A/N : Haha XD Maaf kalau lama update.. *ditimpuk* Sibuk sama sekolah, dan sedikit writer's block XD Jadi mohon maafkan saya XD *dilempar batu bata* Terima kasih bagi yang sudah me-review fanfic ini, saya berterima kasih sebesar-besarnya! Silahkan menikmati chap ini!


Souji menghela napas panjang, disilangkan kedua lengan di depan dadanya. Ia kembali berjalan pulang menuju arah rumahnya, rumah Dojima. Iris abu-abu memperhatikan pemandangan langit sore yang mulai memerah akibat matahari tenggelam. 'Apa aku perlu bertanya pada teman-teman yang lain?' Dia sangat yakin mereka mengetahui sesuatu.

Digelengkan kepalanya keras, rambutnya bergerak cepat mengikuti gerakan kepalanya. 'Mereka pasti tidak akan mengatakan apa pun!' Yosuke saja yang teman baiknya tidak mau memberitahunya, apa lagi teman lainnya, mereka lebih tepat disebut kenalan daripada teman untuknya.

Kaki kanannya menendang kuat sebuah batu di jalan. Ia sudah sangat kesal sekarang. Bukan hanya karena tidak ada yang mau mengatakan apa pun, tapi juga kalimat yang tertera di meja itu. Tulisan itu tidak mungkin ditulis pemilik mejanya sendiri, dan pasti ditulis oleh teman-teman sekelas anak itu. 'Apa maksud semua tulisan itu?'

Pikirannya buyar karena sebuah suara mengganggunya. Ia coba pusatkan pendengarannya, mencoba mencari-cari sumber suara itu. Terdengar berbagai macam suara, suara teriakan, pukulan, tendangan, kalimat meminta mohon.. Ada perkelahian yang sedang berlangsung!

Digerakkan kedua kakinya berlari menuju sumber suara, sekencang yang Ia bisa. Setelah sekitar 15 menit berlari, Ia sampai di tempat kejadian. Wajahnya mulai pucat pasih, napasnya benar-benar memburu, Ia mengutuk jantung nya yang lemah dan mengakibatkannya tidak bisa berolahraga seperti anak-anak lainnya.

Beberapa anak berseragam SMP terkapar dimana-mana. Souji memperhatikan luka-luka di tubuh mereka, sebagian besar memiliki memar di wajah, luka sobekan di bibir, atau hidung yang patah. 'Cukup parah..' pikir Souji, tapi Ia yakin mereka semua sudah biasa dengan luka seperti itu (dilihat dari tampang mereka semua yang seperti anak berandalan).

Pemuda itu melangkahi beberapa tubuh yang lebih besar darinya. Di tengah semua murid-murid itu, berdiri seorang anak SD. Ia sedikit lebih tinggi dari Souji, mengenakan selembar kaos hitam bergambar tengkorak yang ditutupi oleh jaket berwarna senada. Perawakan nya sama sekali tidak seperti anak SD pada umumnya, dengan rambut yang dicat kuning pucat. Bahkan Souji takut mendekatinya, mungkin dia akan dipukul jika Ia berjarak 3 meter pemuda itu.

Tanpa sengaja tatapan mereka berdua bertemu selama beberapa lama. Tidak ada yang bergerak, Souji memang sejak awal tidak bisa melangkahkan kakinya lagi, sisa tenaganya sudah terhisap habis oleh tatapan pemuda dihadapannya. Rasa takut menjalari seluruh tubuhnya.

"Apa maumu?" Akhirnya pemuda pirang itu memecah keheningan di antara mereka. Tatapannya belum terlepas dari mata Souji.

"A-Ano.. Itu.." Souji tergagap-gagap menjawab. Otaknya masih berusaha menyusun kalimat, tapi terus saja hilang karena rasa takutnya yang semakin lama semakin membesar.

"Ngg?" Matanya berubah arah, memperhatikan tanda pengenal yang terpasang di baju Souji. Seta Souji, Kelas 6-2, begitulah yang tertulis.

Salah satu murid yang tadi pingsan di belakang pemuda berdiri. Murid itu mengambil sebuah kayu yang tergeletak di sebelahnya, lalu mengambil ancang-ancang untuk memukul pemuda pirang itu, yang sama sekali tidak menyadarinya.

Souji dengan cepat mendorong pemuda itu. Tidak sempat Ia melindungi dirinya, kepalanya menerima pukulan keras di pelipis. Tenaga sang pemukul itu sangat kuat, mengakibatkan Souji terlempar dan menabrak salah satu tumpukan beberapa murid.

Darah merah segar mulai mengalir dikepalanya, kesadarannya mulai menipis. Samar-samar Ia melihat Kanji yang memukul kepala sang pemukul dengan sikunya dan sesaat kemudian Souji benar-benar kehilangan kesadarannya.


Dibukanya perlahan kedua matanya. Jujur, kepalanya sangat sakit saat ini. Awalnya, Ia hanya bisa melihat sedikit, karena cahaya terang dari lampu di tengah ruangan, tapi akhirnya setelah beberapa saat membiasakan diri, matanya mulai bisa melihat secara jelas.

Ruangan Souji berada saat ini adalah ruangan yang hampir keseluruhannya berwarna putih. Bau obat yang menyengat mulai tercium oleh indera penciumannya. 'Rumah sakit…'

Ia sangat membenci fasilitas masyarakat ini. Tempat dimana nyawa diselamatkan atau tidak, tempat dimana kerabat sang korban, entah itu karena luka ataupun penyakit, akan bersedih atau mungkin senang. Pemuda itu tidak terlalu ingat kenapa Ia membencinya… Tapi Ia ingat kalau itu berhubungan dengan gadis kecil itu.

Diputarnya matanya sedikit ke arah kanan, di sana terduduk pemuda pirang garang yang tadi berada di tengah-tengah murid SMP yang dikalahkannya. Pemuda pirang itu mendongakkan kepalanya saat menyadari Souji yang sudah terbangun.

"Senpai sudah bangun?" Tanyanya, Ia beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Souji.

Souji hanya menganggukkan kepalanya, lalu berusaha untuk duduk. Ia sedikit memegangi kepalanya yang diperban.

"Jangan terlalu banyak bergerak dulu!" Tahan pemuda pirang itu.

Rasa sakit mulai menjalar di kepala Souji, tapi dia masih bisa duduk dan menjaga pikirannya tetap jernih. 'Sebentar..' Pemuda berambut abu-abu itu baru menyadarinya, "Senpai?"

Pemuda di samping tempat tidur itu menganggukkan kepalanya, "ya.." Ia memberi hormat singkat, "Tatsumi Kanji, kelas 5-3! Maaf tadi aku bersikap kasar, tapi.. Terima kasih.."

"Eh?" Souji hanya bisa memiringkan kepalanya, tanda bahwa dia bingung. 'Kenapa dia berterima kasih?'

"I-Itu.." Kanji menggaruk pipinya dengan jari telunjuk, mencoba mengalihkan pandangannya, "tadi Senpai menyelamatkanku saat aku lengah dan sekarang Senpai yang terluka karenanya.."

"Oh itu," senyum tipis mengembang di wajah Souji, "bukankah kita harus saling menolong?"

"Ya.." Jawab Kanji singkat, dia tidak pernah berbicara seperti ini pada siapa pun kecuali ibunya, bahkan Ia tidak membicarakan hal seperti ini bersama ibunya..

"Tadi kamu bilang kamu dari kelas 5 kan?" Souji bertanya, "apakah kamu tahu soal Shirogane Naoto?"

Kanji berpikir sesaat, "Shirogane.. Naoto.." gumamnya, "apakah dia yang sering dibicarakan itu?"

Souji tersentak. 'Dia tahu! Mungkin dia bisa memberitahuku tentangnya!' Pikirnya, "YA! Bisa kamu memberitahuku apa pun?"

Kanji memegangi rambut nya sekarang, "ngg.. Aku jarang berbicara pada orang lain.." Ia kembali berpikir, "ah! Tapi kalau tidak salah aku pernah bertemunya sekali!"

"Kapan?" Tanya Souji, dengan setengah teriak. Kanji hanya bisa sweatdrop.

"Sekitar sebulan yang lalu.. Dia dikelilingi oleh beberapa anak laki-laki besar seangkatan di sungai Samegawa.. Mereka mengambil tas miliknya, lalu mengeluarkan seluruh isinya, merobek-robek buku di dalamnya dan membuangnya ke sungai. Karena aku tidak tahan melihatnya, aku langsung memukul anak-anak itu dan membuat mereka semua meminta maaf padanya.." Kanji terhenti sesaat, kepalanya tertunduk ke bawah.

"Ada apa?" Souji memperhatikan wajah Kanji yang sedari tadi diam.

"Naoto berterima kasih padaku," wajah kanji bersemu merah, "Tapi.." ekspresinya kembali serius, "sesaat setelah dia mengatakannya, Ia menangis.. Menangis seperti anak kecil.."

"Bukankah itu reaksi yang normal jika dia di-bully?" Souji menatap dalam mata abu-abu Kanji, meminta alasan mengapa pemuda pirang itu mengatakan hal seperti itu.

Kanji menggelengkan kepalanya, "tidak.. Aku sangat yakin dia menangis bukan karena bully yang dilakukan anak-anak itu.. Dia lebih terlihat.. Takut dan kesepian.."

Beberapa langkah kaki terdengar dari luar kamar Souji. Pintunya dengan cepat digeser terbuka, memunculkan kedua Dojima dari balik pintu.

"Souji!" Dojima Chisato berlari ke arah Souji dan memeluknya erat, "aku sangat khawatir!" Air mata mulai mengalir di pipi bibi Souji.

"Maafkan aku bibi.." Souji membalas pelukannya. Matanya menangkap sosok Kanji yang berjalan keluar ruangan, "Ah.. Kanji!" Pemuda pirang itu membalikkan badannya, "bisakah kita berbicara lagi lain kali? Aku masih ingin bertanya berbagai hal.."

"Hai'~" Kanji kembali berjalan keluar ruangan.