Malam itu, tidak seperti biasanya, setelah Dino jatuh tertidur, Hibari tidak langsung menyelinap pergi keluar markas tua Cavallone tersebut. Setelah pria itu terlelap, Hibari terus duduk di sisi tempat tidur kekasihnya, menunggu mata cokelat indah itu terbuka.
Setelah percakapannya dengan Dino tadi, ia bertekad akan memberi tahu kebenaran keberadaannya pada lelaki itu. Hibari sudah tidak tahan lagi untuk melontarkan lebih banyak lagi dusta kepada orang yang begitu disayanginya itu. Ia tidak peduli lagi apa bila Dino akan berbalik membencinya atau malah menjadi takut kepadanya. Hibari ingin agar Dino menyadari bahwa orang yang selama ini menemaninya mengobrol setiap malam adalah dirinya.
Hibari menggenggam tangan Dino dan menempelkannya ke pipinya. Dengan lembut dikecup punggung tangan Dino yang berhiaskan bara api berwarna biru tersebut. Hibari menyentuhkan jari telunjuknya mengikuti alur-alur gambar tattoo Dino. Ia menyukainya, tattoo tersebut. Sebab itu adalah salah satu hal yang membuat Dino-nya yang berharga, Dino.
Sambil menyandarkan badannya di tempat tidur Dino, Hibari mengelus pelan pipi lembut pria itu. Perlahan, jemarinya bergerak menuju bibir tipis sang boss Cavallone. Merasakan sensasi yang tidak biasa, Dino mengerang pelan dalam tidurnya. Namun setelah bergelung mendekat ke sosok hangat di sisinya, ia kembali tertidur pulas.
Mendapati wajah lelaki yang begitu dicintainya berada sangat dekat dengan wajahnya sendiri, Hibari tidak dapat menahan hasratnya lagi untuk menempelkan bibirnya sendiri ke bibir Dino. Bibir Dino terasa sama persis seperti di dalam ingatan Hibari. Hangat. Lembut,
"Haneuma..."
Diam-diam diselipkannya lidahnya di antara bibir Dino, mencoba mengecap rasa manis yang dirindukannya. Tangan Hibari mengelus leher panjang Dino lembut, dan terus bergerak ke bawah sehingga meraba masuk ke dalam kerah piyama Dino.
"Mmmhh..." kelopak mata sang boss Cavallone mulai berkejap. Hibari langsung melepaskan bibir Dino. Ia hampir tidak percaya apa yang hampir dilakukannya pada sang Bucking Horse yang tengah tertidur pulas itu.
Tiba-tiba sang pria berambut hitam tersebut merasakan sensasi aneh di kedua belah pipinya. Dia menyentuhkan jemarinya ke pipi kirinya dan merasakan basahnya air mata.
"Ugghh... Uhhhh..." Pria itu berusaha keras menahan aliran air matanya. Namun apa kuasa, ia merindukan Dino. Ia merindukan suara dalam yang memanggil namanya hangat. Ia merindukan sentuhan jemari kasar di kulitnya. Merindukan bibir lembut di bibirnya sendiri. Ia merindukan Dino. Sangat merindukannya sampai-sampai hati kuat sang Vongola guardian itu luluh dan mengendurkan kelenjar air matanya.
"Haneuma... Haneuma... Hik.. Hik.. Dino... Dino... Aku di sini... Aku di sini..."
Dielusnya lembut pipi Dino. Ia ingin Dino bangun dan membuka matanya. Ingin agar Dino menyadari keberadaannya di sisinya. Andai bisa, ia ingin memutar balikan waktu agar masa-masa mengerikan di mana mereka semua lepas kendali tidak pernah terjadi.
Namun tidak ada yang bisa dilakukan Hibari saat ini kecuali berlutut lemas di sisi tempat tidur Dino. Lututnya bergetar sedemikian kencangnya sehingga ia bahkan tidak mampu berdiri.
Akhirnya dengan helaan napas pelan Hibari memutuskan untuk mengistirahatkan matanya sejenak. Dibaringkannya setengah tubuh bagian atasnya di samping Dino, kepalanya hampir menyentuh wajah Dino, dan Hibari pun mulai tertidur pulas. Di sisi orang miliknya yang paling berharga.
Pagi menyingsing di markas besar Vongola, di mana Boss Vongola kesepuluh, Sawada Tsunayoshi mulai membuka matanya. Udara yang dingin membuat Tsuna tidak ingin keluar dari pelukan selimutnya. Perlahan, ia meraba-raba dalam selimut, mencari sosok hangat yang terus berada di sisinya semalaman. Tidak menemukan lelaki yang dicari, Tsuna akhirnya memaksa dirinya untuk keluar dari selimut dan melihat sekelilingnya,
"Mukuro?" tanya Tsuna, "Mukuro kamu di mana?"
Tsuna beranjak dari tempat tidurnya, sambil menggosok-gosok matanya, mencoba menghilangkan kantuk yang melanda.
Tiba-tiba terdengar suara orang berlari dari luar kamar tidurnya. Tak lama, seseorang mengetuk pintu kamarnya,
"Ya?" Jawab Tsuna agak serak.
Saat pintu terbuka, tangan kanannya yang setia menampilkan dirinya. Wajah Gokudera terlihat pucat dan peluh bercucuran di dahinya.
"Gokudera-kun? Ada apa?"
"Jyuudaime... Maaf mengganggu istirahat anda.. Namun telah terjadi sesuatu yang gawat..."
"Ha...? A...Apa maksudmu?"
Gokudera menghela nafas, "Si Bodoh itu tertangkap saat berada di tempat persembunyian Cavallone..."
Sementara pagi itu di markas tua Cavallone yang sepi, terpecahkan oleh sebuah jerit tangis yang memekikan, bergema ke seantaro rumah tua yang agung tersebut.
"Tidaaaaaakk! Tidaaak! Ti...Tidak..." jerit Dino Cavallone sambil tersedu-sedu. Kedua tangannya menutupi telinga dan kepalanya dan seluruh badannya gemetar. Di sisinya, Squalo berusaha menenangkan teman lamanya itu sambil mencengkram pergelangan tangan Dino,
"HEI! HANEUMA! TENANGLAH SEDIKIT!" bentaknya kasar pada pria yang begitu ketakutan itu
"Tidak! Aku tidak mau ke tempat itu lagi! Tidak! Ja..Jangan.. Jangan...Jangan! Hen..Hentikan... Jangan bawa aku ke situ..." Dino terisak ketakutan. Air mata menggenangi kedua belah matanya yang tidak terfokus, piyamanya basah akan keringat dingin.
"VOOI! Tidak ada yang akan membawamu ke mana-mana bodoh! Tenanglah! Dengarkan aku!"
Dino menggenggam erat kemeja Squalo sambil terus menangis. Nafasnya tambah tidak beraturan, lama kelamaan dia mulai terlihat seakan-akan sedang tercekik,
"Ti..dak... Sa..kit... Hen..ti..kan... Ti..dak ma..u..." Wajah Dino mulai memerah, nafasnya memburu, seakan walau ia terus menarik udara, tidak ada oksigen yang masuk ke dalam paru-parunya,
"Hei Pak tua! Mana obat penenangnya?" Jerit Squalo kepada Romario yang sedang sibuk menyiapkan obat untuk Dino.
"Sebentar lagi!" Seru Romario sambil menunggu Lussuria mengukur dosis obat yang akan diinjeksikan.
Sedangkan di ujung kamar itu, sambil dikengkang di lantai oleh Belphegor dan Leviathan, Hibari bertelungkup di lantai. Sebuah pisau milik Belphegor ditodongkan di dekat lehernya, sebab ia sempat memberontak dan mencoba melawan saat para anggota Varia inti tersebut datang berhamburan masuk setelah mendengar teriakan ketakutan Dino pagi itu. Sementara Xanxus dan Fran hanya menonton keributan itu dari depan pintu tanpa berkata-kata.
Saat Dino terbangun, Hibari memberanikan diri berbicara dan menyapa kekasihnya itu, namun bukan sambutan kata-kata hangat, malah jerit panik ketakutan Dino yang didapat Hibari. Dengan segera para anggota inti Varia yang berada di kamar-kamar sebelah kamar Dino terbangun dan mendatangi kamar itu. Ilusi yang diberikan Mukuro kepada Hibari hanya bertahan selama 6 jam, alhasil Hibari langsung dibekukan dan ditahan dengan tangan di balik punggung.
Hibari tidak dapat melepaskan matanya dari sosok kekasihnya yang sedang ditenangkan itu. Kepala Hibari terasa berat dan perutnya mual. Namun sensasi itu bukan berasal dari serangan Xanxus yang tadi menghantamnya dan meleparkan badannya ke arah dinding sehingga ia terjatuh di lantai. Bukan juga dari Leviathan dan Belphegor yang kini meniban tubuhnya dan menahan tangan dan kakinya. Namun dari suara-suara menyedihkan yang dikeluarkan Dino.
"Ti..dak... A..ku tidak mau Squalo... Jangan.. biarkan dia... sakiti aku lagi... su..dah cu..kup... Kyo..ya... Ta..kut..." Rengek Dino, kali ini suaranya makin melemah karena efek obat penenang yang telah disuntikan Romario mulai bekerja.
Mendengar itu sebuah dorongan muncul di hati Hibari, maka ia berseru kencang, "Haneuma! Kumohon! Dengarkan a-hhhmmmpppfhhh!" Dengan seketika sebuah tangan membungkam mulutnya.
"Kalau kau tidak mau memperparah keadaan, lebih baik kau diam..." seseorang berkata, namun kepala Hibari telah penuh dengan jeritan-jeritan ketakutan yang dilontarkan Dino tadi, sehingga ia tidak dapat lagi berpikir siapa yang berbicara.
Semalam ia sudah menguatkan hatinya, berpikir ia tidak peduli lagi bila Dino akan membencinya. Namun saat menghadapi kenyataan kini, Hibari menyadari sesuatu. Saat merenung semalam, ada sedikit keegoisan di hatinya yang berpikir Dino pasti akan menyambutnya dengan tangan terbuka. Karena itu ia begitu terpukul saat melihat reaksi lelaki itu saat wajah Dino yang tenang berubah menjadi wajah penuh ketakutan yang sedang diperlihatkannya saat ini.
"Ha..ne..u..ma... kumohon... dengarkan aku..." Bisik Hibari lemah saat ia diseret keluar dari kamar. Saat pintu akan ditutup, Hibari sempat mendengar sepatah kata yang dibisikan Dino kepada Squalo yang sedang mendorongnya kembali ke tempat tidur,
"...Aku takut Kyoya..."
Hatinya hancur berkeping-keping.
TBC
A/N Pertama-tama... Maaf banget ya update-an ini telat sekali... Saya gak ada alesan sibuk ato apa-apa lagi... karena saya udah libur dari november dan saya gak ngapa-ngapain untuk ngelanjutin fic ini satu... Bukan maksud saya melupakannya... huhuhuhuhu (ngomongnya udah gak jelas karena udah jam 1 pagi dan udah mulai keleyengan)
Kedua... gimana menurut kalian chapter iniii? Ehehhehe... Semoga reaksi Dino bisa dimengerti.. Dia kena panic attack karena Hibari tiba-tiba muncul di hadapan dia.. Saya baru pernah liat sekali orang kena panic attack, tapi itu lebih keliatan kayak asma.. jadi saya gaktau kalo gelagat Dino itu kayak panic attack beneran apa enggak.. :p
Mohon dibaca terus ya fic ini~ saya bakal berusaha update lebih rajin! R&R yaa!
