Cerita sebelumnya: Cloud kembali bermimpi buruk. Siangnya, ia mendengarkan penjelasan dari Barret dan yang lainnya mengenai AVALANCHE. Dengan adanya perubahan rencana, mereka pun menyiapkan misi untuk malam berikutnya, yaitu mencegat presdir Shin-Ra. Hal ini membuat Cloud dan yang lain berhadapan dengan dua orang Turks. Ia terpisah dengan Tifa yang ia suruh kabur bersama Barret. Sementara di mobil pick-up Barret dan Tifa telah berhasil mengalahkan Turks yang mengejar mereka, Cloud masih harus berjibaku melawan Turks di atas motornya. Saat itulah, ia nyaris menabrak seseorang.


CHAPTER 3

Di kegelapan malam seperti itu dengan sedikit cahaya lampu, Cloud masih bisa melihat dengan jelas warna merah muda dari pakaian yang dikenakan. Terdengar sebuah jeritan kecil saat gadis itu menyadari ada motor yang melaju kencang ke arahnya. Lantas Cloud pun mengerem keras. Dan dengan kecepatan seperti itu, motornya pun terseret jatuh hingga akhirnya berhenti tepat dimana rodanya hanya tinggal berjarak beberapa senti dari kaki orang yang nyaris ditabrak.

"Ugh..."

Cloud pun beringsut bangkit sambil menyingkirkan motor yang menimpanya. Ia menoleh untuk melihat lokasi di mana ia kira-kira berada sekarang. Di sampingnya ada sebuah bangunan cukup besar. Gereja kah, tebaknya. Ia belum pernah melihat sebelumnya. Ini sektor berapa?

"Kau benar-benar membuatku kaget, tapi di jalan kecil dan sepi seperti ini seharusnya kamu tidak boleh ngebut," kata gadis itu tidak marah dan justru mengulurkan tangannya pada Cloud. "Kau bisa berdiri?"

Reaksi gadis itu tidak begitu shock padahal ia nyaris tertabrak, membuat Cloud pun menerima uluran tangannya yang bersahabat. "Yeah, bisa," jawab Cloud berdiri.

"Hei, kita bertemu lagi," sorak gadis itu.

Cloud tidak begitu mengerti dengan apa yang dikatakannya karena ia tidak ingat kapan dan dimana mereka pernah bertemu. Tapi benar juga bahwa gadis di hadapannya itu tampak tak asing. Gadis itu memegang sebuah tongkat besi berwarna keperakan. Di bahu kanannya, ia menenteng tas kecil dengan warna senada baju dan pita rambutnya.

"Kamu lupa? Kita bertabrakan kemarin dan kamu kelihatannya berdarah," lanjutnya kemudian mengajak berkenalan. "Namaku Aerith, Aerith Gainsborough."

"Oh," respon Cloud pendek sambil menepiskan debu dari pakaiannya. "Aku Cloud Strife."

"Kamu berdarah lagi, Cloud."

Cloud melihat sikunya, pasti luka karena jatuh di aspal tadi. "Ini tidak begitu sakit," ucapnya.

Ia pun segera mengusapnya. Melihat cairan merah yang menetes dari lukanya tersebut, mendadak Cloud teringat sesuatu. Darahnya –darah manusia– berwarna merah. Tapi mengapa kemarin Aerith bisa tahu bahwa noda hitam yang menempel di blus merah mudanya adalah darah? Apakah kalau darah manusia mengering juga akan berwarna segelap itu? Tapi kalau mengering kan tidak mungkin bisa menempel di pakaian orang lain.

Selagi Cloud berpikir, Aerith memajukan kepalanya seolah ingin melihat Cloud lekat ke matanya langsung.

"Hei, apa yang…" tanya Cloud apakah ada yang aneh pada wajahnya sehingga diamati seperti itu di bawah lampu neon putih.

Aerith pun mundur dan menyengir. "Apa mata birumu itu juga bisa berubah menjadi merah?"

"Mana bisa? Bola mataku sudah seperti ini dari aslinya," tukas Cloud. "Tapi kenapa kau bisa tahu soal…"

Aerith segera memotong perkataan Cloud. "Benar juga, birumu sedikit hijau. Maaf, kupikir kamu mirip dengan dia."

"Hah?"

"Lucu ya, aku kenal seseorang yang sering menemuiku nyaris selalu dengan darah entah di tubuhnya atau bajunya. Bukankah itu sangat kebetulan? Lagipula ini pertemuan kedua kita. Jangan-jangan kita juga berjodoh."

Berjodoh? Aku sudah punya..., batin Cloud. Astaga, Tifa! Mendadak Cloud teringat padanya. Apakah ia dan Barret bisa lolos dari vampir yang mengejarnya? Cloud lalu memberdirikan motornya, merasa harus menyudahi pertemuan singkat mereka. Lagipula ia tadi sedang dikejar vampir, berbahaya kalau gadis ini terlibat.

"Kau sudah akan pergi?" Tampak Aerith kecewa karena masih ingin mengobrol dengan Cloud.

"Kau sendiri lebih baik juga cepat pulang. Jangan malam-malam berjalan sendirian di tempat sepi seperti ini," kata Cloud mengingatkan. Bisa-bisa kau dimangsa vampir, lanjutnya membatin.

"Hei," seru Aerith berkacak pinggang, "kau tadi nyaris menabrakku dan kau mau pergi begitu saja? Setidaknya antarkan aku pulang."

Bisa makin runyam nih, pikir Cloud menggaruk kepalanya. Tapi benar juga, kalau dipikir-pikir tadi itu memang salahnya. "Baiklah, aku minta maaf soal tadi. Kau boleh membonceng."

"Tapi nanti ya? Tadi itu aku baru saja sampai sini. Bagaimana kalau kita mengobrol di dalam gereja dulu? "

"Yang benar saja, aku masih punya banyak pekerjaan," protes Cloud. Dan Tifa pasti sedang menungguku…

"Sebenarnya aku tengah menunggu seseorang di sini."

Mendengar hal itu, Cloud jadi sedikit melunak. "Laki-laki yang kau sebut tadi?"

"Mudah ditebak ya?" kata Aerith. "Tapi kurasa ia tak akan datang. Sudah dua bulan ini aku tak bertemu dengannya. Padahal ada suatu hal sangat penting yang ingin aku sampaikan padanya. Mungkin aku telah dicampakkan."

"Pacar yang buruk," komentar Cloud. "Hei, bukankah itu malah mengerikan? Berlumuran darah seperti itu, janjian malam-malam, jangan-jangan dia vamp-" Cloud segera meralat kalimatnya, "-pembunuh."

Aerith pun sedikit menerawang ke arah lain sebelum akhirnya menjawab–masih dengan senyumnya, "Mungkin saja, tehee~."

Cloud semakin heran dengan reaksi santai Aerith yang seolah tidak takut sama sekali dengan apa yang baru saja mereka bicarakan. "Dan kamu minta diantarkan pulang olehku yang baru kau kenal? Bagaimana kalau ternyata aku pembunuh juga?"

Aerith justru tertawa geli.

"Apa yang kau tertawakan?" tanya Cloud.

"Habisnya kau kan memang memanggul pedang."

"Oooh, jadi sudah tahu ya?" seloroh Cloud. Padahal kalimat yang tadi ia lontarkan bukan sedang ingin bercanda, toh ia memang benar pembunuh, pembunuh vampir lebih tepatnya. Ia tidak menduga akan mendapat jawaban seperti itu. Tapi kalau Aerith memang benar pernah berkencan dengan seorang 'pembunuh', tidak ada alasan bagi gadis itu untuk takut padanya. Mungkin tongkat yang dibawanya bukan pajangan.

"Pembunuh bayaran?" tanya Aerith lagi.

Setengah tepat, batin Cloud. Begini-begini dia mengakui baru akan semangat membunuh vampir kalau Barret sudah menjanjikan bayaran. "Kalau iya? Kau mau menyewaku?"

"Kalau untuk jadi bodyguard bisa? Akhir-akhir ini aku merasa diawasi."

"Itu pekerjaan yang berbeda. Lagipula sepertinya kau bisa membela diri," sahut Cloud meski penampilan Aerith masih tetap meragukan di matanya. Ia sudah melihat Tifa dan Jessie, dan kalau mau dibandingkan, Aerith terlalu feminim dengan rok panjangnya. Mana bisa leluasa bertarung dengan pakaian seperti itu?

"Kubayar deh. Karena tidak membunuh berarti lebih murah ya?" rujuknya.

"Oke," jawab Cloud sekenanya. "Yang penting bayarannya."

"Bayarannya satu kali kencan ya?"

"Serius?" tanya Cloud kaget. Tapi mungkin jawaban tersebut keluar karena Aerith bisa membaca gelagatnya kalau dirinya juga tak serius menyanggupi. "Aku ini bukan pengganti pacarmu."

"Maaf, aku hanya…"

Cloud menunggu Aerith menyelesaikan kalimatnya.

Tapi kau memang mirip dengannya. Mirip tapi tidak sama, batin Aerith. "Ah, tidak. Tidak apa-apa," lanjutnya pelan. Mungkin benar hanya de javu.

"Aerith?" tanya Cloud menyadari perubahan ekspresinya.

"Benar kok, nggak kenapa-napa."

Cloud menghela napas. Yang di depanku ini hanya gadis patah hati rupanya, pikirnya. Lebih baik aku juga tak membuat Tifa terlalu lama menunggu. "Kalau begitu, bisa kita pulang sekarang? Kau sudah yakin pacarmu itu tak akan datang kan?"

Aerith mengangguk pelan. Cloud pun memutar kunci motornya. Awalnya agak susah karena tombol starter-nya sudah ditekan pun, mesinnya tidak mau langsung menyala. Cloud pun menginjak engkol sambil menarik gas sebagai cara lain. Ia mendesah lagi saat tahu stang motornya sedikit miring. Saat sedang memperhatikan dan mengecek sebentar kondisi motronya, ia mendadak terkejut. "HAH!"

"Ada apa?" tanya Aerith ikut berpaling ke arah yang ditatap Cloud.

Dan ternyata, mereka baru saja mengetahui keberadaan dua vampir di atap gereja. Dilihat dari bayangan rambutnya, yang satu dikucir dan berkibar, dan yang satunya botak. Vampir itu jelas berbeda dengan yang mengejarnya tadi. Dua vampir ini malah sepertinya sudah lebih lama bersembunyi dan mengamati mereka sebelum ia datang. Sejak kapan, batin Cloud tidak menyadari hawa keberadaan mereka karena terlalu fokus pada Aerith. Gadis ini diincar dari tadikah? Jadi benar yang tadi Aerith bilang merasa diawasi? Tidak dibayar pun, ia tak akan membiarkan seseorang diterkam vampir begitu saja jika kejadian itu sudah di depan mata.

"Lekas naiklah," kata Cloud menunjuk jok motornya di belakang. Beruntung, saat itu motornya telah menyala.

Aerith pun mengangguk mantap bersamaan dengan dua vampir tersebut melompat menapak halaman gereja. Mereka akhirnya bergerak karena Cloud dan Aerith menyadari keberadaan mereka dan tentu saja mereka tidak ingin membiarkan keduanya kabur. Tinggal semeter lagi mereka melesat mendekat saat Aerith telah duduk membonceng Cloud.

"Pegangan yang erat!" Cloud pun menggeber gasnya disusul teriakan tak siap Aerith. Kembali para vampir mengejar Cloud dengan kecepatan yang tidak biasa.

"Sial, mereka itu Turks," kata Cloud tahu dari pakaian mereka. "Kok bisa sih kamu diincar vampir sekelas mereka?" teriaknya agar terdengar oleh Aerith di belakangnya. Akhirnya Cloud mengucapkan kata itu juga, sudah kepalang basah, lagipula hal itu tak menjadi masalah. Bahkan mungkin justru karena Aerith mengetahui ciri-ciri makhluk malam yang bahkan keberadaannya itu menjadi rahasia inilah yang menyebabkannya diincar Turks.

"Entahlah, mungkin karena aku cantik? Hehehe..," jawab Aerith tidak sesuai harapan karena malah menggodanya. Ia kemudian mendongak, melihat seorang vampir berambut merah menukik ke arah motor mereka. "AWAS, CLOUD!"

Cloud pun menginjak rem belakang dan berputar arah dengan gerakan kilat, meninggalkan vampir yang tangannya menghujam aspal tadi karena tidak kena sasaran. Cloud bisa melihat dari spion bahwa vampir itu kesakitan.

"Masih ada satu lagi," seru Cloud mengingatkan Aerith agar tetap berpegangan erat padanya. Ia menengok ke arah samping dan seorang vampire berkacamata hitam tampak berlari melompat-lompat dari satu lampu jalan ke lampu yang lain dengan kecepatan nyaris setara.

Cloud pun menarik pedang di punggungnya. Ia mengendurkan gasnya agar vampire itu kelebihan langkah. Saat vampire itu menyadari yang dikejarnya masih ketinggalan di belakang, ia pun berbalik arah dan melesat turun ke arah Cloud dari depan. Tentu saja Cloud sudah siap untuk menebaskan pedangnya dengan mengangkat gas kembali.

CRASSSHHH….

Vampir itu pun jatuh terhuyung-huyung di aspal sambil memegang perutnya yang mengeluarkan darah.

"Sial, tidak terbelah," umpat Cloud merasakan kegesitan Turks saat mengelak berbeda dengan vampir biasa, padahal sudah ditambah kecepatan motornya. Namun, setidaknya aksi tadi sudah bisa menjauhkan mereka dari kejaran.

"Whoa!" seru Aerith terkejut dengan aksi Cloud. "Itu sungguhan pedang asli?"

"Tentu saja, kau lihat vampir tadi terluka kan?"

"Maksudku, apakah bahannya dari perak seperti tongkatku?"

"Besi."

"Berarti tadi kau belum membunuhnya."

"Memang benar, makanya aku harus membelahnya," terang Cloud. Tapi mendadak ia mengetahui sesuatu hal yang baru. "Eh, tadi kau bilang perak kan? Memang kenapa?"

"Loh? Kamu tak tahu?" Aerith justru bertanya balik. "Kukira orang yang tahu keberadaan vampir juga tahu hal semacam ini."

Cloud belum pernah mendengarkan hal itu dari Barret sekalipun. Apa ini juga menjelaskan bahwa peluru timah sama tidak mempannya dengan pedang berbahan besi? Bahwa keduanya harus berbahan perak? Dasar, organisasi tempatku bekerja ini serius nggak sih membasmi vampir, gerutu Cloud dalam hati. Tapi lantas lagi-lagi Cloud teringat penjelasan Barret siang tadi kalau AVALANCHE yang sekarang merupakan bentukan baru oleh Barret dan bisa jadi ia belum punya pengetahuan mendalam soal vampir.

Masalahnya, kenapa Aerith yang notabene orang biasa justru tahu sebanyak itu? Apa benar lelaki yang sering ditemuinya itu adalah vampir?

Cloud pun semakin ngebut untuk bisa berada sejauh mungkin dari sektor lima. Di saat bersamaan, muncul motor lain yang mendekati dua vampir yang terkapar tadi.

Brrmm... Brrmm...

Terdengarlah suara motor digas berkali-kali di dekat telinga seperti sengaja mengusik mereka. "Lho? Kukira siapa ternyata Reno dan Rude," ejek orang berambut coklat di atas motor tersebut.

"Rod?" balas vampir berambut merah dikucir yang dipanggil Reno itu membenarkan letak google-nya. Vampir satunya hanya bisa mengerang sambil memegangi dadanya yang terluka.

"Kalian sudah menghadapinya berdua, tapi sampai terkapar seperti itu? Padahal tadi aku sengaja tidak turut campur karena tahu kalian ditugaskan Tseng di sana meski aku tak tahu tujuannya."

Mendengar kalau ternyata rekan sediri tidak membantu sedikit menyebalkan. Tapi Reno tahu motto Turks yang hanya bekerja sesuai tugas masing-masing. Kalau tidak, mereka akan libur meski hari kerja sekalipun. "Lalu? Dari mana motor itu? Itu bukan motor perusahaan," tunjuk Reno pada tangki bensin yang seharusnya terdapat emblem logo Shin-Ra.

"Merampas orang lah. Kalau tidak, aku tidak bisa mengejarnya. Ia seperti pembalap."

"Pemuda asing tadi targetmu? Sejak kapan Turks mau repot-repot berburu seperti ini?"

"Dia dari AVALANCHE. Kalau dengar kata itu, harusnya kau semangat."

"Oh? Masih ada toh?"

"Dasar, kau selalu angin-anginan. Padahal gadis yang kau incar diculik olehnya bukan?" kata Rod lalu menarik tuas gasnya kembali, bersiap pergi. "Mau membonceng? Kurasa Rude lebih baik memulihkan diri saja di sini."

Reno merentangkan lengannya yang patah. Dengan sedikit tarikan dari ototnya saat ia menegangkannya, terdengar bunyi 'krettkk' dan tulang itu telah tersambung. Setelah cukup puas meregangkan dengan memutar-mutar sendi engselnya, ia lalu lekas duduk di belakang Rod.

...

Saat itu Cloud dan Aerith sudah berada di luar sektor lima sampai akhirnya Aerith berteriak memanggil-manggil sebab yang yang dipanggilnya tidak mendengar karena fokus memandang jalanan dengan kecepatan masih tinggi.

"Cloud! Cloud!" seru Aerith.

Akhirnya Cloud mendengar seruannya juga. "Ada apa?"

"Rumahku di sektor lima tadi, tidak bergitu jauh dari gereja. Kita mau ke mana?"

"Jadi kita harus balik lagi? Kita sudah sampai sektor enam nih."

"Kamu sendiri langsung lewat jalan ini, ngebut pula. Jangan-jangan kamu lupa kalau aku sedang memboncengmu."

Kalimat terakhir Aerith ada benarnya, pikir Cloud. Ia tadi langsung mengarahkan motornya ke sektor tujuh tempat bar Tifa berada. "Ada jalan lain yang bisa membuat kita tidak melewati gereja tadi? Mungkin saja vampir tadi masih di sekitar situ. Mereka tidak tahu letak rumahmu kan?"

Bahkan kini mengantarkannya pulang terlalu riskan karena letak rumahnya tidak jauh dari area tadi. Lalu kemana Cloud harus membawanya? Ke AVALACHE kah? Karena Aerith juga memiliki tambahan pengetahuan dan informasi yang sangat berguna bagi mereka? Ia belum memutar arah karena masih berpikir. Tapi laju motornya memelan.

"Kurasa tidak," jawab Aerith.

Cloud pun hendak berbalik tapi bersamaan dengan itu, dilihatnya kaca spion bahwa pengejar mereka ternyata masih ada. Ia tak memperhitungkan bahwa mereka akan menggunakan motor juga. "Sepertinya kita belum bisa pulang," katanya.

Cloud kembali menaikkan kecepatan. Tak lama, mereka kejar-kejaran melewati tepi sungai. Lalu ia mengarahkan motornya turun ke bantaran sungai yang tanah beceknya ditumbuhi ilalang, tempat yang tentunya bukan jalan licin yang bisa dilewati motor tanpa roda bergerigi seperti motornya dan motor pengejarnya. Ia bermaksud menghadapi mereka di atas tanah. Stang motornya sudah tidak terlalu nyaman dikendarai karena bekas jatuh tadi. Apalagi, ia tidak bisa leluasa bertarung di atas motor karena memboncengkan Aerith yang kemampuan bertarungnya ia ragukan meski membawa tongkat, beda dengan Tifa yang sudah terlatih. Lagipula, bukankah ini kesempatan menjawab tantangan Barret untuk menghabisi minimal dua orang Turks? Kalau ia bisa melewati ini, paling tidak ia maju selangkah untuk bisa menghadapi vampir elit.

"Jangan jauh-jauh dariku, Aerith," perintah Cloud turun dari motor yang dijawab anggukan Aerith. Ia pun memasang kuda-kuda ke arah dua vampir itu.

"Rod, cowok jabrik itu bagianmu," tunjuk Reno. "Aku yang perempuan."

"Kau tidak membantu, Reno."

"Ingat motto Turks."

"Sial, balasan yang tadi ya?"

"Lagipula Tseng bilang aku hanya harus mengawasinya. Dan itu artinya kau bahkan tidak boleh membuatnya terluka atau aku yang kena amukan Tseng."

"Aku lebih suka kau kena marahnya."

"HUH! Itulah mengapa aku lebih suka bekerja dengan Rude." Jawaban bernada kesai itu membuat Rod tertawa.

Cloud tidak suka kedua vampir di depannya malah asyik bercanda satu sama lain. Mereka pikir hal itu akan membuatku lengah, hah?

"Oke, oke," ucap Rod mengalah. "Aku akan menjauhkannya dari gadis itu untukmu."

Gawat, batin Cloud tentu mendengar percakapan mereka. "AERITH!" serunya menyuruh waspada. Dan saat Cloud menoleh sesaat untuk melihat Aerith itulah Rod sudah melesat di depannya.

"Lihat kemana kau?" sindir Rod.

Sial, sejak kapan, batin Cloud terkesiap dengan kecepatan mereka. Ia pun menangkis serangan cambuk Rod dengan pedangnya. Rupanya Turks bersenjata juga ya?

Rod pun semakin intens menyerang Cloud dari sisi samping, membuat Cloud semakin bergeser dari posisinya yang semula di depan Aerith. Ia kesusahan melawan senjata yang begitu fleksibel seperti cambuk itu karena datangnya tak terkira bisa dari arah mana saja. Cambuk itu seolah meliuk hidup seperti ular dan ia tak bisa memotongnya begitu saja karena sangat lentur. Kalau sudah begitu, langkah terbaik adalah memperpendek jangkauan dengan maju mendekati musuh agar pedangnya bisa menebas tubuh sang vampir. Hanya saja, Rod tampak sedang mengulur-ulur waktu karena terus menjauh begitu didekati, dan strateginya benar. Cloud semakin menjauh dari Aerith.

Sementara itu sesuai instruksi Rod, Reno melangkah menuju Aerith yang juga sudah mengacungkan tongkat berwarna peraknya. Kuda-kuda Aerith tampak lucu di mata Reno, membuatnya tak bisa menahan tawa.

"Tongkat ini cukup menyakitkan untukmu lho!" kata Aerith.

Dengar! Reno bahkan tidak tahu yang barusan itu gertakan atau bukan. "Coba saja," tantangnya.

Aerith lalu mengayunkan tongkatnya lurus ke wajah Reno yang tentu saja bisa dihindari dengan mudah.

"Eit, tidak kena," godanya.

Tak menyerah, Aerith terus mengayunkan tongkatnya dengan berbagai variasi gerakan; menyamping ke arah leher Reno, lurus ke bawah ke bahunya, menyodok perutnya dari depan, menyapu kaki; namun semua itu bagai menebas udara kosong karena tidak ada satu pun yang kena.

"Jangan main-main, Reno!" Terdengar seruan Rod masih meladeni Cloud.

"Kau sendiri main-main," balas Reno melihat Rod justru tampak menikmati pertarungannya dengan Cloud bukannya malah cepat diselesaikan.

"Oke, cukup," kata Reno kali ini menangkis tongkat Aerith dengan menggenggam ujungnya, tidak lagi menghindar. "Aku tidak tahu apa yang Tseng inginkan darimu karena membuat waktu santaiku hilang. Kalau bukan karena kau kabur dengan AVALANCHE, aku tak perlu sampai mengejarmu."

"Tseng?"

"Kau kenal?" tanya Reno membaca ekspresi Aerith. Saat itu, ia sudah merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Rasanya seperti ada yang menyedot tenaganya. Ia mendadak lemas.

"Kalian suruhan Tseng? Aku ingin bicara dengannya," lanjut Aerith. Ini tentang 'dia', jerit Aerith dalam hatinya. Tseng kenal dia.

"AERITH!" teriak Cloud mengkhawatirkannya. Ia tidak bisa mendengar percakapan Aerith dengan Reno karena agak jauh, mengira gadis itu terdesak dilihat dari posisi Reno yang tampak mengintimidasi.

Mendengar teriakan Cloud, Aerith justru mengira pemuda itu butuh bantuannya. Dan melihat Reno mulai lemas tanpa menyadari hal itu diakibatkan oleh dirinya yang terus menggenggam tongkat perak Aerith, Aerith pun menariknya keras sehingga lepas dari genggaman. Ia lalu menyodoknya keras ke arah selangkangan Reno, tepat di kemaluannya. Saat Reno berteriak kesakitan sambil melompat-lompat, Aerith lalu menghantamkan tongkatnya sekali lagi ke pelipis si rambut merah.

Reno bingung kenapa ia bisa tersungkur padahal hanya dipukul sebuah benda tumpul dengan ayunan yang bagi vampir sekelas dirinya terbilang lemah. Masa sih benda itu terbuat dari perak sungguhan? Dari mana manusia tahu kalau perak adalah kelemahan bangsanya? Pantas saja, gertakan tadi... Saat itu, Aerith sudah meninggalkannya ke tempat Cloud dan Rod tengah bertarung.

"Jangan ke sini!" seru Cloud memperingatkannya namun tak digubris.

Rod juga kaget karena tidak menyangka gadis itu sanggup melumpuhkan Reno. Fokusnya pun terbagi dua antara Cloud yang masih gigih melawannya dengan Aerith yang menelusupkan tangannya ke dalam tasnya, membuatnya meningkatkan kesiagaan untuk menghadapi senjata apa yang kira-kira akan gadis itu tunjukkan.

Dan, seketika Cloud merasakan wajahnya basah terpercik sesuatu. "Aerith, apa yang..."

Kalimatnya terhenti. Air itu tidak ditujukan untuknya tapi untuk lawan vampirnya. Ia bisa melihat tubuh Rod yang terkena siraman air lebih banyak itu mengeluarkan asap putih. Setelan jasnya ikut meleleh bersama lapisan kulitnya. Rod pun mengerang kesakitan sambil menggaruk-garuk dadanya yang mulai melepuh, rasanya bagai terbakar.

"ROD!" teriak Reno juga melihatnya. "A-Air apa itu?"

Cloud sendiri tak kalah kaget padahal ia juga terkena meski sedikit tapi tidak ada efek apapun yang timbul. Apa air biasa ternyata bagaikan air keras bagi vampir? Namun, hal itu tidak disia-siakan Cloud. Melihat lawannya sudah tak berdaya seperti itu, Cloud pun mengangkat pedangnya, memberikan sentuhan terakhir dari apa yang sudah dibuat oleh Aerith. Segera, Rod pun tertebas menjadi dua. Aerith spontan menjerit melihat pemandangan di depannya, apalagi darah Rod tertebar ke mana-mana. Untung saja ia tidak kena cipratan darahnya dan tubuh koyak Rod menjadi abu dalam sekejap.

"BRENGSEK!" umpat Reno bangkit lalu segera melompat jauh bagai terbang ke seberang sungai selebar 150 meter. "Tseng menyuruhku mengawasi gadis mematikan ini? Apa maksudnya?" Tapi percuma juga Reno bertanya-tanya seperti itu kalau memang pemimpin Turks itu tidak menjelaskan alasannya. Bukankah ia yang paling tahu motto Turks adalah bekerja tanpa basa-basi?

"Dia kabur," ujar Cloud. Tapi ia tak terlalu memedulikannya dan beralih ke Aerith karena masih penasaran. "Yang tadi itu apa?"

"Air suci," jawab Aerith. "Kudapat dari kolam di dalam gereja tadi. Aku selalu membawanya sebotol untuk berjaga-jaga. Ibuku yang memberitahuku, katanya ini ampuh untuk mengusir vampir. Aku tak tahu efeknya separah tadi, aku belum pernah menggunakannya."

"Jadi itu yang membuatmu diincar mereka?" tanya Cloud lagi. Sekarang ia paham mengapa Aerith tahu ciri-ciri vampir, pasti itu dari ibunya.

"Sepertinya begitu, sebab ibuku juga mati misterius saat aku masih kecil. Sekarang aku tinggal dengan ibu angkatku."

Cloud merasa bersimpati sebab ia juga kehilangan ibu karena dibunuh vampir. Ya, Sephiroth bajingan itu telah membumihanguskan desanya. Saat itu, ponselnya berdering. Ternyata saat jatuh hampir menabrak Aerith tadi tidak rusak. Cloud pun mengangkatnya. "Halo."

"Cloud, kau di mana? Kenapa lama? Kau baik-baik saja kan?" Terdengar suara cemas di seberang.

"Maaf aku terlambat pulang, Tifa. Aku masih harus mengantarkan seseorang. Dia tak sengaja terlibat di jalan tadi. Kau sendiri? Meneleponku dari rumah kan?" tanya Cloud tidak kalah mengkhawatirkannya.

"Ya, aku dan Barret baik-baik saja. Kami berhasil melumpuhkan Turks yang mengejar kami. Kalau kau pasti sudah bisa membunuhnya."

"Hn," jawab Cloud seadanya karena ia menang tadi pun berkat bantuan Aerith, "begitulah."

"Nadamu terdengar tak puas."

"Nanti atau besok saja kuceritakan."

"Baiklah. Kutunggu di rumah, Cloud."

Sambungan pun diakhiri dan Cloud menutup flip ponselnya. Ia menoleh kembali ke arah Aerith dan mendapati gadis itu tengah berjongkok di tempat abu Rod masih tersisa di antara rerumputan. Tangannya mengatup seperti orang tengah berdoa. "Aerith?" panggilnya.

"Meski dia vampir, tapi tetap saja membunuh orang," katanya berdiri.

"Bukankah kau sendiri yang tadi sudah bisa menebak kalau aku memang pembunuh?" lanjut Cloud. "Hei, aku tak mau disebut begitu. Pembasmi vampir beda dengan pembunuh orang. Merekalah yang pembunuh."

"Kau dari AVALANCHE?"

"Kau bahkan tahu nama kelompok kami."

"Tadi vampir berambut merah itu yang bilang. Lagipula aku besar di Midgar. Jadi aku memang pernah mendengar tentang kalian meski tak ingat namanya," lanjut Aerith. "Ngomong-ngomong, Tifa itu perempuan?"

"Ya."

"Pacarmu?"

"Bukan sih."

"Tapi kudengar tadi kau menyebut rumah. Kalian tinggal bersama?"

"Eh, itu maksudnya markas kami. Tifa juga seorang anggota AVALANCHE."

"Benar?" tanya Aerith semakin usil. Kalau cuma teman biasa masa menyebut markas dengan rumah? Home?

Cloud tidak suka diinterogasi begitu. Tidak Barret, tidak yang lainnya, bahkan Aerith yang baru ia kenal pun sudah mengusilinya dengan pertanyaan-pertanyaan demikian. "Itu rumit."

"Tidak usah gusar begitu," canda Aerith. "Kalau ternyata AVALANCHE ada anggota perempuannya berarti aku boleh ikut dong."

"Hah?" Cloud merasa telinganya salah mendengar. "Kami organisasi pembasmi vampir, tidak main-main. Kami mem-bu-nuh, dan kau tidak suka kan?" katanya memberi penegasan.

"Bisa pinjam telepon? Aku juga ingin menelepon ke rumah," lanjut Aerith mengubah pembicaraan.

Cloud pun menyodorkan padanya dan Aerith menekan beberapa tombol.

"Ibu, ini Aerith. Maaf, aku tidak pulang malam ini. Tadi aku bertemu vampir dan aku takut ia masih mengikutiku sampai ke rumah. Aku tidak mau melibatkan ibu, jadi aku akan pulang besok pagi saat mereka tidak keluar."

"Hei!" seru Cloud karena ternyata Aerith memutuskan seenaknya. Tadi memang sempat terlintas pikiran untuk membawanya ke 7th Heaven karena kondisi yang tidak aman meskipun hal itu juga bisa menjadi keuntungan tersendiri karena informasi yang dimilikinya. Tapi sekarang kan satu vampir sudah terbasmi dan yang lainnya kabur masa ia mau membiarkan Aerith menempuh bahaya lagi? Sudah berapa kali ia menjerit ketakutan tadi? Dan mengapa pula gadis itu berubah pikiran untuk tidak ingin segera pulang?

"Aku bersama AVALANCHE," lanjut Aerith di telepon. "Aku aman bersama mereka. Mereka menolongku."

"Aerith..." terdengar suara ibunya. "Kau ke gereja malam-malam, apa kau masih menemui lelaki itu? Kalau tadi kau tak ke sana, kau pasti tidak akan bertemu para makhluk malam itu."

"Ibu, vampir ada di mana-mana. Tidak di sana pun, aku bisa bertemu di tempat lain kalau tak beruntung. Aku janji pulang besok pagi. Jangan khawatir, AVALANCHE ada anggota perempuannya kok."

"Aerith sayang, aku angkat tangan. Kau nggak pernah mau dengar. Aku hanya bisa bilang hati-hati."

"Aku juga sayang padamu, Bu." Aerith pun memutus sambungan telepon dan mengembalikan ponsel Cloud. "Terima kasih," ucapnya pada sang pemilik.

"Kedengarannya ibumu marah," sahut Cloud masih lebih suka mengantarkan Aerith pulang.

"Tidak kok," jawab Aerith lalu menghampiri motor Cloud untuk semakin mengajaknya. "Ayo, kita pergi ke markas AVALANCHE."

Cloud pun mendesah pelan. Dari tadi ia merasa tidak pernah bisa menolak kemauan gadis itu.


Sektor satu Midgar, terletak di jantung kota, berdiri sebuah kompleks gedung megah berlantai 60. Dua orang sekuriti langsung menghampiri sedan yang hendak parkir di basement karena kaca depannya berlubang-lubang akibat terjangan peluru Barret. Namun dua sekuriti tadi langsung mundur begitu melihat sang sopir, yang tak lain adalah komandan Turks, turun dengan bugar meski pakaiannya berlobang-lobang dan berlumuran darah. Saat ia turun itulah, terdengar bunyi gemerincing peluru yang berjatuhan ke bawah dashbor. Selain memang vampir sepertinya bisa menyembuhkan diri, toh hanya satu peluru yang nyaris menyerempet jantungnya tadi. Sopir tersebut kemudian membukakan pintu belakang untuk pimpinannya. Di balik pintu, Presdir Shin-Ra tengah menyalakan cerutunya dengan penuh kegusaran. Tentu saja peristiwa tadi sangat mengesalkan.

"Kejadian menyebalkan tadi membuatku lapar," katanya menghembuskan asap cerutu.

"Ada apa, Tuan?" tanya Tseng menemaninya berjalan masuk ke lobi dan terus ke elevator.

"Pantas saja, dari dulu kerjaannya hanya main-main saja dan selama dua tahun terakhir ini tampaknya ia tak menghabisi seorang pun. Aku tak menyangka kalau sering bersinggungan dengan mereka bisa mengubah pikiran seseorang."

Tseng sedikit bingung. "Siapa yang Anda maksud?"

"Pengkhianat itu bukan? Barusan kita melihatnya di tol."

"Bukankah para vampir pelayan (Slave) bentukan Hojo berhasil membereskannya dua minggu lalu di luar Midgar?" Entah mengapa Tseng merasakan nada berat di lidahnya saat mengucapkan hal itu. "Berdasarkan laporan yang saya terima, dikatakan demikian. Dan yang tadi itu sama sekali bukan orang yang sama."

"Oh, begitu?" ucap Presdir Shin-ra memincingkan matanya sedikit tak percaya. "Yang penting, urusan para pembasmi keparat itu menjadi bagianmu dan para Turks-mu."

Keluar dari lift, mereka terus berjalan sampai langkah mereka berhenti di depan sebuah pintu. Sang Presdir pun membukanya dengan menggesekkan sebuah kunci yang berupa kartu. Saat dibuka, di dalamnya tampak tiga perempuan bugil dengan tangan kaki terikat serta mulut tersumpal. Mereka dikumpulkan dari tempat yang berbeda-beda dan tidak saling mengenal pula. Air mata mereka menetes tahu kegilaan apa yang akan mereka hadapi setelah ini karena sejak kemarin sudah ada dua orang di ruangan itu yang dijemput ajalnya. Kini mereka menerka-nerka siapa yang mendapat giliran untuk hari ini. Tapi toh, siapapun yang duluan, nasib mereka tak akan berubah sampai hari terakhir.

Ya, mereka adalah manusia. Mangsa. Makanan spesial untuk sang Presdir.

"Tseng, aku minta hasilnya segera," lanjut Presdir Shin-Ra masuk.

"Serahkan pada kami," kata Tseng membungkuk sebelum pemimpinnya itu menutup pintu.

Ia pun berbalik mundur dan mengambil ponsel yang berdering di saku jasnya. Tak lama kemudian, terdengarlah jeritan dari dalam ruangan tersebut, namun Tseng tak memedulikannya.

"Ini Reno," kata suara di seberang telepon. "Gadis itu bersama AVALANCHE. Rude terluka, sekarang ia sedang menyembuhkan diri. Rod… dia… tewas."

Turks bisa sampai terluka dan terbunuh, batin Tseng geram. Ternyata AVALANCHE yang baru ini tetap tak bisa diremehkan. Heran, padahal baru sampai dua minggu lalu, sepak terjang mereka belum sampai taraf yang membayahakan. Apa ini ada kaitannya dengan seorang anggota mereka yang sempat salah dikira oleh Tuan Presdir tadi?

"Hubungkan aku dengan Don Corneo," perintahnya kemudian. "Kita akan pancing AVALANCHE dalam seminggu ini."

Bersambung...


Teaser/Preview chapter berikutnya:

"Senang berteman denganmu, Tifa."

"Beberapa hostess Honey Bee, Inn. akhir-akhir ini menghilang?"

"Aku tak bisa duduk tenang memikirkan kalian hanya berdua menyamar dan masuk ke rumah vampir."

"Selamat, kalian bertiga terjebak, hahaha!"


A/N: Di sini, aku mengganti pertemuan karena sama-sama jatuh dari atap gereja menjadi 'darah', dan SOLDIER menjadi 'pembunuh'. Lalu, fungsi tongkat Aerith di sini kuambil dari manga One Piece, yaitu konsep tongkat batu laut yg dimiliki marinir untuk melawan bajak laut yang memiliki kekuatan buah setan. Fungsinya cuma untuk melemahkan sih.

Sebenarnya Rod tidak bersenjata cambuk sih, dia kayak Reno bawa tongkat kecil. Tapi karena kebutuhan fanfic , karena Author-nya sendiri bingung mau ndeskripsikan action kayak apa, terpaksa kumodifikasi. Maaf kalau chapter ini trlalu panjang.