"Heh... Ternyata kau tidak sendirian ya bocah?" tanya Squalo pada Hibari kasar.

Tsuna hanya tersenyum sedih dan menggelengkan kepalanya, "Bukan salah Hibari-san... Aku yang menyuruh Mukuro untuk mengikutinya... Karena aku tahu pasti Hibari-san tahu di mana Dino-san berada..."

"Apa maumu dengan Haneuma?"

"Aku hanya ingin mengobrol sebentar... Aku ingin menjelaskan semuanya pada Dino-san..." jawab Tsuna pelan

Squalo tersenyum menghina, "Tentang omong kosong bahwa kalian tidak tahu apa yang terjadi selama setahun kebelakang? Hmph... Kau kira kami sebodoh itu?"

Sang Vongola Decimo menggigit bibir dan mengepalkan tangannya erat. Lalu dengan suara bergetar ia menjawab, "A-Aku tahu ini sulit dipercaya... Tapi kumohon... Kalau kau biarkan aku menjelaskannya pada Dino-san dan Xanxus..."

Si kapten Varia tertawa keras mencemooh Tsuna, "VOOOIII! Kamu mau ngomong sama boss? Apa kamu ada permintaan untuk dibunuh, heh sampah kecil?"

"...Makanya kalau bisa aku ingin memulai bicara dengan Dino-san dulu..." Jawab Tsuna dengan senyum lemas.

Pria berambut panjang itu meludah, "Cih... Kurasa anak-anak buah Haneuma tidak akan membiarkanmu untuk bertemu dengannya... Kamu tahu apa yang terjadi terakhir kali Haneuma menjawab undangan dari Vongola?" Serunya garang, "Dia menghilang selama tiga bulan dan berakhir dengan kondisi seperti itu..." Squalo mengernyitkan satu matanya, mengingat keadaan mengenaskan Dino saat ia menemukannya di ruang tahanan Vongola pada malam itu.

"...Aku sudah mendengar tentang Dino-san dari Irie-kun ... Makanya... aku ingin menjenguknya..."

Tsuna terdiam sebentar untuk mengambil nafas yang sejak tadi ditahannya,

"Sekalian meminta maaf... dan... membicarakan tentang kelangsungan persekutuan antara Vongola dan Cavallone... Selain itu... aku juga ingin bertemu Xanxus... Kami ingin membangun kembali Vongola... Maka dari itu... Kami membutuhkan Varia kembali... " Tsuna membungkukan kepalanya dalam-dalam.

Squalo hanya terdiam, setelah menenangkan diri sejenak, "...Kalau kau ingin berbicara pada boss, kau harus kembali di lain hari... Dia sedang keluar untuk mengurus suatu hal... Kalau Haneuma... Aku ingin berkata jangan..." Lelaki berambut keperakan itu berhenti berbicara, dan, walau hanya sesaat, sorot matanya melembut, "Kondisi fisiknya sudah terlalu membebani kondisi mentalnya... Sejak ia kehilangan pengelihatan dan fungsi kedua kakinya, pikirannya tertekan karena selalu merasa dirinya tidak berguna dan sering mengalami serangan mental... Dan kalau itu terjadi, biasanya kondisi fisiknya langsung menurun... Beberapa kali nyawanya hampir terancam. Apalagi ditambah dengan mimpi-mimpi buruk tentang masa-masa penyiksaannya..." Mata Squalo melirik tajam ke arah Hibari yang sejak tadi terdiam. Sang awan mengepalkan jarinya begitu kuat sehingga darah mulai mengucur dari telapak tangannya.

"Dia sudah cukup tenang selama beberapa minggu ini... Kurasa Romario dan kawan-kawan tidak akan menghargainya kalau serangan-serangan itu kembali lagi karena kedatangan kalian. Selain itu... Aku belum mempercayai 'cerita' kalian tersebut... Aku tidak ingin mengambil resiko."

Mendengar kondisi kakak seperguruannya yang mengkhawatirkan, Tsuna menelan ludahnya. Lalu dengan nada kalah ia menjawab, "Begitu... Aku mengerti... Aku akan menunggu sebentar lagi sampai kondisi Dino-san membaik... Tapi... tolong sampaikan pada Xanxus bahwa aku ingin menemuinya..."

"Hmm... Aku tidak akan menjamin ia akan mau menerimamu, tapi akan kucoba."

"Terima kasih banyak... Squalo-san... Tolong... Jaga Dino-san..."

"Itu tidak perlu kau katakan... Lagipula aku berhutang padanya..."


Squalo memasuki markas tua Cavallone yang mereka gunakan sebagai tempat persembunyian selama beberapa bulan terakhir itu. Saat memasuki ruang dapur ia disambut oleh suara tawa rekannya yang familiar,

"Ushishishishi... Pangeran mencium bau tikus-tikus Vongola di luar~ Kenapa kau tidak menghabisi mereka kapten?" Sahut Belphegor sambil duduk bersila di atas meja dapur.

"Apa rumor itu benar? Mereka benar-benar tidak ingat soal setahun lalu? Tadi aku merasakan guruku... Tapi aku enggak berani keluar..." Anggota mereka yang paling muda, Fran menimpali dengan nadanya yang datar.

"Vooooiii! Ngapain kalian berduaan ngerumpi di sini?" seru Squalo kesal. Kepalanya pusing karena banyak pikiran, kini malah ditambah dengan ocehan dua anak kecil ini menambah denyut-denyut di kepalanya yang menggangu.

"Hee~i kapten rambut panjang~ Jawab dong pertanyaankuuu" panggil Fran lagi

"Ushishishi... Jangan bilang kau percaya pada mereka kapten? Kau kan tahu mereka-mereka itu sudah tidak ada yang bisa dipercaya..."

"Cih! Kamu pikir aku tidak tahu? Makanya aku tidak memperbolehkan mereka menemui Haneuma! Terutama bocah awan itu!" Squalo menjatuhkan dirinya ke sofa dan menghela nafas, "Sialan... Mana aku harus bicara sama boss brengsek itu lagi... AAARRRGGGHHH! Mana sih Lussuria? Kok dia enggak bikin makanan?" Seru Squalo sambil mengacak-acak rambutnya. Frustrasi.

"Luss-nee lagi ke kota... Katanya belanja..." Fran menjawab

"Ushishishi... Pangeran lihat ada yang lagi stress nih~" Belphegor terkikik melihat sikap kaptennya.


Malam itu, saat seisi rumah tertidur, Hibari Kyouya menyusup ke dalam rumah persembunyian Cavallone tersebut. Dengan bantuan ilusi kuat dari Rokudo Mukuro, ia telah memastikan tidak akan ada orang yang dapat melihat atau merasakan keberadaannya. Tidak ada tujuan lain dari keberadaannya di sini malam itu. Ia hanya ingin melihat kekasihnya.

Setelah menelusuri kamar demi kamar, akhirnya ia menemukan kamar tempat sang Cavallone Decimo beristirahat. Perlahan, ia membuka pintu kamar itu dan menyelinap masuk ke dalam. Betapa terkejutnya sang awan saat melihat lelaki berambut pirang itu tidak dalam keadaan tidur. Dino sedang duduk bersender di bantal-bantal besar yang telah diatur sedemikian rupa untuk menyanggah tubuhnya agar tetap tegak di atas tempat tidur antik yang mewah. Di pangkuannya, seekor kura-kura mungil yang setia bertengger, menikmati sentuhan lembut majikannya yang tengah mengusap bagian bawah rahangnya dengan jemarinya yang panjang.

Hibari menahan nafasnya. Di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya lembut rembulan, Dino terlihat begitu... Indah... Hanya kata itu yang bisa menggambarkan lelaki itu. Walau kedua matanya tidak terfokus, namun sorot matanya berkilau lembut. Persis seperti di dalam ingatan Hibari.

Namun, suara pintu yang terbuka cukup untuk membuyarkan suasana damai itu. Sang boss Cavallone mengangkat kepalanya dan berkata,

"Siapa di situ?" Tanyanya tegas.

Hibari tidak berani menjawab. Ia hanya terdiam, berharap Dino tidak akan menghiraukannya lagi. Tiba-tiba raut wajah Dino melembut,

"Sepertinya kau familiar... Jangan-jangan kau orang yang tadi ya? Bawahan Squalo? Ada perlu apa?" Sapanya ramah.

Pemuda berambut hitam itu tercengang mendengar perkataan Dino. Bukankah Mukuro sudah meyakinkan bahwa ilusinya akan membuat keberadaan dirinya tidak dapat dirasakan oleh siapapun? Kenapa Dino bisa dengan mudah menyadarinya?

Lalu dengan panik ia melihat sekeliling, mencoba mencari alasan atas kehadirannya di ruangan itu. Saat ia melihat sebuah pitcher berisi air dan gelas kosong, Hibari segera mengisi segelas air dan dengan perlahan membawanya mendekati Dino.

Selembut mungkin, Hibari mendekatkan gelas itu ke tangan Dino, berhati-hati agar tidak meneteskannya di kura-kura kecil itu, tentunya. Saat mendapati tangannya disodori gelas itu, Dino menatap wajah Hibari, seakan matanya dapat melihat wajah lelaki itu,

"Ini untukku? Terima kasih... Aku memang sejak tadi haus... Tapi Romario dan yang lainnya sudah tidur... Jadi aku tidak berani memintannya... " Kata Dino sambil tersenyum tulus.

Hibari menggigit bibirnya, memandangi Dino yang sedang meminum air pemberiannya. Saat lelaki itu selesai, ia mengambil gelas tersebut dari tangannya dan menaruh gelas itu di meja sebelah tempat tidurnya.

"Hey... Kenapa kamu tidak berbicara? Ngobrol dong denganku... Aku kadang-kadang suka bosan... Habis orang-orang sibuk sih... Sedangkan aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi..."

Ini jelas-jelas sebuah masalah. Hibari tidak bisa membiarkan Dino mendengar suaranya. Walau ingin, tetapi ia tidak dapat memberi tahu Dino tentang keberadaannya. Seperti kata si hiu busuk itu tadi, ia takut kehadirannya malah membuat Dino tertekan.

Dengan perlahan, ia mengangkat tangan Dino lalu mulai menulis huruf-huruf di telapak tangan itu dengan jari telunjuknya,

'Aku tidak bisa berbicara'

Dino terdiam sesaat, "Ah... Maaf aku menanyakan hal yang tidak peka..."

Hibari kembali menulis, 'Tidak apa-apa. Kau ingin ngobrol tentang apa? Akan kutemani sampai kau tidur'

"Sungguh? Terima kasih banyak..."

Setelah itu, melalui cara itu Hibari terus berbicara dengan Dino sampai akhirnya sang Don Cavallone tertidur kelelahan. Hibari menyelimutinya dengan lembut lalu menaruh Enzo di samping bantalnya. Makhluk kecil itu tampak bingung. Sebab di matanya, majikannya baru saja mengobrol dengan udara kosong.

Hibari mengelus pipi Dino lalu mengecup keningnya, "Selamat tidur... Haneuma..."


Saat Hibari kembali ke markas Vongola, ia berpapasan dengan Mukuro di lorong menuju ruang peristirahatannya,

"Bagaimana keadaan Haneuma, Kyouya? Kau berbincang dengannya?" Tanya sang illusionist berambut biru tersebut.

"Kau... Sengaja melakukannya... Agar Haneuma bisa merasakan keberadaanku..."

"Kufufufu... Apa kau menyukai 'hadiah' kecilku itu?"

Hibari memandang lantai. Sejujurnya ia sangat senang dapat berkomunikasi dengan Dino. Dapat dengan leluasa berbicara dan menyentuh tangannya. Walau Dino tidak mengetahui siapa dia. Walau ia tidak boleh mengakui identitasnya.

Hibari menelan ludah, berusaha menelan harga dirinya. Lalu ia berbisik pelan, "...Terima kasih..."

Dengan cepat ia berjalan melalui Mukuro yang terdiam. Masuk ke kamarnya dan membanting pintu.

Setelah itu, sang Don Vongola muda keluar dari tempat persembunyiannya di balik sudut dinding,

"Mukuro... Hibari-san... Dia pergi menemui Dino-san?" tanyanya sambil menyenderkan kepalanya di bahu bidang guardian nya.

"Ya... Maaf aku merahasiakannya darimu, Tsunayoshi..." Mukuro melingkarkan lengannya di pinggang lelaki itu.

Tsuna menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa... Lagipula aku yakin Hibari-san sangat membutuhkannya... Pertama kali aku melihatnya begitu... Kebingungan..."

Kedua kekasih itu terdiam, berusaha menenangkan diri mereka dengan menikmati kehadiran satu sama lain.

"Mukuro... Bagaimana keadaan onii-san...? Apa kamu berhasil memecahkan ilusi yang mengengkangnya?"

Mukuro menggelengkan kepalanya, "Ilusi yang aku dan Nagi pasang di Sasagawa cukup rumit dan kuat... Aku hanya berharap saat kami berhasil melepaskannya... Mentalnya masih dapat bertahan"

Tsuna tersenyum kecut. Ia menggenggam erat kemeja Mukuro dan membenamkan kepalanya di dada pria berambut biru tersebut.

"Mukuro..."

"Ya?"

"Aku takut..."

TBC

A/N maaf telat hehehe... sibuk tugas ama pindahan... Tapi untung skrg apartment beres (kecuali belom ada internet, jadi harus numpang rumah kakak kalo mau update :p) , tugas...err...'lumayan' beres, paling engga yang kemaren due udah beres dan sekarang udah mid semester break.. Yiipppee~ pas ama lebaran... Arrrghhh pengen rasanya lebaran di Indo TT^TT gak sabar November biar bisa balik ke jakarta...

Oh iya, selamat hari raya idul fitri, bagi yang merayakan yaaa ^^

Makacih untuk temenku Fitya yg telah menemani selama menulis dan memberi asupan2 ide~ /^^/

Eeerrr...Squallo sama Mukuro OOC gak sih? Bodo amat... =_=

Mohon R&R yaa~