Chapter 1
Saat Hibari Kyouya membuka matanya, mendapatkan dirinya berbaring di atas futon tipis di kamar peristirahatannya yang terletak di pojok markas Vongola. Lelaki itu bangkit dari alas tidurnya dan mengusap-usap mata untuk menghapus kantuk.
Ia menelusuri kamar bergaya jepang itu dengan mata kelabunya, mencari sesosok seseorang untuk menyambutnya seperti biasa. Tidak menemukan lelaki yang dicarinya, Hibari memanggil sebuah nama,
"...Haneuma...?"
Tidak ada suara jernih menjawab panggilannya,
"Kamu dimana...?"
Sawada Tsunayoshi tiba-tiba tersentak. Rasanya ia baru saja bangun dari tidur panjang yang tidak terganggu. Hal terakhir yang diingatnya adalah berjabat tangan untuk menutup sebuah rapat dengan seorang boss keluarga yang beraliansi dengan Vongola. Namun tiba-tiba semuanya hilang ditelan kegelapan. Kini ia tidak menemukan dirinya di tempat rapat itu. Sejak kapan dia berpindah tempat ke kantornya?
"Hmmm...? Apa yang terjadi? Kenapa aku ada di sini...?" desahnya sambil menggosok-gosok belakang lehernya, mencoba mengendurkan sedikit ototnya yang kaku.
"Sejak kapan aku duduk di sini? Ini jam berapa?" Tsuna berdiri dan merenggangkan punggungnya sampai berbunyi. Lelaki itu memandang meja kerjanya yang penuh dengan kertas-kertas dokumen dan merengutkan alisnya saat sebuah dokumen yang tertumpuk paling atas menarik matanya.
"Surat perintah apa ini? Aku tidak ingat pernah menulisnya..."
Tsuna melayangkan matanya yang kecokelatan ke tulisan yang tercetak rapi di kertas itu, "Perintah penghancuran keluarga Cozzo... Penggempuran habis... Siapa yang menyetujui rencana seperti ini?"
Matanya membelalak ketika menemukan tanda tangannya yang khas tercoreng di pojok kanan surat tersebut,
"A... Apa-apaan? Aku tidak pernah mengeluarkan surat seperti ini!"
Lelaki muda itu mengambil dokumen-dokumen lain yang tertumpuk di mejanya dan membacanya satu persatu, "Penarikan teritori keluarga Adamo... Pengambilan alih keluarga Fabiano... Pembunuhan berencana boss keluarga Riccardi... Aku tidak mengerti... Bagaimana mungkin aku mengesahkan rencana-rencana seperti ini? Sebenarnya apa yang sedang terjadi? "
Tiba-tiba seseorang membuka pintu kantornya dengan kasar. Tangan kanannya yang setia, Gokudera Hayato masuk dengan tergesa-gesa. Kedua matanya membelalak panik dan peluh bercucuran dari keningnya.
Pergelangan kemeja dan jasnya yang biasanya selalu tertata rapi ternoda sesuatu. Noda yang sangat Tsuna kenal jika melihat bidang pekerjaannya. Darah.
"Juu...Juudaime! Aku benar-benar tidak mengerti! Aku merasa seperti ketiduran... Tapi tahu-tahu aku sedang ditengah-tengah misi penyerangan yang aku tidak ingat pernah kudapat!" teriak pemuda berambut silver itu.
"Te... Tenang Gokudera-kun! Aku juga sedang kebingungan... Tiba-tiba banyak surat-surat yang tidak pernah kusetujui sudah kutanda tangani dan semuanya tentang misi-misi yang tidak masuk akal... Maksudku.. penggempuran keluarga-keluarga yang berkerja sama dengan kita? A...Apa-apaan ini?" Sang boss mulai berbicara tanpa henti. Kebiasaan lamanya saat sedang panik.
Saat laki-laki muda itu berhenti bicara, dua orang guardiannya memasuki ruangan. Seorang pemuda bertubuh tinggi dengan bekas luka di dagunya dan remaja kurus dengan sepasang tanduk yang mencuat dari rambut ikalnya yang tebal. Warna kepucatan mewarnai kedua wajah keduanya dan darah segar mewarnai kemeja putih mereka dengan semburat kemerahan.
Yamamoto Takeshi mendorong Lambo, yang sedang terengah dengan mata yang membelalak ketakutan, dengan lembut. Menuntunnya untuk duduk di kursi, tepat di hadapan meja Tsuna,
"Yamamoto! Lambo kalian terluka?" Tanya Tsuna gugup. Kondisi Lightning Guardiannya jelas-jelas sangat mengkhawatirkan.
Tsuna bangkit dan mendekati sang remaja berambut ikal. Ditepuknya pundak kurus remaja itu lembut dan didekapnya guardian muda tersebut erat ke dalam pelukannya. Dengan segera kedua tangan Lambo yang gemetar mencengkram kemeja Tsuna erat. Tubuh Lambo yang kurus basah akan keringat dan darah yang mengering.
"Lambo? Kau tidak apa-apa?" Ditatapnya guardian of the rainnya yang juga berkeringat dan pucat pasi, "Apa yang terjadi Yamamoto?"
Gokudera membantu kekasihnya duduk dan mengelus pundak lelaki itu mesra-sebuah sikap sensitif yang jarang diperlihatkannya di depan umum. Yamamoto mengelap dahinya dengan tangan yang bergetar dan mulai bercerita,
"Aku benar-benar tidak tahu... Sadar-sadar... Aku dan Lambo sedang ditengah-tengah pembunuhan seseorang yang tidak kukenal... Beserta keluarganya... Bukan keluarga mafianya... Maksudku... Keluarganya... Anak-istrinya..." Yamamoto berhenti bicara dan membenamkan wajahnya di kedua lengannya.
Tiba-tiba suara bergetar terlontar dari remaja dalam pelukan sang boss muda, "...Aku... membunuh seorang anak... perempuan... bahkan belum genap 10 tahun... aku... aku..." Lambo menutup matanya erat-erat dan menenggelamkan wajahnya lebih dalam di dada Tsuna.
Tsuna mempererat pelukannya, mencoba menenangkan Lambo "Sssshhhh... Tidak apa-apa... Kita juga tidak tahu apa yang sedang terjadi... Jangan menangis..."
Beberapa saat kemudian, kabut tebal tiba-tiba muncul di ruangan kecil itu, menandakan kehadiran Vongola guardian yang paling misterius. Tiga orang sosok manusia muncul di tengah-tengah ruangan.
Seorang lelaki berambut biru panjang yang ditata membentuk daun-daun buah nanas mulai menampakkan dirinya. Di sisinya seorang wanita muda dengan rambut ungu yang serupa berdiri sambil terengah lemah Di punggung sang mist guardian, seorang pemuda berambut putih terkulai lemah bersimbah darah..
"Mukuro! Chrome! Kalian tidak apa-apa? A...Apa yang terjadi pada Onii-san?"
Mata heterochromic Rokudo Mukuro tidak berkilau nakal seperti biasa. Dibaringkannya tubuh lemas Sasagawa Ryohei di lantai dan sang illusionist menghela napasnya lelah.
Tsuna melepaskan Lambo dari pelukannya dan berlutut di samping satu-satunya guardian wanitanya, "Onii-san... Apa dia tidak apa-apa...?"
"Kami sudah mencoba menghentikan perdarahannya... Nyawanya sudah tidak terancam... Tapi..." Suara lembut Chrome terhenti, seakan ada sesuatu yang mengganjal.
Gokudera mendekati Mukuro, "Apa yang terjadi? Apa kalian tiba-tiba mendapati diri kalian di tengah-tengah pekerjaan yang brutal?"
Mukuro menggigit bibir bawahnya dan menelan napas, "...Andai saja kami tersadar di tengah pembunuhan orang lain..."
"Apa yang terjadi?" Yamamoto bertanya sambil tetap duduk lemas di kursinya.
"...Kami tidak tahu apa yang terjadi... Tapi... kami yakin... Kami sedang menyiksa Sasagawa Ryohei dengan ilusi... Ilusi yang tidak patut digunakan pada siapapun..." Mukuro mengernyit.
Semua orang membelalakan matanya kepada kedua orang yang baru saja muncul di ruangan itu,
"Me...Menyiksa onii-san? Ja...Jangan bercanda Mukuro!"
"Menyerang keluarga lain adalah satu hal... Tapi... melukai teman sendiri...? A...Apa yang sebenarnya terjadi?" Pekik Gokudera panik.
"A...Apa yang sebenarnya terjadi?"
Pada saat itu, tiba-tiba pintu kantor terbuka. Guardian Tsuna yang terakhir muncul tanpa suara,
"...Itu yang ingin kutanyakan pada kalian semua..."
Di tangannya, sang cloud guardian memegang erat sebuah jaket berbulu yang kotor akan bercak-bercak darah yang telah menghitam,
"...Kenapa ada benda ini di kamarku...?"
TBC
A/N ini dia chaper pertama dari fanfic inii /./ makasi yaa untuk orang-orang yang udh ngereview teaser kemaren ^^ saya jadi malu bacanya... tetep ikutin baca cerita ini yaaa
Chapter ini baru pembukaan dari fanfic ini, belom ada apa2 yang terungkap jadi tunggu ajaaa :p
mohon maaf kalo ada kesalahan ato gak enak dibaca.. nulis pake bhs indo susah cari vocabnya tapi bhs inggris susah grammarnya... halah serba salah... anyway... sampai jumpa di chapter selanjutnyaaa
