A/N :Chappy 2! *digebukin* Hehehe.. Saya langsung mengerjakan ini setelah menulis 'Christmas Truth'. Dan memperbaiki nya hari ini. Semoga saja cukup mudah dimengerti dan juga cukup bagus.
Selamat menikmati~
Otak cerdas miliknya masih berusaha untuk memutar ingatan yang semalam Ia bayangkan. Selain kejadian yang berusaha Ia ingat, ada pula beberapa pertanyaan yang ikut menghantui nya.
'Siapa anak itu? Apakah Ia berhubungan dengan gadis bernama Naoto itu?'
Souji menghela napas. Kenapa kepalanya tidak dapat mengingat kejadian sepenting itu, sedangkan pelajaran membosankan di kelas dapat dihapalkan dalam sekejap?
Pemuda berambut abu-abu itu berjalan pelan menuju sekolah. Diayunkannya kedua kaki panjang miliknya berjalan secara bergantian. Ditopangnya tangan kanannya yang sedang memegang dagunya dengan tangan kiri. Sepasang mata abu-abu yang senada dengan rambutnya terus melihat ke bawah, memperhatikan jalan jalur sekolah yang biasa Ia pakai setiap hari.
Souji mengacak-acak rambutnya, tanda bahwa Ia sudah sangat bingung dan tidak bisa menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang Ia pikirkan. Akhirnya Ia menyerah berpikir dan memusatkan seluruh konsentrasinya untuk berjalan ke sekolah.
Perhatiannya kembali tersita saat Ia mendapati salah satu sosok yang Ia pikirkan sejak kemarin. Anak dengan rambut biru gelap yang menangis di pinggir sungai. Untuk beberapa saat Souji mengecek ulang apakah sosok yang ada didepannya itu orang yang sama.
Anak itu masih memakai topi biru, yang jujur, untuk Souji, itu terlihat cukup aneh jika dipakai untuk anak SD. Ia juga memakai jaket yang sama dengan kemarin. Tidak ada yang berbeda sedikit pun, bahkan sepatu dengan sol yang tinggi itu juga dipakainya.
Setelah yakin, Souji mulai melangkah mendekat saat sepasang tangan menariknya memasuki gang dekat situ. Souji sedikit mengerang saat wajah seorang Yosuke Hanamura berdiri di sampingnya sambil menutup mulut Souji.
"Ssstt! Diam lah sedikit Souji." Yosuke melepaskan tangannya dari mulut Souji. Pemuda itu menghela napas lega saat Ia akhirnya dapat bernapas dengan normal.
"Apa yang kamu lakukan Yosuke?" Souji sedikit membentak temannya. Ia berniat untuk kembali mendekati anak biru itu dan bertanya berbagai macam hal, tapi Yosuke menghentikannya.
"Harusnya aku yang berkata seperti itu! Apa yang ingin kamu lakukan dengan mendekati anak itu?" Suara Yosuke sedikit menggema di gang sempit berusaha menatap Souji yang sedikit lebih tinggi darinya.
"Kamu tidak ada hubungannya dengan ini. Kenapa aku harus selalu mengatakan semua yang ingin kulakukan padamu? Biarkan aku lewat sekarang!" Souji membalas tatapan Yosuke dengan sepasang mata paling dingin yang dapat dia lakukan.
Yosuke menghela napas dan berusaha mengontrol emosinya. "Apakah kamu tidak pernah mendengar apa pun tentang anak itu? Dia adalah anak yang paling dibenci dikelas 5! Siapa pun yang mendekatinya akan ikut diasingkan dan diejek terus menerus! Bahkan anak kelas 1 pun ikut mengejek nya! Kamu tidak ingin merusak reputasi mu sebagai anak terpopuler di sekolah hanya karena alasan konyol kan?" Yosuke berusaha meruntuhkan semangat teman baiknya itu.
Souji berjalan melewati Yosuke, "siapa peduli soal reputasi? Tidak ada orang yang boleh mengambil hak orang lain, termasuk mengasingkan dan mengejek. Kalau bahkan kamu, Yosuke, tidak mengerti hal ini, berarti semua orang terlalu bodoh. Memang nya apa yang pernah Ia lakukan sampai harus mendapatkan perlakuan seperti itu?" Pemuda itu memegang bahu Yosuke dan secara tiba-tiba menguatkan pegangan itu. Yosuke meringis kesakitan.
"I-Itu…" Yosuke kehabisan kata-kata. Dia sudah tahu bahwa Ia harus memiliki kemampuan berbicara yang tinggi untuk mengalahkan temannya ini dalam hal berdebat. Tapi Ia harus mengatakan yang sebenarnya! Jangan sampai Souji salah jalan dan menjerumuskan diri dalam masalah.
Souji melepaskan pegangannya dan berjalan menuju sekolah. Yosuke ingin langsung mengatakan seluruh kenyataan tapi kalimat nya tersangkut ditenggorokan. Dan akhirnya hal lain yang terucap olehnya.
"Namanya Shirogane Naoto. Kelas 5-1. Sebaiknya kamu melihatnya sendiri jika tidak percaya apa yang kukatakan.." Pemuda berambut cokelat itu menyelesaikan kata-katanya, yang dibalas dengan sebuah lambaian dari Souji. Disandarkan tubuhnya di dinding dan menggigit bibir bawahnya, menyesali apa yang baru saja dia katakan.
Souji terus memperhatikan pemandangan luar lewat jendela kelas. Ia sama sekali tidak melihat atau mendengarkan pelajaran yang sedari tadi diajarkan oleh gurunya. Walaupun Ia tidak memperhatikan, dia telah mempelajari materi itu semalam, jadi tidak ada yang harus dikhawatirkan.
Diliriknya sedikit jam yang dipasang diatas papan tulis. 5 detik lagi? Kenapa waktu harus berjalan lambat sekali saat akhirnya Ia baru saja mendapatkan apa yang ingin dia ketahui?
4..
3..
2..
1..
Bel sekolah pun akhirnya berbunyi. Sesaat setelah semua memberikan hormat pada guru, Souji langsung memasukkan barang-barangnya tanpa berpikir apakah itu berantakan atau tidak.
Chie, Yukiko dan Yosuke memperhatikan tingkah laku Souji yang aneh sejak pagi ini. Dia sama sekali tidak mendengarkan guru, hanya melamun memperhatikan jendela, dan sekarang.. Dia memasang muka antusiasnya yang 'mungkin' pertama kali nya ada yang melihat.
"So- Souji-kun, kamu baik-baik saja?" Chie menatap langsung mata Souji. Tetapi pemuda itu terlalu sibuk memasukkan barang-barangnya.
"Nanti saja Chie. Aku ada urusan." Souji menutup tasnya dan berjalan melewati Chie.
"SOUJI! Apa kamu benar-benar ingin melakukannya?" Yosuke berdiri tepat di depan Souji. Ini adalah hal terakhir yang dia ingin Souji lakukan.
"Ya.. Dan kamu tidak akan bisa menghentikan keingin tahuan ku begitu saja.." Souji berjalan pelan keluar kelas dan mengarahkan dirinya ke kelas 5-1.
'Aneh, banyak bekas coretan disana-sini..' Souji memperhatikan dinding-dinding disekitar kelas 5-1. Ia merasa sedikit risih dengan ketidak bersihan sekitar sini, padahal di daerah kelas lainnya masih sangat bersih. 'Inikah yang dimaksud Yosuke? Jangan bercanda!'
Tapi syukurlah, Ia tepat waktu. Kelas 5-1 masih belum keluar kelas. Setelah Ia menunggu beberapa saat di depan kelas, pintu kelas pun terbuka dan berbondong-bondong murid mulai berjalan keluar.
Beberapa bisikan terdengar jelas dari murid perempuan kelas itu. "Hei.. Itu kan Souji-san!", "Benarkah? Sayang sekali aku tidak membawa kamera hari ini..", "Apa yang dia lakukan di sini ya?" Souji hanya menutup matanya dan menunggu orang yang Ia tunggu keluar. Ia sudah bosan mendengar semua hal tentang dirinya dari sekolah sebelumnya.
Perlahan-lahan murid yang berjalan dari kelas itu pun mulai menipis, tapi tidak ada tanda-tanda anak itu. 'Kemana dia?' Souji melangkahkan kakinya ke dalam kelas dan mendapati tidak ada seorang pun di kelas kecuali guru yang tadi mengajar.
"Sensei.. Apakah sensei tahu di mana Shirogane Naoto? Saya sedang mencarinya, tapi tidak ketemu.." Tanya Souji pada guru tersebut. Guru itu terdiam sesaat, sepertinya sedang mencoba berpikir, lalu menjawab singkat. "Tidak, kalau tidak salah, tadi siang, dia izin pulang cepat. Katanya kurang enak badan."
Setelah mengucapkan terima kasih, Souji memberi hormat singkat dan mempersilahkan gurunya untuk keluar kelas. Sesaat sebelum Ia keluar, salah satu meja murid yang berada di pojok belakang menarik perhatiannya.
Ia dekati meja itu dengan ayunan langkah lambat. Menyentuh permukaan meja yang kasar. Lalu menyentuh meja lainnya. 'Halus.. Kenapa hanya meja ini yang kasar?'
Ia perhatikan meja itu dengan seksama. Meja itu telah digores secara kasar dengan cutter. Berbagai tulisan pun tertulis di sana. Rasa kesal dan amarah mulai memuncak dalam dirinya setelah membacanya.
"DASAR ANAK PEMBUNUH!"
.
"CEPAT MATI SAJA SANA!"
.
" KAMU MERUSAK PEMANDANGAN SAJA!"
.
"KAMU TIDAK DIPERLUKAN DI KELAS DAN DUNIA INI!"
A/N : Jadi gimana Chap 2 ini? Saya tidak mempunyai sense yang bagus dengan penilaian. Jadi, bagi yang ingin memberikan kritik, saran, typo atau apa pun (tolong jangan flame *bow*) silahkan review!
