Warning : T rate, Sho-Ai, BXB, bahasa gue kadang aneh.
Genres : Drama/Romance/Humor/Hurt/comfort.
Pairing : SasukeXNaruto/SaiXNaruto/ItachiXNaruto/ItachiXSai/One sided NejiXSai/One sided SakuraXSasuke.
Disclaimer : They're belong to Masashi Kishimoto.
Brothers Can Not Be Lovers
Chapter 6
Sai in danger!
.
.
"Aku pulangggggg!" seru Naruto dengan setengah berteriak begitu memasuki rumah.
"Selamat datang Naruto!" sapa Kushina yang menyambut Naruto. Terlihat sekali wanita itu seperti sedang memasak dari celemek yang masih dikenakannya.
"Kaa-san! Kaa-san sudah pulang! Aku kangen sekali!" seru Naruto yang langsung berlari untuk memeluk Kushina. Wanita itu tersenyum manis melihat kelakuan anaknya, dengan lembut dia mengacak rambut pirang Naruto.
"Kata Itachi-nii, kaa-san pulangnya sore, kok sekarang sudah sampai?" tanya Naruto yang tidak menyangka kalau Kushina sudah tiba di rumah, lebih cepat dari yang dia duga.
"Iya, kebetulan urusan disana sudah selesai, makanya buru-buru pulang. Memangnya kamu tidak suka kaa-san pulang cepat?" balas Kushina setengah meledek Naruto, dia tau sekali kalau anak itu pasti sudah sangat merindukannya.
"Tentu saja senang sekali! Oh, ya Itachi-nii kemana?" jawab Naruto sambil tersenyum lebar, lalu dia menanyakan keberadaan Itachi yang sepertinya tidak ada di rumah.
"Dia sudah berangkat kuliah. Kenapa kau pulang sendiri Naru?" tanya Kushina yang kembali ke dapur untuk menyelesaikan masakannya.
"Oh, Sai-nii dan Sasuke masih di sekolah. Mereka masih ada kegiatan." Jawab Naruto yang langsung duduk di meja makan sambil mengembat cemilan di atas meja. "Tou-san kemana?" tanya Naruto menanyakan Fugaku, karena ibunya pergi dengan Fugaku dan seharusnya laki-laki yang sudah resmi menjadi ayahnya itu juga berada di rumah.
"Dia sudah kembali lagi ke kantor setelah mengantar ibu. Oh, ya Naruto, bagaimana hubunganmu dengan yang lainnya?" jawab Kushina. Kemudian sambil memasak dia menanyakan mengenai hubungan Naruto dengan Uchiha yang lainnya. Tentu dia ingin tau perkembangan hubungan Naruto, apakah mereka akur atau tidak.
"Uh… Hubunganku baik-baik saja kok! Benar, mereka bertiga sangat ramah dan baik kepadaku, hahaha!" jawab Naruto sedikit tersedak karena pertanyaan Kushina barusan. Hubungannya dengan Itachi dan Sai memang tidak ada masalah tapi lain kalau dengan Sasuke. Mereka berdua bagaikan dua orang asing, tapi tentu Naruto tidak bisa menceritakan hal ini pada Kushina, dia tidak ingin hal itu menjadi beban pikiran bagi sang ibu.
"Syukurlah kalau begitu, ibu sangat lega mendengarnya," ucap Kushina sambil menyunggingkan senyum tipis.
Beberapa saat kemudian…
.
"Nah, ibu sudah buatkan ramen special untukmu!" Kushina sudah selesai memasak makanan kesukaan Naruto, ramen daging super pedas.
"Huaaaah! Dari aromanya saja sudah tercium! Pasti sangat enak sekali rasanya!" Naruto langsung saja tergoda oleh aroma ramen yang menggiurkan itu.
"Makanlah, ibu mau menyelesaikan pekerjaan yang lain dulu." Kushina meletakkan ramen tersebut di aras meja. Dia berdiri sambil mengacak lembut rambut Naruto kemudian dia berjalan meninggalkan Naruto.
Di sekolah ruangan klub seni...
.
.
"Konan-senpai kalau hiasan ini bagaimana?" tanya Tayuya sambil memperlihatkan hasil karyanya pada Konan.
"Boleh juga, kurasa ini bisa dipakai untuk festival nanti." Jawab Konan yang tampak puas dengan bunga pajangan buatan Tayuya, kemudian dia kembali merangkai origami bersama dengan beberapa orang anak lainnya.
'Kenapa dari tadi aku tak bisa melupakan perkataan Konan-senpai… ' Disisi lain Sai malah sibuk sendiri dengan pikirannya yang sedikit kacau karena ucapan Konan sebelumnya.
PRAAK!
Karena tidak fokus, Sai jadi menumpahkan tinta warna yang ada dipangkuannya dan mengotori bajunya serta lantai.
"Sai, kau tidak apa-apa?" tanya Neji dengan tanggap begitu melihat kejadian tersebut.
"Maaf, aku akan segera membersihkan lantainya sekalian memberishkan bajuku!" Sai bukannya menjawab pertanyaan Neji, dia malah pergi keluar ruangan. Semua anak hanya menatap sikap aneh Sai yang tidak biasanya itu.
-ooo-
'Hah… Kenapa aku jadi merasa seperti melarikan diri begini… ' Rutuk Sai dalam hati sambil pundung dipojokan tembok dengan aura-aura suram disekelilingnya.
"Sai, bisa kita bicara berdua?" tanpa terduga Konan menyusulnya dan mengajaknya untuk bicara. Dilihat dari mimik wajahnya, gadis berambut biru itu terlihat begitu serius.
"Te-tentu saja!" balas Sai yang agak kaget dengan kehadiran Konan yang tiba-tiba itu. sambil sedikit tertawa canggung dia mengiyakan ajakan Konan untuk bicara empat mata. Akhirnya mereka berdua tidak kembali ke ruangan klub melainkan pergi ke halaman belakang sekolah.
Halaman belakang sekolah…
.
"Mau bicara apa?" tanya Sai dengan sedikit gugup, dia merasa sudah tidak enak saja. Menurutnya Konan pasti ingin membicarakan tentang Ayame dan Itachi.
"Kau pasti sudah tau apa yang ingin kubicarakan. Semuanya mengenai Ayame dan Itachi." Jawab Konan sambil menatap dingin Sai. "Kau tau kan, kalau mereka berdua sudah menjalin hubungan sejak masih SD dan mereka berniat untuk hidup bersama-sama setelah lulus kuliah?" Konan mulai mengungkit kisah masa lalu antara Ayame dan Itachi juga rencana yang di impikan kedua insan tersebut. Tentu Sai tau mengenai hal itu, dan setiap kali dia ingat wajah Itachi yang begitu gembiranya mengatakan kalau dia ingin menikah dengan Ayame selalu membuatnya sakit, dia merasa hatinya bagai teriris kecil-kecil. Dan Sai juga tak bisa lupa bagaimana wajah Itachi ketika membatalkan rencananya itu, pemuda itu terlihat begitu terpukul dan depresi.
"Hhh… Ya, aku tau." Jawab Sai sambil menghela napas panjang.
"Oh, bagus kalau begitu. Aku hanya ingin mengingatkan, jangan pernah masuk diantara hubungan Ayame dan Itachi lagi, karena saat ini Ayame sedang berusaha untuk kembali menjalin hubungan dengan Itachi. Dan kuharap kau ingat posisimu, kau tak lebih dari seorang adik di mata Itachi. Jangan sampai Itachi melakukan hal yang merusak nama baik keluarga Uchiha." Kata Konan dengan sedikit sinis pada Sai. Gadis itu benar-benar sudah mengutarakan maksudnya yang meminta Sai untuk menjauhi Itachi. Sebagai teman dekat Itachi tentu dia tau kalau Itachi menyukai adik angkatnya ini, dan hal itu sungguh sangat memalukan dan kalau sampai ketahuan oleh umum, seorang Itachi Uchiha yang merupakan anak dari Fugaku Uchiha, pemilik perusahaan publisher terbesar di Konoha memiliki hubungan dengan adiknya sendiri.
"Konan-san tidak usah khawatir. Aku cukup tau diri… Bagiku Itachi sudah seperti kakakku sendiri, soal Ayame-san, aku juga mendukung mereka berdua… Kalau bisa aku juga ingin membantu hubungan mereka berdua agar bisa kembali membaik… " Itulah balasan dari Sai yang entah kenapa dia harus mengatakan hal seperti itu, apalagi mengatakan ingin membantu keduanya. Sungguh perkataannya itu benar-benar bertentangan dengan perasaannya sekarang ini.
"Bagus kalau mengerti. Dan kalau kau memang benar-benar ingin membantu keduanya, tolong berikan ini pada Itachi." Konan tersenyum puas setelah mendengar perkataan Sai barusan. Lalu dia menyerahkan sebuah surat undangan kepada Sai.
"Apa ini?" tanya Sai setelah menerima undangan tersebut.
"Itu adalah undangan hari ulang tahun Ayame. Berikan pada Itachi dan pastikan dia datang ke acara itu. kuserahkan semuanya padamu, Sai." Jawab Konan sambil tersenyum aneh pada Sai, kemudian dia berjalan meninggalkan Sai yang masih mengamati surat itu.
-ooo-
Disisi lain Sasuke yang menyudahi latihannya berniat untuk segera pulang. Dia mengambil tasnya yang dia letakkan dipojokan, kemudian dia melangkah keluar. Tapi di depan pintu sudah berdiri seorang gadis berambut merah muda, mata emerald-nya tak lepas mengamati sosok Sasuke yang sangat dia sukai itu. Sasuke hanya mendengus cuek pada gadis itu dan tetap berjalan melewatinya.
"Umm… Sasuke! A-aku ingin mengucapkan, selamat berjuang untuk pertandingan nanti!" kata gadis itu dengan ceria. Dengan gaya enerjik dia mengepalkan tangannya seolah seperti memberi dukungan dan semangat pada Sasuke.
"Hn." Balas Sasuke dengan dingin dan tetap melanjutkan langkahnya.
"Sasuke!" gadis itu kembali memanggil Sasuke dan kali ini Sasuke yang merasa terganggun menghentikan langkahnya sejenak untuk mendengar apa yang ingin di katakan gadis itu padanya.
"Apa kau sudah menerima kue yang kutitipkan pada Naruto?" tanyanya penuh harap untuk mendapatkan respon yang baik dari Sasuke. Tapi sepertinya harapannya tidak sesuai dengan yang dia inginkan.
"Aku membuangnya." Jawab Sasuke datar dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Dibuang? Tapi kenapa?" tanya gadis itu dengan rasa kecewa. Dia sekarang berdiri di depan Sasuke agar pemuda itu mau melihatnya meski hanya sebentar. Dan dia juga menunggu jawaban dari Sasuke.
"Aku tidak suka makanan yang terlalu manis," ucapnya membuat alasan sekenanya saja. Sasuke kembali berjalan dan mendahului Sakura.
"Bagaimana kalau kubuatkan bekal?" tanyanya lagi penuh harap Sasuke mau menerimanya.
"Tidak usah." Sasuke kembali menjawab datar, tapi hal itu tidak membuat gentar gadis dihadapannya ini.
"Bagaimana kalau kubuatkan yang lain? Seperti jus? Atau boneka? Bagaimana kalau sepasang gantungan kunci?" gadis itu tetap saja menawarkan sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan atau lebih tepatnya tidak di inginkan oleh Sasuke.
"Kau ini gadis yang cerewet." Sasuke sudah tidak tahan lagi dengan semua ocehan dari gadis itu. apa dia tidak bisa membaca raut wajahnya kalau dia sungguh sudah sangat terganggu saat ini.
"Tapi kenapa? Kupikir akan bagus kalau kita punya gantungan kunci yang sama, dan aku yakin semua gadis pasti akan iri!" balasnya yang masih belum bisa membaca suasana hati Sasuke saat ini.
Akhirnya Sasuke hilang kesabaran juga. Dia segera menghampiri gadis itu dan mencengkram kedua lengannya dengan kasar lalu mendorongnya ke tembok. Ditatapnya gadis itu dengan serius.
"Berapa kali harus kukatakan kalau aku tidak mau? Dan berhenti mengejarku Sakura, karena aku sama sekali tidak menyukaimu," ucapnya dengan tajam. Setelah mengatakan hal itu, Sasuke melepaskan cengkramannya dari Sakura dan kembali berjalan menjauhinya.
"Aku tidak akan pernah berhenti mengejarmu Sasuke! Sampai kapanpun aku akan terus mengejar dan mengejar… Sampai pada akhirnya kau bisa menerimaku!" balas gadis bernama Sakura itu dengan keyakinan penuh. Tekadnya sudah dia bulatkan hanya untuk mengejar Sasuke seorang, dia tidak peduli meskipun orang yang dikejarnya merasa tidak nyaman dengan sikapnya, yang terpenting dia akan melakukan apapun agar Sasuke bisa menerimanya.
"Teruslah berharap." Balas Sasuke yang tetap teguh pada pendiriannya, karena sampai kapanpun dia tidak akan pernah bisa menyukai Sakura ataupun gadis lain. Saat ini hatinya sudah terisi oleh seseorang yang tidak seharusnya dia cintai.
Di rumah…
.
.
"Aku pulang." Kata Sasuke setengah berteriak ketika sampai di rumah.
"Selamat datang Sasuke!" balas Kushina sambil tersenyum ramah menyambut Sasuke.
Sasuke tak membalas, dia hanya masuk tanpa mengalihkan pandangannya ke Kushina yang masih tersenyum.
"Apa kau mau makan Sasuke? Aku akan menyiapkannya untukmu." Kushina mencoba untuk mencairkan suasana dan menawarkan Sasuke untuk makan. Dia tau watak Uchiha bungsu ini sedikit keras, tapi dia tidak menyerah, sebisa mungkin dia akan mendekati Sasuke dan membuat anak bungsu itu bisa menganggapnya seperti ibunya sendiri.
"Aku mau langsung tidur saja." Jawab Sasuke yang langsung berjalan menuju kamarnya.
"Kalau begitu mau kubangunkan nanti?" tanya Kushina sekali lagi, Sasuke menatap sosok wanita itu yang berdiri di belakangnya. Terpancar ada segurat cemas dan kecewa dari matanya.
"Hhn… Bangunkan aku jam lima nanti," ucapnya datar. Sebenarnya Sasuke tidak perlu bantuan orang lain untuk membangunkannya, hanya saja dia mengerti Kushina sedang berusaha untuk menjadi seorang ibu yang baik dan dia cukup menghargai usahanya itu, makanya dia memberikan Kushina kesempatan untuk mendekatinya.
"Baiklah!" jawab Kushina yang tak bisa lagi menyembunyikan kegembiraannya ketika Sasuke memintanya untuk membangunkannya layaknya seorang anak yang meminta tolong pada ibunya, meskipun caranya bisa dibilang tidak begitu sopan, tapi Kushina cukup senang karena Sasuke mau memberinya kesempatan.
Zreeeeeeet…
Sasuke masuk ke dalam kamar. Begitu di dalam dia melihat Naruto yang sudah tertidur pulas duluan sambil memeluk guling dengan gaya tidur yang tidak beraturan. Sepintas Sasuke sedikit tersenyum melihatnya. Kemudian Sasuke segera meletakkan tasnya dan mengganti bajunya, lalu dia ikut bergabung larut ke dalam mimpi bersama Naruto.
-ooo-
Sorenya di sekolah…
.
.
"Kami pulang dulu senpai!" anak-anak kelas satu itu mulai meninggalkan ruangan klub satu-persatu.
"Iya, terima kasih atas bantuan dan partisipasinya!" balas Neji sambil melambaikan tangan kepada mereka semua yang sudah mau repot ikut membantu. "Kita juga harus segera pulang setelah memberesikan ini semua," ucap Neji sambil mengangkat sebuah kotak kardus yang berisi berbagai macam perlengkapan mulai dari kertas, gunting, lem dan lain-lain.
"Iya." Sai tidak banyak berkomentar, dia sendiri juga sedang merapihkan meja yang berantakan.
"Aku pulang!" kata Itachi yang baru saja pulang dari kampusnya dan langsung jalan menerobos dapur.
"Selamat datang Itachi, kau bisa memakan cemilan yang sudah kusiapkan di atas meja." Balas Kushina yang kelihatannya sedang repot untuk mempersiapkan makan malam. Dia menunjuk sebuah strawberry shortcake di atas meja.
"Wah, kukira Sai-nii yang pulang!" sambar Naruto yang tadi sempat mengira kalau Sai yang pulang.
"Memangnya Sai belum pulang?" tanya Itachi sambil menggeser tempat duduk.
"Belum. Dari tadi dia belum pulang, kuhubungi handphone-nya juga tidak aktif." Jawab Naruto yang menjelaskan kalau Sai memang belum pulang meski sudah sesore ini, dan sepertinya pemuda itu juga sulit untuk dihubungi.
"Tidak biasanya dia begitu… " Balas Itachi yang jadi sedikit mencemaskan Sai. Kemudian dia berusaha untuk menghubungi Sai. Tapi seperti yang dikatakan Naruto, handphone Sai tidak aktif dan hal itu membuatnya semakin cemas saja.
"Memangnya dia tidak bilang mau kemana?" tanya Itachi kepada Naruto apakah Sai sempat memberikan pesan kalau dia akan pulang terlambat atau semacamnya.
"Oh, iya aku baru ingat! Dia bilang ada kegiatan di klub seni untuk mempersiapkan acara festival nanti! Mungkin dia masih di sekolah." Jawab Naruto yang baru teringat kalau Sai memang bilang akan pulang terlambat karena ada kegiatan bersama klubnya.
"Klub seni katamu?" tampak raut Itachi berubah, dia seperti sedang bingung dan panik secara bersamaan. 'Disana ada Neji, kan… Kenapa perasaanku jadi tidak enak… ' Batin Itachi mendadak saja jadi tidak enak, dia seperti mendapat firasat buruk, terutama dia tau di klub itu ada Neji, jujur dia sangat tidak menyukai pemuda itu.
"Cemilannya kumakan nanti saja!" Itachi akhirnya tidak jadi duduk. Bergegas dia segera meninggalkan dapur.
"Kau mau kemana lagi Itachi?" tanya Kushina begitu dilihatnya Itachi berlari keluar. Baru saja pulang masa dia mau pergi lagi.
"Aku mau menyusul Sai!" jawabnya singkat. Dengan cepat dia kembali mengeluarkan motor yang bahkan mesinnya itu masih panas. "Aku pergi dulu!" katanya lagi sambil menyalakan mesin motor dan tak lama dia melajukan motor tersebut dengan cepat keluar dari garasi. Sosok Itachi menghilang di dalam kepulan asap motor.
-ooo-
"Nah, semuanya sudah beres," ucap Sai sambil menyeka keringatnya dikening dan lehernya.
"Terima kasih atas bantuannya." Neji segera berdiri di belakang Sai, dan posisinya cukup dekat dengan Sai seolah dia bernapas tepat di belakang leher Sai, hembusan napasnya dapat terasa membuat Sai sedikit bergidik ngeri.
"I-iya… Sama-sama! Hehehe, ka-kalau begitu aku juga permisi dulu. Sampai juga Neji!" Sai segera berbalik dengan cepat dan mendapati wajah Neji yang cukup dekat denga wajahnya. Sai tertawa canggung sambil berusaha menghindari Neji, kemudian dia segera berpamitan untuk pulang.
"Tunggu dulu!" kata Neji yang tiba-tiba saja menarik tangan pemuda pucat itu kembali ke sisinya.
"A-ada apa lagi?" tanya Sai yang kaget karena tiba-tiba Neji menariknya. Saat ini perasaan Sai benar-benar sudah gelisah, ingin rasanya cepat-cepat dia keluar dari ruangan dan segera pulang.
"Aku masih menunggu jawabanmu yang waktu itu… Jadi sekarang bagaimana?" tanya Neji yang mengungkit kejadian beberapa waktu lalu.
Flashback
Di sebuah halaman sekolah terlihat dua orang pemuda tengah saling berhadapan. Yang satu adalah seorang pemuda berambut panjang dengan warna coklat, dia adalah Hyuuga Neji sang ketua Osis sekaligus ketua klub seni yang baru. Yang satu adalah pemuda berambut hitam yang terlihat cukup pucat, dia adalah salah satu anggota klub seni yang sangat mahir melukis, namanya adalah Sai Uchiha.
Alasan kenapa keduanya sekarang berada di halaman sekolah itu karena Neji yang meminta Sai untuk menemuinya setelah pelajaran berakhir. Hari ini pemuda yang bernama Neji itu nekad untuk menembak Sai, memang terdengar gila tapi itulah yang dia rasakan sejak mengenal Sai terakhir ini. Perasaannya sudah tidak dapat dia bendung jadi daripada terus-menerus dia tahan lebih baik dia ungkapkan.
"Jadi bagaimana Sai? Apa kau bisa menerimaku?" tanya pemuda berambut panjang itu dengan serius. Dia menatap Sai tanpa berkedip seolah setiap detiknya sungguh sayang dilewatkan tanpa memandang pemuda di depannya ini.
"I-ini terlalu tiba-tiba… Se-selain itu… Apa kau benar-benar serius? Maksudku… Ah, sudahlah… " Tampaknya Sai masih shock dengan pengakuan Neji yang tak terduga itu, dia merasa aneh bagaimana mungkin seorang Neji yang terkenal kaya, tampan dan memiliki banyak fans perempuan ini bisa menyukai dirinya. "Sigh… Neji jujur aku merasa hal ini terlalu aneh, tapi… Aku bisa mengerti perasaanmu… Hanya saja aku tidak bisa." Jawab pemuda itu yang menolak Neji secara halus.
"Kenapa? Apa kau masih merasa canggung dengan hal seperti ini? Jangan khwatir aku berjanji akan menutupinya dari yang lain." Sambar Neji dengan cepat, dia merasa kalau Sai masih ragu dan takut dengan hubungan yang seperti ini.
"Bukan seperti itu! Aku hanya tidak bisa… Maafkan aku." Sai dengan cepat membalasnya. Dia mengerti apa yang dirasakan Neji hanya saja dia tidak bisa menerimanya. Sai segera membungkuk minta maaf lalu cepat-cepat dia tinggalkan tempat itu.
End flashback.
"Jawabanku masih sama… Aku tidak bisa." Itulah jawaban yang diberikan Sai pada Neji, sebuah jawaban yang sama seperti waktu itu. Secara perlahan Sai melepaskan cengkaraman Neji darinya. "Aku permisi dulu," ucap Sai sambil tersenyum tipis lalu berbalik dari Neji.
BRAKK!
Tapi ketika Sai hendak membuka pintu, tiba-tiba Saja Neji menghalangi. Dia mendorong pintu yang sudah dibuka Sai dengan keras hingga pintu itu tertutup kembali. Sai hanya terpaku di tempat dan tidak berani bergerak ataupun beranjak dari tempatnya saat ini.
"Kenapa? Setiap kali kutanya, kau selalu saja memberi alasan yang tidak jelas." Kata Neji yang berdiri di belakang Sai dengan penuh kekecewaan dan emosi yang meluap.
"Pokoknya tidak bisa! Sekarang minggir!" balas Sai yang tidak berani menoleh ke arah belakang. Dia berusaha untuk membuka pintu yang tertahan itu.
"Kau… !" akhirnya Neji geram juga, dia benar-benar kesal pada Sai saat ini. Dia menarik pemuda itu dan mendorongnya lagi ke samping dengan cukup keras membuat pemuda itu menabrak loker para anggota klub. "Sekarang katakan padaku, apa sudah ada orang lain Sai?" tanya Neji yang menduga kalau selama ini Sai sudah menyimpan perasaan terhadap orang lain. Kalau itu benar kenapa selama ini Sai seperti memberinya harapan dan membuatnya terus mengejarnya, hal itulah yang membuatnya sangat kesal.
"Aku… Ti-tidak ada… Aku hanya tidak bisa menerimamu, apa penjelasan itu tidak cukup?" balas Sai yang tidak pandai membuat alasan, dan dia tau seorang Neji tidak akan puas dengan penjelasan seperti itu.
"Tidak cukup!" kata Neji yang sekarang tengah mengeratkan pegangannya pada kedua bahu Sai.
Disisi lain Itachi akhirnya sampai juga di sekolah tempat Sai berada. Dengan terburu-buru dia memarkir motornya disembarang tempat saja dan langsung berlari masuk ke dalam tanpa melepas helm.
TBC
Riku : Ok-ok enough about kiss... Kissing itu banyak macem-macemnya juga... Err maybe yang hanya sekedar kissing nempel doang itu termasuk kecupan biasa, bukan yang french kiss dan berbagai macam jenis kiss sejenis french kiss... Karena gue juga gak tau itu kayak gimana.
Saran, ide, pendapat, kritik gue terima. Flame? Baca aturan pakai dulu ya om/tante. And thanks yang menyempatkan diri baca cerita ini yang serba kekurangan dan mohon bantuan.
.
.
"Thanks for reading".
