"Kyouya~ tutup matamu yaaa..." seru seorang lelaki tampan berambut pirang. Kedua tangannya menggenggam sebuah tangan kurus milik seorang pemuda berambut gelap,
"Cih... Kau memangnya mau membawaku kemana Haneuma? Jangan bertele-tele waktuku tidak banyak!" Damprat Hibari Kyouya kesal, kini ia berjalan melewati hutan di pinggiran teritori Cavallone dengan mata tertutup sambil dituntun oleh Dino Cavallone.
Dia telah dipaksa oleh kuda bodoh itu untuk berjanji akan menutup matanya menuju tempat yang dibilang Dino sebagai 'tempat rahasia'. Walau ia merasa konyol, tapi Hibari tahu bila ia tidak menutup matanya maka Dino pasti akan merengek-rengek. Maka dari itu, mau tidak mau sang cloud guardian Vongola bersedia menuruti permintaan kekasihnya itu.
Hibari sendiri mulai menyesali keputusannya- berjalan melewati rerumputan dan akar-akar pepohonan tanpa pengelihatan jelas-jelas sulit, apa lagi jika melihat fakta bahwa pemandunya jatuh karena tersandung atau terpeleset lebih dari 5 menit sekali- namun ia masih mau melakukannya. Apapun untuk membuat si boss Cavallone berisik itu diam.
"Kyouya bohooong... Kata Kusakabe kamu enggak ada kegiatan lagi hari ini kok! Jadi aku hari ini bebas membawamu kemana saja~" Jawab Dino dengan suara ceria.
Hibari mendecakkan bibirnya. Ia harus memerintahkan Kusakabe agar tidak membocorkan jadwalnya ke kuda keras kepala ini...
Tidak lama, Hibari merasakan angin menerpa wajahnya dan bunyi gemericik air menggelitik telinganya. Dino berhenti berjalan dan menggengam tangan Hibari erat,
"Nah Kyouya, sekarang buka matamu ya" bisiknya lembut.
Perlahan, Hibari membuka matanya. Dan dengan seketika matanya melebar melihat pemandangan indah yang terpampang. Dino membawanya ke sebuah padang rumput di tengah hutan itu. Sebuah danau dengan air paling bening dan biru yang pernah dilihat Hibari menggenang dengan tenang, dihiasi dengan berbagai bunga-bunga liar yang tumbuh disekelilingnya. Di pinggir danau tersebut berdiri sebuah rumah tua mewah yang cukup besar, namun kelihatannya sudah lama tidak ditinggali orang, melihat kondisinya yang sudah agak rusak. Suasana di tempat itu begitu hening, hanya suara burung-burung dan beberapa bebek yang berenang di kejauhan lah yang bisa terdengar di telinga Hibari.
"Bagus kan Kyouya? Ini tempat favoritku looo! Benar-benar rahasia! Bahkan Romario dan Reborn enggak tahu" Dino menarik Hibari duduk di rerumputan pinggir danau sambil tersenyum lepas. Tanpa disadari, melihat senyum itu pipi Hibari menghangat karena perasaan yang tak dapat ia mengerti.
"Aku tidak sengaja menemukan tempat ini saat masih dilatih Reborn! Dulu aku sering kabur dari dia kesini" Sang boss Cavallone mengeluarkan kura-kura kecil dari saku jaketnya, membiarkan makhluk mungil itu merayap menuju danau,
"Danau itu cukup dalam lho Kyouya.. Bahkan Enzo bisa berenang di dalamnya! Makanya kalau disini Enzo tidak pernah mengamuk~" Sambung Dino sambil melihat kura-kura peliharaannya perlahan-lahan membesar.
"Rumah itu katanya rumah peristirahatan punya boss Cavallone pertama! Keren kan? Kapan-kapan aku mau merenovasinya agar bisa kupakai kalau sudah pensiun nanti~"
Mendengar ocehan Dino, Hibari tersenyum kecil, "Hmph... Umur segini kau sudah memikirkan pensiun? Bukankah itu sedikit terlallu cepat Cavallone?"
"Yaaa~h belum terpikir semua siiih tapi yang pasti sih yaaa..." Dino menutupi tangan Hibari dengan tangan besarnya yang hangat,
"Hmm?"
"Aku ingin tinggal di suatu tempat yang damai berdua dengan Kyouya!"
Hibari tersedak ludahnya sendiri mendengar seruan polos tutornya, lalu, dengan wajah memerah ia membalas,
"...Selama kau masih bisa bertarung dan aku belum bosan denganmu..."
Dino tertawa senang mendengar jawaban Hibari, "Aku akan berusaha Kyouya~"
Hibari Kyouya duduk di pojok bangku mobil limousine yang luas milik Vongola bersama lima orang guardian lainnya dan sang pemimpin mereka, Sawada Tsunayoshi. Walau kesal karena harus berdesak-desakan dengan herbivore-herbivore ini, tapi pikirannya terlalu penuh dengan kebingungan yang melanda semua orang yang berada di mobil itu. Tangannya masih menggenggam erat jaket berbulu bernoda darah yang ditemukannya tadi. Satu-satunya petunjuk tentang keberadaan seorang boss Cavallone yang masih tersisa di kamarnya. Padahal, biasanya barang-barang milik Cavallone selalu bergelimpangan di mana-mana sehingga membuatnya kesal karena kamarnya jadi terkesan berantakan.
Setelah mengecek penanggalan, mereka dapat memastikan, 'waktu kosong' yang mereka alami berlalu hingga setahun lamanya. Dan tidak ada diantara mereka yang mengetahui apa yang telah terjadi selama mereka 'tertidur'. Mungkin sang matahari yang biasa mencerahkan suasana tahu apa yang sedang berlangsung, tapi kini Sasagawa Ryohei sedang dirawat dalam keadaan koma karena luka-luka parah yang diduga diakibatkan oleh siksaan demi siksaan yang berkepanjangan.
Mereka mencoba mencari bawahan-bawahan lain di markas Vongola yang biasanya ramai untuk dimintai keterangan, namun hanya disambut oleh keheningan dan beberapa tatapan penuh rasa takut dari beberapa penjaga yang bahkan tidak berani membalas salam guardian-guardian tersebut. Hibari mencoba menghubungi tangan kanannya yang setia, Kusakabe Tetsuya, namun nomor telepon pemuda itu sudah tidak tersambung. Begitu pula bawahan-bawahan lainnya di organisasi Foundation.
Satu-satunya harapan adalah menuju ke pusat penelitian milik Vongola yang berada di bagian lain dari kota itu, dan telah berhubungan dengan Irie Shouichi. Tsuna telah menelpon pemuda berkacamata itu dan dibalas oleh suara kaget miliknya saat mendengar nada suara sopan milik sang boss muda.
Di perjalanan menuju pusat penelitian, tidak ada seorangpun berani melontarkan kata apa-apa. Bahkan tidak ada lontaran-lontaran kata-kata santai dari sang hujan yang biasa mendamaikan atmosfer suasana atau rengekan manja sang petir.
Tiba-tiba mobil itu berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit dan supir yang sejak tadi diam tanpa kata-kata berdehem dan berbicara dengan suara gugup,
"Tuan-tuan dan nona... Ki-kita sudah sampai..."
Satu persatu para guardian turun dari mobil. Sebelum keluar, Tsuna menepuk pundak supir itu dan tersenyum ramah, "Terima kasih"
Anehnya, sikap itu malah membuat supir itu berdenyit ketakutan dan menarik pundaknya cepat-cepat, seakan tangan Tsuna membuatnya terbakar. Menyadari sikapnya yang tidak sopan, supir itu bercicit gemetaran,
"Ti-tidak apa-apa Boss... Si-si-silahkan hubungi saya saat anda semua mau kembali ke markas..."
Sambil memandangi mobil itu menghilang dari pandangan dan masuk ke area parkir, bibir Tsuna melengkung sedih,
"Ayo kita masuk Juudaime..." Panggil tangan kanannya sopan.
"A...Ah.. Baik... Maaf membuat kalian menunggu..."
Mukuro mengangkat satu alisnya dan menepuk bahu bossnya,
"Kau tidak apa-apa Tsunayoshi?"
"Hmmm? Yah... tidak apa-apa kok Mukuro... Jangan khawatir..." jawab Tsuna sambil menghela napas.
Tidak lama kemudian Tsuna dan rekan-rekannya duduk di sebuah kantor luas milik kepala pusat penelitian Vongola. Di hadapan mereka duduk Shouichi Irie, pria muda jenius yang memimpin tempat itu.
"...Jadi... kalian mengatakan... bahwa semua yang terjadi selama setahun kebelakang terjadi tanpa sepengetahuan kalian?"
"Ki...Kira-kira begitu... Irie-kun... Ka..Kami menyadari hal-hal yang telah berlalu mungkin... tidak berjalan begitu baik... Bisakah kau... mungkin... menceritakan hal-hal yang penting pada kami?"
Shouichi menaikkan sebelah alisnya,
"Hmmm... Kuharap kau mengerti Tsunayoshi-kun... Sulit bagi kami untuk mempercayainya... Karena.. perilaku kalian selama setahun ini... bukanlah... perilaku yang terbaik..." kata pemuda berkaca mata itu sambil menggaruk-garuk rambutnya yang kemerahan bingung.
Tsuna menggigit bibirnya dan menunduk namun ia memberanikan diri dan mulai berbicara, "Aku mengerti... Tapi memang itulah yang terjadi Irie-kun... Karena itu..."
Shouichi memperhatikan mata cokelat atasannya yang bulat dan besar. Lalu pria itu menghela napas, "Baiklah... Untuk sementara waktu ini.. Anggap aku percaya denganmu... Lalu? Hal apa yang mau kau tahu?"
Para petinggi keluarga Vongola itu menghembuskan napas,
"Eeerrr... Paling tidak garis besarnya saja... Seperti apa saat kami tertidur... Keluarga mana saja yang kami... eeer... hancurkan..."
Shouichi menghela napas lagi, " Oke... Ini akan panjang...
Seperti yang mungkin kau tahu, terakhir aku melihat kalian... Normal... Adalah pada saat pertemuan dengan keluarga Russo... Aku sendiri hadir di pertemuan itu. Saat itu Tsunayoshi-kun hendak menjabat tangan Antonio Russo saat tiba-tiba kalian terdiam... Lalu... Sesuatu yang mengerikan terjadi.
Saat itu, ekspresi wajah kalian... Berubah... Tiba-tiba Tsunayoshi-kun mengeluarkan pistol dari jasnya dan menembak Don Russo tepat di dahi. Tentu saja bawahan-bawahannya mengamuk... Tapi mereka langsung dibunuh habis oleh Gokudera-kun dan kawan-kawan...
Sejak saat itu hari-hari bagaikan neraka dimulai... Vongola memulai pembantaian besar-besaran terhadap keluarga-keluarga musuh... Tidak terkecuali wanita dan anak-anak sekalipun...
Lama kelamaan, para keluarga sekutu mulai memprotes gerakan gegabah Vongola tersebut... Tapi para keluarga yang menentang Vongola langsung diratakan dengan tanah... Kira-kira begitulah yang terjadi..."
Para guardian Vongola saling berpandangan dengan ekspresi penuh horror di wajah masing-masing,
"A..Apakah Reborn-san tidak melakukan apa-apa? Kenapa para Arcobaleno tidak bertindak?" Gokudera berseru
"Aku juga tidak mengetahui benar tentang apa yang sebenarnya terjadi... Tapi tiba-tiba semua anggota Arcobaleno secara misterius menghilang setelah kejadian di malam itu... Tidak ada yang tahu kemana mereka sampai sekarang."
"Bagaimana kabar Varia? Apa mereka mau mengikuti perintah-perintah 'kami' pada saat itu?" Tanya Yamamoto pelan
"Ah iya... Varia.. Pertamanya, walau kehilangan Mammon, mereka dengan senang hati mengikuti rencana-rencana pembunuhan itu. Namun... Saat kalian mulai mengeluarkan perintah untuk menyerang keluarga-keluarga sekutu, mereka mulai memberontak... Ter...Terlebih... saat Tsunayoshi-kun menyerang... Ehhmm..." Pria berkacamata itu berhenti bicara sambil menutupi kedua matanya dengan tangannya sendiri
"Irie-kun?"
"Tsunayoshi-kun... memimpin sendiri penyerangan markas-markas keluarga Cavallone..." jawab Shouichi dengan suara bergetar. Ia menekankan pengucapan nama keluarga Cavallone yang dikatakannya perlahan.
Hibari Kyouya memacu mobilnya menuju suatu tempat. Di dalam otaknya kini hanya ada bayangan wajah tersenyum lelaki yang begitu berharga baginya. Satu-satunya orang yang pernah dicintainya. Apa yang dia dengar dari herbivore berkacamata itu bukanlah sesuatu yang ingin didengarnya,
"Keluarga Cavallone mencoba bernegosiasi namun malah dihancurkan dengan alasan penentangan atas Vongola... Dino Cavallone ditangkap dan disiksa..."
Hibari menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan kata-kata Irie Shouichi dari kepalanya,
"Kini dengan kurang dari seperempat sisa anggota keluarga mereka yang terpencar di banyak tempat, mereka bersembunyi..."
"Tidak ada yang tahu keberadaan Don Cavallone... Kondisinya tidak memungkinkan bagi beliau untuk bertarung..."
"Aku hanya pernah berkomunikasi dengan mereka beberapa kali... Itu juga hanya melewati Romario-san..."
"Yang mungkin tahu hanya para kapten grup Varia, karena mereka bekerja sama dengan Cavallone sejak mereka dibasmi karena dinyatakan membangkang dari perintah Vongola, tapi mereka juga menghilang tanpa jejak... Bahkan ada rumor bahwa mereka bersembunyi bersama..."
"Kedua matanya buta... Sedangkan kakinya sudah tidak dapat dipakai lagi..."
Pria berambut hitam itu mencengkram setir mobilnya erat. Ia tadi menemukan jaket sang boss Cavallone. Bukankah itu secara tidak langsung bukti bahwa ialah yang melakukan hal-hal itu pada Dino? Hibari tidak ingin mempercayainya...
Akhirnya ia sampai di pinggiran hutan, hutan yang sama dengan hutan yang saat itu diperlihatkan Dino. Ia berani bertaruh di situlah lelaki pirang itu bersembunyi. Hibari berlari melewati pepohonan yang lebat tanpa berpikir apa-apa.
Saat ia hampir sampai ke padang rumput itu, sesuatu muncul di otaknya apabila benar iallah yang melakukan hal menyeramkan itu pada Haneuma, apa yang akan dikatakan orang itu nanti? Apa ia masih mau mendengarkan Hibari?
Akhirnya Hibari sampai di padang rumput itu. Dengan seketika, pandangannya melayang ke sesosok pria berambut pirang yang duduk di kursi roda yang nyaman. Dino Cavallone duduk di pinggir danau, membelakangi Hibari. Dengan napas memburu, sang guardian berkata,
"Ha..Haneuma..."
TBC
A/N ini chapter keduaa~ maaf chapter ini terkesan terburu-buru, soalnya aku mau berusaha mencakup sebanyak mungkin di chapter ini, karena 2 minggu ke depan jadwalku cukup hectic karena tugas kuliah dan mau pindahan, jadi mohon dinikmati yaaa! ^^ Makasih semuanya yang udah review~
