Riku : Ini cerita pertama gue yang berbau Sho-ai. Ini gue buat untuk adek perempuan gue! Dengan inisial 'M' (Suki itu adek sepupu gue). Sorry kalau ceritanya aneh, dan jujur ini bener-bener genre di luar kekuasaan gue, karena gue gak biasa. Disini yang mau gue tonjolin itu perasaan tokohnya dan lebih fokus ke cerita (jadi yang baca jangan anggep yang aneh-aneh dulu). Disini gak akan ada LIME/LEMON jadi sorry kalo gue mengecewakan para fujoshi di luar sana (salah satunya adek gue), tapi cuma ini yang terbaik yang bisa gue ketik.

Warning : T rate, Sho-ai, bahasa kadang gak baku.

Genres : Romance/Drama/Humor/Hurt/Comfort/School-life.

Pairing : SasukeXNaruto/SaiXNaruto/ItachixNaruto.

Disclaimer : Tokoh-tokoh Naruto semuanya bukan punya gue tapi Masashi Kishimoto.


Brother Can Not Be Lovers

Chapter 1

New Friend

.

.

-ooo-

Hai, nama gue Naruto Namikaze (16 tahun) dan mulai hari ini gue resmi menyandang nama Uchiha, karena ibu gue Namikaze Kushina yang sekarang menjadi Uchiha Kushina menikah dengan seorang duda bernama Fugaku Uchiha, dan memiliki tiga orang anak bernama Itachi Uchiha (21 tahun), Sai Uchiha (17 tahun) dan Sasuke Uchiha (16 tahun). Mereka semua baik kecuali Uchiha Sasuke! Dia sangat menyebalkan dan gue punya firasat buruk mengenai dirinya.

.

.

Senin pagi hari di keluarga Uchiha…

"Loh? Naruto kemana? Kenapa dia tidak ikut makan bersama kita?" tanya Fugaku di pagi itu yang bingung melihat Naruto belum bangun dari tidurnya.

"Ah, Naruto itu memang kebiasaan sekali! Maaf ya, anak itu memang susah sekali bangun pagi. Aku akan segera membangunkannya," ucap Kushina yang sedikit tidak enak dengan Fugaku. Dengan cepat wanita cantik itu bangkit dari tempat duduknya menuju kamar Naruto yang terletak di ujung lorong.

-ooo-

"Naruto! Ayo cepat bangun, mau sampai kapan kau tidur?" Kushina langsung saja menarik selimut Naruto dan berusaha untuk membangunkan anak pemalasnya itu. "Naruto ini hari pertamamu di sekolah baru, kan? Cepat bangun!" Kushina lalu mengguncang-guncangkan pemuda tersebut, berharap sang anak mau bangun dari tempat tidurnya tapi percuma, Naruto terus saja mendengkur. Kening Kushina mulai berkedut. Beberapa menit kemudian terjadi keributan dan jeritan suara Naruto dari ujung sana.

Kemudian…

.

"Cepat habiskan makananmu Naruto! Jangan sampai telat!" kata Kushina yang menyuruh Naruto untuk cepat menghabiskan sarapannya. Sedangkan Naruto terlihat mengangguk menurut dengan perkataan Kushina dan terlihat ada tingkatan benjol di atas kepalanya.

"Aku sudah selesai." Kata Sasuke sambil meletakkan mangkuk makanannya, kemudian dia berdiri hendak keluar dari rumah.

"Sasuke kau tidak berangkat dengan Naruto?" tanya Fugaku yang heran melihat sikap putra bungsunya itu.

"Hari ini aku harus masuk lebih awal, ada seleksi pemilihan anggota basket. Aku pergi dulu." Jawab Sasuke dengan cuek, sebenarnya dia berbohong karena dia sama sekali tidak berniat untuk ikut seleksi anggota tim basket. Dia hanya malas pergi berangkat sekolah dengan Naruto.

"Ah… Maafkan Sasuke ya, Kushina," ucap Fugaku yang jadi merasa tidak enak dengan Kushina atas sikap Sasuke barusan.

"Ah, tidak apa-apa! Aku bisa mengerti kok." Jawab Kushina sambil tersenyum dan bisa memaklumi sikap Sasuke.

"Kushina kau memang sangat pengertian seperti Mikoto!" kata Fugaku sambil menggenggam erat tangan Kushina.

"Fugaku jangan begitu ah, diliat anak-anak aku jadi malu!" balas Kushina dengan semburat merah di wajahnya. Sekarang keduanya malah asik bermesraan. Naruto yang melihatnya langsung memutar kedua bola matanya.

"Aku berangkat dulu ya!" kata Naruto yang memilih untuk segera berangkat daripada harus melihat kemesraan ibunya dengan ayah barunya yang belum layak jadi konsumsi anak seumuran dia.

"Eh? Sudah mau berangkat ya? Tapi apa kau tau jalan ke sekolah barumu?" tanya Fugaku yang sepertinya khawatir pada Naruto, takut kalau anak barunya itu nanti hilang di jalan.

"Naruto berangkat denganku saja." Sambar Sai sambil tersenyum.

"Oh, ya sudah kalau begitu," ucap Fugaku dengan lega kalau ada Sai yang pergi dengan Naruto.

"Kami berangkat dulu!" Sai dan Naruto segera berpamitan pergi ke sekolah.


Naruto dan Sai keluar dari rumah. Keduanya berjalan bersama dan pergi menuju stasiun. Sepanjang perjalanan menuju stasiun tak ada satupun dari mereka yang berbicara. Naruto hanya berjalan di samping Sai tanpa banyak berkomentar. Sebenarnya dia ingin sekali mengajak Sai berbicara karena diantara ketiga saudara Uchiha, Sai lah yang paling terlihat ramah dan sopan.

"Errr… E-eto… Sa-Sai… Bo-boleh tidak kalau aku memanggilmu dengan sebutan 'Nii'?" akhirnya Naruto memberanikan diri juga untuk bertanya pada Sai.

"Hm? Boleh saja, kenapa tidak?" balas Sai dengan ramah. Lalu dia memalingkan wajahnya melihat Naruto. Tampak pemuda di sebelahnya sedang tertunduk malu. Sai yang merasa gemas dengan sikap Naruto langsung mengacak rambut Naruto sambil berkata "Kau tidak usah sungkan kepadaku Naruto. Kau, kan sudah menjadi bagian dari keluarga kami".

"Te-terima kasih!" jawab Naruto dengan senang, dia benar-benar bahagia sekali karena bisa diterima oleh Sai. 'Andai saja dia juga dapat menerimaku seperti ini… ' batin Naruto yang secara tak sadar memikirkan Sasuke dan membandingkannya dengan Sai. 'Ah, kenapa aku harus memikirkan orang menyebalkan itu! Peduli apa sama dia?' batin Naruto lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sedikit.

"Wah, kita hampir telat. Apa kau siap untuk lari Naruto?" kata Sai secara tiba-tiba sambil menyunggingkan senyum.

"Lari? Siapa takut!" balas Naruto yang malah bersemangat setelah mendengar ucapan Sai barusan.

"Kau siap? Satu… Dua… Tiga!" Sai memberi aba-aba dan dalam hitungan ketiga, mereka berdua segera berlari cepat menuju stasiun.

-ooo-

Di stasiun…

.

"Hah… Hah… Hah… Aku yang menang!" kata Naruto mendeklarasikan kemenangannya meskipun napasnya sudah tersengal-sengal karena kelelahan.

"Hah… Hah… Kau memang hebat Naruto… Hah… Hah… " balas Sai yang mengaku kalah dari Naruto. "Ayo cepat beli tiketnya, nanti antriannya keburu panjang!" Sai langsung menyambar tangan Naruto dan keduanya setengah berlari menuju loket tiket kereta api.

Setelah membeli tiket, keduanya segera berdiri dan menunggu datangnya kereta. Dan Naruto dari arah yang berlainan melihat seorang anak lain yang sepertinya juga sedang menunggu kereta. Kalau dilihat dari baju seragam anak itu, kelihatannya dia satu sekolah dengan Naruto. Pemuda itu memiliki kulit putih pucat dengan rambut merah yang cukup mencolok, sejak tadi anak itu terus menundukkan wajahnya, membuat Naruto penasaran saja.

"Sai-nii… " Naruto menarik lengan baju Sai yang sedang membaca sebuah buku di sampingnya.

"Ada apa Naruto?" tanya Sai sambil mengintip Naruto dari balik bukunya.

"Kau tau siapa anak itu?" Naruto menunjuk ke arah tempat anak itu berdiri tadi.

"Anak itu? Anak yang mana?" tanya Sai heran sambil mengernyitkan alis sambil mencari-cari anak yang dimaksud Naruto. "Aku tidak melihat siapapun disana Naruto," ucap Sai yang tidak melihat satu orang pun yang berdiri disana.

"He? Tadi ada kok disana!" balas Naruto yang kaget melihat anak itu sudah tidak ada. 'Kemana perginya ya?' batinnya bingung sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok tersebut.

Perhatian… perhatian… Kereta dengan jurusan Sunagakure high school akan segera tiba. Harap bagi para penumpang untuk bersiap-siap dan jangan sampai melewati garis batas menunggu.

Terdengar suara dari mikrofon yang mengatakan kereta berikutnya akan segera tiba. Dan tak lama, kereta itu datang, meluncur cepat dari arah ujung kanan.

"Ayo cepat kita naik!" kata Sai yang kembali menarik Naruto untuk segera naik ke dalam.

Ting…

Pintu kereta terbuka, Naruto dan Sai segera masuk ke dalamnya.

"Hoaammzz… Akhirnya bisa duduk juga. Naruto bangunkan aku kalau sudah sampai ya." Kata Sai yang langsung merebahkan kepalanya di pundak Naruto.

"E-eh? S-Sai-nii… Sai-nii ayo bangun… " Naruto langsung kaget karena tiba-tiba saja Sai merebahkan kepalanya di atas bahunya. Karena tidak biasa, Naruto berusaha untuk membangunkan Sai tapi pemuda yang sudah resmi menjadi kakaknya itu tidak terbangun juga. 'Hah… Ya sudahlah.' Batin Naruto yang merasa tidak tega melihat Sai. Dia melirik buku yang masih dalam pegangan Sai dan mengambil buku tersebut. 'Dia pasti belajar semalaman sampai mengantuk seperti ini… ' Naruto membuka buku pelajaran Sai yang berisi rumus-rumus matekmatika, dia yakin sekali Sai kelelahan karena belajar sampai larut malam.

.

.

30 menit perjalanan akhirnya Naruto sampai juga dipemberhentian tujuannya.

"Sai-nii bangun, kita sudah sampai… Sai-nii… " dengan hati-hati Naruto membangunkan Sai, dia tak ingin sampai membuat pemuda di sebelahnya ini jadi terkejut.

"Hmm… Sudah sampai ya?" tanya Sai yang akhirnya terbangun juga. Dia mengerjapkan matanya sebentar lalu membetulkan posisi duduknya. Dia terlihat masih setengah menguap. "Ayo kita turun." Katanya lagi yang langsung berdiri dari bangkunya dan mengajak Naruto untuk turun.

-ooo-

Keduanya turun dari kereta dan masuk ke dalam stasiun. Naruto terus mengikuti Sai dan berjalan di sampingnya, sampai akhirnya mereka tiba di sekolah Sunagakure high school. Baru sampai depan gerbang pintu sekolah tiba-tiba saja Naruto dikejutkan oleh suara teriakan para anak perempuan yang ada disana.

"KYAAAA SAI-SAMA SUDAH DATANG!" begitulah kira-kira teriakan para gadis itu, dan Sai langsung melempar senyum kepada gadis-gadis itu.

"KYAAAAA~~" gadis-gadis itu semakin histeris saja melihat Sai tersenyum seperti itu. Naruto yang melihatnya mendadak jadi grogi, dia tidak menyangka kalau Sai itu banyak sekali penggemarnya. Diam-diam Naruto bergerak mundur ke belakang berusaha menjauh dari Sai.

"Jangan pergi dariku Naruto." Kata Sai yang mengetahuinya kalau Naruto berniat untuk memisahkan diri darinya. Dengan cepat Sai menarik tangan Naruto dan menggenggamnya erat. Naruto tak bisa berkomentar apa-apa, dia hanya menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan rona wajahnya yang pasti saat ini sudah menghiasi wajahnya saat ini.

'Kenapa gue jadi deg-degan?' tanya Naruto pada dirinya sendiri dengan bingung.

"Sai-sama, siapa anak ini? Kenapa dari tadi Sai-sama terus-menerus memegang tangannya?" tanya salah seorang anak perempuan berambut merah muda dengan sulur poni yang menghiasi wajahnya.

"Namanya adalah Uchiha Naruto dan dia adalah anak ke empat dari Uchiha, dia adikku!" jawab Sai sambil mendorong Naruto lebih maju ke depan dan merangkulnya dari belakangnya.

"Eh? Anak ke empat dari Uchiha? Kok kami belum pernah dengar ceritanya ya?" tanya gadis lain yang merasa yakin kalau anak laki-laki Uchiha itu hanya ada tiga orang.

"Ibunya Naruto menikah dengan ayahku, dan berganti nama menjadi Uchiha." Jawab Sai menjelaskan sedikit kenapa Naruto bisa hadir di tengah-tengah keluarga Uchiha. Semua gadis yang ada disana langsung ber'oooooh' ria sambil manggut-manggut mengerti.

"Ayo kita masuk Naruto!" Sai langsung saja kembali menyeret Naruto masuk ke dalam sekolah.

Tanpa Naruto sadari dari balik jendela terlihat Sasuke yang sedang memperhatikannya dengan tatapan mata serius. Sesekali dia berdecih kesal melihat Naruto yang terlihat akrab dengan Sai.

"Siapa dia Sasuke?" tanya seorang pemuda berambut biru pucat yang sedang memainkan bola basket di sebelah Sasuke.

"Bukan siapa-siapa." Balas Sasuke datar sambil memalingkan wajahnya dari jendela dan kembali ke bangkunya. Suigetsu hanya mengernyitkan dahi dengan bingung.

"Kenapa dia?" tanya Suigetsu bingung kepada Jugo.

"Mana kutau!" balas Jugo cuek sambil mengangkat bahu.

"Ah, elo mah apa juga gak pernah ada yang lo tau!" sambar Suigetsu yang kesal dengan jawaban Jugo, dia melempar bola basket ke kepala Jugo membuat mengelus jidatnya yang memerah.


Di dalam kelas...

.

.

"Anak-anak hari ini kita akan kedatangan dua orang murid baru, silahkan masuk!" kata seorang guru berambut hitam pendek yang mengatakan kalau kelas mereka akan kedatangan murid baru.

Dari arah luar muncul Naruto juga seorang anak laki-laki lainnya yang tadi pagi dilihat Naruto di stasiun.

"Silahkan perkenalkan nama kalian pada teman-teman di kelas," ucap guru tersebut dengan ramah mempersilahkan kedua anak laki-laki itu untuk memperkenalkan dirinya masing-masing.

"Namaku Uchiha Naruto, aku pindahan dari Konohagakure. Mohon bantuannya!" kata Naruto sambil membungkukkan dirinya. Jujur dia sangat nervous apalagi dengan tatapan teman-teman di kelasnya begitu dia menyebutkan nama Uchiha. Dapat terdengar bisik-bisik dari murid lainnya.

"Namaku Sabaku Gaara, dan ini pertama kalinya aku bersekolah di sekolah umum seperti ini, jadi mohon bantuannya," ucap anak laki-laki itu yang ternyata bernama Gaara.

"Baiklah kalau begitu, Gaara, Naruto. Kalian bisa duduk di bangku kosong yang ada di tengah sana." Shizune mempersilahkan Gaara dan Naruto untuk segera duduk sambil menunjuk bangku kosong yang ada di tengah bagian belakang. Tanpa banyak bicara keduanya segera menuju bangku tersebut.

Pengalaman apa yang akan dialami Naruto di hari pertamanya sekolah? Dan apakah Naruto bisa berteman baik dengan teman sebangkunya yang bernama Gaara? Mengapa sikap Sasuke begitu tidak bersahabat dengan Naruto?

TBC...


Riku : Gue menerima semua saran, kritik, pendapat kirim review or PM. Dan untuk cerita ultah khusus untuk adek gue, gue gak menerima flame. Dan maaf kalo banyak typos, soalnya jujur gue ngetik ini dalam keadaan bad mood, gue lagi kesel karena gue itu lama banget dalam hal ngetik dan publish! Kesel sendiri jadinya... Dan thanks buat yang menyempatkan diri untuk baca cerita ini, siapapun anda.

Gue cuma mau mengingatkan mungkin cerita ini akan didominasi dengan pemeran cowok ketimbang pemeran ceweknya, buat yang gak suka bisa klik back. Dan untuk pair gue sendiri bingung, karena adek gue yang minta pair kayak gitu, akhir pairnya biarlah ditentukan oleh reader dan adek gue sendiri (nanti setelah dia baca) mau kayak gimana. Yang punya kandidat lain boleh PM gue.

.

.

"Thanks for reading".