A/N: Isi chapter ini sama dengan cuplikan summary di depan.


CHAPTER 1

Tuttt... Tutt... Tuttt...

Terdengar suara sirine kereta api sedang melaju kencang di atas rel yang membelah kota. Gerbong-gerbongnya cukup lenggang. Hanya ada beberapa penumpang duduk tenang sambil menunggu kapan mereka tiba di stasiun berikutnya. Sekilas hanya perjalanan biasa tapi tanpa mereka sadari, seorang pemuda berambut pirang berdiri di atas gerbong nomor dua dari belakang. Kakinya seolah menancap kuat bahwa ia tak khawatir jatuh akibat melakukan aksi berbahaya tersebut. Matanya fokus menatap satu gerbong tepat di depan gerbong tempatnya berdiri. Ia seperti tengah menunggu mangsa.

Di gerbong yang ia amati tersebut, terdapat dua orang duduk di bangku yang saling berhadapan, perempuan dan laki-laki. Hanya ada suara gemerincing dari pegangan tangan logam yang terayun-ayun di tengah koridor-atas kepala mereka-. Penumpang yang perempuan bersiul kecil. Matanya melirik ke sana kemari mencoba mengusir kebosanan. Ia juga berusaha mengalihkan pandangan dari mata penumpang laki-laki yang tampak mengincarnya. Mulut laki-laki itu sesekali menyunggingkan senyum aneh yang membuat kulit perempuan itu semakin bergidik ngeri. Ia tadi sebenarnya hanya duduk sendirian sampai laki-laki ini masuk ke gerbongnya. Jarang sekali ada penumpang yang pindah gerbong di saat kereta tengah melaju sementara gerbong yang lain juga tidak penuh sesak, apalagi pemberhentian sebelumnya sudah berlalu satu jam.

Perempuan itu semakin merapatkan kedua tangannya di balik saku jaketnya. Kini matanya menunduk ke bawah tanda tak awas. Ia tak melihat bahwa senyum di depannya berubah menjadi seringai menakutkan. Sepasang taring terlihat menyembul dari balik bibir atasnya. Bola matanya yang semula hanya berwarna hitam biasa juga berubah menjadi merah pekat. Pupil matanya yang tadinya bulat berubah meruncing seperti mata kucing. Lalu, seperti melesakkan dirinya ke belakang untuk menambah daya pegas, ia pun melompat ke depan.

DOR!

Laki-laki itu kaget. Ia terdorong mundur.

Perempuan tadi ternyata membawa pistol kecil di sakunya. Ia bukannya tak awas. Ia justru sengaja memancingnya. Ia memperhatikan sebentar laki-laki yang barusan ditembaknya. Laki-laki itu mengerang dan mengejan berusaha mengeluarkan peluru yang tertancap di dadanya. Tak butuh waktu lama, perempuan itu tahu apa yang harus ia lakukan sebelum laki-laki itu pulih. Ia pun berlari ke gerbong belakang dan laki-laki itu mengejarnya.

"Biggs! Wedge!" serunya memasuki gerbong belakang melewati dua orang.

Dua orang yang dipanggil itu sudah siap dari tadi. Persis begitu laki-laki itu menerobos pintu gerbong, rentetan peluru yang baru sudah menunggunya.

DOR! DOR! DOR!

Peluru-peluru pun berhamburan ke kursi penumpang. Tenang saja, tidak ada satu pun manusia yang tengah duduk di gerbong tersebut. Suara tembakan itu pun juga teredam deru kereta sehingga tidak membuat risau penumpang yang berada di gerbong-gerbong depan. Mereka sudah sengaja menjauhkan laki-laki itu dari banyak orang. Laki-laki itu pun terkapar bersimbah darah. Warna darahnya hitam tidak seperti manusia. Apa yang sebenarnya ditembaki itu?

"Wow! Dia masih bisa bergerak," kata salah satu dari penembak tadi.

"Bukan saatnya kagum, tahu?" jawab yang satunya menoleh ke rekannya.

"Kalian jangan kebanyakan ngobrol!" semprot satu orang lagi dengan suara serak. Orang itu berkulit gelap dan bertubuh besar berotot dengan beberapa bekas luka di wajahnya. Ditambah sebuah tangan palsu di lengan kanannya, pria bernama Barret Wallace tersebut tampak seperti seorang veteran yang sudah berpengalaman . Ia juga hendak menembak tapi... "Tuh kan dia kabur!"

"Cloud, dia ke atas!" teriak perempuan bernama Jessie yang ternyata adalah bagian dari kelompok mereka itu.

Yang dipanggil juga telah bersiap. Ia pun mencabut pedangnya. Tampak di depannya sesosok makhluk meloncat muncul, penumpang laki-laki yang tadi. "Huh, peluru tak mempan ya?" ejeknya.

Mangsa yang sudah diincarnya dari tadi itu pun terkesiap saat Cloud melesat ke hadapannya. Sebagai benteng terakhir dari serangkaian serangan tersebut, Cloud pun tidak boleh melepaskannya, atau ia tak akan dibayar untuk misi ini. Tentu saja akan jadi lebih mudah baginya menghabisi makhluk yang bahkan untuk kabur itu sudah sempoyongan. Namun tetap saja kecepatan makhluk itu menghindar lebih dari manusia biasa. Dibilang sempoyongan pun, makhluk itu masih bisa menjaga keseimbangannya di atas kereta. Barret dan yang lainnya sudah tak bisa mengejar sampai tahap ini, itulah kenapa Cloud ditempatkan di atas. Kalau tebasannya kurang dalam, makhluk itu masih bisa menyembuhkan dirinya sendiri, sama seperti saat ia mengeluarkan peluru-peluru tadi. Namun, tetap saja makhluk itu butuh waktu untuk beregenerasi, itulah kenapa ia kabur. Dan kesempatan itu tak boleh disia-siakan Cloud.

Yang harus ia lakukan hanyalah membelahnya jadi dua.

CRASSSHHHH...

Dan tubuh yang terbelah itu seketika menjadi abu tersapu angin.

...

Kereta api pun memasuki stasiun seolah tak terjadi apa-apa. Barret dan anak buahnya telah selesai membereskan bekas-bekas pekerjaan mereka sebelum keluar ke peron. Cloud dengan ringannya pun melompat turun dari atas gerbong.

"Yo, anak baru! Kau berhasil," puji Barret sambil menginstruksi semuanya untuk lekas keluar dari stasiun.

"Kita beruntung memilikimu di AVALANCHE," sambung Jessie.

"Tapi aku jadi sedikit ragu. Kau terlalu hebat. Kau bahkan bisa mengimbangi kecepatan mereka," lanjut Biggs. "Kau bukan vampir kan?"

Cloud pun menatap tajam ke arah Biggs. "Berapa kali harus kubilang? Di dunia ini, aku paling benci sama yang namanya vampir. Jangan samakan aku dengan monster itu atau aku akan menebasmu meskipun kita sama-sama manusia."

"Galak sekali," ujar Wedge.

Barret menjitak kepala Cloud. "Jangan belagu! Kita semua yang ada di sini punya nasib yang sama denganmu, tahu! Manusia terancam jiwanya, kitalah yang harus menyelamatkan mereka."

Cloud mengusap kepalanya. "Jujur saja, aku tak peduli dengan tujuan mulia semacam misi kemanusiaan yang biasa kalian dengungkan. Aku hanya memburu satu vampir bernama Sephiroth. Sampai aku menemukannya, itulah bentuk kerjasama kita," jelasnya dingin kemudian berjalan lebih cepat dari yang lain, meninggalkan mereka.

"Huh, dia ini tidak bisa diajak bercanda ya?" celetuk Biggs. "Sama seperti Barret."

"Biggs!" semprot Barret.

'"Benar kan?" sambung Wedge dan Jessie menghela napas.

...

Inilah Midgar.

Sebuah kota industri dan metropolitan besar dengan fasilitas modern super lengkap di Gaia. Industri elektronik dan pembangkit listriknya yang berasal dari reaktor seolah menyembunyikan langit dengan gumpalan asap hitamnya yang mempolusi udara. Gedung-gedung berlantai puluhannya juga menjulang bagaikan menerkam langit, memberi sudut-sudut gang yang tak tersentuh matahari, bagaikan tempat yang yang sangat cocok untuk bersembunyi. Manusia butuh cahaya karena itulah sumber kehidupan mereka. Namun, ada makhluk lain yang justru menyukai tempat-tempat seperti itu karena matahari adalah musuh utama mereka. Dan mereka tahu, Midgar menyediakan ruang untuk mereka sanggup bergeliat tak kalah dengan manusia di siang hari.

Tentu saja sebagai gantinya, titik puncak aktivitas mereka adalah malam hari. Sebaliknya, aktivitas manusia mulai menurun selepas senja. Namun, keramaian malam jelas masih ada di bawah terangnya lampu-lampu yang menghiasi kota, bahwa Midgar tetap indah pada malam hari. Bukan berarti mereka menunggu manusia terlelap dalam rumah masing-masing sehingga tiba waktunya giliran mereka menguasai kota, bukan itu yang mereka inginkan. Mereka justru berbaur dan masuk ke sela-sela manusia; berjalan di kota, mengendarai kendaraan, mengunjungi pusat perbelanjaan, dan segenap aktivitas normal lainnya. Saat manusia lengah itulah, mereka menampakkan wujudnya. Setelah itu, mereka akan menghilang dengan cepat, kembali ke balik kegelapan.

Karena itulah, nyaris tak ada manusia yang mengetahui keberadaan mereka yang disebut vampir ini.

Kecuali segelintir. Contohnya adalah Barret dan anak buahnya tadi yang merekrut Cloud. Mereka adalah pembasmi vampir yang menamakan kelompoknya AVALANCHE. Anggota mereka sebenarnya masih ada satu lagi tapi tadi tidak ikut.

Dan tidak hanya mereka saja yang tahu...

Seorang gadis berkepang satu dengan tambatan sebuah pita besar di kepalanya dan berpakaian mencolok serba pink keluar dari sebuah gang. Ia berdiri di trotoar yang menghadap ke jalan raya di mana mobil-mobil berseliweran di depannya. Di seberangnya tampak keramaian pusat kota di mana orang-orang berlalu lalang seperti dirinya. Di atas kepalanya terlihat papan penunjuk arah persimpangan bahwa bergerak lurus terus ke utara dari tempatnya berdiri akan menuju ke stasiun, bahkan ia sudah bisa mendengar suara kereta api lewat. Suasana yang berisik bukan? Suara-suara itu seolah mengaburkan suara denting logam yang lain. Suara peluru ditembakkan. Suara geraman kesakitan.

Ia seperti agak melamun karena tidak melihat Cloud berjalan ke arahnya.

BUKKK...

Mereka pun bertabrakan.

"Maaf," ujar Cloud sopan.

"Sebentar," kata gadis itu, "kau terluka?"

"Hah?" ucap Cloud bingung karena ia sedang tidak terluka sama sekali. Ia pun melihat baju pink gadis itu ternoda darah. Oh, rupanya darah vampir yang ia basmi tadi mengenai bajunya dan saat bertabrakan tadi jadi menempel ke gadis itu. "Aku tidak apa-apa," jawabnya sambil bergegas menjauhi tempat.

Gadis itu memandang ke arah Cloud pergi. Entah kenapa ia merasakan suatu deja vu dari pertemuan barusan. Ia lalu menoleh ke arah utara, memandang jauh stasiun yang tidak kelihatan. "Malam ini ada perburuan lagi ya?" gumamnya.

...menandakan ia termasuk yang segelintir orang tadi.

Begitulah, Cloud dan yang lain akhirnya sampai di sektor tujuh kota tersebut. Ada sebuah bar yang sangat ramai bernama 7th Heaven. Mereka pun berbondong-bondong masuk ke sana dimulai dari Barret yang langsung mengagetkan banyak pengunjung. Beberapa pelanggan tetap sudah hapal dengan keberadaannya dan tak terkejut. Barret berlalu begitu saja menuju ke dalam, sebuah area prbadi miliknya yang kemudian terdengar suara gadis kecil menyambut kedatangannya. Sementara itu Jesse, Biggs, dan Wedge tampak berebut dilayani oleh seorang penjaga bar yang dari pakaiannya sangat seksi.

"Aaaaah!" ujar Biggs menenggak minuman keras. "Nggak ada yang bisa mengalahkan minuman pertama setelah selesai menyelesaikan pekerjaan."

"Dan minuman racikan Tifa itu enak sekali. Langsung membuat bar ini terkenal dalam sebulan," sambung Wedge.

Tifa hanya tersenyum mendengar pujian itu. Ia lalu menatap Cloud yang masih berdiri. "Cloud, kau tak minum juga?"

"Aku harus mengganti bajuku," ujarnya singkat lalu ke belakang.

Jessie berbisik pada Tifa. Dialah anggota yang seorang lagi. "Kami sampai lupa kalau ia tadi berjalan-jalan di kota dengan baju berlumuran darah vampir. Untung saja bajunya berwarna hitam dan ini sudah malam."

"Dia bahkan tampak santai menenteng pedang. Harusnya sih ia lewat pintu belakang," kata Biggs.

"Yahhh, itu kan aksesoris bagus," sambung Wedge asal.

Tifa hanya memandang pintu tempat Cloud dan Barret tadi masuk ke belakang bar. Di belakang bar, ada ruangan-ruangan seperti rumah biasa dan Barret tinggal di situ bersama seorang putrinya yang bernama Marlene. Biggs dan Wedge mengontrak rumah di sebelah bar, sementara Jessie diizinkan tinggal untuk menemani Marlene. Sejak dua bulan yang lalu, anggota mereka ketambahan Tifa. Dan Tifa-lah yang kemudian membawa Cloud kemari dua minggu lalu.

Tak lama, Cloud pun usai membersihkan diri di kamar mandi. Entah kenapa ia tadi bersikap biasa saja terhadap darah tertebar di bajunya usai menebas. Seharusnya hal itu memunculkan traumanya. Cloud menatap tangannya sendiri. Mungkin karena ini darah vampir, batinnya. Tidak ada perasaan apa-apa terhadap musuh. Ada satu, perasaan dendam tentu saja. Tapi ia masih tidak yakin apakah ia bisa tidur nyenyak tanpa mimpi-mimpi aneh itu yang ternyata masih menggentayanginya meskipun ia sudah bertemu dengan Tifa.

Sialan, geram Cloud. Mungkin ini akan selesai setelah aku menemukan biang keladinya.

...Sephiroth.

Tunggu.

Tapi kenapa dalam mimpiku itu aku seperti melihat dua orang vampir?

Kenapa aku tak bisa mengingat siapa vampir yang satu lagi?

Aaaargghh...

Saat itu Cloud melihat Tifa masuk ke ruangannya. Rasanya seperti saat kemarin di stasiun, kehadiran Tifa bisa membuat pikirannya yang sempat berkecamuk tadi kembali jernih. Ia lalu melirik jam dinding. Pukul 22.00, sepertinya pekerjaan Tifa sudah selesai.

"Aku bawakan minuman," ujar Tifa membawa dua gelas sampanye yang terisi. "Kau pasti lelah."

Cloud pun meraihnya. "Terima kasih, Tifa."

"Aku lega kau kembali dengan selamat," lanjut Tifa menutup pintu.

"Ada apa denganmu tiba-tiba begini? Tugas itu bahkan tidak sulit," kata Cloud usai meneguk.

"Kurasa begitu, kau bertambah kuat hanya dalam dua bulan."

"Aku tak bisa terus mengandalkan diriku yang dulu kan?"

Sejujurnya, Tifa agak bingung dengan perubahan Cloud, terutama kekuatannya. Memang Cloud dulu sangat pemalu kalau tak mau dibilang antisosial tapi Tifa tahu Cloud memang memiliki bakat terpendam yang kuat soal kekuatannya. Tapi entah kenapa ia merasakan ada sesuatu yang berbeda. Kalau soal kepribadiannya sih Tifa mencoba meyakini bahwa peristiwa mengerikan di desa mereka tersebut pasti mengubah siapa saja, bahkan termasuk dirinya sendiri.

Tifa mendengar dari ketiga rekannya tentang misi apa yang Cloud lakukan di bawah AVALANCHE, di mana peran dan posisinya. Ia sungguh penasaran apa yang sudah dialami Cloud sejak enam minggu mereka terpisah dan bagaimana hal itu membuat perbedaan yang sungguh nyata. Namun demikian, ia tak berani bertanya. Ia seperti takut Cloud akan menghilang lagi dari hadapannya. Sudah cukup selama sebulan ini ia tak tahu kabarnya.

"Mmmm, yeah," Tifa akhirnya menjawab. "Seharusnya aku tak menyangsikannya."

"Ada yang aneh?" tanya Cloud menyadari jeda dalam respon Tifa.

"Tidak kok," kata Tifa melipat tangannya di belakang. "Aku malah senang dengan itu. Dengan begini, kita bisa menghancurkan mereka."

Cloud lalu tersenyum. "Benar dan kalau aku bisa terus dipertahankan oleh Barret, kau tak perlu ikut misi."

Mendengar hal itu, Tifa pun merengut. "Lagi-lagi kau begitu. Kita kan sudah berlatih bersama-sama di tempat Master Zangan. Kau tahu, aku tak bisa hanya diam saja."

"Ya, dan jika kau butuh pertolongan aku berjanji akan datang. Aku pernah mengikat janji demikian denganmu."

"Nah, kau ingat kan?"

"Tapi konteks janji itu bukan untuk berhadapan dengan vampir."

"Jadi, hanya berlaku untuk para pria hidung belang?"

"Kalau itu sih, aku tak khawatir," canda Cloud sambil melihat pakaian ketat yang Tifa kenakan. Dari dulu ia sudah menyadari daya pikat Tifa selain paras wajahnya yang memang cantik. Dan Tifa sendiri tahu bahwa ia tak akan mudah ditaklukkan karena itulah ia juga belajar beladiri.

"Huh," ujar Tifa semakin mendengus, "siapa ya yg dulu pernah menghajar anak-anak nakal yang mendekatiku saat kita masih berusia 14 tahun?" Ia sedikit mengenang bahwa sejak dulu Cloud sudah sering terlibat perkelahian.

"Kita kan belum bertemu Master Zangan saat itu," elak Cloud.

"Aku telah digembleng di sini, Cloud. Jadi aku pun bertambah kuat meski tentu aku tetap tak bisa sekuat kau yang sekarang. Aku sangat membenci vampir. Aku tahu mereka sangat kejam, aku tahu kalau kita bisa kehilangan nyawa kapan saja. Tapi kalau ingat hari-hari keras itu, rasanya aku ingin menumpahkan semuanya. Lagipula aku terus bertahan selama ini, itu semua demi... demi..."

Tifa tiba-tiba terisak. Ia jadi ingat lagi peristiwa kelam yang terjadi di desa mereka. Itulah kenapa ia bergabung dengan AVALANCHE. Karena ia ingin menumpas vampir. Karena ia tak ingin ada orang lain yang merasa kehilangan dan menderita seperti dirinya akibat dimangsa vampir.

Cloud pun menurunkan nada bicaranya. "Aku tahu, Tifa..."

"Lantas, kenapa kita tak bekerja sama saja? Apa kau tak menganggapku teman seperjuangan? Kita menghadapi musuh yang sama, Cloud." Dan aku ingin bertarung bersamamu, batin Tifa.

Cloud memandang gadis itu dengan intens. Ia memang memahami perasaan Tifa bahwa mereka sama-sama kehilangan desa dan orang tua. Tapi ada sesuatu yang lebih dari itu. Sejak dulu sampai sekarang Cloud masih menyimpan perasaan itu. Tujuannya mengapa ia mau tunduk di bawah perintah Barret bahwa ternyata selain dendamnya terhadap Sephiroth, ia tetap tak bisa mengesampingkan hal ini. Atau mimpi itu akan menghantuinya semakin parah.

Bayangan kematian Tifa di depannya.

Kalau bisa ia ingin menjauhkan Tifa dari pekerjaan ini. Tapi kemana? Nyatanya Nibelheim yang tenang dan jauh dari keramaian pun tidak lebih aman dari Midgar yang justru memiliki sarang vampir terbesar. Bagi Cloud, tempat paling aman untuk Tifa adalah di sisinya. Sedekat mungkin.

"Tifa, aku..." Kau bukan sekedar teman sejak kecil, batin Cloud mendekat. Kau adalah...

"Ya?" ujar Tifa ragu-ragu dengan sikap Cloud yang mendadak memegangi lengan atasnya. Posisi mereka terlalu dekat. "Cl-Cloud?"

BRAKKK!

Suara pintu yang dibuka keras mengejutkan mereka.

"Yo, anak muda!" seru Barret menginterupsi. "Aku bahkan sudah bosan memanggil-manggil kalian dari tadi. Lekas turun ke bawah tanah. Ada yang ingin kusampaikan terkait misi."

Cloud pun gusar karena merasa terganggu. "Kenapa sih tidak besok saja?" katanya dingin segera menghapus rona merah di wajahnya sebelum ketahuan Tifa.

"Kau mau dibayar tidak?" tukas Barret kesal dengan lagak si anak baru. "Turuti perintahku."

"Kota ini sangat luas, kita tak bisa mengawasi setiap sudut untuk memburu mereka satu demi satu," lanjut Cloud keras. Kalau begini kapan aku bisa menemukan Sephiroth?

"Janji tetap janji. Aku sudah menyuruh Jessie melacak vampir yang kau cari," kata Barret. "Selama itu pula, kau harus bekerja padaku."

"3000 gil untuk misi berikutnya," lanjut Cloud tanpa basa-basi lagi.

Barret melotot mendengar harga itu. "APA?"

"Cloud," sela Tifa. "Apa kau tidak sungguh-sungguh bergabung dengan kami? Kami yang ada di sini bukan bekerja demi uang. Kita berkumpul dan berjuang untuk kelangsungan hidup manusia kan? Karena kita sama-sama membenci vampir kan? Kami membutuhkanmu."

Cloud menoleh kembali ke arah Tifa. Andai kau tahu kaulah satu-satunya alasanku di sini, batinnya. "Tifa, aku bahkan tak sehebat itu..."

"Aku minta tolong," potong Tifa memohon.

Kalimat Tifa membuat Cloud teringat janjinya. Ia tak bisa melupakan hal itu. Tak akan pernah. Kalau tidak, mimpi buruknya bisa menjadi kenyataan. "Oke, 2000 gil saja," ujarnya mengalah.

"Terima kasih, Cloud," kata Tifa riang.

Bersambung...


Teaser/Preview Chapter berikutnya:

"Kau lemah. Kau milikku, Cloud."

"Barret, kapan kita menyerbu sarang?"

"Jadi, kau si pengkhianat itu?"

"Awas truk, kita akan tabrakan! TABRAKAN!"


A/N: Sebenarnya adegan pembasmian vampir di kereta api itu bahkan pernah dipakai tiga film vampir berbeda, yaitu Twins Effect, Blood: The Last Vampire, dan Underworld 1. Kebetulan aza di FF7 canon juga adegan awal game-nya pake kereta api. Ya udah, aku kombinasikan aza.

Terkait dgn analogi canon-nya, di sini tentu saja Cloud ga mungkin bercita-cita jadi vampir sebagai ganti SOLDIER. Jadi, dia tetap tinggal di Nibelheim dan kubuat dia jg belajar beladiri dari Zangan sebagai gemblengan pertama pengganti latihan di infantri Shin-Ra. Di sini ga ada mako ataupun materia, anggap aza kayak dunia nyata kita. Dan pedang Cloud itu semacam katana biasa bukan Buster Sword, tapi boleh lah kalian membayangkan itu.

Yeah, aku mencoba berkreasi dengan CloTi di sini dengan memodifikasi canon-nya, yang jelas mereka tetep susah mengutarakan perasaan masing-masing. Klo cuma untuk urusan sisi protektifnya Cloud terhadap Tifa sih masih tetap sama. Gimana? Bagus? Jelek? Cloud udah IC kah? Atau malah OOC?