Cerita sebelumnya: Cloud, Tifa, dan Aerith menyusup ke dalam Honey Bee, Inn untuk menyelidiki para hostess yang hilang, yang kemungkinan besar adalah perbuatan vampir. Mereka mengincar sang pemilik, Don Corneo. Namun ternyata Don Corneo bukanlah vampir, ia adalah manusia biasa yang memang telah lama bekerjasama dengan Turks untuk memasok "makanan" bagi sang Presdir Shin-Ra. AVALANCHE masuk jebakan mereka. Jessie, Biggs, dan Wedge tewas; Aerith diculik. Saat mengabarkan kejadian ini pada ibu Aerith; Cloud, Tifa, dan Barret justru mendapat berita yang lebih mengejutkan. Sementara itu di sarang, Aerith...
CHAPTER 6
"Tseng," kata Aerith lagi, "pertemukan aku dengan Zack. Dia pasti di sarang kan?"
Tseng tersenyum sinis. "Jadi itu alasan kau berani meminta untuk menukarkan dirimu dengan anak kecil itu? Agar kau dibawa kemari?"
Aerith pun merengut kecut. "Bagaimana pun juga Marlene hanya seorang anak kecil tak berdosa."
Tseng tetap melangkah. "Kau pikir aku akan membunuhnya? Apa Zack belum memberitahumu hukum vampir yang mengatakan kalau kami dilarang memangsa anak kecil dan wanita hamil?"
Aerith pun ikut mempercepat langkah agar tetap sejajar. "Ia pernah bilang. Katanya, peraturan itu ada karena kalian tetap ingin menjaga kelangsungan manusia."
"Tidak ada bedanya dengan kalian beternak untuk mengambil dagingnya bukan?" sahut Tseng.
"Manusia bukan hewan!" seru Aerith.
"Vampir juga tidak sama dengan manusia," balas Tseng. "Itu jawabanku atas pertanyaanmu yang sebelumnya di Sektor 7."
"Lantas, apakah hanya karena kita berbeda maka kita tidak bisa hidup berdampingan? Pasti ada jalan."
Tseng lalu berhenti berjalan dan menoleh pada Aerith. "Kau pikir kau dan Zack bisa?"
Aerith ikut berhenti. Ia pun terdiam menatap Tseng dalam. Pertanyaan itu bagai menusuknya. Ia dulu sangat yakin bisa. Mereka berdua yakin bisa. Apalagi kini, ia tengah mengandung anaknya. Ia sangat ingin Zack tahu, ini terkait masa depan mereka –hal yang membuatnya mengernyit di depan Marlene –. Tapi Zack belum pernah muncul lagi sejak malam mereka bercinta itu, nomor ponselnya juga tak bisa dihubungi. Ia bahkan juga telah mencoba menulis surat yang diikatkan di tubuh seekor kelelawar milik Zack pemberian ayahnya –yang kini ia pelihara di langit-langit gerejanya– untuk mencarinya. Aerith tahu kelelawar bukan merpati, tapi ia sudah mendengar kekuatan ikatan batin hewan tersebut dengan vampir pemiliknya sehingga ia percaya surat itu akan sampai ke tangannya. Kelelawar itu juga tak pernah kembali. Dan Aerith tak ingin percaya kalimat ibunya yang mengatakan bahwa lelaki itu sengaja meninggalkan dirinya justru di saat seperti ini. Bahwa vampir dan manusia tak akan pernah bisa bersama.
Melihat ekspresi berkecamuk Aerith, Tseng menghela napas sebelum melanjutkan. "Asal tahu saja, kau tak akan bisa bertemu Zack lagi."
"Kenapa?"
"Karena…" Tseng terdiam sebentar. "...ia sudah mati."
Seketika, Aerith langsung merasa kakinya bagaikan kehilangan pijakan.
Kembali ke kediaman Gainsborough, suasana di ruang tamu masih diliputi ketegangan.
"Jadi, Aerith mencari pacarnya?" tutur Cloud. Ia ingat Aerith justru tampak gembira begitu tahu dirinya berasal dari AVALANCHE dan tidak jadi minta diantarkan pulang. "Dan ia berpikir bergabung dengan AVALANCHE akan mempertemukan mereka? Itu tujuannya?"
Elmyra menggeleng. "Aku tidak tahu. Kadang aku tidak paham anak itu. Saat ia meneleponku malam itu untuk menginap di tempat kalian, aku juga berpikir demikian."
"Yo, dan akhirnya ia sudah menemukannya kan?" sambung Barret. "Bukankah cowoknya si komandan Turks itu? Makanya dia kenal? Makanya dia berani bertukar dengan Marlene?"
"Kurasa bukan dia orangnya," tukas Tifa. "Aku tidak melihat ekspresi kerinduan terpancar dalam wajah Aerith. Aku tahu rasanya bertemu seseorang yang kita pikir telah menghilang tanpa kabar. Perasaan bahagia... Perasaan ingin memeluknya... Perasaan yang menahan air mata tertumpah..."
Cloud menoleh ke arah Tifa, mengerti bahwa dirinyalah yang ia bicarakan. Namun kepalanya berdenyut sakit mendengar hal itu. Ia sungguh tak bisa mengingat apa yang membuatnya menghilang di depan Tifa dan apa saja yang telah terjadi selama itu. Yang tersisa di benaknya hanyalah Sephiroth sebagai satu-satunya petunjuk.
Barret tak butuh sentimentil wanita. Baginya, tak ada bedanya apakah lelaki vampir yang dicari Aerith adalah komandan Turks tersebut ataukah orang lain. Tapi kalau hal itu justru paling bisa menjelaskan tindakan Aerith dari segala kemungkinan logis yang ada, ia tak bisa berkomentar banyak. Manusia mengandung anak vampir, rasa-rasanya hal ini ke depannya akan menjadi lebih rumit dari yang ia duga. Peta pertempuran AVALANCHE versus Shin-Ra mungkin berubah. Ia juga belum tahu apa keputusan Aerith setelah ini andai benar ia bisa menemui sang vampir tercintanya di sarang sana. Bukankah dengan begitu, tujuannya telah tercapai?
Elmyra menyela pikiran Barret. "Kalian akan menyelamatkannya bukan?"
Kalimat itu seolah mengembalikan tekad mereka bertiga yang sempat terlupakan sebelumnya. Bahwa itulah hal yang paling genting untuk segera dilakukan sekarang.
"Aku tahu hal ini merepotkan. Aku minta maaf anak itu telah merepotkan kalian," lanjut Elmyra. "Tapi kalau kalian bersedia menolongnya, aku akan sangat berterima kasih. Bagaimana pun, ia tetap anakku yang telah kubesarkan. Aku menyayanginya."
"Saya akan menyelamatkannya," jawab Cloud tegas.
"Hei, apa maksudnya 'saya' saja?" sahut Barret menjitak kepala Cloud. "Kau kira aku hanya bisa duduk di sini sementara kau berurusan dengan Shin-Ra keparat itu? Aku ikut juga!"
"Aerith adalah sahabat kami, anggota kami, dan kami bertempur bersama," sambung Tifa. "Hal itu sama sekali tak merepotkan, Nyonya."
Dan Elmyra pun tak bisa menyembunyikan mata berkaca-kacanya.
Masih di Vampire Coven, atau yang dikenal oleh penduduk Midgar dengan Shin-Ra Head Quarter, Aerith tetap terduduk lemas di sebuah lorong dengan pandangan tertunduk. Kenyataan yang disampaikan Tseng bagai telah menghantam dadanya tapi apa yang tak pernah ia lihat membuatnya tak bisa menumpahkan air mata.
"Bagaimana bisa?" tanyanya kemudian mendongak pada Tseng. "Kalian menghukumnya? Karena ia menjalin hubungan denganku?"
"Aerith," tegur Tseng lalu menjatuhkan satu lututnya ke lantai agar pandangannya sejajar dengan gadis itu, "hanya aku yang tahu hubungan terlarang kalian dan aku merahasiakannya."
"Kalau hanya kau yang tahu, lantas apa yang terjadi dengannya?"
"Aku tak bisa bilang, ceritanya panjang. Tapi aku sudah berjanji padanya untuk menjagamu saat ia tak ada, karena itulah kutempatkan beberapa Turks untuk mengawasimu akhir-akhir ini."
"Jadi... Kalian bukan mengawasiku karena aku Cetra?" Pantas saja, batin Aerith. Ia sendiri baru merasa gencar diawasi dalam dua bulan terakhir ini.
"Cetra?" Tseng merasa belum pernah mendengar istilah itu. "Apa ada istilah itu di kaum darah murni? Apa saja yang sudah Zack katakan padamu?"
Tidak, batin Aerith mengingat. Ia tak pernah membicarakan perihal dirinya yang seorang Cetra pada Zack dan vampir itu juga belum pernah mengungkitnya. "Kau... Kau darah campuran?"
"Jumlah darah murni kini bisa dihitung dengan jari dan kau mengalihkan pembicaraan, Aerith," jawab Tseng sambil berdehem. "Karena kau sudah terlalu banyak tahu soal kami dari Zack dan aku yakin kau pasti sudah membocorkan informasi pada AVALANCHE baru yang secara kebetulan kau temui, sebelum kau diapa-apakan oleh yang lain, aku akan mengubahmu menjadi vampir."
"TIDAK MAU!" seru Aerith.
"Dengan menjadi vampir, kau aman di sini, kau diterima, kau menjadi bagian dari kami. Dengan begitu, kau tidak akan kami sakiti; bagaimana pun juga aku sudah berjanji pada Zack."
"Aku tetap menolak." Kini ia memalingkan muka dengan duduk membelakangi Tseng. "Lagipula Zack tak pernah menginginkan hal itu."
"Kau anti dengan kami? Kau takut pada vampir? Kau jijik? Lantas semua yang kau lakukan dengan Zack itu palsu?"
Aerith tersentak. "Itu tidak benar. Kami… Kami…"
"Yang jelas, kau harus menjadi vampir. Itu sebuah kehormatan bagi seorang manusia di mata kami karena seharusnya kalian tak selayaknya lebih dari makanan utama. Para manusia yang dipinang vampir bersedia menjadi makhluk abadi bersama pasangannya dan kami, vampir darah campuran, bisa ada karena hal itu. Kupikir Zack juga bodoh, mengapa tak dari awal ia menjadikanmu vampir saja daripada harus mengalami hal begini. Atau mungkin, ia tak serius denganmu. Ia hanya memanfaatkanmu. Asal tahu saja, vampir darah murni sepertinya memiliki pesona kuat yang mudah memikat lawan jenisnya. Ia seorang ladiesman sejati dan kau bukan satu-satunya perempuan yang pernah takluk dengan paras dan rayuannya. Ia sudah hidup lebih dari 300 tahun dan berkelana ke mana saja, Aerith."
"Zack... Dia memang konyol dan gombal tapi ia bukan orang yang seperti itu!" ujar Aerith bersikeras.
"Kau baru mengenalnya lima tahun sedangkan aku sudah mengenalnya selama separuh umurnya. Kau pikir apa untungnya aku bohong padamu?"
"Kalau memang demikian," Aerith memelankan kembali nada suaranya. Ia tertunduk sebentar sebelum akhirnya menatap Tseng kembali dengan mata mulai berkaca-kaca, "kenapa ia memintamu berjanji? Kenapa kau mau menyanggupinya? Kau percaya padanya juga kan?"
"Itu..," Kali ini Tseng yang kehilangan kata-kata. Ia pun berdiri dan mengalihkannya, "Sudahlah, kau tetap akan kubawa ke tempat Profesor Hojo untuk diubah."
Tseng menarik lengan Aerith agar gadis itu berdiri tapi Aerith melawannya. Ia tak ingin melukai Aerith dan tahu bagaimana cara memaksanya. Aerith pun ia bopong dengan bridal style agar cepat sampai ke ruangan yang dituju.
"Tidak. Tidak. Tidak. Lepaskan aku!"
Aerith terus memukul-mukulkan kepalannya di dada Tseng. Percuma. Mereka masuk ke dalam elevator dan Aerith memperhatikan bahwa lift justru turun, bukannya naik. Keluar lift, ia pun tak lama menatap sebuah pintu besar yang memiliki kunci elektronik. Tseng berbicara pada sebuah sebuah lubang suara seperti speaker yang terletak di atas kunci, meminta diizinkan masuk. Setelah itu, ia menggesekkan sebuah key card dan pintu itu pun membuka dengan sendirinya. Ruangan itu remang-remang dan cukup luas. Semakin ke dalam, Aerith mencium seperti bau busuk. Ia pun memperhatikan sekeliling, melihat jejeran tabung-tabung kaca besar berisi cairan warna merah pekat mendekati hitam. Ia pun mengenali bau itu.
Bau darah.
Cairan yang memenuhi tabung itu adalah darah.
Dan sekilas, ia bisa melihat bahwa di dalam cairan itu seperti ada benda besar di dalamnya.
Benda yang memiliki tangan dan kaki. Sebuah badan utuh. Makhluk hidup.
Bukan sembarang makhluk, tapi manusia.
Yang tak bergerak.
Aerith tersentak jijik di dada Tseng. Apa itu mayat? Ruangan apa ini? Tabung-tabung apa ini? Apa aku akan dimasukkan ke dalam situ juga?
"Profesor Hojo," panggil Tseng.
Aerith lalu mendengar suara tawa terkekeh menjawab panggilan Tseng. Dan dari balik kegelapan, muncullah seseorang pucat berambut hitam panjang sebahu yang dikucir bawah. Di wajahnya tampak kerutan yang sangat jarang menghiasi wajah vampir. Ia mengenakan kacamata dan jas lab putih. Melihatnya, Aerith gemetar di lengan Tseng. Sepertinya tak asing.
"Khukhukhu," jawab pria itu bersuara, "kau mau memberiku bahan eksperimen baru?"
"Bukan," sahut Tseng, "gadis ini 'calon' seseorang. Jadi tolong perlakukan dia dengan baik."
"Hooo," seloroh Hojo membetulkan letak kacamatanya. "Rasanya sudah satu abad aku tak menangani urusan beginian."
"Tseng, siapa dia?" tanya Aerith memotong.
"Profesor Hojo adalah salah seorang dari sedikit darah murni yang masih hidup selain Presdir kami. Hanya darah murni yang bisa mengubah manusia menjadi vampir. Itulah mengapa aku membawamu padanya," jawab Tseng.
"Cukup," sela Hojo, "tinggalkan saja dia di sini. Aku akan mengurusnya."
Tseng pun menurunkan Aerith dari gendongannya. "Aku akan menunggu di luar. Tolong percepat prosesnya."
Mau tak mau, tanpa menoleh ke belakang, Aerith bisa merasakan Tseng perlahan melangkah pergi darinya. Sementara itu, Hojo mendekat ke arahnya.
"Kau tertarik dengan pekerjaanku, Nona?" tanyanya. "Biar aku yang menjelaskan padamu. Turks itu tak tahu apa-apa. Mereka hanya menjalankan tugas tanpa pernah tanya kenapa dan untuk apa."
Sejujurnya, Aerith tak ingin mengetahui fakta-fakta yang mungkin mengerikan di balik tabung-tabung itu. Tapi Hojo tak menggubrisnya dan terus berbicara sendiri dengan nada penuh kebanggaan terhadap pekerjaannya.
"Selamat datang di laboratoriumku," lanjutnya merentangkan kedua tangan ke atas. "Akulah yang menemukan teknik mengubah manusia menjadi vampir sejak hampir setengah milenium yang lalu. Kami menginjeksikan darah kami ke pembuluh darah manusia yang sekarat untuk mengganti darahnya. Caranya lewat gigitan di pembuluh nadi leher, sama seperti saat kami tengah bersantap. Bedanya, kami tak boleh menghisap darahnya tak bersisa hingga ia mati sebelum kami masukkan darah kami melalui lubang gigitan, teorinya hanya sesederhana itu. Sebenarnya kami, darah murni, hanya bisa melakukan proses itu sekali seumur hidup untuk membentuk Slave, sebutan bagi manusia yang akan mengabdi sebagai vampir pelayan kami. Keturunan Slave terbaik akan kami jadikan Turks. Namun dengan ilmu pengetahuanku dan dengan teknologi yang mampu diciptakan dan dibeli dari kekayaan Shin-Ra atas bisnisnya, aku bisa terus meneruskan proses ini berkali-kali. Tabung itu berisi darah kami yang dikumpulkan. Namun, tak sedikit pula yang gagal. Mereka akan mati di dalam tabung itu. Dalam eksperimen, kegagalan itu sudah biasa."
"Kalau sudah tahu caranya, tak seharusnya kau masih terus-menerus memasukkan manusia ke dalamnya bukan?" tanya Aerith menunjuk tabung terdekat.
Hojo terkekeh lagi. "Aku belum puas. Aku ingin membuat Slave yang berbeda. Yang belum pernah ada. Yang kuat. Yang mampu mendekati kami. Yang sanggup tahan sinar matahari seperti saat dulu masih menjadi manusia, kalau bisa. Atau yang bisa menjadi monster sekalian khukhukhu..."
Aerith menyadari bahwa orang di hadapannya hanyalah ilmuwan sinting. "Kau sakit," komentarnya.
"Aku sakit?" balas Hojo. "Tidak, Nona. Itu adalah hasrat. Hasrat sejati seorang ilmuwan hahahahaha."
Kali ini tawa Hojo mengeras ke penjuru ruangan, membuat Aerith semakin muak. Kalau bisa, ia ingin kabur dari tempat memuakkan ini sekarang juga. "Manusia bukan bahan eksperimen!" serunya.
"Kau belum pernah sekolah?" balas Hojo. "Apa bedanya dengan pelajaran sains saat kalian harus membedah katak, tikus, ataupun ikan?"
Lagi-lagi perumpamaan seperti itu, batin Aerith mengernyit. "Manusia dan vampir sederajat," lanjutnya tak menyerah. "Beberapa perbedaan kecil justru bisa membuat kita saling melengkapi."
"Sederajat? Jangan membuatku tertawa," seru Hojo. "Kami memiliki apa yang tak manusia punya. Kami memiliki apa yang kalian semua, manusia, impikan. Kami tak mudah terserang penyakit. Sel kami lebih cepat beregenerasi. Kami juga punya kekuatan dan kecepatan yang jauh melebihi mereka. Dan satu hal, kami bisa hidup abadi hingga beratus-ratus bahkan ribuan tahun lamanya."
Aerith tak mengerti. Apa yang ia pahami dengan Zack tidak demikian. Manusia memiliki kelemahan dan kelebihan, begitu pula dengan vampir. Vampir memang memiliki apa yang tak dimiliki manusia tapi manusia juga memiliki apa yang tak dimiliki vampir. Mereka saling menyesuaikan diri dan berbagi kebutuhan bersama, itulah mengapa Zack memberitahunya banyak hal mengenai cara hidup vampir. Ia tak perlu sampai harus berubah menjadi vampir demi bersama Zack. Dan Zack tidak perlu berpura-pura dan memaksakan diri bertingkah seperti manusia demi bersamanya.
Dendam Cloud, kebencian Tifa, tujuan Barret... Aerith mendadak ingat hal itu.
Apa mungkin hanya kami berdua yang berpikir berbeda, pikirnya kemudian.
"Heh," lanjut Hojo merasa semakin ditentang. "Keberanianmu menyangkalku mengingatkanku pada para Cetra. Ya, persis seperti tatapanmu itu."
"Cetra?" Telinga Aerith tak bisa tak merespon kata itu.
"Kau tahu?" lanjut Hojo. "Aku menemukan cara ini saat memberantas mereka. Ini adalah cara yang paling jitu daripada membunuh mereka langsung, yaitu membuat mereka merasa hina pada diri mereka sendiri. Kami cabut harga diri dan kehormatan mereka sebagai Cetra. Lalu, mereka akan menghabisi nyawa mereka sendiri dengan air suci yang mereka agung-agungkan. Mereka lebih memilih mati daripada menjadi makhluk yang amat mereka nistakan. Sebuah tontonan yang menarik. Konon, moyang kami, Jenova, sudah melakukan cara itu."
Aerith perlahan mundur. Pantas saja vampir di depannya terasa familiar. Pantas saja ia bergidik memasuki ruangan ini. Hawa dingin yang menyelimutinya sama dengan hal yang menghantuinya lima belas tahun lalu. Yang membuatnya nyaris selalu sembunyi dan amat mencintai berkah langit biru cerah yang ia yakini bisa melindunginya. Hawa dingin yang ia lupakan. Perasaan takut yang ia lupakan...
"Mata emerald itu, rambut brunette ikal itu, kau tak asing," kata Hojo menengadahkan dagu Aerith. "Kukira kau sudah remuk terlindas kereta api saat menghindariku waktu itu."
...bahwa vampir di depannya adalah vampir yang mengejar-ngejar ibunya.
"Atau kau anaknya dengan profesor manusia itu?"
Aerith menggeleng-geleng keras. Namun dalam hatinya, ia tak bermaksud menyangkal keberadaan darah yang mengalir dari orangtuanya.
"Khukhukhu... Tseng rupanya justru membawakanku 'mainan' di kala aku bosan."
Dalam jarak yang begitu dekat langsung di depan tatapan Aerith, Hojo memperlihatkan wajah vampir yang sebenarnya.
Vampir yang bengis. Vampir yang ganas. Vampir yang haus darah.
Dengan air liur kuning busuk yang menetes-netes penuh nafsu ingin menerkam dari bawah sepasang taringnya. Dengan mata merah mengkilat yang memenuhi bola mata dan irisnya. Dengan urat nadi yang mencuat terlihat sampai ke pipi. Dengan kuku tajam bak silet yang siap menggores-gores kulit mulusnya.
Semua imej mengerikan dari vampir yang sudah ia lupakan sejak bertemu Zack.
Zack yang tampan. Zack yang memiliki senyum cerah. Zack yang memiliki mata indah.
"GYAAAAAAAAAAAA~!" jerit Aerith reflek menghindar saat Hojo menebaskan kukunya dan merobek pakaian menor merahnya yang belum sempat diganti sejak dari Honey Bee, Inn.
Aerith yang terhuyung-huyung ke belakang lalu menabrak tembok tepat di punggungnya. Ia berusaha menutupi payudaranya yang terlihat dengan kedua tangan. Pakaiannya telah terkoyak, membuatnya nyaris tanpa busana kini.
...Hanya Zack yang melepaskan kancing-kancing bajunya dengan lembut.
Hojo lalu menyambar tangan Aerith dan merentangkannya lebar ke kanan dan ke kiri. Ia cengkeram keras dan memaksa Aerith melorot terlentang di atas lantai. Ia mulai mengendus tubuh Aerith dari bawah. Menggerayanginya kasar dari perutnya, lalu ke belahan bukit dadanya, hingga sampai ke leher jenjangnya.
...Hanya Zack yang mencumbuinya dengan mesra.
Hojo mengangkat kepalanya sejenak sebelum menancapkan taringnya dalam-dalam di leher Aerith, membuat gadis itu membelalak begitu merasakan lehernya berdenyut-denyut karena darahnya disedot.
...Hanya Zack yang menggigitnya tanpa sakit.
"Za-" Dengan berlinangan air mata, Aerith hendak memanggil namanya tapi seruannya itu ia potong dengan sadar. Ia tahu.
... Zack tak akan datang menolong.
"TSEEEEEENG!" teriak Aerith dengan segenap tenaganya. "TSENG! TSENG! TOLOOOONG! TIDAAAAAK!"
Dalam beberapa detik, Aerith lalu merasakan tubuhnya begitu ringan. Tidak ada Hojo yang menghimpitnya. Mengerjapkan mata, ia bisa melihat pria yang dipanggilnya berjongkok di dekatnya. Ia tengah berusaha menyingkirkan sang profesor sinting dengan menahan taringnya dengan sebelah tangan. Tangan satunya ia rentangkan di atas kepala Aerith bagai tameng. Yang Aerith tahu, kecepatan luar biasa telah membawanya datang dalam sekejap. Ia amat sangat bersyukur bahwa Tseng ternyata tidak meninggalkannya.
"Kubilang, perlakukan dia dengan baik," ujar Tseng.
Hojo tidak ingin berdebat dengan sang Komandan Turks. Ia menarik kepalanya dari genggaman Tseng begitu saja dan merapikan jas labnya kembali. Melihat Hojo sudah tak ada niat untuk meneruskan aksi gilanya, Tseng lantas memakaikan jas hitamnya untuk menyelimuti Aerith yang setengah bugil. Gadis itu terisak di dadanya.
"Aku tak peduli dia 'calon' siapa karena dia spesial," sahut Hojo mengibaskan tangannya seperti isyarat mengusir mereka keluar laboratoriumnya. "Tapi kau boleh simpan dia sebelum aku berubah pikiran kembali dan lebih murka. Kau tahu kau tak bisa melawanku, Tseng."
Menanggapi dingin, Tseng pun membopong Aerith kembali dan melesat melewati pintu lab. Ia tak tahu jauh di belakangnya, Sang Profesor menemukan sesuatu. Hojo menyesap sisa darah yang masih menempel di sekitar bibirnya. Samar-samar, bisa tahu rasa darah di lidahnya sedikit berbeda dari yang biasanya. Aroma darah yang justru sangat familiar meski kapasitasnya mungkin hanya satu berbanding satu juta sel darah manusia yang barusan ia telan. Lantas, ia menyunggingkan seringai. Ia tak mungkin salah menyimpulkan meski kasus barusan adalah yang pertama ia temukan sepanjang hidupnya. Bukan, bahkan mungkin sepanjang sejarah.
Sebuah perpaduan tak terbayangkan antara darah murni sepertinya dan Cetra.
...
"Maaf, Aerith," kata Tseng menurunkan Aerith di sebuah ruangan terkunci lainnya yang tak kalah gelap, masih di lantai yang sama. Ia berbicara dari balik pintu. "Seandainya aku sendiri bisa melakukannya, kau tak perlu mengalami kejadian seperti tadi."
Aerith menempelkan diri ke pintu untuk mendengarkan Tseng. "Kau yang melakukannya pun, aku tak akan pernah mau menjadi vampir. Tapi, terima kasih untuk yang tadi."
"Bersikaplah baik, Aerith," lanjut Tseng. "Aku tak tahu apakah masih bisa membantumu besok. Selamat malam."
Aerith bisa mendengar derap langkah Tseng yang semakin kecil. Ia lalu duduk bersandar pada pintu. Tak ada jendela dan ia malas mencari saklar dengan meraba-raba dinding. Rasanya seperti terpenjara. Ia pun menggigil dan memeluk erat tubuhnya dalam balutan jas Tseng. Ia mengenal Tseng sebagai teman baik Zack. Vampir itu pernah mencari Zack yang kebetulan tengah berkencan dengannya. Dan dengan santainya, Zack mengenalkannya begitu saja padanya. Jika Zack percaya padanya, Aerith pun memutuskan untuk ikut percaya. Tseng termasuk pihak yang ia cari-cari karena kemungkinan besar paling tahu kemana Zack pergi. Dan Turks jelas memiliki hubungan seteru dengan AVALANCHE sejak puluhan tahun belakangan, salah satu hal yang ia ketahui dari Zack.
Harapan yang tak pernah pergi. Doa yang tak pernah terputus. Dan ia akhirnya bisa mendapatkan jawabannya. Kalimat Tseng bahkan masih menggema dengan jelas di kepalanya.
Zack telah mati.
...mati.
...mati.
...mati.
Ia lantas ingat Zack pernah bertanya padanya di pertemuan terakhir mereka sekitar sebelas minggu yang lalu. Dalam temaram lilin di dalam gereja, tepatnya di depan altar, tak jauh dari kolam suci...
.
.
"Aerith, kau manusia dan aku vampir, tak apa-apakah kita teruskan hal ini? Kalau kau balik pertanyaan itu padaku sih, aku tak menyesal dengan hubungan kita."
Aerith menggeleng pelan. "Selama kau bersamaku, tak ada yang perlu aku takutkan," jawabnya menautkan erat jari lentiknya pada jemari kokoh Zack. Kening mereka pun beradu.
"Yeah, aku akan melindungimu apapun yang terjadi. Tak akan kubiarkan vampir lain menyakitimu. itu sebuah janji," lanjut Zack lalu mengecupnya lembut. "Aku mencintaimu, Aerith," bisiknya.
Aerith memundurkan kepalanya sejenak untuk memperlihatkan senyumannya. Sebelum balas mengecup Zack, ia berkata sambil menyentil usil hidung kekasihnya, "Aku juga mencintaimu, Zack."
.
.
Janji hanya tinggal janji. Kenangan manis berubah menjadi kenangan pahit. Kekasihnya itu sudah tak ada di dunia ini lagi. Ia tak bisa melihat wajah tampannya lagi. Tak bisa tertawa mendengar lelucon atau melihat kekonyolannya lagi. Tak bisa marah mendengar gurauannya yang suka tak lucu itu lagi. Tak bisa merasakan sentuhannya lagi. Tak bisa balas mendekapnya lagi. Hanya hati hancur yang ditinggalkannya.
Dan air matanya yang sempat tenang karena pertolongan Tseng tadi kembali menetes.
"Zack...," ucapnya lirih sambil memegangi perutnya. Baru kali ini, kehamilannya terasa amat begitu sakit, "aku membutuhkanmu... Sangat membutuhkanmu..."
Aerith hanya bisa meringkuk sambil perlahan terpejam.
"Tifa," bisik Cloud, "sudah fajar."
Tifa pun mengangkat kepalanya dari bahu Cloud dan mengucek matanya. Dari sebuah lubang di atap yang lapuk, ia bisa melihat sinar fajar menyingsing yang menerobos masuk. Mereka tidur di dalam gereja Aerith yang kosong. Elmyra sebenarnya telah menawarkan tempat di rumah kecilnya untuk menampung sementara tapi mereka tidak ingin merepotkan dirinya lebih dari itu. Apalagi, Barret sudah menitipkan Marlene. Tifa juga dipinjamkan baju Aerith untuk mengganti baju menornya yang telah kotor, ia memilih yang roknya di atas lutut. Lagipula, gereja ini dan kolam air sucinya seperti telah menjadi lambang yang mampu membentengi mereka dari ancaman vampir. Membuat mereka bisa tidur dengan tenang meski hanya sebentar. Hanya saja, ia tak menyangka akan tidur semalaman dengan menyandarkan dirinya di bahu orang yang disukainya itu. Nampaknya, ia ketiduran begitu saja semalam.
"Kalau kau masih ngantuk dan lelah, lebih baik kau tidak usah ikut," lanjutnya.
"Tidak," jawab Tifa menggeleng. "Aku juga ingin menyelamatkan Aerith."
"Perlu kita tunggu sampai agak siang? Kurasa hal itu lebih menguntungkan."
"Jangan, lebih cepat lebih baik. Kita tak tahu bagaimana keadaan Aerith sekarang. Aku tak mau keadaannya memburuk dan kita terlambat. Ingat, dia sedang hamil, Cloud."
"Yeah, kau benar," ujar Cloud mengangguk. "Tapi kau harus persiapkan dirimu terhadap segala kemungkinan terburuk."
"Aku tahu. Aku akan mengeluarkan segenap kemampuan hingga batas maksimalku," jawab Tifa mengepalkan tangannya ke depan muka Cloud untuk menunjukkan kesungguhannya. Ia lalu bangkit dari kursi dan celingukan. "Ngomong-ngomong, di mana Barret?"
Cloud pun ikut berdiri. "Ia keluar sebentar. Katanya ingin mencari tambahan senjata. Pagi begini pasar sudah buka, kita tidak mungkin membongkar puing-puing 7th Heaven bukan? Ia menyuruhku untuk tetap menjagamu saja. Lagipula posisimu tenang sekali."
"Ugh..." Wajah Tifa memerah. Ia pun mengalihkan pembicarannya. "Apa Barret tidak tidur semalaman?" tanyanya. "Aku tidak mendengar dengkuran khasnya."
Cloud tertawa. "Orang itu mengorok justru saat ia tertidur sangat nyenyak bukan? Aku malah senang malam ini tidak terganggu."
"Sudahlah, Cloud. Malam kemarin adalah masa sulitnya."
"Yeah, masa sulit bagi kita semua," kata Cloud lalu melangkah ke dekat kolam. Ia menoleh ke kanan-kiri, mengamati setiap sudut dalam gereja yang waktu pertama kali datang hanya ia tahu bentuk luarnya saja. Ia pun bergumam, "Gereja ini..."
"Gereja kenangan," sambung Tifa menghampiri Cloud.
"Hah?"
"Kau bertemu Aerith di sini bukan?" ucap Tifa mengetes.
"Hanya di luar," jawab Cloud. "Waktu itu Aerith sempat mengajakku masuk untuk menemaninya menunggu seseorang. Tapi Turks ternyata telah mengawasi tempat ini."
Menunggui seseorang, Tifa membatin. Ya, harusnya ia sudah tahu sejak semalam. Ia lalu memandang ke arah altar. "Tempat suci ini seharusnya terlarang dimasuki vampir," lanjutnya. "Mereka semestinya tidak berani menginjakkan kaki ke sini. Kecuali..."
"Kecuali?"
Tifa merenung sejenak. Vampir adalah makhluk kegelapan. Mereka dibenci cahaya matahari. Hati mereka kotor dan hitam. Planet seperti telah mengutuk mereka. Dan gereja ini adalah tempat terdekat yang membuat batin tersambung pada Sang Penguasa. Lantas, vampir macam apa yang menjadi kekasih Aerith? Vampir apa yang tidak ditolak masuk gereja ini? Tidak, batinnya kemudian. Seperti air suci yang ternyata bisa membakar vampir, ada sebuah makna simbolis yang terkandung di dalamnya. Gereja ini pasti juga sama. Manusia sampah seperti Don Corneo juga otomatis tidak akan mau mendekati tempat ini.
Tidak semua vampir jahat. Tidak semua manusia baik.
"Kenapa vampir dan manusia bermusuhan? Bukankah kita sama-sama makhluk Gaia?"
Apa hal ini yang ingin disampaikan Aerith?
"Tifa?" panggil Cloud karena gadis itu belum juga melanjutkan kalimatnya.
BRAAAAAKKK! Terdengarlah suara pintu dibuka keras, membuat Cloud dan Tifa berbalik melihat siapa yang datang.
"Yo, guys. Maaf menunggu lama," seru Barret muncul sambil membawa sebuah kantong plastik hitam besar. "Aku mengumpulkan botol-botol ini untuk menampung air suci. Kubeli dari tukang loak. Senjata api hanya bisa dibeli di Wall Market, nanti kita lewat sana."
"Kau semangat sekali, Barret," ledek Cloud.
"Cih, kau sendiri biasanya juga tak pernah bertempur demi orang lain," balas Barret. "Pertempuran kita tak akan berakhir sampai bisa menumpas habis mereka dari muka bumi. Untuk itu, kita harus selalu punya energi lebih,"
Pertempuran sampai menumpas habis, pikir Tifa. Ia sadar bahwa AVALANCHE berisi orang-orang yang mendedikasikan diri untuk berperang melawan vampir. Dalam peperangan, akan ada banyak orang yang terluka dan bahkan mati. Dan 'perang' ini sudah terjadi sejak masa AVALANCHE yang pertama. Apa mungkin tujuan sebenarnya Aerith bergabung, bahwa apa yang disembunyikannya adalah...
"Oi, Teef," kata Barret menyodorkan kantong pada Tifa, memotong pikirannya, "segera tampung air suci ke sini. Kau tentu tak bisa terlalu mengandalkan tangan kosongmu untuk melawan keparat-keparat itu bukan?"
Dengan pelan, Tifa mengulurkan tangan untuk mengambilnya. "Aku nggak tahu..."
"Apa yang kau nggak tahu?" sahut Barret. "Kau tak percaya padaku?"
"Bukan itu," jawab Tifa. "Entahlah, aku nggak yakin pada perasaanku."
Ada apa ini, batin Barret. Sentimentil wanita lagi?
Sementara itu, Cloud pun meletakkan tangannya di bahu Tifa. "Aku tak tahu apa yang membuatmu mendadak bimbang. Tapi aku akan selalu ada untuk mengingatkanmu. Kamu pribadi yang kuat, Teef. Tifa yang kukenal seperti itu."
"Cloud..." tatap Tifa. Benar juga, Cloud sudah percaya padanya. Biasanya cowok itu protektif tapi kali ini Ia sudah memberikan tempat untuk dirinya bisa ikut berjuang bersama. Tujuan mereka hanya satu: menyelamatkan Aerith. Dan setelah itu, akan lebih mudah bagi Tifa untuk bertanya-tanya pada sahabatnya itu dari hati ke hati.
"Ehem! Yang semalam tidur bersebelahan itu belum cukup?" sela Barret. "Ngomong-ngomong, aku pinjam dulu uang kalian dari hasil menjadi Hostess itu ya?"
"BARRET!" seru Tifa dan juga Cloud.
Sekitar satu setengah jam kemudian, mereka bertiga turun di stasiun sektor satu Midgar. Mereka naik dari stasiun sektor 6 setelah ke Wall Market untuk membeli tambahan senjata api di sebuah toko khusus. Harga senjata api sangat mahal. Cloud dan Tifa terpaksa berbagi uang dari rekening mereka. Kalau dibilang terpaksa sih sebenarnya tidak terlalu karena toh mereka memiliki satu tekad dan tujuan yang sama. Hanya saja, mereka cukup sangsi dua buah beretta yang dibeli Barret akan banyak membantu karena peluru-peluru timah sudah diketahui tidak mempan. Dibanding Cloud yang piawai menggunakan pedang dan tahu cara itu lebih efektif, Barret memang sangat mengandalkan senjata api, sama halnya dengan Tifa dan tangan kosongnya. Botol-botol berisi air suci yang mereka bawa dalam tas masing-masing juga tidak efektif waktu dalam serangan karena harus mengambil dari tas, membuka tutup botolnya, baru menyemprotkannya. Satu hal yang terbayangkan adalah kombinasi peluru yang mengandung air suci, tapi tentu saja barang itu tak ada kecuali di masa depan. Namun, bagaimanapun juga, sedia senjata lebih baik daripada tidak sama sekali.
Tak lama berjalan kaki, mereka akhirnya berdiri di sisi gedung perkantoran yang berseberangan langsung dengan markas besar yang dituju.
"Kalau dipikir-pikir, kita datang tanpa rencana matang ya?" ujar Tifa mendongak ke sebuah gedung tinggi dengan logo yang sangat mereka kenal di gerbangnya.
"Menurutmu luas pabriknya berapa hektar?" timpal Cloud memandangi tembok-tembok tinggi yang mengelilingi area itu.
"Pasti ada lift menuju area bawah. Yang menjulang tinggi itu hanya tampak luarnya. Ingat, gedung itu juga dihuni manusia. Vampir tak mungkin di sana," jawab Barret. "Kita harus menyusup. Bagaimana kalau kita panjat temboknya?"
"Bukannya hal itu justru memandang kecurigaan orang lewat?" tanya Tifa lagi.
"Kibuli saja sekuritinya," lanjut Barret memberikan alternatif lain. "Bilang kita ada janjian dengan pejabat Shin-Ra. Kau pandai berkata-kata kan?"
"Kalau satpamnya mengkonfirmasi lewat telepon in line bagaimana? Mereka kan juga punya detektor logam yang bisa mengenali pedang Cloud. Orang asing seperti kita pasti diperiksa," tolak Tifa
"Aaaarrrghhh, apa ya?" sahut Barret mulai frustasi.
"Kau tak berpikir untuk langsung serbu dari pintu depan kan?" tanya Tifa mengingatkan Barret yang suka serampangan asal terjang. Ia lalu menoleh pada Cloud. "Ada ide?"
Cloud menunjuk. Tampak dua orang sekuriti memasang senyum dan menyapa ramah sekelompok orang yang ingin masuk. "Lihat orang-orang yang masuk itu. Itu seragam pegawai kan?"
"Menyamar lagi?" tanya Tifa menangkap maksud Cloud.
"Tak ada cara lain," jawab Cloud mengangkat bahu. "Kita cari orang-orang dengan pakaian seperti itu di peron kedatangan. Kita buat mereka pingsan dan curi pakaiannya."
"Sejujurnya, aku tak tega melakukan ini pada sesama manusia," ujar Barret. "Tapi apa boleh buat. Yang penting, kita tidak merampok uang dan surat-surat penting mereka."
Mereka pun kembali ke stasiun.
...
"Tak kusangka semudah ini," ujar Barret berbisik. "Kalau aku pemilik gedungnya, sudah aku pecat para sekuriti tadi. Padahal aku sudah deg-degan."
"Kita beruntung," sambung Tifa pelan. "Mereka bahkan tidak memeriksa co-card pegawai di saku kita. Padahal hal itu sangat penting jika tidak hapal tampang-tampang para pegawai yang berjumlah ratusan. Cloud benar, hanya dengan seragam, kita bisa masuk tanpa menimbulkan keributan. Untung saja ada baju yang muat untukmu, Barret."
"Jujur saja, ini kekecilan. Kurasa sebentar lagi, kancingnya akan lepas."
"Tifa," panggil Cloud. "Lalu, kita harus kemana?"
Cloud, Tifa, dan Barret tengah menyusuri koridor lantai dasar untuk menuju tangga darurat. Menggunakan lift terlalu riskan karena mereka berusaha menghindari kontak sebanyak mungkin dengan pegawai lain yang mungkin bisa mencurigai mereka. Di stasiun tadi, Tifa terpaksa mendekati dan merayu seorang pegawai dengan berpura-pura tertarik pada Shin-Ra. Ia memuji pegawai tersebut betapa hebatnya ia bisa bekerja di perusahaan Shin-Ra yang terkenal. Sementara Cloud dan Barret langsung menonjok pingsan di ulu hati dua pegawai lain yang mereka temukan, hal itu Tifa lakukan demi mengorek informasi karena mereka tak ingin mengikat dan mengancam mereka untuk membuka mulut seperti kelakuan penjahat.
"Pegawai itu bilang bahwa di bawah lantai dasar ini, ada tiga lantai," jawab Tifa. "UG1 dan UG2 tersambung ke basement mobil. Luas UG1 sama seperti luas lantai di atasnya dan isinya hanya pantry dan kantin. Luas UG2 sampai terhubung ke pabrik-pabrik yang ada di tengah area. Satu-satunya lantai dimana ia tidak memiliki izin akses adalah lantai paling bawah. Pintu lift lantai itu sampai dua lapis karena harus memiliki keycard. Ia tidak tahu seberapa luasnya dan apa saja ruangannya. Para petinggi Shin-Ra sering mengadakan rapat di lantai itu."
"Sudah jelas kan?" sahut Barret. "Kita akan ke lantai itu. Para vampir brengsek itu pasti sedang tidur di sana. Mungkin saja isinya kamar-kamar dengan peti mati di setiap kamarnya. Aerith juga pasti disekap di sana."
"Kau tidak bermaksud memeriksa setiap kamar untuk menghabisi mereka semua kan?" Lagi-lagi Tifa memperingatkan Barret. "Meski ini siang hari, tapi itu bawah tanah, dengan area yang mungkin seluas pabrik ini pula; belum tentu mereka tidur. Tujuan utama kita cuma mengeluarkan Aerith dari sini dan kabur secepat mungkin."
"Tapi keycard lantai paling dasar kan kita nggak punya," lanjut Barret. "Kalau lift saja sampai dua lapis, di pintu tangga darurat pasti juga ada."
"Mungkin ada yang bisa kita dapatkan di lantai UG2," kata Cloud. "Kalau kita beruntung lagi, barangkali ada keycard terjatuh. Vampir kan sering keluar-masuk di lantai itu."
"Kedengarannya mustahil," sahut Tifa. "Tapi siapa tahu."
Mereka pun turun lewat tangga darurat.
Jam dinding menunjukkan pukul 10:30 siang, di sebuah ruang pertemuan dengan lampu-lampu seadanya yang membuat keadaan di dalamnya tak ada bedanya dengan keremangan malam, duduk enam orang di meja lingkar. Mereka membicarakan agenda penting terkait bisnis seperti biasanya sampai Presdir Shin-Ra berceletuk.
"Ada tikus di lantai ini," katanya. "Satu, dua; tidak, tiga tikus. Aku bisa mencium bau darahnya."
"Kyahahaha, indra penciuman darah murni Anda memang hebat, Tuan Presdir," puji seorang staf wanita yang duduk di sebelahnya.
"Gyahahaha, karyawan bodoh mana lagi yang melanggar aturan?" timbrung seorang yang memiliki jenggot panjang. "Siapa yang ingin menyantapnya?"
"Tuan Presdir, biar saya yang menanganinya." Salah seorang lagi angkat bicara. "Kita tidak bisa terus-menerus membunuh setiap pegawai yang kebetulan masuk ke lantai ini dan mengeluarkan surat kematian karena kecelakaan kerja ke pihak keluarga mereka. Tahun kemarin saja sudah tiga kasus. Bisa-bisa masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap kita."
"Tak perlu bersikap lunak pada manusia, Reeve," timpal seorang yang berkepala botak. "Media bisa dibayar dengan uang. Mereka sudah tidak independen. Pihak keluarga yang mencoba mencemarkan nama baik kita kalau tidak terima bisa dibungkam. Kenapa takut? Kota terpadat di Gaia ini surga makanan."
"Palmer benar," sahut Presdir Shin-Ra. "Panggil Turks, suruh mereka sambut para tikus itu."
Hojo bangkit dari kursi empuknya, "Biar saya saja yang menyampaikan pada mereka. Kebetulan saya hendak kembali ke laboratorium."
Begitulah, Cloud, Tifa, dan Barret tidak tahu apa yang tengah menanti mereka...
bersambung...
Preview/Teaser Chapter berikutnya:
"Semua ini pasti menegangkan bagimu. Kau menikmatinya?" tanya Tseng pada Cloud.
"Aerith, kita pasti akan keluar dari sini," kata Tifa. "Bertahanlah."
"Presdir tewas! Bagaimana bisa?"
"Kota ini... Tidak, Planet ini akan menjadi milikku hahahaha," seru Sephiroth.
"Tak akan kubiarkan masa depan berada dalam genggamanmu," kata Aerith.
A/N: Nah, kalau chapter ini pasti benar rate-nya sudah harus M. Imej Hojo cocok tuh buat jadi pelaku pelecehan biadab XD.
Hmm, aku kejam banget ya sama Aerith? Genre kedua fic ini adalah angst, jadi itu sengaja. Dan ironis banget loh, sementara dia tidur menderita tanpa Zack di sisinya, eh Tifa malah enak-enakan tidur di bahu Cloud XD. Oya, buat yang kemarin ngira kalau Zack masih hidup, selamat kamu terkecoh! Banyak tuh fic Zerith yg kisahnya Zack udah mati. Tapi tenang saja, ntar di chapter 12 ada flashback utuhnya kok, termasuk lemonnya kalau mencukupi #plak. Pokoknya Eleamaya mau menjungkir balik percintaan vampir/manusia di saga Twilight. Zack/Aerith dijamin jauh lebih keren #pede.
Sori, werewolf-nya belum jadi nongol di chapter ini. Sekalian aza deh bareng Sephiroth di chapter depan. Pokoknya, chapter Crimson Fate akan panjang-panjang biar bisa selesai di chapter 20.
