Superbia Squalo memperhatikan teman lamanya yang tengah mengobrol dengan Belphegor di meja makan sambil tertawa-tawa. Tangan kanannya yang setia, Romario, berdiri di belakang kursi roda, terkekeh mendengar lelucon yang dilontarkan sang pangeran muda. Di dapur, Lussuria sedang memasak makan pagi bersama Fran seperti biasa.

Beberapa hari kebelakang, Dino terlihat sedikit lebih cerah dari biasanya, matanya tidak terlihat sayu seperti hari-hari kemarin. Perubahan itu membuat dada Squalo terasa sedikit ringan. Sudah lama ia mengkhawatirkan keadaan pria pirang itu.

Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan nyaring orang-orang Cavallone dari luar kamar makan,

"Ushishishishishi agaknya boss sudah pulang..."

Squalo menepuk dahinya, "...cih... Kelihatannya ia tidak senang..."

Seorang bawahan Cavallone, Ivan, tiba-tiba terlempar, mendobrak pintu mahogani yang menutupi ruang makan tersebut. Sosok tinggi Xanxus memasuki ruangan itu, Levi berdiri di belakangnya seperti biasa. Tatapannya yang tajam menurunkan suhu ruangan itu beberapa derajat.

"Romario... Suara itu... Ivan ya?" Tanya Dino, memecah keheningan suasana, "Dia tidak apa-apa?"

Dengan terpogoh-pogoh Romario berjalan mendekati Ivan yang terkapar lemah di lantai,

"Xanxus... Aku tidak peduli dengan mood mu yang buruk... Tapi tolong jangan lampiaskan pada bawahan-bawahanku..."

"Jangan ngomong macam-macam kau sampah! Lagipula siapa yang bisa menahan saat mendengar bahwa si cecunguk Sawa-"

"VOOOOOIIIIIII! HEY BOSS BRENGSEK! ADA YANG INGIN KUBICARAKAN!" Squalo memotong kata-kata Xanxus dengan teriakannya yang membahana sambil menariknya keluar ruangan.

"Apa-apaan sampah! Jangan teriak-teriak di telinga-hmmmmmppphhhfff..." Sekali lagi, kata-kata Xanxus terpotong, namun kini, dikarenakan bibirnya tertutupi bibir seorang pria berambut perak yang setia.

Belphegor terkekeh melihatnya, wajah Levi pucat karena kaget, Romario, berusaha tidak melihat pemandangan di depan matanya, mendehem dan menyeret Ivan yang pingsan di lantai, sedangkan Dino yang tidak bisa melihat hanya mengangkat alis, bertanya-tanya kenapa ruangan itu tiba-tiba begitu sunyi.

Sambil terus mencium boss-nya dengan panas, Squalo mulai menuntun Xanxus yang mulai membalas ciumannya dengan tajam ke dalam kantornya. Bibir dan lidah bertautan. Gigi-gigi berbenturan. Suhu badan mereka memanas. Xanxus melingkarkan lengannya yang kuat ke pinggang dan terus melumat bibir manis Squalo seakan tidak ada hari esok.

Saat mereka sampai di kantor, dengan kasar Xanxus membanting pintu dan mendorong Squalo jatuh di sofa,

"Sampah sialan... Kau sengaja melakukannya agar si kuda lemah itu tidak mendengarnya kan?" geram Xanxus

"...Aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan..." Jawab Squalo tanpa memandang mata merah milik Xanxus.

Xanxus menjambak rambut di tengkuk tangan kanannya tersebut dan memaksa lelaki itu agar menatap wajahnya, "Jangan coba-coba membohongiku hiu sialan"

Squalo menggigit bibir dan menghela napas, "...Apa salahnya jika memang aku melakukan itu...?"

"Aku tidak suka jika kau terlalu memperhatikan orang lain" Sembur Xanxus.

"Kau tahu aku tidak mungkin bisa meninggalkannya... Dia tidak akan mam..."

Xanxus membalas perlakuan Squalo tadi dengan memotong omongannya denga bibirnya sendiri, "Aku sudah lelah mendengarmu berbicara tentang Cavallone sialan itu... Kau tahu kau tidak bisa melindunginya selamanya Stronzo"

"Aku tahu..."

"Hmph... Sekarang berhentilah bicara... Aku sudah tidak bertemu denganmu selama seminggu..." kata Xanxus sambil membuka paksa kemeja Squalo. Beberapa kancing berterbangan di udara karena perlakuan kasar sang boss Varia,

"VOOOOIII! SIALAAN! KEMEJA INI MAHA-hmmmmmppppphhh"


Malam itu seperti yang dilakukannya selama seminggu kebelakang, Hibari menyelinap ke kamar tidur sang Don Cavallone. Malam itu, kamar antik itu hanya disinari sinar rembulan yang mengintip dari balik awan tebal yang nyaris tidak dapat mengurangi kecantikan lembut sang purnama di angkasa.

Seperti biasa, saat mendengar pintu terbuka, Dino langsung menoleh ke arah Hibari berdiri dan menyambutnya dengan senyuman lebar.

"Ah.. Selamat malam! Akhirnya kau datang... Aku sudah menunggumu!" sapa Dino ceria.

Melihat Dino yang dengan bersemangat menepuk-nepuk kursi di sebelah tempat tidurnya, Hibari tersenyum kecil, Dino terlihat seperti anak kecil. Manis sekali. Wajah Dino dibayangi oleh bayangan renda yang berasal dari cahaya bulan yang menerombos lembut kelambu putih bersih tempat tidurnya. Mata cokelatnya yang tidak terfokus berkilat bahagia mengetahui teman barunya telah memasuki ruang peristirahatannya seperti biasa.

Perlahan, Hibari berjalan dan duduk di kursi itu. Lalu, diambilnya tangan Dino dan ia mulai menulis huruf-huruf di telapak tangan itu, tidak menghiraukan Dino yang terkikik karena sensasi geli yang ditimbulkan.

'Selamat malam signor Cavallone. Apa kabarmu hari ini?' tulis Hibari dengan bahasa Itali yang sempurna.

"Hey, hey! Kamu harus tahu! Sekarang aku mulai bisa membayangkan rupa seseorang dengan meraba-raba wajahnya lho!"

Hibari tercekat mendengarnya. Dia tidak ingin Dino mengetahui siapa dirinya. Ia merasa belum siap jika sampai Dino menyadari identitasnya dan berbalik membencinya. Hibari cukup senang sebagai keberadaannya saat ini, sebagai 'bawahan Squalo'. Hanya itulah perannya dalam hidup Dino kini. Namun dengan peran itu ia bisa berbincang-bincang dengan Dino secara leluasa dan membuat sang Boss yang kini terpuruk tersebut tertawa dan tersenyum. Suatu hal yang Hibari yakin sangat dibutuhkan Dino saat itu.

"Mendekatlah! Aku sudah lama penasaran kamu seperti apa sih? Kamu bahkan enggak mau memberi tahu namamu... Tapi paling enggak aku ingin tahu seperti apa wajahmu!" seru Dino antusias sambil mengulurkan tangannya, berusaha meraih wajah lelaki berambut hitam tersebut.

Dengan hati berat dan tangan gemetar, Hibari menggenggam tangan Dino yang tersodor di hadapannya. Lalu dengan perlahan ia mulai menulis jawabannya di telapak tangan Dino,

'Kurasa kau tidak akan mau tahu wajahku seperti apa signor Cavallone.'

"Kenapaaa? Aku tidak peduli kok kalau hidungmu pesek atau matamu sipit atau mulutmu besar... Aku cuma mau tahu seperti apa rupa temanku!" Bantah Dino polos.

Teman. Hibari telah menipu Dino dengan membohonginya terus menerus hanya agar ia bisa kembali menemui kekasihnya tersebut, namun Dino melihat identitas palsunya sebagai seorang teman. Seorang teman yang begitu berharga.

'Bukan begitu. Maksudku... Kurasa kau tidak akan ingin menyentuhnya... wajahku penuh bekas luka bakar. Kau tidak akan bisa membayangkannya...'

Lagi-lagi kebohongan terlontar. Sekali lagi ia telah berdusta pada pria berambut pirang tersebut. Saat raut wajah Dino berubah, rasa khawatir tertoreh di wajahnya yang tampan, rasa bersalah menguasai hati Hibari.

"Luka bakar? Kasihan... Pasti sakit ya?" Tangan Dino yang besar menggenggam tangannya, mengelusnya lembut dengan ibu jari, "Sekarang kamu sudah tidak apa-apa? Apa karena itu kamu tidak bisa bicara?"

'Sekarang sudah tidak apa-apa signor. Sudah tidak ada yang harus dikhawatirkan.'

Bibir dino tersungging dalam senyuman tulus, membuat Hibari senang melihat senyum kembali dalam ekspresi Dino.

"Syukurlah kalau begitu..." Dino menghela napas lega.


Setelah berbincang selama beberapa jam, malam mulai makin menggantung, mata sang pria berambut pirang kian lama makin memberat. Namun, ia terus berusaha menahan kantuknya agar dapat terus mengobrol dengan teman barunya yang misterius tersebut.

"Hu...Huaaaaahm..." Sekali lagi Dino menguap, "Hey... Apakah... Kau punya orang yang disukai...?" Pria itu bertanya sambil setengah mengantuk

Tidak lama, sebuah jawaban dituliskan di telapak tangannya dengan jemari yang panjang.

'Ya.'

"Oh ya? Apa kau sudah menikah? Atau masih berpacaran?"

Hibari menahan dirinya agar tidak langsung menyerukan jawabannya, mengatakan bahwa orang yang dicintainya adalah Dino sendiri. Namun dengan segala pengendalian diri yang dimilikinya, ia menuliskan kembali jawabannya di tangan Dino,

'Yang pasti kami belum menikah. Tapi aku juga tidak tahu apa kami masih bersama atau tidak.'

"Tidak tahu? Kenapa?"

'Tanpa kusadari aku telah menyakiti orang itu. Namun aku belum bisa bertemu dengannya lagi... Aku yakin orang yang kusukai itu pasti kini membenciku.'

Bibir Dino kembali melengkung, menyadari perubahan mood teman misteriusnya tersebut,

"Tapi kau sangat mencintainya kan?"

'...Lebih dari apapun...'

"Dia mencintaimu?"

'Kurasa. Dulu ia selalu berkata begitu. Tapi setelah apa yang kulakukan padanya aku yakin-'

Dino menghentikan kata-kata Hibari dengan menggenggam tangannya yang sedang menulis jawabannya itu,

"Jangan menyerah... Cinta tidak semudah itu berubah... Aku yakin kalau kau menjelaskan kebenarannya pada orang itu, ia pasti mau memaafkanmu..." seru Dino dengan nada mengantuk

Mata Hibari membelalak. Apakah... Masih adakah harapan Dino akan memaafkannya jika ia membuka identitasnya? Adakah harapan Dino masih mau menyambutnya dengan tangan terbuka, membiarkannya masuk ke pelukan hangat lelaki itu?

"...Itulah... Yang selama ini... Kuharapkan... Dari orangku... yang paling berharga... huaaaaaahmmm..." bisik Dino, matanya yang kecokelatan perlahan menutup.

Hibari menelan ludah lalu ia memutuskan untuk membuka mulutnya, "Haneuma... Aku..." Namun saat ia mengangkat wajahnya, ia menemukan sang Boss Cavallone telah tertidur lelap. Nafasnya yang tenang terdengar nyaman di telinga Hibari, bagaikan musik lembut yang begitu menenangkan. Hibari tersenyum kecil dan mencium bibir lembut lelaki itu.

"Aku mencintaimu... Lebih dari apapun..."


"Bagaimana keadaan Vongola?" Seorang lelaki bersuara dalam bertanya kepada seorang pemuda remaja yang berlutut di hadapannya.

"Semua berjalan dengan lancar master... Mereka sudah mendapatkan kembali ingatan mereka." Jawab pemuda itu .

"Begitu... Baiklah, kerja bagus. Lanjutkan sesuai rencana kita..."

TBC

A/N Ini chapter terbaru, yang ditulis dalam keadaan enggak enak badan, tapi semoga masih layak baca...

Di chapter ini bener-bener berpusat sama D18 dan XS (maaf yang minta 8059, mereka belum keluar disini) OOC gak sih? .v

Akhirnya tersangka kejadian yg menimpa vongola dkk keluar sedikit ;) Terus baca ya semuanyaa... makasih banyak atas review-reviewnya ^^