Title : Yakusoku yo
Author : DaisyDaisuki
Chapter : 2/ 4 –or 5-
Pairing : Rui x Yuuto (Main), Kazuki x Yuuto (slight)
Fandom: ScReW
Enjoy~
Niji o mita niji o mita
Kimi ni koe wa mou
Todokanakute mo
Yasashisa o kanjiteru ah
Yume o mita yume ni mita
Sono omoi ga tada shinjitsu naraba
Umareta mama no kagayaku hikari o
Mitsumete kou
Yuuto terbangun saat alarm di ponselnya berdering nyaring. Yuuto melenguh kecil dan merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Pemuda itu mengadah. Wajahnya memerah saat mendapati bahwa semalaman Rui menjaganya. Bahkan di atas kasur sekali pun. Pemuda itu tampak nyenyak terlelap dalam alam bawah sadarnya. Yuuto tersenyum simpul dan mencoba bangun tanpa membuat Rui sadar. Ia meraih ponsel yang berkedip-kedip tanda email masuk.
From: Jukek_Kiyut
to: Yuuchan_12
-Ohayo! Bagaimana keadaanmu?
Kudengar kau harus bed rest dua hari? TT^TT Gomenasaaaiiii~~
Yuuto mengangkat sebelah alis. Pertanyaan tentang cara Kazuki mendapat alamat emailnya pun mengambang dalam otaknya. Namun, malas pikir lebih lanjut, Ia memutuskan untuk menanyakannya langsung pada yang bersangkutan.
From : Yuuchan_12
to : Jukek_kiyut
-Aku baik-baik saja!
Terima kasih atas perhatianmu kemarin.
Btw, dapat email-ku dari siapa?
-Ehehehe Gomen~
Aku kemarin memaksa teman sekelasmu untuk memberitahuku..
Siapa itu namanya?.. Er.. Byou?
Yuuto menyeringai iblis. Saat masuk nanti ia tahu apa yang bakal ia lakukan pada sahabatnya yang paling hobi menebar pesona Yuuto itu. Mungkin Yuuto akan menjahilinya tiga hari tiga malam? Atau menerornya dengan cerita horror? Ah, entahlah.. Hanya Yuuto dan Tuhan yang tahu~
-Iya, namanya Byou.
Hari ini aku tidak masuk sekolah (。・ε・。)=3
-E, e? Sekali lagi aku minta maaf! TT^TT
Btw, yang kemarin itu Rui? Apa dia kakakmu? Setahuku sih kalian selalu bersama…
-Ya, dia kakakku. Lebih tepatnya kakak sepupu..
Lima menit tidak mendapat balasan dari Kazuki, Yuuto beranjak dari kasur. Dengan sangat pelan ia berjalan menuju kamar mandi, takut membangunkan Rui yang masih terlelap. Melepas seluruh pakaiannya membutuhkan waktu hampir tiga menit akibat terhambat nyeri di pinggangnya. Padahal Yuuto ingin sekali segera melepas pakaiannya dan berendam di bath tub karena udara pagi ini tidak lebih hangat dari kemarin.
'CRSSHH'
Air hangat mengalir dari kran, membuat uap air membumbung keluar dari bath tub. Ruang kosong dalam keramik berbentuk mangkuk oval raksasa itu pun perlahan terisi separuhnya. Yuuto, masih dengan gerakan sangat hati-hati masuk ke dalamnya. Mendesah lega saat merasakan seluruh bagian tubuhnya diliputi kehangatan.
Sementara itu …
"Ngh…" Rui mengerang.
Merasakan beban di lengannya menghilang, pemuda itu buru-buru menyingkap selimut. Tak mendapati Yuuto di sana, dengan agak panik ia turun dari kasur. Namun setelah telinganya mendengar bunyi gemercik air dari dalam kamar mandi, ia menjadi sedikit lebih tenang. Setidaknya ia tahu kalau Yuuto baik-baik saja dan sedang menyegarkan diri di dalam sana. Rui memijit kepalanya yang agak pusing. Tiba-tiba perhatiannya tersita oleh ponsel silver Yuuto yang LED-nya berkedip-kedip. Ia meraihnya, penasarana dengan siapa yang mengirim email sepagi ini pada adik kecilnya itu.
From: Jukek_Kiyut
Perasaan aneh berkecamuk dalam batin Rui. Perasaan itu tak terdefinisi di dalam otaknya. Perasaan yang menyatakan ia tidak ingin pemuda bernama Kazuki itu mendekati adiknya. Ingin rasanya ia menghapus email itu. Tetapi ia berpikir sekali lagi sebelum menekan tombol delete. Selama ini Yuuto tidak pernah melarangnya untuk memiliki pacar. Dan tidak jarang ia juga membawa pacarnya ke rumah entah itu main atau berkunjung. Jadi, untuk apa ia melarang Yuuto dekat dengan orang lain. Toh Yuuto jarang dekat dengan siswa lain kecuali Byou. Ia pun memutuskan untuk mengacuhkan email itu dan meletakkan ponsel Yuuto ke tempatnya semula.
"Sudah bangun? Mandilah dulu.. Kau masih harus sekolah." Ujar Yuuto yang baru keluar dari kamar mandi.
Rui bangkit dari kasur. Ia membuka lemari pakaian Yuuto dan mengambil satu stel piyama warna biru muda. Ia melepas piyama mandi Yuuto dan menggantinya dengan cekatan, tidak ingin membuat pemuda itu kedinginan.
"Bibirmu membiru.. Dan.. Dingin." ucap Rui menyentuh bibir Yuuto.
Yuuto tersenyum dan balas menggenggam tangan Rui lembut. Ia mencium jemari panjangnya penuh kasih sayang.
"Aku akan istirahat… Sana, mandi." Balas Yuuto beralih ke kasur.
Rui memperhatikan punggung Yuuto yang berlalu. Tanpa bicara ia pun pergi ke dalam kamar mandi sambil menenteng handuk yang tadi ia dapatkan dari kepala Yuuto.
==x==
Pagi itu pukul sepuluh, Yuuto sarapan di kasur. Menu ala orang sakit yang selalu ia terima suka tidak suka. Selesai makan, Yuuto membuka flip ponselnya. Ia menghela nafas karena tidak ada satu pun email dari Rui yang menanyakan kabarnya. Ia merasa sedikit kespian...
"Aneh… Padahal… Biasanya dia yang paling cerewet kalau aku tidak masuk.." gumam Yuuto.
Akhirnya Yuuto yang penasaran mencoba mencari tahu. Rui tidak pernah mengacuhkan Yuuto kecuali ia memiliki 'pengalih perhatian'. Asumsi Yuuto, Rui pasti sedang sibuk. Atau… Memiliki seorang kekasih. Dengan option kedua itu Yuuto semakin mempercepat usahanya mencari tahu. Lagipula, sesibuk apapun Rui, ia pasti masih sempat menanyakan apahak Yuuto sudah makan dan minum obat. Nyatanya? Tidak ada sama sekali.
Rui tidak suka cerita kalau ia menyukai seseorang. Yah.. Lebih tepatnya jarang. Rui hampir tidak pernah menyukai siapapun. Jika ia menjalin hubungan, itu artinya orang itulah yang duluan menyatakan cinta lalu Rui akan mempertimbangkannya. Yuuto dengan tegesa-gesa mencari sebuah email dalam kontaknya, email teman sekelas Rui yang biasanya menjadi sasaran 'narasumber' Yuuto.
From : Yuuchan_12
To :
-Rui dimana? Dengan siapa?
From :
To : Yuuchan_12
-Entahlah, tadi pergi dengan siswi cantik dari kelas 2-4. Sumpah, aku persis istri yang takut suami selingkuh b (° ∀ °) b
Btw memang Kau tidak masuk ya? (。・ε・。)
From : Yuuchan_12
To :
-Kisama ((((((ノ゚⊿゚)ノ!
None of your business sir, yang pasti aku memang tidak masuk (¯ □ ¯ ;)
Baiklah, sankyuu Miocchi~
"Berani taruhan.. Pasti Rui akan menerima cewek 2-4 yang namanya Kojima Haruna itu." ujar Yuuto menghela nafas dan menutup flip ponselnya.
( 。 )
.
.
Siang itu, dengan kaus hitam dan celana training biru Yuuto asyik bermain dengan Maru, kucing kesayangan Rui di ruang tamu. Pagi tadi, Rui ke sekolah membawa mobil sport silver kesayanganya. Hal jarang terjadi kecuali ada masalah dengan sopir atau mobil.
Sebenarnya, sudah lama Rui meminta agar ia dan Yuuto naik kendaraan sendiri daripada diantar oleh sopir. Tetapi, karena kakek bersikeras dengan alasan safety, akhirnya mereka turuti saja kemauan kakenya.
Namun, berhubung istri Ringo –sopir mereka- melahirkan, jadilah ia absen selama mendengus kesal. Kalau begini sama saja membuka peluang bagi Rui untuk membawa pulang seorang wanita.
Dengung mesin mobil menggema dari arah garasi. Tidak perlu di beritahu pun Yuuto tahu kalau Rui baru saja pulang sekolah. Meski jantungnya berdegup kencang, tetapi ia mencoba untuk tidak terlihat panik saat Rui membawa masuk seorang siswi berambut cokelat sepunggung ke dalam rumah.
Yap, siswi itu adalah Kojima Haruna. Seperti kata Yuuto, Rui menerima ajakan 'dating' darinya. Yuuto peramalkah bisa tahu sampai seperti itu? Yuuto memang meramal. Bukan, bukan dengan bola Kristal yang memunculkan bayangan masa depan lengkap dengan asap yang memburamkan suasananya.
Yuuto tahu kalau tipe Rui adalah perempuan cantik, dengan tinggi minimal 150cm, pipi tembem, dan rambut panjang cokelat sepunggung. Yang utamanya sih rambut cokelat panjang sepunggung. Yuuto sendiri tidak tahu, sejak kapan Rui jadi fetish begitu /slapped/.
"Yo." Sapa Rui menepuk kepala Yuuto yang duduk di atas karpet.
Yuuto membalas dengan dengusan. Lirikan matanya tertuju pada perempuan yang satu angkatan dengannya itu. Haruna masih menggunakan kemeja putih, rok kotak-kotak cokelat, dan dasi pita senada dengan rok. Kemudian pandangannya kembali ke Rui, seolah menuntut penjelasan tanpa kata.
Rui meringis saat Yuuto menatapnya garang. Akhirnya mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu yang cozy itu. Beberapa maid membawakan minuman dan kue. Yuuto tanpa memperdulikan kehadiran Haruna, duduk bersila sambil memakan cheesecake-nya, melumat kue lembut itu tanpa suara.
"Jadi.. Ini Kojima Haruna. Dia adalah siswi kelas 2-4, kelasnya tepat di sebelah kelasmu." Jelas Rui.
"Haruna desu."
"Aku juga tahu kalau dia kelas 2-4 dan kelasnya di sebelahku, Rui." Keluh Yuuto kesal.
"Aku menyatakan cinta pada Rui-senpai tadi siang di atap. Dan saat ini kami berpacaran." Timpal Haruna.
"Oh.. Tempat yang romantis."
Yuuto rasanya ingin melempar Rui dengan Maru yang tidur di sebelahnya. Sungguh, ia ingin mencecar Rui dengan segala omelan karena tidak berkata apapun padanya. Memang dari dulu Rui tidak pernah menjelaskan apapun jika membawa perempuan ke rumah. Dan jarang sekali ia mengenalkan pacarnya secara langsung seperti ini. Itu artinya, perempuan ini berbeda. Apalagi Rui membawanya sepulang sekolah, bukan di hari libur. Fakta yang mendukung hipotesis bahwa Kojima Haruna berbeda membuatnya sekali lagi ingin melempar Maru ke wajah Rui.
"Ya sudahlah. Enjoy your time, Kojima-san." ucap Yuuto sinis.
Pemuda itu beranjak dari sofa dan berjalan menjauhi ruang tamu dengan Maru mengeekor di belakangnya. Rui menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Akhirnya ia mengajak Haruna untuk ke kamarnya, sekedar ngobrol dan saling mengenal.
"Yuuto-sama, anginnya mulai dingin. Apa tidak sebaiknya anda masuk?" tanya seorang maid pada Yuuto yang duduk di kursi beranda kamarnya.
Yuuto menatap maid itu. Ia menggeleng pelan sambil menunjukkan scarf merah yang melingkar di lehernya. Yuuto mengisyaratkan agar maid itu pergi dan menutup pintu kamar raoat-rapat. Di saat seperti ini, yang bisa membangkitkan mood Yuuto yang down hanya segelas susu cokelat hangat dan angin dingin yang selalu ia rasakan di beranda kamarnya.
"Rui baka…" gumamnya.
Sejak Rui pertama kali memiliki pacar, sejak itu juga Yuuto jadi memiliki hobi mencoret-coret sesuatu. Yuuto suka dengan warna yang beraneka ragam. Hidupnya tidak lagi hitam dan putih sejak ada Rui di sisinya. Tapi, karena pada suatu saat Rui memilih memberikan warna hidupnya pada 'orang lain', maka Yuuto akan mencari sendiri sumber warna hidupnya.
Kakek Yuuto mengerti tentang ketertarikan cucunya terhadap seni dan berniat mengembangkannya. Maka ia membuat studio kecil di halaman belakang dimana Yuuto bisa berekspresi dengan bebas. Di dalam ruangan itu tembok tidaklah putih atau berwarna solid seperti seharusnya. Tembok dalam ruangan itu hidup oleh gambaran tangan Yuuto. Padang lavender, pohon Sakura, dan segala hal yang disukai Yuuto divisualisasikan di sana.
Interiornya simple, tidak banyak perabotan. Hanya rak kecil yang berisi cat, kuas, pallet, dan kanvas berbagai ukuran. Lukisan yang sudah selesai Yuuto gambar akan dipajang di koridor rumah mewah itu. Memang karya Yuuto tidak sebagus Piccaso, atau Da Vinci. Tapi tetap saja, indah dan sejuk di lihat.
"Kenapa mencoret-coret di situ? Bukankah tidak puas jika hanya mencoret-coret di atas kertas?" Tanya sebuah suara.
Yuuto menoleh ke belakang dan mendapati kakeknya sedang berjalan menujunya. Yuuto memaksakan senyum dan mempersilahkan beliau untuk duduk di sampingnya tanpa menghentikkan tangannya yang mencoret-coret kertas dengan krayon merah.
"Rui?" tebaknya.
"Uh hum.."
Mendengar gumaman Yuuto yang tidak membentuk kata membuat pria tua itu menghela nafas. Di tepuknya kepala Yuuto yang murung. Ia tahu benar watak cucunya satu ini. Watak yang persis dengan anak perempuannya ketika ia jealous.
"Terkadang kau harus merelakan sesuatu, Yuuto. Rui… Tanpa kita sadari dia sudah beranjak dewasa. Tinggal menunggu beberapa bulan, ia akan lulus SMA, menjalani kuliah, dan siapa yang tahu ia akan menikah dengan wanita mana."
Ekspresi Yuuto mengeras saat mendengar kata 'menikah' dan 'wanita'. Yuuto tidak pernah berpikir bahwa ia akan kehilangan Rui, melihat pemuda itu bahagia dengan wanita pilihannya. Yuuto hanya… Tidak bisa menerima fakta bahwa ia akan berpisah dari Rui. Pandangan Yuuto mengabur. Tetes demi tetes air mata turun membasahi pipinya. Pikiran tentang perpisahannya dengan Rui membuat dadanya sesak.
"Aku.. Tidak ingin… Menjadi bebannya…" bisik Yuuto di sela tangisnya.
Kakek itu tersenyum lembut. Dielusnya kepala Yuuto dengan penuh kasih sayang. Sementara di balik pintu kamar Yuuto, seorang wanita muda dengan rambut cokelat yang tadi datang bersama Rui diam membatu. Ekspresinya datar, tidak menunjukkan sesuatu yang berarti.
"Yuuto.. Suzuki.." gumamnya sambil berlalu.
▽ ▲ TBC▽ ▲
