A/N: Karena update yg tak pasti, agar pembaca tidak lupa dgn isi chapter kemarin, mulai sekarang aku akan berlakukan sinopsis di awal seperti berikut.

Cerita sebelumnya: Sudah dua minggu berlalu sejak pertemuannya kembali dengan Tifa, Cloud kini beraksi sebagai pembasmi vampir andalan AVALANCHE. Sepulang dari misi di kereta api, ia sempat berpapasan dengan seorang gadis misterius yang tampak tahu apa yang telah dilakukannya. Di markas, Cloud nyaris mengungkapkan perasaannya pada Tifa kalau saja tidak diinterupsi oleh Barret.


CHAPTER 2

Gelap.

Lagi-lagi Cloud hanya bisa melihat kegelapan.

Ya, tempat-tempat yang disukai vampir. Ia pun mengencangkan genggaman pedangnya.

Kemudian terdengar suara tawa seseorang. Dan entah bagaimana bisa, dalam kegelapan seperti itu, Cloud bisa melihat sosoknya. Sosok vampir yang tak bisa ia lupakan. Sosok yang tak ingin ia kenal. Sosok yang sangat dibencinya. Sosok yang ia simpan dalam dendam. Sang pembantai warga desanya.

…Dengan rambut perak panjangnya yang berkibar.

"SEPHIROTH!" teriak Cloud.

Cloud pun berlari kencang ke arah vampir itu. Ia menaikkan kedua lengannya tinggi-tinggi, lalu menebasnya dalam sekali gerakan kuat ke bawah. Sephiroth mengangkat tangan kirinya dan menangkap sisi tajam pedang Cloud di telapaknya tanpa terluka. Usaha Cloud mendorong maju pedangnya sekuat tenaga seperti tidak ada apa-apanya dibanding sebelah tangan Sephiroth.

"Lemah," ujar Sephiroth singkat.

"A-Apa?"

Sephiroth pun melempar Cloud ke samping dengan tenaga yang bahkan sanggup membuat genggaman Cloud pada pedangnya terlepas. Cloud pun berguling di lantai yang tak bisa ia lihat seolah ruangan tempatnya berada adalah sebuah dimensi tanpa batas. Dengan cepat, Sephiroth lalu mendekati Cloud yang tersungkur. Seperti memungut sebuah barang, ia mengangkat kepala Cloud dan menjambak rambutnya. Lalu ia mencengkeram leher Cloud dan mengangkatnya tinggi-tinggi, membuat pemuda berambut pirang itu merasa tercekik. Kuku runcing khas vampir Sephiroth membuat leher Cloud meneteskan darah.

"Kau terikat denganku," kata Sephiroth memandangnya tajam. "Kau ada karenaku. Kau milikku. Dan aku telah memilihmu dari sekian sampah di desamu. Karena itu, aku berhak memperlakukanmu apa saja. Aku tak akan membuatmu mati, aku lebih suka membuatmu menderita. Hahahaha!"

Rasanya Cloud ingin marah dan membalas perlakuannya, tapi ia bahkan tak bisa menatap Sephiroth dengan jelas. Kelopak matanya semakin terasa berat. Napasnya pun hampir habis.

BUK!

Cengkeraman tangan itu lepas, Cloud pun jatuh tersungkur kembali. Entah kenapa sosok Sephiroth tiba-tiba menghilang, meninggalkannya lagi dalam kegelapan sendirian. Namun tak lama, ia mendengarkan suara ketukan beraturan yang merambat begitu keras di lantai dimana ia terbaring miring. Sepertinya itu suara langkah kaki dan dari suara ketukannya yang semakin keras, orang itu jelas mendekat. Cloud pun mengerjapkan mata, dan kaki bersepatu boot itu akhirnya muncul di depan matanya.

"Kamu harus kuat, Cloud. Bukan Sephiroth yang harus kau kalahkan tapi dirimu sendiri." Suara itu berbeda dengan suara Sephiroth, sepertinya suara si pemilik kaki ini.

Cloud berusaha mendongak tapi ia tak bisa melihat ujung tubuh atas si pemilik kaki. Namun ia yakin suara itu berasal dari masa lalunya. Kalahkan dirimu sendiri. Ya, ia merasa pernah mendengar kalimat itu. Masalahnya, kenapa wajahnya tak kelihatan? Kenapa aku tak bisa mengingat siapa dia? Dan kenapa pula orang ini ikut campur? Apa aku kenal baik dengannya?

"Kalau tidak, kau tidak bisa melindungi orang-orang yang penting bagimu," lanjut suara itu.

Lalu Cloud bisa melihat dengan jelas apa yang ada tak jauh di belakang kaki sosok itu. Ada orang lain yang juga tersungkur sepertinya. Bedanya, orang itu berlumuran darah. Dan meskipun rambut panjang orang itu menutupi sebagian wajahnya, Cloud mengenalinya dari bola mata coklat yang terbelalak kosong.

"TIFA!"

...

Cloud tersentak bangun di sofa tempat ia tidur dan merasakan peluh membasahi kepalanya. Lantas ia menurunkan kaki dan bergegas mendekati ranjang Tifa yang sekamar dengannya. Sekejap, ia pun merasa lega Tifa masih tertidur dengan pulas. Ia ingin menyentuh dan membelai rambut gadis itu untuk memastikan yang di hadapannya itu bukan ilusi. Tapi niat itu ia urungkan daripada justru membangunkan Tifa dan gadis itu mendapatinya begitu pucat dan gugup.

Sialan, mimpi itu lagi, umpatnya sambil berjalan mundur dan merebahkan diri kembali ke sofa. Ia pun mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

Apa kalau aku tidur di sebelahnya dan memeluknya, mimpi itu akan hilang?

Sayangnya, Tifa tidak mengizinkannya dan Cloud sendiri cukup tahu diri soal itu. Barret dan yang lain sudah berulah menggoda mereka dengan menyuruh mereka tidur sekamar meski mereka berdua sudah menjelaskan kalau hubungan mereka berdua tidak sedalam yang orang lain pikirkan. Cloud cukup cuek dengan tidak ingin menanggapinya, Tifa lah yang berkali-kali mengatakan kalau mereka hanya teman sejak kecil. Hanya teman sejak kecil.

Oh, batin Cloud. Bukankah kenyataannya memang demikian? Kenapa ia harus pusing dengan itu? Bukankah hubungan dalam bentuk apapun tetap tidak akan mengubah pendiriannya untuk selalu memegang teguh janjinya pada Tifa? Meskipun dalam hatinya, ia menyimpan perasaan lebih?

Tidak, jawabnya pada diri sendiri. Tifa tidak perlu tahu hal itu, setidaknya untuk sekarang. Ia hanya cukup menjaganya. Ia sudah bukan anak-anak lagi yang dulu sekedar ingin mendapat perhatian darinya hanya karena ia naksir padanya.

Kalau sudah begini, ia tidak bisa tidur lagi.

...

Pagi akhirnya menjelang tidak terasa karena pemandangan di luar masih cukup gelap. Sesuatu yang wajar di Midgar karena sinar matahari banyak terhalangi gedung bertingkat puluhan. Apalagi bar mereka berada di sebelah timur gedung-gedung tinggi tersebut. Cukup keluar rumah, gedung-gedung menjulang tersebut bisa terlihat meskipun berjarak sekitar tiga sektor.

Tifa beranjak dari tempat tidur. Di kamar yang sama, ia melihat Cloud berdiri di dekat jendela. Gadis itu menghela napas lega. Padahal sudah dua minggu ini ia berbagi kamar dengan Cloud tapi rasanya bagai setahun kebersamaan itu tidak ia rasakan. Tapi setiap ia mendapati sofa tempat Cloud berbaring kosong dengan menyisakan selimut yang tampak bekas disibakkan begitu saja, hatinya masih menyisakan takut. Kalau bisa, sebenarnya Tifa ingin Cloud tidur saja di sampingnya, berbagi ranjang, agar ia dapat memeluknya erat untuk memastikan Cloud tak akan kemana-mana lagi, bahwa peristiwa mengerikan itu tak akan terjadi untuk kedua kalinya. Tapi tentu saja ia terlalu malu untuk memintanya. Kami kan hanya teman sejak kecil, batinnya.

Tifa pun menghampiri Cloud dan menyapanya, "Apakah kau tidur nyenyak, Cloud?"

Cloud menoleh menatap Tifa. Kalau saja aku boleh tidur di dekatmu, siapa yang tidak, batinnya. Tapi ia tak mungkin mengatakan hal itu dan menceritakan kejadian semalam. Karena itu, ia menyiapkan kebohongan kecil. "Dengkuran berisik Barret di kamar sebelah terdengar sampai sini."

Tifa tahu Cloud agak berlebihan tapi ia tetap tertawa kecil, siapa sih orang serumah ini yang tidak tahu kebiasan buruk pemilik tangan palsu itu? "Yang penting tidurmu cukup. Kau selalu bangun lebih pagi dariku padahal kau pasti sangat lelah semalam."

"Kau lupa? Aku kan selalu tidur lebih cepat darimu." Satu lagi kebohongan kecil karena ia hanya sekedar sudah memejamkan mata saat itu. Mana bisa ia terlelap lebih dulu dan meninggalkan Tifa masih terjaga? Apalagi jika tahu-tahu sambungannya selalu mimpi seperti tadi. Rasanya seperti telah melepas penjagaan. Dan kalau kejadian dalam mimpi itu sampai terjadi, Cloud yakin ia akan menyesal seumur hidupnya.

Tifa menyilangkan lengannya. "Itu kan karena aku suruh biar kamu tidak macam-macam kalau aku tidur duluan."

"Di ranjang sesempit itu? Aku tidak minat," gurau Cloud.

"Ah, kau," sentak Tifa. Sebenarnya Tifa yakin Cloud bukan cowok yang seperti itu. Tapi, dilogika bagaimanapun, cowok tetap cowok. Apa salahnya berjaga-jaga? "Oya, hari ini temani aku belanja lagi ya?"

"Aku ingin mencuci motor dulu, bagaimana?" tanya Cloud.

"Tidak apa-apa, hari masih pagi."

Hari itu adalah hari Minggu. Ini kali kedua Cloud mengantar Tifa berbelanja dengan menggunakan motornya. Gadis itu memang biasa belanja kebutuhan pokok seminggu sekali. Hari lain, biasanya ia akan berlatih dengan pedangnya di atap bar yang cukup luas, dekat dengan tempat jemuran pakaian. Kadang ia menjajal kekuatan tangan kosongnya dengan Barret yang tenaganya (dan terutama semangatnya) tak bisa diremehkan. Ia juga melayani permintaan latihan duel tiga anggota AVALANCHE yang lain saat mereka tidak menghabiskan waktu untuk menyelidiki vampir dan mencari informasi yang bisa menjadi misi berikutnya, biasanya berita kriminal tentang pembunuhan misterius yang belum berhasil dipecahkan polisi atau orang hilang di tempat-tempat tertentu yang diduga perbuatan vampir. Tapi, sebagian besar acaranya diisi dengan bersama Tifa meskipun awalnya ia selalu segan untuk berduel dengannya yang kemudian membuat gadis itu cemberut, apalagi kalau Cloud terkesan mengalah sehingga Tifa bisa membantingnya dengan mudah.

Hari Minggu pula, Marlene tidak bersekolah. Sudah menjadi kebiasan ia yang menemani Tifa berbelanja dengan berjalan bergandeng tangan sebelum Cloud datang. Jangankan hanya menemani, Marlene bisa dibilang mandiri untuk anak seusianya, bahkan ia selama ini membantu aktivitas Tifa di bar. Dan Cloud pun tak keberatan putri kecil Barret itu ikut membonceng di antara dirinya dan Tifa.

"Yo, pengantin baru selesai berbelanja," tegur Barret.

"APA-APAAN SIH, BARRET!" Kontan saja wajah Tifa memerah marah sementara Cloud menghindarinya dengan menatap ke arah lain.

"Aku lebih cocok jadi anak mereka kan daripada sama Papa?" kata Marlene di tengah-tengah Cloud dan Tifa.

"Lakukan, Nak!" seru Barret menyemangatinya.

"HEI!" Tifa ingin protes. Ia lalu melirik ke arah Cloud mencari pembelaan.

"Memulai hidup baru...," tukas Cloud.

Jantung Tifa semakin berdegup tidak karuan. Kenapa Cloud ngomong seperti itu, batinnya.

"…sejujurnya aku belum kepikiran sampai ke sana. Masih ada banyak 'pekerjaan rumah' yang harus diselesaikan," lanjutnya. "Kalau tidak, aku belum bisa tenang."

Dan rasanya Tifa merasa sangat kecewa mendengar lanjutannya. Memangnya tadi apa yang aku harapkan sih? Ia lalu menaruh belanjaannya pada tempatnya. Sebagian ia taruh di kulkas pribadi, sebagian ia tata di rak bar. Meski semalam semua gelas yang terpakai sudah dicuci, Tifa mengelapnya lagi untuk dikeluarkan. Bisa saja salah satu gelas yang ia ambil adalah gelas kemarinnya yang terkena debu karena bentuknya seragam. Siang itu, seluruh anggota AVALANCHE berkumpul. Meski belum membuka bar, setidaknya Tifa tetap ingin memberikan pelayanan terbaik pada mereka.

"Ngomong-ngomong, kenapa jumlah anggota AVALANCHE hanya kita berenam saja?" celetuk Cloud usai menenggak minuman. "Ini kurang sekali."

"Huh, kukira kau akan mulai belagu dengan mengatakan kami hanya merepotkan dirimu yang hebat," kata Barret.

"Ya sudah, aku pergi," katanya beranjak.

"Cloud!" panggil Tifa membuat Cloud kembali duduk. Ia pun menoleh pada Barret. "Betul juga, Barret. Aku baru sadar hal ini."

"AVALANCHE generasi pertama sudah dikalahkan, aku membangunnya kembali." Barret mulai bercerita. "Dulu organisasi ini cukup besar, pemimpinnya adalah seorang wanita bernama Elfe, tangan kanannya bernama Fuhito dan Shears. Para pembasminya bahkan ada yang berburu sampai keluar Midgar. Waktu itu aku belum bergabung. Aku mengenal mereka di desaku, Corel. Mereka terlambat, vampir-vampir bangsat itu telah menyatroni rumahku dan rumah sahabatku yang bertetangga denganku. Istriku, Myrna, sahabatku, Dyne, dan istrinya, Eleanor; terbunuh. Aku hanya bisa menyelamatkan Marlene, dia putri sahabatku. Entahlah, kalau mereka tak ada, mungkin seisi desaku juga sudah menjadi ladang pembantaian."

Cloud dan Tifa mendengarkan penjelasan Barret dengan seksama. Benar, batin Cloud ingat Barret pernah mengatakannya sekilas di stasiun kemarin. Tidak jauh berbeda dengan yang aku dan Tifa alami, hanya saja ia lebih beruntung.

Barret pun melanjutkan cerita. "Aku tidak langsung bergabung karena aku memikirkan Marlene. Namun demikian, mereka berkata tetap akan menerimaku dengan tangan terbuka kapan pun aku akan datang. Karena itu, begitu aku mendengar mereka dikalahkan, kupikir masa depan umat manusia bisa habis jika tak ada yang meneruskan. Aku tahu perbuatanku akan membahayakan Marlene tapi gadis cilik itu bisa mengerti bahwa aku harus melakukannya, ini demi ia yang juga telah kehilangan orangtuanya."

"Dihancurkan? Jadi para vampir ini juga terorganisir ya?" lanjut Tifa.

"Ya," Barret mengangguk, "menurut dokumen yang dibawa AVALANCHE yang dulu, mereka punya sarang besar di Midgar. Pemimpin vampir dan para vampir elit berada di sana."

"Kau pernah bilang padaku dulu, tapi tepatnya di mana?" lanjut Tifa.

"Aku belum mengatakan hal itu karena kekuatan kita belum cukup untuk menyerbu ke sana. Sarang itu sangat besar dan kalian mungkin tak pernah menyangkanya."

"Katakan saja di mana itu, Barret," desak Cloud tak sabar.

"Shin-Ra Inc., sebuah perusahaan elektronik yang sebagian karyawan dan seluruh jajaran direksi serta pemegang sahamnya merupakan para vampir."

"Apa!" seru Tifa terkejut. "Shin-Ra yang itu?"

"Jadi, sampai sekarang, yang bisa kita lakukan hanya melakukan pekerjaan sembunyi-sembunyi seperti ini? Tidak bisakah kita menyerbu mereka pada siang hari?" tanya Cloud sedikit kesal.

"Gedung itu punya sistem pertahanan dan didesain sebaik mungkin agar sinar matahari tidak masuk. Semakin kita menerobos ke dalam, di situlah letak jantung mereka yang jauh dari cahaya terang."

"Lebih gampang kalau kita membereskannya dalam sekali ledak, tempatkan di beberapa titik. Kemudian dalam waktu bersamaan pasti akan BOOM…BOOM…WOW! Apalagi di sana banyak material elektronik," sambung Jessie semangat memeragakannya dengan gerakan tangan.

"Tapi tadi kau bilang di sana juga ada karyawan manusia," kata Tifa. "Tidak apa-apa nih?"

"Kalau itu sih mau nggak mau hanya bisa di luar jam kerja dan sayangnya itu malam hari," lanjut Jessie.

"Selama ini kau sudah tahu Sephiroth di sana bukan?" sambung Cloud ingat Jessie-lah yang ditugaskan Barret melacak jejaknya.

Barret tidak suka Cloud mulai kembali berlagak, ia lalu menjawabkan pertanyaan Cloud. "Dia termasuk vampir elit, berbeda dengan vampir yang selama ini kau tebas. Setidaknya, sebelum berhadapan dengan yang jenis ini, uji dulu kemampuanmu melawan para Turks."

"Turks?"

"Sekelompok vampir yang ditugaskan khusus untuk menghadapi AVALANCHE," kali ini giliran Wedge angkat bicara.

"Tapi, kudengar mereka angin-anginan. Kalau AVALANCHE tidak sedang menyerbu sarang, biasanya mereka tidak turun," sambung Biggs. "Mereka seperti membiarkan saja kalau ada vampie sial yang bertemu dengan kami, contohnya di kereta api kemarin. Padahal bisa saja sebenarnya mereka menyaksikan kita."

"Namun, mereka punya kemampuan mata-mata yang kuat. Penyelidikan mereka bisa memunculkan aksi tak terduga seperti yang kita lakukan untuk menyergap vampir buruan kita," lanjut Wedge lagi. "Beberapa anggota AVALANCHE menghilang seperti itu meski tidak sedang dalam misi. Bisa dibilang, mereka seperti agen rahasia. Dan Shin-Ra punya uang untuk menutupi semua kejadian itu. Sampai sekarang, sebaiknya kita jangan sembarangan melontarkan kata 'vampir' ke masyarakat umum agar tidak terjadi kepanikan."

"Vampir elit yang kedengarannya hebat itu apakah tidak turun?" tanya Tifa lagi.

"Kami dengar AVALANCHE generasi pertama hancur karena mereka akhirnya turun," jawab Wedge.

"Oya, ada satu vampire elit lagi. Tapi kami tak tahu namanya," sela Biggs.

"Justru dia kadang muncul untuk menyelamatkan vampir yang sedang AVALANCHE incar. Anehnya, dia nyaris tak pernah membunuh AVALANCHE yang berhadapan dengannya," sambung Jessie.

"Wah, tindakannya itu bisa dibilang seperti kita ya?" komentar Tifa.

"Maksudmu?" Cloud menoleh padanya.

"Melindungi bangsa sendiri bukan?" ucap Tifa meyakinkan.

"Heh, aku tak bersimpati. Vampir tetap vampir. Di belakang, dia pasti tetap memangsa manusia. Ia malah terdengar seperti bermain-main dengan AVALANCHE," sambung Barret.

"Kalau begitu," ujar Cloud tersenyum, " aku ingin bermain-main dengannya."

"Sudah kubilang," ujar Barret mulai sewot. "Kamu itu aset berharga AVALANCHE, aku belum mau kamu mati konyol sebelum aku menyaksikanmu bisa membunuh minimal dua orang Turks."

"Bukannya kau bilang tadi dia tak membunuh AVALANCHE?" tanya Tifa khawatir juga kalau Cloud sampai berhadapan dengannya.

Jessie, Biggs, dan Wedge kemudian saling berpandangan. "Kami juga belum pernah bertemu dengannya sih, itu hanya cerita di masa AVALANCHE yang dulu. Yang jelas perawakannya lumayan kekar dan rambutnya raven jabrik sebahu."

Tifa tampak merenung karena merasa tidak asing. Vampir elit dengan rambut raven jabrik sebahu?

Cloud pun mengembalikannya ke pembicaraan semula, merasa Tifa mulai cemas. "Jadi, misi yang semalam dibicarakan itu, apakah kita bisa berhubungan dengan para Turks?"

"Kalau kau minta begitu...," ujar Barret ragu. "Sebenarnya aku sih senang-senang saja kalau kau mau dan bisa menghabisi mereka, tapi..."

"Soal bayaran kan?" cetus Wedge.

"Sial, kenapa diingatkan sih!" protes Barret. "Uangnya kan mau aku pakai untuk biaya sekolah Marlene. Biaya hidup di Midgar mahal, tahu!"

"Hei, aku tidak menaikkan harga kan?" tukas Cloud. "Yang kemarin itu kita sudah sepakat 2000 Gil."

"Cloud..." Tifa memegang lengan teman kecilnya itu, ingin mengingatkannya kembali soal kemarin karena Cloud lagi-lagi berbicara masalah uang.

"Bagaimana pun juga aku perlu menabung untuk..." Masih berbicara pada Barret, kemudian ia melirik Tifa dan menggenggam tangan gadis itu yang masih menempel di lengannya, serta memberi penekanan pada kalimat lanjutannya untuk memberi isyarat padanya, berharap gadis itu mengerti karena ia terlalu malu untuk mengucapkannya. "... our home, iya kan?"

Kontan orang seruangan pun menyoraki Cloud dan Tifa dan mereka tidak bisa membalas apa-apa. Jangankan membalas, rasanya Tifa masih tidak percaya dengan ucapan Cloud barusan meski masih tidak begitu jelas menangkap maksudnya.

"Huuu, katanya belum memikirkan masa depan? Kalau untuk itu, berapa pun uangnya akan kuberi asal Marlene jadi anak kalian."

"BARRET!" seru Tifa.


Malam hari berikutnya; Cloud, Tifa, dan Barret memarkir kendaraan mereka di sebuah jalan tol. Barret telah mengubah rencana meski agak riskan. Karena itu, persiapannya memakan waktu sehari. Jalan tol di Midgar hanya bisa diakses orang-orang berkepentingan yang memiliki Pass Toll Card. Jalan itu menghubungkan pusat industri dengan pusat bisnis yang tentunya sangat memfasilitasi banyak orang sibuk untuk bisa melintas lebih cepat. Jessie dengan cerdik telah memodifikasi Pass Toll Card dengan nopol mobil pick-up Barret yang berhasil dipinjam dari seorang sopir salah satu perusahaan di sana yang kebetulan juga pengunjung 7th Heaven. Motor Cloud ditumpangkan di belakang karena roda dua dilarang masuk tol. Tapi bukan berarti itu tanpa risiko karena bagaimana pun juga nomor itu palsu dan kalau sial, mereka hanya menunggu ketahuan. Jessie, Biggs, dan Wedge berjaga di pintu tol untuk mengabarkan informasi terkini.

Seperti yang diharapkan oleh Cloud, misi kali ini bukan perburuan seperti malam yang sudah-sudah. Mereka bukan sedang berburu vampir biasa yang senang mengincar manusia di tempat-tempat sepi karena hal itu juga membutuhkan peruntungan tinggi. Bagi Cloud, kalau tidak menyentuh pangkal permasalahannya, sampai kapanpun mereka tidak akan selesai dalam pekerjaan ini. Rupanya sedikit banyak, mimpi-mimpi itu mempengaruhinya. Ia merasa belum bisa melawan vampir sekelas Sephiroth namun ia juga merasa tak bisa berkembang jika hanya melawan vampir biasa, setidaknya misi kali ini benar bisa membawanya pada salah seorang vampir penting.

Incaran AVALANCHE kali ini tidak tanggung-tanggung, sang Presiden Direktur Shin-Ra Inc itu sendiri.

Tidak ada penduduk Midgar yang tidak mengetahui wajahnya, setidaknya kalau ia rajin membaca koran atau menonton berita, tak terkecuali Barret. Cloud yang baru dua minggu berada di Midgar jelas belum tahu siapa incarannya kali ini. Barret yakin mobil sang Presdir akan lewat karena ia sudah mendapat informasi dari berita terbaru kalau incarannya itu mengagendakan sebuah pertemuan di pusat bisnis sore ini.

Cloud menurunkan motornya setelah mendapat instruksi dari Barret.

"Yo, kamu pepet dia dari samping, aku akan menghalangi laju mobilnya dari depan."

"Tifa ikut kau, Barret. Berbahaya kalau ia memboncengku."

"Aku yang menyetir kok," balas Tifa. "Barret yang akan menembak dari depan."

"Begitu Jessie menelepon, kita bersiap," lanjut Barret. "Kita mudah mengenali mobilnya, ada emblem logo Shin-Ra di moncong sedan hitamnya. Lagipula kaca mobilnya sangat gelap, didesain agar sinar matahari tidak mengganggu orang di dalamnya."

"Eh, sopirnya manusia atau vampir?" tanya Tifa. "Apa kau juga akan menembaknya?"

"Kujamin dia pasti Turks," jawab Barret. "Presdir Shin-Ra adalah vampir yang sangat tua, kemampuannya pasti telah menurun meski tetap tak boleh diremehkan. Kalau tidak, buat apa dia mendapat pengawalan dari Turks? Cloud, nanti Turks-nya untukmu."

"Kau gugup," kata Cloud menyadari bahasa tubuh Barret saat mengacungkan telunjuk padanya. "Ini pasti pertama kalinya kau menguatkan nyali melawan Turks."

"Kupotong bayaranmu sekali ngomong lagi!"

...

Setelah agak lama menunggu, Jessie pun menelepon. Tifa pun segera memosisikan mobilnya di tengah garis marka jalan selebar empat jalur tersebut sementara Cloud mengikutinya pelan. Dan sedan yang mereka incar itu datang. Cloud mengincar jok belakang karena biasanya seorang eksekutif duduk di situ. Ia mendekat dari sebelah kanan karena akan lebih mudah untuk menghunuskan pedangnya sementara tangan kanannya memegang pedal gas.

"Ada motor di jalan tol," kata seseorang di dalam. "AVALANCHE ya? Organisasi itu masih hidup?"

DOR! DOR! DOR!

Cittt...

Barret mulai menembak dan sedan itu mengerem namun masih jalan.

PRANGGG!

Cloud lalu menusukkan ujung pedangnya begitu kuat di kaca dan menembus ke dalam. Ia pun bisa melihat sosok Presdir Shin-Ra yang menangkis pedangnya. Cloud pun berusaha menusukkan pedangnya lagi berkali-kali sementara pengemudi sedan itu mengubah-ubah kecepatannya dengan rem mendadak, bermaksud agar Cloud terkejut di atas motornya. Namun Cloud sudah bisa mengantisipasinya, membuatnya malah naik ke atap mobil bersama motornya. Ia pun menghujamkan-hujamkan pedang dari atas.

"Sejak kapan Cloud bisa begitu?" ujar Barret takjub. Ia kemudian memberi isyarat pada Cloud karena hal itu tak efektif dan lebih baik membuat mereka menghentikan mobil saja atau kecelakaan.

Barret menembak lagi, sedan mengerem, dan Cloud turun untuk menyerang kembali dari samping. Sama seperti saat di kereta api itu, harus berapa kali ditembak sih agar mereka berhenti dan aku bisa menebasnya satu per satu, pikir Cloud.

"Keseimbangan tubuh yang bagus," kata Presdir Shin-Ra melongok menyapa Cloud dan mengomentari Cloud yang tidak biasa. "Jadi kau ya si pengkhianat itu?"

"Aku tidak mengerti maksudmu," kata Cloud.

"Hmph, aku tak perlu buang-buang waktu di sini," katanya.

"Kalau begitu mohon permisi, tuan Presiden." Terdengar sebuah suara yang bersamaan dengan hentakan pintu depan kiri dan pintu belakang kanan, membuat Cloud nyaris terpelanting karena terkejut.

Dua orang berpakaian necis lalu berdiri di atas pinggir dua pintu yang terbuka lebar tersebut. Satu laki-laki dengan potongan rambut pendek berwarna coklat di pintu belakang sebelah kanan yang menghadap ke arah Cloud. Satu lagi adalah perempuan dengan rambut pirang panjang yang dikucir ekor kuda di pintu depan sebelah kiri yang menatap fokus ke pick-up yang dikendarai Barret dan Tifa. Dan hebatnya, mereka tidak jatuh berdiri di sisi tipis seperti itu saat sedan tengah melaju kencang. Benar-benar vampir yang memiliki keseimbangan tinggi.

"Kalian kejar mereka begitu kita keluar dari pintu tol," perintah seseorang di posisi kemudi. "Aku akan menyesuaikan kecepatan mobil dengan mereka."

"Baik, Tseng," jawab kedua vampir itu.

"Barret, kau tidak tahu berapa jumlah Turks yg mengawalnya ya?" tanya Tifa melihat dari spion. Ia merasa salah satu dari mereka berbalik mengincar mobilnya.

"Eh, kukira hanya sopirnya saja," jawab Barret spontan.

"Gimana sih?" kata Tifa sewot. Memang dasar bosnya ini agak serampangan.

"Sebentar lagi pintu keluar tol!" teriak Cloud.

"Berpencar!" perintah Barret.

"Tolong jaga Tifa," teriak Cloud lagi.

Tifa pun menerabas palang tol dan membukakan jalan untuk motor Cloud. Lalu mereka melaju ke arah berlawanan begitu sampai di perempatan. Dan sang Turks perempuan berhasil melompat ke belakang pick-up yang terbuka.

"Itu lompat atau terbang sih?" seru Barret sudah sigap menembakinya. Tak lama, ia tersadar tidak ada siapa-siapa di depan. "Lho, kemana dia?"

Tiba-tiba ia terjatuh saat pick-up yang ia tumpangi mengerem dengan keras dan berjalan terseok-seok spiral. "TIFA!" teriaknya saat melihat sang vampir ada di pintu kemudi dan memecahkan jendelanya, mengganggu Tifa menyetir.

Tifa melancarkan beberapa pukulan dan sesekali membuka keras pintunya. Namun perhatiannya harus lebih fokus ke menyetir atau ia akan menabrak truk kontainer yang melintas di depannya. Kemudian terbesit bahwa sebaiknya ia menggencetnya saja di dinding truk itu.

"Tabrakan! Tabrakan!" teriak Barret ngeri saat Tifa membanting stir dan menghantamkan badan pick-up ke peti kemas dan menyeretnya sebentar sebelum berbalik arah.

"Selamatkah?" Tifa bertanya-tanya sebab ia belum mendengar suara jatuh. Hampir menghela napas lega, ia dikejutkan kembali dengan kemunculan vampir itu kali ini dari sisi jok penumpang yang kosong di sebelah kirinya. "UWAAAA!"

"MENEPI, TIFA!" seru Barret merasa kecepatan Tifa mulai tidak stabil.

"Barret, cepat singkirkan dia!" seru Tifa saat vampir itu kembali memecahkan kaca jendela. Tinggal tunggu waktu vampir itu masuk merongrongnya.

"SIAAAAALLL!" seru Barret menembak lagi. Namun vampir itu dengan gesit melompat lagi ke atas, mengubah sasaran, lalu menerkamnya dan membuat kepala Barret terantuk. "AAARRRGGGHHH!"

"BARRET!" teriak Tifa cemas.

"Ugh! Ugh!"

Barret pun berduel dengan vampir itu sambil sesekali menggulingkan badan ke kanan dan ke kiri di bagasi yang sempit. Setiap serangan mematikan dari kuku vampir yang diarahkan ke muka Barret berhasil ia tangkis meskipun ada beberapa yang menambahkan goresan baru. Kepalanya hampir keluar dari badan pick-up, kalau bukan karena tenaganya yang besar bertahan, ia pasti sudah jatuh ke aspal dari tadi. Ia pun menyelipkan tangannya di antara perut mereka untuk menembak lagi dan vampir itu reflek berdiri hendak mengelak. Tangan Barret pun mencengkeram kuat pinggir pick-up.

"REM!" teriaknya.

Tifa pun menginjak rem dan membuat vampir itu terjungkal maju ke belakang pick-up.

"MUNDUR!" perintahnya lagi dan diikuti Tifa.

Krrtttkkk... Terdengar suara tulang patah di bawah mobil. Tifa pun memajukan perselningnya dan tancap gas kembali.

"Barret," panggil Tifa, "aku tadi berhasil melindasnya kan?"

"Sayangnya tidak tepat di kepala jadi dia pasti belum mati," jawab Barret. "Tapi itu sudah cukup membuatnya tidak mengejar kita lagi. Hoo, jadi seperti itulah para Turks. Aku akan menelepon Jessie dan menyuruh mereka mundur dari pintu masuk tol. Jemput Biggs di pintu keluar tadi. Kita pulang."

"Kita akan membiarkan Cloud berjuang sendirian?"

"Aku nggak bisa apa-apa, lagipula itu Cloud sendiri yang egonya tinggi. Percaya saja padanya."

Tifa pun melajukan mobil dengan kecepatan biasa. Cloud, semoga kau selamat...


Dari persimpangan tempat ia berpencar tadi, Cloud masuk ke jalur dalam kota yang ukuran jalannya tidak jauh berbeda dengan tol. Setahu dia, vampir menghindari keramaian manusia. Buktinya, selama ini mereka hanya menampakkan wujud aslinya di tempat-tempat sepi untuk memangsa meski bisa saja mereka berseliweran di antara padatnya pejalan kaki di sana. Tapi, nampaknya Cloud salah. Dari kaca spion, ia bisa melihat vampir itu masih ada, melompat berpindah dari atap satu mobil ke atap mobil yang lain, masih dengan kecepatan mengagumkan. Kadang jarak mereka mendekat, tapi Cloud selalu bisa menancap gas lebih dalam untuk lolos. Yang susah adalah menyingkirkannya, ia tak mungkin mengayunkan pedang karena jangkauan yang sempit akibat terjepit badan mobil-mobil.

Orang-orang di sekitar mereka terkejut meski tidak semua pengguna jalan sempat melihat ada orang aneh melakukan aksi akrobatik nyata di jalan, apalagi bisa merekam gerakan motor Cloud yang lewat begitu saja. Sebagian mengumpat, tentu saja, karena Cloud nekat menerobos kerumunan mobil yang melaju dengan kecepatan normal di dalam kota. Tapi pastinya, pengemudi dan penumpang mobil-mobil yang diinjak-injak vampir itu akan bertanya-tanya.

Yang benar saja, pikir Cloud kemudian mempelajari bahwa seperti inilah kerja Turks. Bisa-bisa besok pagi terjadi kehebohan massal di koran-koran.

Cloud pun membelokkan motornya ke sebuah jalan kecil, memisahkan diri dari keramaian jalan utama, tak bisa bertarung di situ. Ia sesekali menengok ke belakang untuk mengecek apakah vampir tadi masih mengikutinya karena di kaca spion belum tentu kelihatan, dan Cloud tidak menemukannya. Saat pandangannya kembali ke arah depan, ia kaget melihat sesosok bayangan melintas tak jauh di depannya.

Bukan. Bukan bayangan. Lebih tepatnya seorang gadis berpakaian serba merah muda.

Dan ia akan menabraknya...

Bersambung...


Teaser/Preview Chapter berikutnya:

"Jangan-jangan orang itu pembunuh?"

"Gawat, aku lupa bilang padanya kalau ada gadis itu."

"Ini air suci, aku selalu membawanya sebotol untuk jaga-jaga. Kuambil dari kolam di gereja tadi. Ibu kandungku yang memberitahu khasiatnya."

"Bereskan AVALANCHE segera, Tseng!"


A/N: Oya, nama-nama yg disebutkan Barret bukan OC. Di game Before Crisis, merekalah yang menjadi ketua AVALANCHE saat itu. Dan dalam game itu, lawan AVALANCHE adalah para Turks yg jumlahnya ga cuma Tseng-Reno-Rude-Elena aza tapi ada 6 orang lagi.

Awalnya Shin-Ra Coven-nya mau jadi coven biasa kayak di Underworld dan Twilight gitu. Trus aku keingetan serial Kamen Rider Kiva. Di setting era modern, Raja 'Vampir'nya punya perusahaan dimana sebagian karyawan dan seluruh pemegang sahamnya adalah vampir. Ya udah, kupake aza deh^^.

Adegan Barret/Tifa vs Turks terinspirasi dari adegan Jackie Chan melawan vampir di film "Twins Effect". Maaf kalau chapter ini terlalu panjang =='. Chapter ini udah CloTi, chapter depan bakal penuh adegan Clerith. Tenang aza, bukan dalam bentuk romantic way kok, hehehe.