Riku : Nah, kan gue dodol hahahaha. Gue ditipu sama temen gue nih berarti yang bilang adegan kissing bukan lime, tapi sudah terlanjur apa boleh buat. Oh, itu si Sai gak ngelawan dia cuma diem gara-gara kaget, shock, sama bengong. Tapi udah dijelasin di chapter sebelumnya pas sadar si Sai langsung nabok. Iyap ciuman yang asal nempel bibir doang, masa gak tau? Cuma sekedar kecupan doang, bukan ciuman yang aneh-aneh. Ok, thx buat masukannya and enjoy this chapter.
Warning : T rate (mungkin bisa berubah?), Sho-Ai, BXB, peran cewek minor, bahasa gue kadang gak waras.
Genres : Drama/Romance/Humor/Hurt/Comfort.
Pairing : SasukeXNaruto/SaiXNaruto/ItachiXNaruto/ItachiXSai/One sided NejiXSai/GaaraXNaruto.
Disclaimer : They're belong to Masashi Kishimoto.
Story by Riku.
Brothers Can Not Be Lovers
Chapter 5
Neji New Rival
.
.
"Mmnnn… " Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya sedikit, dia merasa sangat pusing dan pandangannya masih berkunang-kunang. Secara samar dia dapat melihat Sasuke, ekspresi angkuh yang selalu menghiasi wajah pemuda itu kini berganti menjadi ekspresi cemas.
"Naruto, kau sudah sadar? Akan aku belikan air untukmu." Kata pemuda itu dan langsung bergegas pergi keluar.
'Aneh… Apa dia mencemaskanku?' batin Naruto merasa heran dengan sikap Sasuke yang tak biasanya.
Beberapa menit kemudian…
.
Setelah selang beberapa menit Sasuke kembali lagi sambil membawa sebuah botol minuman segar.
"Minumlah… " Dia menyodorkan botol minuman tersebut kepada Naruto.
"Terima kasih… " Balas Naruto dan langsung menerima pemberian Sasuke itu dan meminumnya. "Apa yang terjadi padaku?" tanya Naruto yang masih terasa pusing dan tidak terlalu ingat penyebab dirinya kini berada di ruangan UKS.
"Baru terbentur sedikit saja kau sudah hilang ingatan Naruto?" tanya Sasuke sedikit meledek pemuda berambut pirang itu sambil mengetuk-ngetukkan tangannya di kening Naruto.
"Ah, lepaskan!" balas Naruto sambil menepis tangan Sasuke dan wajah Naruto terlihat sedikit memerah karena perlakuan Sasuke barusan terhadapnya. 'Uh, kenapa gue ngerasain sesuatu yang beda… ' batin Naruto yang tidak mengerti dengan perasaan yang bergejolak di dalam hatinya sendiri. Dia memegang dadanya yang terasa berdebar keras, dan dia masih bisa merasakan sentuhan tangan Sasuke.
"Hei, Naruto? Kau tidak mau pulang?" tanya Sasuke yang membuyarkan semua lamunannya barusan. Kini Naruto melihat Sasuke yang sudah berdiri di depannya sambil menenteng tas di bahunya. Naruto hanya diam tak bergeming. "Kenapa? Kepalamu masih sakit? Mau kugendong?" tanya Sasuke lagi yang memang benar-benar mengkhawatirkan Naruto, hanya saja pemuda pirang itu menganggap kalau Sasuke saat ini sedang mengejeknya.
"Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri! Lagipula aku sudah tidak merasa pusing!" balas Naruto sedikit ketus, dan dengan cepat dia segera turun dari tempat tidurnya, tapi karena suatu kesalahan Naruto terpeleset dan nyaris saja terjatuh, untung Sasuke dengan tanggap segera menopang tubuh Naruto.
"Makanya lain kali hati-hati!" kata Sasuke sedikit memarahi kecerobohan Naruto, tanpa menyadari kalau pemuda hyperaktif itu mendadak jadi diam dan tenggelam di dunianya sendiri.
'Sa-Sasuke dekat sekali denganku… Aku dapat mencium aroma tubuhnya. Aku ingin memeluknya… Ah, tidak-tidak! Barusan apa yang kupikirkan? Jangan pikir yang macam-macam Naruto! Dia itu kakakmu! Kau tidak boleh punya perasaan lain terhadapnya. Aku harus bisa menahannya!' Naruto kembali larut di dalam batinnya sendiri dan bergelut dengan gejolak yang mendadak saja dia rasakan.
"Naruto! Apa kau mendengarku?" dengus pemuda itu sedikit berteriak di telinga Naruto, membuatnya tersentak kaget.
"Ah! I-iya tentu saja aku dengar! Maafkan aku sudah merepotkan!" balas Naruto yang secara reflek mendorong Sasuke darinya dan segera berlari keluar ruangan.
'Si bodoh itu… Dia bahkan melupakan tasnya!' Sasuke merutuk kebodohan Naruto dalam hati. Dengan sedikit mendesah pasrah dia mengambil tas milik Naruto tersebut.
Drap… Drap… Drap… Drap…
Begitu sampai di rumah, Naruto segera berlari masuk ke dalam.
Klek… BLUGH!
Membuka pintu dengan tergesa dan langsung menutup pintu dengan setengah membantingnya.
"Hah… Hah… Hah… " Naruto menyandarkan diri di belakang pintu dengan napas yang memburu. Keringat membanjiri tubuhnya dan dadanya terasa sesak begitu mengingat kejadian tadi, kenapa bisa-bisanya dia berpikir seperti itu. Apa reaksi Sasuke kalau sampai tau.
"Kau sudah pulang Naruto?" mendadak Itachi muncul dari dapur dan menghampiri Naruto. "Kau kenapa?" tanyanya dengan heran melihat Naruto seperti orang yang habis dikejar hantu saja.
"Engg… Tidak apa-apa kok hahahaha… A-aku ke kamar dulu ya, Itachi-nii!" jawab Naruto sedikit salah tingkah, lalu buru-buru dia berjalan menuju kamarnya.
"Tunggu dulu Naruto!" tiba-tiba saja Itachi menyuruhnya berhenti.
'Eck! Ke-kenapa Itachi-nii nyuruh gue berhenti? Apa dia bisa melihat keanehan di muka gue?' batin Naruto takut-takut sambil menoleh ke arah Itachi yang kini sedang menatapnya dengan tatapan curiga, membuat Naruto semakin takut saja dan keringat ditubuhnya semakin banyak.
"Kau kemanakan tasmu Naruto?" tanya Itachi yang akhirnya menyadari keanehan pada Naruto yang tidak membawa tas.
"Heh? Ta-tasku… HUAAAAH TASKU KETINGGALAN!" teriaknya dengan lebay baru menyadari kalau tadi dia berlari begitu saja tanpa membawa tasnya kembali. Sedangkan Itachi hanya geleng-geleng bingung mau berkomentar apa, baru kali ini dia melihat ada orang yang melupakan tasnya dan baru mengingatnya setelah sampai di rumah. Benar-benar lamban sekali kerja otak Naruto.
"Jangan berisik! Ini tasmu, ambillah!" muncul Sasuke dari balik pintu dan langsung melemparkan tas Naruto kepada sang pemilik.
"Huwaaaa tasku!" Naruto langsung melakukan aksi peluk-cium terhadap tasnya itu.
"Lain kali jangan tinggalkan tasmu lagi, karena aku tidak mau membawakannya untukmu lagi," ucap Sasuke datar sambil berjalan melewati Naruto dan juga Itachi.
"A-ah… Terima kasih Sasuke!" kata Naruto yang mengucapkan terima kasih pada Sasuke.
"Hn." Balasnya cuek dan langsung berjalan menuju kamarnya. Sedangkan Itachi diam-diam menyunggingkan senyuman aneh.
-ooo-
Malamnya…
.
Naruto sama sekali tidak bisa tidur, padahal waktu sudah menunjukkan pukul tengah malam lewat. Setiap kali dia mencoba untuk memejamkan matanya, pasti kejadian tadi siang langsung terbayang di otaknya. Naruto lalu berguling ke samping dan menemukan wajah Sasuke yang sepertinya sudah tertidur pulas.
'Tadi siang tatapan Sasuke terlihat begitu panik… Apa dia mencemaskanku ya?' Naruto kini kembali terbang ke dalam pikirannya sendiri sambil bertanya-tanya. 'Sigh… Kenapa kau selalu bersikap dingin dan kasar padaku, tapi disaat yang bersamaan kau juga menunjukkan perhatian padaku? Apa kau sangat membenciku dan tak menginginkan kehadiranku sebagai keluarga Uchiha? Padahal aku ingin sekali bisa dekat denganmu… ' batin Naruto berkata lirih. Dia benar-benar tidak bisa mengerti Sasuke yang terkadang dingin padanya dan terkadang begitu baik. Dia jadi bingung sendiri sebenarnya Sasuke itu menganggapnya sebagai apa. Kalau Sasuke membencinya dia tidak keberatan dan bisa tinggal di rumah pamannya yang ada di Suna.
"Apa kau tau Sasuke… Memikirkan sikapmu padaku, membuatku merasa sangat sakit… Apa kau tak menginginkanku sebagai adikmu?" gumam Naruto dengan pelan mengungkapkan isi hatinya. Setelah mengucapkan itu, Naruto segera membalikkan badannya dari Sasuke.
Tak berapa lama setelah itu, akhirnya Naruto dapat tertidur pulas. Saat itu Sasuke yang tidur di sebelah Naruto langsung membuka matanya. Ternyata dari tadi dia belum tidur, dan tentu saja dia mendengar semua perkataan Naruto tadi.
"Naruto… " Sasuke menatap sosok yang tidur di sebelahnya dengan rasa kekecewaan atas perkataan Naruto yang dia dengar sebelumnya.
Paginya…
.
"Hmmm… Sudah pagi ya… " Naruto terbangun lebih awal dari biasanya, karena tidurnya sama sekali tidak bisa dibilang nyenyak. Dia mengucek-ngucek sebelah matanya, setelah sadar sepenuhnya dia baru menyadari bahwa ada sebuah lengan yang kini melingkar di tubuhnya dengan erat.
"Hua-" Naruto yang hendak berteriak langsung menutup mulutnya. 'A-apa Sasuke memeluk gue semalaman?' batin Naruto dan langsung saja wajahnya berubah merah, tapi dengan cepat Naruto menepis pikirannya itu. Dengan hati-hati Naruto melepaskan lengan Sasuke yang merangkul erat dirinya.
"Sasuke! Sasuke ayo bangun, ini sudah pagi! Sasuke bangun!" dengan hati-hati dia berusaha untuk membangunkan pemuda itu. "Huh… Kalau tidak mau bangun, ya sudah!" dengus Naruto menyerah untuk membangunkan Sasuke, akhirnya dia memilih untuk segera bersiap-siap.
.
.
"Iya, baiklah. Akan kukatakan pada yang lain, tentu saja." Begitu keluar kamar Naruto mendapati Itachi yang sedang menutup telpon yang berada di ruang tamu.
"Telpon dari siapa Itachi-nii?" tanya Naruto secara spontan dari balik pintu ruangan yang tidak ditutup itu.
"Hari ini tou-san dan kaa-san akan pulang. Urusan mereka di Konoha sudah selesai, ada kemungkinan mereka akan sampai sore nanti." Jawab Itachi yang mendapat telpon dari Kushina.
"Hieeee, benarkah? Mereka akan pulang nanti sore?" tanya Naruto seketika matanya membulat besar, terlihat kalau pemuda itu senang sekali mendengar kabar tersebut.
"Iya, makanya aku diminta untuk menjemput jam tiga sore nanti." Balas Itachi yang berjalan mendekati Naruto dan setengah mengacak rambut Naruto dengan pelan. "Ayo sarapan!" sambungnya mengajak Naruto untuk segera sarapan.
Naruto memakan sarapan paginya dengan khitmat bersama dengan Itachi dan Sasuke yang baru saja keluar. Ketiganya tidak banyak bicara, mereka fokus pada makanan masing-masing terutama Sasuke yang sekarang sudah terbuai oleh jus tomat kesukaannya.
"Anoo… Sai-nii kemana?" tanya Naruto yang merasa heran tidak melihat Sai karena biasanya pemuda itu selalu bangun lebih awal dari mereka, dan aneh rasanya kalau pemuda itu tidak ada bersama mereka.
"Mungkin masih tertidur, biar aku bangunkan." Itachi segera berdiri dari kursinya dan berniat naik ke atas untuk membangunkan Sai, tapi mendadak saja pemuda itu sudah turun ke bawah.
"Aku akan sarapan di sekolah saja, maaf aku sedang terburu-buru." Sai secara mendadak tidak ikut sarapan bersama mereka dan berjalan cepat menuju pintu luar.
"Paling tidak bawalah bekalmu Sai," Itachi segera mengambilkan bekal yang memang sudah dia siapkan untuk Sai.
"Ti-tidak perlu... Aku bisa makan di kantin nanti… A-aku pergi dulu!" balas Sai yang menolak bekal dari Itachi. Dengan cepat pemuda itu pergi keluar.
"Sigh… " Itachi hanya menghela napas dengan berat, kekecewaan tergambar jelas di wajahnya.
'Itachi-nii kasian… Dia pasti bangun pagi untuk membuat bekal itu… ' Batin Naruto yang merasa tidak tega melihat Itachi yang sekarang terlihat lesu.
"Aku sudah selesai!" kata Naruto sambil merapihkan sumpit dan mangkoknya lalu berdoa sesaat setelah makan.
"Naruto aku sudah menyiapkan bekalmu, ambillah." Itachi memberikan bekal untuk Naruto. "Dan ini untukmu Sasuke, jangan lupa dimakan ya." Itachi juga memberikan bekal makanan untuk Sasuke.
"Oh iya, bekal untuk Sai mana? Biar aku yang memberikannya pada Sai!" kata Naruto sambil tersenyum lebar pada Itachi. Dia ingin sekali membantu Itachi dan Sai agar hubungan keduanya kembali harmonis. Dia memang tidak tau apa yang terjadi pada dua orang itu, tapi dia bisa merasa kalau atmosfer diantara keduanya sedang tidak baik.
"Benarkah? Kalau begitu tolong ya, Naruto. Dan pastikan dia memakan bekalnya," ucap Itachi dengan senang hati dan memberikan bekal makanan Sai pada Naruto.
"Serahkan saja padaku! Kalau begitu kami berangkat dulu ya!" Naruto langsung menepuk dada dengan bangga, setelah itu dia berangkat sekolah bersama dengan Sasuke.
.
Di jalan...
.
"Kenapa kau begitu mau ikut campur dalam urusan Itachi dan Sai?" tanya Sasuke dengan datar tapi kata-katanya begitu tajam dan menusuk.
"Memangnya kenapa?" tanya Naruto balik sambil memiringkan kepalanya, dia benar-benar bingung dengan pertanyaan Sasuke, memangnya ada yang salah dengan sikapnya itu.
"Jangan terlalu masuk ke dalam urusan keluarga kami, kau mengerti?" balas Sasuke seolah memberikan perintah pada Naruto. Matanya yang tajam menatap dingin Naruto, dan perkataannya barusan sukses membuat Naruto kembali frustasi atas sikap Sasuke yang seperti memusuhinya.
"A-aku mengerti… Aku tidak akan mencampuri urusan kalian lagi," ucap Naruto sambil menelan ludah ngeri.
"Bagus. Sekarang berjalan satu meter di belakangku." Sasuke kemudian berjalan mendahului Naruto dan menyuruh pemuda pirang itu untuk berjalan di belakangnya.
Istirahatnya di sekolah…
.
.
"Sai-nii!" istirahatnya Naruto segera pergi ke kelas Sai dan mencari sosok pemuda itu. dilihatnya Sai masih mencatat tulisan di papan tulis, dia tampak begitu serius.
"Naruto, masuklah!" balas Sai yang melirik Naruto sedang berdiri di depan pintu kelas dan menyuruh pemuda itu untuk masuk ke dalam kelas tanpa mengalihkan pandangannya dari papan tulis dan buku catatannya.
Mendengar Sai memanggilnya untuk masuk, Naruto bergegas masuk sambil membawa kotak bekal yang dititipkan Itachi padanya.
"Titipan bento dari Itachi-nii!" Naruto meletakkan bekal tersebut di atas meja Sai sambil tersenyum lebar.
"Aku tidak mau-" sebenarnya Sai ingin menolak kotak makanan dari Itachi tersebut tapi Naruto segera memotong ucapan Sai.
"Aku juga membawa bekalku! Kita makan sama-sama yah?" sambar Naruto dengan cepat sambil mengeluarkan bekal makanannya dan memasang kitty eyes kepada Sai.
"Sigh… Baiklah, tapi aku selesaikan catatan ini dulu ya." Balas Sai yang akhirnya tak bisa melawan Naruto.
"HOREE!" teriak Naruto dengan senang, ternyata bujukannya berhasil.
-ooo-
Setelah Sai menyelesaikan tulisannya dia segera bergabung dengan Naruto untuk memakan bekal makananya.
"Ngomong-ngomong Sai-nii sebenarnya ada masalah apa sama Itachi-nii? Kuperhatikan hubungan kalian berdua seperti sedang tidak akur." Tanya Naruto disela-sela makannya.
"Bukan masalah yang terlalu berat… Hanya salah paham saja… " Balas Sai yang sepertinya sedang menutupi masalah yang sebenarnya. Dia hanya memberikan jawaban standar pada Naruto dan tentu hal itu tidak membuat Naruto puas karena pemuda itu memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi.
"Apa karena orang yang bernama Ayame itu, ya?" tanya Naruto lagi yang penasaran dengan orang yang bernama Ayame.
"Hmm… " Sai terdiam sejenak, terlihat sikapnya kembali aneh saat nama itu disebut. Dia mengencangkan pegangannya pada kotak makan miliknya. "Naruto cepat habiskan makananmu, sebentar lagi bel masuk." Sai bukannya memberikan jawaban tapi dia malah menyuruh Naruto untuk cepat menghabiskan makanannya.
"Ah, iya benar!" balas Naruto yang sepertinya sudah lupa dengan pertanyaannya barusan. Dia langsung menghabiskan sisa makanannya dalam sekali suapan. "Ai-ii… Waku we welas huluan a!" kata Naruto dengan mulut yang terisi penuh dan bergegas pergi keluar kelas.
"Naruto… Nanti jangan tunggu aku. Aku masih harus melanjutkan pekerjaanku dan mungkin aku pulang agak malam!" kata Sai yang memberi pesan pada Naruto kalau dia pulang agak telat nanti. Naruto langsung mengacungkan jempolnya dan langsung kembali ke kelasnya.
KRINGGGG… KRINGGGG… KRINGGGG!
"Gaara, pulang bersamaku yuk!" kata Naruto mengajak Gaara untuk pulang bareng.
"Memangnya kau tidak pulang bersama Sai atau Sasuke?" tanya Gaara sambil memasukkan buku-buku pelajarannya ke dalam tas.
"Tidak, mereka berdua sedang sibuk." Balas Naruto dan langsung merangkul tasnya dan berdiri diam untuk menunggu jawaban Gaara.
"Baiklah kalau begitu." Gaara menyetujui ajakan Naruto untuk pulang bersama. Kemudian keduanya berjalan keluar meninggalkan kelas.
-ooo-
"Sai, semuanya sudah berkumpul di ruangan klub." Neji selaku ketua penanggung jawab festival yang akan diadakan sekaligus ketua Osis datang menghampiri Sai dan mengajaknya untuk menemui yang lainnya di ruangan klub.
"Baiklah, tunggu aku!" balas Sai dengan tergesa langsung menarik tasnya dan setengah berlari menghampiri Neji.
"Kau kelihatan bersemangat sekali!" kata Neji sambil menepuk pelan kepala Sai yang datang menghampirinya. Dia tersenyum melihat wajah Sai yang begitu antusias.
"Neji hentikan! Jangan perlakukan aku seperti anak kecil!" balas Sai sedikit mengelak dari Neji dengan wajah cemberut.
"Hahaha, maaf-maaf. Sudahlah ayo kita susul yang lainnya!" Neji hanya tertawa renyah melihat sikap Sai yang masih saja kekanak-kanakan. Kemudian dia menarik Sai untuk mengikutinya.
.
Ruangan klub seni...
.
.
"Hai, semuanya!" Neji dan Sai sudah berada di depan ruangan klub seni, dan disana sudah ada beberapa orang yang menunggu.
"Neji-senpai! Sai-senpai! Wah, beruntungnya kalian juga ikut!" sambar gadis manis berambut pink panjang. Matanya berubah penuh binar begitu melihat Neji dan Sai masuk ke dalam ruangan.
"Yang lainnya kemana?" tanya Neji melihat kalau ada sebagian anak yang belum datang.
"Sebentar lagi juga datang! Oh, ya. Konan-san sudah datang loh!" kata gadis berambut pirang panjang dengan model poni di depannya.
"Hai semua!" sapa Konan yang sudah hadir disana.
'Dia… Kalau tidak salah dia teman Ayame-san… ' Batin Sai dalam hati sambil mengingat gadis berambut biru di depannya ini. Dia masih ingat betul pernah bertemu dengannya waktu Ayame datang mengunjungi Itachi.
"Kebetulan sekali alumni sini juga mau membantu! Oh, ya senpai, kenalkan. Ini Sai Uchiha, dia anggota klub baru." Kata Neji yang tampak sudah mengenal Konan. Dia memperkenalkan Sai dengan Konan.
'Sai Uchiha? Jadi dia yang bernama Sai… ' Batin Konan sambil menatap Sai dengan agak sinis. Tapi tatapannya itu segera berubah menjadi sebuah senyuman manis yang penuh arti. Dia berjalan mendekati Sai.
"Hai, Sai! Aku Konan, salam kenal!" Konan mengulurkan tangannya pada Sai. Tanpa ragu Sai menyambut uluran tangan dengan senyuman. "Sai Uchiha, kuminta kau jangan halangi hubungan Ayame dan Itachi." Bisiknya pelan tepat di telinga Sai, membuat pemuda itu tercengang dengan kata-kata Konan barusan.
"Baiklah semuanya! Ayo mulai berkerja!" Konan dengan cepat melepaskan tangannya dari Sai. Seolah tidak terjadi apa-apa gadis ini segera berbalik dan menyuruh yang lainnya untuk segera menyelesaikan pekerjaan mereka untuk acara festival nanti.
'Kenapa dia bicara seperti itu padaku… ' batin Sai masih berdiri mematung di tempatnya. Setelah mendengar ucapan gadis itu jantungnya terasa sesak dan ada rasa nyeri dihatinya, dia dikatakan sebagai penghalang hubungan antara Itachi dan Ayame.
TBC
Riku : Saran, Ide, kritik dan pendapat bisa langsung ke review atau PM. Dan sorry kalau banyak kesalahan, jujur gue bukan ahlinya di genre ini. Yang mau kasih masukan silahkan banget buat gue sharing. Dan buat adek gue, cerita ini akan gue lanjutin sesuai permintaan. Buat Ridha, wah kayaknya ada masternya nih? Jauh lebih ngerti dari gue *pundung diselokan*.
Flame? Ultah adek gue udah lewat kalau mau kasih flame silahkan tapi yang menguntungkan buat gue dan sesuai aturan. Satu, jangan anon alias login, dua jangan pakai akun palsu atau akun dadakan baru buat, tiga gue berharap yang ngasih flame minimal ada story buatan sendiri minimal 2 ceritalah untuk jadi bahan referensi gue dan pembelajaran juga buat gue, empat jangan out of content, lima NO SARA dan NO bahasa tarzan ya om/tante, enam kalo gue apus karena tidak sesuai dengan ketentuan jangan nyepam!, tujuh anda merasa bermasalah sama gue? PM aja langsung disana anda bisa maki-maki gue sepuas anda jadi gak usah lewat review, ada tempat yang lebih privacy ngapain juga maki-maki diumum.
Oke thanks yang membaca cerita gue ini dan meskipun jauh dari kata sempurna gue harap bisa menghibur yang baca.
.
.
"Love is blind, but don't be blind cause of love".
