P.S. mian (BoW berxxx)
Akan thor edit lagi
Akan lebih menyenangkan jika reders semua sebelum membaca FFku ini mendengar lagunya terlebih dahulu.
::Miss You from Westlife::
"I can't sleep I just can't breathe
When your shadow is all over me baby
Don't wanna be a fool in your eyes
Cause what we had was built on lies
And when our love seems to fade away
Listen to me hear what I say
I don't wanna feel the way that I do
I just wanna be right here with you
I don't wanna see
See us apart
I just wanna say it straight from my heart
I Miss You "
::: Sunflower:::
.
.
.
"Oppa, percayalah, padaku. Aku…" belum sempat yeoja itu mengatakan apa yang ingin dikatakannya. Namja itu telah pergi meninggalkannya sendiri. "Hikh….hikh…hikh…." air matanya terus mengalir. Namja yang sangat disayanginya telah pergi entah kemana. Pandangannya meremang dan dia pun jatuh.
.
.
.
"Oppa…." bisiknya. Seorang lelaki paruh baya yang ada disisnya menatap kearah yeoja yang tengah tertidur itu dia terkejut melihat air mata mengalir di wajah pucatnya. Dia menghentikan mobil yang tengah dikendarainya.
"Heenim, kau baik-baik saja?" ucapnya pelan. Dia membelai pipinya yang basah. Merasakan seseorang tengah menyentuh pipinya, Heechul pun perlahan membuka kedua matanya.
"Appa?" tanya Heechul.
"Mianne, seharusnya Appa membawamu sejak dulu." Kata leleki itu penuh penyesalan.
"Aniya! Aku akan ikut dengan appa sekarang," ucap Heechul. Sudah tidak ada tempat lain yang bisa dituju olehnya. Siwon bukanlah lagi rumah untuknya. Rumah putih di Pulau terasa begitu sepi. Dia memutuskan untuk mengikuti appanya.
"Kajja! Kita lanjutkan perjalanan kita!" ajak appanya.
"Ne," jawabnya sambil bersandar ke jok mobil. dia menatap jauh ke arah pulau, dimana separuh hatinya tertinggal. Meninggalkan luka yang tidak mungkin dapat diobati.
"Oppa, mianne..." desahnya sembari kembali memejamkan kedua matanya.
Sang appa yang melihatnya membelai rambut hitamnya lembut. andai dia menemukannya lebih cepat, tantu putri kesayangannya tidak perlu menderita seperti ini. Dia terkejut saat melihat rambut putrinya yang terselip diantara kedua tangannya.
"Heenim, maafkan aku," kata hatinya.
.
Kediaman keluarga Choi
Hangeng yang melihat Siwon tenggelam terkejut. Dia segera meloncat dan menyelamatkan sahabatnya. Terdengar jeritan-jeritan histeris dari para tamu undangan tersebut. Hangeng segera membawa Siwon ke permukaan. Tuan Choi membantu Hangeng untuk mengangkat Siwon keluar dari kolam tersebut.
Sungmin segera memanggil ambulance. Dia cukup terkejut akan kejadian tersebut. Nyonya Choi dan Kibum menangis, Eunhyuk memegang erat Donghae yang berdiri di sampingnya.
.
.
Di alam bawah sadar Siwon
Dia merasa dirinya tengah tenggelam di lautan geklap yang ganas. Entah berapa banyak air yang dia minum namun yang dilakukannya adalah bertahan. Berusaha naik ke permukaan. Dia menatap sekelilingnya. Tidak ada skoci penyelamat atau pelampung. Dia mencari yeoja cilik yang tadi memanggil namanya.
"Chullie! Chullie! Heechul!" teriaknya. Dia melihat sebuah tas kecil berwarna pink. Dia menyelam dan terlihat soso Heechul yang tengah tenggelam ke dasar lautan.
Dia berenam berusaha menarik tubuh yeoja kecil tersebut. Kepermukaan namun,
"Akh!" sebongkah kayu yang meruopakan pecaahn kapal tersebut menghantam kepalanya. "Chullie…. Chullie…." Panggilnya mulai melemah. Dia berusaha meraih tangan yeoja cilik itu.
.
.
.
"Oppa-" terdengar sebuah suara yang memanggil lembut dirinya. Perlahan namja cilik itu membuka kelopak matanya yang terasa berat. "Oppa! Kau sudah bangun!" ucapnya berteriak penuh dengan kebaghagiaan.
"Ah!" dia merasa kepalanya sangat sakit. Dia menyentuh kepalanya yang ternyata diperban. Dia menatap sekelilingnya. Ruangan yang serba putih dan menatap yeoja cilik yang ada dihadapannya.
"Ini dimana?" tanya namja itu. "Kamu siapa?" tanyanya pada yeoja cilik tersebut.
"Oppa, kamu kenapa?" tanya yeoja cilik tersebut. "Aku Heechul. Heechul! Heechul!" katanya.
"Heechul? Siapa?" tanya namja cilik tersebut.
.
.
.
Seorang dokter tengah memeriksa keadaan Siwon secara seksama. Dia tidak melihat adanya luka yang cukup parah pada anak lelaki tersebut.
"Huh, baiklah. Kau boleh beristirahat lagi, nak!" kata Sang Dokter. Dia menatap sekelilingnya. Menarik nafas dalam. Kedua anak yang merupakan korban kecelakaan kapal di lepas pantai. Hanya kedua anak itu yang selamat. Entah bagaiman, anak lelaki tersebut bisa selamat dari kecelakaan tragis tersebut. Dia terdampar di pantai dan meminta pertolongan beberapa penduduk untuk menyelamatkan 'adiknya' kemudian kembali pingsan.
Dokter menatap wajah Heechul yang khawatir tentang keadaan 'Kakaknya'. Dia tersenyum dan membelai lembut rambut Heechul.
"Kau tidak usah khawatir. Oppamu baik-baik saja. Yang harus kau lakukan hanyalah menjaganya, ara!" kata ang dokter sambil meninggalkan ruangan tersebut.
"Araseo, dokter!" ucap Heechul. Dia menghampiri ranjang dimana Siwon tengah duduk menatapnha. "Oppa kau baik-baik saja?" tanya Heechul.
"Ne, hanya pusing sedikit!" jawab namja cilik tersebut. "Kamu siapa? Kenapa memanggilku 'oppa'?" tanyanya lagi.
"Aku Heechul, dongsaengmu. Kau…." Heechul terdiam sejenak. Apa yang akan dia katakan padanya. "Kau Siwon. Oppaku!" kata Heechul sambil tersenyum. Siwon tersenyum mendengar jawaban dari Heechul. Entah kenapa air matanya mengalir.
"Heechul! Kau dongsaengku!" kata Siwon mencoba mengingatnya. Dia menatap wajah yeoja yang berdiri di depannya. Dia mengulurkan tangannya dan memeluk Heechul. "Mianne, oppa akan segera mengingat semuanya. Oppa akan segera sembuh dan kembali menjagamu," ucap Siwon.
Mendengar perkataan tersebut Heechul menitikkan air matanya. "Ne, cepatlah sembuh. Dan…. Dan oppa akan kembali menjagaku," isak Heechul. "Mianne, mianada oppa…." Isak Heechul sambil mempererat pelukannya.
"Sudahlah jangan menangis lagi," ucap Siwon sambil melepas pelukannya dfan menghapus air mata Heechul. "Tersenyumlah, biar oppa cepat sembuh," kata Siwon. Mendengar perkataan Siwon, Heechul pun tersenyum. Kedua bocah tersebut tersenyum dan tertawa, menyambut kehidupan baru mereka.
.
Cause what we had was built on lies
.
Sepuluh tahun kemudian.
Terdengar suara kicau burung yang bernyanyi. Seorang yeoja yang rambutnya diekor kuda dan mengenakan seragam sekolahnya. Membuka jendela kamarnya. Dia tersenyum menyambut matahari pagi itu. Dia berjalan keluar dan melihat seorang namja yang tengah tertidur di sofa panjang diruang tengah. Dia menghampirinya dan tersenyum jahil.
"Yah! Oppa bangun!" teriaknya. Orang yang dibangunkan tersebut terkejut bukan kepalang. dia mengangkat tubuhnya tiba-tiba dan kepalanya membentur kening yeoja tersebut.
"Oww!" rintih keduanya. Sang namja membuka kedua matanya. Menunjukkan senyum manisnya pada yeoja yang tengah mengusap keningnya.
"Morning, Chullie!" katanya sambil tersenyum.
"Oppa, cepatlah bangun. Hari ini kita ujian bukan!" kata yeoja yang dipanggil Chullie.
"Kau sudah rapi. Sedangkan oppa masih memakai piyama!" katanya sambil tersenyum menatap yeoja yang ada di depannya tersebut.
"Yah! Jangan tersenyum di depan wajahku! Cepat mandi sana!" kata Heechukl memerintahnya.
"Oh, adik oppa sudah pandai memerintah rupanya!" katanya sambil melihat perubahan rona wajah yeoja tersebut. Entah mengapa dia suka mengerjainya seperti itu. Dia suka melihat wajah yeoja itu bersemu merah karena gurauannya.
"Oppa! Apa yang kau lakukan turunkan aku!" pekik Chullie saat namja itu melingkarkan tangannya dipinggangnya dan mengangkat tubuh kecilnya. "Yak! Kim Siwon! Turunkan aku!" Pekik Chullie. Siwon nama namja tersebut hanya tersenyum malah dia memutar badannya hingga terdengar kembali teriakan Chullie.
"Aaaa!" teriak Siwon saat keseimbangannya oleg. Mereka terjatuh di lantai dengan posisi Heechul diatasnya.
"Rasakan!" ucap Chullie sambil berusaha bangkit dan alhasil dia malah melihat wajah oppanya yang tampan. Wajahnya memanas.
"Waeyo, Chullie?" tanya Siwon dengan tampang tak berdosa.
"Cepatlah, nanti kita terlambat!" katanya mengingatkan. Siwon bangun dan bergegas ke mkamar mandi sedangkan chullie membereskan selimut dan bantal yang berserakan disana.
15 menit kemudian kemudian keduanya siap dengan seragam dan tas sekolah mereka. Keduanya bergegas keluar, dari apartemen milik mereka. Siwon mengambil sepedanya yang disimpan dipelataran parker. Dia segera menghampiri dongsaengnya yang sudah tidak sabar ingin berangkat sekolah karena terlambat. Dia duduk dibelakang sedangkan Siwon mengemudikan sepedanya cepat-cepat.
"Ayo, keluarkan tenaga kudamu, oppa!" kata Chullie meledeknya.
"As you wish princess," jawab Siwon sambil tersenyum. Siwon mengayuh sepedanya secepat mungkin. Keduanya tertawa saat mereka berhasil masuk sebelum gerbang sekolah mereka yang indah bukan.
.
.
.
Usai jam sekolah, keduanya berangkat kesebuah café yang bernama 'The Luckiest'. Keduanya membuka pintu bersamaan.
"Selamat datang!" sapa seorang yeoja yang penuh semangat.
"Bagaimana ujian kalian!" kata seorang namja yang baru keluar dari sebuah ruangan yang bertuliskan 'selain pegawai dilarang masuk'.
"Sepertinya, otakku meleleh! Donghae oppa, aku minta es krimnya ya," celoteh Heechul sambil mempoutkan bibirnya. Dia frustasi dengan ujian yang dilakukannya seminggu ini.
"Seperti biasa, ya. Sedangkan kau Siwon?" tanya Donghae. Pemilik café tersebut. Dia mengisyaratkan pada yeoja yang menyambut mereka untuk membawakan es krim untuk kedua orang tersebut.
"Sepertinya cukup memuaskan," kata Siwon sambil tersenyum. "Terima kasih, Hyukkie!" kata Siwon saat eunhyuk memberinya seporsi es krim coklat.
"Terima kasih unnie!" kata Heechul karena dia mendapat porsi es krim lebih di mangkuknya. Enhyuk hanya tersenyum.
"Lalu apa rencana kalian selanjutnya?" tanya Donghae.
"Entahlah, lulus sekolah mungkin aku akan mencari kerja," kata Siwon sambil tersenyum.
"Aniya!" teriak Heechul tiba-tiba sambil mengangkat sendok es krimnya tinggi. Ketiga orang tersebut menatap Heechul. "Oppa kau kan melanjutkan kuliahmu, bukan?" kata Heechul setengah memaksakan.
"Ani, oppa kira tidak usah!" kata Siwon.
"Hmmmm…. Oppa…." Kata Heechul sambil berusaha menelan es krim yang masih menyangkut dimulutnya. "Kau janji padaku. Akan memberikan aku kehidupan yang baik, jadi kau harus kuliah dan mencari kerja setelah lulus. Bekerja diperusahaan besar lalu jadi direktur dan aku akan menikmati hidup!" katanya polos.
"Itu sih sama saja kau menjadikan kakakmu sapi perah," kata Eunhyuk menyadari perkataan Heechul.
"Oppa kira. Oppa ingin mencari kerja dan menguliahkanmu!" kata Siwon sambil tersenyum.
"Otakku tak cukup pandai, oppa saja yang kuliah," kata Heechul sambil tersenyum. Donghae dan Eunhyuk menganggukkan kepala mereka tanda mereka setuju dengan ide Heechul.
"Tapi…" Siwon ragu.
"Tenanglah! Aku punya uangnya. Iyakan oppa!" kata Heechul sambil melirik Donghae.
"Iya, tidak usah khawatir Siwon. Hyung akan membantumu. Lagi pula selama 5 tahun Heechul tidak pernah lupa menyisihkan uangnya untuk menabung. Dia bilang dia ingin kau kuliah. Dia khawatir sebab kau selalu melarangnya untuk menggunakan uangnya." Jelas Donghae.
"Heechul…." Kata Siwon tidak percaya.
"Oppa harus lulus atau aku akan memarahimu!" kata Heechul.
"Lagi pula Chullie tidak usah khawatir mengenai pekerjaan bukankah ada Tuan Tan yang menjagamu!" gurau Enhyuk. Siwon dan Heechul yang saat itu tengah menyuapkan es krim tersebut. Tersedak. Keduanya batuk-batuk. Donghae tersenyum geli.
"Benar juga. Kau tidak usah mengkhawatirkan Heechul. Dia sudah menemukan Pangerannya," gurau Donghae. Entah kenapa gurauan tersebut membuat Siwon terasa jengah. Dia tidak suka gurauan itu.
"Aniya! Dia hanya temanku saja!" ucap Heechul.
Terdengar suara pintu café terbuka. Tampak seorang lelaki yang tengah menggenggam satu buket bunga mawar merah.
"Apa nona Heechul ada?" tanyanya.
"Wah, panjang umur pangeranmu, Chullie!" kata Eunhyuk sambil tersenyum pada Heechul.
"Hmmm…" Siwon hanya menatap kearah buket bunga tersebut. Heechul mendekat kearah laki-laki yang membawa paket tersebut.
"Iya, aku Heechul!" Jawabnya.
"Selamat untuk ujianmu!" kata si pengantar bunga. Heechul melihat sebuah wajah dibalik topi tersebut.
"Oppa Han, kau mengagetkanku saja," ucap Heechul sambil tersenyum.
"Untukmu, Princess" katanya sambil tersenyum dan hendak memeluk tubuh Heechu yang tengah memeluk buket bunga tersebut.
"Jauhkan tanganmu darinya!" kata Siwon sewot. Dia tidak bergerak dari tempat duduknya bahkan terkesan tengah menikmati es krim coklat yang meluncur ke dalam perutnya. Dia bangkit dan menarik Heechul duduk disisinya. Hangeng hanya tersenyum. Membenarkan posisi tangannya. Dia menemui mereka.
"Selamat datang Tuan Tan," kata Eunhyuk menyambutnya.
"Santai saja, Hyukkie!" kata Hangeng sambil tersenyum.
"Hallo!" Kata Donghae sambil memeluk sahabatnya tersebut.
"Hallo, bagaimana kabar kalian?" tanya Hangeng.
"BURUK!" jawab Siwon tiba-tiba. Hangeng hanya tersenyum.
"Wah, Siwonnie kau terlalu over protective pada dongsaengmu!" kata Eunhyuk.
"Tidak!" kata Siwon mencoba untuk memungkirinya.
"Aku senang oppa menjagaku!" ucap Heechul. Semuanya menatap Heechul tidak percaya. Mendengar pernyataan tersebut Siwon tersenyum bahagia. Sedangkan Hangeng dan yang lainnya menatap tidak percaya. "Baiklah, aku mau pulang dulu! Nanti sore aku kembali ke café." Kata Heechul bangkit.
"Akan ku antar!" kata Siwon.
"Aniya! Oppa kerja saja. Kumpulkan uang yang banyak ne!" celoteh Heechul riang. Siwon kembali duduk. "Donghae oppa, tolong jaga oppaku agar tidak kabur!" kata Heechul.
"Aku akan mengantarmu!" kata Hangeng. Siwon semakin tidak suka. Dia menggenggam erat sendok es krimnya.
"Baiklah!" jawab Heechul.
"Kami permisi!" kata Hangeng berpamitan. Keduanya melangkah pergi keluar.
"Siwon, jangan kau tatap begitu es krimnya. Meeleh tuh!" kata Donghae.
"Tatapanmu seperti sinar laser! Aku takut!" kata Eunhyuk menggodanya.
"Aku kenyang! Terima kasih es krimnya!" kata Siwon sambil melangkah ke tempat para pegawai. Kafe akan dibuka sebentar lagi.
"Dia cemburu tuh!" goda Eunhyuk. Donghae yang mendengarnya hanya tersenyum.
"Sudahlah! Ayo kita siap-siap buka toko!" kata Donghae.
Sepeningal kedua orang itu, Siwon menatap keluar. Melihat Heechul-nya yang tersenyum manis pada namja China itu. Tanpa dia sadarai dia mengepalkan kedua tangannya, mencoba menahan kecemburauna yang ada di dadanya. Dia tidak suka jika harus membagi Heechul-nya dengan orang lain.
.
.
.
Sedangkan Heechul dan Hangeng yang baru keluar dari café tersebut naik kesebuah mobil sedan mewah milik Hangeng. Dia membukakan pintu untuk Heechul disamping pengemudi.
"Tuan, anda mau kemana?" tanya seorang pelayan.
"Aku ada kencan. Pulanglah terlebih dahulu!" kata Hangeng.
"Baik!" jawabnya. Hangeng duduk di samping Heechul. Dia mengemudikan mobilnya menuju sebuah tempat yang jauh dari sana.
"Oppa, belok kiri!" kata Heechul namun Hangeng malah memutar kendalinya kearah kanan. "Kita mau kemana, oppa?" tanya Heechul.
"Makan siang bersama oppa dulu, Ok!" kata Hangeng. Heechul hanya menganggukan kepalanya tanda bahwa dia menyetujui ajakan Hangeng tersebut.
Mereka memberhentikan mobil mereka di sebuah restoran mewah. Hangeng membukakan pintu untuk Heechul. Mereka pun melangkah menuju restaurant mewah tersebut. Tidak ada siapa-siapa disana.
"Kenapa sepi sekali? Apa tutup?" Pikir Heechul.
"Mana meja kami!" kata Hangeng. Rupanya dia telah membooking restaurant tersebut untuk mereka. Hidangan demi hidangan disajikan kehadapan mereka.
"Bagaimana hidangannya?" tanya Hangeng. Heechul tersenyum.
"Nikmat sekali, Oppa!" jawab Heechul. Heechul melihat jam dinding direstaurant tersebut. "Oppa mianne. Aku harus pergi. Aku ada janji dengan temanku siang ini, jadi aku permisi dulu!"kata Heechul.
"Perlu oppa antar?" tanya Hangeng.
"Tidak usah rumahnya ada didekat sini!" jawab Heechul.
"Baiklah, hati-hati dijalan!" kata Hangeng. Heechul pun tersenyum menjawab perkataan Hangeng. Dia berjalan ke luar.
"Tunggu!" kata Hangeng. "Kau meninggalkan buketmu!" katanya.
"Gumawo, oppa!" kata Heechul lemas. Hangeng terkejut dengan wajah pucat Heechul dan keringat yang keluar di pelipisnya.
"Kau…" kata Hangeng hendak mengulurkan tangannya.
"Jangan…" jawab Heechul. Dia segera memutar badannya dan berlari meninggalkan Hangeng disana.
Saat dia kembali masuk ke dalam restaurant tampak dua orang chef tengah berdiri di sana, di dekat meja miliknya.
"Maafkan kami telah mengacaukan kencan anda Tuan Tan," kata Sang Chef. Hangeng keheranan.
"Sebenarnya tadi…." Jelas sang asisten takut dan ragu. Hangeng mencicipi makanan dipiring Heechul yang terasa sangat asin.
"Asin tapi mengapa dia bersikap santai, seolah tidak terjadi apa-apa." Hangeng curiga jangan-jangan itu alasan kenapa Heechul meninggalkannya. Hangeng bergegas keluar dan masuk ke dalam mobilnya. Dia menelusuri jalan yang tadi mungkin Heechul lalui menuju rumah temannya.
Hangeng berhenti di depan sebuah rumah sakit. Dia menangkap sosok Heechul yang tengah berdiri di sebrang jalan. Hangeng menatap heechul tengah berbincang dengan seseorang yang berpakaian putih dan rapi. Dia melihat Heechul tersenyum simpul dan menerima sebuah bungkusan putih yang kemudian dia masukkan kedalam tasnya.
"Apa itu?" tanya Hangeng.
.
.
.
Di depan Rumah Sakit.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya namja yang ada didepan Heechul tersebut.
"Entahlah, oppa. Semakin lemas dan kurang bertenaga," jelas Heechul.
"Minggu depan, jangan telat lagi. Minumlah obatnya dengan baik," katanya sambil tersenyum.
"Kau jangan memasak makanan dulu untuk sementara waktu ini?" kata sang dokter mengingatkan.
"Waeyo?" tanya Heechul.
"Karena selama mengkonsumsi obat ini, indera perasamu akan sedikit terganggu. Kau tidak akan mengecap segala sesuatunya dengan baik," jelasnya.
"Baiklah, aku tahu. Minggu depan aku akan kembali lagi ke sini. Terima kasih Yesung Oppa!" kata Heechul sambil membungkukkan badannya. Yesung hanya tersenyum. Dia membungkukkan badannya dan menatap arah perginya yeoja itu.
.
.
.
TBC
.
.
.
Yak selesai, Chapter 1.
Kira-kira apa yang terjadi pada Heepa ya?
Ukh! Jika ada pertanyaan apa aku akan 'Membunuh' karakter Heepa, mungkin.
Di cerita aslinya 'Golden Memory' thor bunuh 'Ve'. Tror ingin membalas Mars yang sudah ga sayang lagi pada Ve. Tapi untuk cerita ini, ga tau juga? Awalnya akan dibuat semirip atau sesama mungkin namun yang terjadi 'tak sama'.
Kita lihat nanti ya.
