Cerita sebelumnya: Cloud berkenalan dengan Aerith di depan gereja sektor lima. Kemudian, mereka bersama menghindari kejaran dua Turks yang ternyata sudah mengawasi Aerith sedari sebelumnya. Mengira sudah lolos, Cloud dan Aerith kembali bertempur di bantaran sungai. Mereka berhasil membunuh Turks yang bernama Rod sedangkan yang seorang lagi, Reno, kabur. Tidak jadi pulang, Aerith lalu memaksa Cloud mengantarkannya ke markas AVALANCHE. Sementara itu, pihak Vampire Coven tengah menyusun rencana baru...


CHAPTER 4

Aerith tidak bisa melupakan suara itu. Suara bising kereta api yang melintas lewat di stasiun ataupun berhenti untuk menaik-turunkan penumpang. Di antara kepadatan orang yang berhamburan keluar dari kereta api di jam pulang kantor, Aerith kecil menggenggam erat tangan ibunya agar tidak terpisah darinya. Ia tidak ingat mengapa ia ada di tempat itu. Apakah ia sedang menunggu kereta? Memangnya ia dan ibunya hendak pergi ke mana saat itu? Atau jangan-jangan tadi ia baru saja turun dari kereta?

Hal lain yang Aerith ingat adalah saat ibunya melepaskan genggaman tangannya. Ia menunduk sejenak untuk membisikkan sesuatu padanya.

"Berjalanlah terus seperti biasa, Aerith. Jangan terlihat seperti kau sedang lari dari sesuatu yang mengejarmu atau nanti mereka akan menemukanmu. Tetap berbaurlah normal dengan semua orang di sini."

"Ibu mau ke mana?" tanya Aerith.

Bukannya menjawab kegelisahan putri kecilnya, Ifalna lalu memberikan sebuah botol plastik pada Aerith. "Bawa ini selalu. Siramkan kalau mereka mendekat. Kalaupun habis, kau bisa mengambil air biasa yang telah diberkati menjadi air suci di sembarang gereja. Kau akan terlindungi."

Aerith mencoba memahami situasi yang ada dengan pikiran kanak-kanaknya. Dan kalimat terakhir ibunya sebelum menghilang ke balik kerumunan orang adalah,

"Ibu menyayangimu, Aerith."

Aerith pun mendekap botol itu di dada mungilnya. Ia terus melangkah maju meski tak tahu di mana letak pintu keluar dan merasakan gemetar melanda kedua kakinya. Bayangan hitam itu di sini, batinnya. Mereka mencari ibu.

Selagi berjalan itulah terdengar suara kereta lain dari kejauhan akan melintas.

...bersamaan dengan jeritan seorang wanita yang tidak asing di telinganya.


"Pagi Aerith."

Sebuah suara membuyarkan lamunannya. Aerith mendapati dirinya tengah membuka gorden dan kaca jendela kamar sedangkan Tifa sedang melipat selimut yang mereka pakai tidur bersama. Ya, semalam tadi mereka berbagi tempat tidur.

"Pagi, Tifa," balas Aerith dengan senyum merekah disinari cahaya pagi yang masuk lewat jendela.

Tifa lalu sedikit menguap. "Kau segar sekali. Rasanya tak percaya kau baru saja mengalami malam hebat bersama Cloud."

Malam hebat? Bagi Aerith, malam tadi bukanlah malam yang paling menegangkan seumur hidupnya. Dulu ia memang sempat dilanda ketakutan karena sosok tak ia kenal yang selalu ibunya sebut dengan vampir itu dirasa mengawasinya setiap hari sejak saat itu. Tapi, seiring berlalunya waktu, karena ia sendiri belum pernah melihat sosok mereka secara langsung, lama-lama bayangan itu memudar meski perasaan was-was itu masih ada. Namun ada suatu hal yang membuatnya seolah terlihat begitu santai menghadapi Turks semalam. Satu hal pengecualian, vampir yang seharusnya ia benci karena makhluk itulah yang memisahkan dirinya dengan ibunya, dan semua itu karena perkenalannya dengan seseorang. Hawa yang menyentuh kulitnya begitu berbeda. Alhasil, bukan ketakutan lagi yang membayangi benaknya.

Dan begitulah kemudian Aerith berpendapat, vampir yang telah membunuh ibunya dan vampir-vampir yang ia temui sesudahnya tidak bisa ia sama ratakan. Malam bersama vampir pun kini sudah menjadi malam biasa baginya. Namun, peristiwa malam tadi tak dinyana membangkitkan kenangan lama Aerith saat ia masih kecil itu. Pertama kalinya ia menggunakan air suci. Dan kenyataan bahwa ada vampir yang mengejarnya meski bukan vampir yang sama.

Aerith lalu menjawab Tifa, "Kita sudah saling bercerita semalam dan kurasa aksimu lebih mendebarkan."

Keriangan Aerith membuat Tifa berpikir bahwa sifat teman barunya itu tidak bisa dibandingkan dengan penampilannya. Kesan pertama begitu melihatnya, orang pasti akan salah menyangka bahwa Aerith adalah gadis manis yang akan mudah ketakutan. Tifa ingat Jessie pernah bercerita saat dulu pernah mengusir vampir yang nyaris saja menerkam leher korbannya di sebuah taman, seorang gadis juga, dan gadis itu syok luar biasa kalau tidak mau dikatakan mengalami goncangan jiwa. Melihat Aerith, Tifa pun belajar bahwa reaksi setiap orang tidaklah sama.

Itu kalau Aerith hanyalah gadis biasa.

Nyatanya semalam, Aerith mengungkapkan hal-hal yang sama sekali baru baginya. Bahwa memang gadis itu lebih mengetahui perihal vampir daripada dirinya yang justru menekuni profesi pembasmi ini. Namun, ia menganggap hal itu masih wajar karena Aerith adalah seorang penduduk Midgar, dengan fakta bahwa kota inilah tempat sarang vampir terbesar. Dan entah kenapa, baru semalam mereka mengobrol, ia merasakan kecocokan dengannya. Padahal Tifa tahu bahwa mereka berdua sungguh berbeda, atau justru berkebalikan? Aerith cukup mendominasi pembicaraan, menandakan dirinya begitu terbuka dan apa adanya. Tifa merasa tidak bisa seperti itu. Andai bisa, mungkin sudah lama sejak masih di Nibelheim ia telah mengutarakan isi hatinya kepada Cloud dan berani mempertanyakan apa saja yang telah terjadi padanya selama dua bulan.

"Kuantar kau pulang, Aerith," tawar Tifa.

"Terima kasih, Tifa, tapi aku bisa pulang sendiri."

"Aku biasa mengantar Marlene bersekolah, sekalian saja."

"Marlene?"

"Putri Barret. Kau belum bertemu semalam karena ia sudah tidur lebih awal."

"Wah, aku ingin bertemu dengannya."

"Sekolah Marlene sebenarnya cukup dekat, tapi aku bisa pinjam motor Biggs untuk mengantarmu. Kurasa Cloud akan memperbaiki motornya yang jatuh kemarin."

"Tidak usah repot-repot, Tifa. Lagipula, aku masih ingin mampir ke gereja dulu."

"Gereja? Tempatmu kemarin bertemu Cloud?"

"Yep." Aerith mengangguk. "Itu tempat kenangan lho."

"Oooh," seloroh TIfa panjang. Hanya itu responnya, berusaha untuk tidak kelihatan cemburu.

Aerith melebarkan bola mata emerald-nya, membentuk respon tidak percaya seolah mengatakan, 'Masa hanya itu reaksi Tifa?' Meskipun maksud tempat kenangan itu tidak ditujukan untuk Cloud, tapi tadi ia memang sengaja mengubah nada bicaranya untuk memancing Tifa agar mengaku. Memang susah ternyata, desah Aerith. Semalam, sudah didesak pun, teman barunya itu tetap tidak bergeming dalam mengelak kalau ia punya hubungan istimewa dengan Cloud. Apa memang benar tidak punya? Apa aku salah mengira ya, pikir Aerith.

Tifa pun menggelar bed cover di atas tempat tidur sambil mengalihkan pandangannya sebentar dari Aerith. Aerith kenapa ya, batinnya. Kok ia penasaran banget apakah aku ini pacar Cloud atau bukan, apa ia suka Cloud juga?

"Tifa!" Terdengar suara anak kecil membuka pintu membuat Aerith menoleh.

"Marlene, kau sudah sarapan?" tanya Tifa mendekat dan menunduk.

Marlene menggeleng. "Tapi aku sudah mandi bersama Jessie."

"Oh, bagus," ujar Tifa. "Maaf, aku bangun agak siang. Akan segera kusiapkan sarapan untuk kita semua."

"Tifa kan lelah semalaman. Jessie tidak, jadi kami bangun lebih pagi," lanjut Marlene. "Aku bantu, Tifa."

"Kamu siap-siap saja untuk sekolah. Nanti, aku antar kau dengan motor jadi kita akan lebih cepat bersama kakak yang di sana." Tifa menoleh ke arah Aerith dan membuat Marlene memandangnya juga. "Bagaimana?"

Gadis kecil itu mengangguk senang dan Tifa pun keluar kamar. Aerith bisa mendengar derap langkahnya menuruni tangga dengan tergesa.

"Jadi kau yang bernama Marlene," seru Aerith juga menghampirinya. "Aku Aerith."

"Onee-chan anak buah Papa yang baru ya?"

Aerith melipat tangannya ke belakang sambil tertawa kecil. "Hmm, kalau dibolehkan papamu sih, aku belum bilang. Aku tak tahu di sini ada anak semanis kamu."

"Onee-chan jauh lebih manis. Tifa cantik sih tapi auranya keibuan," kata Marlene memperhatikan Aerith dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Gadis berpakaian serba pink itu lalu mengacungkan telunjuknya di dekat mulut. "Mau tahu rahasianya?"

"Mau."

"Kepang rambutmu dan tambatkan pita di atasnya. Lalu, kenakan rok longgar sampai selutut dan pilih yang warna-warnanya cerah seperti pink, oranye, hijau muda, atau biru muda."

Marlene menunduk, "Tapi aku tidak punya."

"Kalau untuk pita akan aku belikan. Atau bagaimana kalau sore nanti kita ke Wall Market bersama Tifa dan Jessie? Aku masih akan kemari lagi."

"Kalau sore Tifa dan Jessie sibuk, lagipula Papa sedang kesulitan keuangan karena bayaran Cloud tinggi. Jadi, kapan-kapan saja."

"Apa Cloud sehebat itu?"

"Aku belum pernah lihat sih. Bukannya Onee-chan kemarin ditolong olehnya?"

"Benar juga, tehee~," ujar Aerith. "Ngomong-ngomong apakah Cloud itu pacar Tifa?"

"Hihihi, Onee-chan naksir ya?"

"Cuma penasaran," jawab Aerith tidak menyangkal, tidak pula mengiyakan.

"Kalau dibilang pacar sih bukan, "lanjut Marlene kemudian mendongak dengan tangan di samping mulutnya bermaksud membisiki. Aerith pun membungkukkan badannya. "Tapi sepertinya mereka sudah merencanakan masa depan bersama lho."

"Waaaw, masa depan bersama?" seru Aerith menegakkan tubuhnya kembali.

"Kalau jadi, aku mau pindah ke keluarga Cloud dan Tifa hehehe," kata Marlene tertawa tapi ia segera menghentikannya karena melihat raut wajah Aerith yang mendadak tampak sedih. "Eh, kenapa Onee-chan?"

"Kenapa?" tanya Aerith balik. "Nggak kenapa-kenapa kok. Aku ikut senang."

"Tapi muka Onee-chan tadi..."

"Aku punya pacar dan kami juga sudah merencanakan masa depan, tenang saja," jawab Aerith dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Baru tiga bulan, Aerith, batinnya meneruskan. Baru tiga bulan tak ada kabar, ia tak mungkin meninggalkanmu dan mengingkari janjinya...

"Oooh..." Gadis kecil itu tak terlalu peka untuk dapat membaca ekspresi perasaan Aerith yang terlalu kompleks untuk saat ini sehingga semakin bertanya. "Kalau boleh, kenalkan aku dengan pacar Onee-chan. Aku ingin tahu apakah ia lebih ganteng daripada Cloud."

Aerith berusaha untuk tidak membuat ekspresi wajahnya, terutama alisnya semakin terlihat menekuk. "Dia tampan sekali, bola matanya sangat indah."

"Kalau sifatnya?"

"Dia menyenangkan, humoris, dan gombal."

"Beda sekali dengan Cloud."

"Begitulah, Marlene. Tapi Cloud pasti juga memiliki kelebihannya sendiri, aku bisa melihatnya. Dan kurasa, mereka tak usah dibandingkan."

Marlene masih terus mengobrol dengan Aerith sampai kemudian terdengar panggilan Tifa yang ditujukan padanya, tanda sarapan untuknya telah siap. Ia pun bergegas ke tempat Tifa sementara Aerith yang menutup pintu kamar berjumpa dengan Cloud dari kamar sebelah.

"Pagi, Cloud," sapanya.

"Pagi," jawab Cloud ogah-ogahan. Mukanya sangat kusut. Semua yang melihatnya pasti paham bahwa hal itu disebabkan karena terpaksa tidur dengan Barret yang suara ngoroknya begitu kencang. Tidak ada satupun yang tahan memang.

Namun, Aerith tahu hal yang sebenarnya. "Kau kesal padaku?"

"Kesal kenapa?" tuding Cloud.

"Hihihi," seru Aerith geli dengan ekspresi pemuda jabrik tersebut, "karena kau tidak tidur dengan Tifa bukan?"

"Oh," respon Cloud pendek sambil menggaruk belakang kepalanya. Ia lantas mengingat kejadian semalam saat masuk ke dalam 7th Heaven bersama Aerith.


-Flashback-

"CLOUD BAWA CEWEK!" teriak Barret histeris saat melihat Cloud pulang tidak sendirian. Dan teriakan itu tentu saja menyita perhatian Tifa yang memang sudah sedari tadi menungguinya.

"Tifa tidak bilang pada kalian kalau aku tak sengaja melibatkan seseorang?" tanya Cloud.

"Ia bilang kau akan mengantarkannya pulang," sambung Biggs.

"Seharusnya sih begitu," jawab Cloud. "Tapi terpaksa kulakukan."

"Wow, kau pasti cewek hebat bisa memaksa seorang Cloud Strife yang arogan," kata Jessie pada Aerith."Kupikir hanya Tifa saja yang bisa melakukannya. Aku iri padamu."

"Wah, masa sih Cloud arogan?" kata Aerith lalu merangkul lengan Cloud. "Dia membawaku kemari agar vampir tidak mengincar rumahku," belanya.

"Hei Hei," protes Cloud.

Barret mengangguk-angguk sambil mengusap-usap kepala kuning Cloud untuk menahannya protes lebih banyak. "Memang seharusnya begitu, Nona. Bahaya kalau vampir itu tahu rumahmu. Cloud itu memang anak buah terbaikku hahahaha..."

"Jadi, Anda bos Cloud ya? Saya Aerith, Aerith Gainsborough," kata Aerith mengulurkan tangan dengan sebelah tangan masih mengempit Cloud.

"Salam kenal, Nona Aerith. Saya Barret Wallace. Kau pasti masih tegang, jadi kau boleh beristirahat di sini," lanjut Barret menyalaminya.

Sementara Aerith dengan riangnya mencoba akrab dengan semua yang hadir di situ, Tifa hanya diam saja melihat pemandangan di depannya. Akhirnya Aerith yang menyadari pandangan Tifa kemudian melepaskan Cloud dan meghampiri sang Barmaid. "Kau pasti Tifa, yang menelepon Cloud tadi. Tenang, kami tidak ada hubungan apa-apa kok. Cloud sudah menyelamatkanku, itu saja."

"Kamu bicara apa? Dia juga bukan siapa-siapaku kok. Kami hanya teman sejak kecil."

"Cloud yang malang, kita berdua bilang begitu."

"Kalau gitu, Cloud sama aku saja." Kali ini giliran Jessie yang merangkul lengan Cloud.

"Kalian ini cewek apa-apaan sih?" sewot Cloud risih ditempel Jessie.

"Curang, masa semua cewek suka sama Cloud sih?" sahut Wedge.

"Makanya jangan makan melulu," sambung Jessie.

"Emang kalau aku kurus, kamu mau naksir aku?" lanjut Wedge.

"Enggak juga sih hehehe," jawab Jessie yang langsung disambut gelak tawa oleh semuanya.

"Apa AVALANCHE selalu ramai seperti ini?" tanya Aerith pada Tifa.

"Yahhh, begitulah," jawab Tifa.

"Tidak seperti yang aku bayangkan."

"Masa? Bukannya kau bisa langsung berbaur tadi?"

"Hanya spontan sih. Apa aku kelihatan cocok di sini?"

"Kurasa ya."

"Bagus. Berarti aku tidak salah."

"Hah?"

"Tidak... Tidak ada apa-apa."

Tifa bisa melihat anggota AVALANCHE lainnya menawari minuman untuk Cloud sebagai lanjutan atas sambutan kepulangannya dan sorakan gembira bahwa ia telah berhasil membunuh seorang Turks. Dan karena sepertinya malam masih akan panjang bagi Cloud, Tifa pun kembali berbicara pada Aerith.

"Aerith, kau tidur denganku," kata Tifa dengan isyarat tangan agar Aerith mengikutinya ke lantai atas.

Tapi sesampainya di depan pintu kamar yang dimaksud, bukannya Tifa yang mendekat duluan untuk membuka pintu, Cloud sudah melangkah lebih dulu dan berhenti di samping pintu seolah ingin menghalangi. Menyusulnya cepat sekali.

"Tifa..." ujar Cloud pelan dengan ekspresi memohon agar didengarkan terlebih dahulu. Ia tidak mau Tifa salah paham. Sebelumnya, ia sudah menduga hal seperti ini akan menjadi runyam karena diperparah Barret dan yang lainnya. Ia sudah memperhatikan bahwa sejak pulang tadi, hanya Tifa yang belum berbicara dengannya.

Aerith melihat seperti ada ruang dan waktu kosong di antara jarak Cloud dan Tifa berdiri. Ia bolak-balik memandang mereka bergantian karena merasakan suatu atmosfer aneh semacam pertengkaran pasangan di hadapannya, tapi ia menikmati saja suasana diam itu.

Kesal karena Cloud tak segera melanjutkan pembicaraan padahal ia sudah mengartikan sinyalnya secara benar dengan menunggu, Tifa pun lekas menggandeng tangan Aerith yang masih terbengong-bengong masuk ke kamar. "Selamat malam, Cloud."

Tifa menutup pintu lumayan kencang, meninggalkan Cloud dengan wajah pasrah. Kenapa tak ada kata yang keluar, batinnya bertanya.

-End Flashback-


Begitulah, Tifa tampak enggan berbicara padanya malam tadi. Menyapanya saat pulang pun tidak.

"Iya kan?" tanya Aerith lagi.

Cloud hanya membuang muka.

"Maaf deh," ujar Aerith menaruh simpati. "Kalau bukan karena aku meminta kemari..."

"Tidak perlu minta maaf," potong Cloud tetap kalem. "Itu masalahku sendiri."

Aerith mencoba memahami situasi. Dan akhirnya ia hanya menggeleng-geleng sambil mengangkat bahu. "Sekarang aku mengerti kenapa kau bilang padaku kalau hubungan kalian itu rumit."

"Aku sendiri bingung."

"Oke, sudahlah. Cuci muka dulu sana," lanjut Aerith menepuk bahu Cloud. "Oya, aku akan pamit pulang padamu. Sekali lagi, terima kasih ya semalam."

"Perlu kuantar?"

Aerith mendengus sambil berkacak pinggang. "Dasar cowok nggak peka. Kalau nanti aku diboncengkan kamu lagi, mood Tifa bisa jelek lagi lho."

Cloud menelan ludah, sadar bahwa dirinya memang bukan lelaki yang bijaksana untuk urusan seperti ini. "Tapi, bagaimana dengan malam ini?"

"Malam ini?" tanya Aerith dengan nada ge-er.

"Maksudku, para Turks itu masih mengincarmu kan? Apa kau akan pergi ke gereja itu lagi malam-malam?"

"Kau benar mau jadi bodyguard-ku, Cloud? Kau bilang banyak pekerjaan di malam hari kan?"

"Aku tak bisa membiarkanmu menantang bahaya begitu, itu termasuk pekerjaanku. Lagipula, yang kemarin itu belum apa-apa karena kau tolong. Kalau bisa bertemu Turks lagi, tanganku sangat gatal untuk melanjutkan yang kemarin."

Aerith berpikir sebentar sebelum kemudian berbicara lagi. "Aku bermaksud bergabung dengan kalian. Jadi, setiap sore sebelum gelap aku akan kemari lalu paginya aku akan pulang dan kau tak perlu repot-repot menjagaku. Ini bukan sekedar meminta perlindungan, aku merasa bisa berguna di sini dengan pengetahuan yang aku punya. Sebenarnya aku ingin menanyakannya pada Barret tapi kupikir aku harus segera pulang pagi ini dan menemui ibuku terlebih dahulu agar ia tak cemas, nanti aku akan kembali lagi. Aku sudah mengutarakan niatku pada Tifa saat kami mengobrol semalam dan kau pastinya juga telah menjelaskan duduk perkaranya pada Barret bukan?"

"Jadi, ucapanmu waktu itu memang serius ya?"

"Tentu saja," jawab Aerith tegas. "Ada sebuah tujuan yang kuyakin bisa kucapai di sini. Aku sudah memikirkannya masak-masak."

Tujuan? Cloud sadar ia memiliki tujuan menumpas Sephiroth. Ia sangat mengerti Tifa yang amat membenci makhluk bernama vampir. Ia juga ingat tujuan Barret yang ingin melindungi manusia dari ancaman sebagaimana Biggs, Wedge, dan Jessie mengikutinya. Dan kalau Aerith sudah berkata seperti itu, apapun tujuannya, Cloud tahu ia tak akan bisa menghalangi keputusan gadis itu meskipun entah mengapa ada bagian dari dirinya yang tidak ingin melibatkannya, sama seperti bagaimana ia memperlakukan Tifa.

Cloud pun akhirnya hendak beralih ke kamar mandi. "Kalau begitu, sampai nanti."

Aerith lantas menunggu Marlene dan Tifa di depan 7th Heaven untuk melihat-lihat area di sekelilingnya secara sepintas. Ia juga melihat motor Cloud terparkir dan dengan cahaya pagi yang terang, Aerith bisa mengamati kegagahan motor tersebut. Ia baru sadar ada logo seperti wajah depan seekor serigala yang mengigit semacam cincin terplakat di tangki bensinnya. Secara keseluruhan motor tersebut berwarna hitam, dan dari kilatannya, Aerith bisa tahu betapa Cloud sangat merawat dan menyayangi motor tersebut. Hmm, gara-gara aku kemarin, motor ini jatuh, batinnya saat menemukan sebuah goresan putih melintang di bodi bawah jok sebelah kanan.

Sementara itu, dari rumah sebelah, tampak Tifa memanggil Biggs untuk meminjam motornya. Aerith bisa melihat Biggs melempar kunci motornya pada Tifa yang menangkapnya. Motor Biggs lebih kecil dari motor Cloud, atau setidaknya hanya motor biasa di mata Aerith. Tak ada yang istimewa di motor itu. Yang istimewa baginya adalah saat ia melihat Tifa melangkahkan kaki di bawah rok mininya untuk duduk dalam posisi mengendarai. Ia juga mengenakan sebuah google hitam. Mendengar cerita Tifa semalam tentang kehidupannya di Nibelheim, salah satunya yang ia merupakan murid terbaik guru beladirinya, membuat Aerith setuju bahwa image Tifa di depannya sangat cocok dengan cerita itu. Tifa dan Marlene yang sudah membonceng dari depan rumah Biggs lalu menghampiri Aerith yang masih berdiri di dekat motor Cloud.

Usai menurunkan Marlene di depan sekolahnya, Tifa pun melanjutkan perjalanan dengan dipandu Aerith. Dan sesuai permintaan Aerith sebelumnya, Tifa menghentikan motornya di depan sebuah gereja.

"Masuk saja, Tifa," undang Aerith.

Tifa lalu berjalan di belakang Aerith yang tengah mendorong pintu besar yang tampaknya berat. Sementara Aerith langsung berjongkok di tepi sebuah kolam yang lebih tampak seperti mata air tersembul begitu saja dari balik lantai tanahnya, Tifa mengamati kondisi di dalam gereja yang kosong itu. Lantai kayunya tampak lapuk dimana ia petak-petak tanah di bawahnya terlihat. Dindingnya juga tampak kusam dengan cat dinding yang mengelupas di beberapa tempat. Sejumlah kursinya bergelimpangan. Atapnya juga sepertinya bocor jika musim hujan sebagaimana Tifa bisa melihat berkas-berkas cahaya menelusup masuk dari atasnya, seperti cahaya surga. Lalu, berdiri di depan sebuah lukisan kaca warna-warni, Tifa masih bisa takjub dengan kekokohan bangunan tua itu, seperti sudah ada jauh sebelum Midgar sebesar dan semetropolis sekarang. Tak heran, pikir Tifa. Di zaman modern ini, sudah banyak manusia yang tak percaya Sang Pencipta. Ia sendiri bahkan nyaris melupakan eksistensi-Nya.

"Jadi ini mata air yang bisa membunuh vampir itu?" tanyanya berdiri di samping Aerith yang mengambil airnya ke dalam botol.

"Air suci," jawab Aerith. "Aku hanya tahu bahwa air ini diyakini bisa membersihkan semua hati yang kotor dan gelap makanya ibu kandungku menyebutnya bisa untuk mengusir vampir, bukan sebagai senjata mematikan seperti itu. Aku tidak pernah bermaksud demikian, aku bahkan baru tahu efeknya bisa separah itu. Cloud-lah yang membunuh dengan pedangnya, Tifa."

Tifa mengganguk paham bahwa inilah kenapa nada Cloud terdengar tidak puas di telepon.

"Kolam ini belum pernah kering semenjak aku kemari," lanjut Aerith. "Waktu kecil aku bahkan pernah mengambilnya untuk menanam bunga di pekarangan rumahku. Sambil berdoa agar diberkati, bunga-bungaku tumbuh subur. Ibuku sampai kaget dan sekarang kami memiliki toko bunga."

"Kurasa hanya dengan sebotol tidak cukup untuk menyirami pekaranganmu."

Aerith menggeleng. "Hanya saat menanam pertama kali, aku menyiramnya dengan air dari sumur di rumah. Sebotol ini hanya persediaan yang selalu kubawa kemana-mana agar hatiku digelayuti perasaan aman kalau-kalau mereka mengincarku. Ibuku dulu juga begitu. Aku sudah terbiasa."

"Dan kau kemari setiap pagi?"

"Sebelum memulai segala sesuatu, maksudku sebelum membuka toko, aku merasa tenang dengan mendekatkan diri pada penguasa Planet terlebih dahulu. Doa itu seperti mukjizat, dan syukurlah sampai detik ini, penghasilan kami dari toko bunga selalu lancar dan diberkahi."

Aerith lalu mengatupkan tangannya saling menggenggam di depan dagunya dan memejamkan mata. Tifa hanya terdiam melihat Aerith. Serasa semakin mengontraskan perbedaan mereka, Tifa merasa Aerith adalah gadis yang memiliki hati sebening mata air di depannya sementara ia mengakui dalam dirinya ada sebuah kebencian yang teramat besar pada apa yang diperanginya kini. Apa aku juga pantas berdoa, batinnya bertanya.

"Kau berdoa juga, Tifa," seru Aerith berdiri.

"Tapi... AUWW!" seru Tifa merasa belakang lututnya dijejak Aerith dengan lututnya sambil menekan bahunya sehingga ia jatuh berlutut. Aerith ternyata memaksanya dan ia merasa tidak bisa membantahnya. Pantas saja Cloud juga sepertinya mudah bertekuk lutut dengan kemauan Aerith, batinnya ingat telah mendiamkan cowok itu semalam. Benar, aku tak perlu cemburu berlebihan.

"Kau pasti punya keinginan kan? Bagaimana kalau kau memohon pada Gaia agar bisa bersama selamanya dengan Cloud?" goda Aerith.

"Apa-apaan sih?" ucap Tifa tidak bisa menyembunyikan wajah merahnya. Baru saja ia memikirkan Cloud dan ternyata Aerith bisa membacanya. "Kenapa harus dia?"

Aerith tertawa ke arah Tifa sebelum akhirnya memandang lurus ke arah salib segienam di altar. "Kubilang doa itu seperti mukjizat. Di saat keputusasaan mulai melanda datang, di saat kita nyaris terpuruk jatuh; doa seperti membangkitkan semangat kita untuk terus bertahan dan berjuang dimana kesabaran kita pasti akan menuai hasilnya; bahwa sesungguhnya harapan tak akan pernah pergi dari mereka yang percaya."

Aku akan tetap menunggunya, batinnya menguatkan diri. Bahkan kalau perlu, aku akan mencarinya. Meski semalam ia belum juga datang, aku percaya aku akan dapat bertemu lagi dengannya.

"Aerith?" panggil Tifa memandang Aerith yang tampak menerawang. Ia bisa merasakan ada sebuah harapan besar dalam diri teman barunya itu lebih dari sekedar lancarnya pendapatan Toko Bunganya, meski ia tak tahu apa.

"Nah, kau juga," seru Aerith kembali memandang Tifa. "Berdoalah apa saja jika memang tidak mau mendoakan Cloud hehehe..."

"Aku tidak..."

Tifa berusaha menyangkal lagi tapi akhirnya ia menyerah. Sejujurnya, semua temannya di AVALANCHE memang sudah pada tahu perasaan yang terus ia coba tutupi itu karena itulah mereka gemar menggodainya. Nyatanya, ia tak terlalu pintar menyembunyikannya. Tapi kalau dibandingkan dengan Jessie, Tifa merasa lebih nyaman berbagi rahasia dengan Aerith bahwa kali ini ia seperti menemukan kesamaan dengannya. Dan kalau Aerith tak keberatan, ia ingin bisa membuatnya terus terang juga soal 'orang-seperti-Aerith-pasti-juga-telah-punya-seseorang-yang-istimewa-baginya' karena ia masih ingat betul Aerith sempat menyebut gereja ini adalah tempat kenangan, membuatnya meralat dengan yakin bahwa kenangan yang dimaksud jelas bukanlah dengan Cloud. Yeah, obrolan perempuan tak pernah jauh dari hal tersebut bukan?

Harapan, batin Tifa kemudian. Dari awal sejak berjumpa Cloud kembali sebulan lalu itu, harapannya tak pernah berubah. Setiap malam bahkan, saat Cloud harus keluar membasmi vampir dimana dirinya kadang tak dilibatkan dan ditinggal untuk mengurus bar dan menjaga Marlene, doanya tetap sama. Hanya saja kali ini, ia merasakan atmosfer berbeda dengan berdoa di tempat ini. Bukan ketegangan dan kecemasan seperti biasanya tapi ketenangan dan kedamaian. Ia bahkan melupakan keraguannya apakah pantas orang seperti dirinya berdoa untuk kebahagiaannya sendiri bersama Cloud. Tak ada yang salah dengan hal itu selama tidak merugikan orang lain bukan?

"Sudah?" tanya Aerith melihat wajah cerah Tifa menatapnya. Mereka pun melanjutkan perjalanan.

Tidak susah menemukan rumah Aerith apalagi dekat dengan gereja itu. Hanya tiga menit dengan motor, Tifa sudah bisa melihat kebun bunga yang diceritakan itu. Seorang wanita paruh baya, yang Tifa perkirakan adalah ibu angkat Aerith, tengah menyirami kebun. Nyonya Elmyra Gainsborough agak terkejut dengan kedatangan mereka dan menyambut Aerith. Tifa pun berusaha seramah mungkin sementara Aerith ingin memberi kesan pada ibunya bahwa AVALANCHE tidak semenakutkan apa yang orang dengar karena profesinya adalah pembasmi, sebagaimana ia mengenalkan Tifa sebagai teman barunya. Elmyra pun menyampaikan ucapan terima kasih pada AVALANCHE melalui Tifa.

Begitu Aerith dan ibunya masuk ke rumah, Tifa lantas membalik arah motornya. Sambil berdehem, ia yakin bahwa di dalam rumah sana, Aerith pasti sedang memberi pengertian pada ibunya tentang keinginan dan keputusannya untuk bergabung.


Sore itu, Aerith datang ke 7th Heaven sesuai ucapannya. Marlene yang gembira pun segera menghampiri Aerith dan merangkul pinggangnya. Sementara itu, Barret dan anggota AVALANCHE lainnya tampak menyambutnya dengan ekspresi serius, termasuk Cloud dan Tifa. Mereka berkumpul di ruang bawah tanah. Sebenarnya Barret sudah mengerti posisi Aerith dari penjelasan Cloud malam sebelumnya. Hanya saja, ia baru tahu niat gadis itu untuk bergabung dari Tifa yang baru saja pulang mengantar Aerith, yang kemudian diperkuat kembali oleh Cloud. Jujur saja, Barret agak ragu menerima Aerith karena Turks tampak khusus mengincarnya di luar AVALANCHE, dan hal itu seperti mengundang musuh untuk semakin meningkatkan perhatian pada mereka karena sekali dayung dua pulau terlampaui. Apalagi, pengetahuannya tentang vampir tersebut justru dirasa mencurigakan meski di sisi lain sangat menguntungkan organisasi. Tapi bagaimanapun juga, sesuai visi dan misi AVALANCHE yang didirikannya, pada akhirnya ia tak dapat menampik begitu saja komitmennya untuk melindungi siapa pun manusia yang diincar vampir. Aerith sendiri menghela napas, sudah siap jika akan dicecar banyak pertanyaan sebagai konsekuensi calon anggota baru. Namun ia berusaha untuk tetap bersikap santai dengan menebar senyuman manis ke semuanya.

Soal perak dan air suci sudah pernah diterangkan Cloud pada semuanya sehingga Aerith menambahkan hal lain saat ditanya soal kelemahan vampir.

"Mmm, mungkin hal ini bukanlah kelemahan," kata Aerith agak berpikir. "Pada umumnya, dalam sebulan vampir cukup menghisap darah dari dua sampai tiga manusia. Kekuatan vampir tergantung kapan ia baru saja minum, sama seperti seberapa jauh kebugaran manusia yang kelaparan seminggu dibandingkan dengan yang kenyang sejam lalu. Kalau manusia terlalu banyak makan maka ia akan kekenyangan dan sakit perut sementara vampir semakin banyak minum, ia justru akan semakin kuat. Namun, bukan berarti vampir tak memiliki batas. Batas daya tahan vampir berbeda-beda, jika mereka terlalu banyak minum hingga melampaui batasnya, sebenarnya bisa membuat mereka overdosis atau kesetanan, tak kenal lawan ataupun kawan. Pernah ada vampir yang terpaksa dieksekusi karena hal itu."

"Kesetanan? Dieksekusi?" tanya Tifa.

"Ya, vampir yang dieksekusi salah satunya bernama Angeal dan satunya lagi aku tidak ingat," jawab Aerith. "Wujud mereka berubah mendekati sosok iblis. Monster. Ada sayapnya."

"Sephiroth!" teriak Cloud tiba-tiba. "Pasti ini alasan mengapa ia membantai seisi desa. Vampir gila itu ingin mendekati batasnya demi sebuah kekuatan."

Tifa pun mengangguk padanya, merasa penjelasan tersebut masuk akal.

"Menembus batas daya tahan hingga menjadi monster? Bukannya kelemahan, kau justru mengutarakan bahwa mereka lebih mengerikan dari yang kita duga," ujar Barret membuat Jessie, Biggs, dan Wedge bergidik. Namun kemudian, ia terkekeh. "Intinya, kita memang tak boleh membiarkan mereka menyantap manusia bukan? Heeh, kalau begini aku jadi semakin semangat membantai mereka."

"Ya," timbrung Biggs ikut semangat. "Kita memang belum punya peluru perak tapi kita bisa minta air suci dari Aerith bukan? Untuk apa kita takut?"

"Tapi menyiramkan air pada vampir yang memiliki reflek luar biasa belum tentu kena lho," sahut Jessie.

"Huh, kau ini memang pintar membuatku lesu," ucap Wedge gemetar lagi.

Trio Jessie, Biggs, dan Wedge kembali cekikikan sebelum ditegur Barret karena mereka membicarakan hal yang serius. Namun Tifa berkata bahwa mereka perlu bercanda untuk mencairkan ketegangan seperti ini.

"Kurasa tidak sembarang vampir bisa bertransformasi ke wujud monster," lanjut Tifa. "Apa dua vampir yang dieksekusi tadi merupakan vampir elit seperti Sephiroth?"

"Vampir elit?" tanya Aerith balik. "Aku baru dengar istilah yang kalian gunakan itu. Yang kutahu mereka adalah vampir darah murni. Vampir darah murni ini konon memiliki kerterkaitan langsung dengan sosok iblis yang merupakan 'ibu' mereka. Kebanyakan vampir yang sekarang berasal dari garis keturunan vampir yang dulunya manusia."

Kontan semua terperanjat. "Manusia bisa diubah menjadi vampir?"

"Sayangnya aku tidak terlalu tahu detilnya untuk yang satu ini. Tapi yang jelas, hanya darah murni yang bisa melakukannya."

Semua pun lantas mengerutkan dahi atas fakta bagaimana vampir mencerabut hak-hak manusia. Tidak hanya hak hidup tapi juga sampai hak menjadi manusia itu sendiri. Tidak terlalu lama berpikir, Barret lantas bertanya lagi pada Aerith. Satu hal yang langsung masuk ke intinya.

"Dari mana kau bisa tahu semua hal itu?" tanya Barret curiga. "Apa itu informasi yang bisa dipercaya?"

DEG! Aerith pun tidak langsung menjawab. Ia sadar ia berbicara terlalu jauh sehingga pastinya memancing pertanyaan sampai ke sana. Sebagai orang yang sering mendekatkan diri pada Sang Penguasa Planet, ia tak ingin berbohong. Hanya saja menurutnya, ia masih harus menunggu saat yang tepat untuk mengungkapkan semuanya yang ia tahu. Termasuk tujuan aslinya.

"Dari ibu kandungnya," kata Cloud akhirnya menjawabkan untuk Aerith, membuat semua menoleh padanya. Sejujurnya kemarin itu ia tak mau membongkar bahwa Aerith-lah yang sebenarnya berperan dalam menghabisi satu Turks. Tapi ia kesampingkan egonya bahwa Barret yang menurutnya sok pintar pun harus tahu bahwa ia belum ada apa-apanya dibandingkan dengan pengetahuan luas Aerith. Ya, pengetahuannya itulah yang sangat dibutuhkan AVALANCHE. Bukan, tapi dirinyalah yang juga merasa tak tahu apa-apa mengenai Sephiroth, vampir darah murni yang harus ia hadapi. "Aku sudah bilang bukan?"

Barret menatap Aerith kembali. "Lalu, dari mana ibumu tahu?"

"Katanya kami ini kaum Cetra tapi aku bahkan tak tahu apa itu," jawab Aerith memasang muka sedih. "Ibuku sudah meninggal lebih dari sepuluh tahun yang lalu dibunuh vampir tanpa sempat menjelaskan banyak. Mungkin karena aku masih terlalu kecil waktu itu."

Barret tidak segera meneruskan karena pembicaraan mulai sensitif. Ia sendiri tahu bagaimana rasanya kehilangan karena hal yang sama. Dan hal itu sudah cukup menjadi bukti motivasi kuat dari siapa pun untuk bergabung dengan organisasi yang dipimpinnya. Dibunuh vampir karena mengetahui semua rahasia itu sangat masuk akal, pikirnya. Namun tetap saja hal itu merupakan sebuah misteri besar. Ya, kaum Cetra. Apa pula itu? Apa mereka memang kaum yang telah lebih dahulu berperang melawan vampir jauh sebelum AVALANCHE ada? Terlalu banyak pertanyaan yang belum bisa dijawab.

"Yo, apa kau tak ingin mencari tahu kebenarannya?" lanjutnya.

Aerith menggeleng. "Tidak pernah terpikirkan sebelumnya."

"Well, aku tak menjanjikan AVALANCHE dapat memfasilitasi hal tersebut." Barret lalu menunjuk Cloud. "Misalnya seperti si jabrik sok keren itu, ia berpikir bisa menemukan si Sephiroth sialannya dengan bergabung karena memang pekerjaan ini bersinggungan dengan vampir. Dan karena hal itu adalah tujuan utamanya, maka ia minta bayaran tinggi agar mau aku pekerjakan untuk menumpas vampir biasa lainnya. Tapi kupercaya kau bukan orang belagu sepertinya."

Cloud hanya menggeram kecil. Memprotes pun nyatanya memang ucapan Barret benar adanya. Sementara itu, Aerith tertawa kecil.

"Baiklah, Nona Aerith," kata Barret lagi. "Kau kuterima resmi menjadi anggota AVALANCHE."

Semua, kecuali Cloud yang tetap kalem, lantas bersorak atas anggota baru mereka. Tifa pun meraih tangan Aerith untuk menepukkan telapaknya. Mereka berdua tersenyum senang berhadapan.

"Oya, Tuan Wallace. Panggil Aerith saja."

"Yo, panggil juga aku Barret."

Barret tidak tahu bahwa tujuan Aerith semenjak meminta Cloud membawanya ke AVALANCHE bukanlah hal-hal seperti kesedihan karena kehilangan ibu. Apalagi dendam, sangat jauh dari itu. Mencari jawaban atas teka-teki Cetra saja baru terpikirkan barusan. Aerith sadar bahwa tujuannya sangat sulit dicapai, tapi siapa tahu jalan itu bisa terbuka lewat AVALANCHE. Ia tidak ingin berpangku tangan untuk hal tersebut selain terus memanjatkan doa dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Dan sementara Cloud tak memikirkannya, Tifa merasa Aerith memang menyembunyikan sesuatu namun ia tak ingin curiga terlalu jauh pada sahabatnya itu.


Saat malam semakin larut, di sebuah tempat di sektor 6 Midgar, seorang pria gendut bernama Don Corneo tengah menyambut kedatangan sang Komandan Turks yang telah menelepon sehari sebelumnya.

"Baru sebulan lalu aku menyetor 'makanan' untuk Presdir kalian dan sekarang kau sudah hendak meminta lagi?" ucap Don Corneo. "Bukankah sebulan tidak boleh lebih dari tiga?"

Tseng tersenyum sinis. "Bagimu asal ada uang maka kau bersedia bukan? Aku punya pekerjaan lain untukmu."

"Hmm, asal kalian menutupinya seperti biasa."

"Untuk kali ini aku justru ingin mereka mengendusnya."

"Aku bisa repot kalau tempat usahaku digebrek polisi."

"Bukan polisi yang akan menggebrek, kau tahu mereka selalu kami singkirkan demi kepuasan Presdir kami mendapatkan santapan terbaiknya. 'Mereka' yang kami maksud adalah AVALANCHE."

"Kelompok itu?" seru Don Corneo kaget. "Apa aku mendapat jaminan keselamatan jika berani berhadapan dengan mereka?"

Tseng menyodorkan koper ke hadapan Don Corneo. Ia membukanya dan tampaklah berlembar-lembar uang kertas memenuhi dalamnya, membuat pria gendut itu melotot tahu bahwa jumlahnya jauh lebih banyak dari pekerjaan biasanya. Kedua tangannya pun spontan terangkat seolah ingin memeluk bermilyar-milyar Gil tersebut namun dengan sangat cekatan, Tseng menutup dan menariknya kembali.

"Jadi," lanjutnya, "ada dua tugas yang harus kau dan orang-orangmu kerjakan kalau mau uang ini. Aku bisa memberimu uang mukanya, 35% dari jumlah yang ada. Bagaimana?"

Jumlah yang sangat menggiurkan itu tak perlu sampai membuat Don Corneo berpikir dua kali untuk sepakat.

Bersambung...


Next Chapter Teaser/Preview:

"JESSIE! BIGGS! WEDGE! TIDAAAKKK!"

"Kenapa vampir dan manusia bermusuhan? Bukankah kita sama-sama makhluk Gaia?" seru Aerith.

"Aerith pasti pelakunya, karena itu Turks bisa tahu markas kita. Lihat, dia bahkan kenal dengan komandannya!" tuduh Barret.

"Sekitar dua sampai tiga bulan lalu, anak itu pulang pagi dengan sebuah luka seperti bekas gigitan di lehernya," ulas Elmyra.

"Jadi, tujuan Aerith sebenarnya adalah..." batin Tifa.


A/N: Pengen sekali2 ngeliat Tifa jauh lebih badass, naek motor cowok misalnya XD. Toh, chapter sebelumnya udah Aerith yg membonceng motor Cloud padahal kan klo sesuai imej di Advent Children, harusnya itu posisi Tifa.

Maaf klo chapter ini sedikit melenceng dari teaser di chapter sebelumnya. Episode Don Corneonya di chapter selanjutnya aza ya? Jadi, teaser yg kemarin masih berlaku buat bocoran chapter 5, ditambah yg di atas tadi. Itu pun kalau jumlah katanya memenuhi untuk digabung menjadi satu chapter, chapter 4 ini aza di luar perkiraan ampe 5000 =_='. Kalau nggak sesuai, ya lompat lagi hehehe.