Main Pairing : Taoris
Rated : M
Warning : Yaoi, ooc, oc, mpreg
Disclaimer : Semua tokoh di ff ini bukan punya saya, saya cuma pinjem nama doang, tapi semuanya—penokohan, alur, dll—murni dari imajinasi saya
A/N : hehe, fyi aja, buat semua perawatan dan atribut kehamilan di ff ini murni dari imajinasi author, jadi kalo ada yang aneh maklum ya, otak authorkan kadang lurus kadang miring.
.
Don't Like Don't Read
.
"Kau serius kau sudah tidak apa-apa Tao?"
Tao mendesah sebal saat mendengar Baekhyun kembali mengulai pertanyaan yang sama untuk ke-dua puluh tiga kalinya. "Aku serius, hyung," ucapnya sembari tersenyum manis—senyum yang sangat jarang ia tunjukkan selama tiga bulan ini. "Dan hyung, kau sudah mengulangi pertanyaan itu dua puluh tiga kali, dan aku juga mengulagi jawaban yang sama sebanyak dua puluh tiga kali, tidakkah itu cukup untukmu?"
Mendengar ucapan dongsaengnya, Baekhyun yang kesal akhirnya mengerucutkan bibirnya. "Akukan khawatir, Tao panda!" katanya sebelum menjitak kepala Tao, membuat si pemilik meringis sedikit.
"Ya, ya, terimakasih, hyung," ucapnya. Tao yang merasa pegal karena sejak tadi ia hanya berbaring akhirnya menjoba untuk bangun, namun rasa sakit yang tiba-tiba di perutnya menghentikan gerakannya. "Akh,"
"Tao! Ada apa?" tanya Baekhyun panik, tangannya tanpa sadar bergerak ke atas perut Tao. "Kau baik-baik saja? Ada yang sakit kah? Perutmu? Tao?"
Tao memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya kembali dan mengerjap beberapa kali—untuk menghilangkan air mata yang entah sejak kapan sudah melapisi matanya. Setelah menstabilkan napasnya dan memastikan rasa sakit tadi sudah hilang akhirnya ia menjawab. "Aku tidak apa-apa, hyung, tadi perutku sedikit sakit, mungkin karena aku bangun terlalu tiba-tiba,"
Jari-jari lentik Baekhyun secara tak sadar mengelus perut Tao—dan menyadari kalau perut dongsaengnya itu sudah mulai membesar, hanya sedikit, tapi tidak lagi rata seperti dulu. "Wu Zhu Yuan dan Wu Hui Jian, menurutmu si kecil ini akan menyandang nama yang mana? Dua-duanya bagus lho… tak kusangka dduizang jelek itu pintar juga memilih nama, dan kalau dilihat-lihat, dduizang tampaknya sangat bersemangat untuk menjadi appa, dia bah—"
"Aku tidak perduli," potong Tao tiba-tiba. Namja manis itu menggunakan tangannya untuk menyingkirkan tangan Baekhyun dari perutnya dan mencoba duduk dengan lebih hati-hati—tidak ingin merasakan sakit yang mengerikan itu lagi.
"Apa?"
"Aku tidak perduli," ulangnya. "Terserah namja brengsek itu mau memberi benda ini nama apa, apa perduliku? Dan kalau dia memang menginginkan anak, bukankah ia bisa pergi ke bar, menyewa seorang yeoja dan mulai membuat anak dengan yeoja itu, aku yakin kalau itu yang ia lakukan dari awal, aku tidak perlu terjebak dalam situasi seperti ini,"
Baekhyun bungkam, tak menyangka dongsaengnya yang polos dan manis bisa mengucapkan kalimat seperti itu, namun hatinya luluh saat melihat mata Tao yang berkaca-kaca. Dengan perlahan, Baekhyun menarik Tao ke dalam pelukannya—memberi kekuatan sebanyak yang ia bisa. Tao sangat membutuhkan dukungan, Baekhyun tahu itu—sangat tahu malah, namun kejadian ini entah kenapa membuat Tao terasa jauh dan sulit untuk diraih. Dan Baekhyun sangat bersyukur karena saat ini ia dapat memeluk Tao dan membisikkan kata-kata manis ke telinga namja bermata panda itu, dapat menariknya cukup dekat untuk mengatakan ia tidak sendirian.
Baekhyun tahu ini berat bagi Tao—tentu saja! Tao dibesarkan dalam lingkungan yang percaya kalau namja tidak bisa hamil!—dan mendengarnya menangis sendirian setiap malam membuatnya marah, entah pada siapa—bisa Kris, atau bisa juga pada dirinya sendiri. "Shhh… tenang Tao, hyung di sini, kami semua di sini, semua akan baik-baik saja," ucapnya saat mendengar Tao mulai terisak. Jujur Baekhyun mengerti perasaan Tao yang ingin menggugurkan kandungannya, tapi ia tidak ingin Tao menyesal. Karena ia tahu, tidak ada ibu—anggap saja Tao itu ibu, karena ia yang akan melahirkan nanti—yang akan baik-baik saja setelah membunuh anaknya yang bahkan belum lahir.
"Baekhyun-ah, bisa aku bicara dengan namjachinguku, berdua saja," ucap seseorang di belakang mereka.
"Tentu, Kris," balas Baekhyun tanpa menoleh ke belakang sebelum bangkit dan berjalan keluar kamar. Jujur ia khawatir meninggalkan Kris dan Tao dalam satu ruangan, apalagi hanya berdua—ia takut Kris akan melakukan yang tidak-tidak pada Tao atau Tao akan membunuh Kris di tempat karena sudah memaksanya mengandung seorang bayi. Mereka harus bicara, pikir Baekhyun tegas sebelum menutup pintu.
Kris yang sadar kini ia hanya berdua dengan namjachingunya—meskipun ia ragu Tao masih sudi menyandang gelar itu—mencoba berbasa-basi dengan mengucapkan 'hai'. Dan tebak apa yang di dapatnya, dengusan dan tidak ada lagi. Setelah mengerang frustasi, Kris akhirnya kembali bicara. "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya, berharap mendapat jawaban yang lebih panjang kali ini.
"Baik-baik saja sampai aku tahu aku setengah yeoja," jawab Tao sarkastis, tidak memerdulikan tatapan bersalah Kris. Ia memang seharusnya tidak sekasar ini, tapi Tao sudah terlanjur marah pada namja yang merebut kesuciannya tanpa izin ini.
"Serius, kau bukan siluman,"
"Aku tidak bilang aku siluman,"
"Kau bilang kau setengah yeoja,"
"Memang, lalu? Atau kau mulai berpikir kalau yeoja itu siluman?"
Kris menjambak rambutnya sendiri, ia benar-benar frustasi. Demi apapun di dunia ini, Kris jauh lebih menyukai Tao yang cengeng dan penakut dibanding Tao yang galak begini. Dan ia benar-benar merasa seperti bajingan karena ialah yang sudah merubah Tao. "Aku serius, Tao, bagaimana keadaanmu?"
"Begini ya, dduizangku tersayang," mulainya dengan nada mengejek, membuat Kris semakin merasa seperti bajingan—Tao tidak pernah berbicara dengan nada seperti ini sebelumnya. "Aku baru saja merasa sesuatu seperti akan merobek perutku dari dalam—demi Tuhan, rasanya benar-benar mengerikan, dan aku juga melihat banyak sekali darah yang mengalir di antara kakiku, lalu Tae So noona melakukan sesuatu di bawah sana—entah apa, mungkin memasukkan tangannya atu apa, karena rasanya sangat sakit—untuk menghentikan pendarahan. Jujur aku benar-benar berpikir aku mungkin akan mati tadi, dan kau masih bertanya bagaimana keadaanku? Kau pasti idiot atau tidak peka karena berpikir aku baik-baik saja,"
"Aku tidak berpikir kau baik-baik saja,"
"Lalu untuk apa kau menanyakan keadaanku?!"
"Aku hanya khawatir padamu dan bayinya!"
"Terima kasih ya, sudah memberiku hadiah dari neraka ini,"
Rambut pirang Kris kini sudah tidak beraturan karena pemiliknya terus menerus menjambak atau mengacak-acaknya. "Tao, kau ini kenapa sih?"
"Aku? Tidak apa-apa kok, cuma hamil dari hasil pemerkosaan doang, bukan masalah besar kan? Toh kau pasti berpikir aku ini hanya sex toy!" ejek Tao sembari menyilangkan tangannya.
"Aku tidak pernah," Kris menghentikan ucapannya sejenak, berusaha menahan segala emosi yang kini berkecamuk di kepalanya. Tao sudah mulai membuatnya jengkel sekarang. "Aku. Tidak. Pernah. Menganggapmu. Sex. Toy! You get it, panda boy?"
"Bagaimana ya?" balas Tao setelah mendengus kesal. "Mungkin aku akan percaya padamu seandainya waktu itu kau tidak langsung memasukkan penis sialanmu itu! kau tahu tidak, setelah kau memerkosaku tempo hari, aku mencoba browsing bagaimana cara berhubungan seks yang benar—karena jujur, waktu itu aku dengan polosnya berpikir kalau seks tidak seharusnya sesakit itu—dan kau tahu apa, artikel yang kubaca menjelaskan kalau sebelum kau memasukkan penismu, sebaliknya kau melakukan pemanasan! Seharusnya kau memasukkan jari-jarimu dulu! Dan mungkin menggunakan sedikit pelumas agar penis jumbomu itu tidak menghancurkan pantatku,"
"Saat itu aku tidak bisa mengendalikan nafsuku,"
"Tentu, dan aku hanyalah anak polos yang bisa kau masuki kapan saja, kan? Kau sudah tahu kalau itu pengalaman pertamaku, kan?! Dan kau masih melakukannya sekasar itu hanya dengan alasan tidak bisa mengendalikan nafsu?! Iya hah?!"
"Tao, bukan itu maksudku…"
"Cih... bukankah kau lebih berpengalaman dalam hubungan seks, bitch face?"
Kesabaran Kris sudah benar-benar habis. Persetan dengan niatnya untuk bicara baik-baik dengan Tao. Anak ini sudah keterlaluan. "Oh, jadi kau berpikir aku tidak tahu apa-apa dan berusaha mengajariku, anak kecil?" tanyanya di sertai seringai sebelum bergerak mendekati Tao. "Nah, terima kasih atau ilmunya, panda kecil, dan bagaimana kalau kita mencoba apa yang barusaja kau katakan?"
Tanpa memberi Tao kesempatan untuk bereaksi, Kris sudah naik ke atas kasur, dan menngubah posisi Tao menjadi berbaring. Dengan cepat ia membuka seluruh pakaian Tao—semuanya—dan menghimpit tubuh telanjangnya dengan tubuhnya sendiri. "Nah… kau siap untuk mencoba apa yang baru saja kau ucapkan, baby panda?"
"Ap-apa ya—aaaaah~" Tao mendesah tanpa sadar saat merasakan panas napas Kris di telinganya. Dan namja manis itu mulai memucat saat menyadari Kris sudah mengikat kedua tangannya dengan sarung guling.
"Kenapa baby?" ucap Kris sebelum menurunkan bibirnya dan mulai memberi kiss mark di leher Tao, membuat namja di bawahnya mendesah semakin hebat. Bibir Kris semakin turun dan akhirnya sampai di salah satu nipple Tao. "Oh, lihat dua tonjolan ini! Apa yang harus kulakukan, Tao?" Tao menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mulai takut pada kemungkinan Kris akan memerkosanya lagi. "kenapa tidak menjawab Tao? Ah, mungkin harus kubeginikan, ya?" Kris menjepit kedua nipple Tao dengan masing-masing jari telunjuk dan ibu jarinya, lalu memutarnya perlahan, membuat Tao mendesah tertahan. "Apa? Kurang nikmat? Bagaimana kalau ini?" kini Kris mencoba memencet kuat ujung nipple Tao dengan jarinya, dan Tao tidak dapat menahan desahannya. "Sepertinya kurang, coba yang ini," Kris mulai menekan nipple Tao dengan kuat lalu menariknya lagi sama kuatnya—seolah ingin membuat nipple itu lepas, Tao benar-benar berteriak sekarang.
"Ah, kurasa baby di perutmu ini ingin aku mencoba apakan nipplemu mengeluarkan susu seperti yeoja," ucap Kris sebelum memasukkan nipple Tao ke dalam mulutnya dan menghisapnya sekuat tenaga, membuat Tao melengkungkan punggungnya dan memejamkan matanya erat. "Ah, tidak ada, baby, mungkin yang ini ada," dan Kris kembali melakukan hal yang sama pada nipple satunya, namun tentu saja ia tidak mendapat apa yang ia mau. Akhirnya ia menarik kepalanya menjauh dan menyeringai melihat kedua nipple Tao yang mengeras.
Kepala Kris semakin turun dan akhirnya berhadapan dengan penis Tao yang sudah menegang dan tanpa pikir panjang ia memasukkan benda itu ke dalam mulutnya. Sontak Tao—yang masih belum pulih dari kenikmatan yang ia dapat dari nipplenya—kembali mendesah keras, apalagi saat Kris mulai memaju-mundurkan kepalanya. Namun rasa sakit menjalari tubuhnya saat merasakan dua jari Kris memasuki holenya. Dan rasa takut itu kembali.
"K-Kris gege… ah! Emmhh~ h-hentikan! Aahh~" sebenarnya Kris mendengar ucapan Tao, tapi ia mau ukenya ini menerima sedikit pelajaran. Dan tanpa aba-aba, Kris memasukkan jari ketiga, membuat Tao menjerit dan mulai menangis karena merasa anusnya seperti dibakar. "K-kumohon hentikan Kris gege! Hentikan! A-aku sedang hamil!"
Dan Kris langsung mengeluarkan jarinya, membuat Tao ketakutan karena menurut yang ia ketahui, Kris pasti akan memasukkan penisnya sekarang. Namun Kris tidak menghentikan kulumannya pada penis Tao sampai Tao mencapai puncaknya.
Kris dengan sigap memakaikan kembali baju Tao, mencegah dirinya sendiri sebelum bergerak terlalu jauh, melepas ikatan tangan Tao dan kembali ke tempat duduknya semula. Meskipun tidak suka mengakuinya, Kris merasa kasihan saat melihat wajah Tao yang basah air mata. "Nah, nah, akhirnya kau mengakui jugakan kalau kau sedang hamil," ucapnya setelah menghapus air mata Tao dengan ibur jarinya.
"Kau melakukan itu hanya untuk membuatku mengatakan aku sedang hamil?!"
"Sebenarnya tidak, tapi terimakasih sudah mengakuinya,"
Tao diam, berusaha mati-matian agar tidak menangis. Akhirnya Kris kembali bicara. "Kau tahu Tao," katanya. "Tadi saat aku melihatmu mejerit kesakitan, atau terkapar berdarah-darah, atau terbaring di mobil tak berdaya, jujur aku merasa brengsek. Dan aku entah kenapa marah pada bayi ini, karena aku sempat berpikir kalau dia yang membuatmu kesakitan seperti itu—"
"Jadi kau mengizinkanku aborsi?"
"Aish~ bukan seperti itu, Tao! Kau mungkin tidak menyukainya, tapi aku menyayanginya, aku sangat amat menyayanginya, dia anakku, itulah sebabnya aku mohon padamu untuk menjaganya selama sembilan bulan ini, ok? Hanya sembilan bulan dan dia akan lepas darimu, ok? Baiklah, kembali ke topik awal, maksudku adalah, aku menyayanginya, tapi aku mencintaimu lebih dari apapun, hah… bahkan aku menyalahkan seorang bayi—anakku sendiri yang sangat amat kusayangi—yang belum lahir karena melihatmu kesakitan, padalah ia jelas-jelas tidak bersalah! Inikan salahku, seharusnya aku lebih tegas saat melarangmu latihan,"
"Aku taku ge," ucap Tao setelah diam sejenak. "Aku takut. Benda ini semakin besar ge, sekarang saja sudah mulai kelihatan, bagaimana saat lima bulan nanti? Enam bulan? Tujuh bulan? Delapan? Sembilan? Bagaimana cara kita menyembunyikannya? Apa yang akan dikatakan orang kalau sampai mengetahui aku hamil? Aku takut."
Kris mendesah pasrah saat mendengar Tao masih menyebutnya 'benda' bukan bayi. Tapi itu bukan masalah pokok sekarang. "Dengar Tao," katanya sembari menggengam tangan Tao dengan kedua tangannya dan mengecupnya. "Aku ada di sini, kami ada di sini, persetan dengan orang-orang di luar sana! Aku, member exo, manager, dan sunbae-sunbae lainnya bahkan Tae So noona akan tetap ada di sampingmu, mendukungmu, ok? Kami tidak perduli jika seandainya kehamilanmu membuat nama kami tercoreng dan kami kehilangan karir, kami tidak perduli Tao. Kau keluarga kami, kau orang yang penting untuk kami, tidakkah itu cukup? Begini saja, aku, Wu Yi Fan, leader exo-m bersumpah dihadapanmu aku akan menghajar siapapun yang berani mencelamu, termasuk fans-fansku, bagaimana?"
Tao mengangguk, hatinya terasa nyaman mendengar penuturan gegenya itu. "Gege, aku takut melahirkan," ucap Tao yang sepertinya mendapat kepolosannya kembali, membuat Kris berusaha mati-matian agar tidak terbahak.
"Takut kenapa, baby?"
"S-sakit ge, melahirkan itu sakitkan?"
"Entahlah, tapi akan kuusahakan untuk membuatmu senyaman mungkin,"
Tao terdiam, namun perkataannya berikutnya benar-benar membuat Kris berpikir. "Gege, bagaimana caraku melahirkan?"
.
.
"Yoboseyo?"
"Ah! Tae So noona!"
"Ya, Kris, ada apa? Jangan bilang kau menyetujui ide gila Tao tentang aborsi,"
"Tidak! Begini aku mau tanya sesuatu,"
"Tanya saja,"
"Bagaimana cara Tao melahirkan?"
"…"
"Hei, kau masih di sana?"
"Tentu, aku hanya kaget mendengarmu tiba-tiba tanya begitu, dan soal cara Tao melahirkan, dia bisa operasi—tapi karena dia tidak mau ke rumah sakit, berarti tidak mungkin operasi, dia juga bisa melahirkan dengan normal,"
"Normal?"
"Ya, seperti yang kau lihat di tv, memang kedengarannya mengerikan, dan sangat menyakitkan, tapi mau apa lagi? Dan ya, aku tahu dia memang tidak punya vagina, tapi sebenarnya namja spesial seperti Tao memiliki tiga lubang. Satu, lubang penis. Dua, lubang anus. Dan yang ketiga lubang yang memang merupakan jalan keluar bayi, letaknya diantara anus dan penis, meskipun lebih dekat ke penis. Demi neraka, lidahku terasa aneh karena terlalu banyak mengucapkan penis,"
"Oh! Jadi itu lubang yang kulihat tadi?"
"APA?! KAU MELIHATNYA?! JANGAN KATAKAN PADAKU KAU BARUSAJA MENCOBA BERHUBUNGAN SEKS DENGANNYA!"
"Oh Tuhan, kenapa kau tidak mendengarkanku dulu sih? Ya, memang tadi kami HAMPIR berhubungan, tapi tidak jadi karena aku masih punya hati. Tapi noona, lubang itu kecil banget, aku bahkan ragu kelingkingku bisa masuk, dan terakhir aku tahu, bayi berukuran jauh lebih besar dari kelingking,"
"Ohh~ kalau soal ukuran, tenang saja, lubang itu akan membesar dengan sendirinya saat waktunya tiba, sudah ya? Kau tidak ada yang ingin ditanyakan lagi kan? Aku ngantuk nih,"
"Oh, ya sudah, terima kasih untuk jawabannya, selamat malam,"
"Malam, oh, dan Kris, aku akan memotong juniormu seandainya kau berani menyetujui permintaan Tao untuk aborsi"
.
.
TBC
Maaf baru update, hehe
Thanks for reading
Review Please?
