DISCLAIMER :
Togashi-sensei
TITLE :
MAY I?
SUMMARY :
May I kiss you, touch you...then finally make you mine?
GENRE :
Romance
PAIRING :
KuroPika
WARNING :
AU, OOC, FemPika, rate T – M. Sepertinya untuk chapter ini sudah bisa dinaikkan ke rate M. Terinspirasi oleh salah satu fic yang judul dan authornya akan kusebutkan di chapter terakhir. Jadi untuk yang sudah tahu, shut up please! Hehe
.
Happy reading!
You must be know what I've been waiting for
My temperature's through the roof
May I touch your body now?
Kuroro mengemudikan mobilnya dengan sebelah tangan, sementara tangan yang satunya tak pernah lepas dari tangan Si Gadis Pirang yang duduk di sebelahnya. Sesekali mata hitam pemuda itu meliriknya, menimbulkan semburat kemerahan di pipi putih sang gadis.
'Aduhh...kenapa dia terus menatapku seperti itu?!' Kurapika menggerutu di dalam hati. Tatapan Kuroro membuatnya salah tingkah. Tak lama kemudian, keheningan di dalam mobil itu terusik ketika terdengar suara ramai para siswa. "Ah, sudah sampai!" ucapnya lega. Namun dia langsung terdiam begitu melihat ke arah kekasihnya.
Tatapan itu...
"Ke sini sebentar," Kuroro berkata. Tanpa menunggu jawaban Kurapika, dia langsung menarik gadis itu ke arahnya hingga bibir keduanya bertemu.
Kurapika membiarkan hal itu terjadi, namun dia segera menjauh ketika merasakan Kuroro mulai melumat bibirnya.
"S-Sekolah," Kurapika tergagap.
Kuroro tersenyum. "Sekolah? Aku tidak mengerti maksudmu, Kurapika..."
"Belnya!"
Kuroro mendekat lagi.
"Maksudku kelasnya! Kelas akan segera dimulai!" pekik Kurapika segera, hingga pemuda berambut hitam itu tertawa pelan melihat tingkahnya.
'Uhh...dia mengerjaiku!' ucap Kurapika dalam hati sambil bersandar sejenak ke dinding kelas. Namun matanya langsung membelalak ketika merasakan sebuah tepukan di bahunya. "KYAAAA...! Tidak! Jangan di sini!"
Kurapika segera berbalik, mulutnya menganga ketika mendapati Neon yang tengah menjilati es krimnya. "Kurapika? Ada apa denganmu? Apanya yang jangan di sini?" tanya Neon bengong. Tapi itu hanya terjadi sebentar karena kemudian dia kembali fokus kepada es krimnya dan berlalu pergi, sementara tanpa sadar Kurapika langsung menepuk keningnya.
'Reaksiku berlebihan,' batinnya, sebelum teringat kembali pada kejadian di kantin sekolah beberapa saat yang lalu.
Kurapika melangkah sambil membawa baki berisi makan siangnya. Dia menoleh sesekali ke sekelilingnya, mencoba mencari kursi yang kosong. Tiba-tiba seseorang mengambil baki itu dari tangannya. Siapa lagi kalau bukan Kuroro Lucifer?
"Ayo ikuti aku," kata Kuroro, sambil memberi isyarat dengan matanya ke salah satu meja di kantin itu. "Di sana masih kosong..."
"Oh...Baiklah, terima kasih," Kurapika menjawab sambil tersenyum. Dia pun melangkah mengikuti Kuroro, diiringi tatapan banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Ya, Kuroro dan Kurapika adalah pasangan yang baru saja resmi berpacaran...tentu hal itu tengah menjadi hot topic of the week di sekolah mereka.
Kurapika makan dengan tenang, sementara Kuroro hanya memesan minuman. Tiba-tiba pemuda itu tersenyum.
"Ada yang lucu dari caraku makan?!" Kurapika langsung bertanya sambil merengut.
Kuroro terkekeh. Ia menunjuk bagian bibir bawahnya. "Di bibirmu...ada bekas makanan yang menempel."
"Eh? Benarkah?"
Sungguh, tingkah Kurapika saat itu sangat manis di mata kekasihnya. Kuroro melihat ke sekitarnya. Setelah menyadari tak ada yang memperhatikan mereka, dia mencondongkan badannya ke arah Kurapika dan tanpa diduga menjilat bagian bibir bawah gadis itu.
"Nah, sudah," ia berkata sambil kembali ke posisinya semula.
Kurapika mematung. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus sekarang.
"Kurapika?" Neon menegurnya lagi, membuat Kurapika tersadar dari lamunannya. Kini dia sudah duduk di bangkunya. "Apakah kau—"
"Tidak! Neon, aku sama sekali tidak demam dan tidak perlu beristirahat di Ruang UKS. Terima kasih!"
"Ah...aku cuma mau bertanya. Apakah kau benar-benar sudah menjadi kekasih Kuroro?"
"Dari mana kau mendengar tentang hal itu?!"
Kurapika terkejut sekali. Seingatnya, sejak pertama dia datang ke sekolah tadi pagi, dia belum bercerita apapun pada Neon.
"Waktu masuk ke kantin tadi, aku melihat Kuroro menciummu. Selamat ya Kurapika," ucap Neon senang sambil segera memeluk teman pirangnya itu. Mata biru Kurapika langsung membelalak terkejut mendengarnya.
Sepulangnya dari sekolah, Kuroro mengajak Kurapika ke rumahnya untuk menyelesaikan tugas. Tugas itu diberikan sejak dua minggu yang lalu—sebelum mereka menjadi sepasang kekasih—dan besok harus dikumpulkan.
"Tolong bawakan dua gelas minuman dingin ke kamarku," Kuroro berkata pada Menchi, salah seorang pelayan di rumah itu.
"Baik, Tuan Muda," Menchi menjawab sebelum akhirnya melangkah ke dapur, sementara Kuroro menggandeng Kurapika ke kamarnya. Jika ada orang luar yang melihat, adegan ini mungkin akan terlihat seperti pasangan yang menuju ke kamar untuk bercinta.
Sesampainya di dalam kamar, Kuroro langsung menyalakan komputernya. "Kurapika, apa kau keberatan kalau aku mandi dulu? Maukah kau menunggu sebentar?" ia bertanya.
"Tak apa, silakan saja," jawab Kurapika sambil tersenyum. Setelah Kuroro pergi ke kamar mandi, gadis itu mulai mencari data tambahan melalu internet—yang diperlukan untuk menyempurnakan tugas mereka. Kurapika begitu serius saat itu, hingga tiba-tiba dia mencium aroma menyegarkan dari belakang. Refleks dia menoleh, mendapati Kuroro tengah berdiri dan masih mengenakan sehelai handuk putih yang melilit di pinggangnya. Pipinya pun merona sebelum akhirnya dia kembali mengalihkan perhatiannya ke layar komputer.
Di dalam hati, Kuroro menertawakan tingkah gadisnya itu. Dia melangkah menuju ke depan lemari lalu berpakaian. Dalam waktu sebentar saja, pemuda itu sudah mengambil sebuah kursi lagi dan duduk di belakang Kurapika.
"Tugas tentang sistem saraf ini merepotkan juga ya," komentarnya.
Kurapika menghela napas, seolah menyatakan persetujuannya atas apa yang baru saja dikatakan Kuroro. Keadaan rumah yang sepi, berduaan di dalam kamar tertutup, dan aroma wangi Kurapika yang berada begitu dekat di hadapan Kuroro, menyebabkan sesuatu muncul di benak pemuda itu beberapa saat kemudian. Dia menyeringai.
"Kurapika...tahukah kau tentang feromon?" dia bertanya.
Kurapika mengernyit sambil membuka halaman buku yang sudah ditandai oleh Kuroro sebelumnya. "Itu zat kimia, bukan?" gadis itu menjawab sekenanya sambil sedikit menoleh, namun kembali memusatkan perhatian ke dalam buku yang tengah dibacanya.
"Ya...zat kimia yang berfungsi untuk merangsang dan memiliki daya pikat seksual. Sinyal feromon diterima di dalam hidung dan dijangkau oleh otak...menimbulkan perubahan hormon yang menghasilkan respons perilaku dan fisiologis—" Kuroro menghentikan penjelasannya sejenak untuk menyibakkan rambut pirang Kurapika perlahan. "Misalnya seperti ini..."
Kuroro mengecup leher Kurapika. Dia menciumi daerah itu berkali-kali...dengan cara yang lembut. Kurapika merasa geli, selain rasa yang belum pernah dia ketahui sebelumnya.
"J-jangan...Kuroro...," Kurapika menolak ketika Kuroro menyibakkan kerah seragam Kurapika agar bisa menciumi perpotongan leher gadis itu.
"Shh..."
Kuroro terus melakukan kegiatannya hingga kemudian Kurapika merasakan sesuatu yang basah di lehernya.
'K-Kuroro! Dia menjilati leherku!' pekik gadis itu dalam hati.
Ketakutan akan apa yang mungkin terjadi kemudian, Kurapika berusaha menghentikan Kuroro namun kekasihnya itu malah memeluknya erat dari belakang dan melumat bibirnya untuk membuatnya bungkam.
Untuk yang kesekian kalinya, mereka kembali terlibat dalam french kiss yang panas. Ciuman kali ini terasa lebih lama...membuat napas keduanya memburu karena mulai terangsang dan udara yang kurang.
Kurapika pun menikmati ciuman itu. Rasanya begitu memabukkan...membuat siapapun yang melakukannya lupa atas segalanya. Ketika akhirnya Kuroro melepaskan ciumannya, Kurapika terengah-engah. Matanya menatap mata hitam pemuda itu yang penuh nafsu. Namun Kurapika terkejut setelah menyadari apa yang telah terjadi.
Dia menunduk, mendapati tiga buah kancing atas kemejanya sudah terbuka, memperlihatkan pangkal dari belahan dadanya. Bra yang ia kenakan pun sudah sedikit terlihat.
Belum sadar sepenuhnya dari keterkejutan itu, Kuroro menyentuh belahan dada Kurapika, hingga kemudian menyentuh tepi payudara kiri Si Pirang.
"Ah! K-Kuroro..jangan...aku—"
"Kurapika..."
"Aku takut..."
"Tenanglah..."
Kurapika menolak, sementara Kuroro mempererat pelukannya dan mengelus daerah yang tengah disentuhnya beberapa kali.
"Sudah...lepaskan...," Kurapika merintih pelan sambil memegangi tangan kekasihnya yang tengah beraksi.
"Aku ingin melihatnya...," jawab Kuroro.
Kurapika tersentak ketika jemari Kuroro bergerak masuk ke dalam bra dan menyentuh putingnya yang ternyata sudah mengeras.
"Kuroro! Tidak! Oh...aku mohon!"
Kuroro tak mendengarkan penolakannya. Dia mengeluarkan payudara kiri Kurapika dari dalam bra hingga menyembul keluar. Kurapika memalingkan wajahnya. Dia merasa sangat malu. Ini adalah pertama kalinya seorang lelaki melihat bagian dalam tubuhnya, Kuroro pun baru pertama kali melihat langsung namun pemuda itu lebih pandai mengendalikan dirinya.
'Aku harus tenang dan sabar...aku tidak mau membuatnya takut,' batin Kuroro. Dia mengecup dagu Kurapika. "Kenapa? Kau tidak usah takut dan malu padaku..."
Setelah mengatakan itu, Kuroro langsung menunduk dan menjilati puting payudara Kurapika sebentar sebelum akhirnya menghisap dan melumatnya.
Kurapika meringis. Rasanya aneh! Ngilu...sedikit sakit. Berbagai hal berkelebat di benaknya saat itu. Perasaannya campur aduk. Bahkan mitos mengenai mengendurnya payudara jika dihisap pun muncul dan membuatnya takut.
"Sudah...Kuroro..." protesnya lirih.
Kuroro melepaskan mulutnya dari payudara kiri Kurapika, tapi dia mengeluarkan payudara kanan kali ini. Kurapika mencengkeram bagian depan baju Kuroro ketika payudara kanannya ikut dihisap dan dilumat juga. Aroma segar yang menyeruak mau tak mau turut membuat Kurapika terbuai. Mereka memiliki pendapat yang hampir sama mengenai hal ini.
'Aroma Kuroro yang begitu maskulin...,' batin Kurapika.
'Mmh...aroma tubuhmu membuatku gila, Kurapika...dan aku sangat menyukai aktivitasku ini,' Kuroro berkata dalam hati.
Kuroro mengarahkan pandangannya ke atas, menyaksikan ekspresi Kurapika. Gadis itu memejamkan matanya, bahkan ketika Kuroro memainkan puting payudara kiri tanpa menyudahi hisapannya di payudara kanan, dia mulai mendesah pelan dan sesekali menggigit bibir bawahnya. Kuroro semakin bersemangat dan perlahan tapi pasti—mulai lihai melakukannya. Hisapannya semakin ganas. Setelah puas, sambil kembali melakukan french kiss, Kuroro meremas kedua payudara Kurapika perlahan, lalu memainkan kedua putingnya secara bersamaan pula—dengan memelintir dan menariknya.
Kuroro melepaskan ciumannya lagi...menatap penampilan kekasihnya sekarang. Wajah cantik yang merona, bibir merah muda yang sedikit terbuka karena berusaha mengatur napas kembali, kedua payudara indah yang terekspos di depan matanya. Lalu...tiba-tiba dia menyadari pemandangan baru yang mungkin disebabkan karena aktivitas mereka tadi. Rok seragam Kurapika sedikit tersingkap, menampakkan paha putih mulus gadis itu. Maka Kuroro pun sedikit memasukkan tangannya ke dalam rok Kurapika dan mulai membelai pahanya.
CKLEK !
Seseorang membuka pintu kamar. Kuroro menghentikan aktivitasnya, Kurapika menegakkan posisi badannya.
"Maaf...ini minumannya," ucap orang itu yang ternyata adalah Menchi.
Kuroro menoleh ke arahnya. "Ya, simpan saja di situ," ucapnya sambil menunjuk sebuah meja dengan tangannya yang semula memeluk pinggang Kurapika, sedangkan tangan yang satunya lagi masih diam tak bergerak di dalam rok seragam gadis itu.
Kurapika tak bisa berbuat apa-apa selain menghadap lurus ke arah komputer karena kedua payudaranya masih menyembul keluar. Kalau tidak, Menchi akan menyadari apa yang baru saja terjadi dan itu akan sangat memalukan.
Waktu terasa berjalan lambat bagi mereka ketika Menchi meletakkan dua buah gelas minuman sebelum akhirnya pergi dari sana.
"S-Sudah ya Kuroro," bisik Kurapika sambil mengancingkan tiga buah kancing atas kemejanya kembali. Sebenarnya Kuroro kecewa, namun dia tak mau memaksa Kurapika. Dia hanya menjilati bagian belakang leher gadis itu dan terus membelai pahanya. Perlahan semakin naik...dan tanpa sengaja ujung jemarinya menyentuh sesuatu yang terbungkus celana dalam. Refleks, Kurapika langsung memegangi tangan Kuroro.
"Jangan," pintanya sungguh-sungguh.
Kuroro menurut. Dia merapikan baju Kurapika dan menyelesaikan tugas mereka.
Kuroro mengantar Kurapika pulang. Di sepanjang perjalanan, gadis itu lebih banyak diam. Sepertinya dia masih kaget, matanya terlihat berkaca-kaca. Benar saja. Begitu masuk ke kamarnya, Kurapika langsung menangis terisak.
'Oh...tadi itu...apa yang terjadi?! Kenapa aku membiarkannya terjadi?'
Tak lama kemudian, mungkin setelah Kuroro sudah kembali ke rumahnya, dia menelepon Kurapika. Pemuda itu merasakan ada sesuatu yang terjadi padanya. Dia merasa bersalah.
"Apakah...masih terasa sakit?" tanya Kuroro dengan kekhawatiran terdengar dari nada suaranya.
Kurapika mejawab pelan, "Ya...masih..."
"Bagaimana rasanya?"
"Nyeri...seperti ngilu..."
"Maafkan aku...apa aku terlalu memaksamu, Kurapika?"
Kurapika terdiam sejenak, kejadian yang baru saja terjadi di kamar Kuroro kembali terbayang di benaknya. Dia merasakan sensasi aneh saat mengingat hal itu. hingga pada akhirnya, Kurapika sampai pada satu kesimpulan, "Tidak...aku pun membiarkan itu terjadi."
Di rumahnya, Kuroro tersenyum tipis mendengar jawaban Kurapika. Pasti wajah kekasihnya itu kembali merona.
"Payudaramu indah," Kuroro berkomentar, "Dan aku menyukai aroma tubuhmu..."
"A-aku..." ucap Kurapika terbata-bata.
"Ya, Sayangku?"
"Aku pun menyukai aromamu..."
Suara gadis itu terdengar lebih pelan, menandakan dia semakin tersipu. Namun Kuroro teringat satu hal lagi dan sambil menyeringai nakal akhirnya dia berkata, "Pahamu yang putih mulus...juga mengacaukan benakku malam ini."
TBC
A/N :
Hufft...akhirnya ketemu juga scene yang pas untuk tema chapter ini!^^'
Terimakasih atas semua reviewnya...dan ini balasan review untuk chapter lalu :
Nekomata Angel of Darkness :
Hehehehe, aku sendiri ga nyangka kenapa akhirnya jadi humor...karena sebenarnya aku ga berbakat sama sekali untuk bikin humor ._.v
Moku-Chan :
Hai Moku xD Ya, ini rate-nya udah aku naikin...tapi baru lime ya, sabar 'n ikutin terus...hehe!
Hidan gak bisa mati :
Wah terima kasih ya atas dukunganmu wahai Hidan yang gak bisa pake baju XDD
Kocak? Aihh...syukur deh kalau akhirnya aku bisa bikin sedikit humor xD
hana-1emptyflower :
Hohoho, pendapat kita sama! Aku juga ga rela BANGET kalo Kuroro mesum ke cewek lain. Bikin ilfeel Dx Aku harap Hana ga keberatan rate-nya aku naikin :D
Natsu Hiru Chan :
Hohoho, aku juga suka scene itu x3 'n aku harap Natsu juga suka scene yang aku hadirkan di sini. Lime dulu ya...untuk lemon, pasti nanti aku masukin di fic ini^^
Review please...!
