Warning : T rate semi M (akhirnya gue putusin semi M), Sho-ai, BXB, bahasa yang masih labil.

Genres : Romance/Humor/Drama/Hurt/Comfort.

Pairing : SasuNaru/SaiNaru/ItaNaru/ItaSai/Slight GaaNaru/One sided NejiSai/Onesided SakuSasu.

Disclaimer : They're belong to Masashi Kishimoto.

This story belong to Riku.

My first Sho-ai story, enjoy it.

Brothers Can Not Be Lovers

Chapter 7

(Desire)

.

.

"Penjelasan itu tidak cukup! Kau selalu saja memberikan penjelasan yang tak jelas seperti itu!" Neji terlihat sangat kesal dan marah sekali dengan jawaban Sai yang menurutnya sangat menggantung. Tak adakah alasan yang lebih masuk akal? Neji cukup sadar diri kalau saja Sai mengatakan dia sudah menyukai orang lain, dia pasti akan mundur. Tapi Sai selalu saja bungkam tiap kali ditanyakan hal itu. apa Sai tidak tau kalau dia sudah hampir gila menahan perasaannya selama ini dan melihat sikap Sai yang terkesan tidak jelas membuatnya merasa seperti dipermainkan.

"Sikapmu yang seperti ini membuatku tersiksa! Kau seperti memberikanku harapan sedangkan dilain sisi kau terus saja menolakku," ucap Neji yang merasa sangat depresi dan kecewa. Tanpa sadar tangannya semakin mencengkram bahu Sai, membuat pemuda itu setengah meringis karena merasa sakit.

"Aku sama sekali tidak pernah punya niat seperti itu… Aku hanya… " balas Sai yang berusaha menenangkan keadaan, sungguh dia tidak tau kalau Neji akan merasa seperti itu. Kalau saja saat ini dia bisa membuat Neji merasa lebih baik pasti akan dia lakukan. Baginya Neji sudah seperti teman terbaiknya saat ini dan dia tidak mau kehilangan teman seperti itu.

"Hentikan sikapmu yang seperti itu!" balas Neji dengan cepat dan setengah membentak pemuda di depannya, membuatnya terdiam tak berani menjawab,"Bagaimana kalau kita bermain-main sebentar," ucap Neji sambil memamerkan sebuah seringai.

.

.

"Argh sial!" gedung ini begitu luas! Dimana aku harus mencari ruangan klub seni? Mana sepi lagi… " Itachi yang sudah berada di dalam gedung hanya celingak-celinguk sambil mengedarkan pandangan ke seluruh sekolah. Dia benar-benar bingung harus mencari kemana, karena banyaknya ruangan di sana. Ingin bertanya tapi gedung sekolah sudah sepi. "Ah, masa bodo!" akhirnya Itachi berlari ke sembarang arah. Dia hanya berlari mengikuti nalurinya saja berharap kalau arah tujuannya benar.

.

"Apa yang kau lakukan? Hentikan!" Sai berteriak secara spontan saat Neji menjatuhkan dirinya ke atas meja yang ukurannya cukup besar.

"Aku tidak akan berhenti! Bukankah kau senang bermain-main?" balas Neji yang sepertinya sudah gelap mata akibat perasaannya sendiri.

.

'Sial! Sial! Sial!' Itachi terus-menerus mengumpat dalam hati. Dia merasa bimbang dan cemas, ada suatu perasaan takut menyusup ke dalam hatinya. Dia khawatir kalau sesuatu hal buruk terjadi pada Sai. Dia kini berlari menelusuri lorong dua, dari arah tangga dia berbelok ke kanan. Tapi baru saja dia berbelok tiba-tiba terdengar sebuah suara secara samar dari arah yang berlawanan.

"Lepaskan aku!" teriakan itu meskipun samar tapi cukup terdengar oleh Itachi, dan pemuda itu yakin kalau suara itu adalah suara Sai. Tanpa berpikir dua kali Itachi segera berlari ke sumber arah suara itu.

-ooo-

"Neji kau tidak ingin melakukan ini! Kau bukanlah Neji yang seperti ini!" Sai mencoba untuk meloloskan diri dari Neji yang berada di depannya dan sedang menahannya.

"Kau yang membuatku seperti ini, apa kau sadar itu?" balas Neji dengan datar. Tangannya mulai masuk ke dalam baju seragam Sai dan tangan satunya mencoba melepaskan dasi yang masih bergantung di leher pemuda itu.

"Neji kalau kau tidak berhenti aku akan-" Sai mencoba mengancam Neji tapi omongannya sudah dipotong oleh Neji duluan.

"Kau mau apa hah?" tanya Neji sambil menyeringai seperti menantang Sai.

"Aku akan... " Sai kehabisan akal, tangannya berusaha mencari-cari sesuatu di atas meja, hingga akhirnya dia menemukan sebuah mangkuk tinta. "Aku akan menyiram wajahmu dengan tinta!" sambung Sai yang tangannya sudah memegang mangkuk tinta dan siap menyiramkannya pada Neji.

'What the? Gawat muka gue bisa hitam semua dong nanti!' batin Neji dengan kaget yang tak ingin wajahnya sampai tersiram tinta, tapi dia gengsi untuk menunjukkan rasa takutnya itu. Biar gimanapun mukanya adalah aset yang perlu diprioritaskan jangan sampai mukanya yang ganteng bin tampan dan rupawan itu ternodai oleh hitamnya tinta -lebay-.

"Terserah kau mau menyiramku atau apa, tak akan ada yang menolongmu Sai!" balas Neji mencoba bersikap cuek meskipun saat ini nyawa wajah tampannya berada di tangan Sai. Dia kembali melakukan aktifitasnya terhadap Sais etelah tadi sempat terhenti sesaat.

"Kalau begitu aku akan-" Sai sudah mengangkat tangannya bersiap menyiramkan tinta tersebut ke wajah Neji tapi adegan itu terpotong karena mendadak ada seseorang yang masuk dengan cara yang sangat barbar.

BRAAK!

Pintu ruangan klub dibuka dengan kasar atau lebih tepatnya ditendang. Dan yang melakukan siapa lagi kalau bukan Itachi yang saat ini masih mengenakan helm. Kedatangan Itachi yang tiba-tiba itu membuat kedua pemuda itu terkejut. Kesempatan ini digunakan Sai untuk segera bangkit dan melepaskan dari Neji yang sedang lengah. Dengan tergesa pemuda itu bangun dan segera mengambil tasnya.

"Maaf sekali aku mengganggu kalian! Tapi ini penting karena aku harus membawa Sai pulang, ibunya di rumah sudah sangat mencemaskannya. Jadi kami permisi!" katanya langsung tanpa berbasa-basi lagi dia segera menarik Sai ke sisinya dan membawanya pergi.

"Kau siapa?" tanya Sai sedikit curiga dengan orang yang menolongnya ini.

"Ini aku!" jawab Itachi sambil membuka helmnya dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Sai. Oke, saat ini Sai sedang berpikir kalau Itachi kapanpun dan dimanapun masih saja narsis dan dan suka tebar pesona, tapi dia senang Itachi datang diwaktu yang tepat (begitu juga Neji sebenarnya yang terselamatkan dari tinta hitam ancaman Sai).

"Itachi… " diluar dugaan Sai langsung memeluk pemuda itu dengan erat. Itachi sangat terkejut dengan sikap Sai yang tiba-tiba seperti ini, tapi dia senang karena saat ini dia tidak merasakan adanya jarak antara mereka dan dia yakin betul perasaan Sai masih sama seperti dulu.

"Tenanglah… Semua sudah baik-baik saja. Ayo kita pulang, Sai." Itachi dengan lembut mengusap rambut Sai. Dia dapat mengerti Sai pasti sangat ketakutan tadi. Itachi menggenggam tangan Sai dengan erat untuk meyakinkan pemuda itu kalau semua sudah tidak apa-apa. Keduanya berjalan menuju depan sekolah.

Di luar gedung sekolah...

.

"Sekarang naiklah." Katanya lagi menyuruh Sai untuk segera naik. Sai naik dengan perlahan dan langsung berpegangan erat pada Itachi. Itachi yang menyadari sikap Sai tidak seperti biasanya ini hanya tersenyum kecil, karena Sai kalau naik motor dengannya tidak pernah mau memegangnya apalagi merangkulnya seperti sekarang ini. Setelah itu Itachi melajukan motornya keluar gerbang sekolah. Sedangkan saat itu ada Neji yang mengintip keduanya dengan tatapan penuh arti.


Di rumah…

.

.

"KAMI PULANGGG!" teriak Itachi dari luar setelah memasukkan motornya ke dalam garasi.

"Syukurlah kalian sudah pulang! Aku sangat cemas!" balas Kushina yang buru-buru menghampiri keduanya di depan untuk memastikan kalau keduanya kembali dalam keadaan sehat-sehat saja.

"Ayo cepat masuk! Udara di luar sangat dingin, nanti kalian masuk angin!" Kushina segera menyuruh kedua pemuda itu untuk segera memasuki rumah, dia tidak ingin kalau mereka sampai sakit. Keduanya pun segera masuk ke dalam di ikuti dengan Kushina yang langsung menutup pintu.

.

"Apa kalian mau langsung bergabung makan malam?" tanya Kushina pada Itachi dan Sai. Untuk suatu alasan Kushina merasa kalau kedua pemuda itu sedang dalam bad mood.

"Tidak, kalian saja. Masih ada tugas dari kampus yang harus kuselesaikan." Jawab Itachi sambil tersenyum ramah pada Kushina, setelah itu dia permisi untuk pergi ke atas.

"Aku juga tidak lapar… " Timpal Sai lalu mengikuti jejak Itachi naik ke atas.

"Kutinggalkan makan malam kalian di dapur dan juga cemilannya ya! Ingat kalau lapar kalau harus segera makan!" teriak Kushina berusaha mengingatkan kedua pemuda itu untuk tetap makan.

"Baik!" balas keduanya pada Kushina. Setelah itu Kushina segera kembali ke meja makan dan melanjutkan makan malamnya bersama dengan Fugaku, Sasuke dan juga Naruto yang ikut makan bersama mereka.

"Kenapa mereka berdua tidak bergabung bersama kita Kushina?" tanya Fugaku yang sedikit banyak mencemaskan kedua putranya itu.

"Mereka bilang belum lapar. Hahaha, sudahlah nanti kalau lapar mereka pasti akan makan, lebih baik kita segera habiskan makan malam kita." Balas Kushina sambil tertawa riang berharap agar suaminya tidak terlalu mencemaskan Itachi dan Sai.

-ooo-

"Sigh… " begitu di dalam kamar Sai langsung menghela napas panjang. Dia tidak mengira kalau hari ini dia mengalami begitu banyak hal di luar dugaan dan cukup berat baginya. Mulai Dari Konan yang muncul tiba-tiba dan juga sikap Neji.

Tok… Tok… Tok..

Suara ketukan pintu dari luar terdengar.

"Sai, aku ingin bicara denganmu. Bisa kau buka pintu?" tanya sang pengetuk pintu yang tak lain adalah Itachi. Saat ini dia sangat mencemaskan kondisi Sai. Pemuda itu memang tampak baik-baik saja dari luar tapi secara mental pasti saat ini Sai sangat down.

"Aku sedang tidak ingin diganggu." Balas Sai dengan pelan tapi cukup terdengar untuk Itachi.

"Aku ingin berbicara denganmu sebagai seorang kakak." Kata Itachi dengan serius dan sepertinya dia tidak akan pergi sebelum Sai membukakan pintu.

Cklek…

Tak lama Sai membuka pintu dan mempersilahkan Itachi untuk masuk ke dalam. Itachi segera masuk ke dalam dan langsung duduk di bawah dengan bersila.

.

"Duduklah Sai." Perintahnya menyuruh Sai untuk duduk di depannya. Tanpa banyak protes Sai segera mematuhi ucapan Itachi.

"Ada yang ingin kukatakan sebagai seorang kakak terhadap adiknya. Aku minta kau keluar dari klub seni." Kata Itachi tanpa berbasa-basi, kejadian yang dia lihat di ruangan seni itu benar-benar membuatnya takut.

"Kalau aku jawab tidak mau, bagaimana?" balas Sai yang sepertinya enggan untuk mematuhi perkataan Itachi untuk keluar dari klub seni. Tentu dia tidak bisa, karena sejak kecil hidupnya sudah bergelut dengan seni bagaimana mungkin dia bisa dipisahkan dari hal yang sangat dia sukai itu.

"Jangan keras kepala Sai! Kejadian tadi kalau sampai terulang lagi bagaimana? Bagaimana kalau saat itu aku tidak ada untuk menolongmu?" Itachi tampak ngotot meminta Sai untuk keluar dari kegiatan eskul itu. dia sangat takut kehilangan Sai dan dia tidak bisa membayangkan kalau hal itu sampai terjadi lagi bahkan lebih buruk.

"Biarkan saja… Lagipula semua itu tidak ada hubungannya denganmu." Balas Sai dengan datar. Kemudian dia segera berdiri hendak meninggalkan Itachi.

"Kau boleh tidak peduli, tapi aku sangat peduli karena aku tidak ingin kehilangamu!" kata Itachi yang segera berdiri dan mencengkram pergelangan tangan Sai dengan kuat, mencegah pemuda itu agar tidak pergi.

"Daripada mengurusiku lebih baik kau mengurusi Ayame-san!" balas Sai yang mendorong Itachi cukup keras supaya pemuda itu menjauh darinya.

"Apa? kenapa jadi membahas masalah Ayame?" tanya Itachi yang tidak mengerti kenapa permasalahannya jadi merambat ke urusan Ayame segala.

"Ini undangan untukmu!" Sai menyerahkan undangan yang diberikan pada Konan sebelumnya. Disodorkannya undangan itu agar Itachi mau mengambilnya.

"Ini… Undangan pesta ulang tahun Ayame… Aku tidak mau datang!" Itachi dengan cepat langsung menyatakan penolakannya untuk datang ke acara itu.

'Dia benar-benar menyebalkan!' batin Sai yang geleng-geleng melihat Itachi memberi keputusan dengan cepat untuk tidak datang. Apa dia tidak tau kalau dirinya menderita karena masalah seperti ini dan Itachi sama sekali tidak mau berkerja sama dengannya, sunggu orang yang sangat egois.

"Kau harus datang! Karena aku sudah janji pada Konan-san untuk memastikan kau akan datang ke acara itu!" balas Sai yang malah keceplosan soal Konan.

"Kau bilang apa? Kau sudah janji dengan Konan? Kau bertemu dengannya? Dia sangat keterlaluan!" Itachi yang kaget dengan pengakuan Sai barusan langsung saja menjadi geram, dia tau betul pasti Konan sudah bicara yang tidak-tidak pada Sai. Dengan cepat dia pergi ke kamarnya.

"Itachi kita belum selesai bicara!" Sai setengah berteriak memanggil Itachi yang pergi begitu saja sebelum memberi jawaban kalau dia akan pergi ke acara itu. secara reflek dia berlai ke kamar Itachi mengikut pemuda itu.

-ooo-

"Hallo, Konan! Aku hanya ingin mengatakan berhenti ikut campur dalam masalah kehidupanku!" ternyata Itachi sedang menelpon Konan, terlihat jelas kalau Itachi saat ini sedang marah pada gadis itu. dari nada bicaranya saja sudah terdengar tidak bersahabat.

"Jangan begitu Itachi! Semua teman kita akan datang sabtu nanti dan pastikan kau pasti datang!" balas Konan disebrang sana dengan cuek, sepertinya dia tidak peduli kalau Itachi saat ini benar-benar sedang marah padanya. "Sampai ketemu dipesta sabtu besok!" Konan dengan seenaknya langsung menutup telpon.

"Hei tunggu! Arghhh!" Itachi berteriak frustasi. Dia kembali memencet-mencet nomor Konan tapi sepertinya Konan sudah menon-aktifkan handphone-nya. "Benar-benar seenaknya!" gerutu Itachi dengan kesal.

"Dan ini semua karena kau yang seenaknya saja membuat janji padanya! Pokoknya aku tidak mau tau, kau harus ikut denganku ke pesta itu!" Itachi kemudian menunjuk Sai yang masih berdiri diam dengan tatapan bingung melihat Itachi yang sepertinya lagi stress berat.

"A-apa? Kenapa aku juga harus ikut!" protes Sai tidak percaya kalau dirinya harus ikut terseret-seret juga.

"Suka atau tidak suka kau harus ikut! Kau bisa membuat janji dengan Konan, sekarang kau juga harus berjanji untuk ikut denganku, dan aku tidak ingin adanya penolakan," ucap Itachi sambil menyeringai. Sai kalah telak akhirnya menuruti perkataan Itachi.

'Hah… Sudah kuduga akan jadi begini,' ucap Sai dalam hati sambil menghela napas pasrah menghadapi sikap Itachi yang suka seenaknya itu.

TBC


Riku : Dari sini mungkin gue mau menyelipkan humor-humor, gue mau coba humor yang tetep pake bahasa formal. Humornya nongol secara random aja, moga-moga berasa meski sedikit. Dan thanks buat saran-saran yang udah masuk, gue tampung dan gue pelajari hehehe.

Disini konflik Itachi sama Sai dulu yang gue perjelas, sedangkan untuk Sasuke dan Naruto gue perbanyak lagi nanti.

Ide, Saran serta kritiknya silahkan ke review atau PM gue langsung (mungkin ada yang mau ngajarin gue digenre ini?). Flame? Baca aturan pakai, kalau keluhan berlanjut silahkan hubungi gue lewat PM.

.

.

"Thanks for reading".