denial.

n. a refusal to accept or believe something.


percy jackson and the olympians © rick riordan

i am not, in any way, making any profit from the story.


.

Pollux tidak pernah peduli dengan pandangan orang lain.

Baik saat di perkemahan, kala menjadi pekemah minoritas, satu dari sedikit putra Dionysus di antara begitu banyak putra-putri dewa yang lain (terutama pekemah yang menyesaki kabin Hermes, meh). Atau saat berada di antara mortal yang tak mengetahui bahwa keturunan dewa-dewi Yunani berjalan-jalan di tengah mereka, bersembunyi dari incaran makhluk baik yang mengancam keselamatan. Pollux tak pernah peduli dengan orang lain.

Bahkan saat dia sedang berada di tengah kota New York yang dipadati oleh pejalan kaki, dengan tawa menempel di ujung bibir, dia tak mempedulikan sekitarnya. Satu tangan menggenggam kaleng minum; yang satu lagi tergantung di udara, bersikap seolah merangkul seorang yang berjalan bersisian dengannya. Orang-orang menatapnya dengan heran, bersikap seakan dia gila—tapi Pollux tak mengindahkan tatapan itu.

Langkahnya ringan, begitu riang dan gembira di tengah sore musim gugur yang mendung. Lengannya pegal, ingin sekali diturunkan untuk mengusir lelah setelah sekian lama berjalan dengan laku begitu. Tapi dia tak ingin membebaskan seorang yang lehernya sedang—pura-pura—ia peluk. Tak mau. Nanti Castor lepas lagi, dan pergi dari sisi Pollux. Seperti sebelumnya.

(Padahal hanya udara kosong yang ia peluk.)

Bahkan sekalipun dia—dan hanya dia yang bisa—melihat bayangan Castor, Pollux tak bisa menyentuhnya seperti sedia kala.

.