DISCLAIMER :
Togashi-sensei

TITLE :
MAY I?

SUMMARY :
May I kiss you, touch you...then finally make you mine?

GENRE :
Romance

PAIRING :
KuroPika

WARNING :
AU, OOC, FemPika, rate M. Terinspirasi oleh salah satu fic yang judul dan authornya akan kusebutkan di chapter terakhir. Jadi untuk yang sudah tahu, shut up please! Hehe

.

Happy reading!


You make me sweat, imagining your body naked
Baby, it's alright
We can start a little fire tonight


Angin berhembus di siang hari yang santai itu. Di kolam renang Rumah Keluarga Nostrad, terlihat beberapa orang gadis tengah menikmati waktu mereka.

"Aku senang dengan hasil pekan olahraga kemarin," celetuk Ponzu yang duduk di tepi dan memainkan kedua kakinya ke dalam kolam.

Sang Tuan Rumah, Neon, langsung terlihat gembira, "Benar! Kelas kita menjadi juara umum semester ini! Kemenangan besar kita dapatkan dari cabang renang dan kendo! Terima kasih ya Kurapika...!"

Gadis yang disebut namanya hanya merengut, berdiri bersandar di dinding kolam renang lalu menoleh pada sahabatnya itu. "Tapi kumohon Neon, kuharap lain kali kau menanyakan pendapatku dulu bukannya tiba-tiba mendaftarkan namaku untuk dua nomor renang sekaligus!"

Neon tertawa kikuk. "Maafkan aku, tapi jujur saja...waktu gaya punggung itu, gerakanmu terlihat indah sekali..."

Kurapika hanya diam mendengar pujian gadis itu. Bagaimanapun juga, tindakannya kemarin membuat Kurapika lelah dan terlambat melihat pertandingan terakhir, yaitu pertandingan kendo yang diikuti kekasihnya, Kuroro Lucifer!

"Seperti kupu-kupu..." tiba-tiba Ponzu berkata, memejamkan matanya sebentar lalu menatap Kurapika yang raut wajahnya terlihat sedikit berubah. "Itu komentar Kuroro yang kudengar sewaktu dia melihat pertandinganmu."

"E-eh?! Kuroro melihatnya?!" Kurapika terkejut.

"Ya, tepat sebelum pertandingan final kendo dimulai. Kau tidak melihatnya?"

Kurapika menggelengkan kepalanya dengan raut wajah bingung masih terlihat di wajah cantik yang tanpa ia ketahui selalu menghiasi mimpi-mimpi indah kekasihnya itu.

"Aku juga melihatnya!" Neon menambahkan. "Memangnya dia tidak memberimu ucapan selamat?"

"Tentu saja dia mengucapkannya, tapi tidak mengatakan apapun tentang itu...Kukira dia tak sempat melihatku..."

Kurapika merasa heran. Yah, memang hari itu melelahkan dan mereka hanya memiliki sedikit waktu luang.

Kurapika kembali berenang hingga ke ujung, lalu mendongak sedikit, menatap matahari yang tertutup awan. Dia ingat sekali, betapa kesal dirinya saat mengetahui bahwa Neon mendadak memasukkan namanya ke nomor renang gaya punggung yang waktunya hampir bersamaan dengan pertandingan kendo...

Kurapika tergesa-gesa memasuki gedung olahraga. Sorak sorai terdengar begitu riuh dari dalam sana. Benar saja, pertandingan final kendo sudah dimulai. Gadis pirang itu terdiam sesaat, mengamati dua orang pemuda yangtengah menjadi pusat perhatian.

Seulas senyum manis terlihat di wajah Kurapika. Ya, dengan hanya sekali lihat–walaupun kedua peserta mengenakan pelindung kepala–tentu saja dia tahu yang mana kekasihnya, juga merasa senang melihat kedudukan Kuroro lebih unggul.

Sesuai prediksi, Kuroro memenangkan pertandingan itu sekaligus mengantarkan kelas mereka sebagai juara umum pekan olahraga semester ini.

Pipi Kurapika merona ketika pemuda berambut hitam itu menoleh dan tersenyum padanya, menghampirinya perlahan.

Mata biru Kurapika tertuju pada sosok itu, terutama saat pandangannya jatuh ke dadanya yang bidang. Pakaian kendo yang dikenakan Kuroro sedikit turun, tatapan Kurapika pun tak melewatkan beberapa tetes keringat yang menetes turun di sana.

Kurapika merentangkan kedua lengannya, berpegangan ke tepian kolam. Matanya kembali terpejam...

Kurapika memasuki ruang ekstrakurikuler kendo yang sepi, dia melihat tas ransel Kuroro tergeletak di atas meja.

"Mencariku?" Tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya.

Kurapika tersentak, diasegera berbalik. Disambut sosok menawan kekasihnya. Kuroro berdiri membelakangi pintu dengan rambut yang basah.

"Shalnark bilang kau memintaku ke sini," jawab Kurapika sambil membalas senyumannya. "Ada barang-barang yang belum kau bereskan? Biar kubantu..."

Kuroro melangkah menghampirinya. Perlahan jemarinya menelusuri rambut Kurapika.

"Aku haus..." bisiknya dengan penuh arti.

Tentu saja ucapan Kuroro tidak mengandung arti sebenarnya. Itulah kenapa beberapa saat kemudian Kuroro tengah menjilati bagian atas dada Kurapika dengan kancing seragam yang sudah terbuka semua.

"Nghh...Kuroro..." Kurapika mendesah, mencengkeram bahu dan rambut hitam berkilau kekasihnya.

Kuroro memberikan ciuman-ciuman kecil di tanda kemerahan yang ia buat di sana. Keduatangannyamenyelinap ke dalam kemeja Kurapika, membuka kaitan bra hitam yang ia kenakan.

Sudah jelas kemudian, apa yang diinginkan Kuroro setelah bra itu terlepas. Dengan rakus dia melumat dada Kurapika, sementara tangan yang sebelah lagi sibuk meremas dada kiri yang juga baruia lumat. Kuroro berhenti sebentar, mendongak menatap kekasihnya.

Wajah yang merona...mata biru yang sayu karena dikuasai kenikmatan akibat perlakuan darinya, napas yang terengah-engah dan wangi tubuhnya yang memabukkan.

Dengan tatapan mata yang tak sedikitpun lepas dari Kurapika, Kuroro memainkan kedua puting gadis itu. Kedua tangan Kurapika yang memeluk lehernya semakin erat, kepalanya terlonjak ke belakang. Biasanya Kuroro akan langsung membenamkan wajahnya di belahan dada Kurapika dalam keadaan seperti ini, namun kali ini dia menahan diri. Dia ingin melihat ekspresi gadis itu saat merasakan kenikmatan di putingnya.

Kurapika mengerang, terhenyak karenatakluk padakelihaian tangan Kuroro memanjakan putingnya. Ya, tentu saja Kuroro tahu titik-titik sensitifnya.

"Kau menyukainya 'kan, Kurapika?" Bisik Kuroro dengan suara tertahan sambil lebih gencar memainkan puting mungil yang sudah mengeras itu, napas Kuroro yang memburu menerpa daun telinga Si Gadis Pirang. "Sayangku..."

Kurapika tersenyum di tengah kegiatan panas itu, membuatKuroro semakin tak tahan. Kurapika mengerang lagi sedikit lebih keras hingga tanpa sadar menggerakkan kakinya dan membuat rok seragamnya tersingkap.

Betapa rindunya Kuroro melihat hal itu. Rasanya sudah cukup lama...tepatnya sejak ujian dimulai. Sayang waktunya tidak memungkinkan.

Segera Kuroro berdiri, mendekap tubuh Kurapika dengan sebelah tangannya, membenamkan wajah di perpotongan leher gadis itu. Kurapika terhenyak ketika Kuroro memasukkan tangannya tanpa peringatan terlebih dahulu ke daerah paha, jemari yang sudah begitu mengenal daerah pribadi gadis itu langsung menyusup dari tepi celana dalam, memainkan klitorisnya.

"Ah...! Kuroro... Hh..." desah gadis itu nikmat, yang disambut dengan lumatan bernafsu di dadanya.

Sungguh saat itu sangat menggoda. Kurapika memeluk Kuroro semakin erat, hingga melihat ada sesuatu yang menonjol di bagian depan celana pemuda itu. Dia pun melakukannya, turut memberikan kepuasan bagi kekasihnya dengan membebaskan penisnya dari segala penghalang, berciuman dengan penuh gairah hingga sama-sama mencapai puncak.

Kurapika membuka matanya, menatap langit yang agak mendung. Sebenarnya dia sangat merindukan Kuroro...tapi akhir minggu ini pemuda itu pun akan menginap di rumah Shalnark, teman sekelas mereka dan teman Neon sejak kecil.

Tiba-tiba seorang pelayan menghampiri mereka, memberitahukan ada telepon dari Shalnark. Neon pun langsung masuk ke dalam.

Ponzu menghela napas kesal, membuat Kurapika menoleh dan menatapnya heran.

"Mereka berteman sejak kecil. Kenapa tidak pacaran saja?" Sungutnya.

Kurapika terdiam. Ya...dia tahu itu, dan dia pun tahu betul bagaimana dekatnya Neon dan Shalnark. Kurapika mengakui bahwa ucapan Ponzu ada benarnya juga.

'Kalau memang itu yang terbaik, semoga saja mereka cepat menyadarinya,' ucapnya dalam hati sambil tersenyum tipis.


Shalnark tersenyum saat mendengar jeritan gembira teman masa kecilnya, Neon Nostrad, setelah mendengar kabar menyenangkan darinya. Shalnark akan mengadakan pesta di rumahnya, dan sengaja tertutup untuk kelas mereka saja.

"Orangtuamu tidak keberatan?" Neon menyangsikan.

"Karena ada Paman Leorio di sini. Tapi nanti dia pun ada acara bersama tunangannya," Shalnark menjelaskan. "Jadi sebaiknya menginap saja..."

Percakapan itu diakhiri ketika Neon menerima undangannya, dengan membawa serta Kurapika dan Ponzu tentu saja. Shalnark mulai membuka-buka buku teleponnya untuk menghubungi teman sekelasnya yang lain. Di belakangnya, para pemuda lain yang juga sekelas dengannya mulai antusias membicarakan hal itu.

"Hei, Kuroro mana?" Seseorang bertanya.

"Eh? Oh, benar juga..."

"Bukankah tadi dia ada di sini?"


Di ruangan lain di rumah yang besar itu, tepatnya di salah satu kamar mandinya, Kuroro sedang membasuh wajahnya dengan air dingin yang mengalir dari wastafel. Dia benar-benar perlu air dingin untuk menyegarkan otaknya.

Kuroro berpegangan di tepi wastafel, menatap pantulan wajahnya yang tampan di cermin. Berusaha untuk tetap fokus. Namun itu hanya bertahan sebentar, karena adegan menggiurkan mengenai kekasihnya yang tadi muncul di mimpinya kembali menghantui.

'Ada-ada saja,' keluhnya. Mimpi itu semakin sering terjadi akhir-akhir ini, membuat Kuroro semakin tak tahan untuk tidak menyentuhnya.

Kuroro menghela napas, berusaha mengendalikan diri. Jangan sampai dia lepas kendali saat bertemu Kurapika di pesta malam ini.

Tapi sudah jelas... Ada masalah yang harus dia tangani sekarang juga sebagai seorang lelaki normal.

Rasanya begitu menyesakkan.

Dengan sikap yang masih terlihat tenang dan terkendali seperti biasanya, Kuroro melangkah, pindah dari depan wastafel sambil membuka kancing celana jeansnya dengan cepat. Jika melihat ke matanya, akan kau lihat nafsu birahi begitu jelas di sana.

Kuroro bersandar di dinding kamar mandi, menurunkan celana sedikit dan mengeluarkan penisnya yang sudah membuat celananya terasa sempit.

Dia genggam penisnya yang memiliki ukuran di atas rata-rata. Memijatnya, dan mulai menggerakkannya naik turun. Helaan napas pemuda itu semakin berat walau masih terlihat sekilas saja.

Wajah cantik Kurapika mendera hasratnya. Mata birunya yang setengah terbuka, rona kemerahan di wajahnya, helaan napasnya yang begitu tersengal-sengal. Juga aroma wangi tubuhnya yang khas. Kuroro mengingat setiap rasa dari setiap inci tubuh Kurapika terutama vaginanya.

Kuroro semakin cepat mengocok penisnya, dia masih berdiri bersandar, mata hitam misterius itu agak terpejam karena penuh dengan imajinasi dan ingatannya mengenai Si Pirang. Ah, jangan lupa apa yang sempat dia khayalkan sewaktu melihat Kurapika berenang...

Saat Kurapika bersiap dalam posisi start, lalu mulai berenang dengan gaya punggung. Air kolam yang bernuansa kebiruan bagaikan tirai transparan yang menyelubungi bagian sisi atas tubuh gadis itu. Baju renang one piece berwarna putih terlihat berdesir di bawahnya. Pemandangan itu mengingatkannya pada sensasi yang ia rasakan saat bersentuhan dengan Kurapika.

Kuroro mengerang tertahan...disertai dengan cipratan cairan kental berwarna putih yang keluar dari ujung penisnya.

Oh, Kuroro mencapai klimaksnya.

Setelah mengatur napas, Kuroro membersihkan penisnya, memasukkannya kembali dengan aman ke tempatnya. Sebelum keluar dari kamar mandi, Kuroro mencuci tangan dan wajahnya sekali lagi.


Kurapika menatap layar monitor ponselnya. Saat ini dia sedang berada di ruang perpustakaan, menjauhkan diri dari Neon yang mulai membuatnya kesal karena terlalu berlebihan dalam memilih pakaian apa yang akan ia kenakan ke rumah Shalnark nanti. Ini hanya acara biasa, 'kan?! Sekarang pun Kurapika hanya mengenakan celana pendek setengah paha dan tanktop merah dengan aksen frills di bagian dada.

Kurapika masih menatap layar ponsel itu sebelum akhirnya mengetikkan balasan untuk pesan masuk dari Kuroro...yang menanyakan kepastiannya ikut berkumpul di rumah Shalnark.

Kurapika menghela napas, menyandarkan dagunya di bantal sofa yang besar dan empuk.

'Kuroro...' ia memanggil kekasihnya dalam hati.

Hubungannya dengan pemuda itu sudah berlangsung cukup jauh walaupun mereka sama-sama baru pertama kali berpacaran, yang diikuti dengan pertama kali berciuman, pertama kali saling menyentuh dan memanjakan...Hampir setiap kali ada kesempatan, Kuroro menyempatkan diri untuk menyentuhnya. Lalu apa yang mengganggu benak Kurapika saat ini? Atau mungkin selama ini?

Semburat kemerahan terlihat di pipi Kurapika begitu batinnya berkata,

'Kuroro, kau tak pernah–ah, tapi memang aku pun tak pernah berterus terang padanya.'

Sepertinya hal apapun itu yang dipikirkannya, cukup mengganggu Kurapika kali ini. Dia menghela napas. Samar-samar masih terdengar suara Neon yang belum selesai dengan persiapannya. Kurapika pun membuka ponselnya lagi. Sambil menunggu, mungkin dia bisa mencari informasi tentang sesuatu...

Kurapika mulai memusatkan perhatiannya kala sebaris tulisan muncul :

Tips Penting Hubungan Seksual

Search


Akhirnya setelah cukup lama menunggu Neon, Kurapika dan Ponzu sampai juga di rumah Shalnark. Suasana di sana sudah cukup ramai tapi tetap terkendali.

Di salah satu ruangan, terlihat Shalnark sedang berdebat dengan seorang pria muda berkacamata dan berambut hitam.

"Ayolah Paman, bukankah kemarin kita sudah sepakat?" Shalnark mengeluh. "Tolong jangan terlalu berlebihan!"

"Aku takut dimarahi orangtuamu," jawab pria itu, Leorio, yang juga merupakan adik kandung dari ibunya Shalnark.

"Memangnya aku dan teman-temanku akan melakukan apa?!"

"Kau tahu sendiri anak muda jaman sekarang–"

"Stop, Paman!"

Leorio berkedip, dia terkejut melihat Shalnark yang biasanya penurut mendadak berani membantahnya. Memanfaatkan situasi ini, Shalnark segera bicara lagi,

"Win-win solution!" Shalnark menjentikkan jarinya. "Aku ingin bersenang-senang dengan teman-temanku tanpa harus melihat sepasang kekasih yang sudah dewasa bermesraan di sini! Jadi pergilah ke apartemen wanita berambut ungu itu, lalu–"

"Enak saja ungu! Rambut Machi itu berwarna violet...warna violet yang indah dan anggun!"

"Terserah. Jadi kita sepakat?"

"Uhh..."

Leorio terlihat seperti tengah berpikir keras. Dia diminta kakaknya untuk menjaga dan mengawasi Shalnark, tapi jujur saja...dia lebih ingin menghabiskan waktu bersama tunangannya, Machi. Apalagi sudah beberapa minggu mereka tidak bertemu karena kesibukan masing-masing.


Shalnark tersenyum puas setelah melihat mobil Leorio sudah keluar melewati gerbang. Begitu pula halnya dengan yang lain. Dengan gembira, mereka mulai berpesta.

"Kalau hanya bir saja tak apa-apa, 'kan?" Tanya Parriston sambil menyeringai. Tangannya sudah penuh oleh beberapa kaleng minuman bir.

"Ah, tentu saja!"

"Cepat kemarikan, Parriston! Kau dapat dari mana?!"

"Aku mau!"

Parriston membagikan bir itu, setiap orang mendapatkan satu kaleng saja. Setidaknya mereka pun tak mau sampai mabuk dan pesta yang mereka adakan sampai menimbulkan masalah.

Kurapika menatap ragu kaleng bir di tangannya, hingga tiba-tiba seseorang mengambil minuman itu. Kurapika mendongak.

"Kau tak akan kuat, lebih baik tidak usah ya," kata orang itu yang tak lain adalah Kuroro, sambil mengusap puncak kepala kekasihnya.

Kurapika merengut. "Tapi aku ingin tahu rasanya..."

Kuroro menoleh. Mereka bertatapan sesaat, menimbulkan rona kemerahan muncul di pipi Kurapika.

"Rasanya agak pahit, kau tak akan suka," Kuroro memberitahu sambil meneguk minumannya sedikit, membuat bibirnya menjadi basah. Kurapika menyentuh bibir itu...membuat Kuroro tersenyum dan membiarkan dia melakukannya. Tapi bukannya mengambil tissue, Kurapika malah memasukkan ujung jarinya yang basah karena tetesan bir di bibir Kuroro ke dalam mulutnya sendiri. Kuroro langsung terbelalak...menyaksikan gerakan menghisap di mulut Kurapika.

Menyadari sedang diperhatikan, Kurapika menoleh...balik menatap penuh arti. Gadis itu melepaskan jarinya dari dalam mulutnya dan tidak berkata apa-apa.

Bagi Kuroro, tatapan mata biru Kurapika saat itu terlihat berbeda. Begitu intens...tidak terlihat malu-malu walaupun pipinya merona.

Kuroro baru saja akan menyentuh pipi Kurapika ketika tiba-tiba gadis pirang itu beranjak.

"Kurapika, kau mau ke mana?" Tanya Neon heran, yang sebelumnya asyik bermain game di laptop milik Shalnark.

Kurapika hanya tersenyum. Sekilas dia melirik Kuroro yang masih terheran-heran, dan ini tak luput dari perhatian Ponzu.

"Neon, ayo main berdua! Ajari aku!" ia segera mengalihkan perhatian Neon.

Kurapika pun berbalik menjauhi ruangan yang besar itu, dan beberapa saat kemudian Kuroro menyusulnya.

"Kurapika!" Ia berkata sambil meraih sebelah pergelangan tangan Kurapika.

Kurapika pun berbalik.

"Hei...ada apa sebenarnya? Kenapa–"

Ucapan Kuroro terhenti. Kurapika kembali menatapnya dengan cara yang sama. Dan hal ini sangat mengundang bagi sang pemuda. Tanpa satu kata pun terucap di antara keduanya, Kuroro segera menarik Kurapika masuk ke salah satu kamar.

Setelah menutup pintu dan menguncinya, Kuroro menekan Kurapika ke balik pintu. Segera saja mereka terlibat dalam suatu ciuman panas. Kedua tangan Kuroro menahan tangan Kurapika, bibir mereka saling memagut dan lidah keduanya bergerak lincah dalam ciuman itu...seolah sepasang kekasih itu sudah sangat lama tak bertemu, seolah tak ada lagi hari esok.

Tak mau membuang waktu, mereka hanya mengambil napas saat ada celah yang timbul akibat ciuman yang bergerak liar namun harmonis, dalam desahan pelan yang menggairahkan.

Apa mau dikata, Kuroro dan Kurapika tidak mengetahui bahwa sejak sebelum bertemu tadi mereka memang sudah sangat kelaparan akan sentuhan masing-masing, membuat nafsu keduanya terasa begitu memuncak hingga kali ini menginginkan lebih dari yang biasa mereka lakukan sebelumnya.

Setelah beberapa lama, Kuroro menaikkan sebelah lututnya ke daerah selangkangan Kurapika dan memberikan sedikit tekanan di sana.

"Nghh... " Kurapika mendesah pelan, dan mulai berusaha melepaskan kedua tangannya dari cengkeraman Kuroro.

Kuroro melepaskan ciumannya, menatap Kurapika yang terengah-engah dengan wajah memerah, tali tanktop-nya sudah melorot dari bahu putih itu.

"Lepaskan aku..." bibirnya yang membengkak karena lumatan bibir Kuroro bergerak perlahan.

Kuroro mendekatkan wajahnya kembali, menciumi pelipis Kurapika. "Tapi bukankah..." dia menggerakkan lututnya di depan vagina Kurapika yang masih terhalang celana pendek, membuat gadis itu mendesah lagi, "...Kau juga menginginkannya? Kau menikmatinya bukan, Kurapika?"

Mendadak Kuroro membungkuk, melumat payudara Kurapika dari luar baju.

"Ahh...! Hhh... Kuroro...t-tunggu!" Kurapika memekik tertahan, menyebabkan raut wajah kecewa terlihat di penampilan menawan seorang Kuroro Lucifer.

Kurapika menatapnya. "Ya, aku menginginkannya. Aku pun menginginkanmu..."

Kuroro terkejut mendengar jawaban Kurapika yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Tanpa sadar ia membiarkan kedua tangan Kurapika terlepas namun ternyata terarah kepada dirinya.

Komunikasi merupakan hal terpenting dalam hubungan apapun, termasuk hubungan cinta dan kepuasan di dalamnya.

Sebentar teringat akan artikel yang Kurapika baca, dia membelai wajah Kuroro yang tanpa cela dan terus turun ke dadanya.

"Aku ingin melihatmu...sepenuhnya."

Katakan apa yang kau mau, dan kau akan mendapatkannya.


Kurapika duduk di tepi tempat tidur, mata biru itu menatap pemandangan indah di hadapannya yang akhirnya sekarang ia dapatkan juga.

Kuroro Lucifer membuka kaus hitamnya, menampakkan otot-ototnya yang kekar. Kulitnya putih pucat tanpa cela. Kurapika membiarkan dirinya menikmati pemandangan ini. Ketika Kuroro tengah membuka kancing celana jeans-nya, otot perut pemuda itu ikut bergerak. Mata Kurapika tertuju pada kedua puting Kuroro yang berwarna muda.

'Kali ini aku bisa menyentuhnya,'kan?' pikirnya.

Kini Kuroro hanya mengenakan boxer briefs, menonjolkan bokongnya yang seksi dan penisnya yang terakhir kali hanya bisa Kurapika manjakan dengan menggunakan tangan.

Kuroro menyentuh tepi boxer briefs itu, ia menyeringai tipis melihat mata Kurapika yang sedikit terbelalak karena sikapnya.

'Tidak secepat itu, Sayang...' Kuroro berkata dalam hati sambil melangkah menghampiri Kurapika.

Kurapika terlihat gugup sekarang. Terutama saat penis yang menonjol namun masih aman di tempatnya itu berada tepat di depan wajahnya.

Perlahan Kuroro duduk di samping Kurapika, mendorongnya lembut hingga terbaring. Tangannya mulai bergerak cekatan melepaskan pakaian Kurapika. Namun gadis itu terlalu fokus dan terpesona pada tubuh kekasihnya.

Kuroro tersenyum. Kurapika yang ada di bawahnya saat ini adalah Kurapika yang berbeda, yang sekarang mau jujur akan keinginannya. Dan itu sangat seksi.

Kuroro mengalah, membuka pakaian Kurapika dengan sabar dan perlahan sambil memberikan kesempatan padanya. Tangan Kurapika membelai kedua lengan berotot itu, bergerak perlahan ke punggung dan kembali ke arah depan membelai dada dan perut kekasihnya.

Mata Kuroro agak terpejam saat tangan Kurapika menyentuh kedua putingnya dengan lembut. Tak lama kemudian Kuroro duduk bersandar, sementara Kurapika sibuk menciumi dada dan perutnya. Kedua payudaranya yang padat sudah menggantung bebas, terasa menggoda ketika kedua puting itu bergesekan dengan kulit Kuroro. Kuroro sudah ingin melahapnya. Tapi tidak...tidak sebelum dia berhasil membuka celana pendek Kurapika.

"Mmhh..."

Kuroro menarik napas, mencoba menahan rasa nikmat saat Kurapika menjilat dan menghisap kedua putingnya.

Celana pendek Kurapika sudah terlepas, celana dalamnya pun segera Kuroro tarik hingga melorot ke lutut. Kuroro menarik dagu Kurapika, mencium bibirnya penuh nafsu. Dia memeluk tubuh gadis itu, sedikit menariknya hingga kedua dada Kurapika tepat berada di atas wajahnya.

Kuroro menjilat area di sekeliling puting, menjilati bagian tengah puting dengan jilatan yang terputus-putus. Kurapika mendesah tak sabar dan hal ini membuat Kuroro ingin menggodanya lagi. Ditiupnya perlahan kedua puting Kurapika yang basah oleh saliva sang kekasih, menciptakan suara erangan indah yang semakin meningkatkan nafsu keduanya.

Kurapika baru saja merengut ketika Kuroro hanya menghisap putingnya, menggigit dan menarik-nariknya–tidak disertai dengan remasan maupun lumatan rakus seperti yang biasa ia lakukan.


Kuroro berbaring telentang. Perlahan ia genggam sebelah tangan Kurapika, sembari memanjakan matanya dengan tubuh telanjang sang malaikat berambut pirang.

"Kemarilah...aku ingin 'merasakanmu'..."

Kurapika perlu waktu beberapa menit untuk memahami maksud Kuroro. Dia menatap pemuda itu ragu.

"Ng...Kau mau aku..."

Kuroro mengangguk sambil tersenyum. Dan itu cukup untuk meyakinkan Kurapika. Kurapika mendekat, duduk mengangkang di atas Kuroro, menghadapkan vaginanya yang basah ke mulut pemuda yang menginginkannya itu.

Kuroro tampak semakin bernafsu begitu mengenali aroma intim Kurapika yang begitu ia rindukan. Kedua tangannya memegangi pinggul ramping Si Gadis, memberikan beberapa ciuman ringan di bagian dalam paha mulus itu, lalu berhenti saat akan sampai di vaginanya. Kuroro melihat ke atas, menatap Kurapika. Mata hitam yang seolah tak berdasar bertemu dengan mata biru itu, yang mendadak terpejam dengan badan melengkung, bibir mungil merah muda mendesah lebih keras tatkala Kuroro tiba-tiba melahap vaginanya.

Dari luar kamar, terdengar suara musik yang cukup keras dan suara tawa teman-teman mereka seolah membantu meredam desahan kenikmatan pasangan penuh gairah ini.

Kuroro menurunkan kedua tangannya, menyibakkan vagina Kurapika lalu mulai menghisap dan menjilati klitorisnya. Cairan gadis itu keluar semakin banyak, desahan yang semakin menjadi membuat Kurapika mulai lemas. Terutama saat jemari Kuroro dengan lihai menggosok klitorisnya dan lidahnya berpindah ke lubang Kurapika.

"Nn...ahh...! Kuroro...Hh..."

Kurapika merasakannya. Dia akan klimaks sebentar lagi. Dengan cepat dia melepaskan diri, bergeser mundur hingga cairan klimaksnya membasahi dada Kuroro.

Sementara di bawah sana, penis sang pemuda seolah melesak ingin melepaskan diri dari boxer briefs berwarna biru tua itu. Kuroro ingin Kurapika segera memanjakan keperkasaannya, namun Kurapika sendiri sepertinya masih ingin lebih...Walau tangan gadis itu kini tengah melepaskan boxer briefs itu.

Sementara Kuroro masih berpikir bagaimana sebaiknya posisi yang mereka lakukan, Kurapika sudah berbaring telentang dengan vagina yang sudah basah kembali dan kedua puting yang mencuat.

"Maukah kau...jika kita saling memanjakan bersama-sama?" Tanya Kurapika sambil sedikit memalingkan wajah karena malu, bahkan telinganya pun sampai memerah.

Kuroro menaikkan sebelah alis matanya. Di balik semua kenikmatan ini, sejak awal Kurapika sungguh membuatnya heran.

'Jadi dia mau heavy petting dengan posisi 69?'

"Kuroro?" Panggil Kurapika lagi. Tampaknya dia tak senang. Mengajukan inisiatif seperti tadi merupakan perjuangan baginya, benar-benar memalukan, namun bukannya langsung menanggapi, Kuroro malah dikuasai rasa heran yang terlalu lama!

"Ah... Maaf," ucap Kuroro sambil tersenyum. "Kau begitu menggairahkan..."

Setelah memuaskan matanya dengan pemandangan telanjang tubuh kekasihnya sekali lagi dan beberapa lumatan rakus di kedua payudara itu, Kuroro mulai mengatur posisinya di atas tubuh Kurapika. Kedua kaki menekuk di samping kepala Si Gadis, mulut tepat di atas vagina yang kembali menuntut untuk dimanjakan, dan jangan lupakan penis miliknya yang kini mulai Kurapika masukkan ke dalam mulutnya.

Kuroro langsung merasakan kehangatan di sana, walau perlu usaha lebih bagi Kurapika untuk bisa memasukkannya semaksimal mungkin, dan tangannya membantu memegangi bagian pangkal yang tidak muat di mulutnya.

Lidah Kuroro kembali menjelajahi vagina kekasihnya, jarinya meraba lubang di bawahnya. Ia coba memasukkan jari telunjuknya sedikit. Begitu hangat...dan kencang sekali.

"Mmh...mm...hh...!" Kurapika mengerang, menimbulkan getaran di penis Kuroro. Sungguh terasa nikmat bagi sang pemilik.

Dalam hati Kuroro merasa bersyukur Kurapika memintanya mengambil posisi di atas hingga dia bisa mendominasi.

Kuroro tersenyum puas di tengah ciumannya saat melihat cairan klimaks Kurapika lagi, entah yang keberapa kali. Ia jilat sedikit cairan itu lalu memasukkan jarinya sedikit lebih dalam, bahkan menambahkan jari tengahnya juga.

Kurapika mengerang lebih keras, berusaha mengeluarkan penis besar dan panjang milik Kuroro dari mulutnya untuk menyuarakan protesnya tapi Kuroro segera menekannya.

"Sshh...tenang, Kurapika...Tenanglah, aku melakukannya dengan lembut dan hati-hati," ucap Kuroro sambil mengecupi vagina kekasihnya, sebelah tangan terulur ke belakang meraih puting gadis itu dan memainkannya, sukses membuat pemiliknya kembali merasakan kenikmatan.

Sebuah ide nista melintas di benak Kuroro. Betapa nikmatnya jika penisnya yang masuk ke dalam sana. Tapi dia tak mau terburu-buru dan melakukannya tanpa persetujuan Kurapika tentu saja.

Akhirnya Kuroro merasakannya, ketika Kurapika mengulum testisnya bergantian.

'Sebentar lagi...'

Kuroro segera beranjak, mengangkangi dada Kurapika, mengapit penisnya dengan kedua payudara itu.

"Ayo pegang," suara Kuroro terdengar lebih berat. Dia tuntun kedua tangan gadisnya di situ, di masing-masing sisi payudara, sementara tangan Kuroro sendiri memanjakan klitoris Kurapika lagi sambil memaju-mundurkan penis semakin kencang.

Desahan Kurapika kembali terdengar, diiringi napas Kuroro yang terengah-engah.

"Ughh...apa kau keberatan kalau kukeluarkan di sini, Kurapika? Hh...ahh..." Kuroro bertanya, tangannya membelai pipi kekasihnya itu. "Katakan..."

Kurapika menggeleng lemah, namun ia tersenyum. Matanya tertuju ke bawah, ke penis yang bergerak dengan kencang ke arah wajahnya.

"Kuroro...nghhh..."

"UHHH...! Kurapika!"

Kurapika memejamkan matanya. Gerakan Kuroro terhenti, dan segera diiringi dengan rasa hangat di dada dan wajahnya. Perlahan matanya terbuka kembali, bertatapan dengan pemuda tampan itu.

Kurapika yang cantik, terbaring telanjang di bawahnya, dengan sperma miliknya membasahi dada, wajah dan sedikit rambutnya...

Sungguh memuaskan.

Kuroro menyingkir mengambil tissue, membersihkan cairan putih itu lalu memeluk tubuh Kurapika dan berciuman. Ciumannya turun ke bahu gadis itu dan tangannya bergerak meremas bokong Kurapika.

Sementara di luar, teman-teman mereka sudah bisa mengira apa yang terjadi. Kecuali Neon tentu saja.

"Aku mau cari Kurapika...! Aku mau tidur bersama dia dan Ponzu!" Rengeknya.

Shalnark menghela napas. Tanpa berpikir lebih jauh, dia langsung mendekat dan mengecup bibir gadis berambut merah muda itu...seperti yang pernah dilakukannya saat mereka kecil dulu.

Neon langsung diam. Yang lainnya pun terperangah. Perlahan-lahan, rona kemerahan muncul di pipi Si Gadis Manja.


TBC


A/N :

Jujur ini chapter yang sulit...Entah sudah berapa kali mencoba menulis ini, tapi akhirnya stuck. Untunglah inspirasi akhirnya datang. Kalau menurutku sih kyknya terlalu hot...entahlah...

Oya aku baru mulai translate 1001 skrg. Sabar yaa

Ini balasan review sebelumnya xD

Moku Chan :

Hi Moku...mksh dirimu tlh mncintaiku tapi kl aku sesak napas ntr sp yg lanjutin Dx

Natsu Hiru Chan :

Hahaha kl msalah sweet sm tmn2nya kn bidangnya Natsu, aku bagian romantis penuh hasrat dsni xDa

hana-1emptyflower :

Kenapa g dibaca? Baca aja smuanya sekalian latihan mental (?)

fadya :

Aku juga...(lho?)

Kuro :

Terima kasih atas segala pujiannya xD

October Lynx :

Hahah based on your reaction, it meant that I wrote it well xD

Thank you...

Nekomata Angel of Darkness :

*liatin Kirin yg marah2 sm cermin*

Shina Hazuki 1409 :

E-eh? Rape? Ini bukan rape...*nyengir*

ML-nya di chapter depan, chapter terakhir...

Guest :

Ngg...tapi aku g tau km sp, cara kenalannya gmn?

.

Review please...^^


~KuroPika FOREVER~