Cerita sebelumnya: Cloud, Tifa, dan Barret bertemu dengan werewolf bernama Red XIII saat mereka tengah menyusup, mereka berempat tetap tak bisa melawan para Turks sehingga dijebloskan ke dalam sel. Sorenya, Red XIII dan Aerith dibawa kembali ke laboratorium. Oleh Hojo, Red XIII diubah menjadi serigala permanen sedangkan kehamilan Aerith dengan vampir ketahuan. Sementara itu, anggota AVALANCHE menunggu waktu eksekusi mereka di tengah pesta vampir yang diselenggarakan Presdir Shin-Ra. Namun, sepertinya mereka kedatangan tamu lain...
CHAPTER 8
PRAAAAANNGGGG...
Kaca besar itu pecah secara tidak wajar. Bukan karena ditembus oleh makhluk bersayap di belakangnya, sebab kaca tersebut seperti berhamburan terbang dengan kecepatan tinggi ke dalam ruangan. Orang-orang di dalamnya pun reflek melindungi kepala. Beberapa dari mereka tergores dan tertancap meski bagi vampir, luka seperti itu bukanlah sesuatu luka yang berarti. Begitu hujan kaca dirasa berhenti, mereka pun perlahan menurunkan tangan yang menutupi wajah mereka, ingin melihat apa yang terjadi.
Makhluk itu masuk dan melangkah di antara pecahan-pecahan kaca yang bersererakan di bawah kakinya. Bunyi kaca pecah pun menghiasi ruangan yang terdiam kala ia menginjaknya. Angin yang masuk dari belakang mengibar-kibarkan rambut peraknya yang lurus panjang. Bibirnya yang pucat menyunggingkan senyum jahat. Melipat sayapnya, ia berhenti tepat di samping Presdir Shin-Ra.
Seolah ingin menyapa semuanya, sepatah kata pun keluar dari mulutnya. "Pesta ini untuk menyambutku, Sang Pemimpin Baru, bukan? Sudah saatnya Shinra lengser."
Tentu saja hal itu membuat telinga Presdir Shin-Ra di sebelahnya panas.
Masih di lantai bawah tanah, rombongan Tseng tengah menunggu lift yang turun dari lantai puluhan. Elevator tersebut tampaknya cukup sibuk untuk mengangkut orang yang hendak berpesta. Saat itulah, ponsel di saku jasnya bergetar.
"Dari Rufus," katanya pelan lalu menekan tombol "next" untuk membaca pesannya. "APA? SEPHIROTH MUNCUL?!"
Kontan saja hal itu menarik perhatian Cloud, Tifa, dan Barret.
Tseng menutup flip ponselnya. Ia tak bisa meninggalkan pengawasan para terpidana mati di belakangnya tapi sebagai komandan, ia jugalah yang paling tahu bahwa tujuan utama Turks dibentuk adalah untuk pengawalan terhadap Presiden dan wakilnya serta menyingkirkan segala potensi ancaman. Dan dari isi pesan Rufus, insting Tseng mengatakan situasi di ruang pertemuan tampaknya lebih genting.
"Reno, panggil yang lainnya, aku akan ke atas duluan menggunakan tangga. Nunchaku, bawa mereka kembali ke dalam sel. Ini keycard-nya," perintahnya.
Tseng dan Reno segera melesat menghilang dari pandangan Cloud, Tifa, dan Barret. Melihat mereka bertiga ditinggal dengan hanya seorang Turks yang tampak sangat muda, situasi sepertinya berubah menguntungkan.
Sementara itu, di lab...
"Cetra," panggil Red XIII, "keluarkan aku dari sini."
"Namaku Aerith," balas gadis itu turun dari dipan dan mendekat ke tabung. "Bagaimana caranya?"
"Masukkan kode di panel pengontrol itu lalu tekan tombol hijau untuk membuka," lanjut Red XIII.
"Tapi delapan digit kodenya?" tanya Aerith membaca petunjuk di layar.
"94123156."
Aerith pun segera memencet keypad sesuai perkataan Red XIII. Setelah menekan tombol hijau, tabung kaca yang mengurung Red XIII tersebut turun. Serigala merah itu lalu melompat keluar.
"Hebat, bagaimana kau tahu?"
"Aku sudah sering keluar-masuk lab ini dan mengamati keypad mana saja yang dipencet. Profesor yang mengaku pintar itu ternyata cukup bodoh untuk tidak mengganti kodenya. Vampir terlalu sombong untuk tahu kalau bangsa kami memiliki rekam memori yang kuat." Red XIII lalu melakukan perenggangan pada kaki-kaki barunya. "Kita akan keluar. Dari dalam, pintu lab itu tak cukup pengaman. Dan pada jam-jam seperti ini, tak banyak lintah berkumpul di sarang karena mereka berkeliaran di kota sampai pukul empat pagi."
Aerith mengangguk mengerti.
"AAAAAAA!"
Seorang vampir pelayan wanita sempat menjerit di ruang pertemuan sebelum Sephiroth melemparkan garpu yang tepat menancap dalam di lehernya. Jeritan itu beralasan, sebab Sephiroth meremukkan kepala Presdir mereka dalam sekejap sebelum terjadi perlawanan yang berarti bagi vampir tua itu. Bola mata Sang Presdir menggelinding dari tengkoraknya begitu Sephiroth meremasnya semakin keras. Dan akhirnya, kepala itu pecah berhamburan.
Sisa tubuh yang ada pun perlahan berubah menjadi abu.
Meski jumlah vampir di ruangan itu cukup banyak, namun mereka merasakan aura intimidasi yang amat kuat darinya. Yang ada di hadapan mereka bukan vampir biasa. Sayap itu menunjukkan bahwa Sephiroth telah bertransformasi ke wujud iblis, wujud yang paling mendekati moyang mereka, Jenova. Dan intimidasi itu tidak main-main. Mereka tahu...
Wujud itu tak seharusnya memiliki akal dan kesadaran.
Kondisi yang selama ini dimanfaatkan sebagai celah untuk menghabisinya.
Dan yang biasanya mendapat tugas serta memiliki kemampuan untuk mengeksekusi vampir-vampir macam ini tidak lain tidak bukan adalah para darah murni sendiri.
"Zack Fair!" seru seorang vampir tamu. "Panggil Zack Fair."
Sephiroth tertawa keras mendengar nama yang dikenal paling banyak mengeksekusi vampir-vampir berserk itu disebut. "Hanya orang dungu yang masih meminta pertolongan pada vampir yang bahkan sudah membuang kaumnya itu."
"Apa?"
Sephiroth mengerti pandangan-pandangan bingung tersebut. "Shinra masih suka tutup mulut atas beberapa informasi rupanya. Kalian masih percaya orang sepertinya? Berterimakasihlah padaku yang sudah membuka mata kalian."
Sephiroth lalu mengelilingi meja, meninggalkan hawa dingin pada setiap kursi terisi yang dilewatinya. Vampir-vampir tersebut meski mempunyai kedudukan terhormat dalam perusahaan dan merupakan perwakilan dari coven-coven kecil di luar Midgar; dalam struktur vampir, status mereka tetaplah di bawah darah murni. Dan semua darah murni berkumpul di coven Shin-Ra ini. Wajar kalau mereka mungkin tidak tahu tentang peristiwa lenyapnya sebuah desa dan apa saja yang terjadi di dalamnya.
"Aku tahu apa yang ada di benak kalian. Sayangnya hal itu tak akan terjadi. Aku tidak sama dengan darah murni sebelumnya; Hollander, Lazard, Genesis, dan Angeal," kata Sephiroth lalu duduk menyilangkan kakinya di kursi Presdir. Ia lantas menunjuk-nunjuk pelipisnya sendiri. "Aku masih punya ini sementara mereka titisan gagal. Seharusnya kalian bersorak gembira karena itu berarti aku tidak akan membabi buta melakukan perbuatan rendah seperti monster yang tak mengenali apapun."
Kalimat Sephiroth belum membuat mereka lega sepenuhnya.
"Kecuali kalau kalian menentangku sepertinya," lanjut Sephiroth mengambil sejumput abu di meja kemudian melepasnya jatuh. "Bukan begitu Palmer?"
Yang dipanggil pun bergidik. Ia duduk di kursi yang paling dekat kursi Presdir. "Y-Ya. Saya akan melayani Tuan Sephiroth."
Sephiroth meneruskan panggilannya. "Scarlet."
"Kya~," jeritnya kaget. "Sa-Saya juga seperti Palmer."
Begitulah Sephiroth mengabsen semua direksi yang ada di sana. Sampai akhirnya urutannya berakhir pada Rufus Shinra. Rufus tidak menjawab. Ia menatap tajam Sephiroth dan justru bangkit dari kursinya. Sontak semua kaget, apa putra Shinra itu hendak melawan?
Tepat saat itulah, para Turks menyerbu masuk.
Di koridor bawah tanah tengah terjadi pergulatan seru antara tiga manusia melawan satu vampir. Meski menang jumlah; tanpa pedang, tanpa pistol, dan tanpa air suci, ternyata tidak cukup untuk melawan seorang Turks yang telah terlatih. Barret mendapat cakaran besar di punggung. Tifa terhempas ke dinding. Dan Nunchaku kini menindih Cloud yang terlentang, menelusupkan jarinya ke dalam luka tembaknya.
"AAAAARRRGGGHHH!"
Cloud tak kuasa menahan sakit saat jari Nunchaku dengan kukunya yang tajam itu mencongkel peluru yang tertanam di bahunya itu dan menariknya keluar.
Dengan segenap tenaga, Tifa pun mendorong jauh Nunchaku agar melepaskan Cloud. Vampir itu bersalto dan mendarat sempurna untuk kembali menyerang mereka. Saat Tifa berusaha membantu Cloud berdiri, terdengarlah derap kaki mendekat dengan cepat. Nunchaku pun menoleh karena suara itu berasal dari arah belakangnya.
...dan mendapati terkaman serigala yang melompat persis ke depan matanya.
"RED XIII!" seru Tifa mengenali makhluk merah itu dari tatonya meski wujudnya sudah berbeda.
Tak teriak sama sekali, Nunchaku berusaha mematahkan leher Red XIII sementara taring serigala itu bergerak pelan dari gigitan yang mengoyak bahu sang Turks ke lehernya. Tulang selangka Nunchaku pun akhirnya mencuat dan darah hitam sudah mulai menggenangi lantai. Tak ada yang menghentikan kejadian sadis itu sama sekali sampai akhirnya Aerith muncul.
"CUKUP, RED!"
"Aerith!" seru Cloud.
"Kita cuma mau kabur kan? Tak perlu sampai membunuhnya," lanjut Sang Cetra.
Meski berbentuk hewan, Red XIII ternyata masih memiliki hati untuk menuruti kemauan Aerith. Meraung kecil, ia pun melepaskan gigitannya dan membiarkan vampir itu menggeram kesakitan. Tak mau membuang kesempatan, mereka berlima segera berlari menuju pintu tangga darurat hingga akhirnya keluar di basement parkir kendaraan. Barret pun mendekati salah satu mobil.
"Kita keluar naik ini," katanya.
"Caranya?" tanya Tifa dan Aerith serempak.
"Kalau jadi penyusup harus tahu trik pencuri dong," lanjut Barret mengeluarkan sebuah penggaris. "Aku memungutnya di meja officer di lantai UG1. Sisipkan ujung penggaris ke dalam kaca untuk membuka kunci pintunya."
"Pasti diajarkan Jessie," sahut Tifa. Ia menjadi terkenang temannya itu. "Oh, Jessie..."
"Berhasil," seru Barret agak lama lalu duduk di kursi kemudi. "Guys, ayo masuk!"
Red XIII memilih duduk di jok depan sementara Cloud diapit oleh dua orang cewek. Barret pun menarik kabel di bawah setir, bermaksud untuk menyalakan arus listrik sebagai pengganti kunci starter. Saat itulah, terdengar teriakan dari dua orang berpakaian satpam turun ke lantai itu.
"Masih lamakah, Barret?" tanya Tifa lagi.
"Yang ini cukup susah," jawab pria negro itu. "Gantikan aku, Tifa. Kalau cuma lawan satpam sih kecil."
Barret pun berganti posisi dengan Tifa. Ia menyiapkan kedua bogem mentah untuk para satpam itu. Perasaannya masih diliputi kekesalan, rasanya ia ingin membanting sesuatu atau meninju orang dan kesempatan itu datang. Mendapat aura perlawanan dari Barret, dua satpam itu kemudian menunjukkan taringnya dan mata mereka juga berubah jadi merah.
"Heee? Satpamnya juga vampir?" seru Barret mendadak ciut.
"Untuk shift jaga malam begini, pastinya pegawai yang ditempatkan bukan manusia, Barret," sahut Tifa masih berusaha menyambung aliran listrik.
"Sial, kenapa tidak bilang dari tadi?" sewot Barret.
"Kukira kau yang paling ingin menghajar vampir," lanjut Tifa. "Atau kau mau gantian lagi?"
Kalau sudah disindir begitu, semangat Barret pun muncul lagi. "Huh, siapa takut! Aku akan mengurus mereka. HEEAAAAAA~!"
Begitulah Barret kemudian bergelut dengan satpam-satpam itu.
"Aerith, kau tetap di mobil bersama Tifa," sambung Cloud melihat situasi. Red XIII juga telah keluar dari mobil dan ia tak mau diam saja.
"Kau terluka parah, Cloud," kata Aerith menyentuh lembut bahu Cloud.
Cloud pun menurunkan tangan Aerith dari bahunya. "Ini belum seberapa dibanding penderitaan kita semua," ujarnya turun.
"Hati-hati, Cloud," kata Tifa memahami dan percaya padanya.
Saat itu, punggung Barret membentur mobil lain. Ia kesakitan karena bekas cakaran Nunchaku masih menghasilkan perih. Namun, ia masih bisa menghindar saat satpam yang dilawannya itu memukul kaca mobil tempat kepalanya tadi berada hingga pecah. Cloud datang di belakangnya dan berusaha mendorong tubuh satpam itu sampai masuk ke dalam mobil lewat jendela. Sayangnya, pecahan kaca mobil tak cukup tajam untuk melukainya. Tapi hal itu cukup untuk mengulur waktu karena begitu vampir itu hendak keluar merayap lewat pintu satunya, Barret menjepit-jepitkan kepalanya sampai keluar darah dan Cloud tetap berjaga di sisi mobil yang berbeda.
Tifa akhirnya berhasil menyalakan mesin. Ia pun menginjak gas dan mengarahkan mobilnya tepat saat Red XIII dengan rahang kuatnya melemparkan vampir. Vampir itu pun terpental jauh begitu Tifa menghantamnya. Cloud dan Barret yang melihat hal itu bergegas lari ke arah mobil yang pintunya sudah dibukakan Aerith. Tifa Melihat spion, tak ada lagi yang mengejar, nampaknya semua perhatian vampir tercurahkan ke kemunculan Sephiroth.
Sephiroth...
Baik Cloud maupun Tifa membatin nama vampir yang perbuatannya tak bisa mereka lupakan itu.
Namun untuk kali ini, yang mereka pikirkan hanyalah menjauh dari sarang sesegera mungkin.
Kembali ke lantai 70 dimana kebanyakan vampir terpusat di sana...
"Hentikan, Sephiroth!" seru Tseng.
Ia tak melihat sosok Presdir di sana. Sepertinya ia terlambat tapi ia tak boleh gagal melindungi Rufus. Mereka sebaya. Mereka tumbuh bersama. Perasaan Tseng terhadapnya tak sama seperti bagaimana ia menganggap dirinya sebatas 'pelayan' Presdir Shin-Ra yang direkomendasikan Hojo sebagai keturunan Slave terbaik.
"Tseng, teman lamaku," sapa Sephiroth. "Aku hanya mengajukan pertanyaan pada Rufus. Lebih baik kau urus saja pelayan yang menderita di dekatmu itu."
Tseng pun menyuruh salah satu dari anak buahnya yang perempuan untuk mengurus pelayan wanita yang darah di lehernya belum berhenti mengucur karena tertancap garpu itu. Tatapannya kembali ke meja pertemuan. Ia merasa semua orang yang duduk di sana tersandera oleh Sephiroth. Mengamati wujud Sephiroth dengan sayapnya, ia pun menerka-nerka apa yang terjadi pada vampir itu saat dikabarkan menghilang dan jatuh ke dasar ngarai di pegunungan Nibel. Sepertinya, hasil semedinya selama tiga bulan di dekat perut bumi membuahkan hasil. Yang jelas, Tseng bisa merasakan betapa kekuatan Sephiroth bahkan mungkin tak bisa ia jangkau.
Sephiroth kembali menoleh ke Rufus. "Lanjutkan apa yang ingin kau utarakan."
Rufus yang tetap tenang seolah mengalirkan telepati kepada Tseng untuk mengatakan ia bisa mengendalikan situasi ini.
"Aku tak sama seperti ayahku, Sephiroth," jawab Rufus. "Yang ada di pikiran orang tua itu hanyalah uang, uang, dan uang. Bisnis. Aku akan menjadi partner-mu. Akan kujalankan perusahaan ini dengan tangan besi. Akan kukontrol manusia dalam teror. Mereka bergantung pada produk kita. Bahkan kalau perlu, aku akan membangun generator baru yang menghubungkan pasokan listrik di seluruh Midgar. Mudah membuat Midgar padam berbulan-bulan. Dan kau bebas menguasai mereka dalam kegelapan."
Sephiroth bertepuk tangan. Melihat Sephiroth tampak puas dengan jawaban sang Wakil Presdir, ketegangan dalam ruangan itu sedikit mencair. Vampir-vampir yang lainnya pun ikut bertepuk tangan, ingin memberi kesan bahwa mereka sependapat dengan Sephiroth. Tseng pun lega meski ia tak menduga Rufus yang dikenalnya bisa berbicara demikian. Bukankah ia tak suka dengan Sephiroth karena kerap dibandingkan oleh ayahnya?
"Kaulah Presdir baru, Rufus. Kuserahkan operasional perusahaan tetap padamu," lanjut Sephiroth.
"Sudah saatnya giliran generasi kita yang berkuasa, Sephiroth," balas Rufus kembali duduk.
"Jangan lupa. Aku yang mengangkatmu, peraturanku juga berlaku padamu," ancam Sephiroth tetap skeptis terhadapnya.
Rufus pura-pura senang mendengar hal itu, yang bisa ia lakukan hanyalah mengendalikan diri agar iblis di dekatnya itu tak menghabisinya. "Bisa kita lanjutkan pestanya, Sephiroth?"
"Seharusnya aku yang bertanya, akan kita isi apa piring dan gelas kosong ini?"
Para Turks-lah yang kemudian menjadi sasaran semua mata memandang.
Mobil curian itu diparkirkan di halaman gereja. Mereka memutuskan kembali bermalam di sana. Memang tidak terlalu jauh dari jangkauan sarang, tapi seperti malam sebelumnya, mereka merasa tempat itulah yang paling aman seantero Midgar. Barret mendorong pintu lalu Aerith menyelinap masuk terlebih dahulu dan mengambil dua tempat lilin berbentuk garpu. Sisa lilinnya masih ada dan koreknya juga ada di dekatnya. Itulah penerangan yang selama ini ia gunakan saat berkencan di dalam. Dan dilihat dari ekspresi Cloud, Tifa, dan Barret yang pernah bermalam di gereja; jelas mereka tak tahu tersedia lilin di sana sehingga tidur dalam kegelapan waktu itu. Namun tentu saja kegelapan di dalam gereja yang atapnya berlubang dengan pintu bisa dibuka, masih jauh lebih terang daripada disekap di ruang tertutup bawah tanah Shin-Ra.
Aerith membawa lilin ke dekat kolam. Ia membungkuk dan meminum airnya, melepas dahaganya. Rasanya tidak percaya, sudah seharian ia tidak minum air. Melihat air suci itu ternyata boleh diminun, yang lain pun melakukan hal yang sama.
"Jadi?" Barret pun memulai pembicaraan di dalam. "Apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang?"
"Sephiroth muncul," sahut Cloud. "Aku... Aku harus menyelesaikan semuanya."
"Bagaimana caranya? Kau sendiri tahu reaksi gelisah komandan Turks yang tak bisa kita kalahkan itu saat menyebut namanya bukan?" lanjut Barret.
"Itu dia, aku juga belum tahu. Yang jelas, vampir itu berbahaya. Sangat berbahaya. Dari sifatnya yang memusnahkan desaku, bisa jadi hasrat selanjutnya adalah menguasai Midgar."
"Dengan wujud iblisnya...," sambung Aerith. "Benar kan, Red?"
Red XIII menjawab dengan auman serigala.
Tifa ikut angkat bicara. "Tapi kalau dengan wujud iblis, berarti ia tak kenal lawan maupun kawan kan? Apa benar seluruh vampir yang berkumpul di gedung Shin-Ra tak bisa menjatuhkannya? Bukankah Aerith cerita mereka bisa dieksekusi mati?"
"Tak kenal lawan maupun kawan bagaimana maksud kalian?" tanya Red XIII. "Aku bisa merasakan ia memiliki kesadarannya penuh."
"Aku belum pernah mendengar hal itu," kata Aerith. "Berarti... Sephiroth yang ini lebih kuat dari Sephiroth yang menyerang desa kalian dulu?"
"Kurasa memang itu yang dicarinya di desa kami," lanjut Cloud. "Aku tak suka jika harus mengatakan dia berhasil."
"Sebenarnya, apa yang terjadi di desamu?" tanya Barret. "Bagaimana kau bisa lolos?"
"Entahlah," jawab Cloud. "Aku terbangun saat hari sudah pagi. Kupikir Sephiroth mengiraku sudah tewas bersama penduduk yang lain."
"Kau beruntung," kata Barret lalu berpindah tatapan ke Tifa. "Kalau kau?"
"Aku ditolong Za..." Kalimat Tifa sempat terputus sebelum lekas ia sambung kembali. "Zangan, Master Zangan. Dia guru beladiriku dan Cloud."
"Oya, aku belum menanyakan padamu," kata Cloud. "Bagaimana kabarnya?"
"Master kembali berkelana untuk mengajarkan beladiri pada anak-anak di desa lain. Kami berpisah di Midgar," kata Tifa. "Ngomong-ngomong Cloud, apa hanya Sephiroth saja vampir yang datang ke desa kita?"
"Tentu saja," jawab Cloud mantab. "Hal itu tak bisa kusingkirkan dari otakku. Apalagi saat aku melihatmu dilukainya, kukira kau akan pergi selamanya dari sisiku waktu itu. Kenapa tanya begitu?"
"Eh, tidak. Kau benar kok," elak Tifa. Ia tak melihat Aerith memandangnya dengan intens berharap jawaban yang berbeda.
Tiba-tiba Red XIII berjalan ke arah pintu, hendak keluar. "Aku senang bertemu kalian dan bisa kabur. Perjumpaan kita sampai di sini. Aku akan melanjutkan perlajanan ke Cosmo Canyon."
"Tunggu, Red," panggil Aerith. "Aku ingin tahu banyak soal Cetra. Kau bilang kakekmu tahu."
"Sebentar, Aerith," tegur Tifa. "Itu artinya, kau mau ikut dengannya? Dalam kondisi hamil begitu? Aku tak bisa membiarkanmu sendirian."
Cloud berdehem. "Kurasa lebih baik kita mengantar Red. Merangkum ucapan yang pernah kalian Red dan Aerith katakan, aku berkesimpulan werewolf dan Cetra sama-sama musuh vampir sejak zaman dulu. Kita mungkin bisa mendapat penjelasan banyak dari kakek Red, kuharap itu termasuk petunjuk bagaimana mengalahkan mereka. Toh, tetap berada di Midgar pun, kita tak bisa melakukan apa-apa. Aku sangat ingin menghabisi Sephiroth."
"Aku setuju," kata Tifa. "Bagaimana dengan kau, Barret."
Barret tampak berpikir dengan menyilangkan kedua tangannya di dada. "Kalau boleh, setelah dari Cosmo Canyon. Mungkin kita bisa mampir ke Rocket Town."
"Rocket Town?"
"Meski kota kecil, teknologi di kota itu sangat tinggi, tak kalah dengan Midgar," lanjut Barret. "Di sana ada seorang insinyur yang tidak suka dengan Shin-Ra karena kalah persaingan dan Shin-Ra akhirnya monopoli pasar elektronik di sana. Pihak AVALANCHE yang dulu pernah memasukkannya dalam daftar rekrutan karena kudengar diam-diam ia juga ahli membuat senjata karena sempat beralih profesi jadi pandai besi untuk keperluan penambang di sekitar. Kalian pasti tak percaya, kota itu kaya dengan perak. Shin-Ra bisa memonopoli kota itu dengan bisnis, tapi vampir-vampir mereka tak bisa menjangkaunya."
"Jadi, telah kita putuskan nih tujuan perjalanan kita?" timpal Aerith riang.
"Ya, kita tetap akan berperang melawan mereka. Kita tak kabur," kata Cloud. "Sekembalinya kita ke sini, Kita sudah harus menjadi lebih kuat."
Red XIII mendesah. "Baiklah, aku terserah kalian ingin berangkat jam berapa. Kurasa manusia lebih suka mengawali perjalanan saat pagi menjelang."
"Lagipula banyak yang mesti dipersiapkan," sambung Tifa. "Kita juga harus mengisi perbekalan dan semua kebutuhan itu hanya bisa didapat saat toko-toko buka."
"Oke, guys!" seru Barret. "Persiapkan fisik kalian untuk perjalanan nanti pagi."
Sephiroth berdiri di bibir helipad yang terletak di teras teratas gedung Shin-Ra Corp. Sayapnya terentang lebar. Rambutnya berkibaran. Matanya memandang ke bawah dengan seringai kematian yang tak pernah pergi menghias bibirnya dari sejak muncul tadi. Pesta telah usai. Demi tidak mengecewakan para tamu, Rufus memutuskan menyajikan para hostess yang masih tersisa di sel khusus milik ayahnya yang biasanya hanya disantapnya seorang diri. Sephiroth tidak terlalu memedulikan sejumlah orang yang dikabarkan kabur. Mengurusi AVALANCHE seperti yang pernah ia lakukan dulu karena diperintahkan untuk ikut turun tangan bukan prioritasnya. Membunuh bandit-bandit kecil itu tak akan membuatnya puas.
Begitulan kemudian pandangannya itu ia lemparkan ke hamparan kerlap-kerlip lampu di depannya.
Midgar.
Dengan penduduk terpadat se-Gaia.
Semua sumber daya manusia itu berada di bawah kakinya.
Kota ini. Tidak. Planet ini akan menjadi milikku.
"Pasti ada sesuatu jika orang sepertimu masih menyisakan satu darah murni sepertiku untuk tetap hidup."
Sebuah suara menyelanya. Kedatangan orang itu jelas mengganggu kesendiriannya. Namun, Sephiroth tetap membiarkannya saja berjalan menghampirinya dan berhenti tak jauh di belakangnya.
"Aku tak senang dipahami olehmu, Hojo," balas Sephiroth menoleh.
"Kau tetaplah putraku," lanjut pria berjas lab itu. "Tak sulit bagiku menerka jalan pikiranmu."
"Hmph," dengus Sephiroth kembali menatap depan. "Kalau bukan karena aku percaya hanya kau yang akhirnya bisa kuandalkan, nasibmu pasti sudah berakhir sama dengan Shinra."
"Langsung saja ke intinya," kata Hojo memasukkan kedua tangan ke saku jas. "Apa maumu dariku?"
Vampir berambut perak itu lalu membalikkan badan menatap Hojo. "Aku memberimu proyek. Buatkan aku klon terbaik. Dua, tidak, tiga orang yang mewarisi darah sempurnaku."
"Menarik," kata Hojo menangkat dagu. "Kujamin hal itu pasti akan menjadi mahakarya terhebatku dari semua Slave yang pernah kuciptakan. Kau benar-benar tahu cara memanfaatkan ayahmu, Sephiroth. Dengan begini, aku tak perlu pusing kehilangan objek penelitianku barusan."
"Kau pasti bersenang-senang dengan Cetra lagi, Hojo," ungkap Sephiroth memahami kalimat terakhir ayahnya.
"Cetra kali ini istimewa. Kau tak akan pernah menemukan duplikatnya."
"Oh ya? Apa yang bisa membuat seorang Hojo berkata demikian?"
"Di dalam tubuhnya, terkandung janin vampir. Dan perlu kuberitahu padamu, Cetra itu belum sempat kuubah menjadi vampir seperti biasanya. Luar biasa bukan?"
"Aerith. Apa itu namanya?"
Hojo mengingat-ingat nama itu pernah disebut-sebut oleh para penyusup saat mereka dibawa ke hadapan Presdir Shin-Ra siang tadi. "Dari mana kau tahu?"
Sephiroth tak menjawab. Ia kembali memandangi Midgar di bawah kakinya.
Ingatannya ditarik ke beberapa bulan lalu. Ia tak bisa melupakan malam itu. Di tengah kobaran api yang melalap pemukiman Nibelheim, di tengah sekumpulan mayat manusia yang telah ia bantai; pemilik sepasang mata yang sama dengannya itu justru menyerukan sebuah kalimat tak bisa ia terima. Kalimat yang tak sepantasnya bisa keluar dari mulut pemilik darah yang sama dengan yang mengalir di tubuhnya.
"Kau salah, Sephiroth! Vampir lebih lemah dari manusia," ujar vampir tersebut lantang. "Kita butuh darah mereka untuk bisa hidup tapi mereka tak butuh kita."
Tak bisa dimaafkan!
Vampir itu.
Zack Fair.
Mematahkan tulangnya tak cukup. Mengoyak dagingnya tak cukup. Menghisap darahnya tak cukup.
Ya, saat ia menghisap darah vampir yang pernah menyebutnya teman itu, semua memori penting dalam beberapa bulan terakhir milik Zack masuk ke dalam pikirannya. Wajah gadis itu begitu terpatri. Nama gadis itu disebut berkali-kali. Bahkan, ia melihat pemandangan yang tak seharusnya ia lihat.
Mereka bersetubuh.
Vampir dan manusia.
Darah murni dan Cetra.
Sephiroth pun menggeram dengan kepalan dikencangkan. Kalau bukan karena ia mengenakan sarung tangan, darah pasti sudah mengucur dari tangannya.
Tak akan kubiarkan ucapannya terlaksana, batinnya. Vampir adalah makhluk terkuat. Manusia adalah budak vampir, selamanya tak akan pernah sederajat. Cetra adalah musuh abadi dan aku adalah darah murni terkuat titisan Jenova. Semua darah murni yang tersisa, kecuali orang tua itu, telah kusingkirkan. Akulah Sang Terpilih.
Namun, keberadaan makhluk setengah vampir setengah manusia akan mencemari keturunan vampir.
Dan percampuran darah murni dan Cetra telah meracuni keagungan vampir.
Kalau anak itu sampai terlahir, itu penghinaan terbesar bagi penerus darah Jenova!
"Lupakan penelitian bodohmu, Hojo," lanjut Sephiroth kali ini tanpa menoleh. "Manusia punya dua pilihan, dihisap darahnya sampai kering atau dijadikan vampir pelayan kita. Namun gadis itu hanya punya satu pilihan, yaitu mati kucabik-cabik."
Hojo agak tak senang dengan keputusan seenaknya Sephiroth, tapi ia tetap tersenyum sinis membetulkan kacamata karena merasa telah mendapat eksperimen gantinya. Meski bukan demi agar tak mengecewakan Sephiroth, ia tak bisa tak berdedikasi penuh pada pekerjaan yang amat dicintainya melebihi apapun itu.
Hojo pun berbalik hendak meninggalkan Sephiroth, namun langkahnya sempat terhenti untuk menyampaikan sesuatu. "Aku lupa bilang. Aku melihat 'mainan'mu dalam kelompok yang kabur bersama gadis itu."
Sephiroth hanya melebarkan seringainya. Ia terus berada di tempat sampai melihat tanda-tanda ufuk menjelang.
Seperti biasa, Aerith bangun paling dini, yaitu di waktu yang bagi kebanyakan orang masih gelap. Bisa dibilang, ia hanya tidur beberapa jam saja.
Gadis Cetra itu tengah berlutut di depan kolam air sucinya, menghadap altar. Matanya terpejam. Tangannya saling menggenggam. Ia berdoa memohon keselamatan karena sebentar lagi, mereka akan melakukan perjalanan panjang. Tak cuma itu, ia teringat bahwa lantai yang sama dengan yang dipijaknya ini menyimpan sebuah memori yang terpahat begitu dalam di pikiran dan hatinya.
Masih dalam temaram cahaya lilin yang sama, bahwa ia belum ingin mematikannya. Saat itu...
.
.
"Zack, apa menurutmu vampir dan manusia bisa hidup berdampingan?" tanyanya membaringkan kepala pada dada bidang kekasihnya, merilekskan diri setelah lelah bercinta.
Zack pun melingkarkan lengannya di bahu Aerith dan menarik selimut. Sambil mencumbui rambut gadisnya, ia berbisik. "Bisa, pasti bisa. Itu bukan hanya impianmu saja, Aerith."
.
.
Aerith pun membuka mata. Ia bertekad akan ambil bagian dalam pertempuran ini, berjuang bersama Cloud dan yang lainnya. Tidak, ia bahkan telah memutuskan hal itu sejak meminta Cloud mengantarkannya ke markas AVALANCHE. Tujuan aslinya. Tujuan terbesarnya. Langkah awal yang bisa dilakukan adalah mengubah pandangan teman-temannya secara perlahan dari yang semula hanya membasmi vampir tanpa pandang bulu menjadi lebih selektif dan terbuka. Ia juga akan melahirkan anaknya apapun yang terjadi, menjadikannya bukti bahwa kebersamaan antar kedua ras bisa dihasilkan.
Tak akan kubiarkan masa depan vampir dan manusia berada di dalam genggaman Sephiroth. Aku akan menghentikannya.
Begitulah, pertempuran besar telah dimulai...
bersambung...
Next Chapter Teaser/Preview:
"Kapan tepatnya Sephiroth datang ke desamu, Tifa. Apakah itu tiga bulan yang lalu?" tanya Aerith penasaran pada Tifa saat mereka sekamar di penginapan kota Kalm. "Siapa yang ingatannya benar, kau atau Cloud?"
"CLOUD!" teriak Tifa memandangi Cloud yang penuh darah. Darah merah. Darah manusia."Apa yang telah kau lakukan?"
A/N: Chapter ini ke-update dengan jarak berdekatan dari chapter sebelumnya karena aku sendiri emang udah nggak sabar ingin memunculkan Sephiroth. Dan maaf kalau teaser-nya cuma segitu karena kali ini aku nggak mau SPOILER untuk chapter depan.
Yeah, Jenova vs Cetra, Black Materia vs White Materia, menabrakkan meteor vs menghentikan meteor; intinya, pertempuran Sephiroth vs Aerith dalam fic ini telah aku lukiskan di penghujung chapter 8. Menjawab review Swandie untuk chapter kemarin, tenang saja, fic ini bakal ada bagian Crisis Core-nya. Aku ga mungkin melewatkan kisah super amazing tragic forbidden love OTP.
Sephiroth yang membaca ingatan Zack lewat darah kucontoh dari prequel film vampir berjudul "Underworld III: Rise of The Lycan" di mana Victor mengigit leher Sonja, dan mengetahui bahwa putrinya itu telah menjalin hubungan seks terlarang dengan Lucian yang seorang werewolf. Namun, ia tidak sampai tahu putrinya itu hamil sampai Sonja akhirnya mengaku sendiri dan Victor terpaksa mengukum mati Sonja agar anak 'setan' itu tak lahir. Lucian-nya sih masih hidup tapi nanti balas dendam (diceritakan di film pertama). Salah satu romansa vampir terbaik tuh, Twilight ga ada apa-apanya. Hehehehe, aku nyonto banget ya XD.
Spesial buat Wind Scarlet, gimana? Apakah Sephiroth-nya membuatmu puas? Kalau masih kurang, tolong kasih masukan ya? Aku juga pengen bikin Sephiroth sekeren mungkin sebagai villain. Sebenarnya pengen bikin adegannya tuh kayak si Marcus di Underworld II waktu membantai vampir-vampir yang menentangnya, tapi aku nggak mau bikin sulur-sulur keluar dari tubuh Sephiroth hehehehe.
