Disclaimer: Tsubasa Reservoir Chronicle © CLAMP, When the Rain Take You Away
A/N:
konbanwa minna-san :D
ShadouRyu - kun (biar gak dikira cewek ==") telah kembali dengan chapter 2 :D
Saya ngebuat ini fic, di tengah kebosanan belajar buat SNMPTN (kacau) dan akhirnya Chap 2 selesai deh :D
nah, yang kangen sama cerita saya (emang ada?) selamat membaca ya :D :D
Jangan Lupa Review :D
Chapter 2 : When The Sun is Unseen
Matahari menerangi bumi dengan amat terik. Ditambah lagi hamparan pasir yang begitu luas, pasti mematahkan semangat siapapun yang berani menantangnya. Hari ini, caravan dari negeri Clow yang harus menghadapinya. Dengan langkah gontai, beberapa orang dengan jubah putih melangkah. Menuntun tunggangannya yang juga kelelahan. Sang pemimpin, yang wajahnya tertutup tudung, berjalan dengan memperhatikan kompas dan peta. Ia berjalan di depan rombongannya pelan – pelan. Ia tahu, mereka semua kelelahan dan kehausan. Sang pemimpin berusaha memahami peta yang diberikan raja negeri Unknown padanya. Peta itu menggambarkan letak Oasis yang tersebar di padang pasir tersebut. Padang pasir itu adalah padang pasir terbesar se-benua. Memisahkan negeri Unknown dengan negeri Clow. Jaraknya hampir seperempat bumi, dan ditempuh dalam waktu kurang lebih sebulan. Tapi, mau bagaimana lagi, melintasi gurun itulah jalan tercepat untuk pulang. Jika mereka memilih jalan melewati negara negara di sekeliling gurun, maka waktu tempuh akan mencapai tiga sampai empat bulan.
Mereka sudah berjalan kira – kira lima jam tanpa istirahat. Mereka sudah berada di ambang batas. Sang pemimpin lalu berbalik ke belakang. Menghadap kepada anggota caravan yang lain. Ia membuka tudung yang menutup kepalanya. Pemuda berambut coklat dan bermata amber itu berteriak lantang.
"ayo kawan – kawan! Semangatlah! Sebentar lagi kita akan menemukan oasis! Menurut peta, seharusnya hanya tinggal 500 meter lagi! Semangat!"
"Yaaaa!" jawab seluruh anggota caravan. Seluruh anggota caravan menemukan lagi semangat mereka. Mereka berjalan pelan, namun penuh gairah. Mereka tak ingin membuang stamina mereka, hanya untuk berjalan cepat sesaat. Sang pemuda tersenyum melihat anggotanya kembali bersemangat.
Mereka berjalan dengan menggunakan tenaga yang tersisa, untuk melanjutkan perjalanan. Sepuluh menit berjalan, akhirnya mereka menemukan oasis yang mereka cari. Para anggota senang bukan kepalang. Mereka berlari menuju oasis. Namun, tak sampai lima belas meter berlari, mereka berhenti. Semua menoleh ke arah ketua mereka yang berada di belakang bersama sahabatnya, Kapten Ryuuoh. Melihat tingkah anggotanya, ketua hanya tersenyum, lalu mengangguk kecil. Melihat persetujuan, langsung saja semuanya berlari menyongsong danau yang penuh dengan air segar untuk menghilangkan gerah, dahaga dan tentu saja kelelahan.
"Syao, kenapa kau hanya tersenyum sedari tadi? Orang lain kecapekan, eh kau hanya senyum – senyum sendiri, tak terlihat lelah." Tanya Ryuuoh pada sang ketua muda, yang sekaligus sahabatnya, Syaoran.
"Entah kenapa, setelah memikirkan bahwa kita telah mendekat pada negeri kita, lelahku langsung menghilang. Semuanya terganti oleh gairah."
"hmm… gairah atau cinta? Sebenarnya lelahmu hilang setelah memikirkan sakura – hime kan? Mengaku sajalah pada sahabatmu yang satu ini" Goda Ryuuoh sambil mendekatkan wajahnya dan mengedipkan mata pada Syaoran.
"Ya… ya… soal itu… ah diam kau Ryuuoh! Menggangu saja!" teriak Syaoran, wajahnya memerah karena malu.
"Syaoran jatuh cinta, Syaoran jatuh cinta. Hahaha, walaupun kau terlihat begitu dewasa, dan kadang terkesan tua, kau ternyata masih kecil ya" ejek Ryuuoh. Ia berlari sambi menghindari Syaoran yang mengejarnya dengan murka.
Begitulah, dua orang pemuda yang memiliki peran penting bagi negeri Clow, Syaoran sang diplomat sekaligus kepala intelejen, dan Ryuuoh, orang yang umurnya bahkan belum sampai dua puluh lima tahun, namun telah memegang kendali kemiliteran.
Mereka yang lelah berkejar – kejaran, kini telah tertawa bersama yang lain di danau sambil mendinginkan tubuh dan beristirahat. Mereka minum sepuasnya untuk menghilangkan dahaga , juga dahaga tunggangan mereka. Unta – unta itu terlihat gembira sekali saat meminum air danau yang segar itu. Di tengah ketenangan oasis, kelelahan yang amat sangat dan dahaga yang terobati, maka tak aneh, banyak dari mereka yang jatuh tertidur, termasuk Ryuuoh. Namun, tidak untuk Syaoran, bahaya jika seluruh rombongan tertidur. ya, ia tak tertidur, namun ia melamun. Siapa lagi yang ia lamunkan selain Sakura? Ia tersenyum tersenyum sendiri, membayangkan ia sedang memeluk Sakura yang berlari menyongsong, untuk menyambut kedatangannya.
Dasar jahil memang, Ryuuoh yang hanya tertidur sebentar, karena melihat Syaoran yang sedang tersenyum sendiri seperti orang gila, timbul jiwa isengnya. Ia mengambil sebuah tempurung kelapa yang kosong, mengisinya dengan air danau, lalu berjalan kebelakang Syaoran.
"Hujan! Hujan!" teriaknya ta terlalu keras, agar tak membangunkan yang lain, sambil menumpahkan air dalam tempurung ke kepala Syaoran.
"Wah! Hujan! Hujan! Jangan sampai perbekalan basah!" teriak Syaoran panik. Suaranya yang keras membangunkan semua orang yang tertidur, dan membuat mereka keheranan. Ryuuoh tertawa terbahak – bahak hingga perutnya sakit, melihat tingkah sahabatnya itu. Menyadari lelucon ini, semua orang tertawa riuh. Seketika, wajah Syaoran merah padam, perasaannya bercampur, antara kesal, malu dan ingin tertawa dengan kebodohannya sendiri. Ryuuoh hanya menepuk bahu Syaoran sambi nyengir, dan menunjukkan dua jarinya. Syaoran lalu memukul perut Ryuuoh.
"Itu balasanku atas tingkah usilmu tadi, sial." Sambil membantu sahabatnya, yang terjatuh, berdiri. Ryuuoh nyengir sekali lagi. Dan kejadian itu membuat semuanya tertawa, nyengir, dan tersenyum. Hari ini terasa begitu indah dengan tawa dan canda yang menghiasi. Dalam hati, ia berharap, semoga hari esok akan terus seperti ini.
Perjalanan yang menempuh waktu sebulan itu, hampir mendekati akhir. Mereka bertahan dengan berjalan dari sebuah oasis ke oasis lain. Sekitar 15 oasis telah mereka melihat peta, ia tersenyum senang. Tinggal sepuluh kilometer lagi menuju perbatasan negeri Clow. Karena terlalu senang, maka secara tak sadar ia menghentikan langkah. Melihat sahabatnya 'kambuh' Ryuuoh yang hanya sekitar tiga langkah di belakang, mendekati Syaoran dan menepuk pundaknya. Ia hanya tersenyum, lalu membuat tanda dengan jempolnya, agar Syaoran melihat ke belakang. Agar ia sadar, ia tak sendiri, ia punya tanggung jawab terhadap semua anggota kelompok. Syaoran pun tersenyum, pandangannya menyiratkan permintaan maaf terhadap Ryuuoh. Syaoran menunjukkan peta yang ia bawa, dan Ryuuoh pun hanya tersenyum.
Mereka lanjut berjalan dengan semangat baru setelah Syaoran memberi tahu mereka, bahwa Clow sudah dekat. Syaoran tetap berjalan di depan, walaupun anggota lain berjalan dengan kecepatan dua kali lipat dari biasanya. Ryuuoh terlihat geli saat Syaoran dengan susah payah mengikuti ritme paraa anggota. Di sisi lain, walaupun agak sulit mengikuti ritme mereka yang amat cepat, Syaoran senang juga, karena mereka bisa menuju Clow lebih cepat lagi. Ryuuoh mempercepat langkah menuju samping Syaoran.
"Ciee, yang sebentar lagi ketemu Sakura – hime, seneng kan kita bisa jalan cepet gini?"
"Ah! Itu… udah lah, diem diem, iya seneng, kenapa? Cemburu?" (kenapa kesannya mereka pacaran? -")
"Syaoran syaoran,dasar anak kecil kamu hahaha" Ryuuoh tak henti – hentinya mengejek Syaoran.
"lah kalo aku masih kecil, kamu selama ini dipimpin anak kecil dong, gak malu?" Syaoran melangkah pergi mempercepat langkah. Ada ekor setan tumbuh di belakang Syaoran, selama Ryuuoh memerah karena malu dan kesal.
Ryuuoh mengejar Syaoran dan mengunci leher Syaoran. Syaoran mengangkat tangan meminta ampun. Ryuuoh hanya tertawa senang, senang dan menang tepatnya. Akhirnya, setelah itu, ia pun melepaskan tangannya yang mengunci leher Syaoran. Mereka melanjutkan jalan lagi, Syaoran terlihat amat kesakitan. Ryuuoh pun mengatupkan tangannya dan meminta maaf. Sekali lagi, mereka tertawa bersama.
Syaoran merasakan hal yang tidak beres, ia mencoba memicingkan matanya agar melihat lebih jelas. Betapa kagetnya ia, melihat badai pasir bergulung – gulung. Dan Ryuuoh pun melihat hal yang sama setelah melihat ke arah yang sama.
"Badai Pasir! Berlindung di Samping Unta kalian! Tarik agar unta kalian duduk! Cepat!" teriak Syaorn memberi perintah, ia pun memakai Gogglenya untuk melindungi mata, namun sayang, ia lupa memakai maskernya, untuk mencegah pasir masuk ke dalam hidungnya.
Semua orang sudah berada di balik unta mereka masing – masing sakarang, menunggu badai datang, dan membiarkannya berlalu. Tak sampai dua menit kemudian, badai telah menerpa mereka, pasir telah menutupi tubuh mereka sekarang.
"Sakura maafkan aku..." bisik Syaoran. tiada yang mendengar. Hanya butiran butiran pasir, dan angin yang menemani kesepiannya kini. Nafasnya sesak, asmanya kambuh karena menghirup pasir.
"Sakura… Matahari, kini tak terlihat, entah karena pasir yang menutupinya, atau aku yang tak dapat lagi membuka mata… mungkin aku akan melanggar janjiku… maafkan aku…" suara Syaoran, tenggelam di tengah deru angin yang amat kencang. Di wajah yang tak tertutup masker, penuh dengan pasir, ia tersenyum.
When the sun is unseen
Maybe, I can't see you anymore
But, until my last breath
I can feel the warmness of the sun
Just like you, warming my frozen heart
Goodbye, I hope we'll meet each other again
I love you
Chapter 2 end...
Reply for review from Hoshi no Nimarmine : sip, sudah dipastikan tidak ada typo (mungkin masih ada dikit :P) tapi semoga ini lebih baik, dukung terus ya :D salam kenal Nimarmine-senpai :D
