"Senpai, bagaimana cara mengerjakan soal ini?"

"Yang ini? Kalikan dulu…"

"Setelah itu?" Kanji bertanya, digaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Nanti hasilnya dibagi dan dikurangi harga jual," Souji menunjuk beberapa angka di buku adik kelasnya.

"O-Ohh…" Kanji mulai mengerjakan soal dengan petunjuk Souji, walaupun hanya sedikit yang bisa ditangkapnya.

Yosuke, Chie dan Yukiko yang sedari tadi ada di sana terpana sejenak. Mereka sama sekali tidak menyangka Souji tiba-tiba mengajak Kanji, berandalan sekolah, untuk belajar bersama. Kedua orang itu seperti sedang dalam dunia mereka sendiri.

"Wow… Kalian rajin juga…" Yosuke berusaha memasuki dunia Souji dan Kanji, tapi tidak ada respon apa pun dari mereka berdua. Perasaan tidak menyenangkan mulai dirasakan pemuda berambut cokelat itu. Sebuah perasaan iri…

"Aaahh!" Yosuke akhirnya mengeluh, "menyusahkan saja, aku pulang saja lah!" Ia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, "aku tidak bisa konsentrasi belajar di sini, apalagi kalau bersama anak itu." Yosuke memberikan sebuah tatapan tajam pada Kanji.

"Aku juga sudah harus pulang," Yukiko memperhatikan jam tangannya, "aku permisi dulu…"

"Eh! Yukiko! Aku juga ikut!" Chie dengan cepat mengambil buku-bukunya dan mengikuti Yukiko.

Beberapa detik kemudian, Souji dan Kanji terdiam sendiri di salah satu bangku Junes. Buku-buku masih tertata rapi di hadapan mereka, siap ditulis oleh pensil yang sedang dipegang kedua pemuda itu.

"Senpai…" Panggil Kanji, matanya tetap memandang arah yang diambil Yosuke, Chie dan Yukiko barusan, "apakah teman Senpai itu juga membenciku?"

"Ngg?" Tatapan Yosuke kembali terbayang di kepalanya, "maksudmu Yosuke? Setahuku dia tidak pernah membenci orang lain… Dia pasti mempunyai alasan mengapa dia membuat ekspresi seperti itu. Tolong jangan dimasukkan ke dalam hati."

"Aku sudah terbiasa dengan perlakuan seperti itu..." Kanji menurunkan nada suaranya.

Sepasang tangan tiba-tiba memeluk erat leher Kanji dari belakang. Suara bernada tinggi yang ceria dikeluarkan oleh sang pemeluk. "Kanji!"

"Ri- Rise! Lepaskan! Aku tercekik!" Teriak Kanji panik, tangannya berusaha melepaskan diri dari rangkulan Rise.

"Maaf!" Gadis itu segera melepaskan tangannya. Ia tersenyum dengan wajah tidak berdosa.

"Sedang apa kamu di sini, Rise?" Sang berandalan itu bertanya kasar.

"Tadi aku ingin ke rumahmu, tapi kata Bibi, kamu pergi ke Junes untuk belajar kelompok. Dan karena penasaran, siapa yang berani mengajak orang kasar sepertimu, aku datang ke sini."

"Cih," Kanji berdecak kesal, "pasti kamu hanya ingin menggangguku pada hari Minggu kan?"

Tapi Rise yang baru menyadari keberadaan Souji sama sekali tidak mendengarkan pertanyaan Kanji, "permisi, kamu siapa? Teman Kanji?"

"Souji Seta, kelas 6…" Souji sedikit menundukkan kepalanya, memberi hormat sejenak.

"Kelas 6? Berarti aku harus memanggilmu Senpai. Namaku Kujikawa Rise, satu angkatan dengan Kanji."

Rise kemudian bertanya berbagai macam hal, yang sama sekali tidak berguna, pada Souji, seperti dari mana asalnya, kapan hari ulang tahunnya, apa pekerjaan orang tuanya, dan lain-lain sampai Kanji memotong ucapan Rise.

"Rise, kasihan Senpai kalau harus menjawab semua pertanyaanmu itu," Kanji sweatdrop, kemudian berpikir sejenak, mengingat sesuatu, "Rise, bukankah kamu dekat dengan Naoto?"

"Naoto-kun? Ya, kamu sendiri tahukan kalau kami sudah dekat sejak dia pindah ke sini?"

"Benarkah!" Souji memegang erat kedua bahu Rise. Apakah Ia bisa mengetahui lebih jauh tentang Naoto sekarang?

"Sa- Sakit, Senpai…" Rise merintih kesakitan.

"A- Ah… Maaf…" Souji melepaskan genggamannya, "pertama, bisakah kamu memberitahuku kenapa banyak coret-coretan di mejanya?"

"Coretan?" Rise terdiam sejenak, kepalanya menengadah ke atas bersamaan dengan jari telunjuk di dagunya, "aku kurang tahu soal itu, karena aku pun memang tidak sekelas dengannya. Tapi setidaknya… Aku tahu mengapa dia dijauhi…"

Souji menatap lurus ke arah Rise, mendengarkan setiap tutur katanya, seakan-akan mendengar penjelasan guru di depan kelas.

Semuanya berawal pada kasus yang terjadi 6 tahun lalu. Itu adalah salah satu kasus yang paling terkenal di Inaba, sampai wartawan dari Tokyo pun datang untuk meliput. Kedua orang tua Naoto, yang saat itu adalah detektif, mengambil alih kasus itu. Beberapa bulan setelahnya, mereka berdua mengumumkan pelaku. Tapi sebelum sempat ditangkap oleh polisi, pelakunya telah bunuh diri… Dengan meninggalkan surat wasiat yang memberitahukan bukti bahwa sebenarnya dia tidak bersalah. Setelah diselidiki lagi, terbukti bahwa bukti yang dipakai orang tua Naoto tidak terlalu kuat. Mereka kemudian dikucilkan dari publik… Karena beban stress setelah itu, mereka meninggal di kecelakaan mobil di salah satu persimpangan Inaba.

Souji berdecak kesal, "kalau begitu, apa yang membuat mereka sampai melakukan hal seperti itu pada Naoto! Bukankah kasus itu sudah lama berlalu?"

"Ya…" Rise melanjutkan ceritanya, "Naoto baru masuk ke sekolah pada kelas 3 SD, dia dirawat selama 3 tahun akibat kecelakaan yang ditimpanya bersama orang tuanya. Dia sama sekali tidak kesusahan mengikuti pelajaran yang sudah lama tidak diikutinya, karena Kakeknya memberikannya sekolah privat sebelum dia masuk sekolah… Entah kenapa, wartawan kembali datang ke Inaba dan menyoroti terus Naoto, mengakibatkan seluruh orang di sekolah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi…"

Suasana semakin berat, tidak ada satu pun orang yang berbicara. Rise yang merasa tidak nyaman dalam suasana ini akhirnya memecah keheningan.

"Ngg… Bagaimana kalau kita ke rumah Naoto?" Rise mengusulkan idenya.

Souji terbelalak sesaat, Ia sama sekali tidak memikirkan hal itu. Apakah Ia siap untuk bertanya langsung pada Naoto?

"Rise-chan!" Sebuah suara terdengar tidak jauh dari belakang Rise. Seorang pemuda yang tidak terlalu tinggi berambut pirang datang dengan membawa beberapa tas Junes. "Dari mana saja sih?"

"Teddie?!" Gadis berambut cokelat itu kaget melihat sang pemuda, "harusnya aku yang bertanya seperti itu!"

"Kan aku cuman berkeliling Junes saja~" Teddie menjawab teriakan Rise dengan nada tidak bersalah.

"Ya sudah lah…" Rise menghela napas. Sebenarnya sedari tadi dia sudah mencari Teddie ke seluruh Junes tapi tetap tidak menemukannya.

"Rise…" Kanji akhirnya kembali bersuara, "siapa?" tanyanya, dengan telunjuk menunjuk Teddie.

"Ngg? Ah, dia? Dia sepupuku, Teddie. Dia pindah ke sini beberapa hari yang lalu dan sekarang tinggal di rumahku." Jawab Rise, wajahnya menampilkan ekspresi masam.

"Bisakah kamu mengantarkanku ke rumah Naoto sekarang?" Souji terlihat tidak bisa diam, tidak seperti biasanya dia bersikap seperti itu.

"Boleh, ayo Teddie…" Rise menarik kerah baju Teddie, menyeretnya keluar dari area Foodcourt Junes. Kanji dan Souji mengikuti arah yang dilewati Rise.