"One, two, three, GO!"

"Hey, how long till the music drowns you out?
Don't put words up in my mouth,
I didn't steal your boyfriend."

"Hey, how long till you face what's going on?
Cause you really got it wrong,
I didn't steal your boyfriend."

"Hey, how long till you look at your own life,
Instead of looking into mine,
I didn't steal your boyfriend."

"Hey, how long till you're leaving me alone,
Don't you got somewhere to go?
I didn't steal your boyfriend."

"Okeh! Cukup manis!" terdengar suara lelaki dengan bass di gendongannya – sedikit berteriak – berusaha melawan suara dentuman drum dan gesekan senar gitar di ruangan itu. Sang vokalis wanita menghentikan alunan suaranya, begitu pula sang drummer dan sang gitaris yang menghentikan gerakan mereka.

Seketika ruangan itu sunyi.

"Bebh, kok udahan sih? Aku 'kan masih mau nyanyiii…" ucap sang vokalis wanita dengan rambut ungunya. Suaranya terdengar manja dan merayu.

"Iya ni, Pein?" sambung sang drummer berambut merah. "Gue lagi asyik-asyik malah disuruh berhenti pula," gerutunya.

"Tenang dulu sayangku Konan dan brother Sasori, gue mau mengoreksi latihan kita barusan." Sang pemetik bass angkat bicara. Lelaki berjuta tindik ini yang merupakan ketua dari band sekolah mereka – Shizuoka High School – memulai pembicaraan serius. "Sas, tadi lo mukul drumnya agak kecepatan," ucapnya sambil menatap ke arah lelaki berambut merah yang duduk di belakang drumm sambil memegang stick drumnya. "Dipas-in lagi ya!"

"Okeh, Pein!" sang drummer membalas dengan mengacungkan jempol ke arah leader band sekolah ini, band 'Akatsuki'.

"Trus lo, Dei," kini matanya beralih ke lelaki blonde yang memegang gitar, "udah pas sih, cuma agak kelambatan dikkiiit aja!" ucapnya.

Sang gitaris hanya mengangguk – tanda paham.

"Dan buat sayangku, Konan…" matanya beralih ke sang pacar yang sexy nan cantik, "…nyanyinya udah bagus sih, cuma… jangan teriak-teriak ya," ucapnya dengan senyum yang agak gimanaaa gitu. Yah begitulah, susah mau mengomentari pacar sendiri.

Wajah Konan memerah. "Ehm… i-iya sayang, aku gak bakal teriak-teriak lagi." Konan tersenyum manis.

"Nah, kalo gitu… KITA MULAI LAGI!"

"One, two, three, GO!"

Suara gemuruh musik pun kembali terdengar di ruangan ini.

-ooo-

Nomor Hape Gue!

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

This story is MINE!

Humor/Romance

Warning: AU, OOC, garing, typo, dan keanehan lainnya.

Summary: Nomor hape Sasuke—cowok terganteng abad ini tersebar di sekolah! Gimana nasibnya?

Ps:bagi yang merasa fic ini tidak sesuai dengan selera kamu, jangan dibaca aja. Oke!

.

theme song: Boyfriend - Ashlee simpson

Draft #3 – Jalan-jalan Senja

-ooo-

Matahari mulai tergelincir ke arah barat bumi. Warna-warna keorenan mulai menyelimuti langit senja Konoha. Satu per satu lampu jalan telah dihidupkan. Jalalan yang tadi ramai semakin ramai dipenuhi kendaraan bermotor yang melintas. Jam sibuk seperti ini menyebabkan kemacetan di mana-mana. Dan hal seperti ini sudah biasa terjadi di kota besar Konoha ini.

"Ok, latihan kita hari ini cukup sampai sini aja ya," ucap lelaki bertindik. "Lusa kita lanjut lagi."

"Okeh!" ucap ketiga orang lainnya.

"Eh, gue mau pulang dulu ya," ucap lelaki berambut merah.

"Lho, Sas? Makan dulu dong. Nyokap gue udah masakin makanan yang enak nih!" ucap sang pemilik rumah – yang salah satu ruangannya dijadikan studio latihan mereka.

"Maaf, Dei. Ini udah kemaleman," kilahnya. "Kapan-kapan aja deh gue numpang makan sini. Lagian udah keseringan, gak enak juga sama nyokap lo."

"Halah, biasanya paling gak tahu mau kalo mau numpang makan," sindir satu-satunya gadis di antara mereka.

"Sialan lo, Nan. Hmm… maaf gak bisa ikut makan bareng kalian," Sasori membereskan perlengkapannya dan memasukkannya ke dalam tas hitamnya. "Tapi kalau lo bolehin, gue bungkus dong masakan nyokap lo!"

"Hmm, dasar lo!"

"Gak kok, bercanda. Gue pulang dulu ya. Bye!"

Lelaki bernama Sasori ini lalu melangkah keluar dari studio. "Pulang dulu, Te," pamitnya pada wanita paruh baya yang sedang duduk di ruang makan.

"Iya, hati-hati ya, Sasori."

-ooo-

Akhirnya, setelah berhasil menembus kemacetan di jalan, Sasori berhasil sampai di rumahnya dengan selamat sentosa. Perutnya yang telah berbunyi sedari tadi membuatnya terburu-buru menuju rumahnya. Tanpa sengaja menabrak pot bunga milik sang ibu.

'Prangg'

"Ya elah, salah lo sendiri!" ucapnya pada pot bunga yang pecah jadi dua, "siapa suruh ngalangin jalan gue." Dan setelah itu berlari masuk ke dalam rumahnya.

Saat masuk, dirinya disambut oleh sang ibu yang asyik membaca majalah. "Sasori?"

"Maaf, Ma. Sasori tadi abis latihan band di rumahnya Dei. Trus macet, jadi pulangnya agak telat."

"Iya gak apa." Sang ibu membuka lembaran berikutnya pada majalah, tapi saat anaknya yang tampan itu berjalan ke arah ruang makan. "Lho, Sas? Sakura nya mana?"

DEG

'Sakura? Sakura?' Sasori berfikir dalam otaknya, "Ya ampun, Ma! Sasori lupa jemput Sakura! Dia 'kan lagi pramuka tadi!" ucapnya histeris. "Sasori mau jemput dia dulu!" ucapnya kemudian meraih kunci mobilnya – yang barusan diletakkan di atas meja. Saat mencapai mobilnya, Sasori segera memacu mobilnya secepat mungkin. Dia tak ingin sampai terjadi seseuatu pada adik kesayangannya itu.

-ooo-

Gadis berambut merah muda tampak sedang menunggu di sebuah kursi panjang di depan gedung sekolahnya. Seragam pramuka yang dikenakannya tampak kotor. Bercak-bercak tanah tampak menghiasi kemeja dan rok coklat itu. Dalam genggamannya, terdapat ponsel kesayangan yang tak pernah terpisah dari dirinya.

"Kenapa ponsel kak Sasori gak aktif sih?" tanyanya pada diri sendiri. "Mama juga, kenapa gak diangkat-angkat?" suaranya terdengar serak – seperti orang yang akan menangis. "Aku takut banget…" ucapnya lirih.

Wajar saja dia takut. Di sini, hanya tinggal dia sendiri. Siswa-siswi yang lainnya sudah pulang ke rumah masing-masing. Suasana benar-benar sepi, tak ada taksi ataupun bis kota yang melintas.

Tangannya memain-mainkan ponsel mahal itu. Tiba-tiba, dia teringat akan satu insiden tadi siang.

"Oh iya, tadi kak Sasuke nyita ponsel aku 'kan?" suaranya terdengar khawatir. "Apa jangan-jangan dia baca…"

"Lho, dek?" suara lelaki mengejutkannya. "Belum pulang?" Gadis berambut merah muda ini segera menoleh ke arah sumber suara. Suara itu mengejutkannya, dia takut suara itu dimiliki oleh segerambolan preman nakal yang sering menganggu gadis yang sedang sendirian di kota besar.

Namun, gadis ini bisa bernafas lega saat melihat dua sosok itu. Dua sosok lelaki yang dikenalnya. Salah satunya memakai seragam pramuka seperti dirinya – hanya saja memakai celana. Dan yang satunya, memakai t-shirt oren dengan jeans biru tua.

"Kak… Naruto dan… hmm.. kak Sasuke?"

"Udah malem lho! Kok belum pulang?" tanya Naruto – lelaki dengan t-shirt oren.

"Ano… aku belum dijemput sama Kakak," jawabnya jujur.

"Ohh… oh ya, ini Sakura 'kan?" tanya Naruto. Sakura mengangguk. Wajahnya sengaja ditundukkan. Sakura tak ingin sampai Sasuke – lelaki yang bersama Naruto – menyadari bahwa dialah yang tadi terlambat datang dan mendapat hukuman; memungut 50 sampah.

Tiba-tiba, ponsel Naruto bergetar. "Halo—iya Ma—ok!." Naruto menekan tombol merah di ponselnya. "Hm, gue pulang duluan ya, Sas. Nyokap gue minta dijemput di supermarket! Bye!" Naruto masuk ke mobilnya, kemudian melaju. Meninggalkan Sasuke dan Sakura berdua di sini.

Hening.

Sakura masih menundukkan wajahnya. Dari tadi belum ada percakapan di antara mereka. Sasuke terlalu gengsi untuk bersuara duluan, sedangkan Sakura, terlalu malu untuk mengajak lelaki tampan ini berbicara.

Sampai akhirnya…

"Pulang bareng gue!" ucap Sasuke ketus sambil berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di tepi jalan – tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Ah?" Sakura terkejut. Pulang? Bareng Sasuke? Semobil?

"Cih, mau pulang gak? Kalo gak gue tinggalin nih!" Sasuke kesal.

"Ah, iya-iya!" Sakura berlari ke arah Sasuke dan mobilnya. Dan wajahnya sempat memerah saat Sasuke memperhatikan dirinya yang masuk ke dalam mobilnya. Dan rasa deg-degan terus menemani Sakura selama perjalanan pulangnya bersama Sasuke.

-ooo-

Sasuke dan Sakura telah jauh meninggalkan kompleks sekolahan mereka. Namun, dengan tiba-tiba… mobil berwarna hitam ini berhenti mendadak.

"Lho? A-ada apa, Kak?" tanya Sakura Panik.

Sasuke tidak menjawab. "Cih sial, gue lupa ngisi bensin!" ucapnya kesal.

"Trus… gi-gimana?"

Sasuke terlihat berfikir sejenak. Ini adalah pengalaman memalukan dalam hidupnya. Mobil mati di tengah jalan karena kecerobohannya – lupa mengisi bensin – dan saat ini dia bersama dengan adik kelasnya di sekolah. Poor, me! Fikirnya.

"Kita jalan kaki." Lalu Sasuke keluar dari mobilnya. Sakura sedikit terkejut, namun setelah itu mengikuti jejak Sasuke keluar dari mobilnya. Dan mulai berjalan menyusuri malam.

Mereka berjalan penuh dengan ke-canggung-an. Sasuke berusaha tampil se-cool mungkin di depan adik kelasnya ini. Sedangkan Sakura, dia berusaha menyembunyikan perasaan bahagianya dengan menunduk dan menatap ponselnya.

Tiba-tiba, kalimat meluncur dari bibirnya…

"Kak…" panggilnya, Sasuke menoleh, "tadi Kakak gak baca pesan masuk aku 'kan?" entah bagaimana kalimat itu bisa meluncur dengan mudahnya di bibri Sakura.

Alis Sasuke terangkat. "Cih, pede banget sih lo! Buat apa gue baca pesan masuk lo! Gak penting banget!" jawab Sasuke ketus. Lalu tangannya meraih ponsel yang dia letakkan di saku celananya. Terlihat Sasuke mulai mengetikkan sesuatu.

Tak lama kemudian, ponsel Sakura berdering. Dengan sigap Sakura memencet asal-asalan keypad ponselnya. Berusaha menghentikan message tone ponselnya. Sasuke yang merasa janggal, menoleh ke arah gadis di sampingya.

"Itu… bunyi… sms masuk?" Sasuke menginterogasi.

Sakura menggeleng pelan. Kemudia berusaha tersenyum sebiasa mungkin. "I-itu suara telfon masuk…" ucapnya kemudian mendekatkan ponsel itu ke telinganya.

"Iya—aku lagi di jalan—oke—dah, Ino." Sakura mejauhkan ponsel itu dari telinganya.

"Kok gue gak denger suara siapapun sih?" Sasuke masih penasaran.

"E-emang dikecilin. Hehehe."

"Ohh…"

Saat Sasuke memalingkan wajahnya, Sakura segera melihat ke arah screen ponselnya.

1 message received.

From: Kak Sasuke

Hey, lagi ngapain nih?

Sakura terbelalak, namun tersenyum bahagia saat melihat sms yang masuk itu dari seseorang yang dikaguminya. Seseorang yang sedang ada di sampingnya.

"Ngapain senyum-senyum gitu?" tanya Sasuke yang risih melihat ekspresi lebay Sakura saat ini.

"Ah?" Sakura menenangkan dirinya. "E-enggak… temen aku, sms aku…"

"Hn."

Sakura segera mengetikkan balasan untuk sang kakak kelas.

To: Kak Sasuke

Aku lagi… jalan jalan senja.

Kakak sendiri lagi ngapain?

.

From: kak Sasuke

Gue juga lagi jalan-jalan nih.

Pulang pramuka, mobil malah mogok.

.

To: Kak Sasuke

Makanya, lain kali bensin tuh diisi!

Jangan tahu make aja!

.

From: Kak Sasuke

Lho? Kok tahu kalo mobil gue kehabisan bensin?

Aneh deh…

.

Sakura terkejut setelah membaca pesan yang baru saja dikirim oleh Sasuke. 'Ya ampun, aku keceplosan!' batinnya sambil memukul pelan kepalanya sendiri.

Sasuke yang melihat itu menatapnya penuh Tanya. "Lo kenapa lagi?"

"Oh—a—anu, tadi ada nyamuk. Hehehe…" Sakura kembali memfokuskan diri pada ponselnya.

To: Kak Sasuke

Aku tahu karena… feeling,

.

From: kak Sasuke

Oh… kirain lo buntutin gue.

Btw, tadi ikut pramuka gak?

.

Sakura berfikir keras untuk menjawab sms Sasuke selanjutnya. Jika dia mengakui bahwa dia ikut pramuka… Sasuke akan segera mengetahui jati dirinya. Tapi jika dia berbohong… sampai kapan dia harus bersembunyi dan tidak membiarkan Sasuke mengetahui siapa dia sebenarnya.

.

To: kak Sasuke

Aku gak ikut.

Tadi aku ketiduran, jadi gak bisa datang.

.

From: Kak Sasuke

Ohh…

Oh ya, nama lo 'Sakura' 'kan?

.

To: Kak Sasuke

Iya.

Kenapa kak?

.

From: Kak Sasuke

Hn, gak ada apa-apa sih.

Cuma aneh aja,

Sekarang aku lagi jalan bareng adek kelas,

Namanya juga 'Sakura'

.

To: kak Sasuke

Cieee… orangnya gimana?

Cantik gak?

.

From: kak Sasuke

Hn… lumayan sih.

Rambutnya itu lho,

Unik banget!

.

Sakura terkikik saat membaca balasan dari Sasuke barusan. 'Kak Sasuke bilang aku 'lumayan'? itu berarti aku gak terlalu jelek 'kan di mata dia?' Sakura merasakan kebahagiaan benar-benar menyelimuti hatinya saat ini.

Namun tawanya terinterupsi saat Sasuke menegurnya.

"Kita beli makanan dulu." Ucapnya datar, lalu berjalan ke arah kios makanan di tepi jalan. Mau tak mau, Sakura mengikutinya dari belakang.

"Kak! Tunggu bentar!" Sakura menarik lengan kiri Sasuke, namun cepat-cepat dilepaskannya saat onyx Sasuke menatap matanya dengan pandangan tak suka. "Eh, i-itu… Mama aku gak bolehin aku jajan sembarangan." Suaranya terdengar takut.

"Cih, trus kenapa? Lo mau mati kelaparan? Dari jam tiga tadi gue belum makan!" ucapnya, "dan gue yakin, lo belum makan juga 'kan?" ucap Sasuke kesal. Tanpa memperdulikan Sakura, Sasuke memasuki kios tersebut dan memesan dua buah burger.

Dengan terpaksa, Sakura mengikutinya.

To: kak Sasuke

Kak, aku makan dulu ya.

Sampai nanti.

.

From : Kak Sasuke

Oh.

Oke

Yang kenyang ya..

"Mau minum apa?" Tanya Sasuke

"Jus melon aja, Kak."

"Jus tomat satu, jus melon satu. Semuanya dibungkus," ucap Sasuke pada sang pelayan.

"Lho, Kak?" Sakura mendekat pada Sasuke. "Kita gak makan di sini?"

Sasuke menggeleng, "kita makan di luar – dekat taman kota aja. Di sana view-nya lebih keren."

"o—ohh, terserah Kakak deh."

Sekitar dua puluh menit kemudian, Sasuke dan Sakura berjalan ssekitar tiga puluh meter lagi menuju taman kota. Di sana terdapat banyak sekali jenis bunga yang ditanam. Lampu-lampu taman yang bersinar temaram, membuat suasana di sana jadi… romantis.

Taman itu benar-benar tepat berada di tengah kota. Dari bangku panjang yang diduduki Sasuke dan Sakura, mereka bisa melihat gemerlapnya suasana malam di Konoha. Langit malam yang cerah dengan taburan jutaan bintang menghipnotis mata Sakura. Belum lagi sinar yang berasal lampu-lampu kendaraan di jalan terlihat begitu luar biasa.

Mereka menikmati burger itu dalam diam. Tak ada satupun di antara mereka yang memulai untuk berbicara. Mungkin karena rasa lapar yang begitu menusuk perut yang menyebabkan kebisuan itu terjadi.

Tak lama kemudian, burger itu telah dilahap habis oleh keduanya. Tak sampai sepuluh menit! Bisa dibayangkan betapa laparnya dua insan ini.

"Akhirnya, kenyaaanggg~" ucap Sasuke – lupa akan kehadiran Sakura. Namun cepat-cepat di ralatnya, "maksud gue, kenyang, huruf 'a' dan 'g'-nya satu aja. Yang tadi lupain aja!" kembali ke sifat aslinya.

Sakura terkikik. "Kak Sasuke lucu," ucapnya sambil tersenyum.

DUARRR

"Lucu?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya, "gue sama sekali gak LUCU!" ucapnya emosi.

"Eh, ma-maaf, aku gak bermaksud ngejek Kakak kok, beneran!"

Sasuke menatap Sakura dingin. "Lupain!"

Tiba-tiba, suara yang tidak asing di telinga mereka berdua datang mengagetkan mereka. "SAKURA!" teriak lelaki berambut merah dan langsung memeluk Sakura. "Ke mana aja sih? Kakak cariin?" Lelaki itu sangat cemas.

"Maaf, Kak. Tadi aku mau di anterin pulang sama Kak Sasuke," ucap Sakura sambil menunjuk ke arah Sasuke yang menatap mereka tak percaya. "Kakak jemputnya kelamaan sih!"

'Sasori? Kakaknya Sakura?' batin Sasuke.

Sasori kaget saat melihat Sasuke dengan tampang dinginnya berdiri di sampingnya. Detik berikutnya, Sasori membuang mukanya. "Thanks!"

"Hn?"

"Buat jagain Sakura!" ucap Sasori ketus – jaga image. "Sakura, kita pulang!" Sasori lalu menarik Sang adik dan membawanya ke mobil.

"Kak Sasuke, makasih yaa udah nemenin aku!" teriak Sakura. Dan kemudian Sasori menghidupkan mesin mobilnya – lalu melaju menjauhi taman kota.

"Anjir, gue ditinggal sendiri pula!" gerutu Sasuke – kesal.


[AN] important!

Eaaak! akhirnya, aku apdet juga fic ini. Setelah beberapa bulan terlantar. Rasa Humornya gak terasa... -_-

well, sebenarnya, aku sedikit malas buat ngapdet fic ini, karena... fandom Naruto itu udah banyaaaak banget highschool fic :)

Trus, aku juga pas publish fic ini, gak mikir-mikir, maen asal publish aja - padahal aku rasa... ide fic kayak gini pasaran banget -_-

makanya, aku gak nulis kata 'TBC' di akhir fic :)

Aku gak bisa janji bakal lanjutin fic ini. Tapi mungkin gak akan aku hapus... palingan aku telantarin (lagi) dalam waktu yang sangaaaat lama...

Tapi jangan kaget kalo tiba-tiba fic ini ngilang... hahahaha...

Maaf buat reviewer yang gak bisa aku balas feedback-nya . AMPUN

TERIMAKASIH buat semuanya yang mau baca Fic aneh ini -_-

Dan untuk terakhir kali... adakah yang bersedia memberi feedback untuk fic ini?