Warning : T rate, Sho-Ai, bahasa gue suka seenaknya.

Pairing : SasukeXNaruto/NarutoXSai/NarutoXItachi/ItachiXSai/Slight ItachiXAyame. (untuk pair selanjutnya silahkan baca aja sendiri).

Genres : Drama/Romance/Humor/Hurt/Comfort.

Disclaimer : They're belong to MK (Masashi Kishimoto).

My first Sho-Ai, request from my sister, please enjoy.

Brothers Can Not Be Lovers

Chapter 3

(What the hell?)

.

.

Begitu masuk ke dalam Sai langsung naik ke atas tangga menuju kamarnya, Naruto menatapnya dengan sedikit cemas. Sebenarnya dia ingin sekali menyusul Sai dan menanyakan keadaannya tapi dia tidak berani, dia takut dianggap terlalu mencampuri urusan orang lain.

"Itachi kemana?" tanya Sasuke yang baru saja masuk, dia melihat kalau motor Itachi tak ada di garasi.

"Dia pergi ke tempat orang yang bernama Ayame-" baru saja Naruto menyebutkan nama Ayame, Sasuke langsung terlihat kesal. Dia berlari menuju ruangan tamu, hal ini membuat Naruto semakin bingung saja. Kenapa reaksi Sasuke sama anehnya dengan reaksi Sai saat mendengar nama Ayame disebut. Naruto mengintip Sasuke dari balik pintu.

"Ck, si bodoh itu… Apa dia masih berhubungan dengan orang itu?" terlihat Sasuke yang sedang berusaha untuk menelpon dan sepertinya dia sedang menelpon Itachi. Raut mukanya menandakan kalau dia sedang marah saat ini. "Kenapa tidak diangkat juga?" Sasuke terlihat mulai tak sabar. Dia kembali memencet nomor Itachi dengan agak kasar.

Kegiatan memencet-mencet nomor Itachi berlangsung sampai beberapa menit sampai pada akhirnya Sasuke merasa bosan sendiri karena tak adanya respon dari sang pemegang telpon.

"Sial!" omel Sasuke yang kemudian membanting gagang telponnya dengan penuh amarah.

"Mungkin Itachi sedang dalam perjalanan atau sedang sibuk… Jadi-" sebenarnya Naruto ingin sekali mencoba menenangkan Sasuke yang sudah emosi itu, tapi omongannya diputus oleh Sasuke dengan kasar.

"Sedang sibuk kau bilang? Bagaimana mungkin dia bisa sibuk bersama dengan wanita yang sudah menyakitinya!" teriak Sasuke kepada Naruto dan meluapkannya kepada pemuda itu.

"A-aku kan sama sekali tidak tau… Aku hanya mencoba untuk-" balas Naruto dengan sedikit takut, dia sama sekali tak menyangka kalau Sasuke akan membentaknya seperti ini. Tapi lagi-lagi omongannya diputus dengan kasar oleh Sasuke lagi.

"Kau memang tidak tau apa-apa, karena kau bukan siapa-siapa! Jadi berhentilah bersikap sok tau seperti itu!" sambar Sasuke yang tanpa sengaja meluapkan emosinya kepada Naruto.

"… Aku memang bukan siapa-siapa disini… Aku minta maaf!" balas Naruto sambil menunduk tanpa berani menatap Sasuke, lalu pemuda itu berbalik dan berlari meninggalkan Sasuke disana.

"Ck… Kurasa aku tadi salah bicara… " Sasuka langsung menepuk keningnya karena baru menyadari apa yang baru saja dia katakan, sungguh sebenarnya dia tidak bermaksud untuk mengatakan hal itu pada Naruto, dia benar-benar tidak sengaja. Sasuke kemudian beranjak dari tempatnya untuk menyusul Naruto.

Disisi yang lain, Sai sedang mengurung dirinya sendiri di dalam kamar. Pemuda itu terlihat sedang duduk sambil memeluk lututnya yang terasa lemas begitu dia tau Itachi pergi menemui Ayame.

"Itachi… " Gumam pemuda itu dengan lemah.


Di rumah kediaman Ayame...

.

.

"Bagaimana keadaan Ayame?" tanya Itachi yang akhirnya sampai juga di rumah Ayame. Disana sudah menunggu Konan dan Deidara yang sedang menjaga Ayame.

"Baguslah kau datang Itachi! Cepat temui Ayame!" kata Konan yang langsung menuntun Itachi untuk segera pergi ke kamar Ayame.

"Sejak tadi dia terus memanggil namamu Itachi" Deidara ikut menimpali perkataan Konan. Itachi hanya menoleh sedikit ke arah Deidara sambil mengerutkan kening, dalam pikiran Itachi saat ini adalah, Deidara berani sekali datang berdua bersama Konan saat ini, kalau sampai ketahuan Pein masalahnya pasti akan sangat runyam. Sudah bukan rahasia umum lagi kalau Konan berselingkuh dengan Deidara di belakang Pein. Itachi langsung menggeleng cepat, menjauhkan semua pikirannya tadi. Saat ini dia berdiri tepat di depan pintu kamar Ayame.

Krieett…

"Masuklah Itachi." Konan membuka pintu kamar tersebut sambil mempersilahkan Itachi untuk masuk ke dalam.

Itachi melangkahkan kakinya dengan pelan agar tidak mengganggu gadis itu, tapi kelihatannya gadis itu sudah terbangun sejak tadi.

"Itachi!" begitu melihat Itachi di dalam, gadis berambut coklat itu berusaha bangun dari tempat tidurnya.

"Ah, jangan banyak bergerak dulu!" sambar Itachi cepat dan langsung buru-buru menghampiri Ayame dan menyuruhnya untuk kembali tidur. "Tolong pikirkanlah kesehatanmu," ucapnya lagi meminta Ayame untuk tidak keras kepala kali ini.

"Tidak… Yang terpenting adalah kau datang kemari menemuiku! Aku sangat merindukanmu, Itachi… " Balas gadis itu sambil memeluk Itachi secara tiba-tiba dan terlihat ada sebuah senyuman tipis menghiasi wajah manisnya.

"Ayame, kenapa kau harus melakukan ini semua? Apa kau ingin mati?" tanya Itachi kenapa gadis itu bisa sampai nekad mau bunuh diri segala, dan hal itu membuatnya cemas.

"Aku rela melakukan apapun asal itu bisa membawamu kembali padaku." Balas Ayame yang sekarang sedang memejamkan matanya untuk merasakan pelukan Itachi.

"Ayame… Hubungan kita sudah lama berakhir… Aku kemari murni karena rasa cemasku sebagai seorang teman." Balas Itachi yang langsung melepaskan pelukannya dari Ayame. "Tapi kulihat kau sudah baik-baik saja sekarang, jadi aku permisi dulu." Itachi bergegas bangkit dari posisi duduknya di atas tempat tidur Ayame. Saat dia mencoba untuk pergi tiba-tiba saja tangan Ayame merangkul tangannya dengan kuat.

"Kumohon jangan pergi Itachi… Aku masih sangat mencintaimu… Aku membutuhkanmu," ucap gadis itu sambil memeluk tangan Itachi dan sedikit menyandarkan kepalanya.

"Tapi perasaanku sudah hilang sejak lama… Maaf Ayame… " Itachi dengan pelan melepaskan pelukan Ayame dari tangannya, tapi gadis itu melakukan hal yang tak pernah terduga.

"Kenapa kau masih tak mau mengerti juga!" mendadak gadis itu berubah menjadi agresif. Dia menarik tubuh Itachi membuatnya terjatuh di atas tempat tidurnya, dan Ayame kini memposisikan dirinya di atas tubuh Itachi. "Aku melakukan ini semua agar kau mengerti perasaanku! Aku tak ingin penolakan! Aku ingin kita bisa kembali bersama… Aku bahkan sudah memutuskan hubunganku dari Hidan dan juga Sasori hanya agar aku bisa kembali bersamamu!" gadis itu berbicara panjang lebar sambil marah-marah dan juga sesekali terisak. Perasaannya kini sudah campur aduk antara kesal, kecewa dan sedih atas sikap Itachi yang kembali menolaknya.

"Yang memutuskan hubungan itu bukan kau, tapi Hidan dan Sasori sendiri yang melakukannya. Mereka tau kalau kau hanya bermain-main dengan mereka. Jadi berhentilah bersikap egois seperti ini Ayame!" balas Itachi yang sedikit geram. Dia memang sangat mencintai Ayame, tapi itu dulu sekali sebelum akhirnya gadis itu mempermainkan perasaannya. "Sekarang, aku minta jangan ganggu aku lagi!" sambungnya sambil mendorong Ayame agar gadis itu menjauh darinya. Itachi dengan cepat berdiri.

"Kau keterlaluan!" kata gadis itu yang menarik tangan Itachi dan menggigit keras tangannya sampai terluka.

"Argh… Apa yang kau lakukan?" tanya Itachi sambil menatap bekas gigitan Ayame di tangannya yang sekarang mengeluarkan tetesan-tetesan darah.

"Itu adalah sumpahku! Aku akan membuatmu tak akan pernah melupakanku, dan aku akan melukai siapapun yang berani mengambilmu dariku!" balas Ayame sambil mengucapkan janji untuk kembali memiliki Itachi apapun yang terjadi.

"Kau sakit!" Itachi tak mau lama-lama berada disana, dia langsung saja pergi tanpa mempedulikan teriakan Ayame dari dalam.

Brak... !

Dengan kasar Itachi keluar dari kamar Ayame.

"Kalian berdua saja yang mengurusinya, aku sudah tak mau ikut campur lagi! Dan jangan pernah hubungi aku kalau terjadi apa-apa padanya!" kata Itachi yang terlihat sangat marah. Dengan langkah cepat pemuda itu meninggalkan rumah tersebut.


"Naruto, cepat buka pintunya!" kata Sasuke yang kini sedang berdiri di depan pintu kamar sambil mengetuk-ngetuk pintu, berharap Naruto segera membukakan pintu untuknya. Sedangkan di dalam Naruto hanya diam saja. Dia ingin sekali membukakan pintu untuk Sasuke karena dia tak ingin membuat pemuda itu marah lagi, hanya saja dia masih sangat kesal mengingat perkataan Sasuke.

"Naruto jangan egois! Ini kamarku juga, kan? Aku ingin masuk dan segera ganti baju, jadi cepat buka pintunya!" katanya lagi kali ini mengetuk pintu dengan lebih keras dari sebelumnya.

Cklek…

Terdengar seperti suara bunyi kunci yang diputar dari dalam. Tak lama Naruto membukakan pintu itu membiarkan Sasuke masuk ke dalam.

"Hn. Kau lama sekali," ucapnya datar dan lalu masuk ke dalam untuk berganti pakaian.

.

.

Tak lama Itachi akhirnya pulang juga. Itachi berhenti di depan pintu gerbang untuk turun dan membuka pintu tersebut. Dengan cepat dia membuka helm dan menggantungkan helm itu di sisi stang motor, lalu Itachi bergegas membuka pintu pagar. Setelah itu, Itachi memasukkan motor tersebut ke dalam garasi. Dia kembali menutup pintu gerbang lalu dengan terburu-buru masuk ke dalam rumah. Naruto dan Sasuke yang mengetahui Itachi sudah pulang segera menemuinya.

"Pulang juga rupanya?" cibir Sasuke yang sudah menunggu Itachi di depan pintu.

"Aku sedang tak ingin membahas apapun saat ini." Balas Itachi cepat dan langsung segera masuk ke dalam, saat dia berniat untuk naik tangga tiba-tiba saja Sai turun, sepertinya dia juga mendengar suara motor milik Itachi dan ingin pergi menemuinya.

"Ah… Sai tunggu!" kata Itachi setengah berteriak setelah melihat Sai yang kembali lagi berlari ke atas. Dengan cepat Itachi mengejarnya.

"Hn." Sasuke hanya menatap keduanya yang berlalu ke atas dengan cuek, lalu dia pergi keluar.

"Sasuke, kau mau kemana?" tanya Naruto heran melihat Sasuke diam saja. Apa dia tak khawatir kalau Itachi dan Sai bakalan bertengkar? Adik macam apa dia yang tidak mempedulikan kakaknya.

"Aku mau pergi mengerjakan tugas kelompok di rumah Suigetsu. Dan mungkin aku akan pulang malam." Jawabnya dengan santai sambil terus melangkahkan kakinya dan pergi keluar rumah.

'Aneh sekali. Dia pergi mau kerjain tugas kelompok tapi kok gak bawa buku sama sekali?' batin Naruto hanya bisa menatap heran, semakin lama dia semakin tidak mengerti dengan sikap Sasuke.

-ooo-

Di atas terlihat Itachi yang berusaha mati-matian untuk memberikan penjelasan kepada Sai.

"Sai tunggu dulu!" di lantai atas tampak Itachi sedang berusaha menahan Sai.

"Lepaskan!" balas Sai yang mencoba untuk menutup pintu kamar tapi tertahan oleh tangan Itachi yang memegang pintu tersebut.

"Tidak, sebelum kau mendengar kata-kataku!" jawab Itachi memaksa Sai untuk mendengarkannya. Pemuda itu kemudian memegang tangan Sai dengan agak keras.

"Itachi, tanganmu kenapa bisa terluka?" tanya Sai yang akhirnya malah terfokus dengan luka yang kini membekas di pergelangan tangan Itachi.

"Oh, ini… Wanita itu menggigit tanganku!" jawab Itachi sambil mendengus jengkel mengingat kejadian sebelumnya.

"Kau ini… Luka seperti itu harus segera diobati, kalau tidak akan infeksi! Tunggu disini aku akan mengambil kotak obat!" Sai setengah memarahi Itachi yang terlalu cuek dengan lukanya sendiri. Kemudian dia bergegas turun ke bawah untuk mengambil kotak obat yang diletakkan di dapur.

Drap… Drap… Drap…

Terdengar langkah kaki Sai yang berlari di lorong ruangan menuju dapur. Naruto sempat mengintip dari balik pintu kamarnya, melihat pemuda itu berlari dengan wajah panik.

Setelah mencapai dapur, Sai segera membuka lemari dinding dan mengambil kotak obat yang selalu disimpan disana. Dengan sedikit terburu-buru Sai mengambilnya dan tanpa sengaja menjatuhkan beberapa botol obat yang lain.

'Ah, jatuh lagi… ' Pikir Sai sambil menghela napas. Dia membungkuk untuk mengambil obat-obatan itu dan diletakkannya kembali di atas lemari tersebut.

"Apa kau begitu mencemaskanku Sai?" tanya Itachi yang tau-tau sudah berdiri di belakangnya, membuat Sai kembali menjatuhkan beberapa obat-obatan itu lagi.

"Te-tentu saja!" balas Sai sambil merapihkan obat-obatan itu lagi.

"Aku sangat senang mendengarnya… " Tanpa diduga Itachi memeluk Sai dari belakang, membuat pemuda itu mematung sejenak. Tapi sedetik kemudian dia sadar kembali.

"Berhenti main-main Itachi! Lukamu harus diobati!" balas Sai setengah memerintah. Dia meminta Itachi untuk duduk diam, dan Sai mulai bekerja. Dengan hati-hati dia membersihkan luka bekas gigitan itu dengan kapas dan alkohol, setelah itu ditetesinya obat merah dan dibalutnya tangan Itachi itu dengan perban kecil. Sai begitu serius dan teliti saat melakukannya, seolah dia sedang melakukan pengoperasian terhadap pasien gawat darurat.

Beberapa menit kemudian…

.

.

"Fiuh… Selesai juga," ucap Sai sambil bernapas lega dan menyeka sedikit keringat dipelipisnya.

BRUKH!

Itachi yang sedari tadi terus memperhatikan Sai akhirnya tak bisa menahan hasratnya untuk memeluk pemuda itu. dengan satu gerakan tiba-tiba dia merangkul Sai erat ke dalam pelukannya. Sai tak sempat memberi respon apa-apa untuk menghindar, begitu dia sadar, dirinya sudah larut ke dalam pelukan Itachi.

"Sai… Kumohon padamu percayalah padaku, karena aku… " Belum sempat Itachi mengatakan semua yang ingin dia katakan, Sai sudah mendorong Itachi ke belakang dan tanpa disengaja tangan Itachi mengenai kotak P3K yang ada di atas meja, membuat kotak obat itu terjatuh cukup keras di lantai dan menghamburkan isinya kemana-mana.

"Sudah kubilang jangan pernah membahas masalah itu lagi!" kata Sai dengan cepat dan berusaha lari dari Itachi.

"Kenapa kau selalu menghindar Sai?" tanya Itachi yang kembali menarik Sai membuat pemuda itu meronta minta untuk di lepaskan.

"Lepas!" teriak Sai dengan cukup keras sambil berusaha melepaskan diri, dan teriakan Sai barusan terdengar oleh Naruto membuat pemuda itu jadi penasaran ada apa sebenarnya, kenapa Sai berteriak keras seperti itu.

"Kenapa di dapur berisik sekali?" gumam Naruto sambil keluar dari kamarnya dan melihat ke arah dapur, dia dapat mendengar kegaduhan dari ruangan itu. Dengan berjalan perlahan Naruto mencoba untuk mengetahui apa yang terjadi di dapur.

.

"Aku tidak akan melepaskanmu lagi!" balas Itachi yang malah semakin menguatkan cengkramannya pada tangan Sai. Lalu dia mendorong tubuh Sai ke tembok sambil memegang kedua tangan Sai. Dapat dilihatnya Sai memalingkan wajahnya dari Itachi.

"Berhenti menghindar Sai dan tatap aku!" Itachi menatap kesal dengan sikap Sai yang selalu saja menghindarinya.

"Tsk… Lepaskan aku." Kata Sai dengan datar sambil menatap Itachi dengan serius.

"Ergh… " Itachi menggeram kesal melihat sikap Sai yang seolah memusuhinya, dia sudah lelah dengan semua kepura-puraan ini, dia tau saat ini Sai sedang bersandiwara. Ingin sekali dia melepas topeng palsu Sai saat ini. "Aku tak akan melepasmu." Setelah mengatakan itu Itachi mencium bibir pemuda itu.

'A-apa? Me-mereka berdua berciuman?' Naruto yang tanpa sengaja melihat kejadian itu langsung shock. Dengan cepat Naruto menyembunyikan dirinya dibalik tembok, jantungnya terasa berdebar dengan cepat, dalam otaknya kini timbul pertanyaan apa sebenarnya hubungan Itachi dan Sai? Bukankah keduanya bersaudara? Tapi kenapa ciuman itu kelihatannya begitu sangat emosional, lebih seperti sepasang kekasih. Naruto menggelengkan kepalanya dengan cepat dan dengan hati-hati dia kembali ke kamarnya.

Apa yang sebenarnya terjadi diantara Uchiha bersaudara itu? Hubungan apa yang dimiliki anak tertua Uchiha dengan anak tengah Uchiha?

TBC


Next : Terungkap rahasia antara Sai dan Itachi! "Karena telah terjalin hubungan yang tidak semestinya diantara kami"/"Kau mau bawa aku kemana? Lepaskan aku!"/ "Jangan coba-coba menjodohkanku dengan siapapun!".

A/N : Gue ganti sedikit gaya menulis gue disini atas saran Yuki. Dan Gue mencoba semaksimal mungkin bikin cerita ini meskipun gue beneran bingung nulisnya gimana, dan mungkin adegan maksimal yang bisa gue tampilin cuma adegan kissing. Yang punya saran, pendapat atau kritik bisa layangkan surat kalian (lho?) ke review atau PM gue langsung, dan gue mohon bimbingannya, soalnya gue masih sangat baru di genre ini (meskipun Yuki juga ikut bantu tapi gue pegel sms-an kelamaan), dan jangan sungkan buat ungkapin pendapat ke gue karena gue pastinya akan tertolong dengan pendapat dari readers. Buat adek gue happy read! Semoga cukup memuaskan. Dan thanks juga buat yang lain yang mau baca.

.

.

"Thanks for reading".