Cerita sebelumnya: Di sarang, Aerith berharap bisa bertemu dengan kekasihnya –ayah bayi yang dikandungnya–, seorang vampir darah murni bernama Zack. Namun ia malah mendapatkan kenyataan menyakitkan bahwa Zack telah tiada tanpa diberitahu penyebabnya. Aerith lalu dibawa ke laboratorium Hojo untuk diubah menjadi vampir dan diperlakukan kasar serta tidak senonoh, beruntung Tseng menolongnya. Sementara itu, pihak AVALANCHE yang tersisa bertekad untuk menyelamatkan Aerith keluar sarang dengan rencana seadanya. Meski telah berusaha masuk diam-diam, Presdir Shin-Ra dengan indera vampirnya yang tajam mengetahui keberadaan tiga manusia tsb di lantainya...


CHAPTER 7

Sunyi.

Bagai tak ada tanda kehidupan.

Dengan lampu yang menerangi setiap lorong menyala kedap-kedip.

Bagai suatu dunia bawah dengan segala kemisteriusannya yang mengintai; Cloud, Tifa, dan Barret sadar mereka telah sukarela masuk ke area di mana mereka buta medan sama sekali. Tak ada papan berisi nama-nama ruangan ataupun denah lantai seperti yang mereka lihat di dua lantai sebelumnya. Sebagai pihak penyusup yang tengah bersembunyi sambil terus bergerak, mereka tahu bahwa jumlah orang-orang yang bersembunyi justru serasa lebih banyak. Entah ada di balik kamar-kamar yang tertutup rapat. Atau di lubang angin yang sejajar dengan koridor. Atau di sudut-sudut gelap yang tak tersentuh cahaya lampu. Para vampir itu mungkin saja bersembunyi untuk menerkam sekolompok kecil manusia di dalamnya.

Barret melihat arlojinya yang syukurnya masih bergerak meski kemarin malam ia kenakan terus saat insiden terjadi. Ia sampai tak percaya jarum jam baru menunjukkan pukul 11:00 siang. Area bawah tanah sama sekali tak terpengaruh peredaran matahari di atasnya. Pilihan paling tepat untuk para vampir bisa bernafas begitu bebas meski panasnya siang bagai memanggang permukaan planet. Ia pun hanya bisa mendesah.

Inilah sarang...

Dengan luas yang mampu menampung ratusan vampir yang akan siap meloncat keluar begitu malam tiba.

Yang terkamuflase begitu apik di balik bayang kebesaran Shin-Ra sebagai perusahaan raksasa.

Sudah dua jam lebih berlalu sejak mereka bertiga pertama kali menatap bangunan Shin-Ra. Selain berusaha menembus satpam tadi, waktu yang telah terlewat barusan mereka habiskan untuk mencari cara masuk ke lantai bawah tanah paling bawah. Dan seperti yang sudah Cloud bilang, sebagaimana para satpam di depan gerbang meloloskan mereka begitu mudah, kecerobohan juga tak luput dilakukan para vampir. Cukup lama bergerak sewajar mungkin agar tak dicurigai, rasanya bagai mustahil, keycard menuju lantai paling bawah itu sungguh tercecer tepat di lantai atasnya. Apa hal itu justru bukan perangkap? Entahlah, mereka bertiga tak ingin memikirkan risiko itu benar adanya.

Begitulah Cloud, Barret, dan Tifa tengah melangkah pelan menyusuri koridor-koridor yang bagaikan labirin di lantai bawah tanah itu. Tiba-tiba langkah mereka dikejutkan oleh sebuah suara.

GRRRROOOOOAAAAARRRRRR...

"Kau dengar itu, Cloud?" Tifa pun berbisik.

"Raungan," jawab Cloud menajamkan pendengaran. "Seperti suara raungan hewan buas."

"Brengsek," sambung Barret tetap memelankan suaranya. "Apa Shin-Ra sialan itu juga memelihara monster?"

"Mungkin itu salah satu monster yang pernah dikatakan Aerith," lanjut Cloud. "Vampir darah murni yang berubah menjadi berserk."

"Kalau ada dia, justru kita beruntung dong," lanjut Barret. "Monster itu kan juga melawan vampir."

"Tapi, lantai bawah tanah ini seperti bilik," sambung Tifa. "Bagaimana kalau ia sengaja dilepaskan untuk menyambut kita?"

"Berarti mereka mengambil tindakan bodoh," kata Cloud. "Membiarkannya berkeliaran seharusnya bukan perkara mudah untuk menjinakkannya kembali. Itulah mengapa Aerith bilang, para monster ini dieksekusi."

Tifa mengangguk, "Semoga saja suara itu berasal dari salah satu sel yang terkunci."

Barret mengangkat tangan, "Oke, oke. Aku tak akan buka pintu sembarangan."

Cloud berhenti di pertigaan koridor. Ia memandangi koridor di sebelah kanan. Pintu-pintunya seperti dari besi. "Kau benar, Tifa. Desain pintunya seperti sel."

"Aku hanya asal bicara karena kemungkinan besar monster itu dikurung di ruangan khusus," sahut Tifa. Ia ikut memandangi koridor yang ujungnya gelap itu. "Tapi, tak kusangka ruangan khusus itu sebanyak ini."

"Aerith mungkin di sini," bisik Cloud.

"Tapi bagaimana kita memeriksanya?" tanya Tifa.

"Sssst..." seru Cloud tiba-tiba menutup bibir Tifa.

Tifa memahami kode Cloud yang berdiri paling depan bahwa kemungkinan ada orang lain muncul. Mereka bertiga pun diam di tempat dengan kepala Cloud sesekali menyembul di balik persimpangan koridor untuk mengawasi keadaan. Benar saja, cowok pirang itu kemudian melihat seseorang dengan pakaian jas lab putih berjalan mendekat ke salah satu pintu, membukanya dengan kode tertentu, lalu masuk. Saat itulah, suara raungan monster yang mereka dengar dari tadi tersebut semakin keras.

"Monsternya pasti di situ," lanjut Cloud.

"Apa ia dimakan?" tanya Tifa.

"Huh, aku tak akan kasihan," sahut Barret.

Cloud kembali memberi isyarat agar Tifa dan Barret diam. Perkiraan kedua rekannya salah. Ilmuwan itu keluar tidak sendirian. Di belakangnya, tampak sesosok makhluk berbulu merah lebat di sekujur tubuhnya. Mulutnya berupa moncong dengan taring-taring sebagai keseluruhan susunan giginya. Telinganya runcing seperti telinga kucing dan ia mengenakan anting. Di kepala sampai punggunya terdapat rambut coklat seperti surai kuda. Kedua tangan dan kakinya diborgol dengan rantai yang agak panjang sehingga masih bisa memudahkannya bergerak. Salah satu lengannya memiliki tato bertuliskan XIII.

"Mundur," perintah Cloud karena melihat keduanya berjalan ke arah mereka bertiga.

Ketiga penyusup itu mundur beberapa langkah dengan tetap merapat ke tembok. Mereka mundur hingga jarak cahaya lampu di atas persimpangan koridor tidak sampai pada mereka. Meski demikian, mereka masih bisa melihat ilmuwan dan makhluk merah itu berbelok ke arah sebaliknya.

"Apa itu?" bisik Tifa bertanya-tanya. "Tidak seperti monster yang dibilang Aerith."

"Entahlah," jawab Cloud pelan, "seperti serigala tapi bukan."

"Yang pakai jas lab itu Hojo, kepala departemen sains," sambung Barret. "Ngomong-ngomong, kita tak akan mengikuti monster itu dibawa kemana, kan?"

Belum sempat Cloud menjawab, mendadak makhluk merah itu meraung melawan ilmuwan yang membawanya, membuat ketiganya kaget. Makhluk itu berbalik dan bertemu mata dengan mereka bertiga.

"Ia menyadari keberadaan kita!" seru Cloud.

"Oh Oh," ucap Barret panik karena ia tak membayangkan akan menghadapi seekor monster yang tampaknya lebih ganas dari vampir yang setidaknya masih mirip manusia dari segi wujud baginya.

Makhluk itu terus meraung menghasilkan gelegar gaung. Namun anehnya, makhluk itu tidak bergerak ke arah mereka. Ilmuwan berkacamata di sebelahnya juga tenang-tenang saja.

"Kau bisa merasakan mereka juga ya?" ujar Hojo tersenyum sinis.

Menyimak kalimat aneh sang ilmuwan, saat itulah Cloud tersadar bahwa makhluk itu meraung bukan karena ingin menyerang mereka melainkan memperingatkan bahwa sepasang mata merah tengah merayap di langit-langit koridor tepat di atas mereka.

"DI ATAS!" seru Cloud.

"APA?!"

Tifa dan Barret pun kaget saat seorang vampir yang mereka tengarai dari pakaiannya adalah Turks tiba-tiba melompat turun dan mengayunkan kedua tangannya yang penuh kuku tajam. Reflek, Tifa menghindar ke arah Cloud dan menabraknya sementara Barret mengambil langkah panjang ke belakang namun terpeleset. Vampir yang mendarat jongkok di antara dua orang tersebut kemudian dengan lenturnya memilih mendekati Barret yang tersungkur sendirian. Untungnya Barret sudah siap dengan senjatanya untuk menembak.

Namun, Turks yang menyergap mereka tidak hanya satu. Perhatian Cloud yang sempat teralihkan ke arah Barret dan Tifa kembali fokus begitu mendengar suara dari belokan.

"Semua ini pasti menegangkan bagimu," kata seorang Turks yang sudah tak asing baginya itu muncul. Dialah sang Komandan. "Kau menikmatinya?"

Cloud hanya bisa menggeram sambil mencabut pedangnya.

Pertempuran pun dimulai.


Aerith membuka mata. Matanya terasa berat. Selain itu, hidungnya juga terasa tersumbat. Entah sudah berapa banyak ingus yang keluar bersamaan dengan deras air matanya semalam. Seandainya ada cermin di ruangan itu, Aerith yakin ia akan mendapati matanya telah bengkak. Kepalanya juga terasa berat dan pusing, menangis benar-benar menguras tenaga. Ia juga tak tahu sudah berapa jam ia tidur karena suasana di sekelilingnya sama sekali tak menunjukkan perbedaan waktu.

Ia terbangun karena mendengar keributan, sepertinya tak jauh dari tempatnya berada. Ia pun mencoba untuk bangkit dan duduk, menempelkan telinganya pada pintu untuk mendengar lebih jelas meski tak bisa menerka apa yang sekiranya sedang terjadi. Namun, ia lebih nyaman dengan suara berisik itu daripada kesunyian yang menderanya. Setalah suara itu hilang, ia lalu bersandar pada pintu dan mengelus perutnya.

Bayi. Buah cintanya dengan Zack.

Apa bayiku baik-baik saja, batinnya. Ia ingat sudah membawanya ikut bertempur. Bersama Cloud saat menghadapi kejaran Turks. Bersama Cloud dan Tifa menghajar para preman bayaran Don Corneo. Dan beberapa ketegangan lainnya yang masih juga belum habis. Kalau bayi yang dikandungnya hanya manusia biasa, Aerith tak yakin apakah sang janin mampu bertahan atau tidak. Namun, ia juga tak yakin apakah sang ibu sendiri masih bisa melewati rintangan berikutnya atau tidak. Aerith merasa tubuhnya melemah. Ia haus dan lapar, sama sekali belum memasukkan apa-apa ke dalam mulut sejak pertarungan melelahkan di mansion Don. Dan, rasa lemasnya juga bercampur dengan anemia karena darahnya sempat disedot.

Aerith lalu berpikir bagaimana cara melindungi bayinya. Kalau satu-satunya cara agar tetap dibiarkan hidup sampai bisa melahirkan dengan selamat adalah dengan harus menjadi vampir seperti kata Tseng, ia akan melakukannya.


BRRUUKKK!

Reno dan Rude mendorong keras ketiga penyusup tangkapan mereka hingga tersungkur di dekat kaki sang Presdir Shin-Ra. Ya, mereka kalah. Dan tak hanya mereka bertiga. Makhluk merah itu juga ikut diseret oleh Hojo karena tadi sempat melawan untuk membantu para manusia tersebut, namun tentu saja ia tak bisa berbuat banyak karena dirantai. Menghisap cerutunya, sang Presdir cukup terkejut dengan hasil tangkapan tersebut jauh dari yang ia dan direksinya kira sebelumnya.

"Penyerbuan yang nekat sekali," ujarnya memiringkan kepalanya memandang Cloud, Tifa, dan Barret satu persatu sebelum menoleh ke sang Komandan Turks. "Hanya ini saja?" tanyanya.

"Anggota AVALANCHE yang tersisa sudah kami pastikan hanya mereka saja," jawab Tseng. "Yang lainnya sudah kami habisi di markas mereka."

"Bagus," puji sang Presdir.

"Di mana Aerith?" tanya Cloud mendongak dan memotong tanpa basa-basi.

"Aerith?" Presdir Shin=Ra mengangkat alis, sama sekali tak tahu.

"Kalian menyekapnya kan?" sambung Tifa.

Sang Presdir pun menoleh pada Tseng kembali. "Ada anggota AVALANCHE yang kau sembunyikan? Katamu yang tersisa hanya tiga orang ini saja."

Tseng tetap tenang meski sebenarnya tak ingin nama gadis itu akhirnya disinggung juga. Ia pun mengarang cerita. "Maaf lupa melaporkan. Kami memang sengaja menyekap satu untuk memancing sisanya datang menyelamatkannya. Saya tahu mereka akan lebih mudah diringkus di dalam coven," katanya dengan nada meyakinkan.

"Sudah kuduga," kata Barret. "Keycard yang tercecer itu juga pasti jebakan."

"Keycard itu untuk menguji kejujuran dan loyalitas pegawaiku," balas Presdir Shin-Ra menerangkan. "Mereka sudah diberitahu peraturan perusahaan untuk tidak menyentuh area ini. Pegawai yang tidak memiliki kualifikasi tersebut meski lolos tahap rekrutmen tidak pantas bekerja di Shin-Ra Corp. Manusia yang berkeliaran di area ini tidak bisa lolos dari indera penciumanku, aroma darah kalian mengundang kami semua untuk mengicipi."

"BANGSAT!" seru Barret. "Kalian semua memang X&*%^$#...!"

Umpatannya terhenti karena kepalanya diinjak oleh Turks lain bernama Nunchaku.

"Kalau begitu," lanjut Presdir Shin-Ra menatap Tseng kembali, "bawa gadis yang kau tawan ke sini juga untuk dieksekusi bersama teman-temannya."

Tak hanya Cloud, Tifa, dan Barret; mata Tseng juga menajam kaget. Kalau bukan karena orang-orang bodoh itu nekat kemari, usahanya melindungi Aerith pasti berjalan mulus. Ia lalu melirik ke arah Hojo yang sedari tadi hanya senyam-senyum saja sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya. "Maaf, gadis itu sudah saya serahkan ke Profesor Hojo untuk –" kalimatnya terpotong. Ia tak mungkin mengatakan seperti apa yang ia katakan pada Hojo semalam tentang alasan ia menyerahkan padanya. Kembali ia berbohong," –dijadikan spesimen barunya."

"Spesimen?" seru Tifa. "Kurang ajar! Aerith itu manusia."

Presdir Shin-Ra tak memedulikan Tifa. "Benar itu, Hojo?"

"Ia seorang Cetra, Shinra," jawabnya. "Aku yang bertanggungjawab menanganinya seperti biasa."

"Cetra..." gumam makhluk merah itu merespon. "Cetra masih ada?"

"Hooo," ucap Presdir Shin-Ra. Kemudian ia mulai berbicara dengan nada kesal. "Kalian semua bagaikan zombie. AVALANCHE, kukira kalian sudah mati setahun yang lalu," katanya menunjuk Barret, Cloud, dan Tifa. Ia lalu menunjuk sang makhluk merah, "Werewolf, kukira vampir suku Gi sudah memunahkan kalian. Dan, hmm, Cetra? Sudah 2000 tahun masih ada juga. Hebat! Sekarang ia bekerjasama dengan kelompok sialan ini."

Ia lalu mengambil pistol Barret yang disita Rude dan mengarahkan tembakan.

"TIFA!" seru Cloud bergerak cepat ke depan Tifa yang menjadi sasaran karena posisinya di tengah di antara mereka bertiga.

DOR!

"CLOUUUDD!" teriak Tifa melihatnya tersungkur menerima tembakan. Ia pun segera meraihnya dan menelentangkannya.

"Aaaarrrggghhh..." Cloud merintih pelan. Darah menetes dari bahunya.

"Ingat apa yang kalian lakukan pada alphard-ku tempo hari?" lanjut Presdir Shin-Ra kembali menarik tokalev untuk menyiapkan tembakan berikutnya. "Bagaimana kalau kalian merasakan rasanya dibombardir ganti? Manusia seperti kalian pasti langsung mati, menyedihkan bukan? Hahahahaha!"

Tak mau melihat moncong pistol yang kembali diarahkan padanya, Tifa pun memeluk Cloud sementara cowok itu justru menatapnya lekat dengan pandangan seolah berkata akan-kuhantui-kau-setelah-ini. Merasa kepalanya sudah tak lagi berat karena kaki Nunchaku beralih ke punggungnya, Barret menoleh ke arah Cloud dan Tifa, merasa tak bisa melindungi dua orang anggotanya. Sampai di sini sajakah, batinnya mengernyit, tahu nasibnya juga akan sama. Maafkan Papa, Marlene...

Dengan penuh seringai, Presdir Shin-Ra membidik ketiganya.

Cklek... Cklek...

Bulir keringat sudah meluncur turun di dahi Cloud, Tifa, dan Barret karena tegang.

"Cih, habis!" umpat Sang Presdir.

Ia lalu menyodorkan beretta di tangannya ke samping. Tseng yang mengerti isyarat tersebut lalu mendekat dan menerimanya dengan kedua tangan. Setelah itu, langkahnya kembali mundur tiga langkah.

Masih menatap wajah-wajah tak berdaya di hadapannya, Presdir Shin-Ra mengambil sehelai saputangan dari saku jasnya untuk mengelap kedua tangannya, bagai telah usai melakukan pekerjaan kotor. "Kalian beruntung. Kami tak memiliki persediaan senjata api. Hanya makhluk lemah seperti kalian yang membutuhkannya. Kuputuskan, cara mati kalian akan kami perlakukan dengan cara vampir."

Ketiga anggota AVALANCHE tersebut menggeram mendengarnya. Tubuh yang terkoyak. Lautan darah. Terbayang bagaimana mereka telah kehilangan orang-orang yang mereka sayangi di desa masing-masing sebelum ini.

"Kalian punya waktu bersantai hingga malam tiba. Saat itu, darah kalian akan mengisi gelas-gelas kami. Dan daging kalian akan menjadi hidangan utama yang lezat." Vampir berusia lebih dari separuh milenium tersebut kemudian berbalik dan melangkah ke arah pintu. Namun sebelum keluar, langkahnya berhenti sejenak untuk menoleh. "Kurung juga 'anjing' itu bersama mereka."

Para Turks yang ada di ruangan tersebut segera memaksa Cloud, Tifa, dan Barret berdiri.


Aerith hampir kehilangan kesadaran kembali saat mendapati kepalanya tertunduk-tunduk meski telah ditegakkan berkali-kali.

DRAP! DRAP! DRAP!

Terdengarlah derap kaki yang membuatnya melebarkan mata. Berpegangan pada handle pintu, ia pun perlahan berdiri untuk menyambut siapa yang datang. Awalnya ia mengira Tseng datang kembali. Tapi suara kakinya terdengar begitu keras dan banyak. Bukan hanya itu, suara keras itu berasal dari umpatan mulut yang melawan. Aerith pun mengenali suaranya.

"Cloud! Tifa! Barret!"

"Aerith?" sahut Cloud. "Aerith, kau di situ?"

"Lepaskan!" teriak Tifa menyentakkan lengannya yang digapit dua orang Turks wanita agar terlepas. Ia berusaha menyender pada pintu yang di dalamnya terdengar suara Aerith. "Aerith!" panggilnya.

"Yo, Nona. Kau masih hidup kan?" tanya Barret.

"BERISIK!" Terdengar suara Tseng disertai suara pukulan. Lalu, terdengarlah suara rintihan.

"Tseng! Tseng!" teriak Aerith. "Apa yang kau lakukan pada mereka? Kau janji..."

"Mereka sendiri yang menyelinap," potong Tseng langsung menjawab.

"Jadi...," ucap Aerith. Jangan-jangan suara keributan yang tadi berasal dari mereka. "Kalian datang? Kalian datang untukku?"

"Aerith, maaf..." kata Cloud.

"Kalian datang, sudah berarti bagiku," jawab Aerith.

"MASUK!" seru Reno mendorong Cloud dan Tifa kedalam kamar kosong hingga mereka terjatuh keras di lantai. Sementara itu Rude mendorong Barret ke kamar yang lain. Dan ternyata si manusia serigala juga dimasukkan ke kamar yang sama dengannya.

Usai mengunci kedua pintu, para Turks itu kemudian meninggalkan lokasi. Tseng sempat berhenti sebentar di depan pintu Aerith. Ia ingin menanyakan keadaannya, tapi hal itu ia urungkan karena tak mau terlihat perhatian padanya.

Ruangan tempat mereka dikurung tidak kedap suara. Cloud dan Tifa segera berbicara dengan Aerith yang ada di kamar sebelah.

"Bagaimana keadaanmu, Aerith?" tanya Cloud.

"Begitu kalian datang, aku langsung merasa baikan," jawabnya riang.

"Tapi, kau sedang hamil kan? Apa benar tidak apa-apa?" sambung Tifa. "Sebagai sesama perempuan, aku sangat mencemaskanmu."

Aerith tak langsung menjawab. Apa perutku sudah kelihatan begitu buncit, pikirnya. "Kalian bertemu ibuku?"

Tifa kemudian menjelaskan apa yang mereka bertiga lakukan setelah para Turks pergi dari 7th Heaven. Aerith pun sangat lega Marlene tak apa-apa. Tifa sebenarnya ingin melanjutkan ke pertanyaan yang paling mengganjal di hatinya, tapi ia bingung merangkai kata takut-takut akan melukai perasaan Aerith. Dilihat dari keadaan sahabatnya yang masih terkurung itu, kemungkinan besar kekasih yang dicarinya tak ada di sini. Sebab kalau ada, jika vampir itu benar-benar mencintainya, ia pasti sudah akan membebaskan Aerith dan membawa ke ruangannya. Atau, setidaknya ia sudah mengunjungi Aerith. Bertanya padanya sekarang pun, dengan mengobrol keras-keras melewati dinding pembatas sehingga bisa didengar oleh semuanya, tentu kondisi tersebut sangatlah tidak nyaman bagi perempuan.

Gadis bermata coklat itu menunduk. Apa kami semua masih bisa keluar dengan selamat dari sini bersama-sama?

Cloud lalu beralih ke dinding sebelah, tempat di mana Barret berada.

"Barret?" panggil Cloud. "Kenapa kau diam saja? Bagaimana perasaanmu dikurung bersama werewolf?"

Lelaki negro besar itu merasakan nada sindirian dari anggotanya yang paling belagu. Ia tak habis pikir bagaimana Cloud masih bisa santai padahal sudah tertembak begitu?

"Ajaklah dia berbicara," lanjut Cloud.

Barret tak tahu posisi werewolf itu di sebelah mana karena ruangan tersebut gelap gulita. Saat cahaya dari koridor tadi masih ada sebelum pintu ditutup, ia langsung mengambil posisi di pojokan. Ia pun mencoba membuang ketakutannya, toh werewolf itu sudah berusaha membantu mereka di pertempuran tadi bukan?

"Hei," seru Barret memanggil werewolf itu. "Kalau nggak salah tadi kamu mengenalkan namamu pada kami, Red XIII kan? Kenapa kamu bisa ada di sini? Dirantai pula. Apa vampir juga menjadi musuhmu?"

"..."

"Bicaralah," lanjut Barret. "Kau membosankan."

"Cetra..." ujar Red XIII. "Gadis yang di sebelah sana itu Cetra?"

Cloud pun segera menyahut. "Kau tahu Cetra?"

"Aerith," panggil Tifa. "Ada yang tahu tentang Cetra."

"Benarkah?" sahut Aerith. "Bisa Anda ceritakan padaku, Tuan?"

"Hanya pernah mendengar, kakekku yang tahu banyak," jawab Red XIII. "Tapi kurasa, para lintah itu memandang kami sama."

"Lintah? Maksudmu vampir?" kata Cloud mempelajari sebutan itu. "Lalu, di mana kakekmu? Apa ia masih hidup?"

"Rumah kami terletak di Cosmo Canyon. Kalau bisa keluar dari sini, aku mau kembali ke sana," lanjut Red XIII.

"Kalau bisa keluar...," sambung Barret lirih.

Semua terpekur lesu. Cloud berpikir apakah saat pintu dibukakan nanti, mereka masih bisa melawan untuk kabur. Tifa tak ingin membicarakan pada Aerith kemungkinan terburuk yang dijanjikan Presdir Shin-Ra tadi, menebak bahwa nasib mereka akan berbeda meskipun sama-sama buruk, dijadikan santapan malam ataukah spesimen. Sementara itu, Aerith tak mau memikirkan apakah ia masih sanggup bertemu mereka jika dirinya sudah dijadikan vampir, makhluk yang teman-temannya amat benci, meskipun ia berharap semoga hatinya tidak ikut diubah menjadi musuh mereka.

Cloud pun berbicara pada semuanya, "Lebih baik kita istirahat. Kita kurang tidur semalam dan pertarungan tadi cukup berat."

Aerith sebenarnya lebih ingin mengobrol banyak dengan mereka karena ia sudah kebanyakan tidur semalam. Ia pun tak bilang apa-apa dan mempersilakan mereka semua beristirahat.


Waktu pun sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Terduduk di kursi direktur yang empuk di ruangannya, Presdir Shin-Ra memanggil sekretarisnya. Sekretaris anggun itu mendekat ke mejanya dan Sang Presdir pun menarik lengan cantiknya, membuatnya terduduk di pangkuan bosnya.

"Apa undangan pesta untuk para pemegang saham sudah disebar semua?" bisiknya sambil mendesah di telinga sekretarisnya.

Sekretaris tersebut membacakan kopian yang ada di tangannya. "Oh, untuk agenda gala dinner dengan hidangan spesial dari AVALANCHE itu, Tuan?"

"Ya," lanjut Presdir Shin-Ra. "Kalau sudah berkumpul semua, aku akan ke atas."

"Saya sudah mendapat balasan surat elektronik bahwa dua orang berhalangan hadir. Yang lain sudah berkumpul, Tuan sudah bisa naik ke ruang pertemuan sekarang."

"Oh, terima kasih."

"Kalau begitu, apa saya sudah boleh permisi, Tuan?" tanya sang sekretaris karena punggung dan pahanya masih dielus-elus oleh sang Presdir.

"Hooo, nanti dulu. Tunggu sebentar lagi, manis."

Kalau sudah begitu, sang sekretaris tak bisa menolak. Toh, ia juga menikmati cumbuan itu. Mereka tak melihat bahwa di pintu yang menghubungkan dengan ruangan Wakil Presiden di sebelah, seorang pria muda dengan rambut pirang klimis memandangi mereka. Setelah jengah juga, ia pun melangkah ke pintu utama untuk keluar.

"Mau ke mana kau?" tanya Presdir Shin-Ra.

"Keluar cari makan," jawab pria muda itu.

"Pukul segini? Manusia sudah tidur."

"Di Sektor 6 masih banyak yang bangun."

"Tidakkah kau mendengar barusan, kita akan pesta malam ini?"

"Itu kan acara Ayah."

"RUFUS!" bentak Presdir Shin-Ra. "Bersikaplah baik malam ini. Atau aku tak akan pernah menyerahkan tampuk pimpinan perusahaan padamu."

"Oh, kukira hal itu tak pernah terlintas di benak Ayah untukku yang berdarah campuran ini. Bukankah Ayah lebih membanggakan anak Hojo untuk memimpin kaum kita?"

"Kau anakku, kaulah yang kubekali pelajaran bisnis."

"Bisnis ya? Hubungan kita memang hanya bisnis," sahut Rufus dingin. "Baiklah, aku akan mendampingimu dalam pesta itu, Ayah."

Presdir Shin-Ra lalu menyuruh sekretarisnya untuk menyingkir. Tak lupa ia memerintahkannya untuk memanggil Turks agar bersiap mengeluarkan para tahanan untuk dibawa ke ruang pertemuan. Ia pun mengenakan jas putihnya dan berjalan menghampiri Rufus. Mereka berjalan bersama ke lantai 70.


Barret melihat arlojinya yang bisa bersinar di kegelapan. Ia ingat sekitar pukul lima, Red XIII dibawa keluar. Lalu sekitar pukul sebelas, ia bisa mendengar giliran Aerith yang dibawa keluar. Cloud dan Tifa jelas bertanya, dan mereka sempat diberitahu bahwa Red XIII dan Aerith dibawa ke laboratorium untuk keperluan yang berbeda dengan AVALANCHE. Karena itulah, mereka disuruh untuk tidak membuang-buang tenaga dan pikiran untuk memikirkan keduanya. Barret pun yakin, sebentar lagi giliran mereka bertiga.

Barret lalu menoleh ke dinding di sampingnya, mengira-ngira apa gerangan yang tengah kedua sejoli itu lakukan di sebelah.

"Tifa, kau takut?" tanya Cloud.

"Sedikit," jawab Tifa pendek. "Kau?"

Telah membiasakan diri dalam kegelapan, Cloud dapat melihat Tifa yang duduk berhadapan dengannya. Ia pun menjulurkan tangannya dan menyentuh pipi Tifa. Kalau memang mimpi-mimpi buruknya adalah sebuah firasat akan masa depan, mungkin yang akan ia hadapi tak lama lagi akan menjadi kenyataan. Ia tak menyalahkan kondisi yang telah mereka pilih meski sejak awal tahu bahwa masuk ke sarang vampir hanya bertiga dengan tanpa rencana matang adalah tindakan bodoh. Bahwa jika ia tak melakukan itu, sementara ia tahu Aerith menderita di sini, maka ia tak bisa disebut manusia karena tak berperasaan.

Begitulah, Cloud lalu menarik Tifa dan memeluknya.

"Mungkin ini terakhir kalinya kita bisa bersama," lanjutnya. "Meski demikian, aku... Aku berjanji, aku akan melindungimu sampai akhir."

"Cloud..."

Ternyata Cloud yang di hadapannya masih Cloud yang sama. Tifa masih ingat betul Cloud juga mengucapkan kalimat itu kala Sephiroth membantai seisi desa. Tapi justru hal itu yang membayanginya, memikirkan bagaimana mereka mungkin akan terpisah lagi. Ia hanya bisa percaya sepenuhnya pada cowok itu. Cloud itu kuat, batinnya. Nyatanya ia bisa lolos dari pembantaian di Nibelheim. Nyatanya, ia masih tampak sehat meski tertembak di bahu. Kali ini juga pasti akan sama, pikirnya optimis.

Ya, selama kami terus bersama, kami berdua tak akan menyerah meski ketakutan.

"Cloud, sebenarnya..." kata Tifa menarik kepalanya tapi kedua tangannya tetap digenggam Cloud, "ada banyak hal yang ingin kusampaikan padamu."

"Hmmm... Aku tahu, Tifa."

"Oya? Kau tahu?"

"Menebak. Karena mungkin yang ingin kusampaikan padamu juga sama."

"Kalau begitu, bagaimana kalau kau yang mengutarakan duluan?"

"Euh, aku?" Mendadak Cloud kikuk. Tapi, kalau tidak sekarang mungkin kesempatan itu tak akan datang lagi, pikirnya. "Baiklah, Tifa. Dengar, aku..."

Cahaya pun masuk saat pintu ruangan mereka terbuka dan memunculkan wajah sang Komandan Turks. Mereka sampai tak mendengar suara langkah kaki vampir itu karena tengah bercengkrama.

"Aku yakin kalian sudah bosan menunggu," kata Tseng cuek padahal mendapati wajah dua orang itu berdekatan. Ia lalu memberi isyarat pada dua Turks di belakangnya, Reno dan Nunchaku untuk memberdirikan Cloud dan Tifa, sementara ia membuka kunci pintu sebelah di mana Barret berada. "Para pejabat sudah lapar," lanjutnya.

Saat itu, rasanya Tifa tak ingin melepas genggaman tangan Cloud.


Sementara itu di dalam lab, Aerith dibaringkan di sebuah dipan. Ia tadi menjalani serangkaian tes yang ia tak tahu tujuannya. Hojo sibuk menguji reaksi kimia di tabung-tabung elemenyer yang dipanaskan dengan spritus. Urin dan darahnya dituangkan di situ. Tatapan Aerith kemudian beralih ke tabung kaca besar. Makhluk yang ia perkirakan adalah Red XIII yang siang tadi sempat berbicara dengannya dan AVALANCHE berada di dalamnya. Aerith tak tahu wujud Red XIII yang sebelumnya, tapi ia merasa kalau makhluk yang ia lihat itu sudah diubah. Ia tak tahu apakah Red XIII masih bisa berbicara atau tidak. Makhluk itu tertelungkup diam di atas keempat kakinya.

"Kau positif hamil," kata Hojo mendekati Aerith. "Kemarin saat menghisap darahmu, aku hanya menerka. Tapi kini, sampel darahmu telah membuktikan bahwa janin yang kau kandung adalah setengah vampir. Turks itu berkata bahwa kau adalah 'calon' seseorang. Dan kurasa, ia tak tahu-menahu bahwa kau dan seseorang yang ia maksud itu telah melangkah sejauh ini. Siapa dia?"

Aerith diam saja.

"Baiklah, Nona Faremis. Kau tak perlu menjawabnya karena aku bisa tahu siapa dia."

Faremis? Mungkin itu marga ayah kandungku yang dulu bekerja di sini, pikir Aerith. Ia bersyukur marga ibu angkatnya tak diketahui. Ia sungguh tak ingin melibatkannya.

Hojo melanjutkan berbicara. "Sebenarnya masih perlu tes lagi untuk menguatkan dugaanku tapi dilihat dari Turks itu memperlakukanmu, ia pasti mengenal baik orang itu. Dan, bukan vampir sembarangan yang bisa menjalin hubungan dengan Turks –apalagi komandannya– selain jajaran direksi. Kecuali kalau vampir itu adalah darah murni. Dan dari usia janinmu, kupikir akulah orang yang terakhir kali bertemu dengannya sepuluh minggu yang lalu."

Hojo terdiam sebentar lalu ia mendekatkan kepalanya pada Aerith, melepas kacamatanya, dan melotot sambil mengucap sebuah nama yang membuat Aerith reflek tersentak.

"Zack Fair."

"Kau apakan Zack?" seru Aerith membenarkan. "Kau apakan dia?!"

Menjauhkan jarak, Hojo pun terkekeh. "Aku tak melakukan apa-apa. Ia mati karena kesalahannya sendiri. Seharusnya ia tak perlu kabur saat itu."

"Oh, Zack..." Gadis berambut brunette itu pun kembali terisak.

"Lupakan dia, aku barusan mendapat ide penelitian yang jauh lebih menarik daripada mengorek hal itu," kata Hojo lalu mengangkat kedua tangannya. "Darah murni dan Cetra? Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Aku akan mengajukan proposal pada Shinra. Kau dan bayimu akan jadi objek penelitianku yang berharga, khukhukhukhu... "

Aerith hanya bisa mengernyit memandang profesor gila itu. Ayahnya, ibunya, dan kini kekasihnya; semua orang yang ia sayangi telah direngut darinya. Apa anakku akan direngutnya juga?

"Kalau begitu, aku masih bisa mengikuti pesta," kata Hojo melihat jam dinding. "Pekerjaan ini tak bisa diselesaikan sekarang karena akan butuh waktu bertahun-tahun,"

Apa katanya? Bertahun-tahun?

Hojo pun hendak meninggalkan Aerith. Namun sebelum itu, ia ingat. "Oya, teman-temanmu yang akan menjadi jamuan utamanya."

Aerith tak mengerti apa maksudnya dan Hojo pun benar-benar keluar laboratorium. Cloud, Tifa, Barret, batinnya. Oh Gaia, apa yang akan mereka lakukan terhadap teman-temanku? Tak lama, ia mendengar suara ketukan dari tabung Red XIII. Makhluk itu ternyata masih hidup. Dan ia masih bisa berbicara.

"Aku mengendusnya," ujarnya. "Ada seorang vampir berkekuatan sangat besar tengah melayang di atas gedung."

"Di atas gedung?" Aerith bertanya-tanya. "Bagaimana kau mengendus sejauh itu?"

"Sama seperti vampir mampu mengendus manusia; kami, para werewolf, bisa mengendus mereka."

"Kau bilang tadi melayang." Apa itu artinya ia punya sayap, pikir Aerith. "Jangan-jangan..."


Di saat malam seperti ini, para vampir lebih suka menggunakan gedung utama untuk aktivitas mereka. Di dalam ruangan pertemuan tersebut, ada sebuah jendela kaca yang sangat besar, yang selalu ditutup tirai saat siang. Sambil mengadakan pertemuan, mereka bisa melihat pemandangan Midgar yang gemerlap cahaya di bawahnya.

Begitu Presdir dan wakilnya datang, semua pun berdiri menyambutnya. Setelah bersalaman dengan mereka satu persatu, Presdir Shin-Ra duduk di kursi yang membelakangi kaca. Ia pun menyampaikan maksud mengundang para koleganya, termasuk jajaran direksi kecuali Hojo yang lebih memilih melakoni pekerjaannya malam itu. Ia meminta mereka bersabar menunggu karena sebentar lagi Turks akan mengantarkan hidangan ke hadapan mereka. Kemudian, empat pelayan masuk untuk meletakkan piring kecil dengan gelas sampanye pada semua tamu.

Sepertinya pesta akan berjalan meriah.

Ya, sangat meriah.

Dengan kemunculan sebuah sayap hitam besar tampak menggambang di balik kaca...

bersambung...


Next Chapter Teaser/Preview:

"KABUUURRRR!" seru Barret.

"Aku melihat 'mainan'mu di sana," kata Hojo pada Sephiroth.

"Gadis itu hanya punya satu pilihan," kata Sephiroth, "yaitu mati kucabik-cabik."

"Kau salah, Sephiroth. Vampir justru lebih lemah daripada manusia," kata Zack lantang.


A/N: Hehe, bisa nggak ya kalian ngebayangin Nanaki dalam wujud seekor werewolf, bukan serigala? Intinya, bayangin aza deh Nanaki itu berdiri XD. Tapi, udah kubalikin jadi hewan berkaki empat sih. Lagian, rencananya Cait Sith juga mau kujadikan kelelawar #plak.

Btw, rasanya ga cuma Don Corneo. Baik Presdir Shin-Ra kubuat jadi orang mesum semua hehehe. Sifat Rufus juga mungkin agak kuubah. Soalnya aku kebayang dia yang di AC terus bukan yg pas masih jahat di original game hehehe. Agak susah juga ya karena blom pernah maen.

Dan, pesan khusus buat kembaranku tersayang, Wind Scarlett. Maaf banget dengan cliffhanger-nya. Ternyata satu chapter lagi-lagi nggak cukup kalau untuk semua adegan yg aku bayangkan di teaser sebelumnya. Ya udah deh. Paling oke dipotong di situ sih chapter-nya.