Fuyu no Yukishiro present
A fanfict for 100 Love Story for SasuHina event
Waiting For You
.
Disclaimer
Naruto (c) Masashi Kishimoto
Ginko (c) Jun'Ichi Watanabe
.
Warning:
OOC, OC, Typo, Minim deskripsi tempat dan waktu, Misteri(?), Normal POV
.
Happy reading...
Semoga Fanfict ini tidak begitu mengecewakan... ;-D
.
Dia sedang menungguku. Aku harus menemuinya.
Uchiha Sasuke tersentak ketika suara itu mengganggu tidurnya. Pemuda itu mengusap rambutnya yang berantakan dan menghela napas. Diambilnya sebuah gelas berisi air putih yang selalu disediakannya di pinggir tempat tidur. Pemuda itu kemudian menyalakan lampu kamarnya dan melirik jam di meja belajarnya.
Jam sembilan malam.
Sasuke berdiri dari ranjangnya dan berniat membuka pintu kamarnya sebelum pintu kamarnya terbuka sendiri dan suara riang memekakkan telinganya.
"Sasuke!"
Seperti di film-film kebanyakan, wajah tampan pemuda itu sukses mencium pintu dan terjatuh ke belakang.
"Lho, teme? Kau kenapa tiduran di lantai? Dasar bodoh."
Dan sebuah benda melayang ke arah pemuda berambut pirang yang mengatainya bodoh itu dan tepat mengenai wajahnya.
"Ada apa kau kemari dobe? Di jam segini?" Sasuke bangun dan duduk di pinggir ranjang. Sama sekali tak menghiraukan protesan sahabatnya karena telah merusak wajah tampan pemuda pirang itu. Naruto hanya terkekeh kemudian tanpa permisi berbaring di kasur Sasuke.
"Aku baru saja menemui seorang gadis yang cantik," cerita Naruto dan Sasuke hanya mengangkat bahu tidak peduli. "Dan aku terkejut dapat menemui gadis seperti itu."
"Kau menyukainya?" Wajar Sasuke bertanya seperti itu. Naruto memang bertampang polos dan lugu, tapi pemuda itu sangat pintar bermain dengan perempuan yang tertarik dan membuatnya tertarik. Selama ini Sasuke tidak pernah mendengar Naruto memuji salah satu dari para gadisnya. Naruto terbahak dan menjawab ringan.
"Sangat. Sayangnya di hatinya sudah ada pria lain."
Sasuke berdecak. Jadi ceritanya sahabatnya ini ditolak untuk pertama kalinya oleh gadis yang menarik hatinya?
"Oh."
Naruto bangun dari tempat tidur dan menatap tidak percaya kepada sahabatnya yang irit bicara. "Kau hanya menanggapi seperti itu kepada sahabatmu yang satu ini? Kau sungguh kejam teme," katanya dengan dilebih-lebihkan.
"Lalu aku harus bicara apa?"
"Kalau kau tidak bisa menghiburku setidaknya bertanyalah kepadaku siapa gadis itu dan siapa pria yang disukai gadis itu agar aku bisa mulai cerita dengan bebas kepadamu, teme."
Sasuke berdecak, mengalah. Kepalanya sedang kalut dan dia tidak ingin direcoki dengan protesan sahabatnya itu.
"Siapa nama gadis yang membuat patah hati, dobe?" tanyanya sepintas. Naruto tersenyum.
"Namanya manis sekali. Semanis orangnya. Warna rambutnya mengingatkanku pada bunga hortensia atau mungkin bunga lavender? Kulitnya putih bersih dan sepertinya lembut dan warna matanya berwarna indigo yang meneduhkan." Sasuke tak berkomentar apapun. Membiarkan Naruto bercerita panjang lebar tentang gadis kesukaannya itu. "Namanya Hyuuga Hinata."
Deg!
Sasuke tertegun. Rasanya nama itu tidak asing di telinganya. Sementara Naruto mulai tersenyum penuh makna, dia sudah menduganya. Ingatan Sasuke akan kehidupan masa lalunya mulai muncul ke permukaan.
"...-san."
Sekejap, memori Sasuke menampilkan sebuah senyum seorang gadis.
"Pria yang disukainya bernama Himura Natsume."
Sasuke memegang dahinya yang berkedut dan terasa menyiksa kepalanya. Naruto menatap Sasuke was-was.
"Kau mengingat sesuatu, teme?"
Sasuke tak menjawab. Dia masih begitu sibuk mengurusi kepalanya yang mendadak berdenyut dan terasa sakit. Sampai-sampai tidak menyadari bahwa pertanyaan Naruto terbilang aneh.
Ada yang ingin kubicarakan dengannya.
"Sasuke?"
Sasuke tersentak. Menatap Naruto dan memalingkan wajah.
"Aku ngantuk."
"Kalau begitu aku pulang deh. Kalau tidak suka aku di sini bilang saja langsung, teme."
Dan Naruto pergi. Sasuke berdecak dan menjatuhkan tubuh ke ranjang. Menatap atap kamarnya beberapa menit sebelum rasa sakit yang mendadak terasa di kepalanya membuatnya jatuh tertidur.
.
# Waiting For You – for 100 Love story SasuHina #
.
Sasuke melihat seorang gadis yang membaca sebuah buku dengan lantang. Gadis itu tampak bercahaya dan serius saat membaca satu paragraf dari sebuah buku tentang sesuatu yang tidak diingat Sasuke, tapi Sasuke merasa dia mengetahuinya.
"Cukup." Dan Sasuke merasa suaranya keluar tanpa dia kendalikan. Gadis itu tersenyum dengan rona merah yang ada di pipinya dan kembali duduk. Sekilas Sasuke merasa dadanya berdegup ketika melihat senyum gadis itu sebelum melanjutkan penjelasannya tentang pemerintahan di zaman Heian.
.
.
Lalu Sasuke melihat daun kering berjatuhan di depannya dan Sasuke berjalan pelan sembari meletakkan kedua tangannya melingkar di balik punggungnya, sikap tubuh seseorang yang berkuasa. Saat itu Sasuke memakai Hakama berwarna coklat dan kimono berwarna putih gading.
Angin yang menerpa Sasuke dari depan terasa sejuk namun Sasuke tahu bukan itu alasan jantungnya berdetak kencang dan dia merasakan kebahagiaan yang jarang diketahuinya.
"Sensei?"
Sasuke tidak membalas panggilan di belakangnya dan memilih untuk duduk di sebuah bangku panjang yang diapit oleh sebuah pohon besar yang rindang. Orang yang memanggilnya sensei mengikuti duduk di sebelahnya dengan malu-malu.
Selama lima menit tak ada yang memulai pembicaraan. Sasuke melirik ke kanannya, ke tempat seseorang yang ternyata seorang gadis itu menunduk dengan rona merah dan sikap tubuh yang mencerminkan bahwa dia sedang gugup.
Sasuke tersenyum dalam hati. Diam-diam menikmati ekspresi gadis itu.
"Dulu juga kita bertemu di tempat seperti ini, di desamu."
Dia tampak tersentak ketika mendengar suara Sasuke yang akhirnya memecah keheningan yang nyaman di antara mereka.
"Anda mengingatnya rupanya. Itu suatu kehormatan bagi saya."
Lalu tak ada yang bicara lagi karena keduanya sama-sama terhanyut oleh pemandangan kaki gunung yang tersaji di depan mereka.
.
# Waiting For You – for 100 Love story SasuHina #
.
Sasuke membuka mata dan langsung melirik ke jam di mejanya. Jam delapan pagi dan Sasuke kalut. Pemuda itu bergegas mengganti pakaiannya dan bergegas pergi.
Bukan... Dia bukannya takut terlambat menghadiri jam di kampusnya. Tapi Sasuke ingin mengunjungi sebuah taman yang ada di jalan pintas menuju kampusnya. Sebelum pergi Sasuke memasukkan sebuah buku tentang era zaman Meiji sebelum mengunci pintu kamar dan bergegas pergi.
Dan saat ada di taman yang membuatnya tergesa-gesa, Sasuke merasa lega. Dia tidak terlambat hari ini dan entah kenapa dia merasa senang. Sasuke duduk di tempat biasanya dia duduk dan mulai membaca buku.
Sasuke tak tahu kenapa, tapi dia merasa dia harus berada di sini. Sasuke merasa dia sedang bersama orang lain setiap Sasuke duduk di sini dan mulai fokus membaca buku. Dan Sasuke selalu merasa mencium wangi lavender di sebelahnya yang membuatnya nyaman.
Dan rindu.
Sasuke pertama kemari saat awal musim dingin. Sebelumnya Sasuke tidak pernah melewati tempat ini bila menuju kampusnya. Sasuke punya mobil dan tidak perlu repot-repot mengambil jalan pintas ke kampusnya. Namun, entah karena hal yang tidak dimengertinya, Sasuke meninggalkan mobilnya dan beranjak pergi ke kampus melewati taman ini dan langkah kakinya mendadak belok ketika melihat bangku taman dan duduk di sana hingga butiran salju pertama turun.
Ada satu kekosongan di hati Sasuke selama ini, namun Sasuke tak pernah tahu hal apa itu. Sasuke benar-benar merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya dan entah kenapa itu menyesakkan. Tapi ketika pertama kalinya Sasuke duduk di bangku taman ini, untuk waktu yang tidak lama, Sasuke merasa kekosongan hatinya terisi oleh sesuatu berisi kesedihan entah apa.
Angin berembus membuat Sasuke mengangkat tangannya dan berusaha untuk merapatkan syal yang melilit lehernya, namun tak jadi ketika dia merasakan sesuatu jatuh dari punggung tangannya.
Sasuke segera berbalik ke samping kanan namun Sasuke tak mendapati apapun barang yang terjatuh dari punggung tangan kanannya.
Sedikit lagi.
Sasuke mendengar suara itu di dalam kepalanya, tapi Sasuke tak tahu suara siapa itu. Sasuke menghela napas. Kepalanya terasa sakit sekarang dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
.
# Waiting For You – for 100 Love story SasuHina #
.
"Saya ingin menjadi seorang dokter."
Gadis itu terdengar yakin dengan kalimatnya sendiri dan Sasuke yang ada di sampingnya menatapnya tak percaya. Gadis itu kemudian menatap Sasuke lantas memberikan senyum maklum kepadanya.
"Saya tahu apa yang anda pikirkan sensei." Gadis itu tersenyum. "Laki-laki saja tak pernah bermimpi menjadi seorang dokter, apalagi saya yang hanya seorang perempuan. Tapi..."
"Kau pasti bisa, Hinata-san." Sasuke memotong ucapan gadis bernama Hinata itu dan kembali menatap ke depan. Sore hari, di tempat ini bersama Hinata adalah hal yang paling disukai Sasuke untuk menghilangkan rasa lelahnya. "Karena kau murid perempuanku yang pertama, aku bisa bilang kau berbakat menjadi seorang dokter. Setelah Ginko Okino, aku yakin kau mampu menjadi sepertinya."
Hinata menunduk dan tersenyum malu-malu, dan Sasuke yang melihatnya merasa tidak tahan untuk tidak menyentuhnya. Namun rasa enggan membuat Sasuke hanya kembali menatap ke depan dan tersenyum simpul.
.
.
Lalu Sasuke melihat tempat yang dipijaknya gelap. Lalu di depan Sasuke mendadak ada ribuan cahaya kunang-kunang yang membentuk siluet sesosok tubuh sebelum benar-benar membentuk sebuah bentuk manusia yang belum pernah dilihatnya, namun begitu familiar di matanya.
Mendadak tempat gelap itu berubah terang.
Dan Sasuke terbangun dan menyentuh keningnya erat-erat sebelum jatuh terjengkang dengan tidak elitnya ketika Naruto hanya ada beberapa senti di dekat wajahnya dengan cengiran yang lebar.
"Apa yang kau lakukan, dobe?" Sasuke bangun dari posisi terjengkangnya yang benar-benar tidak elit. Pemuda itu duduk di kamarnya dan menegak air putih yang ada di meja. "Dari mana kau masuk?" Seingatnya Sasuke mengunci kamarnya erat-erat.
"Hm... Aku melihat mimpimu teme." Tidak mengacuhkan pertanyaan Sasuke, Naruto duduk di kasur Sasuke yang empuk. Dingin sekali di luar dan Sasuke bisa melihat asap putih keluar dari hidung Naruto.
"Dari mana kau dingin-dingin begini?"
"Bertemu Hinata-chan," kata Naruto ringan. Pemuda itu kemudian beranjak ke dapur yang memang ada di dalam kamar kost Sasuke dan kembali dengan secangkir cappucino. Sasuke menggeleng begitu Naruto menawarinya dibuatkan minum. "Ku tahu apa yang kami bicarakan?"
Sasuke tidak mau tahu tapi Naruto tidak mau peduli.
"Hinata-chan bercerita tentang pemuda yang disukainya." Sasuke bisa mendengar seruan sebal Naruto.
"Kalau kau tidak suka kenapa kau mendengarkannya, dobe?"
Naruto memandang Sasuke lantas tertawa, "Soalnya hanya itu yang bisa kulakukan untuknya. Ne, Sasuke, aku ingin bicara serius."
Mata biru safir Naruto memandang Sasuke serius. "Aku melihat mimpimu."
Eh?
"Aku tidak bohong. Aku bisa melihat mimpi seseorang kalau aku mau, dan aku melihat mimpimu. Sasuke, kau memimpikan Hinata-chan."
Hah?
"Hinata-chan yang kubicarakan adalah Hinata-chan yang ada di dalam mimpimu. Dia adalah gadis di jaman sebelum kau bereinkarnasi menjadi Sasuke."
Kepala Sasuke berdenyut.
"Kau tidak berharap aku langsung mempercayaimu kan, dobe?"
Naruto mencibir.
"Kau kan selalu percaya padaku, sengaco apapun cerita yang kukatakan kepadamu, kan?"
Sasuke tak menjawab dan Naruto mengibaskan tangan di depan Sasuke yang tak bergerak.
"Jadi maksudmu apa dobe? Apakah kau selama ini mempunyai kekuatan untuk melihat roh dan kau sedang jatuh cinta dengan roh?"
"Lho? Kenapa kau tahu kalau Hinata-chan roh?'
Sasuke berusaha untuk bersabar. "Kau bilang 'Hinata-chan'mu itu adalah gadis yang aku impikan. Aku memimpikan zaman meiji, mana mungkin dia masih hidup sampai sekarang?"
"Tapi aneh kau langsung menyimpulkan Hinata roh. Bisa saja kan aku bilang, 'Hinata-chan adalah reinkarnasi dari gadis yang sama dengan jamanmu dulu'?"
Sasuke terdiam.
"Sasuke, kau tidak mau tahu kenapa kau memimpikan masa sebelum kau 'menjadi' Sasuke?"
Sasuke terdiam.
"Orang yang bereinkarnasi tidak akan mungkin mengingat masa sebelum dia bereinkarnasi. Dan mendadak kau ingat tentang seorang gadis bernama Hinata-chan? Dan lagi kau – mungkin – melihat wujudmu sebelum kau dilahirkan menjadi Sasuke."
Sasuke terdiam.
"Kau tahu apa tentang Hinata?" tembak Sasuke langsung dan Naruto tersenyum senang sebelum merubah mimik wajahnya menjadi serius.
.
# Waiting For You – for 100 Love story SasuHina #
.
Hyuuga Hinata menatap jalanan di mana Sasuke berjalan dengan agak terburu-buru dengan kedua telapak tangan di masukkan ke saku. Hinata menahan napas sejenak ketika melihat tatapan Sasuke yang mengarahkan pandangannya tepat ke tubuh Hinata.
Tidak mungkin Sasuke-san bisa melihatku bukan?
Hinata perlahan berdiri. Menunggu Sasuke yang semakin dekat dengannya dan akhirnya berada di depannya. Mata oniks Sasuke menatap langsung ke kedua lavender Hinata yang berkilat tak percaya.
Dan meski tidak benar-benar menyentuh pipinya, Sasuke meletakan tangannya menyentuh Hinata.
"Maaf membuatmu menunggu begitu lama, Hinata-san."
Dan Hinata menangis. Menggerakkan kedua tangannya untuk menyentuh lengan Sasuke yang tidak pernah bisa dia sentuh.
"Natsume-san..."
.
# Waiting For You – for 100 Love story SasuHina #
.
Saat Naruto menceritakan apa yang diceritakan Hinata kepadanya, memori Sasuke secara ajaib mengubahnya ke dalam gambar-gambar bergerak yang membuat kepala Sasuke sakit, dan secara ajaib Sasuke ingat semuanya.
Semua hal sebelum dirinya 'menjadi' Sasuke, semuanya.
Sasuke menatap Hinata yang duduk di sampingnya. Gadis itu masih terisak dengan wajah merona. Masih sama. Hinatanya masih sama dengan saat dulu, Sasuke merasa sangat bersalah karena dia telah membuat Hinata sendirian selama lebih dari seratus tahun.
"Seribu maaf rasanya tidak cukup untuk membayar penantianmu, Hinata-san," kata Sasuke dan Hinata menggeleng. Mengusap ujung matanya yang berair dan tersenyum.
"Saya... Sayalah yang memutuskan untuk menunggu anda, Natsume-san. Bukan salah anda, harusnya... harusnya sayalah yang meminta maaf. Maaf... Maaf saya tidak bisa menjadi seorang dokter, padahal saya sudah berjanji kepada Anda."
Sasuke terdiam. Menatap Hinata yang kembali mengeluarkan air mata. Pemuda itu menghela napas. Mendadak perih ketika gadis, gadis yang membuatnya sangat tertarik dulu menjadi seperti ini.
"Harusnya aku yang meminta maaf padamu. Aku tidak datang padahal kau berjanji akan menungguku."
"Dan kau memenuhi janjimu untuk menungguku hingga aku datang, aku sungguh berterima kasih kepadamu Hinata-san."
Hinata tergugu dan meski Sasuke tahu dia tidak bisa menyentuh Hinata, namun pemuda itu tetap melingkarkan lengannya memeluk Hinata untuk menenangkan. Hinata tersipu.
"Na-Natsume –"
"Sekarang namaku Sasuke, kau bisa memanggilku Sasuke, dan di zaman ini, berpelukan di tempat terbuka bukan suatu hal yang tidak sopan, Hinata-san."
Perlahan, Hinata menyentuhkan telapak tangannya ke atas lengan Sasuke dan menutup mata. Berusaha meresapi kehangatan tubuh Sasuke meski tak nyata terasa oleh kulitnya.
"Sasuke-san."
.
# Waiting For You – for 100 Love story SasuHina #
.
Hinata menatap punggung tangannya yang dipeluk hangat oleh telapak tangan Sasuke yang besar. Hinata menunduk menyembunyikan rona merahnya, menyamankan posisi duduknya di samping Hinata. Sasuke terus memandangi Hinata yang masih tetap menunduk.
"Kau pasti sendirian selama ini."
Hinata tak menjawab. Sasuke menarik bahu Hinata agar kepala gadis itu bersandar kepada bahunya. Hinata melakukannya dengan wajah tersipu. Seratus tahun berlalu dan akhirnya mereka bertemu kembali, dengan wujud yang sama sekali berbeda.
"Apa Sasuke-san juga sendirian? Seperti dulu? Kesepian?" tanya Hinata dan Sasuke tak langsung menjawab. Baik dulu maupun sekarang, Sasuke adalah pria yang gampang kesepian. Hinata tahu itu. Dua tahun bersama Natsume cukup untuk Hinata mengetahui betapa kesepiannya pria yang disayanginya itu. Kejeniusannya membuatnya terlalu dihormati, kematian istrinya yang tak memberikannya putra juga tak membantu sama sekali untuk menghilangkan rasa sepi Natsume. Makanya, saat ada di sekolah Natsume, Hinata selalu berusaha menemani pria itu agar dia tak kesepian.
"Di zaman ini aku mempunyai seorang kakak yang terlalu berlebihan menyyangiku," kata Sasuke membuat Hinata tersenyum. Dulu Sasuke adalah seorang putra tunggal keluarga Himura yang diusia muda sudah menjadi pewaris karena ayahnya meninggal karena sakit dan ibunya pergi menyusul tak lama setelah Sasuke menjadi kepala keluarga yang baru. "Ibuku cerewet dan ayahku sangat dingin kepadaku."
Sasuke tak pandai bicara, tak suka banyak bicara. Tapi demi gadis yang menunggunya selama seratus tahun di tempat ini, Sasuke akan berbicara banyak hari ini.
Karena hanya hari ini aku bisa melihatnya setelah sekian lama.
"Dan aku belum menikah sampai saat ini," kata Sasuke. "Zaman sekarang sangat aneh pemuda berusia tujuh belas tahun memiliki seorang istri."
"Kenapa?"
"Karena zaman ini baik perempuan maupun laki-laki bebas melanjutkan pendidikannya, tanpa harus dibeda-bedakan."
Hinata tahu. Hinata melihat banyak sekali anak perempuan memakai seragam sekolah dan begitu bebas bersekolah hingga perguruan tinggi. Sungguh hal itu membuat Hinata iri. Dulu, dia harus berjuang sekuat tenaga untuk melanjutkan pendidikannya. Sembunyi-sembunyi membaca buku hanya untuk memuaskan rasa keingin tahuannya.
"Sungguh zaman yang menyenangkan," kata Hinata menerawang. Sasuke mengangguk.
"Tak ada yang membeda-bedakan perlakuan terhadap perempuan dan laki-laki. Kau melihatnya kan?"
Hinata mengangguk.
"Perempuan juga bebas memilih pasangan hidupnya. Mereka memutuskan sendiri pernikahan yang mereka inginkan, tanpa perlu melalui perantara."
Hinata tersenyum. Dia sangat... sangat menyukai saat-saat di mana Sasuke menceritakan banyak hal kepadanya.
"Makanya, kau harus pergi ke surga dan kembali lagi kemari."
Hinata tak lagi menyandarkan kepalanya di bahu Sasuke. Gadis itu menatap nanar Sasuke dan Sasuke bisa melihat mata Hinata berkaca.
"Aku telah berjanji kepada penjemputku," Sasuke menjelaskan. "Sebagai ganti aku bisa melihatmu dan berbicara kepadamu seperti ini saat aku menjadi Sasuke."
"Sasuke-san..."
"Sudah cukup kau menungguku, Hinata-san," kata Sasuke. Membelai kepala Hinata. Sasuke bisa dengan jelas melihat tubuh Hinata yang bergetar. "Kau harus pergi."
Hening cukup lama. Tapi saat Sasuke berdiri, Hinata mendongak. Salju tidak turun malam ini dan Sasuke terlihat bercahaya. Telapak tangan Sasuke terulur ke arah Hinata.
"Sebelum kau pergi, sebelum kau mendengar apa yang ingin kubicarakan saat itu kepadamu, sebelum kau menerima hadiah yang kujanjikan padamu, bagaimana kalau kita pergi bersama?"
Hinata menatap Sasuke tak percaya.
"Di zaman ini namanya berkencan, ini adalah kegiatan yang diserap dari barat. Kau mau kan berjalan-jalan jauh dari tempat kita biasa bersama?"
Asal bersama dirimu kemanapun aku mau.
Hinata mengangguk dan berdiri kemudian menyambut uluran tangan Sasuke dengan rona bahagia.
.
# Waiting For You – for 100 Love story SasuHina #
.
Sasuke mengajak Hinata ke taman bermain. Hinata agak kesulitan membaca huruf romaji yang ada di depan pintu masuk, Sasuke membantunya dan Hinata mengangguk mereka.
Hinata menatap takjub ke semua yang terlihat dari pintu masuk. Begitu banyak benda yang tidak pernah dilihatnya. Sangat banyak.
Jadi ini taman bermain?
"Kau mau mencoba wahana apa?"
Sebenarnya Hinata ingin mencoba semua wahana. Tapi Hinata bingung mulai dari mana. Hinata tertarik pada tempat yang begitu banyak patung kuda yang membentuk lingkaran dan ada beberapa orang yang mendudukinya.
Lalu Hinata juga tergiur ingin mencoba cangkir yang berputar-putar beberapa meter di depannya.
Hinata juga ingin mencoba menaiki kereta yang relnya ada di udara.
Pokoknya Hinata ingin mencoba semuanya!
"Kalau begitu, kita mulai dari yang biasa di datangi pasangan, kau mau kan?"
Hinata mengangguk saja dan Sasuke mengusap kepala Hinata sebelum menggandeng tangan Hinata.
Sasuke tidak peduli bahwa tindakannya ini dianggap aneh oleh orang-orang di sekitarnya mengingat Hinata adalah makhluk yang tak bisa dilihat oleh manusia biasa.
.
# Waiting For You – for 100 Love story SasuHina #
.
Dengan rona bahagia, Hinata menatap udara luar. Dia ada di atas sekarang! Dia ada di atas, di sebuah ruang kecil yang namanya biang lala. Hinata terus memandangi luar. Dari sini Hinata bisa melihat lampu-lampu kota yang ajaibnya terlihat indah di mata Hinata. Hinata terkagum-kagum dengan hal itu.
Di Zamannya sulit sekali mempunyai sebuah lampu. Dia belajar dengan menggunakan lilin dan itu membuat matanya lelah.
"Sasuke-san itu.. saya bisa melihat orang-orang begitu kecil!"
Hinata berkata dengan girang. Sasuke yang ada di depannya hanya tersenyum dan itu membuat Hinata salah tingkah. Dia merasa sangat tidak sopan.
"Ma-Maaf."
"Kau tidak perlu begitu formal, Hinata-san," kata Sasuke. Hinata mengangguk.
"Kau senang?"
Hinata mengangguk lagi. Begitu banyak pengalaman yang didapatnya hari ini. Dari yang menegangkan seperti rumah hantu dan hal mendebarkan seperti cangkir yang berputar dan wahana lainnya. Hinata juga mencoba photo box, meski hanya wajah Sasuke yang terlihat di sana tapi Hinata sangat senang. Meski tidak bisa memakan manisan yang dibelikan Sasuke untuknya, Hinata tetap senang, Sasuke mau memakan manisan itu untuknya.
Seratus tahun penantiannya terbayar.
"Tidak ada yang saya sesali, Sasuke-san. Bertemu anda setelah seratus tahun membuat saya senang. Saya dapat memenuhi janji saya kepada anda," kata Hinata tersenyum. Sudut matanya berair. Sasuke memangku kepalanya.
"Kau tidak penasaran kenapa aku memintamu bertemu saat itu? Apa hadiah yang ingin kuberikan saat kau telah sukses menjadi seorang dokter?"
Pertanyaan Sasuke tak ayal membaut Hinata menunduk. Dia ingin tahu, tapi rasanya tidak sopan mengatakannya. Sasuke yang tahu isi hati Hinata mengambil lengan Hinata. Hinata menatap mata Sasuke yang hitam.
"Saat aku harus pergi ke desa untuk waktu yang lama, aku ingin bertemu denganmu," Sasuke memulai cerita. "Aku sudah bersabar menahan perasaanku selama enam bulan, dan aku sudah tidak bisa bersabar lagi."
Hinata mendengarkan dengan hati berdebar.
"Saat aku mengirimkan surat untukmu, aku sudah menyiapkan mental kau akan menolakku. Aku tahu pasti cit-citamu menjadi seorang dokter akan menjadi alasan utama kau menolak lamaranku, tapi aku tidak peduli. Aku sudah bertekad akan mengatakannya hari itu."
Hati Hinata bersorak riang. Ototo-otot pipinya bergerak untuk membentuk seulas senyum bahagia.
"Yang ingin kukatakan saat itu adalah, 'Maukah kau menjadi istriku dan ikut denganku? Tetap bersamaku?'"
Hinata tak bisa menahan air matanya. Air mata itu jatuh membasahi pipi dan menghilang begitu saja ketika jatuh dari dagu manis Hinata.
" 'Hinata-san, aku mencintaimu, maukah kau hidup bersamaku hingga akhir hayat? Terus bersama?'" Sasuke tertawa pelan. "Setelah seratus tahun, kau menjadi gampang menangis."
Hinata tertawa.
"Apa jawabanmu atas pernyataan cintaku, Hinata-san?"
Hinata mengelap air matanya, memberikan senyumnya yang paling manis. Tubuh gadis itu semakin terlihat transparan.
"Tahukah anda Sasuke-san, saat saya berusia empat belas tahun, saya sudah tertarik pada anda," kata Hinata, menggenggam balik tangan Sasuke yang ada di tangannya, tersenyum. "Baik seratus tahun yang lalu, baik saat ini. Baik Natsume-san ataupun Sasuke-san..."
Hinata menghela napas. Senyumnya semakin terkembang. Tubuhnya semakin transparan. "... Saya sepenuhnya memberikan hati ini kepada anda. Dulu, sekarang dan yang akan datang."
Sasuke merasakan hatinya perih namun bahagia secara bersamaan.
"Terima kasih... terima kasih Sasuke-san."
"Kita akan bertemu lagi, Hinata-san. Entah di dunia ini, atau di dunia sana."
Hinata mengangguk sebelum akhirnya tubuh transparannya semakin tak terlihat dan akhirnya hilang sama sekali.
Sasuke merasakan hatinya langsung hampa.
Pintu tempat Sasuke duduk telah berada di bawah. Petugas biang lala membuka pintu hendak mempersilakan Sasuke keluar namun urung ketika melihat air mata membasahi kedua pipi Sasuke.
.
# Waiting For You – for 100 Love story SasuHina #
.
Jemari Haruno Sakura melepaskan butiran-butiran cahaya yang terbang ke langit. Gadis manis bersurai merah muda itu tersenyum lembut ketika melihat seraut wajah Hinata yang bahagia dan mengatakan terima kasih kepadanya.
"Sewaktu Hinata-chan mengatakan bahwa dia mendapat dispensasi waktu untuk pergi ke surga dari penjemput yang mengingatkannya pada musim semi, aku tahu penjemput itu adalah kau, Sakura-chan."
Haruno Sakura menoleh, menatap Naruto yang tersenyum ke arahnya. Mata biru safirnya menatap jenaka ke arah Sakura, tersirat kerinduan di sana. Sakura menghela napas dan turun dari tembok pembatas di gedung lantai dua. Naruto melangkah dengan pelan menghampirinya.
"Apa kabar, Sakura-chan?"
Sakura tersenyum dan merileks-kan tubuhnya di tembok yang ada di belakangnya.
"Selalu baik, terima kasih," kata Sakura. Mata emeraldnya meneliti tiap inchi tubuh Naruto yang tak banyak berubah, hanya berubah menjadi lebih tinggi. "Kau tambah tinggi, Naruto."
Naruto tertawa. Kini dia hanya beberapa langkah di depan Sakura.
"Kau yang menyusut."
"Aku hanya tidak bisa tumbuh, karena aku tak nyata,"kata Sakura mengoreksi ucapan Naruto. "Terima kasih untuk campur tanganmu, Naruto."
Naruto mengangkat bahu.
"Seratus tahun yang lalu, akulah yang memaksa dia untuk pergi ke surga, anggap saja ini sebagai permintaan maafku."
Sakura menghela napas lelah. "Baik saat kau menjadi penjemput, atau sebagai manusia kau tetap seenaknya, Naruto."
Naruto tertawa.
"Itulah aku yang kau sukai kan, Sakura?"
"Penjemput tidak mengenal cinta."
"Tapi mengenal rasa sepi, kan?"
Sakura tak menjawab. "Aku harus pergi."
Dan saat Sakura meloncat untuk pergi, Naruto menyentuhnya dan memeluknya. "Aku mencintaimu, Sakura."
Sakura merona sebelum berontak dan menghajar perut Naruto dengan sikutnya. Membuat Naruto mengaduh kesakitan. Kemudian tertawa.
.
# Waiting For You – for 100 Love story SasuHina #
.
"Yo, Sasuke! Sepertinya Hinata-chan sudah pergi ke surga ya?"
Sasuke memandang Naruto yang berjalan santai ke arahnya. Sasuke sekarang duduk di bangku taman tempat favorite mereka. Naruto duduk di tempat Hinata biasa duduk dan menepuk bahu Sasuke.
"Apa dia akan segera bereinkarnasi, dobe?"
Naruto memasang pose berpikir. "Tergantung amal perbuatan –"
Duk!
"Aw! Tidak perlu menginjak kakiku teme!" Naruto memprotes dan menghela napas. "Aku sudah lama pensiun dari tugas jadi penjemput. Kau orang terakhir yang aku jemput sebelum aku dipecat karena ketahuan tak menghapus ingatanmu sebelum kau dimasukan ke tubuh yang lain," kata Naruto. "Tapi kalau kau berjodoh dengan Hinata-chan sih, tak perlu menunggu begitu lama. Kalian pasti akan bertemu dengannya."
"Kalau kami tidak berjodoh?"
"Well... Cobalah dikehidupan lain, teme."
Sasuke menyikut Naruto hingga terjengkang dan berdiri. "Aku dan Hinata pasti berjodoh, dobe."
Dan Sasuke berjalan meninggalkan Naruto. Sementara Naruto tertawa mengejek.
"Seandainya aku juga bisa sepercaya dirimu, teme. Dasar Sial!"
.
# Waiting For You – for 100 Love story SasuHina #
.
Setiap manusia mempunyai pasangannya masing-masing, karena sejatinya Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam sehingga saat benang merah yang menjadi penghubung antara tubuh dan tulang rusuk itu semakin pendek, maka mereka akan merasa saling melengkapi.
Tak ada yang mengetahui bagaimana takdir bekerja. Tapi yang jelas, takdir bekerja diluar batas nalar manusia, tak terjangkau, tak bisa diprediksi.
Tiga belas tahun berlalu tanpa terasa.
Kini Sasuke berusia tiga puluh dua tahun. Pemuda yang telah menjadi seorang pria itu menatap taman yang menjadi kenangannya itu lamat-lamat. Tangannya tersembunyi di saku celananya kemudian berjalan untuk duduk di bangku tersebut.
"Hinata-san, lagi-lagi aku menjadi seorang guru. Kau akan tertawa?"
Angin yang berhembus sebagai jawaban dari pertanyaan Sasuke.
Musim gugur akan segera datang. Sasuke menghela napas. Hatinya kosong dan Sasuke tahu kenapa.
Karena dia belum menemukan tulang rusuknya yang akan menemaninya hingga akhir. Karena Sasuke belum menemukan sosok Hinata di sini.
Apakah Hinata memang bukan jodohnya? Bukan tulang rusuknya?
Sasuke lelah. Dia berusaha mengenali dari banyak orang yang ditemuinya, mencari-cari jiwa Hinata yang terperangkap tubuh yang berbeda, namun nihil dan Sasuke semakin putus asa.
Dia sudah berusaha, namun tetap tak menemukan Hinata di manapun.
Dan sekarang, di batas rasa putus asa dan lelahnya, Sasuke memilih pasrah. Akhirnya dia pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan dan takdir.
Karena Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuknya, benar kan?
Sasuke berdiri setelah jam tangannya menunjukan pukul sebelas. Sebentar lagi jamnya mengajar. Sasuke berbalik, membungkuk sebentar sebelum berjalan ke arah gedung sekolah yang hanya berjarak lima belas menit dari taman yang selalu dikunjunginya setiap hari.
Tak berapa lama, sesosok gadis berjalan menuju bangku taman dengan seragam sekolah putri dari kota sebelah. Gadis itu menghentikan langkahnya tepat di depan bangku taman karena entah kenapa ada sesuatu yang menariknya untuk menatap ke bangku taman yang terlihat bersinar di mata hitamnya yang indah.
"Aku merasa rindu dengan tempat ini," ucap gadis itu dengan nada bertanya dan mata menerawang. Namun gadis itu tak memikirkan hal lebih lanjut. Gadis itu mengikat rambut sepunggungnya dan berlari karena dia sudah janji kepada kepala sekolah akan mengurus kepindahan sekolahnya jam sebelas nanti. Gadis itu tersenyum, merasa akan ada hal baik yang akan diterimanya di sekolah barunya. Gadis berusia tujuh belas tahun itu berjalan ke arah sekolah Sasuke.
Samar-samar terlihat benar merah yang semakin kecil antara gadis itu dan Sasuke.
.
.
Owari
Note GJ
END!
Entah kenapa saya bingung bisa bikin cerita seGJ ini. Tapi setelah saya membaca buku berjudul Ginko karya Jun'Ichi Watanabe, saya jadi ingin membuat era di zaman Meiji. Sangat tidak jelas karena saya menulis dengan hati saya dan otak saya tak bekerja. Masih banyak kekurangan di sana-sini yang sangat saya harapkan untuk dimaklumi.
Saya akui cerita ini tidak begitu menarik, dan kata temen saya, ini cerita bikin greget... hahaha
Tapi saya terlanjur membuat dan sangat-sangat membutuhkan kalian sebagai jajak pendapat. Ini cerita dengan sedikit sejarah yang saya miliki lho.. #I Hate history
Dan.. Happy 100 Love Story for SasuHina!
Hari ini SasuHina penuh! Seratus! Seratus boo..#Girang
Nah, boleh saya minta konkrit, pendapat dan sebagainya? Thanks for reading... :D
Repiuw please...
