A/N : Yo~ Kenapa pada nanyain ya, kenapa di chap sebelumnya nggak ada author note? rasanya biasa aja deh, nggak ada sama ada XD oh ya, maaf ya kalau chap ini agak pendek dan kurang bagus XD
"Permisi!" Rise mengetuk pintu kayu cokelat itu dengan cukup keras.
Rumah yang sekarang mereka hadapi termasuk rumah yang cukup besar. Sebagian besar berwarna biru muda dengan beberapa bagian berwarna putih yang menghiasinya.
"Ya?" Seseorang membukakan pintu. Orang itu adalah seorang pria berusia sekitar 20 tahunan dengan rambut keabu-abuan seperti Souji. Ia mengenakan jas hitam rangkap dengan kemeja putih bersih dan dasi berwarna hitam.
"Yakushiji-san, apakah kami bisa bertemu dengan Naoto?" Rise bertanya dengan riang, senyuman menghiasi wajahnya.
"Rise-san… Sudah lama tidak bertemu. Silahkan, Naoto-sama sekarang sedang berada di kamarnya," Yakushiji membungkuk sedikit, menyesuaikan tingginya dengan Rise, lalu berbisik pelan padanya, "tolong semangati Naoto-sama, dia terlihat cukup murung akhir-akhir ini."
"Ok! Salah satu alasanku ke sini juga untuk itu kok!" Aura antusias keluar dari Rise, siap untuk melaksanakan tugas itu.
"Terima kasih," Yakushiji tersenyum pada Rise, kemudian melihat Souji, Teddie, dan Kanji yang hanya terdiam di belakang Rise.
"Seta-san…" Ucapnya pelan, matanya membelalak melihat Souji.
"Apakah kita pernah bertemu?" Souji menatap lurus Yakushiji, terdapat kekosongan… Sesuatu yang hilang dari Souji.
"I- Itu…" Yakushiji terbata-bata, Ia bimbang antara memberitahukannya pada Souji atau tidak.
"Nee~ Nee~ Bisakah kita masuk sekarang? Aku sudah capek di sini." Teddie melambai-lambaikan tangannya entah pada siapa, membuat orang-orang yang berada di situ mengalihkan perhatiannya pada Teddie.
"Ah! Maaf! Silahkan masuk!" Yakushiji mengarahkan mereka menuju kamar Naoto. Kamarnya berada di lantai 2 rumah itu, kamar terujung di sebelah kanan.
"Naoto-kun~" Rise membuka pintu kamar Naoto selebar-lebarnya, memperlihatkan dengan jelas keadaan kamar di hadapan mereka.
Berbagai macam kertas berserakan dimana-mana. Buku-buku tebal ditumpuk dengan tidak rapi di atas meja. Alat tulis pun ikut bertebaran dari atas tempat tidur sampai bawah meja. Sang pemilik kamar sedang tertidur di atas mejanya, lingkaran hitam mengelilingi matanya.
Rise hanya menghela napas panjang melihat semua ini. Kemudian dia mengambil selimut dan menutup sebagian tubuh Naoto agar Ia tidak kedinginan.
"Kanji! Teddie!" Rise memerintah mereka berdua dengan suara pelan, "bantu aku membersihkan kamar ini!"
Mereka berdua melakukan perintah Rise dengan berat hati. Souji, yang sama sekali tidak diperintah, ikut membantu. Dengan 4 orang membersihkan kamar itu secara bersamaan, kamar kapal pecah tadi sudah mulai terlihat jauh lebih nyaman dilihat.
Pemuda berambut abu-abu itu mengambil beberapa kertas yang tergeletak di lantai, tanpa sengaja melihat kertas yang ternyata adalah tempelan hasil beberapa artikel majalah yang digunting.
Kalau diperhatikan dengan lebih teliti, seluruh artikel itu mencakupi tentang kasus 6 tahun lalu atau tidak kecelakaan yang dialami oleh orang tua Naoto.
Entah kenapa, tiba-tiba Kanji dan Teddie bertengkar saat merapikan kamar. Kanji terus mengomeli Teddie yang hanya berkeliling kamar, tambah mengacak-acaknya karena rasa penasaran akan kamar perempuan.
Kelopak mata gadis berambut biru yang sedari tadi tertidur itu akhirnya terbuka. Ia mengusap matanya untuk beberapa lama, lalu berusaha menangkap apa yang sedang terjadi di kamarnya. Setelah informasi itu mulai masuk ke dalam otaknya, Ia berteriak dengan cukup keras.
"Apa yang sedang kalian lakukan pada kamarku!" Naoto mengambil dengan kasar kertas-kertas yang dipegang oleh Rise.
"Sesuai dengan yang kamu lihat, kami sedang membersihkan kamarmu. Kamarmu ini seperti kapal pecah saja…" Rise membetulkan posisi bantal dan selimut di tempat tidur.
"Jangan melakukan sesuatu dengan seenakmu saja, Rise-chan! Lagipula… Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk menjauhiku? Mereka juga akan memusuhimu kalau kamu terus berteman denganku!"
"Maaf," Souji memotong pertengkaran Naoto dan Rise, "Naoto, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
Naoto memandang dalam mata keabuan Souji. Setelah agak lama, Ia baru menjawab, "tidak, tidak pernah…" Ia memalingkan wajahnya, mengalihkan perhatiannya pada lantai kayu yang dipijakinya.
"Begitukah?" Souji terlihat kecewa, "sebentar ya…" Ia keluar dari kamar Naoto.
Souji terduduk di tangga terakhir yang dipijakinya sebelum sampai di lantai dasar. Apakah sebenarnya semua bayangan itu hanya bayangan saja? Atau gadis itu memang bukan Naoto?
"Seta-san?" Yakushiji menghampiri Souji yang sedang sendirian, tangannya membawa nampan berisi beberapa gelas teh.
Souji tidak menjawab. Dia hanya merasa bahwa disedang tidak ingin diajak berbicara. Ia harus memikirkan ulang apa yang sebenarnya terjadi saat itu tanpa petunjuk lagi.
Yakushiji-san yang sepertinya mengerti mengapa Souji hanya terdiam, ikut duduk di sebelah Souji. Untunglah tangga rumah Naoto cukup lebar.
"Apakah Souji-san masih tidak ingat? Sebenarnya, dulu Souji-san dan Naoto-sama sangat dekat, bagaikan kakak dan adik. Orang tua kalian juga menjalin hubungan yang seperti keluarga…"
Souji mendengarkan kalimat Yakushiji dengan seksama.
"Naoto-sama mengatakan bahwa dia tidak mengenalmu?" Yakushiji bertanya langsung tanpa banyak basa-basi lagi. Nampan yang tadi dibawanya sudah terlebih dahulu ditaruh di meja.
Souji masih juga terdiam.
"Aku yakin sebenarnya dia mengingatmu. Dia hanya tidak ingin seseorang menderita karena masalah yang dialaminya," Laki-laki yang lebih tua itu menaruh tangannya di atas kepala Souji, "alasan dia itu baik… Tolong jangan dimasukkan ke hati."
"Benarkah itu, Yakushiji-san?" Souji menengadahkan wajahnya, terbentuk warna merah merona yang menunjukkan kesenangan dalam dirinya.
"Ya, coba Souji-san membantunya agar dia bisa menerima Souji-san kembali."
"Terima kasih, Yakushiji-san!" Souji berdiri dari posisinya, lalu berlari ke atas, kembali menuju kamar Naoto.
