandang Ulquiorra sebagai sainganmu? Kalian berdua itu sepupu, tetapi kenapa sikap kalian seperti ini?"
"Sampai aku bisa mengalahkannya. Aku ingin dia mengakuiku sebagai orang yang sepadan dengannya," tutur Grimmjow. Kali ini ia berhenti menatap layar laptopnya dan menatap lurus wajah Neliel. Neliel menghela nafas. Ia sama sekali tidak mengerti hubungan rumit antara Ulquiorra dan Grimmjow.
"Ya, sudah kalau kamu tidak mau. Aku akan datang sendiri ke rumahnya, lagipula aku merasa ada sesuatu yang terjadi kepada Ulquiorra," ujar Neliel cemas.
"Kau perhatian sekali padanya, Nel," kata Grimmjow, ia menyeruput kembali kopinya yang sudah hampir dingin.
"Wajar saja kalau aku perhatian padanya, aku 'kan kakaknya."
Grimmjow meletakkan cangkir kopinya dan berkata, "Benarkah? Tetapi yang kulihat kau tidak lagi bersikap seperti seorang kakak, melainkan sebagai seorang Ibu. Atau mungkin seorang kekasih? Coba saja kau juga bersikap perhatian seperti itu padaku," goda Grimmjow.
"Jangan bicara yang aneh-aneh, Grimmjow." Wajah Neliel memerah karena malu.
"Baiklah, aku hanya bercanda," gumam Grimmjow sambil tersenyum. Ia melirik jam yang tertera di layar laptopnya. "Wah, sudah jam tiga sore. Waktu terasa cepat sekarang."
"Apa, sudah jam tiga sore?" Neliel terkejut. Kemudian melirik jam tangannya. "Astaga! Aku harus buru-buru!"
Neliel segera memasukkan semua kertas-kertas dan map-map yang berserakan di dalam tasnya. Ia terlalu tergesa-gesa hingga beberapa kertas dan map berjatuhan di lantai. Buru-buru ia memungutnya kembali dan memasukkannya ke dalam tas. Grimmjow hanya mengamati tingkah gadis berambut hijau itu dengan bingung. Ia hanya dapat mengernyitkan alisnya pertanda bingung. Setelah semuanya selesai, Neliel segera beranjak dari kursinya.
"Kau mau kemana?" cegat Grimmjow sebelum gadis itu berlalu pergi.
"Tentu saja ke kampus, Grimmjow. Hari ini aku ada kuliah sore," jelas Neliel.
"Benar juga. Aku hampir saja lupa," kata Grimmjow, ia menepuk keningnya.
"Apalagi yang kamu tunggu? Ayo kita segera pergi!" seru Neliel.
"Baiklah, Nona Neliel. Huh, kau ini benar-benar cerewet sekali," dengus Grimmjow.
"Kamu bilang apa?"
"Bukan apa-apa."
Neliel menatap Grimmjow dengan kesal. Grimmjow hanya tersenyum menyeringai. Pemuda berambut biru itu segera mematikan laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah semuanya selesai mereka menuju kasir untuk membayar minuman yang mereka pesan. Dan tak lama kemudian mereka berlalu meninggalkan cafe tersebut.
oOo
Ulquiorra tengah berbaring di ranjangnya. Tubuhnya yang pucat terlihat semakin pucat dan juga banyak mengeluarkan keringat. Di keningnya terdapat handuk basah yang digunakan untuk mengompres kepalanya, hal yang biasa dilakukan seseorang untuk menurunkan suhu tubuh yang naik akibat demam. Tidak lama kemudian seorang gadis memasuki kamarnya sambil membawa baskom kecil berisi air dan beberapa handuk kecil. Gadis berambut orange bernama Orihime itu duduk di kursi di samping tempat tidur Ulquiorra.
Orihime mengambil handuk basah di kening Ulquiorra dan menggantinya dengan handuk basah yang baru saja dicelupkannya ke dalam baskom. Ia meletakkannya kembali di kening Ulquiorra. Mata abu-abu Orihime menyiratkan kekhawatiran kepada pemuda pucat yang sedang terbaring lemah tersebut. Ia sama sekali tidak menyangka Ulquiorra akan sakit separah ini. Namun, ia lega karena telah menyelamatkan Ulquiorra.
Ketika Ulquiorra pingsan di jalan tadi, Orihime benar-benar dibuat bingung. Beberapa kali ia berusaha meminta tolong, namun jalan di sekitar tempat tersebut benar-benar sepi. Beruntung ada seorang laki-laki paruh baya yang kebetulan lewat di tempat tersebut. Orihime segera memanggilnya dan pria baruh baya itu mau membantunya. Pria itu memanggil taksi dan membantu memasukkan tubuh Ulquiorra yang pingsan ke dalam taksi. Tidak lupa Orihime mengucapkan terima kasih kepada pria tersebut sebelum si supir mengantarkan mereka berdua ke rumah Ulquiorra.
Selama diperjalanan Orihime benar-benar terlihat panik. Tubuh Ulquiorra makin panas dan demamnya juga tinggi. Orihime menyandarkan Ulquiorra di bahunya. Untuk saat itu ia tidak mau ambil pusing dengan wajahnya yang mulai memerah dan jantungnya yang berdetak dengan cepat. Prioritasnya saat itu benar-benar hanya terpusat kepada Ulquiorra. Ia berdoa agar cepat sampai di rumah pemuda pucat itu. Ketika sampai di rumah Ulquiorra, Kepala Pelayan Aaroniero langsung menyambut kedatangan sebuah taksi yang berhenti tepat di depan rumah tersebut. Kepala pelayan muda itu terkejut ketika mendapati Ulquiorra yang pingsan di dalam taksi sambil bersandar di bahu Orihime. Buru-buru pria berambut raven hitam itu menggotong tubuh Ulquiorra dan tidak lupa membayar ongkos taksi tersebut. Orihime mengikutinya di belakang.
Kepala pelayan Aaroniero segera membawa Ulquiorra ke kamarnya. Ia juga memerintahkan kepada salah seorang pelayan wanita untuk menelepon dokter pribadi Keluarga Schiffer dan beberapa pelayan lainnya disuruh untuk menyiapkan apa-apa saja yang perintahkannya. Orihime terdiam melihat keadaan rumah Ulquiorra yang terlihat sangat panik. Semua orang tampak panik ketika mengetahui Tuan Muda mereka sedang sakit. Tidak lama dokter datang dan memeriksa keadaan Ulquiorra. Dokter Ukitake, dokter pribadi Keluarga Schiffer, hanya mengatakan bahwa Ulquiorra terkena demam tinggi dan ia harus banyak istirahat serta meminum obat-obatan sesuai anjurannya. Kepala Pelayan Aaroniero lega karena Ulquiorra tidak terkena penyakit yang berbahaya, bukan berarti ia tidak menganggap demam tinggi merupakan penyakit yang tidak berbahaya.
Sekarang di sinilah Orihime berada, di kamar Ulquiorra sambil merawatnya. Kepala Pelayan Aaroniero sudah memintanya untuk pulang, tetapi Orihime tetap ingin agar dirinya diizinkan untuk merawat Ulquiorra. Kepala Pelayan Aaroniero tidak dapat menolak keinginan Orihime tersebut dan mengizinkannya untuk merawat Ulquiorra. Orihime tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
"Schiffer kelihatan tersiksa, demamnya sangat tinggi. Meskipun begitu setidaknya aku merasa lega karena dia sudah diobati," gumam Orihime sambil memperhatikan wajah Ulquiorra yang sedang tertidur. Pemuda pucat itu terlihat tidak nyaman dalam tidurnya. "Hoam, aku ngantuk," ujar Orihime sambil menguap.
Matanya terasa berat, diliriknya jam dinding di kamar Ulquiorra. Jam berbentuk kelelawar itu menunjukkan pukul enam belas lewat empat puluh delapan menit. Tidak biasanya ia merasa mengantuk pada jam-jam seperti ini. Tetapi ia juga tidak kuasa untuk menahan matanya agar tetap terjaga.
"Ng, tidak biasanya aku mengantuk di sore hari. Mungkin tidur sebentar tidak apa-apa," gumam Orihime pada dirinya. Sebelum ia memejamkan matanya untuk bertualang ke alam mimpi, ia menyempatkan mata abu-abunya untuk menatap Ulquiorra. "Aku boleh tidur di sini sebentar, 'kan Schiffer? Kalau begitu selamat tidur, Schiffer," bisik Orihime pelan agar Ulquiorra tidak terbangun.
Dalam beberapa detik kemudian Orihime telah terlelap di sisi tempat tidur Ulquiorra. Suasana menjadi hening, senyap. Kedua anak muda ini sama-sama terlelap dan menjelajahi mimpi masing-masing.
Beberapa jam telah berlalu. Kedua anak muda itu masih belum menghentikan penjelajahan mereka di alam mimpi. Tetapi, tidak lama kemudian salah satu dari mereka telah meninggalkan alam mimpi dan akan segera menatap dunia nyata jika ia telah membuka kedua matanya. Orang yang pertama kali bangun itu adalah Ulquiorra, ia membuka matanya dan memperlihatkan mata emeraldnya yang indah.
Ini dimana?
Ulquiorra menatap seisi ruangan dan ia menyadari bahwa dirinya kini berada di kamarnya, tepatnya ia sudah berada di rumahnya.
Rupanya kamarku. Ternyata aku sudah berada di rumah, tetapi kenapa aku tidak ingat? Bukannya tadi aku pingsan, lalu siapa yang membawaku kemari?
Mata Ulquiorra masih menjelajahi segala sudut di kamarnya dan berhenti ketika mendapati sesosok gadis berambut orange yang sedang terlelap di sisi ranjangnya. Ulquiorra bangun, handuk kecil yang berada di keningnya terjatuh di sisinya. Ia mengambil handuk basah itu dan menatap kembali si gadis berambut orange.
Dia? Kenapa dia ada di sini?
Ulquiorra bertanya-tanya tentang keberadaan Orihime di kamarnya. Kemudian pandangannya beralih ke handuk kecil yang berada di tangannya kemudian menatap Orihime kembali.
Apa dia yang membawaku ke rumah?
Ulquiorra masih menatap Orihime yang sedang tertidur. Pemuda pucat itu mengamati wajah Orihime secara seksama, wajah gadis itu terlihat tenang dan damai, tarikan nafasnya pun teratur. Bisa saja Ulquiorra menghardik Orihime yang entah sejak kapan berada di kamarnya bahkan sampai tertidur pulas, tetapi Ulquiorra tidak melakukannya. Ia tetap membiarkan Orihime menjelajahi alam mimpinya.
"Kuberi kamu sedikit waktu untuk menyelami mimpimu," kata Ulquiorra.
Ulquiorra mengambil sebuah bantal dan meletakkannya di belakangnya sebagai sandaran. Tangan pucatnya bergerak ke arah kening untuk memeriksa suhu tubuhnya.
"Panas tubuhku sedikit berkurang, mungkin aku sudah diperiksa dokter. Tetapi aku masih merasa sedikit pusing," ujar Ulquiorra. Matanya beralih ke Orihime. "This is not a fairy tale, right?" gumam Ulquiorra.
Setelah Ulquiorra berkata seperti itu, tidak lama kemudian tubuh Orihime bergerak. Gadis itu menggerakkan tangannya dan perlahan kelopak matanya terbuka, menampakkan bola mata dengan iris berwarna abu-abu. Ia mengangkat kepalanya dan menatap ke depan dengan wajah setengah mengantuk. Ia merasa melihat seorang pemuda yang sedang menatapnya dengan wajah datar. Orihime mengucek matanya perlahan untuk memastikan penglihatannya, setelah penglihatannya jelas matanya membulat sempurna.
"Schiff, Schiffer!" seru Orihime, kali ini ia sudah benar-benar sadar. "Su, sudah bangun, ya?"
Ulquiorra tidak menjawab. Pangeran Schiffer yang sedang sakit ini hanya diam saja sambil menatap Orihime dengan wajah datarnya. Wajahnya masih terlihat pucat dan keringat membanjiri seluruh tubuhnya serta tarikan nafas yang terkesan memburu.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Ulquiorra dingin.
"A, aku…" Orihime kembali tergagap. "Ah, aku keluar saja. Maaf, telah sembarangan berada di kamarmu," katanya sambil bangkit dari tempat duduknya. Dengan cepat Ulquiorra menggenggam tangannya sehingga membuat Orihime menoleh kepadanya.
"Aku tidak memintamu untuk keluar," kata Ulquiorra dingin, wajahnya tetap datar. Orihime kaget melihatnya. "Kamu harus menjawab pertanyaanku."
"A, aku hanya…." Orihime bingung.
Aduh, lagi-lagi aku tidak bisa menjawab. Dan kenapa ia memegang tanganku seperti ini?
"Apa? Tidak bisa menjawab lagi?"
"Eh?"
Ulquiorra kembali diam sedangkan Orihime menatapnya dengan wajah kebingungan. Sesekali ia menoleh ke arah tangannya yang masih dipegang oleh Ulquiorra. Ia sama sekali tidak tahu apa maksud dari pemuda ini. Ulquiorra pun melepaskan pegangan tangannya pada Orihime. Orihime langsung mundur beberapa langkah ke belakang. Ia mengatur detak jantungnya yang berdetak kencang dan wajahnya yang mulai memerah. Ulquiorra melirik ke arahnya.
Hah, aku benar-benar kaget.
"Kenapa dengan wajahmu?"
"Eh? Ah, tidak. Ng, aku keluar saja, ya," ujar Orihime, ia membalikkan tubuhnya.
"Sudah kubilang aku tidak memintamu untuk keluar. Tetap di tempat," perintah Ulquiorra dingin. Orihime menurutinya dan kembali menatap pemuda bermata emerald yang sedang menyandar tersebut.
Tiba-tiba Ulquiorra merasa kepalanya sakit lagi, tubuhnya pun semakin memanas. Orihime yang menyadari tingkah Ulquiorra tersebut buru-buru menghampirinya. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran.
"Schiffer? Ada apa?" tanya Orihime khawatir. Ulquiorra tidak menjawab. "Aku akan panggil Tuan Aaroniero!"
Lagi-lagi Ulquiorra menggenggam tangan Orihime sehingga membuat Orihime kembali menoleh kepadanya. Ulquiorra menatap Orihime dengan wajah datarnya sehingga gadis itu merasa sedikit gugup. Namun, perlahan-lahan wajah gadis di hadapannya tersebut terlihat seperti wajah orang lain. Ulquiorra mengerjapkan matanya untuk memastikan penglihatannya, tetapi wajah Orihime tetap terlihat seperti wajah orang lain. Wajah seorang wanita cantik yang berusia sekitar empat puluh tahunan, ia tersenyum kepada Ulquiorra.
"Ibu…" bisik Ulquiorra pelan.
Kenapa wajahnya terlihat seperti wajah Ibu.
"Schiffer, lepaskan tanganku. Aku harus memanggil Tuan Aaroniero, kamu kelihatan tidak sehat," ujar Orihime, wajahnya kembali memerah.
"Aku memang sedang tidak sehat," gumam Ulquiorra.
Tiba-tiba Ulquiorra menarik tangan Orihime sehingga gadis itu jatuh ke pelukannya. Ulquiorra memeluknya, sementara itu Orihime hanya terkejut ketika mendapati dirinya kini tengah berada dalam pelukan Ulquiorra. Hembusan nafas pemuda itu dapat dirasakannya di telinganya. Perlakuan Ulquiorra ini tentu membuat wajah Orihime memerah dan jantungnya berdetak cepat.
"Schiff, Schiffer," gumam Orihime. Ia merasa pelukan Ulquiorra semakin bertambah erat.
Aku memang sedang tidak sehat… Ibu…
Ulquiorra memejamkan matanya. Mulutnya menggumamkan suatu kata.
"Hangat," gumamnya pelan, namun sepertinya Orihime mendengarnya.
Schiffer, badannya panas sekali.
Orhime memang tidak membalas pelukan Ulquiorra, namun ia juga tidak mendorong tubuh pucat itu. Ia hanya diam membiarkan Ulquiorra memeluk dirinya, merasakan hangat tubuhnya yang bercampur dengan tubuh panas Ulquiorra yang sedang demam. Ulquiorra pun juga merasakan hal yang sama. Bau tubuh dan kehangatan gadis itu menenangkannya, meskipun sebenarnya ia menganggap Orihime yang dipeluknya itu adalah ibunya.
Tidak lama kemudian Kepala Pelayan Aaroniero masuk ke dalam kamar Ulquiorra. Ia terkejut ketika melihat Ulquiorra dan Orihime yang sedang berpelukan. Hampir saja ia menjatuhkan nampan yang dibawanya tersebut. Ulquiorra membuka matanya dan mendapati Kepala Pelayan Aaroniero yang sedang terdiam menatap mereka.
"Kepala Pelayan Aaroniero," gumam Ulquiorra pelan. Orihime yang mendengarnya buru-buru melepaskan diri dari pelukan Ulquiorra dan duduk di kursi di samping ranjang Ulquiorra. Mereka berdua menatap Kepala Pelayan Aaroniero.
"Permisi Tuan Muda, Nona. Maaf, kalau saya telah mengganggu Anda berdua," kata Kepala Pelayan Aaroniero, ia meletakkan nampan yang dipegangnya di meja kecil di samping ranjang Ulquiorra.
Orihime yang mendengar ucapan kepala pelayan itu hanya tersipu malu. Wajahnya memerah ketika mengingat pelukannya dengan Ulquiorra tadi. Apalagi sampai dipergoki oleh Kepala Pelayan Aaroniero.
Malunya.
"Ada apa, Kepala Pelayan Aaroniero?" tanya Ulquiorra.
"Saya kemari membawa bubur dan obat yang harus Anda minum, Tuan Muda," kata Kepala Pelayan Aaroniero. Ulquiorra melirik mangkuk berisi bubur hangat dan beberapa macam botol obat di nampan tersebut.
"Tampaknya sakitku ini benar-benar parah," ujar Ulquiorra dingin.
"Menurut Dokter Ukitake, Anda terkena demam yang cukup tinggi. Karena itu beliau menyarankan kalau Anda harus banyak istirahat, Tuan."
"Baiklah, kalau begitu kamu boleh keluar."
"Baiklah. Permisi Tuan Muda, Nona."
Kepala Pelayan Aaroniero tersenyum kepada Orihime dan Orihime membalasnya. Ia pun segera berlalu dari kamar Ulquiorra. Ulquiorra memandang bubur hangat tersebut, kemudian ia melempar pandangannya ke arah jendela.
"Sampah. Aku tidak pernah suka makanan orang sakit," kata Ulquiorra, sepertinya ia kesal. Orihime yang berada di sampingnya hanya menatapnya bingung.
"Schiffer tidak ingin memakannya?" tanya Orihime polos. Ulquiorra menoleh kepadanya.
"Apa pedulimu?" Ulquiorra malah memberikan pertanyaan. Ekspresi datar di wajahnya tidak berubah sama sekali.
"Ka, kalau buburnya tidak dimakan Schiffer tidak bisa minum obat dan demammu pun juga tidak akan sembuh," gumam Orihime.
Ulquiorra kembali diam. Tatapannya yang tanpa ekspresi itu membuat Orihime semakin gugup dan merasa tidak nyaman. Tangan pucat Ulquiorra mengambil mangkuk bubur tersebut, kemudian ia menyerahkannya kepada Orihime. Orihime tidak mengerti dibuatnya.
"A, apa maksudmu, Schiffer? Aku tidak lapar," kata Orihime dengan sedikit tersenyum.
"Bukan untukmu, tetapi untukku. Kamu bisa menyuapi bubur untuk orang sakit?" tanya Ulquiorra datar. Orihime terdiam karena ternyata ia salah paham dengan maksud Ulquiorra.
"Bi, bisa," ujar Orihime sambil mengangguk.
Orihime mengambil mangkuk tersebut. Ia menyendokkan bubur tersebut dan meniupnya sesaat agar panas di bubur itu menghilang. Kemudian dengan ragu-ragu ia menyuapi Ulquiorra. Ulquiorra membuka mulutnya dan memakan bubur tersebut dengan wajah tanpa ekspresinya. Sekali lagi Orihime menyuapi bubur tersebut dan Ulquiorra memakannya dengan perlahan. Lama kelamaan Orihime merasa wajahnya mulai memerah kembali, jantungnya juga berdetak cepat, dan tangannya yang menyuapi Ulquiorra mulai bergetar.
Aduh, aku tidak sanggup menatap wajahnya.
Ulquiorra menyadari keanehan sikap Orihime, namun ia hanya mendiamkannya saja. Ia tidak mau tahu apa yang membuat wajah gadis itu memerah dan tangannya yang selalu bergetar ketika menyuapinya serta gadis itu yang terkadang mengalihkan wajahnya dari dirinya. Ulquiorra menatap lurus wajah gadis berambut orange tersebut, ia teringat ketika tadi memeluk tubuh gadis itu. Merasakan hangat dan wangi dari tubuh Orihime. Kehangatan tubuh Orihime benar-benar menenangkannya.
Kehangatannya sama dengan Ibu. Entah kenapa aku merasa tenang jika dia di sampingku.
Bubur yang ada di mangkuk tadi sudah habis dimakan Ulquiorra. Orihime mengambilkan Ulquiorra minum dan memberinya beberapa obat yang harus diminumnya. Dengan cepat Ulquiorra menelan obat-obat tersebut. Orihime membereskan peralatan makan Ulquiorra dan bermaksud mengantarkan nampan tersebut ke dapur. Namun, Ulquiorra mencegatnya. Ia meminta Orihime tetap berada di tempatnya dan Orihime pun menurutinya. Ulquiorra menatap Orihime, terlebih ke arah rambut di dekat telinganya.
"A, ada apa, Schiffer?" tanya Orihime ketika menyadari Ulquiorra yang menatapnya dengan wajah serius. Jujur saja, ia merasa kurang nyaman.
Bukannya menjawab pertanyaan Orihime, Ulquiorra malah memajukan tubuhnya. Ia mendekati Orihime yang masih terduduk di samping ranjangnya, tangan pucatnya terulur untuk menyentuh wajah Orihime. Perlahan-lahan Ulquiorra mendekatkan wajahnya kepada Orihime, sehingga hembusan nafas hangatnya menerpa wajah gadis itu. Orihime kaget melihatnya, ia tidak tahu harus melakukan apa. Wajah Ulquiorra yang semakin mendekat membuat Orihime langsung menutup matanya.
Apa yang ingin kamu lakukan, Schiffer?
Wajah Ulquiorra berhenti tepat di depan wajah Orihime yang hanya menyisakan jarak beberapa senti. Tangannya terulur ke arah telinga Orihime, tetapi tidak menyentuhnya secara langsung. Ulquiorra hanya menatapnya. Ia menghela nafas sesaat sebelum mengucapkan sesuatu.
"Pasangannya hilang," ujar Ulquiorra. Kemudian ia menjauhkan wajahnya dari hadapan Orihime begitu juga dengan tangannya.
Orihime langsung membuka matanya dan ia mendapati bahwa Ulquiorra masih menatapnya dengan wajah serius. Tetapi ia juga bingung dengan maksud perkataan Ulquiorra tadi. Ulquiorra langsung merebahkan dirinya di tempat tidur. Ia memalingkan wajahnya dari Orihime yang masih terlihat bingung dengan wajah memerah.
A, apa maksudnya tadi? Pasangan apa yang hilang?
Orihime bertanya-tanya pada dirinya tentang maksud perkataan Ulquiorra tadi. Sementara itu Ulquiorra menatap ke luar jendela. Menatap langit malam yang kini terlihat semakin gelap tanpa ada bintang yang bersinar. Bulan pun tertutup oleh awan-awan yang berada di sekitarnya.
"Pulanglah," ujar Ulquiorra. Orihime kembali menatapnya. "Pulanglah dan minta Kepala Pelayan Aaroniero untuk mengantarmu."
"Eh, itu tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri," tolak Orihime.
"Kamu perempuan dan tidak baik seorang perempuan pulang sendirian di malam hari," kata Ulquiorra lagi.
"Te, tetapi Schiffer …"
"Aku tidak ingin mengatakannya tetapi itu perintah, Orihime Inoue."
Orihime hanya terdiam, ia merasa tidak bisa membalas perkataan Ulquiorra. Sebenarnya ia masih belum ingin pulang. Namun, dengan berat hati ia menuruti perkataan atau mungkin lebih tepatnya perintah dari Ulquiorra. Orihime segera bangkit dari tempat duduknya. Sebelum ia keluar dari kamar Ulquiorra, ia menoleh kepada pemuda itu untuk terakhir kalinya.
"Baiklah, Schiffer. Aku pamit pulang dulu dan semoga lekas sembuh," kata Orihime, ia tersenyum manis kepada Ulquiorra. Namun, Ulquiorra tidak dapat melihatnya karena ia terus menatap ke luar jendela.
Orihime segera berlalu keluar dari kamar Ulquiorra. Ulquiorra tetap tidak menolehkan wajahnya sedikit pun kepada gadis itu hingga ia pergi. Kemudian ia memejamkan matanya dan menghela nafas, setelah itu ia membuka kedua matanya lagi dan menatap langit-langit kamarnya.
"Ibu, kenapa aku merasa melihat sosokmu di gadis itu? Sosok hangatmu yang begitu kurindukan," ujar Ulquiorra. Pandangan kedua mata emerald yang sering tampak kosong itu kini terlihat seperti sedang merindukan sesuatu.
Hangat…
Suatu perasaan yang nyaman serta menentramkan
Menimbulkan ketenangan bagai air mengalir perlahan
Kehangatan bagai selimut tebal pembungkus jiwa
Menyelubungi diri dengan suatu hal yang namanya cinta
Suatu hal yang didapatkan dari seseorang yang menjelma seperti malaikat
Sosok dingin dan hampa sepertiku ini kini merasakannya
Sejujurnya aku tidak mengerti mengapa hal seperti itu kembali menghampiriku
Kehangatan yang mencoba menjalari diriku yang selalu tampak kosong
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Seolah ingin membuat matahari bersinar di lubang kegelapan hatiku
To be continued...
Akhirnya selesai juga chapter keempat. Lagi-lagi chapter yang kubuat sangat panjang.
Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih sudah mereview fic saya. Itu membuat saya semakin bersemangat untuk membuat chapter selanjutnya fic ini. Saya juga minta maaf lagi karena tidak bisa updet tepat waktu.
Review please and see you in the next chapter!^^'
