Selamat Datang!

Saya datang membawa chapter kelima. Maaf kalau saya telat updetnya.

Semoga kalian menyukainya dan saya ucapkan selamat membaca!^^'


Summary:

Kesepian menyelimuti seorang pemuda bernama Ulquiorra Schiffer. Meskipun ia hidup lebih dari kata berkecukupan, ia merasa selalu ada kekosongan dalam kehidupannya. Meskipun begitu ia tidak pernah menunjukkan rasa kesepiannya itu pada orang lain. Apakah pemuda yang dijuluki Pangeran Es ini akan menemukan hal yang bisa mengusir rasa kesepiannya dengan adanya kehadiran gadis pemilik senyuman matahari seperti Orihime Inoue?


Bleach

Tite Kubo

(Bukan punya Lan)

Rate T

Genre

Romance & Friendship

Pairing

Ulquiorra Schiffer & Orihime Inoue

(Grimmjow Jeagerjaquez & Neliel Tu Oderschvank)

The Lonely Prince

Neary Lan


Chapter 5

Worry

Hari ini matahari kembali menampakkan sinarnya. Menghangatkan seluruh bumi. Cahaya menyilaukan itu menembus ke kamar seorang lelaki pucat yang masih tertidur dengan pulas. Tarikan nafasnya tampak teratur. Tidak lama kemudian seorang pria berambut raven hitam yang diketahui adalah Kepala Pelayan Aaroniero memasuki kamar pemuda pucat tersebut. Di tangan pria itu terdapat nampan yang berisi semangkuk bubur hangat, segelas air dan beberapa obat-obatan. Kepala Pelayan Aaroniero meletakkan nampan tersebut di meja, kemudian ia mencoba untuk membangunkan pemuda pucat bernama Ulquiorra yang sedang tertidur itu.

"Tuan Muda. Bangun, Tuan Muda," panggilnya sambil mengguncangkan sedikit tubuh Ulquiorra.

Ulquiorra belum membuka matanya. Kepala Pelayan Aaroniero masih berusaha untuk membangunkan Ulquiorra. Ia tahu bahwa untuk membangunkan Tuan Muda Schiffer ini memang membutuhkan kesabaran. Itu karena Ulquiorra adalah pemuda yang sangat sulit untuk dibangunkan, meskipun alarm jam berbunyi nyaring tepat di telinganya. Itu adalah salah satu rahasia kecil dari Sang Pangeran Schiffer yang selalu bertampang datar itu.

"Tuan Muda, Tuan Muda. Anda harus bangun, Tuan Muda," ujar Kepala Pelayan Aaroniero.

Tak lama terdengar suara erangan kecil dari mulut Ulquiorra. Matanya perlahan-lahan terbuka dan menampakkan iris indah berwarna emerald itu. Seperti biasa Kepala Pelayan Aaroniero akan menyambut Ulquiorra dengan senyuman ramahnya.

"Selamat pagi, Tuan Muda," sapa Kepala Pelayan Aaroniero, tersenyum.

"Ng, pagi," jawab Ulquiorra pelan. Kepala Pelayan Aaroniero merasa senang karena Ulquiorra menjawab ucapan salamnya. "Kenapa kamu membangunkanku, Kepala Pelayan Aaroniero?" tanya Ulquiorra sambil memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.

"Maaf, kalau saya membangunkan Anda, Tuan. Tetapi Tuan harus sarapan dan minum obat," jawab Kepala Pelayan Aaroniero. Kemudian ia melihat wajah Ulquiorra yang sedikit menyiratkan rasa sakit. "Apakah Anda masih merasa sakit, Tuan?" tanyanya khawatir.

"Ya, sedikit. Kamu tidak perlu khawatir."

"Baiklah, Tuan."

Ulquiorra bangkit dan menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur. Mata emeraldnya menangkap nampan berisi semangkuk bubur yang masih hangat beserta segelas air dan obat-obatan yang harus diminumnya. Kemudian matanya beralih ke Kepala Pelayan Aaroniero yang masih berdiri di sisi tempat tidurnya.

"Tampaknya aku masih harus memakan makanan untuk orang sakit itu. Apakah aku juga tidak diperbolehkan untuk pergi ke sekolah?" tanya Ulquiorra datar.

"Maaf, Tuan. Tampaknya untuk hari ini Anda tidak masuk sekolah dulu dan saya telah menyampaikannya pada pihak sekolah. Lagipula Dokter Ukitake menyarankan bahwa Anda harus banyak istirahat agar kondisi Anda cepat pulih," jelas Kepala Pelayan Aaroniero disertai senyuman ramahnya. Ulquiorra hanya menghela nafas mendengar alasannya.

"Aku tidak percaya kalau kondisiku separah itu. Baiklah, kamu boleh pergi," perintah Ulquiorra.

"Baiklah, Tuan. Permisi." Kepala Pelayan Aaroniero membungkuk sesaat, kemudian berjalan menuju pintu kamar Ulquiorra.

Kepala Pelayan Aaroniero memegang pegangan pintu bercat cokelat itu, namun terhenti ketika Ulquiorra memanggilnya.

"Kepala Pelayan Aaroniero!"

"Ya, Tuan?" Kepala Pelayan Aaroniero menolehkan wajahnya kepada Ulquiorra.

"Apakah kemarin kamu mengantarkan gadis itu pulang ke rumahnya?"

Kepala Pelayan Aaroniero hanya tersenyum. "Jangan khawatir, Tuan Muda. Saya telah mengantarkan Nona Orihime ke rumahnya sesuai dengan perintah Anda."

"Benarkah? Bagus kalau begitu," gumam Ulquiorra. "Satu hal yang harus kamu ketahui, Kepala Pelayan Aaroniero, aku tidak mengkhawatirkannya. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan mengingat apa yang telah ia lakukan kepadaku."

"Saya tahu, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." Kepala Pelayan Aaroniero pun berlalu meninggalkan kamar Ulquiorra.

Ulquiorra mengalihkan matanya ke arah jendela. Ia menatap kosong cahaya matahari yang memasuki kamarnya dan mengenai kulit pucatnya. Kemudian terdengar helaan nafas dari mulutnya. Mata emeraldnya kembali lagi menatap ke arah nampan yang dibawakan oleh Kepala Pelayan Aaroniero. Dengan enggan ia mengambil mangkuk berisi bubur yang masih terasa hangat itu. Ditatapnya sesaat mangkuk bubur itu. Tangan pucatnya mengaduk-aduk isi mangkuk bubur tersebut, terlihat tanpa niat untuk memakannya. Entah kenapa Ulquiorra teringat kembali ketika Orihime menyuapi bubur untuknya. Mengingat bagaimana wajah gadis itu bersemu merah seperti menahan malu dan canggung dengan tangan bergetar saat berada di hadapannya.

Semula Ulquiorra memang tidak mau tahu kenapa Orihime bersikap seperti itu. Namun, tanpa diketahui oleh gadis berambut orange itu bahwa Ulquiorra penasaran dan ingin tahu serta diam-diam menyukainya. Hal itu pun baru disadarinya setelah Orihime pulang dan walaupun tak ingin memikirkannya, pikiran itu terus mendatanginya. Apalagi samar-samar ia juga merasakan kehangatan Orihime hampir sama dengan kehangatan ibunya dan memberikan ketenangan yang menentramkan walau hanya dengan memeluknya sesaat. Namun, Ulquiorra ingin agar pikiran dan perasaan aneh itu menghilang dan jika ia menginginkannya, maka ia harus mendapatkannya. Tidak perlu diadakannya negosiasi.

"Aku tidak mengkhawatirkannya dan dia bukanlah Ibu," ujar Ulquiorra dingin, tangannya berhenti mengaduk-aduk isi dari mangkuk bubur tersebut.

oOo

Orihime terlihat tidak fokus dalam menyimak pelajaran yang sedang diterangkan oleh gurunya. Mata abu-abunya sesekali melirik ke kursi kosong yang berada tepat di belakangnya. Kursi kosong milik pemuda bernama Ulquiorra Schiffer. Ia tahu bahwa Ulquiorra tidak akan masuk sekolah jauh sebelum pihak sekolah menyampaikan ketidakhadiran Sang Pangeran Schiffer. Namun, ketidakhadiran Ulquiorra itu membuatnya khawatir dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang kondisi Ulquiorra saat ini. Tentu ia tidak akan mengetahuinya jika tidak memastikannya secara langsung.

Schiffer tidak datang ke sekolah. Apa demamnya masih tinggi? Aku harap ia baik-baik saja. Tetapi, bagaimana kalau sakitnya semakin parah? Lalu, bagaimana jika ia tidak mau makan dan minum obatnya? Schiffer kelihatannya tidak suka makan bubur dan diperlakukan seperti orang sakit meskipun sebenarnya dia memang sakit.

Orihime benar-benar mengkhawatirkan keadaan Ulquiorra. Pikirannya terasa campur aduk antara pelajaran dan Ulquiorra.

Bu guru masih menerangkan pelajarannya dan setiap murid berusaha menyimaknya meskipun beberapa dari mereka terlihat enggan untuk menyimak. Orihime adalah salah satu dari murid yang enggan untuk menyimak pelajaran, atau lebih tepatnya memang tidak menyimaknya sama sekali. Pikirannya saat ini hanya dipenuhi oleh Ulquiorra dan Ulquiorra. Kekhawatirannya yang berlebihan itu membuatnya tidak bisa duduk tenang di kelas. Tatsuki yang duduk di sebelah Orihime mulai menyadari kegelisahan sahabatnya itu. Namun, ia lebih memilih untuk menyimak pelajaran dulu baru mencari tahu apa yang terjadi pada Orihime hingga ia merasa gelisah seperti itu.

Tenanglah, Orihime. Kamu tidak perlu khawatir seperti ini. Schiffer pasti baik-baik saja, 'kan ada Tuan Aaroniero dan yang lainnya yang akan menjaga Schiffer. Sekarang kamu harus fokus dulu pada pelajaran dan jangan memikirkan Schiffer, Orihime. Ya, kamu harus fokus.

Orihime mencoba memfokuskan dirinya tetapi itu tidak berlangsung lama. Ia kembali merasa gelisah bahkan sampai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Argh, kenapa hanya Schiffer yang ada dipikiranku?

Tatsuki menggeleng melihat Orihime yang kembali bertingkah aneh. Bu guru yang sedari tadi menyadari Orihime yang tidak menyimak pelajarannya menghampiri meja gadis berambut orange tersebut.

"Apa kamu baik-baik saja, Inoue?" tanya Bu guru dengan sabar.

Orihime menatap wajah Bu guru. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa sikapnya tadi telah menarik perhatian gurunya. Orihime menjadi malu dan bingung harus menjawab apa terlebih lagi pandangan seluruh kelas yang kini mengarah padanya.

"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan Ibu, Inoue?" tanya Bu guru kembali.

"Ng, maaf, Bu. Sa, saya baik-baik saja," jawab Orihime pelan. Ia berharap Bu guru tidak mengajukan pertanyaan lagi dan segera meninggalkan mejanya. Namun, Bu guru masih tetap diam dan belum beranjak pergi.

"Baiklah, jika kamu berkata seperti itu. Tetapi kalau kamu merasa kurang sehat untuk menerima pelajaran Ibu, kamu bisa beristirahat di UKS."

"Saya tidak apa-apa, Bu. Saya masih sanggup menerima pelajaran dari Ibu," ujar Orihime dengan yakin.

"Ibu harap seperti itu. Nah, kita lanjutkan kembali pelajarannya," ujar Bu guru sambil berjalan meninggalkan meja Orihime. Para murid kembali menyimak pelajaran.

"Huft, untung saja," gumam Orihime pelan, ia menarik nafas lega.

Gara-gara memikirkan Schiffer aku jadi tidak fokus seperti ini. Tunggu, apa ini berarti aku… Ah, tidak mungkin. Sudah, hentikan pikiran-pikiran aneh itu, Orihime. Kamu harus kembali fokus pada pelajaran.

Orihime menepuk-nepuk pipinya untuk menyadarkan dirinya. Tatsuki kembali menatap Orihime dan ia yakin sekali bahwa ada sesuatu yang telah mengganggu pikiran Orihime. Ia berniat akan menanyakannya pada Orihime ketika jam istirahat.

Apa yang sebenarnya sedang kamu pikirkan Orihime? Apa ini ada hubungannya dengan Schiffer?

oOo

Bel tanda istirahat telah berbunyi. Semua murid segera berhamburan keluar kelas. Namun, tampaknya itu tidak berlaku bagi Orihime. Gadis berambut orange itu masih terdiam di tempat duduknya dan raut wajahnya terlihat lesu. Orihime menjatuhkan kepalanya di meja, ia menghela nafas.

"Huh, pada akhirnya aku sama sekali tidak bisa berhenti memikirkan Schiffer," gumamnya pada diri sendiri. Ia kembali menghela nafas lagi.

Tatsuki yang masih berada di kelas segera menghampiri meja Orihime. Gadis tomboy itu menepuk pundak Orihime dan membuat gadis berambut orange itu menoleh kepadanya.

"Tatsuki. Ada apa?" tanya Orihime masih dengan wajah lesunya. Tatsuki mendengus mendengar pertanyaannya.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Ada apa denganmu? Wajahmu terlihat lesu, kamu sakit?" tanya Tatsuki, ia terlihat cemas.

Orihime mencoba tersenyum. "Aku tidak apa-apa, Tatsuki."

"Tidak apa-apa bagaimana? Sejak tadi kamu terlihat aneh, seperti ada yang mengganggu pikiranmu," sahut Tatsuki yang tidak percaya pada ucapan Orihime.

Orihime menggeleng melihat sahabat tomboynya itu. Ia yakin kalau Tatsuki menyadari keanehan sikapnya sejak tadi selama pelajaran. Tatsuki masih menunggu Orihime untuk mengatakan sesuatu padanya, tetapi Orihime masih tetap memilih untuk diam. Mata abu-abunya melirik sedikit ke arah tempat duduk Ulquiorra. Tatsuki menangkap arah pandangan Orihime.

"Orihime, apa ini ada hubungannya dengan Schiffer?" tanya Tatsuki dengan penuh selidik.

Seketika wajah Orihime langsung memerah mendengar pertanyaan dari Tatsuki. Ia memalingkan wajahnya dan terlihat enggan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tatsuki tetap menunggu jawaban dari Orihime. Tetapi melihat Orihime terdiam seperti itu, Tatsuki dapat menarik kesimpulan bahwa pertanyaannya tersebut memang benar. Meskipun begitu ia ingin mendengar langsung dari mulut Orihime.

"Oh, Orihime. Sudah kuduga kamu menyukainya," ujar Tatsuki.

Mata abu-abu Orihime membulat mendengar penuturan Tatsuki. Wajahnya kembali memerah. Hari ini sudah dua kali Tatsuki membuat wajahnya memerah dengan pertanyaannya yang berkaitan dengan Ulquiorra. Tatsuki menangkap perubahan sikap dari Orihime.

"Aku benar, 'kan?" tanya Tatsuki kembali menegaskan.

"A, apa maksudmu, Tatsuki? A, aku… tidak… aku… Schiffer…" kata Orihime panik. Wajahnya semakin memerah.

Tatsuki hanya tertawa kecil melihat tingkah Orihime yang mendadak panik. Ia menepuk pundak Orihime lagi.

"Sudahlah. Kamu terlalu panik, wajahmu jadi terlihat lucu sekali," canda Tatsuki sambil tertawa.

"Uh, jangan menggodaku, Tatsuki," gerutu Orihime, ia mengembungkan kedua pipinya karena kesal melihat Tatsuki mentertawakannya.

"Maaf, maaf. Huh, kamu ini masih belum mau mengaku juga," gumam Tatsuki pelan. Sangat pelan hingga Orihime tidak mendengarnya.

"Kamu bilang apa, Tatsuki?"

"Ah, bukan apa-apa. Aku tahu kalau kamu memikirkan pemuda dingin itu," ujar Tatsuki.

"Eh, tidak… aku…"

"Kalau aku jadi kamu aku pasti akan menjenguknya. Tetapi itu hanya saran saja," kata Tatsuki nyengir.

Orihime terdiam mendengar perkataan Tatsuki. Ucapan sahabatnya itu memang ada benarnya. Ia bisa menjenguk Ulquiorra jika ia ingin mengetahui keadaan pemuda tersebut. Hanya dengan begitu maka ia akan merasa tenang dan tidak khawatir lagi. Tatsuki mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan wajah Orihime yang mendadak melamun.

"Hei, Orihime? Kamu masih di sini, 'kan?" tanya Tatsuki. Orihime tersadar dari lamunannya dan mendongak melihat wajah sahabat tomboynya.

"Ah, iya," jawabnya pelan.

"Jangan bingung seperti itu. Itu terserah padamu mau mengikuti saranku atau tidak, tetapi yang terpenting aku tidak mau melihat wajah sahabatku seperti orang yang kebingungan hanya karena memikirkan pemuda pucat sedingin es itu," ujar Tatsuki sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Uh, apa yang kamu katakan, Tatsuki. A, aku tidak memikirkan Schiffer," kata Orihime malu-malu.

"Hahaha, aku tahu kamu bohong, Orihime. Yang jelas aku harus jadi orang pertama yang mengetahui hubungan asmara kalian," seru Tatsuki sambil berlari meninggalkan Orihime.

"Eh? Ja, jangan sembarangan bicara, Tatsuki!" seru Orihime, wajahnya kembali memerah. "Hei, jangan lari kamu!"

Orihime mengejar Tatsuki yang berlari keluar kelas. Sesekali ia berteriak memanggil Tatsuki, namun panggilannya tidak ditanggapi oleh Tatsuki. Tatsuki hanya tertawa karena berhasil menggoda Orihime. Ia terus berlari sekencang-kencangnya menghindari Orihime.

Aku tahu kamu pasti akan melakukannya, Orihime. Kamu pasti akan pergi menemuinya.

oOo

Di sebuah universitas yang terdapat di Kota Karakura terlihat seorang pemuda berambut biru dan seorang gadis berambut hijau sedang berjalan di koridor kampus. Wajah si gadis berambut hijau terlihat menyiratkan rasa kekhawatiran. Sejak tadi ia terus diam dan tampak sedang memikirkan sesuatu. Si pemuda berambut biru yang berjalan di sampingnya hanya sibuk meneguk minuman kalengnya. Ia menoleh ke arah si gadis berambut hijau dan mendapati wajah si gadis yang tertekuk. Si pemuda menghentikan kegiatan minumnya.

"Sampai kapan kau akan berwajah seperti itu, Nel?" tanya si pemuda.

Si gadis tidak merespon ataupun memberikan jawaban kepada si pemuda. Si pemuda mendengus melihat dirinya tidak dihiraukan si gadis. Ia menggeram kecil bahkan hampir meremukkan minuman kaleng di tangannya.

"Hei, aku bicara padamu, Neliel!" seru si pemuda. Cukup keras ia berkata sehingga membuat beberapa orang di sekitar mereka termasuk si gadis menoleh ke arah si pemuda.

"Kamu mengatakan sesuatu, Grimmjow?" tanya si gadis polos. Ia bertanya seolah tidak terjadi apa-apa.

Si pemuda berambut biru yang dipanggil Grimmjow kembali menggeram kesal. Kali ini minuman kaleng yang ada di tangannya telah remuk. Isi cairan dari minuman kaleng itu bertumpahan di lantai bahkan membasahi tangan Grimmjow. Si gadis berambut hijau yang dipanggil Neliel hanya mengangkat alisnya bingung melihat tingkah Grimmjow.

"Kamu mengotori lantai, Grimmjow. Buang minuman kaleng itu di tempat sampah," ujar Neliel. Ia merongoh sesuatu dari dalam saku celananya.

Grimmjow membuang minuman kaleng yang telah diremukkannya itu di tempat sampah terdekat. Hanya dengan sekali melempar kaleng itu masuk dengan sempurna ke dalam tempat sampah. Beberapa orang yang sedari tadi melirik ke arah mereka segera kembali melakukan kegiatan mereka yang terhenti karena mendapat tatapan mematikan dari Grimmjow. Tentu saja mereka melakukannya karena tidak ingin berurusan dengan putra pemilik kampus itu.

"Huh, tanganku jadi basah," gerutu Grimmjow sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

"Jangan mengibaskan tanganmu seperti itu, airnya jadi mengenaiku," keluh Neliel. "Pakai ini."

Neliel menyerahkan saputangannya kepada Grimmjow. Grimmjow mengamati saputangan berwarna hijau muda dengan sulaman nama Neliel T. O itu. Mata birunya menyiratkan ketidaksukaan ketika melihat saputangan yang berada di tangan Neliel tersebut. Neliel menatap Grimmjow dengan bingung karena Grimmjow tidak mengambil saputangan miliknya dan hanya menatapnya dengan pandangan yang mungkin bisa dikatakan jijik.

"Kenapa Grimmjow? Ada masalah sehingga kamu tidak ingin mengambil saputanganku?" tanya Neliel menyelidiki.

"Itu hijau, 'kan?" Grimmjow menunjuk saputangan Neliel.

"Hijau?" ulang Neliel, ia mengangkat alisnya bingung dengan pertanyaan Grimmjow.

"Saputangan itu berwarna hijau," dengus Grimmjow.

"Memangnya kenapa kalau saputanganku berwarna hijau? Apa kamu berharap kalau saputangan ini berwarna biru seperti rambut dan matamu itu, Grimmjow?" tanya Neliel yang mulai kesal.

"Aku tidak suka warna hijau. Itu warna Ulquiorra, singkirkan itu jauh-jauh," seru Grimmjow. Ia menolak saputangan pemberian Neliel.

Neliel bingung dan juga kesal melihat Grimmjow menolak saputangannya hanya karena saputangan tersebut berwarna hijau. Neliel dan Grimmjow tahu bahwa warna kesukaan Ulquiorra adalah warna hijau seperti matanya, selain warna hitam dan putih. Warna hijau sangat identik dengan Ulquiorra, tetapi Neliel juga menyukai warna hijau seperti rambutnya, tepatnya hijau muda. Ia lupa bahwa Grimmjow tidak suka dengan apa pun yang berkaitan dengan Ulquiorra seperti halnya warna hijau yang juga merupakan warna kesukaannya.

Neliel menggenggam erat saputangannya. Ia sangat kesal melihat sikap Grimmjow yang kekanakan. Perseteruan Grimmjow dengan Ulquiorra sudah terlalu kelewatan dan Neliel merasa telah menjadi korban dari persteruan itu. Jika Grimmjow tidak menyukai Ulquiorra itu berarti ia juga tidak menyukai Neliel karena mereka berdua memiliki warna kesukaan yang sama. Lagipula Neliel baru menyadari bahwa hubungannya dengan Grimmjow tidak bisa dikatakan akrab.

Grimmjow dan Ulquiorra hanyalah dua anak laki-laki berbeda prinsip dan karakter yang dikenalnya sejak kecil. Meskipun sejak kecil mereka pernah bermain bersama tetapi bukan berarti hubungan mereka bertiga bisa dikatakan akrab. Neliel menyayangi Ulquiorra seperti seorang adik meskipun Ulquiorra tidak suka dianggap seperti itu. Sedangkan Grimmjow, Neliel tidak tahu ia menganggap apa terhadap laki-laki berambut biru itu. Yang ia tahu adalah bahwa laki-laki itu selalu berada di sisinya dan sering bertengkar dengannya hanya karena masalah kecil. Hanya rasa kesal, amarah, atau apa pun itu namanya yang diberikan Grimmjow padanya seperti halnya yang sedang terjadi saat ini.

"Oh, jadi kamu tidak mau menerimanya, ya? Baiklah, kalau begitu. Aku tidak akan memaksamu," ujar Neliel, ia kembali menyimpan saputangannya.

"Ya, simpan saja. Aku tidak butuh," dengus Grimmjow. "Lagipula gara-gara siapa tanganku jadi basah seperti ini," omel Grimmjow sambil mengibas-ngibaskan tangannya lagi.

"Kamu kekanakan sekali, Grimmjow."

Grimmjow mengabaikan perkataan Neliel, tetapi matanya menatap tajam Neliel. Ia merongoh sakunya untuk mencari saputangan, tetapi tampaknya ia lupa bahwa ia jarang sekali membawa saputangan. Kini ia kebingungan mencari saputangan ataupun sesuatu yang bisa digunakan untuk mengeringkan tangannya. Hampir saja Grimmjow merutuki dirinya sendiri karena menolak kebaikan Neliel, tetapi ia tidak akan menyerah semudah itu. Ia bisa saja meminta saputangan milik orang lain tetapi tampaknya itu sulit karena sejak tadi tidak ada seorang pun yang berani menatapnya bahkan berlalu menghindarinya. Hanya satu jalan yang tersisa. Grimmjow melirik kaos putih yang dikenakannya. Tampaknya ia ingin menggunakan kaos itu sebagai pengganti saputangan. Neliel mengetahui pemikiran yang terlintas di benak Grimmjow dan ia hanya menggeleng.

"Kamu tidak berpikir untuk menggunakan bajumu sebagai saputangan, 'kan Grimmjow?" tanya Neliel.

Grimmjow terkejut mendengar pertanyaan Neliel. Ia tidak menyangka bahwa Neliel dapat membaca pikirannya. Mata birunya melirik Neliel dengan tajam.

"Apa pedulimu? Lagipula ini 'kan bajuku, bukan bajumu," gerutu Grimmjow. Neliel hanya menghela nafas.

"Huh, pikiranmu benar-benar pendek," ujar Neliel, ia kembali merongoh sakunya dan mengeluarkan saputangan hijau miliknya. Neliel mendekati Grimmjow.

"Apa katamu?" geram Grimmjow. Mata birunya tertuju pada saputangan hijau yang berada di genggaman Neliel. "Hei, sudah kubilang singkirkan benda hijau itu!"

Neliel tidak mempedulikan perkataan Grimmjow. Ia meraih tangan Grimmjow yang basah dan membersihkannya dengan saputangan miliknya. Mata biru Grimmjow membulat melihat benda hijau itu menyentuh kulitnya dan menghapus noda-noda air yang berada di tangannya. Grimmjow berusaha menarik tangannya dari benda hijau itu tetapi Neliel tidak melepaskannya dan bahkan memegang tangannya lebih erat. Beberapa orang yang berlalu-lalang di sekitar koridor hanya saling berbisik-bisik melihat dua orang terpopuler sekampus itu sedang bergenggaman tangan, menurut sepenglihatan mereka seperti itu.

Apa yang kau lakukan, Nel?

"Lepaskan tanganku! Aku bisa membersihkannya sendiri," seru Grimmjow. Ia menarik paksa tangannya.

Saputangan Neliel terjatuh ke lantai. Neliel memungutnya dan memberikannya kepada Grimmjow. Awalnya Grimmjow menolak tetapi Neliel memaksanya untuk menerima. Maka, dengan terpaksa Grimmjow menerima saputangan berwarna hijau yang dibencinya itu.

"Tch! Aku benci warna hijau. Warna ini mengingatkanku pada Ulquiorra brengsek itu!"

"Jangan mengomel seperti itu, Grimmjow. Dan jangan katakan Ulquiorra brengsek," ujar Neliel memperingatkan. "Aku tahu kamu tidak mau menerimanya tetapi jangan mengotori bajumu," komentar Neliel sambil mengeluarkan handphonenya dari tas.

"Apa pedulimu?" geram Grimmow. Ia meremas saputangan Neliel seolah-olah seperti sedang mencekik leher pemiliknya.

"Sudah, bersihkan saja tanganmu itu. Aku mau menelepon dulu," gumam Neliel. Ia menekan beberapa tombol, kemudian menempelkan handphone tersebut di telinganya.

Grimmjow penasaran dengan seseorang yang sedang ditelepon Neliel. Kemudian ia bertanya, "Siapa yang kau telepon?"

"Kak Aaro," jawab Neliel singkat. Ia masih menunggu panggilan teleponnya tersambung.

"Aaro? Untuk apa kau menelepon kepala pelayan itu?" tanya Grimmjow kesal. Ia tidak suka ketika mendengar Neliel menyebut nama kepala pelayan Keluarga Schiffer itu.

"Aku merasa ada sesuatu yang terjadi pada Ulquiorra. Aku sudah coba telepon ke nomornya tetapi tidak di angkat, makanya aku menelepon Kak Aaro untuk memastikan tidak ada apa pun yang terjadi pada Ulquiorra," jelas Neliel.

"Huh, kau 'kan bisa menelepon ke nomor rumahnya, tidak perlu menelepon kepala pelayan itu," cibir Grimmjow.

"Ah, halo Kak Aaro."

"Tch! Aku dicuekin," decak Grimmjow kesal.

Neliel terus bicara di telepon dengan Kepala Pelayan Aaroniero. Grimmjow hanya memandang gadis berambut hijau dengan kesal. Saputangan Neliel yang ada digenggamannya terus diremasnya. Tiba-tiba Neliel berteriak sehingga Grimmjow menoleh kepadanya.

"Apa? Ulquiorra sakit? Kapan dan bagaimana keadaannya?" tanya Neliel beruntun.

Hah? Pangeran Es sakit?

"Oh, begitu. Jadi, hari ini Ulquiorra tidak masuk sekolah. Kalau begitu aku akan segera ke sana. Dah, Kak Aaro," kata Neliel mengakhiri pembicaraannya. Ia menyimpan kembali handphonenya di dalam tas.

"Huh, si pucat itu sakit, ya?" tanya Grimmjow. Terdengar nada mengejek dari balik pertanyaannya.

Neliel melotot menatap Grimmjow. Ia tidak suka cara Grimmjow bertanya dan memanggil Ulquiorra dengan seenaknya. Grimmjow hanya tersenyum tanpa mempedulikan tatapan tajam Neliel terhadapnya. Ia hanya menyunggingkan seringaian khasnya pada Neliel. Tampaknya Grimmjow sangat senang mendengar kabar sepupu sekaligus sainganya itu sakit. Ia sangat senang ketika membayangkan Ulquiorra tidak bisa bergerak dan hanya berbaring saja di tempat tidur, tidak berdaya dan terlihat lemah.

"Sepertinya kamu senang mendengar Ulquiorra sakit, Grimmjow?" cibir Neliel.

"Woah, jangan pasang wajah galak seperti itu, Neliel. Aku jadi takut melihatnya," kata Grimmjow dengan ekspresi takut yang dibuat-buat. "Hm, memangnya kenapa kalau aku senang mendengar Pangeran Es itu sakit?"

"Kamu ini tidak ada rasa empatinya sedikitpun terhadap sepupumu sendiri," ujar Neliel kesal.

"Kau salah, Neliel. Dia itu rival-ku," koreksi Grimmjow. "Aku tahu, jadi sejak tadi kau gelisah karena memikirkan Ulquiorra? Wah, kau sungguh seorang kakak yang baik, Nel," sindir Grimmjow.

Neliel hanya mendengus mendengar sindiran Grimmjow. Ia segera berjalan meninggalkan Grimmjow. Grimmjow segera berlari kecil menyusul Neliel. Saputangan Neliel disimpannya di dalam saku celananya. Ia tahu bahwa perkataannya sudah membuat Neliel kesal. Tetapi ia tidak suka Neliel terlalu membela Ulquiorra. Sejak dulu ia tidak suka sikap Brother Complex Neliel terhadap Ulquiorra.

Neliel semakin mempercepat langkahnya menjauhi Grimmjow. Grimmjow bingung melihat gadis berambut hijau itu berjalan dengan tergesa-gesa. Seperti ada seseorang yang mengikutinya. Secara teknis Grimmjow memang mengikuti Neliel tetapi bukan mengikuti secara sembunyi-sembunyi. Grimmjow menyadari bahwa Neliel pasti berpikir untuk pergi ke rumah Ulquiorra ketika gadis itu berbelok ke koridor yang salah. Kemudian Grimmjow mengejar Neliel dan menangkap pergelangan tangan mulus itu.

"Hei, kau mau ke rumah Ulquiorra, ya?" tanya Grimmjow.

Neliel menoleh menatap Grimmjow. Ia berusaha melepaskan tangannya dari Grimmjow, tetapi Grimmjow malah semakin mempererat genggamannya. Neliel melotot menatap Grimmjow, namun Grimmjow mengubrisnya. Ia tidak suka tindakan gegabah gadis itu dan tidak peduli jika gadis itu marah ataupun kesal atas apa yang dilakukannya.

"Lepaskan aku, Grimmjow!" seru Neliel. "Aku harus…"

"Tidak, sebelum kau jawab pertanyaanku, Nel," potong Grimmjow. "Kau ingin pergi ke sana, 'kan?"

"Kenapa kalau iya? Ada masalah?" dengus Neliel.

"Dasar gadis bodoh. Kau rela bolos kuliah hanya karena menjenguk bocah pucat itu?" tanya Grimmjow. Suaranya mulai meninggi.

Neliel mengangkat alisnya. Kemudian ia berkata polos, "Sesekali tidak apa-apa, 'kan? Dan jangan sebut aku bodoh lalu jangan mengejek Ulquiorra," ujarnya bersungut-sungut. "Lagipula aku 'kan kakaknya jadi aku juga harus merawatnya."

"Kau itu bukan kakaknya dan aku tidak peduli alasan konyolmu itu. Ulquiorra itu punya banyak pelayan dan juga ada Aaro yang akan mengurusnya. Jadi, kau tidak perlu repot-repot ke sana untuk mengurusnya," kata Grimmjow kesal.

"Grimmjow, ada apa denganmu? Kamu aneh. Kenapa kamu marah hanya karena aku mau pergi ke rumah Ulquiorra?" tanya Neliel bingung.

"Kalau kau tetap ingin pergi ke rumah Ulquiorra aku akan menelepon orangtuamu dan mengatakan kau berniat bolos kuliah," ancam Grimmjow. Ia semakin mengeratkan pegangannya di tangan Neliel.

"Huh, ternyata kamu seorang pengadu, Grimmjow," dengus Neliel. Tatapannya semakin tajam ke arah Grimmjow.

"Terserah kau mau mengataiku apa," ujar Grimmjow dingin. "Aku akan tetap menelepon orangtuamu jika kau masih bersikeras."

Neliel pun akhirnya menyerah, ia membuang mukanya ke arah lain. Grimmjow melonggarkan pegangannya kepada Neliel. Neliel tidak menyangka Grimmjow akan mengancamnya seperti itu. Lagipula ia tahu bahwa Grimmjow tidak pernah main-main dengan ucapannya. Dan Neliel tidak ingin orangtuanya akan memarahinya hanya karena ia berniat bolos kuliah.

Neliel terus mencibir dan mengumpat-ngumpati Grimmjow. Grimmjow memasang tampang galak melihat Neliel mengumpat-ngumpati dirinya. Orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka hanya bisa menonton dan saling berbisik melihat pertengkaran mereka. Grimmjow mengeluarkan saputangan milik Neliel dari saku celananya dan melemparkannya pada Neliel.

"Ini saputanganmu kukembalikan. Aku tidak suka ada benda hijau di sekitarku," ujar Grimmjow cuek.

Neliel menangkap saputangannya. Ia kembali mencibir menatap pemuda berambut biru di hadapannya. Neliel kesal karena Grimmjow bicara tanpa mempedulikan perasaannya yang tersinggung. Di dalam hati ia bertanya-tanya bahwa apakah Grimmjow memang sangat membenci Ulquiorra hingga kesegala apa pun yang berkaitan dengan pemuda pucat itu.

"Setidaknya kamu mengucapkan terima kasih padaku, Grimmjow," cibir Neliel. Ia menyimpan saputangan tersebut di dalam saku celananya.

"Aku rasa itu tidak perlu mengingat kau yang memaksaku untuk menerimanya, Neliel," balas Grimmjow tak mau kalah. Neliel kembali mencibir.

"Kalau kamu membenci warna saputanganku, itu berarti kamu juga membenciku, Grimmjow? Kamu lihat warna rambutku hijau, warna Ulquiorra," ujar Neliel menunjuk ke arah rambut hijau panjang bergelombangnya.

Grimmjow hanya diam. Ia menatap lurus Neliel sehingga membuat gadis yang ditatapnya menjadi salah tingkah. Neliel menanti jawaban yang akan dikemukakan Grimmjow. Grimmjow berjalan mendekatinya, tangan kekarnya memegang beberapa helai rambut hijau Neliel. Neliel terkejut dan tidak mengerti maksud dari tindakan pemuda itu. Ia mulai bersikap waspada jika Grimmjow kembali melakukan hal-hal yang tidak diinginkan seperti ketika berada di rumah Ulquiorra beberapa hari yang lalu.

"Ma, mau apa kamu, Grimmjow?" tanya Neliel galak.

Tanpa diduga oleh Neliel, Grimmjow mengecup rambut hijaunya. Hal itu tentu membuat Neliel terkejut dan orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka juga terkejut. Wajah mereka semua memerah melihat tindakan putra pemilik kampus itu terhadap sang primadona kampus. Grimmjow menatap Neliel dan ia menyeringai senang ketika mendapati wajah gadis itu memerah, mungkin karena malu.

"Aku memang benci warna hijau tetapi aku tidak membenci warna rambutmu. Rambut hijaumu sangat indah dan aku menyukainya, Nel," ujar Grimmjow sambil mengecup rambut Neliel lagi. Bau harum sampo herbal yang digunakan Neliel dapat dihirup oleh Grimmjow. Ia sangat menyukainya dan wanginya menenangkan.

Wajah Neliel semakin memanas melihat tindakan Grimmjow tersebut. Terkadang ia tidak habis pikir kenapa setiap kali ia bertengkar dengan Grimmjow selalu berakhir dengan kejadian yang tidak diinginkannya. Pemuda berambut biru itu dapat membuat jantungnya berdegup kencang dan wajahnya memerah.

Grimmjow semakin menyeringai. Salah satu kesenangan Grimmjow adalah membuat Neliel panik seperti ini dan ia sangat menyukainya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Neliel. Neliel menahan nafas ketika dirasakannya hembusan nafas Grimmjow yang menerpa telinganya. Ia merasa geli.

"Aku sudah menjawab pertanyaanmu. Bagaimana kalau aku minta sesuatu darimu, Nel," bisik Grimmjow. "Misalnya menciummu?"

"A, apa? Jangan bercanda, Grimmjow!" seru Neliel.

Grimmjow hanya menyeringai. Ia memegang pipi Neliel dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Neliel. Neliel hanya diam dan tidak tahu harus melakukan apa. Tubuhnya tak mau bergerak meskipun otaknya telah menjerit agar ia menghentikan tindakan Grimmjow. Wajah Grimmjow semakin mendekat dan nafas hangatnya pun menerpa wajah Neliel. Ia panik. Semua orang yang berada di sekitar mereka hanya menahan nafas dan tidak sabar melihat adegan selanjutnya. Para fans Grimmjow hanya menatap sedih, sementara para fans Neliel hanya bisa berpasrah saja.

Hentikan niatmu, Grimmjow! Apa kamu tidak lihat kalau semua orang melihat kita? Pikir Neliel, pikir. Dorong Grimmjow dan lari. Hentikan dia.

Neliel menjerit dalam hatinya. Hidungnya dan Grimmjow telah bersentuhan dan sedikit lagi bibirnya akan bertemu dengan bibir Grimmjow. Neliel memejamkan matanya. Otaknya terus berpikir. Tiba-tiba ia mendapat ide untuk menghentikan niat Grimmjow.

"Gri, Grimmjow," panggil Neliel.

Grimmjow menghentikan aksinya dan bertanya, "Ada apa?"

"A, ada Ayahmu di belakang," ujar Neliel.

Grimmjow langsung memutar kepalanya untuk menoleh ke belakang. Kesempatan ini digunakan Neliel untuk melepaskan diri dari Grimmjow dan berlari menjauhinya. Grimmjow menyadari Neliel telah lepas darinya. Ia mendengus karena ditipu oleh Neliel. Tidak ada ayahnya di belakang mereka. Pemuda berambut biru itu hanya menarik rambutnya frustasi. Lagi-lagi peluang emasnya gagal.

"Sial! Dia menipuku!" gerutu Grimmjow. "Awas, kau Neliel. Lain kali kau tidak akan kulepaskan!"

Grimmjow menoleh ke sekelilingnya. Ia melihat semua orang saling berbisik-bisik, sepertinya membisiki tentang dirinya dan Neliel. Beberapa fans Neliel tampak menghela nafas lega karena primadona mereka gagal dicium oleh Grimmjow. Grimmjow menyadarinya dan ia mendelik ke arah mereka semua.

"Apa yang kalian lihat? Bubar semuanya! Bubar!" marah Grimmjow.

Semua orang langsung bubar dengan terburu-buru. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya bahwa tidak ada seorang pun yang ingin berurusan dengan putra pemilik kampus tersebut. Grimmjow Jeagerjaquez, si penguasa kampus sekaligus putra dari pemilik kampus, berjalan meninggalkan koridor tersebut dengan tampang kesal.

"Huh, Neliel bodoh! Ulquiorra menyebalkan!"

oOo

Ulquiorra masih beristirahat di kamarnya sambil membaca buku tebal bersampul hijau. Judul bukunya tertera dalam bahasa Inggris, yaitu Be A Young Entrepreneur. Entah kenapa ia memilih buku tersebut sebagai bacaannya. Kepala Pelayan Aaroniero telah memperingatkan Ulquiorra agar tidak membaca atau melakukan apa pun selain beristirahat. Tetapi si pemuda pucat tidak mempedulikan larangan dari si kepala pelayan. Ia merasa jenuh dan tidak sanggup jika hanya berbaring sepanjang hari.

Kepala Pelayan Aaroniero mengetuk pintu kamar Ulquiorra dan setelah mendapat jawaban dari Ulquiorra, maka ia masuk ke dalam kamar tersebut. Hari telah siang sehingga Kepala Pelayan Aaroniero datang membawa makan siang untuk Ulquiorra beserta obat-obatan yang harus diminumnya.

"Selamat siang, Tuan Muda. Saya mengantarkan makan siang untuk Anda," ujar Kepala Pelayan Aaroniero, ia meletakkan nampan di tangannya di meja samping tempat tidur Ulquiorra. "Silakan, Tuan."

Ulquiorra tidak mengaihkan pandangannya dari buku yang sedang dibacanya. Kepala Pelayan Aaroniero hanya menghela nafas melihat Ulquiorra yang sedang membaca. Ia sudah tahu bahwa peringatannya pasti tidak akan dihiraukan oleh Ulquiorra. Pemuda bermata emerald itu memang keras kepala dan tidak bisa dibantah jika ia menginginkan sesuatu. Tiba-tiba Ulquiorra merasa hidungnya gatal dan sedetik kemudian ia bersin.

"Huatchin! Huatchin! Huatchin!" bersin Ulquiorra.

Ulquiorra meletakkan buku bacaannya begitu saja di tempat tidur, ia menggosok-gosok bawah hidungnya. Kepala Pelayan Aaroniero tampak panik melihat Ulquiorra bersin.

"Anda tidak apa-apa, Tuan?" tanya Kepala Pelayan Aaroniero. Wajahnya tampak cemas dan ia juga takut jika sakit Ulquiorra bertambah parah.

"Aku tidak apa-apa, Kepala Pelayan Aaroniero," jawab Ulquiorra datar. "Hanya bersin saja, tidak perlu khawatir seperti itu."

"Saya lega mendengarnya, Tuan Muda." Kepala Pelayan Aaroniero mengelus dadanya.

"Kamu terlalu mengkhawatirkanku. Paling-paling aku bersin karena Grimmjow sedang membicarakanku," ujar Ulquiorra. Ia menutup buku yang sedari tadi dibacanya dan meletakkannya di sisinya.

"Saya hanya tidak ingin terjadi apa-apa pada Anda, Tuan," ujar Kepala Pelayan Aaroniero sambil tersenyum.

Ulquiorra hanya menghela nafas saja. Mata emeraldnya beralih ke nampan yang dibawa oleh Kepala Pelayan Aaroniero. Menu makan siang kali ini bukanlah bubur seperti sarapannya tadi pagi. Hidungnya dapat mencium bau harum sup makaroni kesukaannya. Tangannya terulur mengambil mangkuk sup tersebut. Kepala Pelayan Aaroniero hanya tersenyum melihat reaksi Ulquiorra. Ia tahu Ulquiorra tidak akan menolak sup makaroni tersebut.

"Makanan kesukaan Anda, Tuan Muda. Setidaknya sup juga bagus untuk orang yang sedang flu," kata Kepala Pelayan Aaroniero.

"Setidaknya aku tidak harus makan bubur terus. Aku tidak suka makanan itu," dengus Ulquiorra.

"Saya mengerti, Tuan."

Ulquiorra mulai menyendokkan kuah sup dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Sup tersebut masih hangat dan kehangatannya serasa menjalar di seluruh tubuh Ulquoiorra. Kepala Pelayan Aaroniero kembali tersenyum lagi melihat Ulquiorra yang menikmati sup tersebut.

"Bagaimana rasanya, Tuan Muda?"

Ulquiorra menghentikan makannya sesaat dan berkata singkat, "Enak."

Komentar singkat Ulquiorra itu hanya ditanggapi Kepala Pelayan Aaroniero dengan senyuman. Dia tahu bahwa Ulquiorra memang bukanlah seseorang yang suka menilai sesuatu secara panjang lebar. Cukup singkat dan jelas saja. Tiba-tiba Kepala Pelayan Aaroniero teringat sesuatu.

"Tadi Nona Neliel menelepon saya dan menanyakan keadaan Anda, Tuan," kata Kepala Pelayan Aaroniero.

Ulquiorra kembali menghentikan makannya dan menoleh ke wajah Kepala Pelayan Aaroniero. Sebelah alisnya terangkat. Mulutnya tampak ingin mengatakan sesuatu.

"Neliel meneleponmu?"

"Ya, Tuan. Nona Neliel berkata dia sudah mencoba menelepon Anda, tetapi handphone Anda tidak aktif. Sepertinya Nona Neliel kaget setelah saya beritahu bahwa Anda sedang sakit," ujar Kepala Pelayan Aaroniero.

"Gadis itu pasti sedang menuju ke sini dan si rambut biru itu juga pasti akan ikut bersamanya," gumam Ulquiorra. "Kenapa kamu beritahu Neliel?"

"Maaf, Tuan. Sejak awal Nona Neliel sudah merasa ada sesuatu yang terjadi pada Anda dan Nona Neliel hanya membuktikan dugaannya saja," jelas si kepala pelayan.

"Insting Neliel selalu tajam," gumam Ulquiorra pelan.

"Anda benar, Tuan Muda," sahut Kepala Pelayan Aaroniero yang ternyata mendengar gumaman Ulquiorra.

Ulquiorra hanya menghela nafas mendengar perkataan Kepala Pelayan Aaroniero. Ia kembali melanjutkan makannya. Tiba-tiba terdengar bunyi bel yang menandakan adanya tamu yang berkunjung ke rumah Keluarga Schiffer.

"Sepertinya ada tamu yang datang. Saya akan segera menyambutnya," ujar si kepala pelayan.

"Aku tidak peduli siapa yang datang," kata Ulquiorra, ia menyendokkan kuah sup ke mulutnya lagi.

Kepala Pelayan Aaroniero hanya tersenyum mendengar perkataan Ulquiorra. Sebelum beranjak pergi ia berkata, "Saya permisi dulu, Tuan Muda."

Kepala Pelayan Aaroniero telah meninggalkan kamar Ulquiorra, sementara ia masih memakan sup makaroninya dalam diam. Hembusan angin sepoi bertiup melalui jendela kamar Ulquiorra dan menerbangkan beberapa helai rambut hitamnya.

"Pasti Neliel yang datang," gumam Ulquiorra.

oOo

Orihime sedang menunggu di ruang tamu. Ia tampak ragu-ragu ketika berada di dalam rumah Keluarga Schiffer. Berbagai macam pikiran melintas di otaknya, penuh kebimbangan. Tangannya memegang erat bungkusan yang dibawanya. Tidak lama kemudian Kepala Pelayan Aaroniero datang ke ruang tamu.

"Selamat datang Nona Orihime," ujar Kepala Pelayan Aaroniero ketika menyambut kedatangan Orihime.

"Ah, iya. Selamat siang," ujar Orihime, ia mendadak berdiri dari sofa. "Maaf, kalau kedatangan saya merepotkan."

"Tentu saja tidak, Nona. Apakah kedatangan Anda adalah untuk menjenguk Tuan Muda?" tanya Kepala Pelayan Aaroniero.

"I, iya," jawab Orihime malu-malu, ia menundukkan wajahnya. Tangannya semakin erat menggenggam bungkusan yang dibawanya.

Kepala Pelayan Aaroniero hanya tersenyum. Kemudian ia berkata, "Kalau begitu mari ikut saya. Saat ini Tuan Muda sedang makan siang di kamarnya."

"Ah, kalau saya mengganggu istirahat Schiffer, saya akan pulang saja," ujar Orihime tiba-tiba.

"Jangan berkata seperti itu, Nona Orihime. Anda sudah repot-repot datang kemari untuk menjenguk Tuan Muda," kata si kepala pelayan sambil tersenyum.

Orihime hanya diam. Ia tampak menimbang-nimbang perkataan Kepala Pelayan Aaroniero. Kata-kata kepala pelayan itu ada benarnya karena sejak awal kedatangan Orihime ke rumah ini adalah untuk menjenguk Ulquiorra. Maka dari itu, ia memutuskan untuk mengikuti niatnya sejak awal.

"Baiklah, kalau begitu," gumam Orihime.

"Kalau begitu, mari ikut saya," tuntun Kepala Pelayan Aaroniero.

Orihime mengikuti Kepala Pelayan Aaroniero menuju kamar Ulquiorra. Ia berjalan di belakang si kepala pelayan. Setelah menaiki tangga menuju lantai dua dan berbelok di suatu koridor barulah mereka sampai di depan kamar Ulquiorra. Kepala Pelayan Aaroniero mengetuk pintu kamar Ulquiorra, sementara Orihime terlihat gugup.

Aduh, kenapa jantungku berdetak seperti ini?

Suara Ulquiorra terdengar mengizinkan si kepala pelayan dan Orihime memasuki kamarnya. Kepala Pelayan Aaroniero membuka pintu kamar. Orihime tetap setia berjalan di belakang. Entah kenapa Orihime merasa kakinya sulit sekali untuk melangkah.

"Permisi, Tuan Muda. Nona Orihime datang menjenguk Anda," kata si kepala pelayan.

"Se, selamat siang, Schiffer," sapa Orihime. Ia mencoba tersenyum sebisanya untuk menutupi kegugupannya.

Ulquiorra yang tengah bersandar di sandaran ranjangnya menatap Orihime dengan tatapan datar seperti biasanya. Mata emerald itu benar-benar dingin. Di saat sakit pun Ulquiorra masih tetap mempertahankan sikap dingin yang menjadi ciri khasnya. Orihime yang mendapat tatapan seperti itu semakin bertambah gugup sehingga usahanya untuk tersenyum sebagai alih menutupi kegugupannya menjadi gagal total. Tubuhnya seakan membeku dan merasa kesulitan untuk bernafas.

Ke, kenapa Schiffer menatapku seperti itu? Apa dia tidak suka dengan kedatanganku? Kalau benar begitu berarti aku telah membuatnya kesal lagi.

"Tinggalkan kami berdua, Kepala Pelayan Aaroniero," perintah Ulquiorra.

"Baiklah, Tuan Muda. Tetapi, sebelumnya saya harus mengambil sisa peralatan makan Anda," kata Kepala Pelayan Aaroniero sambil berjalan mendekati ranjang Ulquiorra. Ia mengambil nampan berisi mangkuk sup di meja kecil di samping ranjang. Mata aqua green itu menangkap obat-obatan di atas meja. "Apa obat Anda sudah diminum, Tuan Muda?"

"Jangan perlakukan aku seperti anak kecil, Kepala Pelayan Aaroniero. Kamu bisa menghitung semua tablet-tablet itu," kata Ulquiorra dingin.

"Maafkan sikap saya, Tuan Muda. Saya hanya ingin memastikan saja," ujar si kepala pelayan tersenyum. "Baiklah, saya permisi dulu, Tuan Muda, Nona."

Orihime mengangguk ketika Kepala Pelayan Aaroniero melewatinya. Si kepala pelayan menutup pintu kamar Tuan Muda Schiffer. Kini di dalam kamar tersebut hanya ada si pemuda dingin dan si gadis manis. Setelah Kepala Pelayan Aaroniero keluar Orihime menjadi semakin bingung dan gugup. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana atau harus melakukan apa. Ulquiorra kembali menatapnya.

"Kenapa kamu kemari?"

"Ng, aku ha, hanya ingin me, menjenguk Schiffer saja," jawab Orihime terbata-bata.

"Menjenguk?"

"I, iya, menjenguk."

"Aku tak butuh jengukan orang lain."

Orihime terkejut mendengar penuturan Ulquiorra. Jantungnya langsung berdetak kencang, tubuhnya kaku, nafasnya tercekat. Ia menundukkan kepalanya menatap lantai. Ulquiorra hanya diam menatap perubahan sikap Orihime. Pemuda pucat tanpa ekspresi itu menghela nafas.

"Ada yang ingin kamu katakan?" tanya Ulquiorra.

"Aku… Ng, maaf… Aku, aku pasti mengganggu Schiffer lagi… Aku minta maaf telah datang kemari dan mengganggumu. Mungkin sebaiknya aku pu…"

"Aku tidak memerintahkanmu untuk pulang," potong Ulquiorra.

"Eh?" Orihime mengangkat kepalanya menatap Ulquiorra. "A, apa maksudmu, Schiffer?"

"Kamu benar-benar gadis diluar dugaan. Apa yang membuatmu berpikir untuk datang kemari lagi?" tanya Ulquiorra yang mengabaikan pertanyaan Orihime.

Wajah Orihime langsung memerah. Ia kembali menundukkan kepalanya. Menatap lantai marmer di kamar Ulquiorra dengan perasaan yang bercampur aduk. Gadis berambut orange itu terdiam seribu bahasa karena ia tidak bisa membayangkan apa yang akan dipikirkan Ulquiorra jika mengatakan alasannya. Si pemuda pucat tidak tahu bahwa dirinya telah membuat si gadis manis terlihat seperti orang gila hari ini. Pikirannya selalu terpusat pada si pemuda dan rasa khawatir yang berlebihan itu membuatnya tidak bisa menahan diri untuk mengetahui keadaan si pemuda. Karena hal itulah yang kini membuatnya berada di rumah ini dan berdiri di hadapan si pemuda.

Orihime mengangkat kepalanya untuk menatap Ulquiorra sekilas, kemudian kembali menundukkan kepalanya. Wajahnya semakin memanas. Ulquiorra tetap menunggu jawabannya. Orihime benar-benar kebingungan untuk menjawab.

He, aku tidak mungkin mengatakannya. Aku tidak bisa bilang kalau aku sangat mengkhawatirkannya.

"Sampai kapan kamu akan diam seperti itu?" tanya Ulquiorra. Ia kelihatannya sudah tidak sabar.

"A, aku kemari hanya ingin menjengukmu saja. Hanya itu," jawab Orihime sambil tersenyum.

"Menjenguk," gumam Ulquiorra. "Jadi orang sakit benar-benar merepotkan."

"Ng, sebenarnya teman-teman sekelas juga ingin menjengukmu tetapi…"

"Pihak sekolah mengatakan aku butuh perawatan khusus sehingga tidak diperbolehkan sembarang orang untuk kemari. Itu peringatan dari dokter pribadi Keluarga Schiffer. Itu 'kan yang ingin kamu katakan?" tebak Ulquiorra.

"I, iya."

"Kamu sudah tahu tetapi tetap saja datang kemari. Kurasa aku tidak perlu dijenguk."

"Itu karena aku mengkhawatirkanmu. Ups!" Orihime langsung menutup mulutnya.

Mata Ulquiorra membulat ketika mendengar jawaban jujur dari Orihime. Orihime masih mentup mulutnya dengan kedua tangannya. Perlahan-lahan rona merah menghiasi kedua pipinya. Ia merutuki dirinya karena berbicara seperti itu. Saat ini yang ada dipikiran Orihime adalah berlari meninggalkan kamar Ulquiorra secepatnya. Tetapi tubuhnya tidak mau digerakkan. Orihime semakin bertambah panik ketika Ulquiorra kembali menatapnya dingin seakan tatapan itu bagai pedang yang dapat menembus ke jantungnya.

Apa yang kukatakan? Tidak, jangan tatap aku seperti itu!

"Kamu bilang mengkhawatirkanku?"

Orihime tidak menjawab pertanyaan Ulquiorra. Ia masih membungkam mulutnya. Kini Orihime benar-benar ingin segera berlari meninggalkan kamar Ulquiorra. Berlari sejauh mungkin dari si pemuda pucat itu.

"Jadi, kamu datang kemari karena mengkhawatirkanku?"

"Ng, anu, itu…" Orihime tidak dapat melanjutkan perkataannya.

Apa yang harus aku katakan?

"Ulquiorra!"

Tiba-tiba pintu kamar Ulquiorra terbuka. Seseorang memasuki kamar Ulquiorra dan berlari sekencangnya menghampiri ranjang Ulquiorra bahkan ia melewati Orihime begitu saja. Mata Ulquiorra membulat ketika melihat seseorang itu mendekatinya dan dengan cepat langsung memeluknya. Orihime terkejut melihat aksi orang tersebut yang memeluk Ulquiorra. Gadis itu mengatupkan mulutnya.

"Aku mengkhawatirkanmu, Ulquiorra. Kudengar kamu sakit parah. Apa kamu baik-baik saja?" tanya orang tersebut sambil mengeratkan pelukannya pada Ulquiorra.

"Neliel! Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku! Sesak! Kamu ingin membunuhku?" berontak Ulquiorra.

Dengan terpaksa seseorang yang ternyata adalah Neliel itu melepaskan pelukannya pada Ulquiorra. Ulquiorra terlihat bernafas lega. Mata emeraldnya menatap tajam Neliel yang duduk di ranjangnya. Gadis berambut hijau itu hanya memasang tampang cemberut dan sama sekali tidak takut dengan tatapan mematikan dari Ulquiorra.

"Jangan pernah lakukan itu lagi!" geram Ulquiorra.

"Apa yang kamu katakan? Pelukanku tidak mungkin membunuhmu, Ulquiorra?" dengus Neliel.

"Apa pun alasanmu aku tetap tidak menyukainya," kata Ulquiorra dingin. Kata-kata Ulquiorra tersebut semakin membuat Neliel cemberut.

"Wah, wah, wah! Aku baru tahu kalau kamu akan mati jika dipeluk Neliel. Mungkin lain ceritanya jika yang memelukmu adalah dia," ujar Grimmjow yang berdiri di samping Orihime. Jempolnya mengarah pada Orihime.

"Eh?" Orihime kaget mendengar perkataan Grimmjow. Selain itu ia sama sekali tidak tahu sejak kapan Grimmjow berdiri di sampingnya.

"Apa yang kamu katakan, rambut biru?" Ulquiorra menatap tajam Grimmjow.

Grimmjow hanya tersenyum di sudut bibirnya. Mata birunya tidak ketinggalan untuk membalas menatap tajam Ulquiorra. Tatapan tajam yang saling dilemparkan oleh kedua orang itu membuat hawa di kamar tersebut terasa dingin. Orihime hanya terdiam tanpa tahu apa yang harus diperbuatnya. Mata abu-abunya menatap Neliel yang juga sedang menatapnya. Senyum manis terkembang di bibir Neliel yang membuat perasaan Orihime tidak enak. Dengan cepat Neliel berlari ke arah Orihime dan langsung menyambutnya dengan pelukan hangat.

"Orihime! Ternyata kamu ada di sini. Aku senang sekali akhirnya bisa bertemu denganmu lagi," kata Neliel penuh antusias. Ia mengeratkan pelukannya pada Orihime.

"Ah, eh, iya. A, aku juga senang be, bertemu dengan K, Kak Neliel," kata Orihime terbata-bata. Gadis itu merasa nafasnya sesak akibat pelukan erat dari Neliel.

"Benarkah? Senangnya!"

Aduh, Kak Neliel membuatku sesak. Pelukannya benar-benar erat.

"Hei, Neliel! Mau sampai kapan kau memeluk dia? Apa kau tak melihat wajahnya yang kesulitan bernafas itu?" hardik Grimmjow yang memandang malas ke arah dua gadis yang sedang berpelukan tersebut.

Neliel melepaskan pelukannya dari Orihime yang langsung menarik nafas lega. Gadis berambut hijau itu mendelik tajam kepada Grimmjow yang sama sekali tidak diacuhkan pemuda itu. Grimmjow hanya menguap bosan.

"Huah! Apa aku bilang, pelukanmu itu sungguh mengerikan. Kau hampir membunuh si pucat itu dan si gadis orange ini," ejek Grimmjow sambil menyisir rambutnya ke belakang.

"Huh, apanya yang mengerikan? Jangan melebih-lebihkan, Grimmjow!" gerutu Neliel. "Ng, pelukanku tidak mengerikan, 'kan Orihime?"

Orihime bingung tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya memutar bola matanya ke arah lain. "Ng, kurasa tidak seperti itu," bohong Orihime.

"Nah, Orihime saja bilang tidak. Kamu saja yang berlebihan, Grimmjow," cibir Neliel.

"Terserah. Apa kau ingin membuktikannya padaku?" tantang Grimmjow, senyum seringai terlihat di wajah tampannya.

"Tidak akan!"

"Huh, jangan pura-pura menolak," goda Grimmjow sambil tetap tersenyum menyeringai.

Neliel kembali menatap galak Grimmjow yang sedang mentertawakannya. Wajah gadis itu memerah, bahkan ia jadi kembali teringat kejadian antara dirinya dan Grimmjow di kampus beberapa jam yang lalu. Ulquiorra menatap kedua orang dewasa tersebut dengan bosan. Tangan pucatnya meraih bantal di dekatnya dan dengan cepat ia melemparkan bantal tersebut ke arah Grimmjow. Bantal bersampul hijau itu mendarat sempurna di wajah Grimmjow. Grimmjow menggeram, ia memungut bantal tersebut.

"Apa yang kau lakukan, Pangeran Vampir?" teriak Grimmjow sambil melemparkan bantal tersebut kembali pada Ulquiorra.

Ulquiorra menangkap bantal yang nyaris mengenai wajahnya tersebut dengan cepat. Kemudian ia berkata, "Jangan buat asusila di kamarku, Jeagerjaquez."

"Heh, kau bercanda? Jangan membuatku tertawa," ejek Grimmjow.

"Kalian bisa keluar jika hanya membuat keributan di sini," perintah Ulquiorra dingin.

Grimmjow hanya menggeram kesal melihat sikap acuh pemuda pucat tersebut. Rasanya ingin sekali ia menyerang pemuda arogan yang tampak tidak sehat itu. Tetapi, Grimmjow cukup meragukan pendapatnya karena ia tahu bahwa Ulquiorra bukanlah pemuda yang akan lemah seratus persen meskipun dalam kondisi sakit.

"Kau sedang sakit tetapi bicaramu tetap saja menyebalkan!"

"Aku tidak punya waktu untuk berdebat denganmu."

"Oh, aku lupa. Kau 'kan sedang sakit tentu saja perlu banya istirahat. Apa aku perlu mengucapkan selamat istirahat untukmu, Ulqui dear?"

"Aku bisa menghajarmu jika kamu menginginkannya."

"Benarkah? Oh, aku ketakutan."

"Jangan memancingku, Grimmjow."

"Heh, justru itu yang kuinginkan darimu, Ulquiorra."

Perang mulut penuh umpatan, cacian, ejekan, sindiran, dan ancaman antara Ulquiorra dan Grimmjow berlangsung seru. Tatapan bola mata hijau dan biru itu semakin menusuk seakan-akan tatapan itu dapat membunuh di antara keduanya. Hawa dingin meliputi sekeliling mereka. Neliel dan Orihime hanya terdiam menonton perang dingin itu. Orihime merasa keberadaannya di sini tidaklah tepat.

Kak Jeagerjaquez dan Schiffer terlihat sangat mengerikan. Aku dapat merasakan aura membunuh di antara keduanya. Dan suasana di kamar ini pun terasa menyesakkan.

"Mulai lagi. Selalu seperti ini," gumam Neliel sambil menghela nafas. "Kamu juga sedang menjenguk Ulquiorra, ya, Orihime?"

"Ah, iya. Tetapi sebentar lagi saya akan pulang."

"Kenapa buru-buru?"

"Ng, sepertinya Schiffer perlu banyak istirahat jadi…"

"Jangan bicara seperti, Orihime. Kamu sudah repot-repot datang kemari untuk menjenguk Ulquiorra," ujar Neliel. "Oh, iya. Aku ingin buat bubur untuk Ulquiorra jadi kamu tetap di sini untuk menjaga Ulquiorra, ya."

"Eh, tetapi…"

Neliel menarik tangan Orihime sebelum gadis itu sempat menyelesaikan ucapannya. Kemudian Neliel mendudukkan Orihime di kursi di samping ranjang Ulquiorra. Neliel menyela pertengkaran antara Ulquiorra dan Grimmjow.

"Maaf, menyela pertengkaran kalian. Ulquiorra, aku ingin membuatkanmu bubur dan aku minta Orihime untuk menemanimu," ujar Neliel.

"Aku sudah makan dan aku juga tidak perlu ditemani siapa pun," kata Ulquiorra.

"Ditemani? Hei, kupikir itu bukan ide yang buruk. Pangeran menyebalkan ini memang membutuhkan seorang baby sister untuk menjaganya. Bukankah begitu, Ulqui dear?" ledek Grimmjow.

"Aku tidak akan segan-segan untuk mematahkan lehermu, Grimmjow," ancam Ulquiorra. Matanya menatap penuh emosi. Grimmjow hanya menyeringai.

Neliel menghela nafas, kemudian ia menarik lengan Grimmjow. "Ayo ikut aku, Grimmjow!"

"Kemana? Urusanku dengan si pucat ini belum selesai," protes Grimmjow.

"Kita kemari untuk menjenguk, bukan membuat keributan. Kamu harus menemaniku ke dapur, kita akan buat bubur untuk Ulquiorra," kata Neliel yang tetap menarik lengan Grimmjow.

"Apa? Membuat bubur? Siapa yang sudi membuat bubur untuk pencinta kelelawar itu?" dengus Grimmjow.

"Siapa juga yang sudi makan bubur buatanmu, pencinta kucing bodoh," balas Ulquiorra.

Grimmjow ingin membalas perkataan Ulquiorra tetapi disela oleh Neliel. "Sudah, Grimmjow. Kami ke dapur dulu. Orihime, tolong jaga Ulquiorra, ya!" pesannya. Orihime hanya mengangguk lemah.

"Hei, hei, aku tidak mau ikut. Lepaskan aku, Neliel!" protes Grimmjow lagi yang akhirnya ditarik paksa Neliel untuk keluar dari kamar Ulquiorra.

Kedua orang tersebut telah menghilang dari kamar Ulquiorra. Teriakan protes Grimmjow tetap terdengar meskipun samar-samar mulai hilang. Ulquiorra menghela nafas, ia memijat-mijat kepalanya yang mulai terasa berdenyut-denyut. Orihime hanya memperhatikannya.

"Kedatangan mereka hanya membuat kondisiku semakin bertambah parah."

"Ng, Schiffer baik-baik saja?" tanya Orihime takut-takut.

Ulquiorra menoleh ke arahnya. Tatapan mata mereka bertemu. Orihime langsung menelan ludah dan menundukkan kepalanya. Ia memegang erat-erat bungkusan yang ada di tangannya.

"Maaf, aku…"

"Apa? Ingin bilang mengkhawatirkanku lagi?"

Kenapa dia bisa tahu?

"Ng, ini ada buah-buahan untukmu," kata Orihime berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia mengeluarkan buah-buahan dari bungkusan yang dibawanya dan meletakkannya di dalam keranjang buah yang telah tersedia di meja.

Tidak ada respon dari Ulquiorra. Ia hanya memperhatikan gadis itu menyusun buah-buahan di dalam keranjang. Ulquiorra masih menatap Orihime. Lama mereka saling bertatapan. Orihime yang tidak sanggup menatap lama-lama mata Ulquiorra memilih untuk menunduk. Jantungnya berdegup kencang, ia memegang dadanya.

Apa ini? Kenapa aku deg-degan hanya karena menatap mata Schiffer?

"Ng, kalau aku mengganggu istirahatmu aku akan pulang saja," ujar Orihime.

"Pulang?"

"Iya, aku akan pulang. Aku permisi dulu. Semoga lekas sembuh."

Orihime membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan menuju pintu. Ulquiorra hanya mengamatinya dalam diam. Tubuh gadis itu semakin menjauh. Kemudian mata emeraldnya beralih pada buah-buahan yang dibawa Orihime. Ia menghentikan langkah Orihime sehingga membuat gadis berambut orange tersebut menoleh padanya dengan wajah kebingungan.

"Kupaskan aku apel," gumam Ulquiorra.

"Apa?" tanya Orihime bingung.

"Kembali ke tempat dudukmu dan kupaskan aku apel," perintah Ulquiorra.

Hah, kenapa Schiffer berkata seperti itu? Aku sama sekali tidak mengerti.

"Tetapi, kenapa Schiffer…"

"Aku ingin makan apel," potong Ulquiorra. Ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah.

Dia benar-benar memintaku untuk mengupas apel. Apa aku harus menuruti perkataannya? Tetapi kenapa? Ayolah, Orihime. Kenapa kamu malah berpikir yang aneh-aneh? Schiffer hanya memintamu untuk mengupas apel. Ya, mengupas apel. Mungkin aku turuti saja.

"Ba, baiklah," kata Orihime menyanggupi. Tetapi Ulquiorra tidak memberi respon apa pun.

Orihime kembali berjalan mendekati ranjang Ulquiorra dan duduk di sisinya. Mereka bertatapan sesaat. Kemudian Orihime mengambil sebuah apel dari keranjang buah-buahan. Lalu tangannya terulur untuk mengambil pisau yang tersedia di samping keranjang. Dengan hati-hati Orihime mengupas kulit apel tersebut. Satu per satu kulit apel itu terkelupas.

Sejak tadi Ulquiorra terus memperhatikan wajah Orihime. Mata emeraldnya menatap serius wajah gadis cantik itu. Sesekali Orihime meliriknya dan terkejut mendapati Ulquiorra yang menatapnya. Orihime langsung menundukkan wajahnya yang memerah dan berpura-pura konsentrasi pada apel yang tengah dikupasnya.

Ke, kenapa Schiffer menatapku seperti itu? Aku jadi gugup.

Sekali lagi Orihime melirik Ulquiorra yang ternyata masih tetap menatapnya. Hatinya jadi tidak tenang. Tangannya yang mengupas apel terasa grogi. Ulquiorra menyadari tingkah aneh gadis itu tetapi dia hanya diam saja. Karena merasa terlalu gugup diperhatikan Ulquiorra, jari Orihime tidak sengaja terkena pisau. Ia menjerit hingga apel dan pisau di tangannya terjatuh ke lantai.

"Kyaaa! Aduh, jariku," panilk Orihime yang mengibas-ngibaskan jarinya. "Sakit."

Orihime terus panik dan mengeluh kesakitan. Darah dari jarinya semakin banyak mengalir. Ulquiorra terkejut melihat kecelakaan kecil yang menimpa Orihime tersebut. Ia bangkit dari ranjangnya dan berjongkok di hadapan Orihime sambil memegang tangannya. Orihime kaget karena Ulquiorra memegang tangannya, seketika wajahnya langsung memerah.

"Ini hanya luka kecil. Kalau kamu terus panik seperti ini darahnya yang keluar akan semakin banyak," kata Ulquiorra sambil mengamati luka di jari Orihime.

"Tetapi, ini sakit sekali," keluh Orihime.

Ulquiorra menatap wajah Orihime yang semakin menyiratkan kesakitan. Tanpa berpikir panjang lagi Ulquiorra langsung memasukkan jari Orihime ke dalam mulutnya dan menghisap darahnya. Orihime terkejut melihat aksi Ulquiorra yang langsung membuatnya menahan nafas. Wajah gadis itu memerah padam, jantungnya terus berpacu dan aliran darahnya berdesir cepat. Tangannya bergetar ketika mulut Ulquiorra yang hangat menghisap darah di jarinya. Orihime benar-benar tidak tahan dengan sentuhan Ulquiorra tersebut.

Hentikan, Schiffer. Kumohon hentikan. Sudah cukup, lepaskan jariku. Lepaskan.

"Schiffer, cukup…" pinta Orihime.

Ulquiorra sama sekali tidak mendengarnya. Matanya yang sejak tadi terpejam kini mulai terbuka. Sepasang bola mata emerald itu menatap datar si pemilik bola mata abu-abu. Mulutnya sama sekali belum membebaskan jari Orihime. Mereka kembali bertatapan dalam diam, terhanyut dalam pikiran masing-masing. Lalu, mata Ulquiorra kembali terpejam. Orihime pun juga ikut memejamkan matanya.

Schiffer…

Tiba-tiba saja pintu kamar Ulquiorra terbuka. Dua sosok di balik pintu tersebut terkejut ketika melihat pemandangan yang ada di hadapan mereka. Mata Neliel terbelalak kaget. Hampir saja ia menjatuhkan nampan yang dipegangnya. Sementara itu Grimmjow yang berdiri di sampingnya terlihat menyeringai. Grimmjow sadar bahwa kedua orang tersebut sama sekali tidak menyadari kehadirannya dan Neliel, kemudian ia bertepuk tangan.

"Wah, wah, wah! Coba lihat siapa yang sedang bermesraan?"

Ulquiorra dan Orihime terkejut mendengar suara Grimmjow. Mata mereka yang sedari terpejam mulai terbuka. Dengan cepat Ulquiorra menarik mulutnya dari jari Orihime. Mereka berdua menoleh ke arah Grimmjow dan Neliel. Neliel masih terdiam dengan wajah memerah sementara Grimmjow menyeringai jahil sambil tetap bertepuk tangan.

"Tampaknya kehadiran kami mengganggu," ujar Grimmjow tersenyum.


Khawatir…

Satu kata yang paling tidak ingin kudengar

Satu kata yang terdengar berlebihan.

Aku tidak suka bila ada seseorang yang menggunakan kata itu padaku

Itu hanya membuatku seakan menjadi orang yang lemah

Tak berdaya dan patut untuk diperhatikan

Aku bukanlah orang yang suka dikhawatirkan

Disambut dengan dekapan hangat

Dan menatapku dengan mata empati

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

.Sungguh aku tidak menyukai perasaan itu

To be continued…


Akhirnya selesai juga chapter kelima. Lagi-lagi chapter yang saya buat sangat panjang.

Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih sudah membaca dan mereview fic saya. Kemudian saya benar-benar minta maaf karena tidak bisa updet tepat waktu. Sudah berbulan-bulan saya tidak mengupdet fic ini. Sekali lagi saya minta maaf.

Review please and see you in the next chapter!^^'