DISCLAIMER :
Togashi-sensei
TITLE :
MAY I?
SUMMARY :
May I kiss you, touch you...then finally make you mine?
GENRE :
Romance
PAIRING :
KuroPika
WARNING :
AU, OOC, FemPika, rate M. Terinspirasi oleh salah satu fic yang judul dan authornya akan kusebutkan di chapter terakhir. Jadi untuk yang sudah tahu, shut up please! Hehe
.
Happy reading!
The milky white skin, hypnotizing scent...
Really, you make my slacks a little thight
May I lick your taste now?
"Selamat pagi," Kurapika menyapa teman-teman sekelasnya ketika memasuki kelas pagi itu.
Murid-murid di sana menyambut sapaannya, termasuk menyapa Kuroro yang berada tepat di belakang gadis itu. Ya, Kuroro selalu menjemputnya setiap pagi, mereka pun berada di kelas yang sama, jadi tak heran jika mereka masuk ke kelas bersama-sama, bukan?
Kuroro berbalik saat seorang murid lain memanggilnya, sementara Kurapika langsung melangkah ke meja tempatnya biasa duduk...melewati Neon yang kali ini terlihat berbeda.
"Selamat pagi, Neon," gadis pirang itu menyapa lalu meletakkan tasnya.
Neon tak menjawab. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi namun Kurapika benar-benar tak menyadarinya. Kesal, gadis berambut merah muda itu berdiri dan menghampiri Kurapika.
"Kurapika, tanya dong kenapa aku murung!" protesnya.
Kurapika menoleh dan menatap Neon sekilas. Oke, dia sudah menyadarinya sekarang. Kurapika pun tersenyum...sebuah senyuman yang menyejukkan hati. "Baiklah...kau kenapa?"
"Pemuda yang kemarin kuceritakan itu...yang dikenalkan Papaku, dia belum menghubungiku lagi."
"Mungkin dia sibuk atau—"
"Pasti dia tidak menyukaiku!"
"Neon, dengar—"
"Padahal kencan pertama kami berkesan...!"
Kurapika menghela napas. Tak ada gunanya menyela Neon jika rentetan ocehannya belum selesai diucapkan. Dia pun berusaha bersabar.
Akhirnya, beberapa saat kemudian, Neon sudah diam tanpa melepaskan tatapannya dari Kurapika. Matanya terlihat berkaca-kaca. Oh, ingatkah kau pada seekor kucing yang tak punya tempat berteduh ketika hujan dan mengikutimu saat berjalan melewatinya? Seperti itulah ekspresinya. Walau secara alami, tak ada kucing yang berwarna merah muda.
'Apa yang kupikirkan? Sahabatku sedang membutuhkanku,' Kurapika segera mengingatkan dirinya sendiri. Perlahan-lahan gadis itu mencoba mengajaknya bicara, "Neon, apakah dia tahu kau sampai seperti ini karena dia tidak menghubungimu?"
Neon menggelengkan kepalanya. "Lagipula aku tidak mau dia tahu!" Neon menambahkan.
"Kalau begitu bersabarlah...dan aku yakin, masih banyak pemuda lain yang pantas untukmu. Lalu satu pesanku..."
Kali ini Kurapika memicingkan matanya, membuat Neon menyadari bahwa yang akan dikatakan oleh gadis pirang itu adalah sesuatu yang serius.
"Jangan terlalu cepat jatuh cinta pada orang yang baru kaukenal!"
Neon langsung memanyunkan bibirnya. Tapi dia tak bisa berkata apa-apa lagi, sebab hal itu memang benar adanya. Untuk mencoba menyanggah pun Neon enggan, sudah pasti Kurapika memiliki banyak alasan logis untuk mendukung pendapatnya.
Pasrah, Neon duduk di depan meja Kurapika. Tiba-tiba sebuah pertanyaan terlintas di benaknya.
"Kurapika," ucapnya dengan suara berbisik, sambil sesekali melirik ke arah Kuroro yang masih sibuk berbicara dengan temannya. "Bagaimana kencan pertamamu dengan Kuroro?"
"Eh? Kencan pertama?" tanya Kurapika sambil mengernyit, memandangi Neon yang menatapnya dengan penuh harap dan bersiap untuk larut dalam euforia kencan pertama.
Namun ekspresi bingung masih nampak di wajah Kurapika. Neon pun menghela napas.
"Kurapika, jangan bilang bahwa kau belum pernah kencan dengan Kuroro," ia menebak.
Kurapika langsung memundurkan badannya. "Memangnya ada yang salah dengan itu? Lagipula aku bertemu dengannya setiap hari," dia beralasan.
"Itu berbeda! Dengar ya Kurapika, kencan dalam berpacaran itu sudah satu paket! Rasanya seperti memiliki teman main yang menyenangkan!"
"Hah? Teman main?"
"Terima kasih...sampai besok," ucap Kurapika kepada kekasihnya, ketika mobil yang mereka naiki sudah sampai di depan rumahnya. Dia memegang pegangan pintu mobil itu namun terhenti...
"Tunggu dulu," kata Kuroro tenang, namun terdengar kesan menuntut di nada suaranya.
Jantung Kurapika mulai berdegup kencang. Oh, sering sekali dia merasakan itu sejak menjadi kekasih Kuroro! Seolah setiap sentuhan dan ucapannya memiliki sensasi tersendiri bagi Kurapika.
Kurapika berusaha melawan kegugupannya. Dia menatap kekasihnya dan mulai bicara, "Kuroro, sungguh...aku benar-benar harus pulang sekarang...," pintanya, menduga bahwa Kuroro akan menyentuhnya lagi di waktu dan tempat yang tidak tepat seperti sekarang ini.
Kuroro tercengang sesaat, tapi kemudian dia tertawa pelan setelah memahami apa yang ditakutkan Kurapika. "Kau berlebihan," komentarnya. "Dengar...hari Minggu nanti kau ada acara?"
"Ngg...sepertinya tidak..."
"Bagaimana kalau kita pergi ke taman bermain? Kurasa akan menyenangkan...setelah semua tugas sekolah yang menumpuk akhir-akhir ini."
"Baiklah..."
Kurapika tersenyum menanggapi ajakan Kuroro. Sudah lama dia tak pergi ke sana, baik bersama teman-temannya apalagi bersama orangtuanya. Jelas itu tidak mungkin. Maka dengan senang hati dia menerima ajakan pemuda tampan itu.
Di hari Sabtu, Kuroro memberikan sebuah bungkusan padanya. Kurapika hanya menatap bungkusan itu dengan pandangan penuh tanya.
"Itu hadiah dariku...untuk kau kenakan besok saat kita pergi bersama," Kuroro berkata, lalu memelankan suaranya dan berbisik di telinga gadis itu, "Untuk kencan kita, Kurapika..."
Kurapika terkesiap ketika merasakan sesuatu menempel di bibirnya dengan cepat. Ya, Kuroro baru saja menciumnya. Ketika tersadar, pemuda itu memberinya sebuah tatapan lembut...membuat seulas senyum menawan muncul di wajah Si Gadis.
'Ya...kencan pertama...'
Hari yang dinantikan pun tiba. Kurapika begitu resah, entah sudah berapa kali dia mematut diri di depan cermin. Hari ini dia mengenakan baju yang merupakan hadiah dari Kuroro; dress selutut berwarna biru muda bertali tipis dan bolero putih yang cantik. Kurapika sudah melengkapinya dengan flat shoes senada...namun tetap saja dia merasa tak yakin.
"Sempurna," tiba-tiba terdengar suara ibunya, Eliza, yang sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.
Kurapika langsung berbalik dengan pipi memerah.
"Kuroro sudah ada di bawah...ayolah, jangan buat dia menunggu terlalu lama," kata Eliza lagi sambil merapikan rambut pirang pendek putri tunggalnya itu. "Selamat bersenang-senang."
Kurapika menghela napas sejenak, lalu keluar dari kamar untuk menemui kekasihnya. Mengenakan celana jeans dan kaus biru tua yang begitu kontras dengan kulit putih pemuda itu, membuat Kuroro terlihat lebih tampan dari biasanya. Dia pun menatap puas ke arah Kurapika.
'Milikku...Kurapika...,' batinnya, lalu mendekat dan memberikan ciuman selamat pagi.
Kencan mereka di taman bermain begitu menyenangkan. Kurapika pun menyukai bagaimana cara Kuroro memperlakukan dirinya, walau sesekali pemuda itu melakukan atau mengatakan sesuatu yang membuatnya merasakan sensasi yang mengejutkan sekaligus menyenangkan.
Misalnya saat ini. Ketika pintu wahana kincir raksasa ditutup, Kuroro langsung meletakkan tangannya di lutut Kurapika.
"Kuroro—" ucap Kurapika terkejut dengan semburat kemerahan di kedua pipinya.
Kuroro melingkarkan sebelah tangannya di pinggang gadis itu dan mendekatkan wajahnya, memberikan lumatan lembut di bibir Kurapika. Kurapika memejamkan matanya, membalas ciuman itu, mulai terlena...dan membiarkan tangan Kuroro semakin naik untuk membelai pahanya dengan perlahan.
Lalu...apa yang terjadi beberapa saat kemudian, begitu mereka berada di puncak kincir raksasa itu, tak akan bisa Kurapika lupakan sampai kapanpun.
"Aku mencintaimu...," bisik Kuroro sebelum mencium gadis itu kembali, menimbulkan rasa terkejut dan bahagia di hati Kurapika. Mereka sudah berpacaran namun ini pertama kalinya dia mendengar pernyataan cinta dari kekasihnya.
Kuroro menatap jalanan yang berada di depannya sambil mengemudikan mobil. Di sampingnya, Kurapika sudah terlelap karena kelelahan.
"Mmh...," terdengar suara Kurapika, sambil merubah posisinya. Hal ini menangkap perhatian Kuroro. Dia menoleh...dan tiba-tiba saja menghentikan mobilnya.
Kuroro terdiam, sementara Kurapika sedikit mengernyit. Tapi kemudian raut wajahnya tenang kembali seolah tidurnya tak pernah terganggu sedikitpun,
Perubahan posisi Kurapika tadi, menarik perhatian pemuda berambut hitam yang berada di sebelahnya dan kini tak bisa mengalihkan tatapannya. Setelah menghela napas seolah berusaha menahan diri, Kuroro mengemudikan mobilnya lagi lalu berhenti di dekat sebuah taman kota yang sepi.
Dia kembali mengalihkan pandangannya pada Kurapika. Helaan napas yang teratur, dress yang tersingkap hingga setengah paha...dan bolero yang tersibak, menampakkan bahunya yang putih. Teringat kembali di benaknya, kegiatan intim mereka yang terakhir kali di kamar Kuroro.
Kuroro mendekat, perlahan mengecup bibir Kurapika berkali-kali dan menjilati permukaannya, seolah menggoda kesadaran gadis itu. Kurapika sedikit mengerang. Menanggapi hal ini, Kuroro melumat bibir gadis itu penuh nafsu dan memainkan lidahnya di dalam mulut Kurapika. Tentu saja ini membuat Kurapika langsung terbangun.
"Mmh...! Ku-mmpphh!"
Seolah tak mendengar erangan gadisnya, Kuroro membelai leher gadis itu dengan cara yang lembut...membuat Kurapika langsung tenang dan tidak memberontak lagi.
"Ah...Kuroro...," desah Kurapika ketika ciuman Kuroro turun ke lehernya, dan tangan pemuda itu meremas-remas payudaranya secara bergantian. Sensasi yang ditimbulkan mengakibatkan Kurapika tanpa sadar menggerak-gerakkan kakinya, otomatis dress yang ia kenakan menjadi lebih tersingkap hingga Kuroro bisa melihat celana dalam putih yang dikenakan gadis itu.
Sesuatu muncul di benak Kuroro. Tangannya kembali menyentuh paha Kurapika. Gadis itu terkejut ketika menyadari penampilannya sekarang. Ketika akan membetulkan bajunya, Kuroro mencegahnya dengan memegangi tangan Kurapika.
"J-jangan...Kuroro, nanti ada yang lihat...," tolaknya lirih.
Kuroro mengerti, lagipula posisi mereka saat ini kurang memungkinkan untuk bertindak lebih jauh. Dia mengajak Kurapika pindah ke jok belakang. Kurapika yang kebingungan langsung jatuh terbaring. Kuroro langsung membungkuk di atasnya, mencegah Kurapika untuk bangkit.
"K-kau mau apa?" tanya Kurapika, nampak sedikit ketakutan di mata birunya yang indah.
"Kurapika...jangan takut, aku akan selalu berada di sisimu," Kuroro menjawab. Ia kembali mencium Kurapika, hingga mereka terlibat dalam suatu ciuman panas. Kedua tangan Kuroro meraba sekujur tubuh gadis itu. Menyadari Kurapika perlu merasa tenang, Kuroro terus berbisik padanya. Saat tangannya menyentuh vagina Kurapika yang terbungkus celana dalam, sesuai dugaan, Kurapika tersentak namun Kuroro segera mengalihkan perhatiannya dengan ciuman.
Memanfaatkan waktu yang ada, Kuroro dengan sigap membuka celana dalam itu dengan satu tarikan. Mata biru kekasihnya membelalak.
"T—tidak..."
Kuroro segera meletakkan jari telunjuknya di bibir Kurapika. "Aku menyukai tubuh indahmu...sosokmu, kelembutan payudaramu yang mengisi mulutku...," jari itu perlahan turun ke belahan dada Kurapika, "Kulitmu yang lembut..." Kuroro menggerakkan jarinya ke perut, terus ke bawah menimbulkan sensasi yang aneh, bahkan Kurapika segera memalingkan wajahnya dan memejamkan mata seolah khawatir akan kenikmatan yang akan segera membiusnya.
Kuroro merasakan celananya sudah menyempit karena kejantanannya sudah membesar dan mengeras. Dia menunduk, menatap vagina Kurapika. Kewanitaan kekasihnya itu begitu mulus, tak terjamah...dengan sedikit bulu halus yang agak pirang di atasnya. Kuroro menggunakan kedua tangannya untuk menyibak bibir vagina Kurapika. Gadis itu semakin meringis malu, pipinya memerah sejak tadi. Kuroro merasa nafsunya semakin naik ketika merasakan basah di daerah yang tengah disentuhnya. Kekasihnya sudah terangsang.
"Kau cantik...," Kuroro memuji, membuat Kurapika membuka matanya dan menatapnya. Seketika tatapan Kuroro membuatnya seolah terlupa akan segalanya.
Kurapika menahan napas ketika Kuroro membungkukkan badannya lagi, menempatkan wajahnya di depan vagina miliknya. Sebuah jilatan ia rasakan di sana. Kurapika mendesah pelan sekaligus berusaha menyiapkan diri akan apa yang mungkin terjadi selanjutnya.
Jari Kuroro sudah basah oleh cairan Kurapika. Dia memisahkan bagian atas vagina gadis itu, menampakkan sumber kenikmatan yang masih sedikit tersembunyi. Kuroro menjilati bagian paha dalam Kurapika, terus bergerak mendekati vaginanya.
"Kuroro, h-hentikan, aku—" ucapan Kurapika terhenti. Ketika menyangga tubuhnya dengan kedua siku dan sedikit menaikkan bagian tubuh atas untuk melihat ke arah Kuroro, dia terpana melihat Kuroro tengah menikmati aktivitasnya.
"Ahh...!" desah Kurapika tiba-tiba ketika Kuroro menjilati klitorisnya dengan memberikan sedikit tekanan, membuat bagian itu membesar. Kuroro menghentikan jilatannya sejenak, merasa puas atas hasil dari rangsangan yang ia lakukan lalu menghisap klitoris itu sambil menggerakkan lidahnya dengan cepat. Kurapika berbaring kembali, menggeliat dan mulai menendang-nendang kakinya, kepalanya bergerak-gerak gelisah bahkan dia berusaha membungkam mulutnya sendiri khawatir akan mendesah terlalu keras.
Ketika Kurapika semakin tidak tahan, Kuroro sama sekali tak menghentikan aktivitasnya. Malah kini jari-jarinya pun sibuk menggoda bagian luar lubang vagina Kurapika.
Saat gadisnya akan mengalami klimaks, Kuroro menghentikan hisapannya namun membelai klitoris gadis itu dengan lidahnya.
'Ayolah, Sayang...aku menantikanmu,' ucapnya dalam hati sambil menyaksikan raut wajah Kurapika yang tengah merasakan kenikmatan atas perlakuannya.
Lalu hal itu pun terjadilah. Orgasme Kurapika yang pertama selama hidupnya. Napas gadis itu terengah-engah...perlahan Kuroro menjauhkan wajahnya, mengecup permukaan vagina Kurapika seolah mengucapkan terima kasih. Dengan mata setengah terbuka, Kurapika menunduk melihat Kuroro yang sibuk membuka celananya, menampakkan kejantanan pemuda itu yang berdiri dengan gagahnya.
"K-Kuroro! Apa—cepat pakai lagi celanamu!" ucapnya segera.
Perlahan Kuroro membantu Kurapika bangkit, meraih tangannya dengan lembut dan meletakkan tangan itu di penisnya. "Ini milikmu...untukmu," ia berkata sambil menarik tubuh Kurapika perlahan.
Kini Kurapika sudah duduk di lantai mobil sedan hitam milik Kuroro, di antara kedua kaki pemuda itu dan menghadap langsung ke arah kejantanannya. Tangannya tetap berada di sana walau Kuroro sudah melepaskan cengkeramannya. Dia menatap benda itu ragu. Namun selain keraguan, Kurapika merasakan sesuatu yang lain...seperti suatu keinginan.
"Ayo lakukan," pinta Kuroro sambil membelai rambut pirang pendek kekasihnya.
Kurapika pun melakukannya, dia mendekatkan wajahnya hingga bibirnya bersentuhan dengan kepala penis Kuroro yang ujungnya mulai basah. Kuroro sedikit mendorong kepala gadis itu seolah memberitahu apa yang harus dia lakukan.
Napas Kuroro menjadi sedikit tidak teratur ketika penisnya memenuhi mulut kecil Kurapika. Dia menahan poni Kurapika, bertatapan dengan gadis itu yang menggerakkan mulutnya secara naik-turun. Awalnya terasa sedikit menyakitkan karena Kurapika belum mengetahui caranya, tapi kemudian dia tahu setelah melihat reaksi pemuda tampan yang tengah ia manjakan.
Lidah Kurapika bergerak memutar di penis Kuroro yang besar, panjang dan keras itu.
"Ngh...Kurapika...," Kuroro mendesah, saat hal itu dilakukan Kurapika di kepala penisnya.
Melihat benda lain yang terabaikan di bawah benda yang tengah dikulumnya, Kurapika memberanikan diri untuk menyentuhnya—yang tak lain adalah testis Kuroro.
'Benar-benar pemandangan yang indah,' komentar Kuroro dalam hati dengan dada bergerak naik-turun karena merasa nikmat. Dia mengulurkan tangannya, memasukkan jemarinya ke balik bra yang dikenakan Kurapika dan memilin puting yang sudah mengeras.
"Mmmm...! Hhh...mm...," desah Kurapika tak tahan.
Hal itu terus berlangsung...hingga Kuroro merasakan sesuatu di bagian bawah tubuhnya.
"Berhenti, Kurapika," perintahnya, sembari menarik gadis itu agar duduk di sampingnya. Cepat-cepat dia mengambil beberapa lembar tissue, menyelipkannya ke tangan Kurapika hingga menutupi kepala penisnya, lalu melumat dan memainkan lidahnya di dalam mulut gadis itu.
Kuroro mengerang pelan, dan Kurapika merasakan sesuatu yang hangat di tangannya. Dia melepaskan ciuman mereka karena ingin melihat apa yang ada di sana. Kuroro melepaskan tissue dari penisnya, menampakkan sisa-sisa cairan putih di kejantanannya yang mulai lemas. Ya, Kuroro melakukan hal itu karena tak ingin spermanya mengotori pakaian mereka.
"Kau...mau merasakannya...?" tanya Kuroro sambil tersenyum.
Kurapika terperangah, tapi kemudian menurut ketika Kuroro mendekatkan wajahnya ke penis miliknya. Dengan takut-takut Kurapika menjilat cairan putih di sana. Dia langsung mengernyit dan menegakkan posisi duduknya kembali.
Kuroro terkekeh geli. "Bagaimana?" ia bertanya.
"Rasanya aneh...," jawab Kurapika.
Kuroro mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. "Ingatlah...itu rasaku, dan aku sudah merasakan sedikit rasamu," bisiknya dengan suara menggoda. Sebagai seorang lelaki, dia merasakan keinginan untuk bertindak lebih jauh. Tapi dia tak mau bertindak tergesa-gesa. Yang diinginkannya adalah, Kurapika turut menikmati semuanya tanpa rasa takut dan terpaksa.
Kuroro mengecup kening, pipi dan bibir Kurapika. "Ayo...kita pulang sekarang," katanya. Dia membungkuk mengambil celana dalam Kurapika dan memakai celananya sendiri.
Saat ini pelajaran Biologi. Oh, sungguh kebetulan yang kejam! Apa yang tengah dibahas di kelas adalah mengenai organ reproduksi. Kurapika menangkupkan kedua tangannya di pipi, berusaha menyembunyikan ronanya. Untunglah hampir semua murid tersenyum-senyum dan tersipu mendengar pembahasan guru mereka saat itu.
Kejadian sehari sebelumnya—di dalam mobil Kuroro—kembali terbayang di benak Kurapika. Termasuk kejadian tadi pagi.
Kuroro memarkirkan mobilnya di halaman sekolah. Situasi saat itu masih sepi, karena Kuroro salah melihat jam hingga mereka berangkat terlalu pagi. Saat mereka berciuman sebelum keluar dari mobil, Kuroro memasukkan tangannya ke dalam rok seragam Kurapika.
"Kuroro!" Kurapika tersentak.
"Sebentar saja...jangan ribut, nanti ketahuan," ucap Kuroro lalu mencium Kurapika kembali. Tangannya menyelinap masuk ke balik celana dalam Kurapika, bergerilya di sana hingga Kurapika bisa merasakan vaginanya basah. Kuroro menggosok klitorisnya dengan gerakan memutar hingga gadis itu klimaks dan terengah-engah.
Terakhir, Kuroro mencium pipinya sekilas. Menjilat sedikit cairan Kurapika yang ada di jarinya lalu membersihkan sisanya dengan tissue. Tentu saja dia pun membersihkan selangkangan Kurapika yang basah.
Rasanya Kurapika masih merasakan sentuhan Kuroro di vaginanya. Tangan kirinya mengepal erat, lalu turun ke pangkuan. Tanpa sadar bergeser ke atas vaginanya. Dia pun sedikit meringis.
"Ya, Neon?" kata Pakunoda, Guru Biologi yang baru saja selesai menerangkan dan akan membuka sesi tanya-jawab.
Kurapika tersentak. Dia menoleh ke arah sahabatnya itu.
"Miss. Pakunoda, aku minta ijin ke toilet...bersama Kurapika, karena sepertinya dia pun ingin buang air kecil," ucap Neon polos.
Saat itulah Kurapika segera menyadarinya. Dia memindahkan tangannya kembali ke atas meja. Tapi tetap saja, dia mengikuti kesalahpahaman Neon. Ingin sekali dirinya menyanggah bahwa sebenarnya dia tak ingin ke toilet, tapi bagaimana jika gadis merah muda itu membantah dengan alasan yang aneh?
Kurapika baru saja mencuci tangannya sambil menunggu Neon yang masih berada di dalam toilet begitu merasakan ponsel di sakunya bergetar. Dia mengambil ponsel itu. sebuah pesan masuk...dari Kuroro.
Aku yakin Neon kembali salah paham. Jika kau begitu menginginkannya lagi, bilang saja...lagipula aku pun menginginkannya.
Kurapika langsung membeku. Rasa panas menjalar dari pipi hingga ke telinganya. Tatapannya terpaku ke layar ponsel, hingga tak menyadari Neon sudah keluar dari toilet dan nampak terkejut melihatnya.
"Kurapika, kau demam lagi?!" seru Neon khawatir.
TBC
A/N :
Gyaaa...aku ngetik apaan sih ini?! #blushing akut, sembunyi di balik selimut
Entah kenapa menurutku lime ini terlalu hot...
Yah habis mau bagaimana lagi, untuk tahu tekniknya aku cari dulu di Abang Google...secara otomatis scenenya jadi begitu mendetail ==a
Oke, ini balasan chapter lalu :
Nekomata Angel of Darkness :
Hehehe, begitulah...makin ke sini grepe2nya makin naik level xD
Moku-Chan :
Yah aku bersyukur n tersanjung (?) bisa menghadirkan scene yang panas walau cuma lime dan bukannya lemon.
Makasih x3
hana-1emptyflower :
Di-skip?! Wuohhh jangannnn...baca semuanya dunk, hahaha xD
Anggap aja sama seperti fic rate M-ku yang lain.
Hehe, aku harap Hana ga kapok baca fic ini sampai selesai :)
Just kurokura lover :
Lagi? Jadi kamu udah pernah baca fic rate M-ku? Wahh...makasih ya xD
Yup, aku ingin biarpun rate M, fic-ku tetep punya plot...ga semata-mata rate M doang
Untuk fic yang lain, aku sedang memikirkan meluangkan waktu khusus untuk menyelesaikan fic-fic multichap yang udah lama sebelum balik lagi update yang lain.
Makasih ya :)
Natsu Hiru Chan :
Natsu, sesuai janjiku...kupublish malam ini, semoga Natsu suka. Gimana? Makin mantap ga? Hehehe *smirk*
*terkulai lemas* review yaaa
