A/N : Yo! Saya balik lagi dengan chap baru XD Maaf sekali karena update yang lambat sama chap yang kurang memuaskan selama ini! *bow* Chap berikutnya akan menjadi chap terakhir dari fic ini... Jadi sekali lagi, maaf kalau kurang memuaskan *digebukin karena kelamaan*
Souji masuk kembali ke kamar Naoto, dan menemukan bahwa Naoto sudah mengganti pakaiannya menjadi penampilan yang lebih cocok saat ada tamu (tentu saja setelah menyuruh Kanji dan Rise untuk keluar dari kamar).
"Ada apa lagi?" Naoto bertanya dengan nada tidak senang, sepertinya masih marah dengan pembersihan yang mereka (Souji, Rise dan Kanji) lakukan saat Naoto tertidur.
Souji melihat keadaan kamar Naoto yang lebih rapi, lalu mengalihkan perhatiannya ke arah meja Naoto. Ada sebuah kertas dengan tulisan Naoto di sana.
Diambilnya kertas itu, Souji membacanya sejenak, tertegun dengan isi kertas yang ternyata adalah teori pembunuhan yang diambil alih orang tua Naoto. "Kamu sudah membuat teori sejauh ini hanya dengan petunjuk dari artikel-artikel itu?"
"Tidak juga…" Naoto memasang sebuah pita di bawah kerah bajunya dan mengikatnya, menjadikannya sebagai dasi., "aku mendapatkan petunjuk lainnya dari penyelidikan orang tuaku."
"Ini sudah sangat jelas, mengapa kamu tidak memberikannya pada polisi?" Souji menatap Naoto yang sekarang mengenakan topi berwarna biru gelapnya.
Gadis itu menghela nafas panjang, "tidak ada gunanya aku memberikannya pada orang-orang itu. Mereka tidak pernah menganggapku serius," Naoto menutup matanya, "mereka hanya menganggapku sebagai anak kecil."
"Mau mencoba memberikannya?" Souji menawarkan diri, "pamanku salah satu detektif polisi di sana, setidaknya dia akan mendengarkanku."
"Pamanmu akan menjawab dengan kata-kata yang sama, 'sudahlah, tidak usah bermain detektif-detektifan lagi, bermainlah di rumah,'" Naoto mengucapkannya tanpa ekspresi yang berarti, tapi Souji dapat melihat sebersit amarah dari nada suaranya.
"Kita tidak akan tahu kalau kita tidak mencobanya," Souji menarik tangan Naoto, membawanya ke pintu depan dengan membawa teori Naoto di tangannya yang satu lagi. Saat Ia melewati Yakushiji-san, Ia tersenyum ramah dan kembali berterima kasih padanya.
Mereka sudah setengah jalan menuju kantor polisi, Souji sudah tidak memegangi tangan Naoto. Mereka hanya berjalan dalam diam sampai mereka sampai di tempat tujuan.
"Permisi," Souji meminta izin pada salah satu polisi di sana, "bisakah aku bertemu dengan Dojima-san? Aku keponakannya."
"Dojima-san? Ah ya, dia pernah bilang punya keponakan yang tinggal sementara dengannya. Ruangannya pintu kedua di sebelah kiri sebelum ujung koridor," polisi itu memberitahu arahnya pada Souji.
"Terima kasih," pemuda berambut abu-abu itu sedikit membungkuk, kemudian Ia menyadari bahwa polisi tadi sedang memperhatikan Naoto.
"Bukankah kamu anak yang datang beberapa bulan yang lalu?" Tanya polisi itu sambil menunjuk Naoto.
Naoto hanya terdiam, tidak mau menjawab apalagi bertemu tatap dengan polisi itu.
Polisi itu kembali memrhatikan Naoto dan menepuk tangannya, "ah ya! Kamu memang dia! Nak, kamu memang sebaiknya bermain saja di rumah, atau mungkin lebih baik belajar saja. Tidak berpikir sesuatu yang berat seperti ini." Ucap polisi itu dengan wajah tersenyum.
"Kami ke ruangan Dojima-san dulu," Souji buru-buru berjalan menuju tempat Dojima-san. Tanpa harus menarik tangan Naoto, gadis itu sudah mengikuti Souji dengan cepat.
"Betul kan, apa yang kukatakan," akhirnya Naoto angkat bicara setelah beberapa lama. "Sebaiknya kita pulang saja…"
Souji memegangi kedua bahu Naoto dengan kuat (setelah Ia meletakkan kertas berisi teori itu di kursi dekat situ), "orang dewasa memang suka meremehkan anak-anak seperti kita, karena rata-rata anak seumuran kita berada di tahap dimana kita suka mempermainkan orang lain. Karena itu, kalau kita mau dianggap serius, kita harus menunjukkannya pada mereka." Pemuda itu meremas bahu Naoto.
Naoto tidak bergeming dengan remasan tangan Souji, sesaat kemudian, Ia melepaskan genggaman Souji lalu duduk di kursi.
Souji hanya bisa pasrah melihat keadaan Naoto saat ini, tapi untuk mengingat masa lalunya, Souji sepertinya harus membantunya. Ia mengambil kertas itu lalu mengetuk pintu ruangan Dojima.
"Dojima-san…" Souji memanggil pamannya, pintu di depannya terbuka tidak lama kemudian. Pamannya terlihat mengantuk dengan rambut acak-acakan saat membuka pintu.
"Souji, jarang-jarang kamu mau mengunjungi pamanmu di sini," Dojima memberikan sebuah senyuman hangat pada Souji.
"Aku ingin menunjukkan ini pada paman," Souji memberikan teori itu pada pamannya, "sebuah teori tentang kasus beberapa tahun yang lalu…"
Dojima membacanya sejenak, matanya melebar dan mulutnya sedikit terbuka saat selesai membacanya. Ia menunduk sedikit dan berbisik dengan suara pelan.
"Bagaimana caranya kamu mengetahui sejauh ini? Kasus ini sudah lama tidak dibicarakan kembali."
"Bukan aku yang membuat teori itu," Souji menggeleng, "sebentar…"
Souji berlari ke luar, terjadi beberapa pembicaraan di luar. Ia kemudian masuk lagi dengan membawa satu orang lagi.
"Dia lah yang membuat semua teori itu, namanya Shirogane Naoto," Souji memperkenalkan gadis berambut biru di belakangnya.
"Shirogane… Anak dari detektif muda itu? Aku tidak menyangka kamu punya darah detektif mereka," Dojima memegangi kepala Naoto, "kamu bisa menjadi detektif yang hebat, nak."
Wajah Naoto merona merah mendengarkan pujian dari Dojima. Ia tidak menyangka akan ada orang dewasa yang mempercayainya, apalagi memujinya.
Naoto berpaling pada Souji, yang entah kenapa terlihat lelah tapi tetap menunjukkan wajah senang pada Naoto.
Dojima ikut melihat Souji, "sebaiknya kamu pulang sekarang dan tidur, Souji. Ibumu sudah berpesan untuk tidak terlalu capek bukan?"
"Hahaha, tidak apa-apa kok paman," Souji tertawa hambar, "aku akan mengantarkan Naoto pulang dulu sebelum istirahat."
"Ti- Tidak perlu!" Naoto menolak dengan cepat, "kalau memang keadaanmu sedang tidak baik juga tidak apa-apa."
"Benarkah? Tapi tidak enak kalau aku tidak mengantarkanmu pulang setelah membawamu ke sini dengan paksa…"
"Tidak kok, ini juga awalnya karena aku yang tidak berani melakukannya sendiri…" Naoto merasa wajahnya kembali memerah.
"Sudah-sudah…" Dojima menghentikan debat kedua anak di depan mereka, "kalian akan kuantar pulang dengan mobilku, dengan itu tidak perlu berdebat lagi kan?"
"Terima kasih, Dojima-san," ucap Souji dan Naoto bersamaan.
Ketiga orang itu berjalan menuju mobil Dojima-san, sebelum naik ke dalam mobil, Naoto menghentikan langkah Souji lalu berkata dengan pelan.
"Maafkan aku ya, Souji."
