Annyeong dah lama 'thor ga publish ni story.
Janji sudah terucapkan. Apakah makna dari 'Selamanya'?
.
.
.
"Berjanjilah, oppa tidak akan meninggalkanku, selamanya," isak Heechul.
"Ne, oppa berjanji," gumam Siwon.
.
.
.
4 tahun berlalu setelah janji yang mereka ucapkan.
"Kim Heechul!" panggil seseorang dari luar kediaman keluarga Kim.
"Yak! Unnie aku segera ke bawah!" jawab Heechul dari lantai atas kamarnya. Heechul segera menutup jendela kamarnya dan bergegas meraih tas gendong miliknya. Dia berjalan keluar kamarnya. Melihat sekeliling ruangan tamu. Siwon tidak ada dirumah. Dia segera menyambar sepatu miliknya dan memakainya sambil berjalan kearah pintu.
"Lihatlah, uri dongsaeng seperti biasanya," kata Eunhyuk pada Donghae.
"Palli, kita mau berangkat!" ajak Donghae sambil tersenyum jail. Dia tahu jika tali sepatu Heechul tidak terikat sempurna.
"Hyung, tunggu aku!" ucap Heechul. Setengah berlari menghampiri mereka. "Akh!" rintihnya pelan. Eunhyuk menghampirinya dan membantunya berdiri.
"Kau tidak apa-apakan?" tanya Eunhyuk.
"Ya, unnie!" kata Heechul.
"Sudah tahu tidak bisa memakai sepatu tali, kau masih saja memakai sepatu itu!" kata Donghae protes.
"Yah, aku sudah mengikatnya kok!" kata Heechul tidak ingin di salahkan. Eunhyuk yang tengah berjongkok menalikan tali sepatu Heechul.
"Nah, sudah selesai!" kata Eunhyuk.
"Gumawo, unnie!" kata Heechul sambil tersenyum. Eunhyuk tersenyum dan memrapikan kepangan Heechul yang berantakan akibat terjatuh tadi.
"Yah! Cepat,nanti kita terlambat!" kata Donghae protes. Kedua yeoja itu tersenyum dan menghampirinya. Eunhyuk duduk di depan disamping Donghae sedangkan Heechul duduk dibelakang.
"Pasang seat belt kalian!" perintah Donghae. Dia mengulurkan tangannya membantu Eunhyuk memasangkan seatbelt-nya.
"Yah, Oppa! Aku tahu kau hanya ingin memeluknya bukan! Sudahlah, jangan berbuat macam-macamdihadapanku!" kata Heechul tidak suka. Wajah eunhyuk merona karena malu.
"Yak, tidakkah kau senang melihat penderitaanku, Kim!" kata Donghae sinis. Eunhyuk mngusap dadanya pelan.
"Kesedihanmu adalah kebahagianku!" Celoteh Heechul riang. Donghae segera mengulurkan tangannya kebelakang dan menjitak kepalanya perlahan. "Kau mau apa oppa?!" pekik Heechul.
"Yah, Lee Donghae!" kata Eunhyuk sudah tidak tahan dengan perkelahian kedua orang tersebut.
"Wae, chagi?" tanya Donghae.
"Kau sibuk dengannya dan mengacuhkanku!" kata Eunhyuk merajuk.
"Eunhyukie kau itu kekasihku dan aku hanya member pelajaran pada bocah itu!" kata Donghae sembari menunjuk ke arah Heechul. Yang ditunjuk hanya cengengesan.
"Sudahlah, aku tidak mau bicara denganmu lagi!" kata Eunhyuk sewot.
"Yah, cagiya kenapa kau marah padaku!" kata Donghae tidak terima.
"Appa~ Umma~ nanti kita terlambat," kata Heechul mengingatkan.
"Aish! Baiklah kita berangkat," kata Donghae sambil menunduk malu.
"Yak, kenapa mukamu memerah Lee Donghae si Manusia Ikan!" kata Eunhyuk masih marah. Padahal dalam hatinya dia pun tersenyum gembira.
"Yah, sudahlah. Nanti kita terlambat!" kata Donghae berusaha tenang. Tidak aka nada yang menang jika dia dan Eunhyuk bertengkar. Segera dia menyalakan mobilnya dan tak lama kemudian mereka pun melaju di jalanan.
.
.
.
Hihihi… aku paling suka jika melihat Eunhae bertengkar. Bukan karena aku menertawakan penderitaan mereka. Tapi karena aku suka… menyukai mereka berdua dan semakin mereka bertengkar, semakin aku tahu bahwa sesungguhnya mereka saling mencintai satu sama lain. Kalian jangan tanya kenapa karena aku adalah cupid mereka.
.
.
.
7 years ago.
"Heechullie!" panggilan yang tidak asing untukku. Waktu itu aku yang masih duduk di bangku kelas 2 Junior high school langsung keluar dengan tatapan membunuh.
"Yak! Oppa apa kau tahu aku saangat kelelahan karena ujian kenaikan kelasku. Ada apa?" tanyaku ketus.
"Lihat! Lihat, itu…" katanya sambil menunjuk ke arah luar. Aku melihat kearah yang ditunjukkan oleh Donghae oppa. Tampak seorang yeoja dengan rambutnya yang blonde tengah duduk disebrang jalan sana.
"Yah, oppa! Apa kau laki-laki?! Cepat sana dekati dia!" ucapku. Donghae oppa menatapku tajam.
"aku itu namja!" bentaknya tidak suka.
"Cih kalau begitu tunjukkan padaku!" kataku kesal. Dengan segera dia melangkahkan kakinya keluar dan mendekati yeoja tersebut.
Namun tak lama kemudian Donghae kembali masuk ke dalam café dengan wajahnya yang pucat.
"Hihihi…. Sudah ku duga!" kata Heechul.
"Kenapa kau tertawa bocah kecil?!" bentak donghae.
"Lihat apa yang bisa kulakukan!" kataku sambil melepaskan apron yang aku kenakan.
Donghae yang diam saja ditempatnya tidak lama kemudian wajahnya memerah. Seperti yang ku janjikan padanya. aku membawa yeoja cantik tersebut.
"Oppa, bukankah kita tengah kekurangan tenaga kerja. Unnie Hyukie ingin bekerja disini bolehkan?" kataku dengan memasang wajah tanpa dosa.
Donghae terkejut mendengarnya.
"Ne, tentu saja. Kita membutuhkna banyak tenaga untuk mengelola café ini!" ucap Donghae girang.
"Benarkah? Aku tidak tahu klo kalian membuka lowongan kerja!" kata Eunhyuk.
"Tentu saja," kata Donghae berpura-pura cool.
"Kapan aku mulai bekerja? Apakah anda akan mewawancarai saya terlebih dahulu?" tanyanya lagi.
"Kamu boleh bekerja sekarang. Dari wajahmu aku tahu kamu orang yang jujur. Kamu boleh ikut kebelakang bersama Heechul," kata Donghae sambil tersenyum lebar.
"Gumapta, ajushi!" kata Eunhyuk.
"Anu, kau boleh memanggilku Donghae. Siapa namamu?" tanya Donghae sambil mengulurkan tangannya.
"Aku Lee Hyukjae. Tapi teman-temanku memanggilku Eunhyuk. Baiklah Tuan Donghae," kata Eunhyuk sedikit gugup.
"Yah! Panggil Donghae saja. Sepertinya kita seumuran" kata Donghae.
"Baiklah, Donghae-shi!" jawab Eunhyuk sambil tersipu malu. Melihat wajah Eunhyuk yang merona Donghae segera mempersilahkannya untuk pergi ke belakang.
.
.
.
Hehehe, hidup yang indah bukan dengan sedikit pertolongan dari cupid sepertiku Lee Donghae pemilik café The Luckiest mendapatkan hal ynag terindah dalam hidupnya yaitu Lee Eunhyuk. Unnie ku yang satu ini sangat baik hati jadi aku tidak perlu mengkhwatirkan keadaan mereka. Dia hanya suka sedikit merajuk pada Donghae Oppa.
Dan yang bisa kulakukan saat mereka bertengkar seperti tadi adalah mengomporinya. Habis setelah Donghae Oppa meminta maaf dan mereka kembali rujuk, hubungan mereka kembali menjadi lebih dekat. Bagus bukan.
Kim Heechul, Si Jenius dalam urusan percintaan. Hehehe…
.
.
.
"Yap, kita sudah sampai!" kata Donghae oppa. Dia segera keluar dan membukakan pintu keluar Eunhyuk.
"Ingat aku tidak akan memaafkanmu dengan mudah!" ancamnya.
"Unnie, bekalnya berat sekali!" kata Heechul sambil membawa keranjang bekal mereka.
"Sini, unnie bantu!" katanya sambil mengambil keranjang tersebut.
"Heechul, kau bawa termos ini!" kata Donghae.
"Ne!" jawab Heechul sambil mengambil termos yang berisi jus jeruk tersebut. Sedangkan Donghae membawa peralatan yang lain seperti meja kecil dan sebuah keranjang piknik yang pasti berisi semua kebutuhan dan perlengkapan piknik kami.
"Heechul!" panggil seseorang. Di kejauhan tampak seorang namja yang tengah berdiri di depan mobil sedannya yang berwarna hitam mengkilat.
"Han Oppa!" Seru Heechul setengah berteriak. Dia mempercepat langkahnya menghampiri namja itu."Hehehe, annyeong oppa. Sudah lama kita tidak bertemu!" kata Heechul sambil tersenyum padanya.
"Ya, sudah setahun lamanya kita tidak bertemu, Heechul!" sapa Hangeng sambil tersenyum padanya. heechul membalas senyuman Hangeng.
"Apa termos itu berat? Sini oppa bawakan!" kata Hangeng sembari mengambil termos tersebut.
"Gumawo, oppa," jawab Heechul. Hangeng tersenyum dan mengulurkan tangannya. Tangan kanan Hangeng menggenggam tangan kiri Heechul dan tangan kirinya menenteng termos tersebut. "Oppa…." Kata Heechul.
"Wae? Kau tak suka?" tanya Hangeng.
"Aniya! Aku senang sekali!" jawab Heechul. Dia membiarkan Hangeng menggenggam tangannya.
Hangeng menatap wajah Heechul, dia menatapnya lekat. Wajah itu tampak sedikit pucat. Apa Heechul baik-baik saja? Gumam hatinya.
"Oppa, aku baik-baik saja. Tidak usah khawatir!" kata Heechul sambil tersenyum seolah mengetahui kekhawatiran Hangeng padanya.
Ya, selama ini yang mengetahui penyakit yang diderita oleh Heechul hanyalah Hangeng. Hangeng yang selalu menemaninya saat check up, yang akan menghiburnya saat dia harus mencui darahnya berulang kali. Menghiburnya dengan menemani dan memberikannya banyak perhatian karena Heechul tidak pernah memberitahukan penyakitnya pada Siwon. Dia tidak ingin Siwon histeris dan memaksanya untuk dirawat.
.
.
Siwon tidak pernah tahu dan Tidak Boleh Tahu tentang penyakit ini. Heechul ingin agar Siwon bahagia. Agar Siwon tidak menjadi orang yang payah sepertinya. Dia telah merebut Siwon sekali dan menghancurkan hidupnya.
Dia ingin agar Siwon menjalani hidupnya dengan baik bahkan nanti andai dia tidak terselamatkan. Siwon adalah satu-satunya orang yang akan dia jaga senyumnya. Dia akan pergi dengan cara yang sama, seperti sebelumnya dia menyembunyikan jati diri Siwon dengan rapih. Dia akan kembali berbohong mengatakan akan melakukan perjalanan jauh dengan Lee Soman Ajushi, seorang fotografer yang dia temui 3 tahun terakhir ini.
Dia sudah merancang apa yang akan dikatakan pada Siwon. Mian. Beribu ucapan itu tidak akan pernah cukup. Tapi sungguh, tidak mungkin Heechul jujur pada Siwon. Tidak. Waktu empat tahun miliknya semakin menipis. Dia ingin pergi tanpa meninggalkan beban apapun. Dia akan pergi meninggalkan semuanya. Salah satu cara untuk pergi tanpa bekas dari kehidupan mereka.
.
.
"Heechul apa yang kau pikirkan?" tanya Hangeng padanya. Heechul yang duduk di sampingnya tersenyum.
"Oppa, aku akan mengatakannya padamu saat aku siap!" jawab Heechul. Tiba-tiba dia melihat sesosok namja yang dikenalinya dengan sekali melihat saja. Dia mengangkat tangannya tinggi dan melambai.
Namja yang berada jauh disana berhenti dan melambai.
"Siwon, ya?" kata Hangeng.
"Ne!" jawab Heechul sambil tersenyum. Dia berusaha bangun dari duduknya namun tenaganya seolah habis. Dia diam dan tersenyum.
"Wajahmu pucat?" tanya Hangeng tiba-tiba.
"Udaranya sedikit panas!" kata Heechul sambil tersenyum. Dia berpegang pada tangan Hangeng dan berdiri.
"Oppa, disini!" panggilnya lagi. Namja tersebut berlari kearah mereka.
"Wah, kau kembali melakukannya dengan baik Heechul!" puji Donghae.
"Tentu saja!" jawab Heechul sambil tersenyum pada Donghae.
"Iya, kamu sudah punya signal tersendiri untuk oppamu, ya?" kata Eunhyuk.
"Tentu saja, unnie. Bahkan semakin lama semakin kuat!" kata Heechul sambil tersenyum jail.
Tidak lama kemudian sosok namja tadi semakin jelas terlihat. Benar-benar Siwon.
"Wah, mianne aku terlambat!" kata Siwon.
"Tidak apa," jawab Donghae.
"Oppa, mana hadiahku!" pinta Heechul tanpa basa basi. Siwon tersenyum padanya.
"Ini, untukmu!" kata Siwon sambil menunjukkan sebuah kotak perhiasan kecil. Heechul menatapnya kagum, sebuah jam tangan muncul saat dia membuka kotak tersebut.
"Oppa, gumawo! Aku senang sekali!" kata Heechul. Siwon tersenyum bahagia.
"Yak, sekarang bukalah kado dari kami!" kata Eunhyuk yang sudah tidak sabar menunjukkan hadiah miliknya.
"Ya, Siwon. Gara-gara kamu kami jadi tampak seperti orang yang terakhir membawakan hadiah untuknya!" kata Donghae sedikit sewot.
"Baiklah, sekarang aku akan membuka hadiah kalian!" kata Heechul penuh antusias.
"Ini untukmu!" kata Eunhyuk sembari mengeluarkan sebuah bungkusan kecil. Saat Heechul membukanya, dia tersenyum.
"Gumawo, unnie. Aku akan memakainya!" kata Heechul sambil mengeluarkan hiasan rambut yang indah dari Eunhyuk.
"Ini dariku!" kata Donghae. Sebuah kado yang berukuran besar.
"Apa itu? Jangan bilang kalau di dalamnya ada kado lagi!" kata Heechul.
"Ani, itu untukmu!" katanya sambil tersenyum. Donghae pernah memberikan Heechul sebuah kado yang didalamnya masih tersisa 10 bungkusan kado lainnya lagi. Dengan hadian yang berupa sebuah sepatu.
"Wah indah sekali oppa! Apa kalian membelinya disat yang bersamaan?" tanya Heechul. Semuanya tersenyum. Kecuali Hangeng.
"Ini dari Sungmin oppa. Mian dia tidak bisa menemuimu. Dia ada urusan mendadak di pulau," kata Donghae sambil menyodorkan sebuah bungkusan lain.
"Wah, indah sekali. Sungmin oppa memang seorang designer terbaik!" kata Heechul. Dia melirik ke tiga hadiah tersebut. Rupanya mereka sudah menentukannya bersama. Kecuali jam tangan kucing dari Siwon.
"Cukae! Heechul! Sekarang hadiah dariku!" kata Hangeng. Dia berdiri di depan Heechul dan menariknya untuk berdansa.
Siwon menatapnya tajam. Namun, sekarang adalah Ulang tahunnya Heechul. Dia bisa mentoleransinya. Sekali ini saja. Sekali ini. Sekali.
Heechul tersenyum tiba-tiba terdengar bunyi suara heli kopter. Dan hujan kelopak mawar pun turun. Keduanya mendongak ke langit yang kini tampak memerah. Donghae dan Eunhyuk tersenyum kagum. Siwon pun hanya tersenyum simpul. Hangeng memang seorang pangeran.
"Oppa, hujan mawar…." Gumam Heechul. Hangeng tersenyum.
"Hal yang kau inginkan juga bukan, Hujan Kelopak mawar. Sayangnya oppa bukan tuhan!" kata Hangeng sambil tersenyum. Heechul menggenggam tangannya erat. Heechul menatap Siwon.
"Oppa, sebelum aku pergi ada yang akan kuberikan padamu. Nanti jangan dulu pulang, ya?" pinta Heechul. Hangeng menatapnya keheranan.
Usai hujan kelopak mawar tersebut, Heechul tersenyum pada mereka semua. Dia meniup lilin dan membagikan kuenya
"Oh, iya. Mana Lee Soman ajushi?" tanya Eunhyuk tiba-tiba.
"Dia sibuk, mempersiapkan peluncuran album fotonya lagi!" kata Heechul.
"Apa yang dia berikan padamu?" tanya Donghae penasaran.
"Sebuah kamera. Ini!" kata Heechul sambil menunjukkan sebuah kamera tua dari dalam tasnya. "Lee Soman ajushi memang baik. Dia bilang, aku mempunyai bakat di bidang fotografer." Kata Heechul sambil tersenyum pada mereka semua.
"Dia hanya ingin menjauhkanmu dariku!" kata Siwon sewot.
"Yah, apa maksud ucapanmu itu Siwon?" tanya Hangeng sambil meminum jus.
"Dia selalu menghubunginya ditengah malam atau pagi buta! Aku jadi sedikit mengkhawatirkannya!" kata Siwon.
"Aku kan professional oppa!" kata Heechul protes.
"Benarkah?" tanya Hangeng sedikit khawatir.
"Ya, aku sudah melarangnya ratusan kali! Tapi hasilnya nihil!" kata Siwon mengompori Hangeng.
"Ya, apa itu benar Heechul?" tanya Hangeng. Heechul hanya menundukkan kepalanya.
"Mian, tapi aku benar-benar suka fotograpi!" kata Heechul. "Oppa…." Kata Heechul ragu. Dia memandang kearah kedua namja tersebut.
"Ada apa?" tanya Siwon. Hangeng hanya diam menyaksikan tanggapan yang diberikan oleh Siwon.
"Lee Soman ajushi, mengajakku dalam perjalanan keliling dunianya dan aku menyetujuinya…." Uca Heechul takut-takut.
"andwe! Oppa melarangmu!" kata Siwon setengah berdiri.
"Oppa, aku mau jadi seorang fotograper terkenal," rengek Heechul.
"Ini akan berbeda dengan hal yang selama ini dia lakukan padamu! Kau akan berada jauh dari oppa selama berbulan-bulan bahkan mungkin tahunan!" kata Siwon tidak ingin berpisah.
"Mian, oppa…. Pokoknya aku mau ikut…." Sela Heechul. Dia bersikukuh.
"Biarkan saja dia ikut…." Ucap Hangeng lemah. Dia mungkin sudah bisa memikirkan apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh Heechul. Menjauh dari Siwon.
"Yah! Kau selalu memanjakannya!" kata Siwon sewot pada Hangeng.
"Ini hidupnya dia berhak menentukan jalan hidupnya sendiri!" kata Hangeng.
"Benar! Lagi pula aku pergi bersama Lee Soman ajushi! Aku baik-baik saja! Pokoknya aku mau ikut!" kata Heechul bersikukuh.
Siwon menatap adiknya dalam. Heechul memasang wajah serius.
"Wae? Apa kau ingin menjauh dariku? Oppa sedikt khawatir kau tidak akan pulang lagi. Tidak akan kembali padaku, Kim Heechul" keluh Siwon.
Mendengarnya Heechul hanya tersenyum.
"Mian, oppa…. Aku sudah memutuskannya…..Aku akan pergi setelah pertunangan Hangeng Oppa dengan Victoria Unnie!" kata Heechul. "Aku akan pergi…." kata Heechul menjauh dari mereka semua. Menjauh dari kalian mencari akhir yang tepat untukku sendiri. Mianne, mianada.
Heechul menghapus air matanya yang mengalir. Siwon mendekat ke arah Heechul. Dia melihat adiknya menghapus air matanya sendirian. Dia merasa sedih. Dia tidak ingin berpisah dengannya.
"Heechul, mianne. Oppa tidak bermaksud untuk menghancurkan mimpimu. Hanya saja oppa…. Oppa tidak ingin berpisah denganmu! Oppa hanya memilikimu saja! Begitu juga denganmu… hanya oppa keluargamu, Heechul…. Oppa tidak ingin kau pergi…." Kata Siwon lembut. Heechul berbalik wajahnya memerah menahan air mata.
"Oppa…. Aku tidak ingin berpisah denganmu tapi sungguh…. Ini jalan yang terbaik untukku. Aku tidak pandai sepertimu. Aku hanya bisa memotret. Duniaku. Kumohon, biarkan aku pergi…." Kata Heechul sambil memeluk Siwon.
"Oppa menyayangimu. Jangan menangis lagi…." Pinta Siwon sambil menatap lekat wajah adiknya tersebut. Dia menghapus air mata yang mengalir di pipi adiknya tercinta.
"Tidak bisakah kau tinggal disini…. Bersama denganku selamanya…." Gumam Siwon.
"Oppa, kaulah rumahku!" isak Heechul sambil memeluk erat Siwon.
.
.
.
TBC
.
.
.
Jangan lupa Review ne! Update kilat nih!
Gumawo buat yang dah ngikutin ni story! ^^
