A/N : Thanks buat pendapatnya, tapi gue pengen tanya deh emang ciuman itu menimbulkan efek samping erangan ya? Untuk deskripsi emang gak gue macem-macemin deskripsinya, soalnya gue takut nanti malah jadi berubah rate. Dan Sai emang diem aja, ciuman dichapter sebelumnya bukan yang bersifat memaksa, cuma sekedar ciuman gitu doang. Tapi gue gak tau kalau itu masuk ke dalam LIME? Soalnya itu cuma ciuman sekedar nempel doang... Sigh gue ditipu berarti neh. Ya sutralah, thanks buat infonya.


Warning : T rate (gak tau apa bakal jadi M?), Sho-ai, BXB, bahasa semrawut.

Genres : Drama/Romance/Angst/Hurt/Comfort.

Pairing : ItachiXSai/SasukeXNaruto/SaiXNaruto/ItachiXNaruto/Slight NejiXSai.

Disclaimer : Belong to Masashi Kishimoto.

Main idea : Riku.

Brothers Can Not Be Lovers

Chapter 4

(Are you hate me?)

.

.

Besoknya di sekolah…

.

.

"Hahhhh… " Pagi-pagi Naruto udah menghela napas berat. Dia merebahkan kepalanya di atas meja tersebut. Sudah semalaman dia tidak bisa tidur karena kejadian yang dia lihat saat itu masih terus terbayang diotaknya dan terus saja menjadi pertanyaan di dalam batinnya.

Flashback

"Aku tidak akan melepaskanmu lagi!" balas Itachi yang malah semakin menguatkan cengkramannya pada tangan Sai. Lalu dia mendorong tubuh Sai ke tembok sambil memegang kedua tangan Sai. Dapat dilihatnya Sai memalingkan wajahnya dari Itachi.

"Berhenti menghindar Sai dan tatap aku!" Itachi menatap kesal dengan sikap Sai yang selalu saja menghindarinya.

"Tsk… Lepaskan aku." Kata Sai dengan datar sambil menatap Itachi dengan serius.

"Ergh… " Itachi menggeram kesal melihat sikap Sai yang seolah memusuhinya, dia sudah lelah dengan semua kepura-puraan ini, dia tau saat ini Sai sedang bersandiwara. Ingin sekali dia melepas topeng palsu Sai saat ini. "Aku tak akan melepasmu." Setelah mengatakan itu Itachi mencium bibir pemuda itu.

'A-apa? Me-mereka berdua berciuman?' Naruto yang tanpa sengaja melihat kejadian itu langsung shock. Dengan cepat Naruto menyembunyikan dirinya dibalik tembok, jantungnya terasa berdebar dengan cepat, dalam otaknya kini timbul pertanyaan apa sebenarnya hubungan Itachi dan Sai? Bukankah keduanya bersaudara? Tapi kenapa ciuman itu kelihatannya begitu sangat emosional, lebih seperti sepasang kekasih. Naruto menggelengkan kepalanya dengan cepat dan dengan hati-hati dia kembali ke kamarnya

End flashback.

"Arghhhh… " Naruto kembali mengingat kejadian itu dan langsung mengacak-ngacak rambutnya dengan raut wajah frustasi.

"Kau kenapa Naruto?" tanya Gaara dengan heran melihat Naruto uring-uringan sendiri. Tapi Naruto tidak menjawab pertanyaan Gaara, dia masih asik berkutat di dalam dunianya. Gaara hanya memiringkan kepalanya bingung dan langsung meletakkan tasnya di samping meja (itu tasnya disangkutin di samping meja, jadi kelasnya tiap bangkunya terdapat dua meja kecil dan dua bangku yang terpisah tapi dijadi satu dan di masing-masing samping mejanya itu ada tempat buat tas yang biasanya disangkutin disitu).

-ooo-

Disisi lain Sai juga sama seperti Naruto. Jangankan dia, Naruto saja yang melihat kejadiannya sampai shock, apalagi dia yang mengalaminya sendiri.

"Kau kenapa Sai? Wajahmu pucat sekali, kau sakit?" tanya Lee yang baru datang dan heran melihat wajah Sai yang terlihat lebih pucat dari biasanya.

"Aku baik-baik saja, hanya kurang tidur semalam... " Balas Sai sambil setengah tersenyum pada Lee, berusaha untuk menutupi kelelahan yang dia alami. Saat ini bukan tubuhnya saja yang merasa lelah tapi mentalnya juga mengalami keletihan.

"Oh… Kalau merasa tidak enak badan, pulang saja. Nanti biar gue yang minta ijin ke guru!" kata Lee menawarkan bantuan.

"Aku tidak apa-apa, sungguh," ucap Sai meyakinkan Lee kalau dia sungguh baik-baik saja. Lee terdiam sejenak, entah mengapa dia merasa kalau saat ini Sai seperti sedang memaksakan diri, tapi ya sudahlah dia tak ingin ikut campur. Lee akhirnya duduk dengan tenang di sebelah Sai yang sekarang sedang melamun.

Flashback

PLAKK!

Sebuah tamparan keras didaratkan ke wajah Itachi.

"Berapa kali kubilang, jangan pernah melakukan hal seperti itu lagi!" teriak Sai kepada Itachi. Napasnya memburu cepat, detak jantungnya sudah tidak terkontrol lagi. Ada suatu perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya, terasa sangat panas membuatnya ingin meledak saat itu juga.

Itachi hanya diam di tempatnya berdiri sambil meraba wajahnya yang ditampar keras oleh Sai. Dia menatap Sai dengan tatapan sedih, kecewa dan putus asa.

"Apakah aku sudah terlambat untuk menggapaimu Sai?" tanyanya lirih dengan suara yang begitu pelan, nyaris seperti sebuah gumaman, tapi Sai dapat dengan jelas mendengarnya.

"Aku tidak tau… Aku tak mau membahasnya sekarang!" jawab Sai dengan bingung dia mengalihkan pandangannya dari tatapan Itachi. "Aku permisi… " Sai dengan cepat meninggalkan Itachi yang masih berdiri mematung disana.

End flashback.


Ding… Dong… Ding… Dong…

Bel istirahat berbunyi, semua anak seperti biasa menghambur keluar kelas berebutan menuju kantin. Tapi istirahat kali ini ada yang berbeda karena tak biasanya Sasuke Uchiha datang ke kelas Naruto menemuinya.

"KYAAAAAA SASUKEEEE~" teriak anak-anak cewek yang ngeliat Sasuke masuk ke dalam kelas. Mereka langsung pada jejeritan dengan norak, sedangkan Sasuke cuek saja jalan santai ke bangku Naruto.

"Nih, bekal makan siang dari Ita-nii." Kata Sasuke sambil meletakkan sekotak bento di atas meja Naruto. Begitu melihat kotak bekal makan siangnya mata Naruto langsung membulat, dan air liurnya menetes begitu saja. "Kau ini, lain kali jangan lupa dengan bekalmu!" dengus Sasuke berusaha untuk mengingatkan Naruto agar lain kali dia tidak lupa membawa bentonya, tapi sepertinya Naruto tidak mendengar omongannya.

"Terima kasih Sasuke!" seru Naruto dengan riang dan langsung memeluk kotak bento tersebut.

"Hn, ya sudahlah." Balas Sasuke sambil memasukkan tangannya ke saku celana. Dia berbalik dan segera melangkah pergi menuju luar kelas di iringin dengan tatapan para anak cewek yang terpesona olehnya.

"Kebetulan aku lapar sekali, tadi pagi lupa sarapan!" Naruto dengan cepat membuka bekal makanannya dan air liurnya kembali menetes melihat mayo-egg yang sudah tersusun rapih di dalamnya. "Itadakimasu!" Serunya riang dan langsung mencomot makanan tersebut.

"Kau kelihatan kelaparan sekali… " Gaara menatap cara makan Naruto dengan tatapan sweatdrop.

"Soalnya adi agi… Waku wak vempat harapan!" jawab Naruto dengan mulut yang penuh oleh makanan. Pagi tadi dia memang tidak sarapan karena dia berangkat lebih awal dari biasanya. Dia hanya ingin menghindari Sai untuk sesaat. Jujur saja setelah melihat kejadian itu dia jadi bingung harus bereaksi seperti apa kalau bertemu dengan Sai. Jadi dia lebih memilih untuk menghindar, tapi karena saking buru-burunya, dia jadi lupa membawa bento yang sudah disiapkan Itachi pagi tadi.

Gaara hanya geleng-geleng saja sambil tersenyum melihat Naruto yang makan dengan lahap, untuk suatu alasan dia sangat suka melihat Naruto yang sedang makan seperti ini.

"Ugh… Uhuk… Uhuk!" karena makan dengan terburu-buru Naruto akhirnya tersedak. "Uhuk… A-air… Uhuk! Aku butuh air… Uhuk!" Naruto memukul-mukulkan dadanya sambil terbatuk-batuk.

"Makanya kalau makan itu pelan-pelan! Jangan semuanya masuk ke dalam mulutmu!" sambar Gaara sambil menyerahkan botol minumannya ke Naruto.

"Gulp… Gulp… Gulp… Huahhhhh… Terima kasih Gaara!" Naruto dengan cepat menyambar botol minuman itu. Dia meminum beberapa teguk dan langsung menghela napas lega. Dengan cengiran lebarnya Naruto berterimakasih pada Gaara dan mengembalikan botol minuman itu.

"Naruto, diam sebentar… " Tiba-tiba saja Gaara menyuruh Naruto untuk tidak bergerak.

"Eh? Kenapa?" tanya Naruto yang secara reflek mengikuti perkataan Gaara. Kemudian Gaara menyentuh pipi kanan Naruto, membuat Naruto sedikit kaget dengan sikap Gaara.

"Ada bekas makanan di pipimu tadi," ucapnya dengan datar, tidak peduli saat itu beberapa pasang mata memperhatikan aktifitas mereka barusan.

"KYAAAAA SASUKE KEREN SEKALI!" tiba-tiba saja terdengar jeritan yang cukup keras dari arah luar. Dan sepertinya jeritan-jeritan itu dikumandangkan untuk Sasuke.

"Ada apa ya di luar?" tanya Naruto sambil menatap ke arah luar pintu kelas membuatnya penasaran. Karena rasa penasarannya cukup tinggi Naruto bergegas berdiri dan berlari keluar keras untuk melihat ada keramaian apa di depan sana. Gaara diam-diam membuntuti Naruto dari belakang.

-ooo-

"Sasuke keren sekali! Melihatnya berkeringat seperti itu membuatnya semakin cool," ucap Haruno Sakura dengan mata yang kini sudah berbentuk hati.

'Itu, kan Sasuke' batin Naruto sambil menatap Sasuke yang sepertinya sedang berlatih basket dengan beberapa orang lainnya.

"Go! Go! Sasuke!" beberapa anak perempuan yang berada disekitar lapangan bahkan menjadi pemandu sorak dadakan sambil meneriaki nama Sasuke.

"Ck… Aku berhenti latihan!" kata Sasuke tiba-tiba yang menghentikan latihannya.

"Hah? Kenapa? Kau kan sudah janji mau jadi pemain cabutan kami dan ikut latihan bersama kami!" balas pemuda berambut biru pucat tersebut memprotes sikap Sasuke yang kadang suka angin-anginan.

"Aku tidak mau latihan dikeramaian seperti ini! Membuatku tidak nyaman!" jawab Sasuke yang memang tidak menyukai suasana lapangan saat ini, dimana hampir semua siswi keluar hanya untuk menontonnya berlatih basket, anak perempuan itu benar-benar aneh, apa mereka tidak pernah melihat seseorang berlatih basket sebelumnya? Sampai sekarang mereka datang berbondong-bondong dan menontonnya.

"Mau bagaimana lagi… Mereka pasti ingin melihatmu Sasuke!" balas anak laki-laki berambut orange terang dengan tatanan rambut jabrik.

"Sudah, aku mau kembali ke kelas." Jawabnya dengan datar. Tanpa mempedulikan protes yang lainnya, Sasuke segera meninggalkan lapangan.

"Tapi kau tetap membantu kami untuk pertandingan minggu besok, kan?" tanya pemuda berambut biru itu setengah berteriak pada Sasuke.

"Lihat saja nanti!" Sasuke balas berteriak sambil terus berjalan.

"Huh… Sombong sekali dia, aku tak suka dengan gayanya yang sok seperti itu!" kata Naruto yang mengomentari sikap Sasuke barusan. "Mending masuk ke kelas lagi deh, dikit lagi mau bel." Naruto bergegas kembali ke dalam ruangan kelas.


KRINGGGG… KRINGGGG… KRINGGGG!

Bel sekolah yang menandakan sekolah telah usai hari itu berbunyi. Semua anak-anak memberi salam pada guru mereka, setelah itu satu-persatu meninggalkan kelas.

"Naruto! Jangan pulang dulu!" kata Sakura yang menarik Naruto untuk tetap diam di tempatnya.

"Aku duluan Naruto." Sambar Gaara yang lebih memilih untuk pulang duluan.

"Baiklah, sampai ketemu besok Gaara!" balas Naruto sambil melambaikan tangannya ke Gaara yang dibalas dengan anggukan cepat dari pemuda berambut merah bata tersebut. "Ngg… Ada perlu apa?" tanya Naruto yang kini beralih menatap tiga gadis di depannya dan masing-masing dari mereka seperti sedang membawa sebuah bingkisan kecil.

"Kami bertiga kemarin baru saja mencoba resep kue, dan ini hasilnya. Tolong diberikan pada Sai, Sasuke dan Itachi ya!" kata Ino dengan senyum mengembang sambil menyerahkan tiga bingkisan kue tersebut kepada Naruto.

"Jangan lupa diberikan pada mereka ya! Awas kalau sampai kau lupa!" sambar si gadis pink yang bernama Sakura itu setengah mengancam Naruto agar tidak lupa memberikannya.

"Ka-kalau begitu, ka-kami duluan Naruto, sa-sampai jumpa besok!" kata Hinata sambil melambaikan tangannya sedikit dan berlalu dari sana.

'Ternyata Shikamaru benar… Perempuan memang merepotkan, pantas saja dia malah pacaran sama Kiba' batin Naruto dalam hati yang sekarang mengerti alasan Shikamaru memutuskan kekasihnya yang bernama Temari dan lebih memilih bersama Kiba. 'Sudahlah, lagian aku yang berjanji pada mereka untuk membantu,' ucapnya lagi sambil memasukkan ketiga bingkisan itu ke dalam tasnya, kemudian Naruto segera meninggalkan kelas.

"Naruto untunglah kau belum pulang" kata Sai yang tiba-tiba saja sudah berada di depan kelas. Naruto sedikit salah tingkah melihat Sai. "Kau kenapa?" tanya Sai memiringkan sedikit kepalanya, merasa aneh melihat tingkah Naruto saat ini.

"Err… Tidak ada apa-apa, a-aku hanya sedikit kaget, hehehehe… " Jawab Naruto berusaha menutupi kecanggungannya.

"Begitu… Oh, ya aku hari ini pulang terlambat karena harus mengurusi workshop untuk pentas seni minggu depan, jadi kau tidak keberatan kalau pulang dengan Sasuke, kan?" kata Sai yang meminta Naruto untuk pulang saja bersama Sasuke.

"Iya, tidak apa-apa. Oh, ya Sai-nii… Ini tadi ada titipan dari teman. Namanya Yamanaka Ino." Balas Naruto mengangguk cepat, dan tak lupa dia memberikan bingkisan dari Ino kepada Sai.

"Sampaikan terima kasihku padanya. Aku pergi dulu ya," ucap Sai seraya menyampaikan salam terima kasih untuk Ino sambil tersenyum. Sai pun berlalu kembali ke kelasnya.

'Tinggal Sasuke… ' Batin Naruto dengan berapi-api, dengan mantap dia melangkahkan kakinya ke kelas Sasuke.


Naruto kini berada di depan kelas Sasuke. Sebelum masuk kelas pemuda ini baca doa dulu untuk mencegah hal-hal yang tak di inginkan, bertemu dengan Sasuke baginya seperti bertemu dengan seekor singa ngamuk, jadi tiap saat dia harus waspada, jangan sampai dia tertelan bulat-bulat oleh Sasuke. Setelah selesai menjalankan ritual baca doanya, Naruto melongok ke dalam kelas sambil mencari-cari sosok pemuda angkuh itu.

'Lho kok gak ada?' Naruto berpikir dalam hati melihat Sasuke yang sudah tidak ada di kelasnya, apa jangan-jangan pemuda itu sudah pulang duluan.

"Hei, kalau tidak salah kau Naruto Uchiha, kan?" seorang pemuda meneriaki Naruto dari kejauhan sambil melambaikan tangannya ke arah Naruto.

"Iya, aku Naruto Uchiha! Apa Sasuke sudah pulang duluan?" tanya Naruto sambil balas berteriak ke arah pemuda berambut biru pucat itu.

"Dia ada di ruangan klub basket! Kau cari saja!" jawab pemuda itu memberitahu kemana perginya Sasuke.

"Oh, terima kasih ya… Err… Namamu siapa?" tanya Naruto kepada pemuda itu, kelihatannya dia pemuda yang ramah, siapa tau mereka bisa menjadi teman.

"Sama-sama! Namaku Suigetsu dan dia Juugo!" balas pemuda itu memperkenalkan dirinya dan juga teman di sebelahnya itu.

"Baiklah, terima kasih Suigetsu!" Naruto kemudian bergegas berlari menuju ruangan klub basket untuk menemui Sasuke.

-ooo-

Dung… Dung… Dung… Dung…

Dari arah luar ruangan, Naruto sudah bisa mendengar suara bola yang sedang di dribble.

'Itu pasti Sasuke.' Kata Naruto dalam hati dengan yakin, lalu dia masuk ke dalam ruangan dengan hati-hati agar tidak mengganggu Sasuke yang sedang berlatih.

.

.

"Kau sedang berlatih untuk pertandingan nanti ya?" kata Naruto secara tiba-tiba dan langsung berdiri di belakang Sasuke yang hendak memasukkan bola ke ring.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sasuke sedikit terkejut dengan kehadiran Naruto yang secara tiba-tiba itu.

"Tentu saja untuk mengajakmu pulang! Sai-nii tidak bisa pulang bersama kita, karena dia ada keperluan lain… Jadi dia menyuruhku untuk pulang bersamamu." Jawab Naruto setengah cemberut kesal karena lagi-lagi dia merasa kalau Sasuke tidak menginginkan kehadirannya.

"Hn." Sasuke tidak menjawab apa-apa, dia menghentikan aktifitasnya kemudian beralih mengambil tasnya yang dia letakkan di salah satu bangku yang ada di ruangan itu. "Ayo pulang," ucapnya singkat sambil merangkul tas berwarna biru gelap miliknya.

"Oh, iya Sasuke. Ada yang menitipkan ini untukmu! Dia teman sekelasku, namanya Sakura Haruno! Terimalah!" Naruto yang teringat akan titipan Sakura padanya segera menyerahkan bingkisan itu pada Sasuke.

" … " Sasuke tak bergeming, dia hanya menatap dingin bingkisan yang ada di tangan Naruto tersebut. "Menggelikan!" tanpa terduga Sasuke menepis bingkisan itu membuatnya terjatuh dari tangan Sasuke dan menghamburkan kue-kue di dalamnya yang hancur berkeping-keping.

"Apa yang kau lakukan!" omel Naruto yang langsung berusaha memunguti kue-kue yang berserakan itu.

"Pulanglah, aku masih mau disini," ucap Sasuke yang mendadak saja menyuruh Naruto untuk pulang duluan, padahal tadinya dia sendiri yang mengajak Naruto untuk pulang bersamanya.

"Kau ini kenapa? Marah-marah tidak jelas seperti itu! Apa kau tidak bisa menghargai sedikit saja pemberian orang untukmu? Sakura pasti sudah membuat kue-kue ini dengan susah payah dan kau dengan seenaknya membuangnya begitu saja!" emosi Naruto benar-benar sudah tak bisa dia tahan lagi, dia sudah habis kesabaran menghadapi Uchiha yang satu ini, entah apa maunya setiap kali dia seperti selalu mengajaknya bertengkar.

Greb…

Sasuke tiba-tiba saja menarik tangan Naruto dan menariknya paksa untuk berdiri.

"Argh! Apa yang kau lakukan teme! Lepaskan aku!" teriak Naruto yang merasa kesakitan saat dipaksa berdiri dan diseret setengah jalan dari posisinya berdiri tadi. "Sudah kubilang lepaskan!" dengan menggunakan segenap kekuatannya, Naruto berhasil menarik dirinya dari cengkraman tangan Sasuke.

"Cih… " Sasuke tampaknya terkejut melihat Naruto berhasil meloloskan diri dari genggamannya. Dia menoleh ke arah Naruto sambil menatapnya dengan tajam.

'Kenapa dia harus menatapku seperti itu sih!' rutuk Naruto dalam hati yang merasa hancur ditatap oleh tatapan dingin seperti itu oleh Sasuke. Tampaknya pemuda itu benar-benar membenci dirinya.

"Jangan pernah untuk menjodohkanku dengan siapapun." Kata pemuda itu dengan kata-kata yang tajam dan menusuk, seolah perkataannya itu mampu membunuh Naruto saat ini juga. "Sekarang pulanglah!" sambungnya yang menyuruh Naruto untuk pulang, kemudian dia berjalan untuk kembali meletakkan tasnya yang tadi sudah dia rangkul. Sasuke mengambil bola basket kembali.

"Kenapa kau tidak pernah memberi kesempatan pada gadis itu?" tanya Naruto dengan suara lemah tapi masih cukup terdengar oleh Sasuke yang berada beberapa langkah di depannya.

"Lalu apa? Dengan begitu kau akan senang?" tanya Sasuke sedikit sarkastis.

"Tentu saja… Kau adalah kakakku, tentu aku ikut senang melihat kau bisa bersama dengan orang yang pantas mendampingimu. Kurasa Sakura sangat pantas untukmu… Dia cantik, pintar dalam segala hal, hampir tak bercelah… Dia sangat cocok untukmu." Jawab Naruto sambil memuji Sakura, dia heran kenapa dia harus berusaha keras seperti ini untuk membuat Sasuke mengakui keberadaannya sebagai salah satu anggota Uchiha juga. Jujur dia melakukan ini semua agar Sasuke memandangnya, menerimanya dan mengakuinya, makanya dia berusaha keras untuk melakukan yang terbaik yang dia bisa untuk membantu Sasuke. Naruto berpikir kalau Sasuke bisa berpacaran dengan Sakura maka ada kemungkinan dia dan Sasuke bisa menjadi dekat dan hubungan mereka sebagai saudara akan menjadi lebih baik.

'Sial!' umpat Sasuke dalam hati sambil mengeratkan pegangannya pada bola basket yang berada di tangannya itu. Emosinya memuncak setelah mendengar perkataan Naruto barusan. Akibat emosinya itu tanpa sadar Sasuke melempar bola basket itu dengan sangat keras ke arah ring basket.

Namun sayang lemparan bola Sasuke mengenai papan ring tersebut membuat bola itu memantul kembali dengan cepat dan malah mengenai Naruto dengan tepat di bagian pelipisnya.

BLUGH!

Akibat hantaman bola yang cukup keras di kepalanya membuat Naruto goyah, dan tak lama dia terjatuh.

"Na-Naruto! Naruto sadarlah! Naruto!" Sasuke yang melihatnya tak sempat menolong pemuda itu. setelah Naruto terjatuh dia langsung berlari menghampiri tubuh pemuda itu yang kini tergeletak di bawah tak sadarkan diri.

TBC


Riku : Baru kembali mengetik lagi setelah tidur beberapa lama, sorry kalo aneh dan banyak typos. Saran, ide, pendapat, serta kritik kirim lewat review atau PM langsung.

.

.

"Thanks for reading".