A/N: Kupikir mulai chapter ini, rating-nya harus naik. Bakal ada banyak umpatan kotor di sini. Kemudian ada deskripsi soal tempat maksiat dan bebarapa kata yang mungkin juga sedikit vulgar buat pembaca usia 13 th.
Cerita sebelumnya: Aerith sempat teringat kembali saat terakhir bersama ibu kandungnya. Kemudian dengan cepat, ia akrab dengan para anggota AVALANCHE, termasuk Marlene. Tifa pun mengantarkannya pulang ke rumahnya tapi ia kembali sore harinya untuk menyatakan bergabung dengan AVALANCHE dan mengungkapkan beberapa hal yang ia tahu mengenai vampir. Selalu terngiang akan kekasihnya yang 'menghilang', tak ada yang tahu bahwa ia menyimpan tujuan tersembunyi. Di tempat lain, rencana penjebakan AVALANCHE dimulai...
CHAPTER 5
"Beberapa hostess Honey Bee, Inn. akhir-akhir ini menghilang?"
Itulah pertanyaan Tifa pada Jessie yang baru saja mengabarkan liputan terbarunya. Sudah berlalu empat hari sejak Aerith bergabung dan mereka semakin banyak mendapatkan pengetahuan baru. Sore itu, mereka kembali berkumpul di ruang bawah tanah 7th Heaven untuk membicarakan misi rutin.
"Bukan akhir-akhir ini," lanjut Jessie. "Menurut laporan secara underground di beberapa postingan blog, setiap bulannya setidaknya ada tiga hostess menghilang."
"Hmm, Aerith pernah bilang kalau dalam sebulan, seorang vampir memangsa setidaknya tiga orang," sambung Cloud.
"Ya, dan sangat jarang ada laporan kehilangan dari anggota keluarga," timbrung Biggs. "Kalian tahu sendiri kan latar belakang para Hostess kebanyakan apa?"
"Dan tempat maksiat itu masih beroperasi? Apa itu bukan berarti pengelola utamanya merupakan biang keladi masalah ini dalam menutupinya?" tanya Tifa lagi. "Kalau misal beberapa pelanggannya yang vampir –kita semua tahu kalau mereka berbaur di antara manusia–, tentunya hal ini sudah ramai dibicarakan di media mainstream karena sang pemilik bereaksi keras."
"Don Corneo, itu nama pemiliknya," sebut Jessie. "Aku ingat soalnya orangnya gendut seperti Wedge."
"Kau ini senang sekali menggodaku ya?" timpal Wedge.
"Wedge lebih ganteng kok, tehee~," hibur Aerith melihat foto di komputer Jessie yang masih membuka sebuah halaman internet.
"Oke, guys!" seru Barret. "Berarti kalian sudah tahu apa misi kita berikutnya bukan?"
"Apanya bagaimana? Kita masih harus berencana dulu, Barret," tukas Tifa. "Kita tidak bisa langsung serbu begitu saja kali ini. Ini bukan tempat sepi seperti biasanya. Host Club itu sangat ramai."
"Kalau begitu, aku ada ide," kata Aerith tunjuk tangan. "Bagaimana kalau kami, para wanita mendaftar jadi Hostess baru? Dengan begitu, kita bisa lebih mudah menyelidiki. Kebetulan, aku baca di sini, mereka tengah membuka rekrutmen baru untuk tiga orang lagi."
"Hei, itu terlalu berbahaya," timpal Cloud. "Karena pemiliknya kemungkinan besar vampir pelakunya, maka bisa jadi pegawai lainnya juga vampir. Mereka pasti sama-sama menutupi."
"Sarang kecil-kecilan begitu ya?" respon Aerith tampak berpikir, begitu juga yang lainnya. Tak lama kemudian, ia menepuk tangan telah menemukan solusinya. "Kalau begitu, Cloud ikut menyamar saja menggantikan Jessie."
"Pardon?" Cloud merasa salah dengar.
"Iya, Cloud jadi hostess, tehee~" ujar Aerith riang. "Menurutku cocok kok kalau didandani. Semua setuju kan?"
Kontan semua menyerukan satu suara demi mengerjainya, kecuali Tifa yang tampak malu-malu. Bahkan Barret langsung menyebut angka 2700 Gil untuk pekerjaan Cloud kali ini, membuat Si Jabrik semakin tak berkutik.
Sektor 6 Midgar adalah pusat hiburan masyarakat kota. Mall-mall besar, panggung pertunjukan, pusat-pusat pameran, dan lain-lain menghiasi setiap sudutnya. Dan tak ketinggalan, sudut yang menyajikan hiburan 'panas' juga tersedia. Kawasan yang juga didatangi remaja putri yang ingin mendapatkan uang dalam semalam. Kawasan penuh motel murah. Kawasan yang juga dipenuhi pub dengan hentakan house music sampai pagi menjelang. Kawasan yang menjadi sarang porstitusi dan lokasi pengambilan gambar untuk Adult Video. Kawasan yang juga menjadi tempat pertemuan mafia dan adu balap jalanan. Dan, tentunya kawasan yang menggeliat di malam hari seperti itu sangat cocok untuk aktivitas vampir.
Di sebuah Host Club bernama Honey Bee, Inn inilah Cloud, Tifa, dan Aerith berada. Host Club tersebut diperuntukkan bagi pelanggan pria, artinya semua pelayannya adalah para Hostess cantik nan seksi. Cloud pun terpaksa didandani menjadi wanita. Jika Aerith dan Tifa mengenakan dress pendek sepaha, ia mengenakan long dress berwarna ungu untuk menyembunyikan bulu-bulu kaki lebatnya dan juga katana di pinggang. Kerahnya berjenis Shanghai untuk menutupi jakunnya, namun di bawah kerah ada belahan dada berbentuk segitiga untuk memperlihatlkan dadanya agar nampak lebih sensual dan memikat, tentu saja sudah disumpal karet silikon agar tampak menonjol selayaknya payudara wanita. Lengan bajunya juga panjang untuk menutupi kekekaran lengannya. Rambut pendeknya yang jabrik ditutup oleh wig ikal dan panjang yang berwarna senada dengan rambut aslinya. Kebetulan, daun telinga Cloud selama ini ditindik, jadi mudah untuk mengganti giwang serigalanya dengan anting-anting yang lebih feminim. Dan, ia pun juga harus mengenakan sepatu hak tinggi.
"Aku tidak tahan lagi! Ini sudah hari ketiga! Kapan kita bertemu si sialan Corneo itu?"
Begitulah Cloud mengeluh di ruang rias dimana hanya ada dirinya, Tifa, dan Aerith di dalamnya. Tifa hanya bisa menghiburnya pelan agar tetap bersabar. Sementara itu, Aerith malah sibuk bercermin untuk membenarkan riasan yang pudar.
Keluhan Cloud sangat beralasan. Saat mendaftar kemarin, mereka kira akan diwawancarai oleh pemiliknya langsung, yang sayangnya hanya diwakilkan oleh kepala pegawainya yang bernama Kotch. Kotch menjelaskan mekanismenya bahwa jika ingin bertemu Don, mereka bertiga harus bisa bekerja untuk meraih top rank hostess karena selain sebagai pemilik, Don juga menikmati hasilnya sebagai pelanggan yang nantinya juga minta dilayani. Tentu saja sebagai kompensasi, para hostess yang terpilih itu akan mendapatkan bonus upah yang sangat besar darinya. Cloud sendiri sudah memantau tempat usaha itu, tapi tak ditemukannya juga ruang kerja Don Corneo.
Aerith lalu mengibaskan-kibaskan beberapa lembar uang di tangannya. "Aku mendapat tip 2300 Gil dari pelangganku barusan lho."
"Kau hebat," puji Tifa. "Aku hanya mendapat 1500 Gil tapi langsung kumintanya untuk menransfer ke rekeningku."
"Kalau Cloud dapat berapa?" tanya Aerith menoleh padanya.
Cloud lantas membuang muka namun Aerith tetap mengekor pandangannya. Kalau memang tidak dapat tip kan bisa langsung dijawab. Kalau malu-malu begitu pasti justru dapat. Karena didesak-desak terus, akhirnya Aerith berhasil membuatnya buka mulut.
"5000 Gil," jawab cowok itu tertunduk.
"APAAAAAA?!" Kontan saja hal itu membuat jatuh harga diri Aerith dan juga Tifa yang wanita tulen.
...
Tak lama kemudian, terdengarlah suara ketukan pintu dan panggilan yang mereka tengarai adalah Kotch. "Ladies," panggilnya, "Good job! Kalian bisa menemui Don malam ini."
"Wah, aku deg-degan nih," ujar Aerith.
"Tuh kan, Cloud," kata Tifa menepuk bahu Cloud. "Akhirnya kita dipanggil juga."
Cloud mendesah. Ia tak tahu harus lega atau tidak.
Mereka bertiga mengikuti Kotch. Ternyata mereka keluar Honey Bee, Inn lewat pintu belakang. Sambil terus bertanya-tanya hendak dibawa kemana, akhirnya sepuluh menit kemudian mereka pun berhenti di depan sebuah mansion.
"Don tinggal di sini," kata Kotch menekan bel pintu.
Pantas saja aku tidak menemukannya, pikir Cloud.
Seorang resepsionis membukakan pintu dan menyilakan mereka berempat masuk. Kotch nampaknya sudah hapal dengan rumah Don dan tetap memandu ke lantai tiga hingga sampai ke depan sebuah pintu. Tak lama, mereka pun dapat masuk ke ruang kerja Don yang mewah. Tampak pria yang bernama Don Corneo tengah menghitung uang sekoper penuh di atas mejanya. Pekerjaan maksiat seperti ini memang membuat orang cepat kaya bukan? Lihat saja tubuh tambun pemiliknya.
"Baiklah, nona-nona. Ayo berbaris di depan Don!" kata Kotch menyemangati sebelum ia disuruh keluar dan menutup pintu.
Don pun meninggalkan meja dan menghampiri Cloud, Tifa, dan Aerith yang berdiri menyamping sejajar di hadapannya. Ia lantas mengamati wajah dan tubuh mereka satu persatu dengan ekspresi mesum. Sementara Tifa dan Aerith menahan diri sebaik mungkin, Cloud tak bisa menyembunyikan rasa teramat risihnya. Menurutnya Don Corneo ini lebih menjijikkan dan memuakkan daripada pria-pria yang terpaksa dilayaninya selama ini. Namun sialnya, hal itu justru memikat Don.
"Wuohohohooo~!" girangnya mencolek pipi Cloud. "Aku paling suka cewek yang tampak kuat dan jual mahal sepertimu."
Sambil sweatdrop, Tifa dan Aerith pun akhirnya bisa tahu apa daya tarik Cloud yang sampai membuatnya mendapat tip paling mahal itu. Tapi syukurlah, tidak salah kan menerjunkan Cloud dalam misi kali ini? Buktinya, mereka cepat dipanggil hanya dalam tiga hari.
"Manis, siapa namamu?" tanya Don pada Cloud.
Sambil mengernyit, Cloud menjawab dengan nada dimaniskan seperti perempuan, "Cloud... Cloudia..."
"Nah, Cloudia," panggil Don menarik tangan Cloud ke arah sebuah pintu lain di dalam ruang kerja," ayo sama Papa ke kamar. Yang lain tunggu di sini ya?"
"Ka-Kamar?" tanya Cloud ragu.
Don pun memperlihatkan kamar tidurnya yang didekor begitu glamour tapi berselera rendah, menunjukkan betapa mesumnya dia. Cloud hanya memandang sambil ternganga. Rasanya puncak kesabarannya sudah nyaris pecah di ubun-ubunnya. Yang dilakukannya di Club selama ini hanya menemani pelanggan kencan, ketawa-ketiwi dengan mereka, dan menuangkan minuman ataupun menyuapkan makanan kecil. Tapi kali ini ia harus melayani nafsu bejat seorang pria (ralat: sesama pria) di kamar. Sekali lagi, kamar. KAMAR?
"Err, Cloud..." sahut Tifa pelan di belakangnya sadar kalau-kalau Cloud akan mengamuk.
Benar saja, Cloud pun melepas wig, karet silikon di dadanya, dan sepatu hak tingginya. Ia juga merobek rok panjangnya, dan mengambil pedang dari baliknya.
"Kau laki-laki?" tanya Don terkejut.
Tak peduli, Cloud lalu mendorong Don keras hingga jatuh di kasurnya sendiri. Sambil mencengkeram kerahnya, ia lalu menancapkan pedang di bantal tepat di samping kepala Don.
" HIIIIIIII!" serunya ketakutan.
"Kau tahu, wahai vampir busuk? Aku sudah menunggu kesempatan untuk mencincangmu," ancam Cloud dengan nada dingin. "Kau memangsa para Hostess yang kau pekerjakan sendiri bukan?"
"Ampun! Ampun!" seru Don memohon. "Aku bukan vampir. Dan aku tidak memangsa mereka."
"Masih tak mengaku juga? Baiklah..." Cloud lalu menoleh ke para gadis yang berdiri di dekat pintu kamar di belakangnya. "Aerith!"
Yang dipanggil pun mengganguk maju. Ia mengeluarkan botol kecil yang ia sembunyikan di balik baju, tepanya di belahan payudaranya. Ia semprotkan air suci tersebut pada Don yang terbaring tak berdaya.
Semenit...
Dua menit...
Lima menit...
Tak ada asap. Tak ada kulit melepuh terbekar. Tak ada reaksi apa-apa!
Cloud dan Aerith tentu menjadi bingung. "Kamu manusia?"
"Sudah kubilang, aku bukan vampir," jawab Don bernapas lega, berpikir akan dilepaskan.
Sudah sampai sejauh ini, batin Cloud geram. Sudah sejauh ini, kami tak mungkin salah.
Tifa lantas bergerak cepat. Ia segera membongkar-bongkar meja kerja Don untuk mencari bukti apa saja karena ia yakin pria mesum seperti Don tak cukup pintar menggunakan otaknya untuk menyembunyikan barang sepenting itu. Dibukanya laci satu persatu dan ia pun menemukan tumpukan kertas seperti berkas berisi data dan foto para Hostess yang dipekerjakannya. Beberapa dari data tersebut dilingkari fotonya dengan spidol merah. Tifa yakin inilah bukti siapa-siapa saja Hostess yang menghilang. Namun yang tidak ia mengerti adalah keberadaan cap stempel bertuliskan "SENT" selain lingkaran merah. Tifa bertanya-tanya apa maksudnya. Selagi berpikir, matanya menangkap sesuatu di atas meja.
"Cloud!" panggil Tifa. "Kopernya... Di koper Don terdapat logo Shin-Ra."
Cloud pun melanjutkan bertanya dengan lebih galak. "Dari mana uang-uang itu, hah? Dan untuk apa?"
"Aku tidak tahu..."
"Jawab!" gertak Cloud menggerakkan pedangnya ke dekat leher Don. "Kalau tidak..."
"Hiiiii! Baiklah... Baiklah... Tapi jangan potong aku," kata Don dengan mata berair. "Komandan Turks yang menyuruhku untuk menjebak AVALANCHE. Katanya aku disuruh memberi petunjuk yang memancing mereka kalau ada orang hilang karena perbuatan vampir di sini. Ia juga menyuruhku membuka lowongan kalau-kalau kalian hendak menyamar untuk menyelidiki. Foto kalian aku lampirkan via email padanya. Lalu, esok paginya saat kalian pulang, kusuruh orangku untuk membuntuti kalian, katanya kalian bertiga masuk ke bangunan yang sama. Ia memfoto bangunan itu serta beberapa orang yang sama yang keluar masuk dalam dua hari. Dan sekali lagi kukirimkan padanya."
"Apa?" seru Cloud mendelik. "Jadi, Turks sudah tahu markas kami?"
"Ya," angguk Don. "Katanya malam ini mereka akan menyerbu ke sana."
Cloud pun melepaskan Don. Ia berbalik. "Tifa, Aerith, kita harus segera kembali ke 7th Heaven," perintahnya.
Saat Cloud berjalan menjauhi Don untuk keluar ruangan, mendadak Don terkekeh. "Coba kau pikir. Kenapa bajingan sepertiku memberi informasi dengan jujur?"
Cloud malas menanggapinya karena diburu waktu. "Kau sudah putus asa."
"Teeettt! Salaaaahhh!" seru Don. "Para tukang pukulku sudah mengepung kalian di luar ruangan ini. Itulah mengapa aku memanggil kalian kemari. Kalian tak bisa lari."
"Kau pikir hal itu akan menghentikan kami?" ujar Cloud percaya diri. "Mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan para vampir yang sering kami hadapi."
"Tunggu," sergah Tifa. Ia lalu menunjukkan berkas-berkas yang ia temukan tadi pada Don. "Apa maksudnya lingkaran dan cap 'SENT' ini? Jadi benar kan memang ada para Hostess yang menghilang di sini? Aku akan lapor polisi."
Don masih tertawa. "Aku menyetor Hostess terbaik pilihanku ke gedung Shin-Ra untuk menjadi santapan Presdir mereka, hahahaha..."
"DASAR BIADAAAAABBBB!" seru Tifa tanpa ragu menendang Don.
Don pun terpelanting membentur tembok. Pingsan.
Mereka bertiga bergegas keluar ruangan Don. Dan benar saja, mereka sudah disambut oleh puluhan orang di setiap lorongnya. Justru karena lorong tidak bisa memuat orang secara banyak, Cloud dan Tifa pun meladeni mereka satu persatu dah itu bukan hal susah bagi mereka. Cloud menggunakan sisi pedang yang tak tajam karena tak ingin membunuh mereka dan Tifa melancarkan pukulan serta tendangan yang sanggup membuat mereka terkapar kesakitan. Namun, begitu sampai di bawah, tepatnya di ruangan yang seperti lobi; para tukang pukul Don menyerbu mereka secara serampangan.
Sementara itu, Aerith yang sejak awal ngotot ikut misi pertamanya juga sudah bertekad tidak mau membebani Cloud dan Tifa. Ia pun celingak-celinguk mencari apapun yang bisa dijadikan senjata karena ia tak membawa tongkat peraknya. Melawan dengan tangan kosong seperti Tifa juga tidak bisa. Akhirnya benda-benda seperti vas, piring pajangan, batang sapu dan pel, serta kursi; ia gunakan untuk menghantam kepala lawan-lawannya. Ia juga menggunakan tabung gas pemadam kebakaran untuk menyemprot mereka dan begitu habis, ia hantamkan lagi pada mereka. Tentu saja tidak semuanya mulus karena perbedaan tenaga tapi hal itu sudah cukup membantu.
Perkelahian itu memakan waktu cukup lama. Namun, akhirnya mereka bertiga bisa menumpas jatuh seluruh lawan dan keluar mansion dengan selamat. Sebelum itu, Cloud mengambil pakaian dari salah seorang tukang pukul yang pingsan, yang memiliki tubuh seukuran dirinya, untuk mengganti pakaian wanitanya.
"Sudah terlambat," kata Tifa terengah-engah. Perkelahian tadi cukup menguras tenaganya.
"Jangan menyerah. Jangan pernah menyerah," kata Aerith. "Sektor 6 dan 7 kan dekat. Aku tahu jalan pintasnya. Lewat sini."
Cloud dan Tifa pun mengikuti Aerith ke sebuah jalur rel bekas yang menghubungkan dua sektor. Tampak beberapa gerbong rongsok di sekeliling mereka. Semakin dekat, semakin banyak pula orang-orang yang berlarian berlawanan arah dengan mereka. Orang-orang itu meneriakkan siapa pun untuk segera menyingkir. Beberapa di antara mereka bahkan terluka. Benar saja, ketiganya bisa melihat warna langit malam tampak memerah dengan asap hitam membubung tinggi. Kawasan Sektor 7 menjadi begitu terang benderang akibat kobaran api yang terus membesar dan menjilati apapun di dekatnya. Mereka menatap pasrah bangunan yang mereka kenal sebagai bar telah terbungkus lautan api. Tak hanya itu, api juga telah merembet ke bangunan sekitarnya. Panasnya begitu terasa. Pemandangan itu seolah membawa Cloud dan Tifa merasakan kembali peristiwa kelam di desa mereka.
"JESSIE! BIGGS! WEDGE! TIDAAAKKK!"
Mereka bertiga pun menemukan Barret terduduk sambil memegang sebelah tangannya yang terluka. Tak hanya tangannya, mereka juga bisa melihat bercak-bercak darah merah yang bercampur petak hitam di sekujur tubuhnya, tanda telah melakukan perlawanan hebat.
"Barret!" seru Tifa menghampiri lebih dulu diikuti Cloud dan Aerith. "Apa yang terjadi? Di mana yang lainnya?"
"Serangan Turks," jawab Barret dengan terisak. "Yang lain... Mereka di dalam."
"Apa maksudmu di dalam?" seru Cloud mencoba melangkah mendekat ke 7th Heaven. Namun, ia langsung mundur begitu ada percikan api menuju ke arahnya. Tidak bisa, batinnya. Kobarannya terlalu besar.
"Mereka terluka parah karena kekuatan yang tidak imbang," lanjut Barret. "Mereka pun menyuruhku untuk segera keluar terlebih dahulu sambil menggendong Marlene karena para vampir keparat itu menyulut api dari arak-arak yang tumpah. Lalu, aku mendengar ledakan. Dan, mereka tak kunjung muncul."
"Lalu, di mana Marlene?" tanya Aerith tidak melihat gadis kecil itu di dekat Barret.
Wajah Barret semakin tertunduk. "Begitu keluar, salah seorang Turks mencegatku. Aku kesusahan melawan karena membawa Marlene dan akhirnya ia merebutnya dari tanganku. Oh, Marlene..."
Selagi menyimak, mendadak Cloud memasang kuda-kuda di depan Barret, Tifa, dan Aerith; bermaksud melindungi ketiganya. "Sssttt... Para vampir itu masih di sini."
Benar saja, Turks pun menampakkan diri entah melompat dari mana, tiba-tiba mereka sudah mengelilingi Cloud dan yang lainnya. Jumlah mereka sama empat orang. Dua orang di antaranya sudah pernah Cloud dan Aerith lihat. Dua orang lagi adalah vampir wanita, yang satu berambut pirang pendek dan satu lainnya berambut ikal sebahu berwarna merah sambil memegang senjata berupa shuriken besar. Kemudian satu vampir pria muncul dari balik sela dua Turks wanita yang berdiri seolah menjadi gerbang untuk komandan mereka. Rambutnya hitam panjang dikucir ke belakang.
Dan di kepitan tangannya, ada seorang anak kecil pingsan.
"MARLENE!" teriak Barret dan Tifa.
"Keparat...," geram Cloud tidak suka cara mereka menggunakan sandera.
Sementara itu, Aerith justru meneriakkan, "TSENG!"
Kontan saja hal itu membuat Cloud, Barret, dan Tifa menoleh ke arahnya.
Aerith lalu maju perlahan dan lebih depan dari posisi Cloud berdiri. "Tseng, ini terlalu kejam...," ucapnya pelan.
"Aerith," vampir yang dipanggil Tseng itu menjawab, "padahal aku telah berjanji padanya. Tapi karena kau bergabung dengan AVALANCHE, itu lain cerita."
"Mengapa vampir dan manusia bermusuhan? Bukankah kita sama-sama makhluk Gaia?" lanjut Aerith kali ini lebih lantang.
Tseng hanya bisa mengernyit mendengar kalimatnya.
Aerith mendesah. Ia pun memelankan suaranya kembali. "Kumohon," pintanya, "kembalikan Marlene. Ia tak ada kaitannya. Kalau kau butuh sandera, bawa saja aku. Tapi kau lepaskan juga teman-temanku."
"AERITH!" seru Cloud dan Tifa.
Tseng tidak menjawab sehingga membuat Aerith semakin melangkah maju. Bahkan ia berani melewati dua Turks wanita itu. Namun, karena mereka berdua tidak merasakan hawa perlawanan dari Aerith, mereka menyingkir saja. Jarak Aerith dan Tseng pun menjadi sangat dekat.
"Aerith!" panggil Cloud dan Tifa lagi, "apa yang-"
Vampir bernama Reno dan Rude pun dengan cepat menghalangi Cloud dan Tifa yang menunjukkan gerakan perlawanan.
Dengan mata tajam, Aerith menatap Tseng seolah tanpa takut padahal bahunya gemetar. "Lepaskan Marlene," pintanya ulang.
Tseng masih diam sambil balas menatap Aerith tajam. Hal itu membuat Reno gusar.
"Tseng, segera perintahkan akan kita apakan mereka yang tersisa? Ingat perintah Presdir!"
Komandan Turks itu justru menghela napas. "Lepaskan mereka."
"HAH?" seru Reno tak percaya. Tapi sekali lagi, ia tak bisa menentang.
Aerith bernapas lega mendengarnya. Tseng lalu menyerahkan Marlene pada vampir yang dipanggilnya Cissnei dengan isyarat agar dikembalikan pada pihak AVALANCHE. Melihat hal itu, Tifa lantas bergerak dan menabrak bahu Reno untuk segera memindahtangankan Marlene ke sisinya, khawatir kalau-kalau hal itu hanya taktik musuh saja. Dan ternyata, tidak ada Turks yang menyulitkannya.
Begitu Marlene berpindah ke tangan Tifa, Cloud pun menyerang maju. Dengan sigap, Tseng langsung menggapit pinggang Aerith dan melompat ke atas pohon seolah ranting pucuk itu mampu menahan bobot dua orang.
"CLOUD! TIFA!" panggil Aerith mencondongkan tubuh dan menjulurkan tangan.
"AERITH!"
"Sesuai kesepakatan, kalian semua kulepaskan dan gadis ini kubawa," kata Tseng. Ia lalu mengangkat sebelah tangannya untuk memberi isyarat. "Kita pergi."
Keempat Turks yang lain pun mengikuti perintah Tseng. Mereka kembali menghilang dari pandangan dengan cepat. Cloud dan Tifa hanya bisa memandang tempat terakhir kali Aerith masih bisa mereka lihat. Sementara itu, masih terduduk menatap 7th Heaven yang perlahan runtuh dari balik kobaran api, Barret terus meraung.
"BEDEBAH! BAJINGAN! KEPARAT! AAARRGHHHH!"
Tifa lalu menghampiri Barret dan menyerahkan Marlene ke tangan pria besar itu. Barret lalu memeluk Marlene sambil menangis. Merasakan kesedihan yang sama, Tifa pun membungkuk untuk mengusap punggungnya. Ia lantas terkejut karena Barret tiba-tiba berseru di dekat telinganya.
"Aerith pasti pelakunya, karena itu Turks bisa tahu markas kita. Lihat, dia bahkan kenal baik dengan komandannya!" tuduhnya.
"BARRET!" teriak Tifa marah dan menghentikan elusannya. "Aerith tidak mungkin seperti itu. Kau tahu ia bahkan telah menyelamatkan Marlene dan juga kita."
"Bisa jadi itu hanya kedoknya untuk kembali ke sisi mereka, pura-pura bertukar sandera," lanjut Barret menoleh pada Tifa. "Waktunya terlalu kebetulan. Kau bertemu dia saat kita memutuskan melawan Turks. Kau juga bilang ia memaksa diantar ke markas dan setelah itu menyatakan bergabung. Di antara kita semua, hanya ia yang keluar masuk 7th Heaven begitu leluasa dengan alasan pulang ke rumahnya."
Cloud pun maju ke dekat Barret. "Ada yang harus kusampaikan padamu. Bukan Aerith pelakunya."
"Kalau begitu darimana para Turks mendapatkan informasi? Para vampir brengsek itu tidak mungkin berkeliaran siang hari sementara saat malam hari kita berusaha hati-hati untuk tidak mencolok dan waspada pada setiap pengunjung bar."
"Justru karena itu," lanjut Cloud. "Ada sekelompok manusia yang menjalin kerjasama dengan mereka. Kami baru saja mengetahuinya di Honey Bee, Inn. Incaran kita yang ternyata bukan vampir itu sudah kami bertiga paksa buka mulut."
"APA? MANUSIA?" Barret pun melotot. Ia tidak habis pikir sementara dirinya berusaha menyelamatkan manusia dari taring buas vampir ternyata ada kaumnya sendiri yang justru berpihak pada makhluk haus darah itu. Di mana logika mereka?
"Ya, manusia yang bisa dibeli dengan uang," jawab Cloud. "Kita melupakan manusia-manusia sampah jenis ini, Barret."
"BANGSAT!" seru Barret memukul tanah. Kalau sudah begitu, logika pun tak ada.
Tifa lalu menyilangkan lengannya di depan dada. "Nah, sudah tidak menuduh Aerith kan? Lagipula kalau ia terlibat, buat apa Turks susah-susah menunggu sampai seminggu untuk menyerbu kita?"
"Umm, yeah," kata Barret dengan nada melunak. Ia pun berdiri. "Tapi itu belum menjawab kenapa ia bisa kenal komandan Turks yang ia panggil Tseng itu."
"Kau lupa?" sambung Cloud. "Aerith sudah sejak awal diincar mereka. Mungkin saja saat mereka mendekatinya, ia sempat menyebut namanya. Seperti Turks yang kukalahkan kemarin bernama Rod."
"Bisa jadi," kata Barret dengan nada ragu. "Tapi, masih terlalu kabur."
Tifa juga sebenarnya setuju dengan Barret soal itu. Ia bahkan sudah lama merasa Aerith menyembunyikan sesuatu, tapi... "Hei, kita akan menyelamatkan Aerith kan?" tanyanya.
"Yo, maksudmu menyerbu sarang mereka hanya bertiga?" tanya Barret balik."Yang benar saja! Mungkin saja itu yang diinginkan mereka, makanya kita dilepaskan."
"Aerith sahabatku, kupikir aku akan melakukannya. Aku tak bisa tidur dengan nyenyak malam ini membiarkannya mungkin disiksa mereka atau aku bisa gila," kata Tifa lagi. Lalu ia menoleh pada Cloud. "Kau ikut juga kan, Cloud?"
Cloud mengangguk. Tentu saja ia tak bisa membiarkan Tifa nekat ke gedung Shin-Ra seorang diri. Selain itu, ia sendiri merasakan perasaan aneh bahwa di dalam kepalanya, seperti ada yang terus mendorongnya untuk melindungi Aerith. "Oke, kita ke sana saat subuh menjelang," ucapnya.
"Nah, Barret," kata Tifa kembali padanya, "kemana semangatmu seperti waktu mendengar cerita Aerith tempo hari itu?"
"UWOOOGGGHHHH," teriak Barret merasa tersindir. "Siapa takut? Ayo, kita bantai para vampir keji itu sampai habis, huahahaha!"
Cloud dan Tifa pun tertawa geli dengan sikap Barret. Kalau soal serampangan, memang dia jagonya.
"Lalu, bagaimana dengan Marlene selagi kita menyerbu?" tanya Barret kemudian. "Markas telah hancur dan kita tak bisa meninggalkannya begitu saja."
Tifa pun menjawab, "Bagaimana kalau kita titipkan di rumah Aerith? Aku tahu rumahnya. Sekalian kita harus memberitahu ibunya."
Barret tak punya pilihan lain selain setuju.
Sesampainya di rumah Aerith, Tifa lalu mengetuk pintu. Cukup lama mereka menunggu namun belum ada tanggapan dari sang pemilik rumah. Mungkin karena waktu sudah masuk larut malam sehingga Nyonya Gainsborough tengah beristirahat, apalagi karena Aerith diketahui menginap di markas AVALANCHE sehingga tak ada keperluan untuk menunggunya pulang. Tifa hendak mengetuk lagi tapi Barret maju untuk mengetuknya lebih keras. Kali ini, mereka mendengar suara dari dalam dan tak lama kemudian pintu pun terbuka.
"Kamu Tifa dari AVALANCHE bukan? Ada apa datang malam begini?" tanya Elmyra masih ingat padanya yang seminggu lalu mengantarkan Aerith pulang. Melihat ekspresi Tifa yang tampak enggan menyampaikan sesuatu, ia pun mengalihkan pandangannya pada seorang pemuda berambut pirang dengan pedang di punggung dan seorang pria besar bertangan palsu dengan tubuh luka-luka sedang menggendong anak kecil yang tengah tertidur. Muka mereka tampak sama lemasnya dengan Tifa. Elmyra pun menebak, "Apa ini mengenai Aerith?"
Karena perasaan Tifa masih berkecamuk dan tidak segera menjawab, Cloud pun menjawabnya. "Maaf, Nyonya Gainsborough. Vampir telah membawanya."
Elmyra hanya bisa mendesah. "Aku tidak kaget. Anak itu suka menempuh bahaya jadi aku sudah menebak hal ini akan terjadi. Meskipun aku bukan ibu kandungnya, aku tetap menasihatnya. Hanya saja, aku selalu kalah dengan kemauan kerasnya."
Reaksi Elmyra di luar dugaan padahal mereka sudah jaga-jaga andai kabar ini membuatnya syok. Namun, mereka diam-diam setuju di dalam hati bahwa Aerith yang mereka kenal memang berwatak seperti itu.
Elmyra pun berbicara lagi. "Kita bicara saja di dalam. Lagipula, ada yang ingin kusampaikan pada kalian juga. Selain itu, kalian membawa anak kecil. Kalian boleh membaringkannya di kamar," katanya menyilakan masuk.
Cloud dan Tifa pun langsung duduk di kursi ruang tamu sementara Elmyra mengantar Barret ke kamar untuk mengistirahatkan Marlene. Begitu duduk, Barret lalu angkat bicara. Sebagai pemimpin AVALANCHE, ia merasa bertanggungjawab menjelaskan semua yang telah terjadi; dimulai dari siapa saja yang dipilih untuk misi kali ini, lalu yang ternyata musuh sengaja menjebak mereka dengan memecah mereka menjadi dua kelompok dan menyerbu markas, Aerith yang menukarkan dirinya dengan Marlene sampai ke penjelasan mengapa bisa ada anak kecil di dalam markas AVALANCHE.
"Saya benar-benar minta maaf," tutur Barret. "Sebagai seorang ayah, aku tak bisa menjaga putri kecilku dengan baik sehingga putri Anda terpaksa bertukar tempat dengannya. Saya tahu sangat berbahaya membiarkan anak kecil sepertinya berkeliaran di dalam markas, tapi saya harus bertempur sementara ia sudah tak punya siapa-siapa lagi selain saya. Saya selalu memikirkan hal itu tapi saya tidak tahu harus bagaimana. Sekali lagi, maaf soal Aerith..."
"Sudahlah, aku rasa aku mengerti," balas Elmyra. "Pastinya anak itu tidak pernah merasa terpaksa jika harus menolong seseorang, apalagi seorang anak kecil."
Rasanya Barret ingin menangis terharu kalau ingat belum lama tadi ia menuduh Aerith yang bukan-bukan. Tidak juga, batinnya. Masih banyak pertanyaan untuk menjawab misteri seputar Aerith jika tidak ingin menuduhnya mengapa ia bisa kenal dengan Sang Komandan Turks. Mungkin ibu angkatnya tahu sesuatu.
"Maaf kalau saya bertanya di saat seperti ini, ini masih soal Aerith," kata Barret lagi. "Tapi saya bingung harus memulai pertanyaan seperti apa. Dia terlalu misterius..."
Lagi-lagi Elmyra merasa mengerti, ia justru tersenyum. "Kebetulan, memang ada yang ingin kusampaikan mengenai Aerith juga. Kupikir kalian sebagai AVALANCHE lebih baik mengetahuinya."
"Oh, kalau begitu, silakan."
Elmyra pun memulainya. "Lima belas tahun lalu, saat itu usia Aerith masih tujuh tahun, aku menemukannya linglung sambil menangis di stasiun. Saat itu terjadi sebuah kecelakaan mengerikan. Katanya ada seorang wanita terjatuh di lintasan kereta api dan terlindas. Sepertinya itu ibu anak ini. Aerith kecil mendekapku sambil berkata bahwa ibunya menyuruhnya lari, bahwa ibunya dibunuh vampir. Aku tak mengerti. Aku tak tahu makhluk apa yang dimaksudnya itu. Tapi karena sepertinya berbahaya dan aku juga kasihan padanya, aku pun tanpa ragu lagi membawanya pulang. Aku menonton berita esok paginya bahwa wanita malang itu tidak meninggalkan identitas sehingga keberadaan Aerith pun aman."
Tifa reflek menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Ia cukup syok mendengar bagaimana Aerith kehilangan ibu kandungnya.
"Saat itu aku berada di stasiun karena aku terkenang mendiang suamiku, itu tempat pertama kali kami bertemu. Ia bekerja sebagai teknisi mesin di pabrik Shin-Ra dan belum lama ia meninggal karena kecelakaan kerja, aku mendapat santunannya. Kami belum punya anak sehingga aku mengadposinya saja. Anehnya, Aerith justru bilang kalau suamiku dibunuh vampir sama seperti ibunya. Ia lalu menjelaskan padaku mengenai makhluk malam itu. Katanya mereka mirip manusia namun menghisap darah manusia dan ada di mana-mana. Perusahaan Shin-Ra itulah sarang mereka dan mereka menutupinya agar tidak ketahuan. Hanya itu yang ia tahu karena dengar dari ibunya. Katanya ibunya keturunan Cetra tapi ia juga tak tahu apa itu Cetra. Aku sudah merelakan kepergian suamiku dan rasanya aku tetap tak ingin percaya cerita Aerith, semua itu di luar akal sehatku. Begitulah, ia anak yang sangat misterius."
Barret menghela napas mendengar kalimat terakhirnya. Ternyata ibu angkatnya juga hanya tahu sejauh itu, batinnya.
Namun, cerita Elmyra belum selesai. "Sekitar dua sampai tiga bulan lalu, ia pulang pagi. Kucirnya ia lepas saat itu dan rambutnya dibiarkan tergerai. Saat berpapasan denganku, aku bisa melihatnya tampak menutupi sesuatu. Di sekujur leher dan dadanya tampak bekas-bekas kecupan merah. Kupikir anak itu bercinta dengan kekasihnya, mereka sudah menjalin hubungan kurang lebih lima tahun meskipun baru kali ini ia pulang pagi. Mereka rutin bertemu setiap sebulan sekali, namun pernah juga ada yang sampai tiga bulan baru bertemu. Berkencannya selalu pada malam hari dan mereka janjian di tempat pertama kali bertemu, gereja sektor lima."
Ya, batin Cloud. Ia kembali ingat pertemuannya dengan Aerith di gereja yang seperti patah hati menunggui kekasihnya yang tak kunjung muncul. Begitu pula dengan Tifa yang ingat ucapan Aerith soal 'tempat kenangan'. Tapi, mereka pikir hal ini tidak penting untuk turut disampaikan. Atau ada kaitannya?
"Anehnya, salah satu dari bekas itu seperti luka, tepatnya dua buah luka kecil berbentuk lobang yang masih meneteskan darah."
"VAMP-" seru Cloud dan Tifa serentak hampir menyela pembicaraan Elmyra. Barret sendiri semakin menyimak dengan serius.
"Aku curiga. Luka itu sama dengan luka yang ada di hasil otopsi jenazah suamiku yang dulu tak pernah kupertanyakan. Saat Aerith membalutnya dengan kain kassa, aku pun menginterogasinya, apakah ia bertemu vampir di jalan dan sempat bergelut dengannya. Bagaimana pun Aerith selalu merasa mampu melindungi dirinya sendiri, apalagi ia dilengkapi dengan selalu membawa air suci sebotol dan tongkat peraknya; jadi kupikir ia pasti mampu meloloskan diri. Namun, jawabannya di luar dugaanku. Ia menjawab jangan khawatir, bahwa vampir yang ia kenal dan menggigitnya bukan vampir jahat. Kekasihnyalah sang vampir itu."
"A-APA?!"
Cloud sendiri tidak terlalu kaget. Ia justru mengumpat pelan karena bisa-bisanya dirinya melupakan hal sepenting ini, bahwa Aerith pernah bilang ciri-ciri pacarnya, yang sempat Cloud sebut pembunuh meski bercanda itu, memang ditengarai mirip vampir. Ia sadar mulai lupa semenjak gadis itu menyebut bahwa ia memiliki senjata air suci yang diwariskan ibunya yang dibunuh vampir. Sementara itu, Barret mencoba menarik kesimpulan logis. Ibu kandungnya tewas saat usia Aerith baru tujuh tahun. Sebagai seorang orangtua, Barret tahu bahwa tidak seharusnya ibunya menjejali penjelasan mendetail soal darah murni dan betapa mengerikannya kekuatannya sampai overdosis pada anak kecil. Ia rasa cukup hanya pengertian soal keberadaan makhluk malam itu dilengkapi bekal air suci untuk melindungi diri. Kini, semua informasi Aerith yang dari awal ia curigai sumbernya itu menjadi jelas. Di sisi lain, Tifa yang mengedepankan perasaan perempuannya lebih mempertanyakan bagaimana Aerith bisa mencintai makhluk laknat yang amat dibencinya itu. Jangankan dibenci oleh dirinya sendiri, ibu kandung Aerith juga korban kebrutalan vampir bukan? Lantas kenapa, Aerith? Kenapa? Ia berusaha berpikir keras untuk menemukan jawaban yang logis tapi tidak bisa.
Elmyra ternyata belum berhenti sampai di situ. "Tapi sejak saat itu, Aerith selalu pulang kencan lebih awal dan kecewa bahwa ia tidak pernah bertemu lagi dengannya. Ia bilang kekasihnya itu sempat pamit akan pergi tapi aku menduga vampir kurang ajar itu meninggalkan Aerith begitu saja setelah menodainya."
"Masa sih..." ucap Tifa lirih, tak mau tebakannya benar.
"Aerith hamil," lanjut Elmyra dengan nada lebih tegas, "sudah usia sebelas minggu. Ia tengah mengandung anak vampir itu."
Kali ini semuanya tidak bisa untuk tak terperanjat dari kursinya masing-masing.
Aerith menjejakkan kakinya pada lobi gedung Shin-Ra. Barusan ia merasakan bagaimana pinggangnya dikepit Tseng erat dan dibawa seperti terbang meloncati atap-atap rumah ataupun lampu jalan dengan gerakan begitu cepat. Ia menutup mata terus-terusan karena takut jatuh ataupun terlempar. Entahlah, mungkin ia menjadi lebih berdebar-debar karena sedang hamil.
Gadis berkepang itu mengelus perutnya, sepertinya tidak apa-apa meski dikempit Tseng erat tadi. Ia bisa merasakan kekuatan bayi vampir untuk hidup dalam kandungannya. Ia lalu teringat bahwa terbang bersama vampir dengan kecepatan luar biasa seperti itu bukanlah kali pertama baginya. Suatu ketika dulu pacarnya mengajak kencan di atap sebuah gedung perkantoran tinggi untuk melihat langit malam. Dan tentu saja mereka tidak menyelinap masuk ke dalam gedung tersebut dan melewati sekuriti untuk menumpang lift-nya. Sayangnya, langit Midgar tidak begitu indah. Bintang-bintang yang mereka cari tidak nampak dengan jelas karena kalah dengan gemerlap kota di bawahnya plus lautan asap pabrik bercampur dengan awan yang ada.
Sesekali Tseng menoleh ke arah Aerith yang berjalan di belakang mengikutinya sementara anak buahnya yang lain telah ia suruh pergi meninggalkan mereka berdua. Tampak di matanya, Aerith tengah memandang sekeliling seolah takjub dengan kemewahan interior di dalamnya yang menunjukkan kebesaran Shin-Ra sebagai perusahaan nomor satu di Gaia.
"Jadi, ini sarang ya?" gumam Aerith masih sambil melihat-lihat.
Tseng bisa mendengarnya. Ia menggeleng-geleng pelan karena tidak melihat sama sekali ketakutan terpancar di mata gadis itu. Saat itulah, Aerith mendekatinya untuk berjalan sejajar. Ada yang sangat ingin ia kemukakan padanya. Hal yang sangat ia nanti-nantikan.
"Tseng," panggilnya dengan nada memohon. "Pertemukan aku dengan Zack."
bersambung...
Next Chapter Teaser/Preview:
"Aerith, kau harus diubah menjadi vampir," kata Tseng.
"Ketahuilah, aku yang membunuh ibumu," kata Hojo.
"Zack...," panggil Aerith lirih, "aku membutuhkanmu… masih sangat membutuhkanmu…"
"Apa itu? Werewolf?" tanya Cloud.
A/N: Kuakui chapter kemarin lumayan datar. Semoga berhasil ditebus di chapter ini. Dan, ada yg harus kuubah sedikit di chapter kemarin. Cuma buat nambahin keterangan kalau yang pas Aerith itu ditanyai macam-macam soal vampir ada di ruangan bawah tanah, hahaha... Kalau nggak, bisa kontradiksi dengan ucapan Barret di sini.
Chapter 5 ini bisa ter-update cepat karena aku sedang kosong minggu ini. Karena awal September aku sudah masuk kuliah dan sibuk lagi, kuharap kalian bisa kembali sabar menanti lanjutannya. Tenang aza, kuharap tidak akan lama karena chapter depan termasuk chapter favoritku karena bakal ada my OTP, Zerith, yeah! Oya, jgn bayangin usia kehamilan Aerith kyk si Bella di Twilight ya? Itu 9 bulan normal kok^^.
