INTERLUDE: The Story So Far ~XANXUS~
Xanxus berlalu di markas tua Cavallone. Mata merahnya berkilat tajam memandang keluar jendela, ke arah balkon yang bermandikan sinar mentari. Kuda lemah Cavallone tengah menyantap makan siang bersama Sawada Tsunayoshi. Dino terlihat senang menjamu adiknya, wajahnya tersenyum cerah seakan keributan pagi tadi tidak pernah terjadi. Xanxus mengernyitkan hidungnya.
Sawada Tsunayoshi.
Cecunguk kecil yang merusak nama Vongola.
Walau sang boss Varia tahu bahwa cerita yang dilantunkan anak itu bukanlah bohong, tapi ada perasaan kecil di hati Xanxus yang ingin menyalahkan seseorang tentang kejatuhan nama agung Vongola yang telah terjaga selama sepuluh generasi.
Dan sekarang, saat pelaku sebenarnya belum terungkap, rasa itu hanya bisa ditujukan Xanxus pada boss muda Vongola tersebut.
Ingatan Xanxus melayang ke wajah bangga ayah angkatnya saat melantik Sawada Tsunayoshi. Wajah bangga yang seharusnya hanya ditujukan pada dirinya, pikir hati kecil Xanxus. Namun Timoteo dengan lembut meyakinkan Xanxus bahwa Sawada Tsunayoshi dapat dengan baik memimpin Vongola dan meminta agar Xanxus juga ikut membantu Tsuna dalam memimpin Vongola.
Walau kesal Xanxus perkataan ayahnya benar, anak itu telah mengalahkan dirinya sendiri dalam pertarungan. Anak kecil berusia sepuluh tahun lebih muda darinya. Vongola yang diinginkan ayahnya hanya bisa direalisasikan oleh anak itu.
Setahun setelah pelantikan Sawada Tsunayoshi terjadi sebuah keributan di keluarga aliansi Vongola. Vongola Decimo dan guardiannya menyerang keluarga terdekat mereka, dan diikuti oleh beberapa keluarga lain. Saat itu Xanxus tidak menghiraukannya, asalkan mereka tetap mendapat misi dan tetap dibayar Vongola Xanxus tidak peduli soal keluarga lemah mana yang mereka gusur
Di puncaknya berita hilangnya Dino Cavallone setelah bernegosiasi dengan Sawada sampai ke telinga Varia. Walau berusaha menutupinya, Squalo jelas terlihat gelisah dan khawatir. Semua orang tahu Squalo melihat Dino Cavallone sebagai teman lama yang cukup berharga. Xanxus mulai mencium hal-hal yang tidak beres. Tidak seperti Sawada untuk menyerang orang yang telah membantunya sedemikian rupa dari awal kariernya dalam dunia mafia.
Saat Vongola memulai serangan-serangan beruntun terhadap keluarga-keluarga aliansinya, mantan boss Vongola, Timoteo, saat itu berumur delapan puluh tahun, dan sedang terserang penyakit keras.
Xanxus tidak ada di sisinya saat Timoteo mendengar berita tentang awal kejatuhan keluarga Vongola generasi kesepuluh. Namun ia bisa membayangkan wajah ayahnya saat itu. Tidak akan jauh berbeda dengan wajah ayahnya saat Xanxus mencoba melakukan kudeta delapan belas tahun yang lalu.
Xanxus tidak ada di sisinya saat Sawada Tsunayoshi memerintahkan penyerangan ke rumah sakit dimana Timoteo dirawat hanya karena ada boss keluarga incarannya yang juga dirawat di rumah sakit itu. Saat Xanxus tiba, Timoteo terlihat kurus dan pucat, berkilat di matanya kesedihan dan rasa pengkhianatan. Namun lelaki tua itu tersenyum lega melihat anak angkatnya berlari mendekatinya dan berdiri di samping tempat tidurnya. Senyum terakhir yang dilihat Xanxus sebelum ayahnya dijemput ajal. Penyakit dan kesedihan telah menggerogoti tubuhnya terlalu jauh.
Saat pemakaman sang mantan boss Vongola yang begitu dihormati dan dicintai, Vongola Decimo dan keluarganya hadir. Namun bukan wajah menyesal atau rasa sedih, yang dipancarkan mereka hanya senyum sombong dan bangga. Saat itu kemarahan Xanxus memuncak. Bekas luka bakar yang biasanya tersembunyi memancar di sekujur tubuhnya.
Varia melakukan kudeta mereka yang kedua. Xanxus memimpin sendiri penyerangan terhadap salah satu markas Vongola. Di kericuhan itu mereka menemukan sel dimana Dino Cavallone disekap.
Menemukan bossnya dirantai di dinding dalam keadaan sangat rapuh, telah dilukai dan disiksa secara fisik maupun mental, kemarahan keluarga Cavallone terbakar. Mereka mengajukan diri untuk memberikan pertolongan kepada rencana Varia untuk menyerang markas utama Vongola.
Mereka mengenal baik sistem keamanan Vongola luar dalam, namun misi ini tidak semudah yang mereka kira. Para tentaraVongola dengan gencar membalas serangan mereka. Saat hari menjelang malam Xanxus mendapati dirinya menembak salah seorang tentara Vongola tepat di kepala dengan sisa flamenya yang makin menipis.
Telinganya berdengung karena kericuhan yang semakin menjadi, mayat-mayat mulai bergelimpangan di mana-mana, baik milik tentara Vongola, Cavallone, maupun Varia. Xanxus berusaha memfokuskan matanya untuk mencari anak-anak buahnya di tengah-tengah orang-orang yang sedang bertarung.
Ia dapat melihat seekor pari listrik berterbangan di atas kepala cecunguk Vongola.
Semburat sinar berwarna kuning dan pekikan seekor merak dari belakangnya.
Sekilat berwarna perak yang diikuti teriakan kesakitan musuh saat ditebas.
Kilatan cahaya pantulan dari pisau-pisau yang berterbangan.
Sekilas kabut berwarna ungu yang menyelimuti para prajurit Vongola.
Sambil menembak kepala tiga orang sekaligus Xanxus menghela napas. Paling tidak para anggota Varia masih berada di sisinya.
Mereka menuju ruangan paling atas, ruang kantor boss Vongola. Xanxus mengingat masa kecilnya saat bermain-main di ruangan itu, di bawah kaki meja kerja ayahnya. Berkhayal bahwa di bawah meja adalah markas rahasianya. Timoteo dulu akan memberikan kertas-kertas bekas yang akan dibuat Xanxus menjadi pesawat atau kapal-kapalan. Xanxus mengingat pernah tertawa terbahak-bahak bersama ayahnya sambil menghabiskan waktu bersama. Dia juga ingat pernah hampir membunuh ayah angkatnya di ruangan yang sama saat mengetahui bahwa ia bukanlah anak kandung Timoteo.
Sesampainya di ruangan sang boss Vongola, mereka disambut oleh kehadiran Sawada Tsunayoshi ditemani oleh enam orang guardiannya, terkecuali sang guardian of the sun yang telah lama menghilang tanpa kabar. Tiba-tiba sebuah pekikan terdengar dari sisi Varia.
Mata Xanxus beralih ke illusionist berambut hijau miliknya yang tengah membelalakan matanya. Peluh bercucuran di wajah Fran yang biasanya tidak menunjukan ekspresi apapun. Dengan tiba-tiba anggota paling muda Varia itu tumbang dari tempatnya berdiri dan dengan sigap ditangkap oleh Bel. Dua guardian of the mist Vongola hanya tersenyum angkuh melihat jatuhnya anak muda itu.
Belakangan Xanxus diberi tahu bahwa Rokudo Mukuro sengaja memingsankan Fran agar para anggota Varia tidak dapat melarikan diri dengan mudah.
Dengan stamina yang tipis dan lelah setelah menghadapi batalion demi batalion tentara Vongola, para anggota Varia satu persatu jatuh di tangan guardian Vongola Decimo. Saat yang tersisa hanya Xanxus dan Squalo, sebuah ledakan menimpa atap kantor sang boss Vongola.
Langit-langit ruangan itu runtuh dan terdengar suara gemuruh sebuah helikopter. Di tubuh helikopter itu terpampang gagah sebuah simbol kuda jantan. Pintu helikopter itu terbuka dan sebuah tangga tali dilemparkan.
Xanxus tidak mendengar suara lantang Squalo yang menyuruhnya menaiki tangga tali itu, mengatakan bahwa mereka tidak akan bisa memenangkan pertarungan pada hari itu. Mata Xanxus terus menatap wajah angkuh Sawada Tsunayoshi. Orang yang secara tidak langsung membunuh ayah angkatnya. Orang yang mengotori nama Vongola.
Saat ia menyadari Lussuria dan Levi sudah diangkat ke atas helikopter dan kini Squalo tengah memapah Belphegor untuk menaiki tangga, Xanxus mendecakan lidahnya dan mengangkat illusionist muda yang masih tidak sadarkan diri ke pundaknya. Ia memanjat tangga tali itu dan helikopter itu mulai melambung ke udara.
Masih bergantung di tangga tali dengan anak buahnya di gendongannya, Xanxus kembali melihat markas Vongola yang setengah hancur. Sawada Tsunayoshi sedang memberikan perintah kepada guardiannya untuk membereskan markas; seakan kejadian tadi tidak terjadi.
Sang boss Varia merasakan kepala Fran bergerak, mencari posisi yang lebih nyaman di pundaknya. Topi kodok konyolnya yang diberikan Bel telah hilang entah kemana, kini rambut hijaunya berterbangan ditiup angin. Xanxus merasa sesuatu membasahi kemejanya. Ia menyadari Fran menangis dalam tidur sambil mendesahkan panggilannya pada guru yang telah mengkhianatinya.
Xanxus melengkungkan bibirnya. Ia tidak akan membiarkan Vongola terus dinodai oleh ulah bocah-bocah itu. Ia tidak akan membiarkan bawahannya disakiti dan dipermalukan seperti ini.
Saat Xanxus dan Fran ditarik ke atas helikopter mereka disambut seorang wajah familiar yang berkacamata. Romario datang menyelamatkan mereka atas suruhan Dino yang kini sedang memulihkan diri dan bersembunyi di markas milik generasi pertama Cavallone. Beberapa illusionist milik Cavallone berkerja sama untuk menyamarkan helikopter itu agar tidak terdeteksi Vongola.
Sesampainya di markas Cavallone, para anggota Varia tertidur selama dua hari penuh.
Dua hari kemudian Dino Cavallone sendiri mendatangi kamar tempat mereka dirawat. Xanxus menyadari rambut pirang lelaki itu dipotong jauh lebih pendek dari biasanya, mata cokelatnya tidak terfokus, dan ia didorong oleh Romario dengan sebuah kursi roda. Suara lantang tangan kanannya menggelegar, memecahkan keheningan ruang rawat itu, efektif membangunkan Levi dan Bel yang masih tertidur.
Setelah berterimakasih atas penyelamatan dirinya dari sekapan Vongola, Dino dengan wajah sedih menceritakan bahwa markas Varia telah diporak porandakan dan sebagian besar bawahan mereka dieksekusi atas perintah langsung dari Sawada Tsunayoshi.
Ia juga menceritakan bahwa keluarganya sendiri juga tidak lolos dari hukuman keluarga mafia terkuat itu. Walau kesal, Xanxus hanya bisa menerima kekalahan ini.
Kepalanya pusing dan untuk pertama kali Xanxus mengakui ia merasa... Bingung. Xanxus sendiri yang menyerukan bahwa Vongola akan bersatu saat menghalau mush dari luar yang membahayakan keberadaan Vongola. Namun apa yang harus dilakukan pada saat musuh berasal dari dalam keluarga sendiri? Terlebih saat musuh itu adalah orang-orang tertinggi di Vongola. Namun melihat anak buahnya mulai bisa berbicara dan bertengkar riuh seperti biasanya di ruang rawat itu, Xanxus menyimpulkan hal ini sudah cukup untuk saat itu. Rencana memperbaiki Vongola dapat mereka lanjutkan nanti saat mereka kembali pulih.
Hari-hari berlalu cukup cepat sejak mereka terpaksa harus tinggal bersama Cavallone di markas tua itu. Walau tua, setelah pembersihan besar-besaran yang dipimpin Lussuria, markas itu cukup nyaman ditempati. Dan cukup besar untuk menampung Dino, para anggota Varia, dan beberapa puluh bawahan Cavallone maupun Varia untuk tinggal tanpa berdesakan.
Levi dibawah perintah Xanxus mulai mengumpulkan informasi-informasi dari luar, dibantu oleh Romario dan Irie Shouichi yang secara rahasia membelot dari Vongola. Berita-berita yang tidak enak terus terdengar ke telinga mereka tentang perlakuan generasi kesepuluh Vongola.
Kondisi fisik dan mental Dino juga semakin menurun seiring bertambahnya berita buruk tentang Vongola, terlebih berita mengenai guardian of the cloud mereka. Hingga akhirnya disepakati bahwa sang boss Cavallone tidak boleh diganggu oleh urusan-urusan Vongola sampai ia benar-benar pulih; setelah sebuah serangan panik yang hampir merampas nyawanya
Lima bulan kemudian, Irie Shouichi menghubungi mereka dengan sebuah berita. Berita bahwa para cecunguk Vongola menghentikan semua penyerangan mereka dan datang kepadanya meminta penjelasan.
Sawada Tsunayoshi mendatangi markas mereka tidak lama kemudian. Saat pemuda berambut cokelat itu menghadapinya di kantornya, ingin rasanya Xanxus menembaknya tepat di kepala. Namun kehadiran Dino di ruang sebelah kantornya menahannya untuk menghabisi Tsuna saat itu juga.
Sudah cukup jam tidurnya berkurang karena jerit tangis Dino malam-malam saat terkena serangan panik yang melandanya sejak dilepas dari sel tahanan Vongola. Terlebih sang tangan kanan yang terbaring di tempat tidurnya akan melesat menuju kamar Cavallone bahkan sebelum isakan pertama selesai.
Xanxus menghela napas. Ia dan Squalo bahkan tidak menikah, namun keadaan mereka sekarang seakan mereka mempunyai seorang bayi. Seorang bayi lemah yang tidur di sebelah kamar mereka dan harus dijaga dan diperhatikan sampai tengah malam. Sang boss Varia menepok jidatnya pelan.
Kembali ke pikirannya tadi, Sawada Tsunayoshi. Anak itu tengah beranjak dari kursinya dan berlutut di hadapan Dino.
Tiba-tiba di sisinya muncul seorang lelaki berambut panjang. Mata peraknya memperhatikan kedua orang di luar jendela dengan tajam dan hati-hati.
"Khawatir akan seekor anak kuda yang lemah?" Xanxus mendelik.
Squalo meliriknya dan mengangkat satu alis, "Cemburu?"
"Tidak juga" Pandangan keduanya kembali beralih keluar jendela.
"Kurasa sampah itu tidak akan sebodoh itu mencoba melakukan sesuatu di siang bolong begini kan? Eh Boss?" tanya Squalo
Xanxus membelakangi jendela dan menyalakan rokoknya, "Mana kutahu. Ruangan tempat sampah-sampah lainnya dijaga kan?"
Squalo mengangguk, "Ya... Bel, dan Fran ada di ruangan sebelah. Kalau mereka berperilaku aneh anak-anak itu akan tahu." mata Squalo terus tertuju pada dua orang di luar jendela.
Xanxus menarik lengan tangan kanannya menjauhi jendela, "Aku lapar sampah! Siapkan makan siangku!"
Alis Squalo berkedut kesal, "VOIIII! Tadi kutanya mau makan atau enggak kamu bilang enggak Boss brengsek! Sekarang sepuluh menit kemudian kamu bilang kamu lapar-mmmpphhh" Teriakan Squalo yang bergema di seantaro markas Cavallone terhenti saat sebuah buku tebal mengenai mukanya.
Xanxus mendelik tajam, "Jangan berisik. Aku laparnya sekarang" tangannya meraih sebuah jam antik di meja, bersiap untuk melemparnya juga.
Squalo terlihat gugup, "Bo-Boss jangan Boss... Kata Haneuma jam itu harganya sejuta... Uang kas Varia sudah tipi-.." Xanxus mengangkat jam itu, "Iya! Iya! Aku bilang Lussuria kamu mau makan! Jangan rusak apa-apa lagi!" Squalo berlari keluar kantor, menuju dapur.
Xanxus tersenyum tipis, menaruh kembali jam meja itu. Ia bersender di kursinya dan menaikan kakinya. Saat Xanxus menutup mata ia bisa mendengar bentakan Squalo, dan pekikan manja Lussuria dari dapur, tawa khas Belphegor, seruan sepatu boot Levi yang berderap di lantai marmer, dan suara datar Fran. Untuk sementara waktu, Xanxus cukup puas.
A/N okeeee hehehehe setelah setengah tahun ilang saya akhirnya nongol lagi hehehhee... Maaf lama, saya mahasiswi tahun ketiga yang menghadapi tugas akhir. Jangan salahkan saya...
Chapter ini enggak melanjutkan main storyline nya dan segi romance nya minim sekali, tapi malah nyeritain kejadian yang terjadi selama setahun ini dari sudut pandangnya Xanxus. Yang btw 10 (di sini anyway) hari yang lalu ultah ;) OOC? Jangan tanya saya, KHR punya Amano Akira.. *buang muka*
Sebenernya tadinya gak ada rencana bikin ini dari povnya Xanxus, tadinya emang terpikir mau bikin chapter interlude tapi tadinya mau bikin dari dalam sudut pandang Fran, karena beberapa bulan ini saya lagi tergila-gila sama pairing BelxFran.
Tapi setelah saya baca sebuah fanfic super keren berjudul Monster bikinan SlamShady, (silahkan dibaca, ada di favorit saya, fanfic ini keren sekali) saya berpikir ingin bikin dari sudut pandang oom Xanxus. Mungkin next time saya bikin dari POVnya Fran :3
Semoga suka yaa semuanya. Ciao! ^^
