Warning : T rate, Sho-Ai, bahasa gue suka seenaknya.
Pairing : NarutoXSasuke/NarutoXSai/NarutoXItachi ( I still have no idea for the main pairing, need suggestion).
Disclaimer : They're belong to Masashi Kishimoto.
Genres : Drama/Schoo-life/Romance/Hurt/Comfort/Humor.
This fic dedicated for our lovely sister (she's a fujoshi, so she asking me to write Sho-Ai story).
My first Sho-Ai, enjoy it.
Brothers Can Not Be Lovers
Chapter 2
(Who's Ayame?)
.
.
"Uh, Gaara salam kenal ya! Dan mohon bantuannya!" kata Naruto berusaha untuk bersikap ramah pada teman sebangkunya, karena mulai sekarang dan kedepannya mereka bakalan jadi partner sebangku, tentu Naruto gak mau punya masalah sama teman barunya ini.
"Iya, mohon bantuannya juga." Balas Gaara dengan datar dan menatap Naruto sekilas, kemudian dia kembali memalingkan lagi wajahnya dari Naruto.
Selama di dalam kelas Gaara tak banyak bicara. Dia terlihat sangat fokus pada materi pelajaran yang disampaikan oleh guru mereka, sedangkan Naruto sudah asik menguap sejak tadi karena merasa bosan. Naruto melihat kesekeliling ruangan kelas dan melihat beberapa anak-anak di dalam kelas. Hampir sebagian dari mereka asik ngobrol sendiri sama teman sebangkunya kecuali dirinya.
'Dia pendiam sekali… ' Batin Naruto sambil melirik Gaara yang sedang asik mencatat.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Gaara yang tau kalau Naruto saat ini sedang memperhatikannya, meskipun dia tidak mengalihkan pandangannya dari buku catatan serta papan tulis.
"Eh?" Naruto langsung kaget, tak menyangka kalau Gaara akan menyadarinya. "Ti-tidak ada apa-apa, hehehehe," ucap Naruto sambil cengengesan dan membatin 'Apa dia punya mata ketiga di belakang kepalanya itu?'.
"Kalau kau punya banyak waktu untuk melihatku, lebih baik kau gunakan untuk mencatat, karena aku tidak mau meminjamkan buku catatanku padamu." Balas Gaara dengan dingin.
"Huh… Iya-iya, gue bakal mencatat! Lagian siapa juga yang mau minjem buku catatan lo!" jawab Naruto sambil mendengus kesal, ternyata Gaara sama menyebalkannya seperti Sasuke.
-ooo-
Ding… Dong… Ding… Dong…
Akhirnya bel istirahat yang dinanti tiba juga setelah melewati dua jam penuh kesunyian. Semua murid berhamburan keluar buat menyerbu kantin sekolah pastinya, termasuk Naruto yang berniat untuk mencari makanan di bawah, karena tadi pagi dia makan hanya sedikit dan sekarang dia jadi kelaparan. Belum sempat Naruto merapihkan semua bukunya, tiba-tiba saja tiga orang gadis sudah menghampirinya.
"Hei Naruto, boleh ngobrol sebentar?" tanya seorang gadis berambut pirang panjang dengan bagian poninya yang menutupi sebelah wajahnya, tapi meskipun begitu tetap saja dia terlihat cantik.
"Ma-mau ngobrol apa ya?" tanya Naruto sedikit merasa grogi karena dikelilingi gadis-gadis.
"Sebelumnya kenalkan dulu, namaku Yamanaka Ino. Yang ini adalah Haruno Sakura dan yang satu lagi adalah Hyuuga Hinata." Ino langsung memperkenalkan dirinya juga kedua gadis lainnya pada Naruto.
"Hai." Balas gadis berambut pink yang berdiri di sebelah Naruto dengan sedikit angkuh.
"Sa-salam kenal Na-Naruto-kun… " Balas yang satunya lagi sedikit menunduk malu-malu, Naruto dapat melihat semburat merah muncul di kedua pipi gadis itu.
"Iya, salam kenal juga semuanya." Naruto juga membalas perkenalan itu dengan sedikit membungkuk, setidaknya dia berusaha bersikap sopan pada ketiga gadis itu.
"Hn." Gaara segera berlalu dari sana, sepertinya dia tidak ingin ikut campur ke dalam perbincangan basa-basi seperti itu. dengan gaya yang cuek dia melengos pergi keluar kelas.
"Huh, dasar tidak sopan!" desis Ino merasa sedikit kesal diacuhkan oleh Gaara, dan ini pertama kalinya ada anak laki-laki yang bisa cuek terhadap mereka. Ayolah, mereka bertiga adalah cewek paling popular di sekolah dan banyak cowok yang mengejar mereka. Sikap Gaara yang seperti itu sudah menjatuhkan harga diri mereka, tapi ya sudahlah, Ino bisa sedikit bersabar karena saat ini mereka bertiga punya misi penting.
"Katanya kalian tadi ingin bicara denganku?" tanya Naruto sedikit tidak sabar, dia benar-benar lapar saat ini dan ingin segera ke kantin sebelum makanannya habis dilalap murid-murid lain.
"Oh, iya-ya! Maaf!" balas Ino yang sepertinya kembali ingat akan tujuan awalnya mendekati Naruto. "Tadi saat perkenalan kami dengar kau bernama Naruto Uchiha, itu berarti kau satu keluarga dengan Uchiha bersaudara?" tanya Ino untuk memastikan dugaannya semoga yang dia maksud itu tidak salah.
"Iya, aku resmi menjadi satu keluarga dengan Uchiha bersaudara karena ibuku menikah dengan ayah mereka." Jawab Naruto menerangkan kenapa dia bisa menjadi saudara dari Uchiha.
"Hwaaa, bagus sekali kalau begitu!" tiba-tiba saja Ino menjerit senang, raut wajahnya terlihat bahagia, begitu juga dengan dua gadis lainnya yang tampak berbinar-binar.
"Ada apa memangnya?" tanya Naruto yang mendadak saja punya perasaan tidak enak.
"Sebenarnya kami sedang mencari orang sepertimu untuk membantu kami!" sambar gadis berambut pink itu sambil menggebrak meja, hampir saja jantung Naruto copot dibuatnya, tiba-tiba saja gadis itu berubah menjadi antusias seperti ini.
"Membantu kalian? Membantu kalian untuk apa?" tanya Naruto penasaran, apa sih yang direncanakan ketiga gadis itu.
"Bantu kami sebagai perantara untuk mendekati Uchiha bersaudara, yah!" balas Ino langsung memasang puppy eyes ke Naruto.
"A-apa? Ta-tapi… Gue harus bantu gimana?" tanya Naruto bingung sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Kau cukup jadi perantara kami saja, mudah kan? Tolonglah, soalnya kami bertiga sudah menyukai Uchiha bersaudara sejak lama! Pertama aku, aku sudah suka sama Sai sejak pertama kali melihatnya, lalu Sakura, dia menyukai Sasuke dan Hinata juga ingin sekali bisa dekat dengan Itachi. Jadi bantulah kami bertiga Naruto." Jelas Ino panjang lebar mengenai perasaan mereka terhadap ketiga Uchiha bersaudara itu.
"Tapi kenapa tidak lakukan sendiri?" tanya Naruto semakin bingung kenapa harus membutuhkan perantara, mereka bertiga bisa dikatakan sangat cantik, pasti mudah bagi mereka untuk mendapatkan cowok manapun di sekolah termasuk Uchiha bersaudara, kan.
"Kalau kami bisa pasti sudah kami lakukan sendiri Naruto! Pokoknya kamu harus bantu kami!" timpal Sakura yang sedikit kesal dengan kelemotan otak Naruto dan sedikit memaksanya untuk membantu.
"Baiklah-baiklah akan kubantu!" jawab Naruto yang merasa sudah tak ada pilihan lain lagi. Dia tidak mau sampai cari perkara dengan ketiga cewek ini, karena dia masih teringat perkataan Shikamaru teman sekolahnya di Konohagakure, yang selalu bilang kalau wanita itu bisa sangat menakutkan kalau sedang marah. Jadi lebih baik dia menurut saja daripada jadi bulan-bulanan di kelas.
"Kau baik sekali Naruto! Terima kasih ya!" sambar Ino sambil menepuk tangannya dengan riang. Tak terasa mereka sudah mengobrol cukup lama sampai bel istirahat berakhir berbunyi.
KRIIIIIIIIIIINNGGGG… KRIIIIIIINNNNGG!
"Ah, kok sudah bel? Gue kan belum sempet makan!" gerutu Naruto dengan kesal.
Kruyukkk…
Perut Naruto berbunyi tanda dia saat ini benar-benar sangat membutuhkan asupan gizi.
"Aku lapar… " Keluhnya sambil memegangi perutnya yang sedang menagih untuk di isi makanan.
Pluk…
Sebuah roti dilemparkan ke atas meja oleh Gaara yang baru saja datang dari kantin.
"Kau lapar, kan? Makanlah," ucapnya memberikan roti itu kepada Naruto.
"He? Ini benar-benar untukku? Hwa, ternyata kau ini baik ya, Gaara!" seru Naruto dengan senang dan tak menyangka kalau Gaara akan membelikan roti untuknya.
"Cepat dihabiskan sebelum guru masuk ke kelas." Balas Gaara menyuruh Naruto untuk cepat memakannya sebelum pelajaran kembali dimulai.
'Nyemm… Ini enak sekali… ' Naruto memakan roti itu dengan senang. "Oh, iya Gaara. Tadi saat perkenalan aku mendengar kalau ini pertama kalinya kamu sekolah disekolahan umum, ya? Berarti selama ini kamu home schooling?" tanya Naruto yang sedikit penasaran apa maksudnya dengan pertama kali sekolah di sekolahan umum.
"Yah, aku home schooling." Jawab Gaara datar.
"Kenapa memilih home schooling? Padahal lebih enak di sekolahan umum, kan? Di sekolah umum bisa punya banyak teman." Balas Naruto yang heran ternyata masih ada yang memilih untuk home schooling daripada ke sekolahan umum.
"Aku tak butuh teman." Balas Gaara dengan dingin.
'Kenapa dia aneh sekali?' batin Naruto yang merasa heran dengan perkataan Naruto barusan, dia tampak mengernyitkan dahi sambil memiringkan kepalanya.
"Betulkan posisi dudukmu Naruto, gurunya sudah datang," ucap Gaara menyuruh Naruto untuk duduk dengan benar.
Pulangnya…
.
.
"Naruto!" muncul Sai yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu kelas Naruto.
"Sai-nii!" balas Naruto langsung melambaikan tangannya ke arah Sai dengan riang. Dengan setengah berlari Naruto segera menghampiri Sai di depan pintu kelas.
"Kok bisa tau kalau kelasku disini?" tanya Naruto yang bingung kenapa Sai bisa langsung tau ruangan kelasnya.
"Oh, tau dari Shizune-sensei. Kelasmu sudah selesai, kan? Ayo kita pulang!" kata Sai sambil menunjuk Shizune yang sudah berjalan agak jauh, dia lalu mengajak Naruto untuk pulang bersamanya.
"Tentu saja! Eh, tapi tunggu dulu!" balas Naruto dengan bersemangat, tapi tiba-tiba saja Naruto kepikiran sama Gaara. Dia memutuskan untuk mengajak teman barunya itu untuk pulang bersama, jadi dia meminta Sai untuk menunggunya sebentar, dan dia lari lagi ke meja duduknya menemui Gaara.
"Gaara, kau mau pulang bersama kami?" tawar Naruto berharap Gaara mengiyakan ajakannya.
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri." Jawab Gaara yang sepertinya tidak berminat dengan ajakannya. Pemuda berambut merah itu segera menenteng tasnya dan pergi keluar kelas dan melewati Sai yang menatapnya dengan tatapan ingin tau.
Mendengar jawaban Gaara yang dingin terhadapnya membuat Naruto merasa kecewa. Dengan lunglai Naruto berjalan menuju arah Sai.
"Siapa dia?" Sai menanyakan Gaara kepada Naruto.
"Dia itu teman satu bangku… Tadinya aku ingin mengajaknya pulang bersama, tapi ternyata dia menolaknya… Hahhh... " Naruto menghela napas berat, tampak sekali gurat kekecewaan di wajahnya.
"Jangan sedih Naruto, kau bisa mengajaknya lain kali, kan? Ayo pulang!" ajak Sai sambil menepuk pelan kepala Naruto dengan lembut, dan perlakuan Sai ini membuat sebagian anak perempuan yang melihatnya jadi iri dengan posisi Naruto saat ini. Salah satunya Ino yang harus menggigit ujung dasinya.
"Hn… Kalian berdua sedang apa? Ayo pulang!" muncul Sasuke yang berada di depan kelasnya (kelas dia sebelahan sama kelas Naruto). Dia memanggil Sai dan juga Naruto dengan setengah berteriak.
"Sepertinya Sasuke udah gak sabar menunggu! Dia pasti sudah kangen rumah!" balas Sai setengah meledek Sasuke sambil senyum-senyum.
"Hn." Balas Sasuke dengan cuek lalu segera balik badan dan jalan duluan meninggalkan keduanya. Sai langsung mengejar Sasuke sambil menyeret Naruto yang bingung harus bersikap bagaimana.
-ooo-
Di perjalanan pulang…
.
"Bagaimana hari pertamamu tadi di kelas Naruto?" tanya Sai di tengah perjalanan. Sepertinya dia berusaha mencairkan suasana diantara Sasuke dan Naruto.
"Lumayan menyenangkan, dan aku dapat teman baru! Namanya Gaara, dia cukup baik walaupun sedikit pendiam," ujar Naruto yang mulai bercerita dengan semangat. Sai hanya mendengarkan celotehan Naruto dengan senyuman, sedangkan Sasuke hanya memasang wajah datar sambil sesekali melihat Naruto yang terlihat begitu antusias.
"Gaara? Anak yang tadi, ya? kelihatannya dia satu tipe dengan Sasuke." Balas Sai sambil mengingat kembali anak berambut merah yang sempat berpapasan dengannya di depan pintu ruangan kelas.
"Jangan samakan aku dengan orang lain." Kata Sasuke dengan dingin, merasa tidak terima karena disamakan dengan orang lain.
"Dia tidak sama denganmu, karena Gaara jauh lebih baik darimu!" sambar Naruto sedikit ketus pada Sasuke. Menurutnya Gaara cukup bersahabat walaupun dia sedikit cuek dan pendiam, berbeda dengan Sasuke yang selalu bersikap dingin dan kasar padanya tanpa suatu alasan yang jelas.
"Paling-paling dia hanya orang bodoh yang mau berteman denganmu," sambung Sasuke dengan kata-kata yang cukup menusuk untuk Naruto.
"Cukup! Jangan menghina temanku!" akhirnya Naruto berteriak marah pada Sasuke. Kemudian dia berlari mendahului keduanya.
"Naruto tunggu! Sigh… Kau keterlaluan Sasuke!" kata Sai sambil menghela napas berat, lalu dia ikut berlari mengejar Naruto.
-ooo-
Naruto berlari terus meskipun Sai yang berada di belakangnya terus memanggilnya untuk berhenti. Untuk suatu alasan yang dia tak mengerti, Naruto berharap kalau yang mengejarnya adalah Sasuke untuk meminta maaf, tapi tampaknya itu hanyalah sebuah angan saja, karena Sasuke terlalu angkuh untuk melakukan hal itu.
"Aku pulang!" kata Naruto yang masih setengah berlari sambil membuka pintu pagar rumah. Dengan sedikit tergesa Naruto meraih kenop pintu, tapi ternyata pintu sudah terbuka dari dalam dan terlihat Itachi yang keluar dari dalam sambil memegang handphone. Tampaknya pemuda berambut panjang itu sedang berbicara dengan seseorang, Itachi terlihat sangat buru-buru sekali. Dia berlari menuju garasi dan melewati Naruto begitu saja seperti tak menyadari kehadirannya disana.
"Apa? Kenapa kau biarkan dia melakukan tindakan bodoh seperti itu? Baiklah, aku akan segera kesana!" setelah mengatakan itu, Itachi langsung memasukkan handphone-nya ke dalam saku celana, kemudian dia langsung memundurkan motornya dari garasi.
"Kau… Mau kemana Itachi?" tanya Sai yang sudah berdiri di samping Itachi. Dia melihat Itachi tak seperti biasanya, dia telihat panik dan kepanikannya tergambar jelas di raut wajahnya.
"Oh, Sai… Aku harus pergi ke rumah Ayame… Kau tau kan, kalau gadis itu suka nekat. Aku pergi dulu, ya." Jawab Itachi menjelaskan kalau dia ingin pergi ke rumah Ayame. Setelah Itu Itachi memakai helm merahnya dan langsung pergi.
'Ada apa dengan Sai-nii… ?' batin Naruto bertanya bingung melihat Sai yang masih berdiri mematung di depan garasi menatap Itachi yang sudah pergi jauh. Pemuda itu terlihat sangat sedih.
"Sai-nii… " Sebenarnya Naruto ingin sekali mengatakan sesuatu yang dapat membuat Sai tersenyum kembali, tapi dia bingung harus bicara apa, dan kata-katanya terputus di tengah jalan begitu saja.
"Ayo kita masuk Naruto," ucap Sai dengan lemah. Dengan langkah sedikit gontai pemuda itu masuk ke dalam rumah.
Apa hubungan gadis yang bernama Ayame itu dengan Itachi? Dan apa yang terjadi padanya, kenapa Itachi bisa sepanik itu? Lalu kenapa Sai terlihat begitu sedih begitu mendengar nama Ayame?.
TBC…
Riku : Ini bener-bener sesuatu yang masih baru buat gue, jadi yang punya pendapat, saran ataupun ide serta kritik jangan sungkan keluarkan semuanya bisa lewat review ataupun pendapat, yang mau usul untuk pair gue terima dengan tangan terbuka. Untuk pairing gue sendiri belum dapet gambaran bakalan gimana. Tapi inti dari fic ini mengisahkan tentang perasaan empat orang cowok yang terikat dalam suatu hubungan keluarga dan berusaha untuk melampaui batas-batas itu. Dan gue dengan tegas mengatakan NO LIME/LEMON, karena gue tak sanggup mengetik 'hal seperti itu' jadi buat adek gue, sorry banget kalau mengecewakan.
.
.
"Thanks for reading".
